cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
JENIS DAN KANDUNGAN MINERAL DALAM SEDIMEN LEPAS PANTAI DI PERAIRAN KABUPATEN ACEH UTARA PROPINSI NANGROE ACEH DARUSALAM Deny Setiady; Andy Hermanto Sianipar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 3 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.713 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.3.2009.180

Abstract

Berdasarkan hasil analisis besar butir sebanyak 127 percontoh sedimen permukaan dasar laut di perairan Kabupaten Aceh Utara, didapatkan 5 jenis sedimen: pasir, pasir lanauan, lanau, lanau pasiran, dan pasir biogenik. Analisis mikrokospis percontoh tersebut telah dilakukan untuk mengetahui jenis kandungan mineral yang terdapat di dalam sedimen. Hasil analisis mineral ini di daerah penelitian terdiri dari: kuarsa, magnetit, amfhibole, oksida besi, ilmenit, piroksen, zirkon, pirit, epidot, dan biotit Di daerah telitian, kuarsa ditemukan pada 127 contoh yang dianalisis, dengan kandungan yang bervariasi dari 28,31% hingga 99%,. Kehadiran kuarsa, magnetit, ilmenit, amphibole dan piroksen, di daerah selidikan menunjukkan bahwa batuan asalnya diduga batuan granitan. Kata kunci: kuarsa, Aceh Utara, analisis mineral, granit Based on grain size analyses of, 127 samples taken from seafloor surficial sediment consist of five kind sediments. They are sand, silty sand, silt, sandy silt, and biogenic sand. Microscopically analyzed of these samples were carried out in order to descrif mineral compositio. The results of mineral analysis are quartz, magnetite, amphibole, iron oxyde, ilmenite, pyroxene, zircon,pyrite, epidote, and biotite Quartz has been found in 127 samples with variation from 28,31% to 99%. The existense quartz, magnetite, amphibole, ilmenite, pyroxene minerals in study area show that the source of the sediment is probably granitio rocks. Keywords: quartz, North Aceh, mineral analysis, granit
PENDANGKALAN PELABUHAN CIREBON DAN ASTANAJAPURA AKIBAT PROSES SEDIMENTASI (BERDASARKAN DATA SEISMIK PANTUL DANGKAL DAN PEMBORAN INTI) Faturachman Faturachman; Riza Rahardiawan; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.395 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.107

Abstract

Pelabuhan Cirebon dan rencana pelabuhan Astanajapura di bagian utara Jawa Barat, saat ini sedang mengalami ancaman akan pendangkalan, hal ini ditunjukkan oleh tingginya aktifitas pengerukkan oleh PT. Pelindo yang dilakukan setiap 6 bulan sekali. Untuk mengevaluasi masalah pendangkalan tersebut, penulis melakukan telaah menggunakan metoda geologi dan geofisika yang difokuskan pada penafsiran seismik pantul dan pemboran inti. Hasil penafsiran seismik pantul dangkal memperlihatkan adanya pola progradasi yang saling menindih. Hal ini ditafsirkan bahwa proses sedimentasi di daerah ini berjalan sangat aktif hingga sekarang. Sedangkan keberadaan pola reflektor sejajar dan sigmoid kombinasi dengan pola syngled dan divergent di bagian bawahnya, menunjukkan bahwa sedimen merupakan endapan delta di dekat pantai. Dari hasil pemboran inti, dijumpai sedimen fraksi halus setebal 20,00 meter, dari atas ke bawah tersusun atas lempung lanauan, lempung dan pasir lepas. The Cirebon and the planned Astanajapura Harbour in the northern West Jave are resently having a rapid shoaling. This is indicated by high frequency number of seafloor dredging, i.e. at every 6 months by PT. Pelindo. The geology and geophysical method, emphasizing on the reflection seismic and core drilling interpretations had been used to evaluate this shoaling problem. The interpretation of reflection seismic show that there is a sediment progradation pattern, indicate that sedimentation is progressing very actively in this area. Parallel reflection and sigmoid patterns and their combination with singled and divergent pattern at the bottompart indicate that the sediment is a nearshore deltaic sediment. Sediment of fine fraction of 20 metres thick, consisting of silly clay, clay and loose sand was found from the result of core drilling.
KARAKTERISTIK PASIR DI PANTAI DAN LEPAS PANTAI BINUANGEUN, LEBAK-BANTEN Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1955.555 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.2.2013.235

