Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Riba dalam Tinjauan Al-Quran Rohayana, Ade Dedi
RELIGIA Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.949 KB) | DOI: 10.28918/religia.v18i1.622

Abstract

Artikel ini membahas tentang riba menurut al- Qur'an. Dalam konteks masyarakat kontemporer, pemahaman kaum muslim hingga saat ini masih terjadi perbedaan pemikiran tentang konsep riba. Karena itu, kajian tentang riba masih dirasa aktual sampai sekarang, terutama kajian riba menurut al-Quran juga hadis sebagai rujukan utama kaum muslim. Beberapa ayat tentang riba dikaji dalam tulisan ini berdasarkan konsep turunnya ayat, baik ayat riba turun di Mekah maupun di Madinah. Alasan hukum dari ayat-ayat tersebut juga dijelaskan untuk memperkuat argumen. Berdasarkan kajian, tampak bahwa riba yang sudah jelas haram dalam al-Quran adalah riba pada masa jahiliyah yang diberi nama riba nasi’ah atau riba fahisy atau rabh murakkab atau faidah murakkabah. Riba yang seperti ini diharamkan secara pasti oleh Nash al-Quran, sedangkan kata adh’afan mudha’afah sebagai penjelasan khusus (incident clarifier) dan ilustrasi keadaan manusia pada masa jahiliyah, selain menjelaskan ketercelaan perbuatan tersebut yang mengandung penganiayaan dan penindasan kepada mereka yang sedang kesulitan. Kata adh’afan mudha’afah tidak menjelaskan bahwa riba yasir (riba yang sedikit) adalah halal, karena itu bukan maksud ayat ini, selain karena riba itu baik sedikit maupun banyak tetap diharamkan dan termasuk dosa besar. Dalam ayat juga dijelaskan bahwa riba yang diharamkan merugikan salah seorang tanpa satu sebab kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan pihak lain tanpa usaha kecuali penganiayaan dan ketamakan. Hal ini berbeda dengan investasi yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Gender Discrimination on Child Marriage in Indonesia: A Quantitative Research Using Bootstrap Approach Rohayana, Ade Dedi
MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender Vol 12 No 2 (2020)
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v12i2.2847

Abstract

The main objective of this study is to analyze gender discrimination in child marriage in Indonesia. The discrimination is based on early marriage, namely Indonesian youth aged 20-24 years who have been married before the age of 19 years. There are two main factors used, namely gender and age groups. The age group represents the age at first marriage for Indonesian youth who are categorized as early marriage, namely the group aged less than 15 years and aged in the group 16-18 years. This study applies a bootstrap approach to the analysis of variance (ANOVA) due to the failure of the initial assumption tests on the original data. The analysis results show there are significant differences between male and female youth in the percentage of child marriage cases. Gender inequality is indicated based on the finding that young women are found to be four times more vulnerable to being trapped in child marriage than boys. In addition, the results of the analysis also indicate that young women are easier to get trapped in child marriage practices for both age groups. Furthermore, the results of the analysis also indicate that young women are more prone to be involved in child marriage when they are in the 16-18 year group.
Urgensi Materi Maqashid al-Syariah pada Mata Pelajaran PAI Ade Dedi Rohayana
Edukasia Islamika Volume 4, Number 2 2019, Edukasia Islamika: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, Institut Agama Islam Negeri Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.453 KB) | DOI: 10.28918/jei.v4i2.2302

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan urgensi materi maqashid al-syariah dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan usaha yang bisa dilakukan guru dalam mentransformasikan nilai-nilai maqashid al-syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, urgensi materi maqashid al-syariah dalam mata pelajaran PAI adalah untuk menanamkan pemikiran dan pemahaman yang baik dan benar kepada para peserta didik tentang tujuan pokok dari ditetapkannya syariat Islam, yaitu: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda. Kelima hal inilah yang menjadi substansi ajaran al-Qur’an dan Hadits yang akan mengantisipasi para peserta didik terpengaruh oleh paham intoleransi dan radikalisme agama. Kedua, usaha yang bisa dilakukan oleh guru PAI dalam mentransformasikan nilai-nilai maqashid al-syariah kepada para siswa antara lain: guru PAI harus mampu memahami konsep maqashid al-syariah sebagai tujuan utama pensyariatan dari setiap ajaran Islam termasuk yang terkadung dalam materi PAI, guru PAI harus mampu menguasai konsep tentang sabab al-nuzul dari suatu ayat atau sabab al-wurud dari suatu hadits, sehingga dalam memahami dan menyampaikan ayat al-Qur’an atau Hadits tidak terjebak hanya pada tataran tekstual semata, dan guru PAI harus mampu memiliki pengetahuan yang luas tentang tafsir al-Qur’an mu’tabar sehingga mampu memberikan sebuah simpulan tentang hikmah al-tasyri’ yang bermuara pada maqashid al-syariah.
Dauru Kafa'ati Thullab Kuliyyah Al-Syari'ah Jami'ah Pekalongan Al- 'Islamiyyah Al-Hukumiyah 'Ala Al-Lughah Al-'Arabiyyah Fi Ta'liimi Ushul Fiqh Ade Dedi Rohayana
Jurnal Alsinatuna Vol 3 No 1 (2017): December 2017
Publisher : Arabic Education Program IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/alsinatuna.v3i1.1175

