cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
PENGARUH SEDIMENTASI TERHADAP PENYEBARAN TERUMBU KARANG DI TELUK WONDAMA, PAPUA Yani Permanawati; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2767.07 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.164

Abstract

Endapan lumpur yang terdapat di bagian barat teluk Wondama sebarannya sangat sedikit jika dibandingkan di bagian timurnya. Endapan lumpur ini tidak berhubungan langsung dengan hasil erosi sungai baik di bagian barat maupun teluk Wondama tetapi berasal dari bagian selatan teluk yang dibawa oleh arus ke arah utara. Batugamping mendominasi bagian barat teluk Wondama, sedangkan sungai-sungai yang melewati batugamping ini, airnya tentunya akan banyak mengandung unsur karbonat sehingga menjadikan terumbu karang lebih mudah tumbuh di sepanjang pantai bagian Barat dibandingkan bagian Timur teluk Terjaganya kehidupan terumbu karang ini karena lingkungan yang bersih yang juga ditunjang oleh pola kehidupan masyarakat pesisir teluk Wondama yang sadar menjaga keseimbangan alam termasuk para nelayan yang masih menggunakan alat penangkapan ikan tradisional. Kata kunci : Terumbu karang, endapan lumpur, Teluk Wondama The distribution of mud on westernpart of Wondama Bay is very limited compared to its easternpart. The existence of mud is not directly related to the erosion of rivers along its west or east of the bay but it is originated from the south of the bay where current brought the sediment to the north. The limestone is dominated on its westernpart of Wondama bay, whereas rivers those cut the limestone will contain carbonate element and will support the coral reef grows better on its westernpart rather than on its easterpart of the bay. The good reservation of the coral reef is clearly related to clean environment and also supported by human lifes whose can keep and preserve the natural balance, for example, the fisheries are still using a traditional equipment. Keyword : Cora reef, deposition of mud, Wondama Bay
STRUKTUR DIAPIR BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT DI KAWASAN PESISIR SELATAN KABUPATEN SAMPANG-PAMEKASAN, JAWA TIMUR Prijantono Astjario; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6251.943 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.132

Abstract

Penelitian seismik pantul dangkal saluran tunggal (seismic profiling) dilakukan di lepas pantai Kabupaten Sampang dan Pamekasan, pesisir selatan Madura dengan hasil rekaman sepanjang 300 km. Interpretasi data seismik dilakukan dengan cara memisahkan runtunan-runtunan yang diduga mempunyai karakter yang berbeda serta mencirikan urut-urutan pengendapan batuan sedimen. Ciri dari runtunan Kuarter ditandai dengan sedimen yang mempunyai runtunan yang tidak terganggu oleh aktivitas struktur geologi seperti perlipatan maupun pensesaran. Runtunan Tersier dicirikan dengan adanya aktivitas struktur lipatan sangat ketat seperti antiklin, sinklin, dibarengi dengan sesar-sesar, serta intrusi-intrusi diapir. Data interpretasi seismik pantul dangkal saluran tunggal memberikan gambaran tentang struktur geologi bawah dasar laut walaupun dengan penetrasi yang sangat terbatas (dangkal). Data tersebut juga memberikan gambaran serta indikasi adanya jebakan-jebakan gas bumi dan diapir di kawasan pantai Kabupaten Pemekasan dan Sampang. Kata Kunci : seismik, runtunan, diapir, Sampang dan Pamekasan Single channel seismic profiling activity carried out in the southern coast of Pamekasan and Sampang District, southern coast of Madura, has recorded data of more or less 300 kilometres. The interpretation of seismic profiling records have been done by separating the sequence of sediments which have chronologically different character and depositional environments. The characteristic of Quaternary sediment sequence is indicated by the sediment that did not disturbed by geological structures, such as folding and faulting. The Tertiary sediment sequences in the south coast of Pamekasan area have been tightly folded which consist of anticline, sincline shale diapir and faulting phenomena. The interpretation of seismic profiling data showed the indication of the geological structure under the sea floor although by means of the shallow penetration energy. It still can be helpful to indicate diapire and gas closures in the southern coast of Sampang and Pamekasan areas. Key words : seismic, sequence, diapire, Sampang and Pamekasan
PROSES AKRASI DAN ABRASI BERDASARKAN PEMETAAN KARAKTERISTIK PANTAI DAN DATA GELOMBANG DI TELUK PELABUHAN RATU DAN CILETUH, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT Deny Setiady; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2353.877 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.260

