cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
PEMBENTUKAN PRISMA AKRESI DI TELUK CILETUH KAITANNYA DENGAN SESAR CIMANDIRI, JAWA BARAT Lili Sarmili; Deny Setiady
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.615 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.3.2015.272

Abstract

Kumpulan sesar naik yang ditafsirkan dari penampang seismic refleksi di teluk Ciletuh mengindikasikan adanya prisma akresi di daerah penelitian. Prisma akresi di daerah penelitian terletak di perairan teluk Ciletuh yang ditandai olef kumpulan sesar naik akibat adanya zona tumbukan antara kerak benua dan kerak samudera. Kerak samudera yang terangkat dan tersingkap di daratan teluk Ciletuh berupa batuan basalt (lava bantal), batuan ultra basa dan batuan bancuh. Prima akresi ini diduga berumur lebih tua dari prisma akresi yang masih terjadi saat ini, diperkirakan umurnya Tersier. Posisi prisma akresi di daerah penelitian ini berada di utara zona subduksi yang masih aktif di selatan di pulau Jawa. Beberapa struktur sesar naik juga terdapat di utara teluk Pelabuhan Ratu. Kumpulan sesar naik di sekitar teluk Pelabuhan Ratu dapat dianggap sebagai prisma akresi tua, dan mempunyai kaitan dengan kumpulan sesar naik di teluk Ciletuh. Posisi sesar-sesar naik yang terpisah antara sesar naik di lokasi teluk Pelabuhan Ratu dan di teluk Ciletuh diperkirakan terpisah oleh suatu sesar. Sesar yang memisahkan kedua kumpulan sesar naik ini diduga adalah sesar Cimandiri dengan jenis sesar mendatar menganan Kata kunci prisma akresi, teluk Ciletuh, batuan ultra basa, sesar sisnistral Cimandiri. A series of thrust faults which is interpreted from seismic reflection profile at Ciletuh bay indicate the occurrence of accretionary prism in the study area. The accretionary Prism in the study area indicated by series of thrust faults as a product of the collision zone between continental crust and oceanic crust. Uplifted oceanic crust was exposed on Ciletuh mainland such as basaltic rocks, pillow lavas, ultra basic rocks and melange. The accretionary prism is thought to be older than the accretionary prism that is still occurs on south Java island, and it was estimated Tertiary in age. The position of accretionary prisms in this study area is in the northern active subduction zone in the south of Java island. Some thrust faults are also found in the northern of Pelabuhan Ratu Gulf. A series of these faults can be regarded as an old accretionary prism, and have a relationship with a series of thrust fault at Ciletuh bay. The position of these thrust faults separate between the thrust of Pelabuhan Ratu bay and the thrust of Ciletuh bay and estimated have been disturbed by a fault. Fault which separates these two sets thrust fault is interpreted due to Cimandiri dextral fault. Keywords: the accretionary prism, Ciletuh bay, ultra basic rocks, Cimandiri sinistral fault.
INTRUSI VULKANIK DI PERAIRAN SEKOTONG LOMBOK BARAT Lukman Arifin; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.458 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.112

Abstract

Rekaman seismik pantul dangkal menunjukkan adanya terobosan batuan ke permukaan dasar laut. Terobosan batuan tersebut berupa intrusi vulkanik seperti yang terdapat di darat, yaitu di bagian barat dan timur daerah telitian. Disekitar intrusi batuan vulkanik ini dapat diamati adanya sesar sesar yang berkembang. Adanya intrusi vulkanik dan sesar sesar di daerah telitian ini, perlu diwaspadai sebagai bahaya geologi yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan dan pembangunan di sekitar pantai. Shallow seismic reflection record indicate an intrusion body to sea floor surface. This intrusion suggested to be a vulcanic rock that occur in the western and eastern part of study area. Around in this intrusion vulcanic rock, the development of faults can be observed. The occurrence of this vulcanic intrusion should be paid attention as geological hazard that have to be consider for coastal development.
SEBARAN SPASIAL FORAMINIFERA DALAM KAITANNYA DENGAN KEDALAMAN LAUT DAN JENIS SEDIMEN DI TELUK BONE, SULAWESI SELATAN Kresna Tri Dewi; Eko Saputro
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1994.44 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.3.2013.240

