Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis di Ruang Bedah Rumah Sakit Kanker “Dharmais” Jakarta dan Hubungannya dengan Kejadian Infeksi Daerah Operasi Desiyana, Lydia Septa; Soemardi, Ajoedi; Radji, Maksum
Indonesian Journal of Cancer Vol 2, No 4 (2008): Oct - Dec 2008
Publisher : "Dharmais" Cancer Center Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1840.562 KB)

Abstract

Infeksi daerah operasi (IDO) merupakan salah satu infeksi nosokomial yang menyebabkan morbiditas, mortalitas dan peningkatan biaya perawatan. Faktor resiko terjadinya IDO dapat berasal dari pasien sendiri, lingkungan, operasi dan perawatan pasca operasi. Penggunaan antibiotika profilaksis merupakan salah satu cara menurunkan kejadian IDO.Dilakukan penelitian di ruang bedah RS. Kanker "Dharmais" dengan metode cross-sectional dan prospektif. Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah total sampling. Data dari seluruh pasien yang menjalani operasi pada 10 April -9 Mei 2008 diambil, kemudian dilakukan pemantauan kejadian IDO sampai dengan 30 hari pasca operasi.Dari 150 pasien yang menjalani operasi, sejumlah 131 pasien yang dapat dipantau hingga 30 hari pasca operasi. Antibiotika profilaksis digunakan pada 111 dari 131 operasi yang dilakukan (84,73%). Antibiotika yang paling banyak digunakan adalah sefalosporin generasi III, yaitu ceftriaxone (52,25%). 84,68% pasien menerima antibiotika profilaksis tidak tepat waktu dan 81,98% menerima antibiotika profilaksis > 24 jam. IDO terjadi pada 3 dari 131 (2,29%) pasien tersebut. Hasil analisa multivariat menunjukkan lama rawat sebelum operasi merupakan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian IDO pada penelitian ini (p = 0,031, OR = 3,259).Antibiotikan profilaksis yang paling banyak digunakan di instalasi bedah RS. Kanker "Dharmais" adalah ceftriaxone, waktu pemberiannya sebagian besar tidak tepat dan digunakan lebih dari 24 jam. Ceftriaxone merupakan antibiotika spektrum luas yang mempunyai efekstivitas terhadap gram positif dan negatif.Penilaian kesesuaian pemilihan jenis antibiotika profilaksis dilakukan dengan menggunakan data sensitivitas ruangan tahun 2007 dengan hasil bahwa antibiotika profilaksis yang digunakan masih sensitif terhadap bakteri yang ada diruangan ICU, kelas II dan kelas III. Kejadian IDO di RS. Kanker "Dharmais" adalah 2,29%. Hasil analisa bivariat dengan chi-square menunjukkan bahwa sifat operasi, durasi operasi dan lama rawat sebelum operasi mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian IDO (p < 0,05). Sementara itu hasil analisa multivariate menunjukkan jumlah hari rawat sebelum operasi merupakan faktor risiko terjadinya IDO.Kata kunci: antibiotika profilaksis, infeksi luka operasi, operasi.
MOLECULAR IDENTIFICATION OF ENDOPHYTIC FUNGI ISOLATED FROM Garcinia porrecta AND Garcinia forbesii Radji, Maksum; Nugraheni, Femi Arifah; Sumiati, Atiek
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi isolat-isolat kapang endofit yang telah diisolasi dari tanaman Garcinia porrecta dan Garcinia forbesii yang dikoleksi di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Departemen Farmasi Universitas Indonesia. Lima galur isolat yang telah terbukti menunjukkan bioaktivitasnya sebagai antimikroba dan antioksidan diidentifikasi secara molekuler menggunakan profil sekuen DNA yang berasal dari gen penyandi ribosomal RNA. Identifikasi isolat kapang endofit dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer NS1 dan NS4. Hasil amplifikasi dengan PCR selanjutnya dianalisis dengan sekuensing DNA yang kemudian dibandingkan dengan data pada GenBank dengan program BLAST (Basic Local Alignment Search Tools). Berdasarkan hasil analisis sekuens DNA, 5 isolat berhasil diidentifikasi. Empat isolat kapang endofit teridentifikasi sampai tingkat spesies yaitu: Penicillium