Abstract

Lokasi Penelitian dilakukan di teluk Pelabuhan Ratu dan Teluk Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik pantai dan hubungannya dengan akrasi dan abrasi berdasarkan energi flux. Metode penelitian terdiri dari penentuan posisi, karakteristik pantai, pengambilan sampel sedimen pantai, dan analisis gelombang. Proses abrasi dan akrasi di daerah penelitian erat kaitannya dengan besar kecilnya energi gelombang. Energi gelombang merupakan salah satu komponen dari arus sejajar pantai. Berdasarkan karakteristik pantai, tipe pantai terdiri dari : (1) Daerah perbukitan terjal, (2) Daerah perbukitan bergelombang, dan (3) Daerah dataran rendah. Analisis energi flux gelombang menunjukkan bahwa proses abrasi terjadi dititik tinjau 2 ke 3, 4 ke 5, 6 ke 8, 10 ke 11, 14 ke 15, dan 16 ke 17, sedangkan proses akrasi terjadi di titik tinjau 3 ke 4, 5 ke 6, 8 ke 10, 11 ke 13, 15 ke 16, 17 ke 18, dan 20 ke 21.Kata Kunci: Akrasi, abrasi, karakteristik pantai, energi flux, Pantai Pelabuhan Ratu. Location of the study at Pelabuhan Ratu and Ciletuh bays, Sukabumi of West Java Province. The aim of study is to map the coastal charectristics in relation to accretion and abrasion processes based on wave energy flux. The method consists of navigation, coastal characteristics, coastal sediments samples and wave analyses. The abrasion and accresion processes are closely related to how big the wave energy. Wave energy is one of longshore current components. Based on the coastal characteristics, the coastal types can be divided into : (1) steep hills (2) undulating hills, and (3) lowland. Wave energy flux shows that abrasion processes occur from the point of 2 to 3, 4 to 5, 6 to 8, 10 to 11, 14 to 15, and 16 to 17, while for accretion processes occur from the point of 3 to 4, 5 to 6, 8 to 10, 11 to 13, 15 to 16, 17 to 18, and 20 to 21. Keywords: acrasion, abrasion, coastal characteristic, flux energy, Pelabuhan Ratu coast
ESTIMASI KECEPATAN SEDIMENTASI DI PERAIRAN ASTANAJAPURA, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT (DALAM KAITANYA DENGAN RENCANA PENGEMBANGAN PELABUHAN) Purnomo Raharjo; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.479 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.100

