cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
IDENTIFIKASI KERUSAKAN PESISIR AKIBAT KONVERSI HUTAN BAKAU (MANGROVE) MENJADI LAHAN TAMBAK DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN CIREBON Purnomo Raharjo; Deny Setiady; Sheilla Zallesa; Endah Putri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2962.458 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.258

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerusakan pesisir akibat konversi lahan bakau menjadi tambak yang kaitannya dengan perubahan garis pantai di Kabupaten Cirebon. Metode observasi dengan analisis deskriptif kualitatif terhadap faktor penurunan luasan ekosistem bakau dan sedimentasi. Data-data yang dikumpulkan yaitu energi fluks gelombang, peta karakteristik pantai dan peta sebaran bakau. Hasil dari pembobotan menunjukkan desa pantai yang termasuk kategori amat sangat diutamakan (A) adalah Gebang Kulon dan Gebang Ilir. Selanjutnya, pantai yang memiliki kategori sangat diutamakan tersebar merata hampir disetiap desa, kecuali desa Bendungan, Mundu dan Kalipasung yang kategori diutamakan (B), dan desa Tawang sari kategori kurang diutamakan (D). Kata Kunci: Identifikasi pesisir, ekosistem hutan bakau, kategori, Cirebon The study is to identify the coastal damage due to the conversion of coastal mangrove to fish ponds that is correlated with coastal changes in Cirebon regency. By using methods observation with qualitative descriptive analysis to the factor decrease the extend of mangrove ecosytems and sedimentation. Data collected are energy flux, coastal characteristic maps, and mangrove distribution map. Results of weighting indicates that coastal villages within avery high priority (A) is Gebang Kulon and Gebang Ilir. Furthermore, the beach has a high priority is spread evenly in almost every villages except Dam, Mundu, and Kalipasung villages those are in priority category (B), as well as the village of Tawang sari within a less priority category (D). Keywords: Coastal identification, mangrove ecosystem, category, Cirebon
FORAMINIFERA SEDIMEN DASAR LAUT DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR Mimin Karmini; Rostyati Rostyati
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.797 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.98

Abstract

Dalam kerangka penelitian dan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan yang dilaksanakan oleh tim Pusat Pengembangan Geologi Kelautan, sebanyak 44 percontoh sedimen telah dianalisis foraminiferanya. Pada umumnya, foraminifera plangton yang lebih banyak dijumpai adalah Globigerinoides spp., Neogloboquadrina dutertrei, dan Pulleniatina spp. Neogloboquadrina dutertrei yang dikenal sebagai spesies penciri untuk kondisi salinitas rendah. Spesies-spesies tersebut banyak dijumpai pada kedalaman lebih dari 40 m, dan mencapai maksimum pada kedalaman 1400 m (lokasi 11, lepas pantai Tanjung Bayur). Di tempat seperti ini jumlah individu dan keanekaragaman foraminifera plangton paling tinggi dan termasuk ke dalam zona lereng sesar atas, sedangkan yang terendah ada di lokasi 7 (dekat pantai muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 11,3 m. Foraminifera bentosnya yang banyak dijumpai adalah Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., dan Pseudorotalia schroeteriana. Keberadaan Amphistegina lessonii sangat tergantung terhadap intensitas cahaya, air yang jernih, dan biasanya berasosiasi dengan terumbu. Turbulensi di daerah telitian diperkirakan relatif rendah karena banyak dijumpainya spesies tersebut. Jumlah individu tertinggi foraminifera bentos terdapat pada lokasi 35 (Muara Lerong), pada kedalaman 45 m, sedangkan yang terendah ada di lokasi 6 (dekat pantai, muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 17,3 m. Keanekaragaman tertinggi dijumpai dilokasi8, pada kedalaman 63,5 m, sedangkan yang terendah di lokasi 6. Fluktuasi jumlah individu foraminifera plangton dan bentos di bagian utara dan tengah tidak terlepas dari kemungkinan adanya arus bawah laut yang bisa mempengaruhi sedimen dan morfologi dasar lautnya. Di bagian selatan jumlah ini cenderung meningkat pada tempat yang menjauh dari pantai. Within the framework of marine geological and geophysical surveyscarried out by the Marine Geological Institute, 44 samples had been analysed, especially for foraminifera. In general, planktonic foraminifera in the study area such as Globigerinoides spp, Neogloboquadrina dutertrei, and Pulleniatina spp are commonly found. Neogloboquadrina dutertrei is known as an indicator species for low salinity. They are found commonly at depths of more than 40 m, the most abundant of it is found at the depth around 1400 m (site 11, offshore of Bayur Peninsula). The maximum total number of individuals and the diversity of planktonic foraminifera occurr at this site as well as at the upper continental, whereas the minimum one is at site 7 (near the mouth of Muara Bayur River), at 11,3 m depth. The common benthonic foraminifera are Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., and Pseudorotalia schroeteriana. Amphistegina lessonii is a species, which is, dependent on light and clear water, and is usually associated with reef. The high number of individuals of this species suggests that the turbulent factor is considered to be relatively low. The maximum total number of individuals of benthonic foraminifera occurs at site 35 (Lerong River Mouth), at 45 m depth, whereas the minimum at site 6 (close to the mouth of Muara Bayur River), at 17,3 m depth. The maximum diversity occursatsite 8, at the depth of 63,5 m, whereas the minimum one is at site 6. The fluctuation of the total number of individuals of planktonic and benthonic foraminifera in the northern and southern parts is probably due to the morphology of the sea floor and the sediment influenced by bottom current. In the southern part the number of individuals of foraminifera tends to increase with the increasing of the distance from the shore.
GUNUNGAPI BAWAH LAUT KAWIO BARAT, PERAIRAN SANGIHE, SULAWESI UTARA: AKTIVITAS HIDROTERMAL DAN MINERALISASI Rainer Arief Troa; Lili Sarmili; Haryadi Permana; Eko Triarso
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.577 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.1.2013.226