purpurogenum, Zasmidium cellare, Colletothricum gloeosporioides, dan Nectria curta. Sedangkan satu isolat lain teridentifikasi sampai tingkat genus yaitu Pestalotiopsis sp. ABSTRACT The objective of this study was to identify the endophytic fungi isolated from Garcinia porrecta and Garcinia forbesii deposited in Laboratory of Microbiology and Biotechnology, Department of Pharmacy, University of Indonesia by using molecular tools. Five isolates of endophytic strains which were displayed the strongest antibacterial and antioxidant activities were identified based on ribosomal RNA (rRNA) gene sequence analysis. The Polymerase Chain Reaction (PCR) was used to identify these endophytic fungi by using primer NS1 and NS4. Amplicon or PCR product was analyzed by sequencing method to determine the DNA sequence. The result of sequencing DNA then compared with GenBank’s database using Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). The results revealed that five isolates of endophytic strains had been successfully identified by this method. Four of them were identified up to the level of species as Penicillium purpurogenum, Zasmidium cellare, Colletothricum gloeosporioides, and Nectria curta, while the other one was identified up to the level of genus namely Pestaloptiosis sp.
UJI SITOTOKSISITAS BUAH MERAH, MAHKOTA DEWA DAN TEMU PUTIH TERHADAP SEL KANKER SERVIKS Radji, Maksum; Aldrat, Hendri; Harahap, Yahdiana; Irawan, Cosphiadi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The cytotoxic effect of herbal medicines has been examined using HeLa cells line (cervical cancer cell culture). The result showed that the LC50 value of buah merah [Pandanus conoideus Lam.], mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] and temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] extracts were  421 µg/ml, 835µg/ml and 58,9 µg/ml after 24 hour incubation, whereas the LC50 of each extract were 276.79 µg/ml, 415,9 µg/ml and 29.19 µg/ml after 48 hour incubation respectively. The cytotoxic activity of temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.)] extract to HeLa cells was stronger than buah merah [Pandanus conoideus Lam.] and mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] extracts.   ABSTRAK Telah dilakukan penelitian efek sitotoksisitas ekstrak buah merah [Pandanus conoideus Lam.], mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] and temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] terhadap sel HeLa (kultur sel kanker serviks). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 dari ketiga ekstrak tersebut masing-masing adalah 421 µg/ml, 835µg/ml and 58,9 µg/ml, setelah waktu inkubasi selama 24 jam, sedangkan LC50 setelah diinkubasi selama 48 jam adalah  276.79 µg/ml, 415,9 µg/ml and 29.19 µg/ml. Aktivitas sitotoksik  temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.)] terhadap sel HeLa  lebih kuat dibandingkan dengan buah merah [Pandanus conoideus Lam.] dan mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.]
HUBUNGAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA TERAPI EMPIRIS DENGAN KEPEKAAN BAKTERI DI ICU RSUP FATMAWATI JAKARTA Fauziyah, Siti; Radji, Maksum; A., Nurgani
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 3 (2011)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study was motivated by the high use of antibiotics in empirical therapy in intensive care unit (ICU), without having to wait for the results of bacterial sensitivity. This study use cross-sectional study design, retrospective data collection of medical records and data were analyzed with logistic regression. Results showed a significant correlation between the intensity of the use of antibiotics in empirical therapy with a sensitivity of bacteria with P = 0.000 (P less than α = 0.05), with the results of antibiotic ceftriaxone is the greatest give the relationship of bacterial resistance. From this results it is suggested that the rotation of antibiotics (antibiotic cycling) should be done based on usage and antibiotic sensitivity patterns of bacteria.  