Abstract

Pasir merupakan sesuatu penomena yang menarik karena padanya tersimpan misteri bagaimana partikel itu terendapkan sesuai dengan lingkungannya, apakah merupakan pasir pada lingkungan marin, pantai atau sungai. Untuk mengetahui lingkungan pengendapan tersebut maka dilakukan identifikasi karakteristik pasirnya. Metoda penelitan meliputi pengambilan contoh, analisis besar butir, klasifikasi nomenklatur sedimen dan parameter statistik. Klasifikasi nomenklatur sedimen pada endapan sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik dan endapan sungai aktif didapat pasir sebanyak, masing masing 19, 35, 15 dan 3 percontoh. Ke empat jenis endapan mempunyai ukuran butir rata-rata (mean) relatif seragam, yaitu pasir halus (2 Φ - 3 Φ). Begitu juga ukuran pasirnya berupa pasir halus dengan kurva distribusi persen berat fluktuatif. Perbedaan terlihat pada ukuran pasir sedimen permukaan dasar laut dan sedimen sungai aktif, selain pasir halus hadir pula pasir menengah (1 Φ - 2 Φ). Klasifikasi lingkungan pasir memperlihatkan bahwa ke empat endapan mempunyai kesesuaian lingkungan pengendapan disertai adanya muatan partikel yang mengkasar dan menghalus dengan bentuk kurtosis leptokurtik dan platikurtik monomodal. Sumber batuan asal sedimen diduga berasal dari hasil abrasi batugamping terumbu yang tersingkap di pantai bagian tengah daerah penelitian dan pengerjaan ulang batuan gunungapi dan batuan sedimen asal volkanik yang umum tersingkap di utara daerah penelitian. Kata Kunci : Sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik, sedimen sungai aktif, lingkungan pengendapan pasir, sumber batuan. Sand sediment is something interesting phenomenon because the sand is stored in the mystery of how the sand particles sedimented according to the deposition environment, what is the sand that was deposited in marine, beach or river environment. The identification of sand sediment characteristic is used for the determination of depositional environment. Study methods include sediment sampling, grain size analysis of sediment, sediment nomenclature classification and computing the statistical parameters. Sediment nomenclature classification results on the seafloor surface sediment, sand beach sediment, berm sediment and active stream sediment derived as much sand sediment types, respectively 19, 35, 15 and 3 samples. The four types of sediment deposition that has mean is relatively uniform, which falls on the fine sand (Φ 2 - Φ 3). While the size of sand fall in the fine sand with fluctuating weight percent distribution curve. The difference was in the size of the sand on the sea floor sediments and active stream sediments, in addition to fine sand also present medium sand (Φ1 - Φ2). Sand environment classification showed that all four types of the sediments have suitability depositional environment be accompanied excess coarse and fine particles with curved kurtosis leptokurtic and platykurtic monomodal. Source rocks of the sediments probably derived from the abrasion of coralreef limestone exposed in the central coast of study area and rework volcanic rocks and sedimentary rocks of volcanic origin are commonly exposed in the northern of study area. Key words: Seafloor surface sediment, sand beach, berm, active stream sediment, sand depositional environment, source rocks.
MODEL 2D PENGARUH GAYA HORIZONTAL ARUS PADA PEMECAH GELOMBANG DI TPI PANCER JAWA TIMUR Franto Novico; Sahudin Sahudin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2530.058 KB) | DOI: 10.32693/jgk.9.2.2011.203