Abstract

Ekspedisi INDEX-SATAL 2010 telah mengungkapkan fenomena aktivitas hidrotermal di bawah perairan barat Kepulauan Sangihe pada Gunungapi Bawah Laut Kawio Barat dengan puncaknya yang berada pada kedalaman laut sekitar 1860 m dan kakinya pada kedalaman sekitar 5400 m. Penyelaman ROV (Remotely Operated Vehicle) Little Hercules di Gunungapi Kawio Barat yang dipusatkan di sisi baratlaut dari puncak gunung menyapu mulai kedalaman 3000 m hingga menuju ke arah puncak pada kedalaman 1860 m. Kelompok batuan dicirikan oleh bongkahan lava yang sudah pecah ditutupi sedimen halus berwarna abu-abu cerah; sedangkan pada sisi tenggara umumnya ditempati aliran lava bantal. Pada sisi baratdaya, tempat lembah dalam menoreh Gunungapi Kawio Barat dijumpai kepulan asap dari lereng bagian bawah yang akhirnya pada kedalaman sekitar 1890 m dijumpai aktivitas hidrotermal bawah laut yang merupakan suatu fenomena yang pertama kali direkam langsung dari bawahlaut perairan Indonesia. Fenomena yang terekam berupa pemunculan asap (smokers) di sepanjang rekahan (fissures), dicirikan oleh warna asap yang bervariasi dari putih, kuning atau abu-abu cerah yang kemungkinan menunjukkan indikasi perbedaan komposisi kimiawi dari fluida hidrotermal. Selain asap, teramati juga adanya gelembung cairan (panas) atau bubbles dari rekahan. Penemuan baru lainnya adalah adanya fluida hidrotermal muncul ke permukaan dan membentuk suatu cerobong hidrotermal atau chimney di daerah yang secara tektonik dikontrol oleh konvergensi lempeng. Batuan-batuan di sekitar rekahan hidrotermal (hydrothermal vent) umumnya telah terubah dengan dominasi warna putih hingga kelabu. Di sekitar rekahan hidrotermal diendapkan belerang berwarna kuning kehitaman. Mineralisasi kemungkinan terjadi di sekitar cerobong hidrotermal, terakumulasi membentuk endapan mineral yang ditunjukkan oleh warna coklat, abu-abu, dan kemerahan. Hal ini terutama teramati di sekitar cerobong yang sudah tidak mengeluarkan gelembung atau asap, serta dijumpai kehadiran endapan serakan butiran batuan atau mineral berwarna coklat atau hitam. Kata kunci: INDEX-SATAL 2010, aktivitas hidrotermal, ROV, asap hidrotermal, gelembung cairan, cerobong hidrotermal, konvergensi lempeng, mineralisasi INDEX-SATAL Expedition 2010 has revealed the phenomenon of hydrothermal activity in the western part of the Sangihe Waters in Kawio Barat Submarine Volcano with the peak which is located at 1860 m depths and the bottom at about 5400 m depths. A ROV (Remotely Operated Vehicle) "Little Hercules" dive in Kawio Barat was centered on the northwest side of the mountain began to sweep from the depths of 3000 m toward the top of 1860 m depths. The lithologic unit is characterized by the present of broken lavas covered with fine grey colored sediment whilist in the southeast side is composed of pillows lavas. In the southwest side, in which the deep valleys incise Kawio Barat, a clouds of smoke from the lower slopes are observed; finally at 1890 m depths a submarine hydrothermal activity is noted. This phenomenon represents the first submarine direct record made from the bottom of the Indonesian Waters. Those smokers phenomena are recorded along fissures, characterized by various colors of white, yellow to grey due to different chemical composition of hydrothermal fluids. Besides, the hot bubbles are also arised from the fissures. The other new discovery is the presence of hydrothermal chimney in the area of tectonically controlled by convergence plates. Rocks surrounding the hydrothermal vents are generally altered giving grey to white colors and the presence of dark yellow sulfur deposits. Mineralization may occur and accumulated in hydrothermal chimney and its surrounding to form brown-, grey-, and reddish- color deposits The latter are commonly found in inactive chimneys, indicated by the presence of dispersed brown and black color grains/chips of both sedimentary rocks or minerals as well. Keywords: INDEX-SATAL 2010, hydrothermal activity, ROV, hydrothermal smokers, bubbles, hydrothermal chimney, plate convergence, mineralization
POTENSI OBJEK WISATA PANTAI DAN BAHARI DI PERAIRAN UTARA LOMBOK DITINJAU DARI ASPEK GEOLOGI KELAUTAN Wayan Lugra; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.727 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.153