ABSTRAK Penelitian tentang penggunaan antibiotika pada terapi empiris dengan kepekaan bakteri di ruang ICU RSUP Fatmawati Jakarta, dilatarbelakangi oleh tingginya penggunaan antibiotika dalam terapi empiris di ruang perawatan intensive care unit (ICU), tanpa harus menunggu hasil kepekaan bakteri. Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional), pengambilan data secara retrospektif terhadap rekam medik dan data dianalisis dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan antibiotika pada terapi empiris dengan kepekaan bakteri dengan nilai P=0,000 (P lebih kecil dari α=0,05), dengan hasil seftriakson merupakan antibiotika yang paling besar memberikan hubungan terhadap resistensi bakteri. Dari hasil penelitian ini dosarankan agar dilakukan perputaran penggunaan antibiotika (antibiotic cycling) berdasarkan pola penggunaan antibiotika dan pola kepekaan bakteri.
PERBANDINGAN RESPON IMUNOLOGI EMPAT KOMBINASI ANTIRETROVIRAL BERDASARKAN KENAIKAN JUMLAH CD4 Mariam, Siti; Radji, Maksum; Budi, Erwanto
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 3 (2011)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted to determine the differencies in immunological response of the four first-line antiretroviral combination, that is lamivudin-Zidovudin-Nevirapin, lamivudin-Zidovudin-Evapirenz, lamivudin-Stavudin-Nevirapin and lamivudin Stavudin-Evapirenz, which were based on increase in CD4 of patients and the factors influencing it in patients HIV / AIDS in Dr. H. Mahdi Marzoeki Bogor. The study was conducted retrospectively using data from Medical Record (MR) patients from March 2006 until March 2010 on patients who had CD4 examination every 3-4 months for using antiretroviral. Provided for descriptive analysis and statistical analysis were 335 patients and 73 patients resfectively . The results showed that the increase in the average patient's CD4 count were different for their four combinations of antiretroviral drugs, but on the basis of statistical tests using ANOVA showed that differences in CD4 cell increase were not significant. Factors patient's age, number of opportunistic infections, CD4 early and drugs used to treat opportunistic infections did not affect the increase in CD4 of patients.   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan respon imunologi dari empat kombinasi antiretroviral lini pertama yaitu Lamivudin-Zidovudin-Nevirapin, Lamivudin-Zidovudin-Evapirenz, Lamivudin-Stavudin-Nevirapin dan Lamivudin-Stavudin-Evapirenz berdasarkan peningkatan  CD4 pasien dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada pasien HIV/ AIDS di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.  Penelitian dilakukan secara retrospektif menggunakan data dari Catatan Medik (MR) pasien dari bulan Maret 2006 sampai Maret 2010 pada pasien yang mempunyai hasil pemeriksaan CD4 setiap 3-4 bulan selama menggunakan antiretroviral. Diperoleh 335 pasien untuk analisis deskriptif dan 73 pasien untuk analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan CD4 rata-rata pasien berbeda dari keempat kombinasi ARV, tetapi berdasarkan uji statistik menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan kenaikan CD4 tidak bermakna. Faktor-faktor umur pasien, jumlah infeksi oportunistik, CD4 awal dan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi oportunistik tidak mempengaruhi kenaikan CD4 pasien.
UJI SITOTOKSISITAS BUAH MERAH, MAHKOTA DEWA DAN TEMU PUTIH TERHADAP SEL KANKER SERVIKS Radji, Maksum; Aldrat, Hendri; Harahap, Yahdiana; Irawan, Cosphiadi
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v5i1.36