Abstract

Perencanaan pemecah gelombang yang baik seharusnya dilakukan tidak hanya dengan mempertimbangkan aspek geologi dan geoteknik namun juga arus sebagai gaya horizontal yang bekerja pada pemecah gelombang. Berdasarkan desain pemecah gelombang pada penelitian terdahulu, maka dilakukan analisa pemodelan pemecah gelombang yang difokuskan pada parameter arus yang bekerja di struktur pemecah gelombang. Kecepatan arus ditransformasikan menjadi gaya horizontal untuk masing-masing skenario model, dimana model dibuat dalam bentuk dua dimensi elemen terbatas dengan analisis linear elastis untuk setiap skenario model. Model telah dibuat dengan menerapkan 8 meter tinggi pemecah gelombang dan 1kN/m2 gaya horizontal untuk disimulasikan. Berdasarkan hasil yang didapatkan maka dapat diketahui bahwa perpindahan terbesar yang terjadi adalah sebesar 46,25 x 10-3 m. Sehingga gaya arus dapat dikatakan tidak menyebabkan keruntuhan atau perubahan yang besar pada struktur pemecah gelombang. Kata Kunci: Gaya Arus, Pemecah Gelombang TPI Pancer, Plaxis V.8.2 Achieving a good design of a breakwater should be completed not only considering a geology and geotechnical aspect but also calculating a current as horizontal force. Based on previous breakwater design thus, it has been completed analysis of breakwater model where a model was created with concentrate within current force on breakwater. Current velocity is transformed to horizontal force where two dimension finite element and linear elastic model were applied for each model scenarios. Model has been created within 8 meters high of breakwater and 1 kN/m2 of current force to be simulated. Based on the result, it can be seen the biggest displacement that occurred 46,25*10-3 m. Therefore, the breakwater does not have a big deformation or failure that caused by current force. Keywords: Current forces, Breakwater, TPI Pancer, Plaxis V.8.2
TINJAUAN GEOLOGI TERHADAP MODEL ELEVASI DIGITAL SISTEM PARIT-PRISMA AKRESI, SELATAN JAWA Dida Kusnida; Tommy Naibaho
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.945 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.171

Abstract

Model elevasi digital sistem parit-prisma akresi selatan Pulau Jawa menggambarkan keterwakilan topografi dasar laut seperti elevasi, lereng dan lain sebagainya secara tepat dan dengan mudah dapat dikuantifikasikan serta digambarkan sebagai output images. Sistem parit-prisma akresi selatan Pulau Jawa terletak di sebelah tenggara tepian Paparan Sunda dan diperkirakan dialasi oleh kerak samudera terakresi dan berada pada tahap awal evolusi. Analisis topografi rinci data model elevasi digital (DEM) dari daerah ini menunjukan hubungan yang erat antara struktur geologi dan batas satuan batuan. Kata kunci : parit, prisma akresi, DEM, topografi, lereng. Digital elevation model of the trench-accretionary prism system off south Java Island displays an accurate representation of seafloor topographic such as elevation, slope, etc and can easily be quantified and is displayed as output images. The trench-accretionary prism system off south Java Island lies on the southeast Sunda Shelf continental margin and it is suggested to be underlain by the basement of accreted oceanic crust, which is still in an early stage of evolution. Detailed topographic analysis of the digital elevation model (DEM) data from the area reveals a strong correlation between geological structures and rock unit boundaries. Keywords : trench, accretionary prism, DEM, topography, slope.
PROSES PERTUMBUHAN DELTA BARU SUNGAI CIMANUK HINGGA TAHUN 2002, DI PANTAI TIMUR KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT Prijantono Astjario; Nyoman Astawa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1605.996 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.139