Abstract

Daerah penelitian dengan latar belakang Gunung Rinjani yang indah, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata pantai seperti Karang Bedil, Sesait, Desa Salangan, Sukadana, Tanjung Batu, Sungian, Labuhan Pandan, serta pantai timur Pulau Gili Sulat dan Gili Lawang. Untuk kegiatan wisata snorkling, diving dan surfing tempat yang baik adalah di Tanjung Awar-awar, Tanjung Menangis dan Tanjung Batu. Olah raga surfing (selancar air) disarankan sebaiknya dilakukan antara Bulan Oktober – Mei. Dalam membangun sarana penunjang di kawasan wisata pantai dan bahari faktor yang penting adalah memberikan perhatian khusus dalam menjaga kelestarian lingkungan daerah tujuan wisata, agar keaslian alam yang ditawarkan kepada wisatawan tetap asli. Kata kunci: Karakteristik pantai, sebaran sedimen permukaan dasar laut, batimetri, dan perubahan garis pantai. The study area, with the background of the beautiful Mount Rinjani, has a potency to develop as a coastal tourism such as Karang Bedil, Sesait, Desa Salangan, Sukadana, Tanjung Batu, Sungian, Labuhan Pandan, and the east coast of Gili Sulat and Gili Lawang Islands. For snorkling, diving and surfing the nice place is in Tanjung Awar-awar, Tanjung Menangis and Tanjung Batu. The right time for snorkling sport should be conducted between October - May. To build the supporting facilities in the coastal and venerable tourism objects, the important factor is to pay a special attention for keeping the everlasting environment of the tourism object destination, so that the original of nature which is offering to the tourists is still pristine. Keywords: coastal characteristic, sea floor surficial sediment, bathymetry and coastline chnges
INDIKASI GAS BIOGENIK DI PERAIRAN DELTA MAHAKAM, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR I Nyoman Astawa; Deny Setiady; Priatin Hadi Wijaya; GM. Hermansyah; Mario Dwi Saputra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5299.406 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.2.2016.354