Abstract

This study is aims to know the role of Arabic competence in ushul fiqh teaching and learning of students of sharia faculty in Pekalongan State Islamic Institution. This qualitative research uses descriptive method. Ushul fiqh is one of the compulsory subjects for students of sharia faculty. The students' ability in Arabic has an important role in understanding ushul fiqh cases that is islamic proposition used in deciding laws. This islamic proposition is based on Koran and Hadith. To understand this islamic proposition, they need Arabic. Beside that, lots of terminologies in ushul fiqh take source from arabic laguage. Sharia faculty’s students learn the language in Intensive Arabic class in the 1st year of their study in Pekalongan State Islamic institute.
TARIKH DUKHUL AL LUGHAH AL ARABIYYAH WA INTISYARUHA FI INDUNISIA Ade Dedi Rohayana
Jurnal Alsinatuna Vol 1 No 2 (2016): June 2016
Publisher : Arabic Education Program IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/alsinatuna.v1i2.790

Abstract

As the language of Islam, Arabic has an important position for Indonesian people. There has been no research result which shows when the study of Arabic come, initiated, and developed for the first time. The developed assumption is that Arabic is already known by Indonesian people since Islam is known and adhered by majority of our nation. The aim of this paper is to provide a clear picture of Islamic world related to the history of Arabic language in Indonesia.
Critique of radical religious paradigm: an epistemological analysis from principles of Islamic thought Ade Dedi Rohayana; Muhammad Jauhari Sofi
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 11, No 1 (2021): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v11i1.163-184

Abstract

As one important factor enabling Islamophobia, radicalism has been a global issue endangering personal safety and public security. It is strongly associated with incorrect understanding of religious doctrines. This paper aims to present a critique of religious paradigm promoted by the radical groups from principles of Islamic thought (usul fiqh) perspective. Using epistemological analysis to uncover the nature of their religious understanding and its justification, this study argues that radical religious paradigm is characterized with monolithic, textual, and rigid interpretation of the sacred texts. According to the radical groups, the sources of Islamic laws or teachings are restricted to only the Quran and the hadith, leaving no space for alternative interpretations. They do not give a place for ra’yu (reason) in determining the laws or teachings. In the other hands, usul fiqh maintains that the sources of the Islamic laws or teachings are not restricted to only the two said sources; it also gives a place for ra’yu (reason). From usul fiqh perspective, the sources can also be found in the form of isyarah (signalling) and ruh (spirit) of the Quran and the hadith. In this sense, usul fiqh refuses the literal interpretation proposed by the radical groups since not all of the texts in the Quran and the hadith can be understood literally.
Urgensi Materi Maqashid al-Syariah pada Mata Pelajaran PAI Ade Dedi Rohayana
Edukasia Islamika Volume 4, Number 2 2019, Edukasia Islamika: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, Institut Agama Islam Negeri Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jei.v4i2.2302