Abstract

The cytotoxic effect of herbal medicines has been examined using HeLa cells line (cervical cancer cell culture). The result showed that the LC50 value of buah merah [Pandanus conoideus Lam.], mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] and temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] extracts were  421 µg/ml, 835µg/ml and 58,9 µg/ml after 24 hour incubation, whereas the LC50 of each extract were 276.79 µg/ml, 415,9 µg/ml and 29.19 µg/ml after 48 hour incubation respectively. The cytotoxic activity of temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.)] extract to HeLa cells was stronger than buah merah [Pandanus conoideus Lam.] and mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] extracts.   ABSTRAK Telah dilakukan penelitian efek sitotoksisitas ekstrak buah merah [Pandanus conoideus Lam.], mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.] and temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] terhadap sel HeLa (kultur sel kanker serviks). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 dari ketiga ekstrak tersebut masing-masing adalah 421 µg/ml, 835µg/ml and 58,9 µg/ml, setelah waktu inkubasi selama 24 jam, sedangkan LC50 setelah diinkubasi selama 48 jam adalah  276.79 µg/ml, 415,9 µg/ml and 29.19 µg/ml. Aktivitas sitotoksik  temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.)] terhadap sel HeLa  lebih kuat dibandingkan dengan buah merah [Pandanus conoideus Lam.] dan mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.]
MOLECULAR IDENTIFICATION OF ENDOPHYTIC FUNGI ISOLATED FROM Garcinia porrecta AND Garcinia forbesii Radji, Maksum; Nugraheni, Femi Arifah; Sumiati, Atiek
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v4i4.22

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi isolat-isolat kapang endofit yang telah diisolasi dari tanaman Garcinia porrecta dan Garcinia forbesii yang dikoleksi di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Departemen Farmasi Universitas Indonesia. Lima galur isolat yang telah terbukti menunjukkan bioaktivitasnya sebagai antimikroba dan antioksidan diidentifikasi secara molekuler menggunakan profil sekuen DNA yang berasal dari gen penyandi ribosomal RNA. Identifikasi isolat kapang endofit dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer NS1 dan NS4. Hasil amplifikasi dengan PCR selanjutnya dianalisis dengan sekuensing DNA yang kemudian dibandingkan dengan data pada GenBank dengan program BLAST (Basic Local Alignment Search Tools). Berdasarkan hasil analisis sekuens DNA, 5 isolat berhasil diidentifikasi. Empat isolat kapang endofit teridentifikasi sampai tingkat spesies yaitu: Penicillium purpurogenum, Zasmidium cellare, Colletothricum gloeosporioides, dan Nectria curta. Sedangkan satu isolat lain teridentifikasi sampai tingkat genus yaitu Pestalotiopsis sp. ABSTRACT The objective of this study was to identify the endophytic fungi isolated from Garcinia porrecta and Garcinia forbesii deposited in Laboratory of Microbiology and Biotechnology, Department of Pharmacy, University of Indonesia by using molecular tools. Five isolates of endophytic strains which were displayed the strongest antibacterial and antioxidant activities were identified based on ribosomal RNA (rRNA) gene sequence analysis. The Polymerase Chain Reaction (PCR) was used to identify these endophytic fungi by using primer NS1 and NS4. Amplicon or PCR product was analyzed by sequencing method to determine the DNA sequence. The result of sequencing DNA then compared with GenBankâ??s database using Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). The results revealed that five isolates of endophytic strains had been successfully identified by this method. Four of them were identified up to the level of species as Penicillium purpurogenum, Zasmidium cellare, Colletothricum gloeosporioides, and Nectria curta, while the other one was identified up to the level of genus namely Pestaloptiosis sp.
HUBUNGAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA TERAPI EMPIRIS DENGAN KEPEKAAN BAKTERI DI ICU RSUP FATMAWATI JAKARTA Fauziyah, Siti; Radji, Maksum; A., Nurgani
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 5, No 3 (2011)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v5i3.50