Abstract

Gas biogenik dikenal sebagai gas rawa atau gas dangkal yang terbentuk dari bakteri metanogenik pada lingkungan anaerobik, khususnya pada daerah-daerah yang tingkat sedimentasinya sangat tinggi.Tujuan penelitian untuk mengetahui secara lebih rinci akan keberadaan gas tersebut di Delta Mahakam. Sungai tersebut merupakan sungai terbesar dan terpanjang di wilayah Kalimantan Timur dan mempunyai tingkat sedimentasi sangat tinggi. Daerah tersebut sangat cocok untuk penelitian indikasi gas biogenik. Hasil penelitian ditandai dengan terdapatnya kantong gas pada rekaman strata box, yang berada pada kedalaman lebih dari 10 (sepuluh) meter. Berdasarkan analisis laboratorium terhadap sampel gas yang diambil di bekas lubang bor adalah gas metan.Kata kunci: rekaman strata box, gas metan, Delta MahakamBiogenic gas known as swamp gas or shallow gas formed by methanogenic bacteria in anaerobic environments, especially in areas that the sedimentation rate is very high. The objective of the research is to find out more detail the occurrence of gas in the Mahakam Delta. The river is the largest and longest river in the East Kalimantan, and it has a very high sedimentation rate.  This area is very good to study the indication of the biogenic gas. The result is signed by gas pocket in the strata box records, whereas at a depth of more than 10 (ten) meters. Based on the laboratory analysis of the samples taken from the former gas borehole is a methane gas.Keywords: strata box records, methane gas, Mahakam Delta.
GRANIT KELUMPANG SEBAGAI GRANIT TIPE-I DI PANTAI TELUK BALOK, BELITUNG Noor C.D. Aryanto; Nasrun Nasrun; Andy Hermanto Sianipar; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.554 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.1.2005.121

Abstract

Batuan granit mempunyai arti penting terutama akan kandungan mineral ekonomisnya. Di Indonesia bagian barat, batuan granit lebih terkenal dengan asosiasi mineralisasi kasiterit (timah). Tidak semua batuan granit mempunyai kandungan mineral kasiterit. Batugranit biotit berhubungan dengan mineralisasi kasiterit, sedangkan batugranit hornblende tidak ada hubungannya dengan mineralisasi kasiterit. Batuan granit di Pulau Belitung ditemukan di empat daerah berbeda, yaitu Tanjung Pandan di baratlaut, Gunung Mang di timurlaut, Parangbuloh di baratdaya dan Kelumpang di tenggara. Granit Kelumpang adalah salah satu dari jenis granit di daerah telitian. Secara megaskopis, batuan granit di Kelumpang terbentuk oleh mineral-mineral berbutir kasar, berwarna abu-abu-putih dan kaya akan megakristik K-Feldspar Identifikasi karakteristik granit di daerah penelitian berdasarkan hasil analisa petrografis dan penafsiran seismik pantul dangkal, yang ditunjukkan oleh pola reflektor yang membentuk struktur kerucut yang tidak menerus. Penyebaran dari batuan granit ini dapat dipetakan sepanjang lintasan kapal. Pada akhirnya, berdasarkan kenampakan megaskopis dan analisa petrografi terlihat bahwa granit di lokasi kegiatan memiliki sifat yang menyerupai granit tipe-I bukan pembawa mineral kasiterit. The granitic rock is an important rock in economic mineral deposit. In westernpart of Indonesia, the granitic rocks are well known in associated with cassiterite (tin) minerals. Not all of the granitic rocks contain of cassiterite minerals. The biotite-granitic rocks are associated with cassiterite minerals while the hornblende-granitic rocks are not related with cassiterite mineralisation. The Granitic rock in Belitung Island found in four different areas, those are, in Tanjung Pandan of northwest Belitung, Gunung Mang of northeast of Belitung, Parangbuloh of southwest Belitung, and Kelumpang of southeast Belitung. Granit Kelumpang is one of granitic rocks in the investigated area. It is megascopically formed by coarse-grained, greyish white in color and rich in K-feldspar megacrystic minerals. Identification of granitic rock in the investigated area characterised by petrographically analysis and seismic reflection interpretation. It has a reflector pattern shown by an uncontinous cone structure. The distribution of granitic rock can be mapped along the ship track as well as the shallow seismic lines. Finally, the granitic rocks in the investigated area are megascopically and petrographically belong to type I-Granite those are not associated with cassiterite.
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN (IKL) DI WILAYAH PERAIRAN NATUNA TERKAIT DENGAN AKTIVITAS INDUSTRI MIGAS Rahayu Kusuma Risdianto; Undang Hernawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.144 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.249