Abstract

Sebanyak 25 sampel sedimen dasar laut dari Teluk Bone bagian utara, Sulawesi Selatan telah digunakan untuk analisis foraminifera dalam kaitannya dengan jenis sedimen dan kedalaman. Hasil analisis diperoleh 97 spesies foraminifera bentik dan beberapa genera diantaranya mendominasi titik lokasi tertentu, seperti Amphistegina, Operculina, Heterolepa, Brizalina, Elphidium dan Quinqueloculina.Setiap genus mempunyai distribusi spasial tertentu sesuai habitatnya dengan beberapa anomali. Kisaran kedalaman daerah penelitian antara 23 dan 85 m dicirikan oleh kehadiran Amphistegina, Cibicides, Rotalia, Cavarotalia. Dalam kaitannya dengan kedalaman, sebaran foraminifera cenderung terakumulasi di sebelah timur daerah penelitian. Setiap satuan sedimen dicirikan oleh genus foraminifera tertentu. Kata kunci: foraminifera, distribusi spasial, kedalaman laut, jenis sedimen, Teluk Bone, Sulawesi Selatan A total of twenty five surface sediment samples from the northern part of Bone Bay, South Sulawesi were selected for foraminiferal study. The purpose of this study is to recognize spatial distribution foraminifera in relation with water depth and sediment types. There are 97 identified species, some ot them are dominant at certain sites, such as Amphistegina, Operculina, Heterolepa, Brizalina, Elphidium and Quinqueloculina. Each genus has certain spatial distribution as its habitat with some anomalies. The range of water depth is between 23 and 85 m that characterized by Amphistegina, Cibicides, Rotalia, Cavarotalia. In relation to water depth, the distribution of foraminifera tends to accumulate in the eastern part of the study area. Sediment unit is characterized by certain foraminifera genus. Keywords : Foraminifera, spatial distribution, water depth, sediment type, Bone Bay, South Sulawesi.
KETERKAITAN FORAMINIFERA DAN KEDALAMAN PERAIRAN SEBELAH TENGGARA PULAU SERAM, MALUKU Suhartati M. Natsir; Kresna Tri Dewi; Sri Ardhyastuti
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.513 KB) | DOI: 10.32693/jgk.15.2.2017.389

Abstract

Daerah penelitian merupakan perairan dalam di tenggara Pulau Seram yang berbatasan antara Laut Seram di bagian utara dan Laut Banda di bagian selatan. Laut dalam merupakan ekosistem unik yang perlu diketahui kandungan biotanya termasuk foraminifera. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan keterkaitan foraminifera dengan laut dalam. Penelitian foraminifera menggunakan 9 (sembilan) sampel sedimen hasil cucian melalui proses preparasi, observasi dan analisis spesies. Hasil pengamatan menemukan 20 spesies foraminifera planktonik didominasi oleh Globigerina bulloides dan beberapa spesies lain yang kurang melimpah diantaranya Globorotalia tumida, Orbulina suturalis dan Orbulina universa. Ditemukan 9 spesies foraminifera bentonik dalam jumlah kurang melimpah dan diwakili oleh kehadiran Bolivinella elegans sebagai komponen laut dalam. Nilai rasio foraminifera planktonik dan bentonik (rasio P/B) pada semua stasiun lebih dari 90% yang termasuk dalam klasifikasi lingkungan batial bawah. Kata kunci: foraminifera, rasio P/B, kedalaman, Pulau Seram The study area is deep sea located in south eastern part of Seram Island that facing too deep seas of Seram and Banda. The deep sea is a unique ecosystem that should be explored the biota composition, including foraminifera. The aim of this study is to determine the assemblage and relationship between foraminifera and water depth. The foraminiferal study used 9 (nine) washed sediment samples through sample preparation, observation and species analysis. There are 20 identified species of planktonic foraminifera dominated by Globigerina bulloides and other several species which are less abundant such as Globorotalia tumida, Orbulina suturalis and Orbulina universa. It is found 9 species of benthic foraminifera that were less abundant and represented by Bolivinella elegans as deep water component. The ratio values between planktonic and benthonic foraminifera (P/B ratio) for all samples are more than 90% that is classified as lower bathyal zone.Keywords: foraminifera, P/B ratio, water depth, Seram Island
PROSES ABRASI DI KAWASAN PANTAI LOMBONG, MAJENE, SULAWESI BARAT Yudhicara Yudhicara; Mira Yossy
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.442 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.3.2011.208