Abstract

Perencanaan dan pengembangan Pelabuhan Cirebon merupakan kegiatan strategis kerena letak kabupaten dan kota Cirebon merupakan sisi penghubung antara beberapa kabupaten di bagian barat (DKI dan Jawa Barat) dan beberapa kabupaten di bagian timur (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Demikian juga wilayah perairannya, merupakan bagian dari perairan Laut Jawa yang menghubungkan beberapa pulau di depannya, seperti Kalimantan, Sulawesi dan kepulauan di Kawasan Timur Indonesia.Salah satu kendala bagi perencanaan Pelabuhan Cirebon yaitu masalah sedimentasi yang cukup aktif di perairan ini, hal ini dimungkinkan karena banyaknya sungai-sungai besar yang membawa sedimen dari daratan disamping itu faktor oseanografi juga berperan. Metoda yang diterapkan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan pengamatan pasang surut dan pengukuran arus, membandingkan beberapa peta dasar, menghitung kecepatan sedimentasi pada material halus (suspended sediment) dengan penentuan umur absolut berdasarkan radioaktif 210Pb. Kedudukan muka air laut rata-rata (mean sea level) sebesar 139 cm dan kedudukan air rendah (LWS) sebesar 59.93 cm dibawah duduk tengah, tipe pasang surutnya adalah “pasang campuran yang condong ke harian ganda”, berdasarkan bilangan Formzal F sebesar 0.51. Kondisi arus pada saat pasang kecepatan arus permukaan rata-rata mencapai 0,072 m/detik dan arus menengah mencapai 0,056 m/detik. Pada saat surut kecepatan arus permukaan rata-rata mencapai 0,075 m/detik dan arus menengah mencapai 0,055 m/detik. Pada daerah dekat pantai pola arus permukaan relatif sama dengan pola arah angin dominan yaitu berarah timurlaut – baratdaya. Faktor lain yang mempengaruhi pola arus adalah banyaknya sungai besar serta adanya Tanjung Dleweran yang menjorok ke laut sehingga terjadi pola arus yang menutup (louping current). Kecepatan sedimentasi rata-rata di perairan Astanajapura berdasarkan penentuan umur unsur radioaktif 210Pb berkisar antara 1,37 – 1,5 cm/tahun dengan muatan sedimen rata-rata berkisar antara 30,44 – 36,1 kg/m2/tahun. Planning and development of Cirebon Port is a strategic activity, because some district in the west part (DKI and West Java) and the east part (Central Java and East Java) is connected by the Cirebon district. Cirebon waters isbelonging to the Java Sea and also as a connecting same island in front of, such as Kalimantan, Sulawesi and the eastern part of Indonesia islands. Once of constrain for port development in Cirebon district is a sedimentationrate, this problem due to much sediment are carried by the big rivers from the land. In this research the method are used such as tide observation, current measurement, complied some base map, sediment rate accounting with determining of age absolute base on 210Pb radioactive.Mean sea lavel is 139 cm and low water sea is 59,93 cm below mean sea lave, base on Fromzal unit 0.51 type oftide is mixed tide to predominantly semi diurnal. Mean surficial current velocity is 0.072 m/sec and medium current velocity is 0.055 m/sec in the tide, meansurficial current velocity is 0.075 m/sec and medium current velocity is 0.055 m/sec in the ebb. In the near shore the surficial current relative same with the dominant wind direction that is notheast-southwest. There are many big river and Dleweran cape which extends into the sea cause the louping current are the other factor which influence the current. The average of sedimentation rate in the Astanajapura waters base on radioactive 210Pb dating is 1,37 – 1,5 cm/yr and the average of sediment mass flux is 30,44 – 36,1 kg/m2yr-1.
PENELITIAN AWAL PENEMPATAN TURBIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ARUS LAUT (PLTAL) DARI DATA ARUS DAN MORFOLOGI DASAR LAUT DI SELAT BOLENG, NUSA TENGGARA TIMUR Beben Rachmat; Ai Yuningsih; Prijantono Astjario
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6558.755 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.1.2013.228

Abstract

Distribusi kecepatan arus di Selat Boleng sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut, kedalaman dan bentukan morfologi dasar lautnya. Kecepatan arus bergradasi naik dari dangkal ke kedalaman yang lebih dalam. Dibagian selatan dan tengah selat distribusi kecepatan arus maksimum pada kedalaman laut antara 20 – 50 m, 50 – 100 m dan 100 – 180 m, masing-masing antara 0.5 – 2.0 m/det, 2.1 – 3.0 m/det dan di atas 3.0 m/det. Kecepatan arus maksimum terjadi pada saat kedudukan air pasang menuju pasang maksimum dan kedudukan air pada saat surut menuju surut minimum. Berdasarkan kedalaman laut, bentuk morfologi dasar laut dan distribusi kecepatan arus vertikal dan horizontalnya, maka lokasi penempatan turbin representatif adalah pada kedalaman 75 – 100 m yang terletak di sisi barat bagian selatan (area 1) dan tengah selat (area 2). Sedangkan di bagian utara selat (area 3) pada kedalaman 50 – 100 m. Kecepatan arus di lokasi ini pada saat pasang surut berkisar antara 1.5 – 3.1 m/dtk. Dari ketiga area ini paling representatif adalah area 2 dengan tipe turbin sistem pemberat (gravity base) dan turbin terapung. Kata kunci : pasang surut, kedalaman laut, morfologi dasar laut, kecepatan arus, lokasi turbin, Selat Boleng Current velocity distribution in the Strait of Boleng strongly influenced by tidal conditions, the depth of the sea and seabed morphology formation. Graded current velocity increased from shallow to deeper depths. In the southern and central strait at ocean depths between 20-50 m maximum current velocity distribution ranged from 0.5 - 2.0 m/s, depths 50-100 m maximum current velocity distribution ranged from 2.1 - 3.0 m/s and a depth of 100-180 m maximum current velocity distribution above 3.0 m/s. The maximum current velocity occurs when position of the flood toward the maximum flood and position of the ebb toward the minimum ebb. Based on the depth sea, seabed morphology and distribution of vertical and horizontal current velocity, the location of the turbine placement representative is on the west side of the strait at a depth 75-100 m, located in the southern part of the strait (area 1) and the middle of the strait (area 2). While in the northern part of the strait (area 3) at a depth of 50-100 m. Current velocity at the site in tidal conditions ranged from 1.5 - 3.1 m/sec. Of the three areas, the most representative area is the area 2 with a suitable turbine type is the type turbine with a ballast system (gravity base) and floating turbines. Keywords: tidal, depth sea, strait, current velocity, seabed morphology, turbine location, Boleng Strait
KELURUSAN ANOMALI MAGNET BENDA X DI DAERAH Y DARI HASIL REDUKSI KE KUTUB Ketut Gede Aryawan; Subarsyah Subarsyah
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.3 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.2.2008.155