Abstract

Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) dapat digunakan untuk memantau kondisi lingkungan. Analisis Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) dilakukan di kawasan industri migas di perairan Laut Natuna. Studi ini menggunakan data penginderaan jauh dan analisa sembilan parameter kualitas air dari 15 titik lokasi untuk menyusun algoritma kualitas air. Hasil dari studi ini menunjukkan distribusi IKL tergolong kriteria baik (70-91) dan sangat baik (91-100). Nilai IKL baik berada di bagian Utara (U) sampai Timur Laut (TL) dan Timur (T) sampai Selatan (S) dan terlihat dominan di bagian Selatan (S) sampai Utara (U). Nilai IKL sedang berada di bagian Barat Daya (BD) sampai Barat (B). Distribusi IKL sangat baik dominan berada di bagian Utara (U) sampai Timur Laut (TL), Timur (T) sampai Selatan (S) dan terlihat dominan di bagian Timur Laut (TL) sampai Timur (T). Kata kunci: IKL, penginderaan jauh, MODIS, kualitas Air, perairan Natuna. Environmental Quality Index (EQI) can be used for monitoring of environmental condition. Analysis of Environmental Quality Index (EQI) in petroleum and gas industry area had been done at Natuna waters. This study was based on remote sensing data and analysis data of nine water quality parameters from fifteen sampling sites to arrange water quality algorithm. The result shows that the distribution of EQI is within good (70-91) to very good (91-100) criteria. The good value of EQI is distributed from north (N) to north east (NE) and east (E) until south (S) that is dominated at the soutern to northern parts. The medium value of EQI is in southwest to west parts. The very good EQI is dominated at the north (N) until North East (NE), East (E) to southern parts that is dominated at the northeast to eastern parts. Keywords: EQI, Remote Sensing, MODIS, Water Quality.
SESAR GESER SORONG SEGMEN SORONG-KOFIAU, PAPUA BARAT, INDONESIA: BUKTI DARI DATA BATIMETRI DAN SBP Haryadi Permana; Karit Lumban Gaol
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6038.006 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.1.2018.543

Abstract

Ekspedisi Widya Nusantara (e-Win) yang dilaksanakan LIPI pada tahun 2007 dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII di daerah lepas pantai Sorong dan Kepulauan Raja Ampat telah menghasilkan beragam data antara lain data batimetri dan data profil geologi bawah permukaan. Sesar Sorong segmen Sorong-Kofiau yang teridentifikasi dari kedua jenis data tersebut memanjang barat daya - timur laut sepanjang 170km. Lajur sesar tersebut membentuk lembah sedalam 2025-2300m di sekitar lepas pantai Kota Sorong, mendangkal sampai 600-700m di Selat Sagewin sampai ke arah P. Kofiau. Sesar Sorong merupakan sesar geser sinistral dicirikan oleh struktur bunga positif, lipatan seret dan cekungan tarik. Di selatan segmen sesar tersebut, Blok Kepala Burung bagian baratdaya dicirikan oleh suatu paparan yang dibatasi oleh sesar-sesar bongkah.Kata Kunci: Sesar Sorong segmen Sorong-Kofiau, sesar geser sinistral, struktur bunga positif, lipatan seret, cekungan tarik, sesar bongkahThe expedition of Widya Nusantara (e-Win) carried out by LIPI in 2007 using Baruna Jaya VIII Research Vessel in Sorong offshore and Raja Ampat Islands had produced various data including bathymetry and sub-bottom profile (SBP). The Sorong-Kofiau segment of Sorong fault has southwest-northeast in direction and 170Km length, is identified from both types of data. The fault zone forms deep valley of about 2025-2300ms depth in the north coast of Sorong City, shallowing up to 600-700ms in the Sagewin Strait and towards Kofiau Island. The Sorong Fault is sinistral strike-slip fault characterized by positive flower structure, drag fold and pull apart basin. Along the south of the Sorong Fault, the micro continent southwestern of Bird's Head Block is characterized by shelfal morphology and bounded by block faults.Keywords: Sorong-Kofiau segment of Sorong Fault, sinistral strike-slip fault, positive flower structure, drag fold, pull apart basin, block faults
POTENSI ARUS LAUT DAN KONVERSI DAYA LISTRIK SEBAGAI ENERGI BARU TERBARUKAN DI PERAIRAN PALALAWAN DAN INDRAGIRI HILIR, PROVINSI RIAU Beben Rachmat; Ediar Usman; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.085 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.2.2012.217