Abstract

Saat ini pantai Lombong yang merupakan bagian dari kawasan pantai di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat mengalami kerusakan akibat abrasi, sehingga sarana dan prasarana umum di beberapa tempat terancam mengalami kerusakan. Untuk itu dilakukan analisis terhadap potensi abrasi melalui suatu penelitian, berupa kegiatan lapangan dan analisis yang antara lain adalah analisis energi fluks gelombang menggunakan data arah dan kecepatan angin; analisis material endapan pantai; analisis arus sepanjang pantai; serta analisis data pasang surut. Berdasarkan hasil pengukuran di atas, beda tinggi dataran pantai tempat pemukiman berada relatif sangat landai (0.2-1.0 m) dengan jarak yang sangat dekat terhadap garis pantai yaitu 18 hingga 52 m. Hasil analisis data angin menunjukkan bahwa arah angin dominan yang dapat memicu timbulnya gelombang di perairan Majene, adalah angin yang berasal dari arah barat (18,11 %) dan angin barat laut (17,41 %). Tinggi gelombang dari arah barat dan barat laut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan dari arah lainnya, karena arah ini mempunyai kecepatan dan panjang fetch angin yang lebih besar. Analisis data pasang surut memunjukkan bahwa rentang air di perairan Majene ini adalah 170 cm dengan tinggi duduk tengah muka laut (MSL) 89.99 cm, sedangkan dari perhitungan konstanta harmonik mengidentifikasikan bahwa tipe pasang surut di perairan Majene tersebut adalah tipe campuran condong harian tunggal (mixed mainly diurnal tides). Berdasarkan hasil perhitungan energi fluks, terlihat bahwa daerah-daerah yang berpotensi mengalami proses abrasi adalah di titik amat 1 - 2; 6 - 13; 14 - 17; 19 - 21, sedangkan pantai yang berpotensi mengalami sedimentasi adalah pada titik amat 2 – 3; 13 – 14; 17 – 19. Titik amat 3 – 6 dan 21 – 22 relatif stabil. Kata kunci: Pantai Lombong, Abrasi, Gelombang, Angin, Pasang surut Currently, the coastal area of Lombong as part of Malunda sub district, Majene, West Sulawesi has suffered damage caused by abrasion and some places has threatened damaged on public facilities and infrastructure. This is the reason why the study of abrasion potential has been conducted. We did some analysis, such as wave flux energy by using wind direction and velocity; coastal sediment material; longshore current and tidal data analysis beside the field work. Study result indicate that the coastal plain height different is about 0.2 to 1.0 m in term of mean sea level, and the horizontal distance of 18-52 m of the nearest building from the shoreline. Wind analysis result obtained that the dominant wind direction that could lead to a wave in Majene waters are winds coming from the west (18.11%) and northwest (17.41 %) which is relatively higher compared to other direction, which has long fetch and greater wind speed. Tidal data analysis showed that the tidal range in Majene waters is 170 cm and mean sea level is 89.99 cm. According to the harmonic constant calculation that identify the type of tide in Majene waters is mixed mainly diurnal tides. calculation on energi flux reveal that areas which are potentially experiencing on abrasion process are at locations between points of 1 to 2; 6 to13; and 14 to 17, while areas which are potentially experiencing sedimentation are at locations between points 2 to 3; 13 to 14; and 17 to 19, and points 3 to 6 and 21 to 22 are relatively stable. Key words: Lombong beach, abrassion, waves, winds, tides.
TINJAUAN GEOTEKTONIK SELAT MAKASSAR UTARA, IMPLIKASINYA TERHADAPPOTENSI HIDROKARBON LAUT DALAM CEKUNGAN KUTAI KALIMANTAN TIMUR Priatin Hadi Widjaja; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5234.474 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.3.2009.176