Abstract

The study was motivated by the high use of antibiotics in empirical therapy in intensive care unit (ICU), without having to wait for the results of bacterial sensitivity. This study use cross-sectional study design, retrospective data collection of medical records and data were analyzed with logistic regression. Results showed a significant correlation between the intensity of the use of antibiotics in empirical therapy with a sensitivity of bacteria with P = 0.000 (P less than α = 0.05), with the results of antibiotic ceftriaxone is the greatest give the relationship of bacterial resistance. From this results it is suggested that the rotation of antibiotics (antibiotic cycling) should be done based on usage and antibiotic sensitivity patterns of bacteria.  ABSTRAK Penelitian tentang penggunaan antibiotika pada terapi empiris dengan kepekaan bakteri di ruang ICU RSUP Fatmawati Jakarta, dilatarbelakangi oleh tingginya penggunaan antibiotika dalam terapi empiris di ruang perawatan intensive care unit (ICU), tanpa harus menunggu hasil kepekaan bakteri. Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang (cross sectional), pengambilan data secara retrospektif terhadap rekam medik dan data dianalisis dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan antibiotika pada terapi empiris dengan kepekaan bakteri dengan nilai P=0,000 (P lebih kecil dari α=0,05), dengan hasil seftriakson merupakan antibiotika yang paling besar memberikan hubungan terhadap resistensi bakteri. Dari hasil penelitian ini dosarankan agar dilakukan perputaran penggunaan antibiotika (antibiotic cycling) berdasarkan pola penggunaan antibiotika dan pola kepekaan bakteri.
PERBANDINGAN RESPON IMUNOLOGI EMPAT KOMBINASI ANTIRETROVIRAL BERDASARKAN KENAIKAN JUMLAH CD4 Mariam, Siti; Radji, Maksum; Budi, Erwanto
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 5, No 3 (2011)
Publisher : Jurnal Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfi.v5i3.51

Abstract

This research was conducted to determine the differencies in immunological response of the four first-line antiretroviral combination, that is lamivudin-Zidovudin-Nevirapin, lamivudin-Zidovudin-Evapirenz, lamivudin-Stavudin-Nevirapin and lamivudin Stavudin-Evapirenz, which were based on increase in CD4 of patients and the factors influencing it in patients HIV / AIDS in Dr. H. Mahdi Marzoeki Bogor. The study was conducted retrospectively using data from Medical Record (MR) patients from March 2006 until March 2010 on patients who had CD4 examination every 3-4 months for using antiretroviral. Provided for descriptive analysis and statistical analysis were 335 patients and 73 patients resfectively . The results showed that the increase in the average patient's CD4 count were different for their four combinations of antiretroviral drugs, but on the basis of statistical tests using ANOVA showed that differences in CD4 cell increase were not significant. Factors patient's age, number of opportunistic infections, CD4 early and drugs used to treat opportunistic infections did not affect the increase in CD4 of patients.   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan respon imunologi dari empat kombinasi antiretroviral lini pertama yaitu Lamivudin-Zidovudin-Nevirapin, Lamivudin-Zidovudin-Evapirenz, Lamivudin-Stavudin-Nevirapin dan Lamivudin-Stavudin-Evapirenz berdasarkan peningkatan  CD4 pasien dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada pasien HIV/ AIDS di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.  Penelitian dilakukan secara retrospektif menggunakan data dari Catatan Medik (MR) pasien dari bulan Maret 2006 sampai Maret 2010 pada pasien yang mempunyai hasil pemeriksaan CD4 setiap 3-4 bulan selama menggunakan antiretroviral. Diperoleh 335 pasien untuk analisis deskriptif dan 73 pasien untuk analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan CD4 rata-rata pasien berbeda dari keempat kombinasi ARV, tetapi berdasarkan uji statistik menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan kenaikan CD4 tidak bermakna. Faktor-faktor umur pasien, jumlah infeksi oportunistik, CD4 awal dan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi oportunistik tidak mempengaruhi kenaikan CD4 pasien.
Quality of Antibiotic Prescribing for Respiratory Tract Disease in Primary Healthcare Centers in the District of Tegal, Central Java, Indonesia Farida Fakhrunnisa; Retnosari Andrajati; Maksum Radji
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2020.9.2.95