Abstract

Kawasan garis pantai timur kabupaten Indramayu ditutupi oleh endapan aluvium yang cukup luas. Proses sedimentasi pada garis pantai saat ini masih berlangsung, disebabkan oleh sungai Cimanuk yang bermuara di daerah ini. Sungai tersebut membawa material sedimen dalam jumlah besar. Sedimen ini tersebar di L. Jawa dan diendapkan kembali di garis pantai, yang mengakibatkan pantai timur Indramayu mengalami akrasi dan membentuk delta. Tahun 1947 aliran sungai Cimanuk mengalami perubahan, salah satu bagian aliran sungai mengalir ke arah utara-timur, jalan terdekat menuju garis pantai membentuk delta baru dengan tipe telapak kaki burung (birdfoot-type delta). Kandungan lumpur sungai Cimanuk dapat mencapai rata-rata 53,6 juta ton/tahun, akibatnya kawasan muara sungai Cimanuk mengalami pendangkalan (akresi) yang sangat cepat dan luas. Proses pendangkalan ini dapat dipantau dari perubahan garis pantai sejak tahun 1947 hingga 2002 melalui penginderaan jauh citra satelit. Kata kunci : sedimentasi, garis pantai, akresi, delta dan lumpur. The east coast of the Indramayu District is covered by a widely spread alluvial deposit. The sedimentation process is still continuing caused by the drainage of the Cimanuk River flowing to the east coast. This river carries away a huge number of the sediment materials. This material, being widely distributed in Jawa sea water and are redeposited on the coastal zone, causing the east coast of Indramayu accreting and forming delta. In 1947 the drainage of the Cimanuk River has changed, one of the tributary is running away to the north-east direction, which is the shortest way to the coastline, and forming a new birdfoot type delta. The mud material of the Cimanuk River can reach approximately 53.6 million ton/year, consequently, the mouth of the Cimanuk River has rapidly and widely shallowed. The accretion processes can be monitored by the changed of the coastline from 1947 to 2002 by using satellite imagery. Key words : sedimentation, coastline, acresion, delta and mud.
PERBAIKAN CITRA PENAMPANG SEISMIK MENGGUNAKAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE : APLIKASI TERHADAP DATA SEISMIK PERAIRAN WAIGEO Subarsyah Subarsyah; Yulinar Firdaus
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3879.467 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.2.2015.267

Abstract

Kenampakan struktur geologi dan kontinuitas reflektor pada penampang seismik seringkali tidak teridentifikasi ketika data seismik di stack menggunakan metode stacking konvensional, terutama untuk data dengan jumlah fold coverage yang kecil. Data seismik Puslitbang Geologi Kelautan yang diperoleh pada Mei 2015, di Perairan Timur Pulau Waigeo, memiliki fold coverage yang relatif rendah sekitar 20. Untuk meningkatkan kualitas penampang seismik pada data ini perlu diterapkan metode Common Reflection Surface(CRS) sehingga interpretasi struktur geologi lebih mudah dan kontinuitas reflektor lebih baik. Metode ini diaplikasikan terhadap data seismik lintasan 6 dan 37. Penerapan metode CRS memberikan perbaikan pada citra penampang seismik terutama pada bagian basement akustik dan kontinuitas reflektor. Metode ini memberikan citra penampang seismik yang relatif lebih baik dibandingkan metode stacking konvensional karena metode CRS melibatkan trace seismik dari CDP di sekitarnya sesuai dengan besar parameter aperturnya. Kata kunci CRS Stack, CRS Attribut dan Paraxial Geological structure and reflector continuity on seismic section are often not clearly identified when the seismic data stacked use conventional stacking, especially seismic data with small fold coverage. Seismics data of Puslitbang Geologi Kelautan, that have been acquired on Mei 2015,in eastern part of Waigeo Island, have small number of fold coverage about 20. To enhance quality of seismic section on this data, it is necessary to apply Common Reflection Surface (CRS) method, in order to make geological structure interpretation easier dan better reflector continuity. This method applied to seismic data line 6 and 37. This application gives enhancement to seismic section especially at acoustic basement and reflector continuity. CRS method gives better seismic section than conventional stacking due to stacking process that involve seismic trace around the CDP along its aperture size. Keywords: CRS Stack, CRS Attribut and Paraxial
PENELITIAN POTENSI ENERGI ARUS LAUT SEBAGAI SUMBER ENERGI BARU TERBARUKAN DI PERAIRAN TOYAPAKEH NUSA PENIDA BALI Ai Yuningsih; Ahmad Masduki
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.7 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.194