Abstract

Selat Makassar Utara yang terletak di bagian tenggara tepi paparan Sunda antara pulau Kalimantan dan Sulawesi merupakan wilayah eksplorasi laut-dalam. Wilayah ini berdekatan dengan Cekungan Kutai yang umumnya endapan delta dan paparan. Cekungan Kutai Laut-dalam yang termasuk daerah Kalimatan Timur bagian offshore telah dieksplorasi dengan penemuan beberapa lapangan migas yang signifikan pada sedimen umur Pliosen dan Miosen Akhir. Penemuan lapangan migas tersebut yang tersebar di tiga blok yaitu Makassar Strait PSC, Rapak PSC dan Ganal PSC yang dikontrol oleh tektonik kompresi berarah barat barat-laut dan timur tenggara. Setting geotektonik Selat Makassar dimulai dari Eosen yang diakibatkan tarikan pada kerak yang berkembang ke arah baratdaya dari pusat pemekaran di Laut Sulawesi. Setelah awal tarikan pada Selat Makassar, permukaan horst dan graben pada fase awal Eosen tertutupi di atasnya oleh sedimen dari hasil proses penurunan cekungan selama Oligosen sampai Miosen. Pada Plio-Pleistosen di Selat Makassar terjadi perubahan dari tektonik tarikan menjadi kompresi. Perkembangan antiklin toe-thrust terbentuk pada tingkat perkembangan yang bervariasi selama Miosen – Pliosen menjadikan hydrokarbon play pada laut-dalam purba. Keadaan tersebut berpengaruh terhadap pengendapan batuan reservoir dan batuan induk, sejarah penurunan cekungan dan tentunya tipe pematangan batuan induk, jalur migrasi dan pada puncaknya adalah dihasilkannya banyak perangkap lapangan migas dari struktur toe-thrust. Kata kunci: geotektonik, Selat Makassar Utara, Cekungan Kutai, laut-dalam, reservoir The North Makassar Straits, located on the south-eastern margin of the Sundaland, between the islands of Kalimatan and Sulawesi, is an under-explored deepwater domain, adjacent to Kutai Basin which primarily coastal deltaic and shelfal deposits. Deepwater Kutei Basin, offshore East Kalimantan, has been explored with several significant hydrocarbon discoveries in Pliocene and Late Miocene sediments. The discoveries scattered in three blocks i.e., North Makassar Strait PSC, Rapak PSC and Ganal PSC controlled by compressional tectonics in W-NW and E-SE directions. Geotectonical setting of the Makassar Straits commenced during the Eocene in response to a crustal extension that propagated south-westwards from the Celebes Sea spreading centre. After initial opening of the Makassar Straits, early-phase Eocene horst and graben terrains were overlain by basinal sag sediments during the subsequent Oligocene to Miocene era. During the Plio-Pleistocene, prior extensional settings in the Makassar Straits that became compressional. The development of these toe-thrust anticlines has influenced the development of this Miocene-Pliocene palaeo-deep-water play in varying degree. This influence ranges from the deposition of reservoir, source, to subsidence history and thereby source rock maturity, migration routes and, ultimately, many of the field traps are generated by these toe-thrust structures. Key words: geotectonic, North Makassar Strait, Kutai basin, deepwater, reservoir
KAPER BELAKANG Sutisna Sutisna
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.856 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.465

Abstract

IDENTIFIKASI ALUR PURBA BERDASARKAN SEISMIK PANTUL DANGKAL DI PERAIRAN BANGKA UTARA LEMBAR PETA 1114 Purnomo Raharjo; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.376 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.144