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan urgensi materi maqashid al-syariah dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan usaha yang bisa dilakukan guru dalam mentransformasikan nilai-nilai maqashid al-syariah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, urgensi materi maqashid al-syariah dalam mata pelajaran PAI adalah untuk menanamkan pemikiran dan pemahaman yang baik dan benar kepada para peserta didik tentang tujuan pokok dari ditetapkannya syariat Islam, yaitu: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda. Kelima hal inilah yang menjadi substansi ajaran al-Qur’an dan Hadits yang akan mengantisipasi para peserta didik terpengaruh oleh paham intoleransi dan radikalisme agama. Kedua, usaha yang bisa dilakukan oleh guru PAI dalam mentransformasikan nilai-nilai maqashid al-syariah kepada para siswa antara lain: guru PAI harus mampu memahami konsep maqashid al-syariah sebagai tujuan utama pensyariatan dari setiap ajaran Islam termasuk yang terkadung dalam materi PAI, guru PAI harus mampu menguasai konsep tentang sabab al-nuzul dari suatu ayat atau sabab al-wurud dari suatu hadits, sehingga dalam memahami dan menyampaikan ayat al-Qur’an atau Hadits tidak terjebak hanya pada tataran tekstual semata, dan guru PAI harus mampu memiliki pengetahuan yang luas tentang tafsir al-Qur’an mu’tabar sehingga mampu memberikan sebuah simpulan tentang hikmah al-tasyri’ yang bermuara pada maqashid al-syariah.
Gender Discrimination on Child Marriage in Indonesia: A Quantitative Research Using Bootstrap Approach Ade Dedi Rohayana
Muwazah Vol 12 No 2 (2020)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v12i2.2847

Abstract

The main objective of this study is to analyze gender discrimination in child marriage in Indonesia. The discrimination is based on early marriage, namely Indonesian youth aged 20-24 years who have been married before the age of 19 years. There are two main factors used, namely gender and age groups. The age group represents the age at first marriage for Indonesian youth who are categorized as early marriage, namely the group aged less than 15 years and aged in the group 16-18 years. This study applies a bootstrap approach to the analysis of variance (ANOVA) due to the failure of the initial assumption tests on the original data. The analysis results show there are significant differences between male and female youth in the percentage of child marriage cases. Gender inequality is indicated based on the finding that young women are found to be four times more vulnerable to being trapped in child marriage than boys. In addition, the results of the analysis also indicate that young women are easier to get trapped in child marriage practices for both age groups. Furthermore, the results of the analysis also indicate that young women are more prone to be involved in child marriage when they are in the 16-18 year group.
Riba dalam Tinjauan Al-Quran Ade Dedi Rohayana
Religia Vol 18 No 1: April 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v18i1.622

Abstract

Artikel ini membahas tentang riba menurut al- Qur'an. Dalam konteks masyarakat kontemporer, pemahaman kaum muslim hingga saat ini masih terjadi perbedaan pemikiran tentang konsep riba. Karena itu, kajian tentang riba masih dirasa aktual sampai sekarang, terutama kajian riba menurut al-Quran juga hadis sebagai rujukan utama kaum muslim. Beberapa ayat tentang riba dikaji dalam tulisan ini berdasarkan konsep turunnya ayat, baik ayat riba turun di Mekah maupun di Madinah. Alasan hukum dari ayat-ayat tersebut juga dijelaskan untuk memperkuat argumen. Berdasarkan kajian, tampak bahwa riba yang sudah jelas haram dalam al-Quran adalah riba pada masa jahiliyah yang diberi nama riba nasi’ah atau riba fahisy atau rabh murakkab atau faidah murakkabah. Riba yang seperti ini diharamkan secara pasti oleh Nash al-Quran, sedangkan kata adh’afan mudha’afah sebagai penjelasan khusus (incident clarifier) dan ilustrasi keadaan manusia pada masa jahiliyah, selain menjelaskan ketercelaan perbuatan tersebut yang mengandung penganiayaan dan penindasan kepada mereka yang sedang kesulitan. Kata adh’afan mudha’afah tidak menjelaskan bahwa riba yasir (riba yang sedikit) adalah halal, karena itu bukan maksud ayat ini, selain karena riba itu baik sedikit maupun banyak tetap diharamkan dan termasuk dosa besar. Dalam ayat juga dijelaskan bahwa riba yang diharamkan merugikan salah seorang tanpa satu sebab kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan pihak lain tanpa usaha kecuali penganiayaan dan ketamakan. Hal ini berbeda dengan investasi yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
TARIKH DUKHUL AL LUGHAH AL ARABIYYAH WA INTISYARUHA FI INDUNISIA Ade Dedi Rohayana
Jurnal Alsinatuna Vol 1 No 2 (2016): June 2016
Publisher : Arabic Education Program IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/alsinatuna.v1i2.790

Abstract

As the language of Islam, Arabic has an important position for Indonesian people. There has been no research result which shows when the study of Arabic come, initiated, and developed for the first time. The developed assumption is that Arabic is already known by Indonesian people since Islam is known and adhered by majority of our nation. The aim of this paper is to provide a clear picture of Islamic world related to the history of Arabic language in Indonesia.