Abstract

Kita mengalami kesulitan untuk mendeteksi anomali secara langsung dari data medan magnet karena mempunyai polaritas positif dan negatif. Untuk itu diperlukan teknik pemrosesan data magnet untuk memperoleh delineasi pipa yang lebih baik. Pada kasus delineasi pipa gas di laut daerah X, diterapkan teknik reduksi ke kutub (RTP) untuk mengolah data magnet total. Fast Fourier Transform (FFT) diterapkan pada proses transformasi RTP dalam 2-dimensi dan 3-dimensi menggunakan perangkat lunak Matlab dan Magpick. Hasilnya menunjukkan arah dari pipa utara-selatan dan memperlihatkan posisi dari pipa semakin jelas yang diperkirakan tepat berada di bawah puncak kurva anomali. Kata kunci: anomali magnet total, delineasi, reduksi ke kutub, transformasi fourier, klosur. We have the problem to detect anomaly directly from the magnetic field data because it have two polarities, positive and negative. We need a technique of data processing to detect magnetic anomaly better. In the case of gas pipeline delineation in X-area, Reduce to Pole (RTP) technique was applied to process total magnetic data. Fast Fourier Transform (FFT) was applied on RTP transformation process in 2-Dimension and 3-Dimension using Matlab and Magpick softwares. The result indicate that the gas pipeline is north-south direction and the position is under the peak of anomaly curve. Keywords: total magnetic anomaly, delineation, reduce to pole, fast fourier transform, closur.
POTENSI ENERGI ARUS LAUT SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN DI SELAT LOMBOK BERDASARKAN DATA INSTANT WEST MOORING DEPLOYMENT 1 Yogo Pratomo; Widodo Setiyo Pranowo; Sahat Monang Simanjuntak
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.672 KB) | DOI: 10.32693/jgk.14.2.2016.357

Abstract

Selat Lombok merupakan salah satu perlintasan massa air laut dunia, yang mengalir dari Samudera Pasifik menuju ke Samudera Hindia yang disebut sebagai Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Hal ini terbukti dengan adanya komponen harmonik periode panjang yang di pengaruhi oleh Matahari (SA, SSA), dan dipengaruhi Bulan (MSF). Hasil rekaman mooring selama 1,5 tahun, selat ini memiliki kecepatan arus harmonik rata-rata sebesar 0,25219 m/dt di kedalaman 100 meter. Arus laut merupakan salah satu energi baru terbarukan yang dapat di manfaatkan sebagai pembangkit listrik. Arus laut diolah dengan menggunakan modul toolbox T-Tide 1,3 beta, dan menghasilkan arus harmonik dan arus non harmonik. Berdasarkan komputasi skenario pertama, dengan menggunakan turbin Helix LC 500 dan menghasilkan listrik 3,56 KW (harmonic), dan 1,86 KW (non harmonik) dengan kecepatan arus terbesar terjadi pada kedalaman 146,31 meter. Nilai kecepatan arus rata-rata terdapat pada kedalaman 178,31 meter dengan daya yang dihasilkan sebesar 92,17 W pada kondisi arus non harmonik. Kecepatan arus rata-rata pada kondisi arus harmonik terdapat pada kedalaman 162,31 meter, dengan daya yang dihasilkan sebesar 32,943 W.Kata Kunci : arus laut, energi baru terbarukan, Selat Lombok, INSTANT West Mooring.Lombok Strait is one of seawater mass outlet, flowing from the Pacific Ocean toward the Indian Ocean called as Indonesian Through Flow (ITF). It is proven by long period of harmonic components influenced by sun (SA, SSA) and moon (MSF). The result of mooring record for 1.5 years, this strait has average speed of the harmonic ocean current is 0.25219 m/s at 100 meters water depth. Ocean current is one of renewable energy that can be used for generating power electric. Ocean currents processed by using T-tide matlab toolbox 1.3 beta to identified the harmonic and non harmonic currents. Based on first scenario of the computer conversion, by using a Helix turbine LC 500 and produce an electricity energy about 3.56 KW (harmonic), and 1.86 KW (non harmonic) ocean currents, with the maximum current speed at the 146.31 meters water depth. The average of current speed average found at 178.31 meters water depth, and it produces a power of 92.17 W (non harmonic). The current speed averages from the harmonic condition is found at 162.31 meters water depth, which can produce a power about 32.943 W.Keyword : ocean currents, potential renewable energy, Lombok Strait, INSTANT West Mooring.
KETERDAPATAN EMAS LETAKAN DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN DELTA KAPUAS, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 2 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.2.2005.123