Abstract

Kondisi tektonik dan tatanan geologi yang kompleks di Indonesia menghasilkan pembentukan bermacam-macam mineral. Salah satu mineral adalah timah pada wilayah Paparan Sunda, membentang dari Semenanjung Malaya, Kepulauan Riau, Kepulauan Singkep, Pulau Bangka, Kepulauan Tujuh, dan Pulau Belitung. Jalur timah ini umumnya telah mengalami erosi kuat pada waktu yang lama. Timah letakan adalah salah satu sumber daya mineral lepas pantai yang dapat ditambang. Umumnya mineral-mineral tersebut terperangkap di dalam lapisan sedimen permukaan berumur Kuarter. Pulau Bangka merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai kepulauan timah. Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) pada tahun 1994 telah melakukan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan di daerah perairan Bangka Utara (Lembar Peta 1114), dengan sekala peta 1 : 250.000. Dengan teknologi khususnya seismik refleksi dan penafsirannya, diharapkan akan ada temuan-temuan cadangan timah baru. Morfologi dasar laut daerah penyelidikan digambarkan oleh pola kontur batimetri relatif rapat di bagian barat pantai. Pola ini mencerminkan suatu sisi punggungan (homoklin) dan berarah timur laut – barat daya. Diantara PulauTujuh dan Pulau Bangka pola kontur membentuk tutupan-tutupan (closure) dan membentuk suatu kelurusan berarah timur laut – barat daya berupa cekungan-cekungan kecil merupakan alur selat P. Tujuh dan P. Bangka. Hasil penafsiran rekaman seismik refleksi kondisi geologi bawah permukaan dasar laut dapat dipisahkan menjadi dua sekuen yaitu sekuen A dan sekuen B. Sekuen B adalah sekuen paling bawah (acoustic basement) yang terdiri dari subsekuen B1, B2 dan B3, tidak semua subsekuen ini terekam karena umumnya horizon reflektornya sulit diidentifikasi dan umumnya tertutup oleh pantulan ganda (multiple). Sekuen A adalah sekuen yang diendapkan diatas sekuen B, dibedakan dengan sekuen B yang berada dibawahnya oleh bidang erosi, sekuen A ini terdiri dari subsekuen A1 dan A2. Kedua subsekuen ini jika disebandingkan secara stratigrafi berdasarkan Mangga dan Jamal serta Aleva, merupakan “Young Sedimentary Complex” terbentuk pada Kala Holosen. Kata Kunci : Identifikasi Alur Purba, Seismik Pantul Dangkal, Perairan Bangka Utara, Lembar Peta 1114. In Indonesia minerals occurrence were controlled by tectonic process and regional geological setting. One mineral is tin in the Sunda shelf, area which stretch from Malaya Peninsula, Riau Islands, Singkep Islands, Bangka Island, Tujuh Islands and Belitung Island. This tin belt was strongly eroded in the long period of time. Tin placer is an offshore mineral resource which was already exploited. Generally the mineral is trapped in the surface sediment layers, of Quartenary age. Bangka Island is well known one of many tin archipelago. Marine Geological Institute (MGI) in 1994 has done geological and geophysical mapping in North Bangka waters (Map Sheet, 1114), with map scale 1 : 250.000. The technology used especially seismic reflection and its interpretation was expected discovery of new tin reserves. Sea bottom morphology of area investigation is depicted by bathymetric contour pattern relatively closed to the western coast. This pattern is a ridge (homoklin) of northeast - southwest direction. Between Pulautujuh and Bangka Islands contour pattern is closure and elongated northeast-southwest as small basins which formed a channel between P. Tujuh and P. Bangka. The interpretation of seismic reflection record showed subsurface geology condition divided in to two sequences A and B. Sequence B is a basement acoustic consisted of subsequence B1, B2 and B3, these subsequence were not all recognised due to generally its horizon reflector is difficult to be identified and is generally covered up multiple. Sequence A was deposited above sequence B and was differentiated by erosional truncation. Sequence A is consisted of subsequence A1 and subsequence A2. Both subsequences correlated to Mangga and Jamal, and also Aleva, stratigraphically representing " Young Sedimentary Complex" formed in Holocene. Keyword : Paleochannel Identification, Shallow Reflection Seismic, North Bangka Waters, Map Sheet 1114.
BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA KUARTER PADA BOR INTI MD 982152 DAN 982155 DARI SAMUDRA HINDIA Mimin Karmini; H. Yuniarto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1256.383 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.2.2013.231