Abstract

Metode penelitian potensi energi arus yang diterapkan adalah pengukuran arus, pengamatan pasang surut, pengamatan parameter meteorologi dan kondisi morfologi pesisir dan dasar laut daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penempatan turbin arus laut cukup memenuhi syarat dengan morfologi relatif landai pada kedalaman ± 20 meter dan dekat dari pemukiman penduduk. Kecepatan arus rata-rata di perairan Toyapakeh mencapai kecepatan 2,5 – 3,0 m/detik dengan durasi 9 – 18 jam/hari untuk kecepatan diatas 0,5 m/detik. Dengan demikian, perairan di Toyapakeh merupakan lokasi yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi baru terbarukan, khususnya pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL). Kata Kunci : energi arus laut, turbin arus laut, energi baru terbarukan, Selat Toyapakeh The methods of current energy potential study are current measurements, tidal and meteorological parameter observations, condition of coastal morphology and seafloor of the study area. The results show that, the location for turbine position is in area with relatively gentle slope morphology at a 20 meters water depth and it is close to local community. Based on the analysis of flow water conditions at Toyapakeh Strait, the average current velocity is about 2,5m/s to 3,0 m/s and within 24 hours, the flow velocity is greater than 0.5 m/s occurs for approximately 9 to 18 hours. Therefore, the results of the ocean current energy analysis indicate that the study area is very potential for using reneawable energy resource as a power plant location. Keywords: ocean currents energy, Sea Current Turbin, renewable energy, Toyapakeh Strait.
INDIKASI MINERALISASI DAN KETERDAPATAN MINERAL BESI DI PANTAI TAMBELAN, KEPULAUAN RIAU BERDASARKAN PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN Noor C.D. Aryanto; Kris Budiono
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.267 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.162

Abstract

Berdasarkan pemetaan geologi, memperlihatkan adanya indikasi keterdapatan mineral besi di pulau ini, masing-masing di Pantai Gayam (luas 70,84 ha) dan daerah Sekuni (luas 204 ha). Secara umum keterjadian endapan besi di kedua daerah tersebut memperlihatkan proses hidrotermal yang sama, dimana intrusi granitik merupakan sumber panas terhadap batuan induk yang berupa batuan lelehan andesitik dan dasitik. Ada perbedaan mineralisasi yang ditemukan, yaitu munculnya gejala silifikasi di blok Gayam dan gejala limonitisasi di blok Sekuni. Kata kunci: Mineralisasi, keterdapatan mineral besi, Gayam dan Sekuni. Based on the geological mapping there was indication of iron-mineral occurrences at Gayam coast (70.84 ha) and Sekuni coast (204 ha). In general, the origin of iron deposit at these areas was a similar hydrothermal process is there granitic intrusion as a heat source to the host rock of andesitic and dacitic rocks. There is a difference process of mineralization between Gayam block and Sekuni block. The difference is silisification and limonitisation. Keywords: mineralisation, iron-mineral occurrence, Gayam and Sekuni.
KETERDAPATAN HALOYSIT DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR Udaya Kamiludin; Noor C.D. Aryanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.022 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.130

Abstract

Perairan Utara Jawa Timur adalah perairan berenergi rendah yang berkaitan erat dengan akumulasi sedimen berbutir halus. Berdasarkan hasil pengolahan data granulometri menunjukkan sebagian besar percontohan sedimen diklasifikasikan kedalam lanau. Hasil Analisis “X-ray diffraction”, lanau yang secara megaskopis sebagai lempung mengandung mineral lempung jenis Haloysit; ikutannya yaitu kuarsa alfa, kalsit, feldspar, halit dan hematit. Hasil analisis mineral menunjukan haloysit ini mempunyai persentase antara 38,57-55,79 % dengan penyusunnya terlihat dari hasil analisis kimia unsur utama berupa aluminium dalam Al2O3 dan silikon dalam SiO2. Keterdapatan haloysit terbentuk secara mekanik dari pelapukan mineral aluminosilikat, seperti feldspar yang bersumber dari batuan volkanik di bagian barat dan bahan gunungapi di sebelah selatan daerah penelitian. Kata kunci : Lanau, haloysit, feldspar, perairan Utara Jawa Timur North East Java waters is a low energy waters in relation to fine grain sediment accumulation. Based on the processing results of granulometry data show the majority sample of sediment classified into silt. Results of X-ray diffraction analysis, silt megascopically described as clay which is consisted of clay mineral of halloysite type; its associations are quartz alpha, calcite, feldspar, halite and hematite. Mineral analyses results show the halloysite has percentage between 38,57 - 55,79 % with composition confirmed from major element chemical analysis which show aluminum content in Al2O3 and silicon in SiO2. The occurrence of halloysite formed through mechanical processes from surface weathering of aluminosilicate minerals, as feldspars which source from volcanic rock in the west part and from volcanic materials in the south side of the investigation area. Keywords : silt, halloysite, feldspar, Northeast Java waters.

Page 10 of 29 | Total Record : 284