Abstract

Perairan Delta Kapuas merupakan tempat yang baik bagi akumulasinya endapan letakan asal Sungai Kapuas. Permukaan dasar lautnya ditutupi oleh sedimen pasir, pasir lanauan, lanau pasiran dan lanau. Sedimen ini mengandung logam emas (Au) dan ikutannya, yaitu perak (Ag), tembaga (Cu), timbal (Pb), seng (Zn) dan timah (Sn). Kadar terendah yaitu emas berkisar 2 - 92 ppb dan tertinggi Sn < 10 - 320 ppm. Keterdapatan emas secara lateral relatif membesar ke arah bagian hulu dan secara vertikal membesar ke bagian bawah permukaan. Keterdapatan emas dan ikutannya tersebut tidak satupun dijumpai pembawa mineral bijihnya. Namun secara kualitatif keterdapatan unsur-unsur logam ini sesuai dengan hasil analisis geokimia dari percontohan "stream sediment" dan "pan concentrate" di Sungai Delta Kapuas. Primernya diduga berkaitan dengan peristiwa Batuan Terobosan Sintang yang dijumpai secara setempat di sebelah timur daerah penelitian. Delta Kapuas Waters are a good place for placer deposits accumulation originally from Kapuas River. The seafloor sediment surface are covered by sand, silty sand, sandy silt and silt. These sediments content of gold (Au) and its associate metal, such as silver (Ag), copper (Cu), lead (Pb), zinc (Zn) and tin (Sn). The lowest content of gold is approximately between 2 - 92 ppb and the highest content of tin is approximately between < 10 - 320 ppm. Laterally, the occurrence of gold is relatively higher to the upstream part and vertically higher to the deeper part of the sediment. The existence of gold (Au) and its associate metal as mentioned above could not be traced to its ore mineral. But qualitatively the existence of these metal elements are in accordance with the result of geochemical analysis of the stream sediments and concentrate pan samples in the Delta Kapuas river. Its primary source is anticipated relate to the Sintang intrusion event which occurred locally in eastern of research area.
MODEL EMPIRIS HARI TENANG VARIASI MEDAN GEOMAGNET DI STASIUN GEOMAGNET TONDANO MANADO Lukman Arifin; John Maspupu
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.539 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.251