Abstract

Dari bor inti pada EKSPEDISI IMAGES, di Samudra Hindia, telah diteliti sebanyak 21 percontoh sedimen dari lokasi MD 982152, dan 29 buah dari lokasi MD 982155 untuk kepentingan biostratigrafi berdasarkan analisis foraminifera plankton dalam interval 1,5 meter. Pada kedua penampang bor inti tersebut hanya dijumpai satu zona foraminifera plankton Kuarter, yaitu Zona Globorotalia truncatulinoides. Untuk MD 982152, zona ini bisa dibagi ke dalam dua subzona, yakni Subzona-subzona Globorotalia crassaformis hessi dan Globigerinella calida, sedangkan untuk MD 982155, zona tersebut bisa dibagi lagi ke dalam tiga subzona, yakni Subzona-subzona Globorotalia crassaformis hessi Globigerinella calida, dan Beella digitata. Kejadian yang signifikan di kedua penampang itu adalah Datum Pemunculan Pertama dari Globigerinella calida dan Pemunculan Akhir dari Globorotalia crassaformis hessi. Pada MD 982155, dijumpai Pemunculan Pertama dari Beella digitata. Kata kunci: foraminifera plankton, Kuarter, biostratigrafi, Samudra Hindia. From IMAGES Expedition in Indian Ocean, 21 samples from MD 982152, and 29 samples from MD 982155 had been studied for the purpose of biostratigraphy based on planktonic foraminifera within 1,5 meter interval. In both sections, only one Quaternary zone is found, namely Globorotalia truncatulinoides Zone. For MD 982152, that zone can be subdivided into two interval subzones e.g. Globorotalia crassaformis hessi and Globigerinella calida calida. However, in MD 982155 Globorotalia truncatulinoides Zone can be subdivided into three subzones namely, Globorotalia crassaformis hessi, Globigerinella calida calida, and Beella digitata Subzones. The planktonic foraminifera event revealed in both sections are the First Appearance Datum (FAD) of Globigerinella calida calida and the Last Appearance (LAD) of Globorotalia crassaformis hessi. In MD 982155 the FAD of Beella digitata is found. Keywords: planktonic foraminifera, Quaternary, biostratigraphy, Indian Ocean.
PENGGUNAAN METODE ANALISIS SINYAL DALAM INTERPRETASI DATA MAGNET DI PERAIRAN SELAT SUNDA UNTUK MENENTUKAN ARAH DAN POSISI PIPA BAWAH LAUT Subarsyah Subarsyah; Budi Nhirwana
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1256.84 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.1.2011.199

Abstract

Penentuan arah dan posisi pipa bawah laut dengan menggunakan data magnetik seringkali mengalami kesulitan dikarenakan data yang didapat tidak selalu ideal seperti yang diharapkan. Oleh karenanya diperlukan metoda yang dapat memberikan informasi posisi dan arah pipa. Analisis sinyal merupakan metoda yang akan diterapkan untuk membantu penentuan posisi dan arah pipa bawah laut. Informasi yang digunakan dalam metoda ini adalah horizontal dan vertical derivative yang erat kaitannya dengan nilai gradien anomali magnetik, sehingga data yang memiliki nilai anomali magnetik akan terlihat lebih jelas dibandingkan dengan area sekitarnya. Kata kunci : analisis sinyal, derivative. Determination of direction and position of the underwater pipeline by using magnetic data often have difficulty because the data obtained are not always ideal as expected. Therefore it is needed a method that can provide the position and also direction of underwater pipeline. Signal analysis is the method to be applied to determine the position and direction of the underwater pipeline. Information used in this methods are horizontal and vertical derivatives that closely related to the gradient of the magnetic anomalies, so that the data has a value of magnetic anomalies will be seen more clearly expose than the surrounding area. Keywords : signal analysis, derivative.