Abstract

Kecepatan arus pada saat kondisi air surut di bagian utara daerah penelitian berkisar antara 1 – 1,5 m/s dan di selatan berkisar antara 0,1 – 0,5 m/s dengan arah menuju tenggara - selatan. Pada saat kondisi air pasang pada kedua daerah tersebut (bagian utara dan selatan) kecepatan arus berkisar antara 0,5 – 1,2 m/s dengan arah menuju barat daya - utara. Secara umum kecepatan arus dari utara ke selatan semakin berkurang kecepatannya, hal ini bisa dilihat dari perbedaan kecepatan arus di bagian utara dan selatan daerah penelitian pada kondisi air laut surut. Kondisi tersebut disebabkan oleh perbedaan morfologi bawah laut pada ke dua daerah tersebut. Di bagian utara, lebar lembah relatif lebih sempit (daerah selat) dengan morfologi membentuk alur bawah laut. Di bagian selatan merupakan daerah perairan terbuka, menyebabkan aliran air laut dan arus terdistribusi pada daerah yang lebih luas dan kecepatan arusnya makin berkurang. Potensi daya listrik untuk Turbin Kobold saat surut mencapai 60 – 65 kW, dan 20 kW saat pasang selama 13 jam, sedangkan saat neap tide maksimum mencapai 8 kW saat surut dan 4 kW saat pasang dengan waktu efektif selama 11 jam. Potensi daya listrik untuk Turbin Marine Current saat surut mencapai 3 – 3,2 kW dan 1 kW saat pasang dengan masa kerja selama 13 jam dalam sehari semalam, sedangkan saat neap tide maksimum mencapai 0,4 kW saat surut dan 0.2 kW saat pasang dengan waktu efektif selama 10 jam. Jenis turbin ini cukup optimal dan dapat bekerja dengan baik untuk menghasilkan listrik dengan potensi arus yang ada di perairan Pelalawan – Indragiri Hilir. Kata kunci: kecepatan arus, energi, potensi daya listrik, turbin Current speed during the low waters level in the northern part of survey area range between 1 to 1.5 m/s with southeast and south direction. During the high waters level (HWL) in the both areas range from 0.1 – 0.5 m/s with southwest and north direction. Generally, the current speed from the north to the south in the survey area is decrease, it can be seen from difference value of current speed at the northern and the southern of the survey area during the low waters level (LWS) condition. These condition caused by the difference of under sea morphology at bothside of areas. At the northern part of survey area, the wide of valley morphology is smaller (straits region) forming the submarine channel. At the southern part in an opening waters region, causing the sea current distributed in regions and the speed more decreasing. Electrical potency for Kobold Turbine during ebb tide reach 60 - 65 kW, and 20 kW during the flood as long as 13 hours, while during maximum neap tide reach 8 kW during the ebb and 4 kW during the flood with effective time as long as 11 hours. Electrical Potential for Marine Current Turbine during ebb reach 3 – 3.2 kW, and 1 kW during the flood as long as 13 hours, while during maximum neap tide reach 0.4 kW during the ebb and 0.2 kW during the flood with effective time as long as 10 hours. This kind of the turbine is optimum enough and can work well to produce the electricity with existing current potential in waters of Pelalawan – Indragiri Hilir. Keywords: current speed, energy, electrical potency, turbine
KARAKTERISTIK PANTAI DI KAWASAN PESISIR TIMUR PULAU NATUNA BESAR, KABUPATEN NATUNA, PROPINSI RIAU Prijantono Astjario; Deny Setiady
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.395 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.1.2010.185

Abstract

Kawasan pesisir timur pulau Natuna Basar memiliki garis pantai yang bervariasi, dari pantai berpasir, pantai berbatu hingga pantai berbakau. Tipe pantai barbakau hanya menempati pada kawasan muara-muara sungai yang sangat dangkal dan berlumpur. Sedangkan pantai berpasir adalah tipe pantai yang mendominasi kawasan pesisir timur pulau Natuna Besar, memanjang dari utara hingga selatan. Pantai berbatu adalah pesisir pantai dengan bongkah granit yang tersebar di kaki Gunung Ranai. Sebaran bongkah granit secara tidak beraturan dan tumpang tindih di kawasan pesisir menyebabkan garis pantai ini menjadi garis pantai yang bernilai wisata tinggi. Bongkah granit ini adalah bagian dari batholit granit Ranai yang merupakan batuan dasar dari kawasan kepulauan Natuna. Kata kunci : pantai, bakau, wisata, bongkah. East coast of Natuna Besar island has variation beach lines, sandy beach, stony beach and mangrove beach. Apparently type of mangrove beach develops in the river mouths, which are muddy and shallow. Sandy beach dominated eastern coast of Natuna Besar island, distributs form the north to the south coast. Stony beach is a coast with boulders of granite in the foot mountain of Ranai. Distribution of Granite boulders are disorientation and unorganized along the east coast, because of these, the coast line has highly tourism value. Granite boulders are part of batholite Ranai granite which is base rock of Natuna islands. Keywords : coast, mangrove, tourism, boulder.

Page 11 of 29 | Total Record : 284