Abstract

Penentuan model empiris hari tenang variasi medan geomagnet dikonstruksi berdasarkan data geomagnet dari stasiun geomagnet (SG) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tondano, Manado. Hari tenang variasi medan geomagnet dinyatakan sebagai fungsi dari keempat komponen atau variabel yang mempengaruhinya yaitu: aktivitas matahari SA (solar activity), hari dalam setahun DOY (date of year), usia bulan LA (lunar age) dan waktu lokal LT (local time). Dalam bentuk matematis ditulis sebagai, EMQD ( SA, DOY, LA, LT ) = f(SA). g(DOY). h(LA). m(LT). Model empiris yang didasarkan pada fungsi kecocokan ini terdiri dari 270 bentuk ekspresi matematik. Sedangkan bentuk-bentuk ekspresi matematik ini juga mencakup proses-proses non-linier yang tak dapat diabaikan dalam model empiris hari tenang variasi medan geomagnet tersebut. Model empiris ini dapat ditiru atau dikonstruksi kembali pada suatu selang waktu yang relatif panjang (misalnya satu siklus matahari), asalkan kondisi geomagnet selalu berada dalam keadaan tenang. Kontribusi dari model empiris hari tenang ini akan memberikan informasi tentang gangguan geomagnet yang ada di stasiun geomagnet Tondano (Nilai Gangguan geomagnet = Nilai variasi medan geomagnet yang terukur – Nilai model empiris hari tenang). Dengan demikian model ini akan memberikan informasi gangguan geomagnet untuk operasi survey geomagnet disekitar stasiun geomagnet Tondano, Manado. Kata kunci : Model empiris, Hari tenang, Variasi medan geomagnet. The determination an empirical model of the quiet daily geomagnetic field variation that is constructed based on geomagnetic data from Tondano, Manado station geomagnetic This quiet daily of geomagnetic field variation was described as a function of four variables that its influence, these are solar activity (SA), day of year (DOY), lunar age (LA) and local time (LT). In the mathematically writes: EMQD ( SA, DOY, LA, LT ) = f(SA). g(DOY). h(LA). m(LT). The empirical model based on this fitting function consist of 270 coefficients which included in expression form of mathematic. While, expression form of this mathematic also comprise nonlinear processes which can not minimized in the empirical model of the quiet daily geomagnetic field variation. This empirical model can be reconstructed on the time interval that is long relative (for example one solar cycle). Provided that, under geomagnetic quiet conditions. Contribution of this empirical model of the quiet daily variation is can give information about the existence of geomagnetic disturbance at Tondano (value of geomagnetic disturbance equal value of measurable geomagnetic field variation minus value of empirical model of the quiet daily variation). Thus, information about the existence of this geomagnetic disturbance very useful for necessity geomagnetic survey at Tondano, Manado geomagnetic station. Keywords: Empirical model, the quiet daily variation, geomagnetic field variation.
POTENSI BAHAYA GEOLOGI DI PERAIRAN LHOKSEUMAWE ACEH Lukman Arifin; Subarsyah Subarsyah
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2490.263 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.565

Abstract

Penelitian seismik pantul dangkal di perairan Lhoksemawe dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi di bawah permukaan dasar laut. Adanya potensi bahaya geologi suatu daerah penelitian dapat diketahui dengan menganalisis kondisi geologinya. Hasil interpretasi rekaman seismik memperlihatkan struktur geologi sesar, pengangkatan, pelipatan dan intrusi. Sesar-sesar aktif yang terdapat di darat umumnya menerus hingga ke pantai dan lepas pantai. Untuk menentukan daerah yang mungkin dapat mengakibatkan terjadinya bahaya geologi maka dibuat zonasi berdasarkan morfologi dasar laut. Kewaspadaan terhadap bahaya geologi yang mungkin terjadi di laut terutama pada zona B dan zona C. Longsoran dapat terjadi di zona B karena morfologinya agak terjal, dan sesar aktif pada zona C dapat mengakibatkan gempa. Zona A dengan kedalaman antara 0 hingga 200 meter dapat dikatagorikan sebagai zona cukup aman. Pembangunan di daerah pantai hingga lepas pantai cukup aman pada kawasan kedalaman hingga 200 meter. Kata kunci: potensi, bahaya geologi, struktur geologi, LhokseumaweShallow seismic reflection research in the Lhokseumawe waters was conducted to determine the geological conditions beneath the seabed surface. The geological hazard potential of study area can be known to analyze its geological conditions. The results of seismic interpretation shows that geological structures as fault, up lift, fold and intrusion. Active faults on land are generally being up to the coast and offshore. To determine areas that may result in the geological hazards created zoning based on morphological seabed. Precautions against geological hazards that may occur in the sea, mainly in zones B and C.Landslide can be occured in B zone because the morphology rather steep, and the active fault on C zone can be resulted the earthquakes. The A zone with the depth between 0 to 200 meters can be considered safe zone. Development in coastal to offshore areas may be quite safe in the depth up to 200 meters.Keyword: Potency, geological hazard, geology structure, Lhokseumawe