Abstract

The prescription of antibiotics for diagnosed upper respiratory tract infections (URTIs) is frequently practiced. Furthermore, inappropriate use has been implicated in numerous problems, including the onset of resistance. This study is, therefore, aimed to evaluate the antibiotic prescribing quality for respiratory tract disease diagnosed at the outpatients of primary healthcare centers in Tegal District, Central Java, Indonesia. In addition, cross-sectional evaluation was employed, using data obtained within the period of June–August, 2018 in six locations, and subsequently subjected to qualitative analysis. The prescribing quality was evaluated by comparing the drug selected, dosage, frequency, and duration of administration stated in the prescriptions, with the terms in the Clinical Practice Guidelines for Primary Healthcare Facilities, 2014. A total of 1453 samples were selected through purposive sampling, where 632 were diagnosed with respiratory tract diseases, with common cold as the most frequent diagnosis (87.2%). In addition, exactly 621 (98.3%) failed to fulfill the rational antibiotic prescribing criteria, evidenced by irrational drug selection (22.0%), dosage (9.5%), frequency (1.7%), and duration of administration (65.0%). The physicians tend to comply more with the national treatment guidelines (OR: 1.828, 95%CI: 0.486–6.874, p-value 0.365), and the less experience of prescribers (<12 years of service) was identified as a negative contributing factor (OR: 0.536, 95%CI: 0.143–2.016, p-value 0.349). Furthermore, irrational prescription was observed in a much larger proportion, influenced by the prescribers’ qualification and experience. This association is currently not significant, due to deficiency of influencing samples.Keywords: Antibiotic, appropriateness prescribing, national treatment guidelines, qualification prescribers, rationality Kualitas Peresepan Antibiotik pada Penyakit Saluran Pernafasan di Beberapa Puskesmas di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, IndonesiaAbstrakPeresepan antibiotik untuk diagnosis infeksi saluran pernafasan atas sering dilakukan. Peresepan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan banyak masalah, salah satunya resistensi antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kualitas peresepan antibiotik pada diagnosis penyakit saluran pernafasan pasien rawat jalan di Puskesmas Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian potong lintang menggunakan data peresepan pasien rawat jalan periode Juni–Agustus 2018 di enam puskesmas di Kabupaten Tegal. Resep dengan diagnosis penyakit saluran pernafasan digunakan untuk analisis kualitatif. Kualitas peresepan dinilai dengan membandingkan pemilihan obat, dosis pemberian, frekuensi pemberian dan durasi pemberian antara yang tertulis pada resep dengan Panduan Praktik Klinis Fasilitas Kesehatan Primer 2014. Sebanyak 1453 resep diambil secara purposive sampling, 632 resep di antaranya dengan diagnosis penyakit saluran pernafasan. Diagnosis yang paling sering yaitu salesma (87,2%). Sebanyak 621 (98,3%) resep tidak memenuhi kriteria peresepan antibiotik yang rasional, meliputi ketidakrasionalan pemilihan antibiotik (22,0%), dosis pemberian (9,5%), frekuensi penggunaan (1,7%), dan durasi pemberian (65,0%). Peresepan antibiotik oleh dokter lebih sesuai dengan panduan pengobatan nasional (OR 1,828, 95% CI: 0,486–6,874, p-value 0,365). Pengalaman penulis resep yang lebih singkat (<12 tahun) juga menjadi faktor persepan tidak rasional (OR 0,536, 95% CI: 0,143–2,016, p-value 0,349). Sebagian besar peresepan antibiotik pada penyakit saluran pernafasan tidak rasional. Baik kualifikasi maupun pengalaman penulis resep pada penelitian ini memiliki memengaruhi rasionalitas resep, meskipun tidak (belum) signifikan karena kurangnya sampel terhadap kerasionalan.Kata kunci: Antibiotik, kerasionalan, kesesuaian peresepan, kualifikasi penulis resep, panduan pengobatan nasional