cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Harmoni
ISSN : 1412663X     EISSN : 25028472     DOI : -
Core Subject : Education,
Ruang lingkup jurnal ini meliputi: 1. Aliran, Paham dan Gerakan Keagamaan 2. Pelayanan Keagamaan 3. Hubungan Antarumat Beragama 4. Toleransi Umat Beragama
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
JAMAAH TABLIGH DAN PERGESERAN IDENTITAS POLITIK KEAGAMAAN PADA PEMILIHAN PRESIDEN 2019 DI LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT Hamdi, Saipul; Rahmawadi, Ihfan; Nasrullah, Arif; Riduan, Imam Malik; Prasojo, Zaenuddin Hudi
Harmoni Vol. 22 No. 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v1i22.661

Abstract

Jamaah Tabligh merupakan kelompok Islam transnasional yang bergerak dalam bidang dakwah dengan menyampaikan ajaran yang murni tentang agama dan keimanan, tanpa sedikitpun membahas isu politik. Namun, beberapa tahun belakangan ini, beberapa tokoh Jamaah Tabligh di Indonesia mulai aktif terlibat dalam politik praktis, khususnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Adanya tokoh Jamaah Tabligh yang ikut berpartisipasi atau bahkan menjadi juru kampanye salah satu pasangan calon presiden mendorong peneliti untuk mengkaji keterlibatan mereka pada Pilpres 2019, serta dampaknya terhadap pergeseran identitas politik keagamaan mereka. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendalami pandangan mereka tentang konsep demokrasi, Pancasila dan wacana pembentukan khilafah Islamiyah yang berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini dilakukan di Lombok yang terpusat di beberapa masjid yang menjadi markas Jamaah Tabligh. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan Teori Kekuasaan dan Teori Identitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jamaah Tabligh cenderung pragmatis dalam menyikapi berbagai sistem yang diterapkan oleh setiap negara, termasuk sistem demokrasi dan Pancasila. Kelompok ini juga beranggapan bahwa khilafah Islamiyah merupakan kondisi di mana nilai-nilai Islam sudah terinternalisasi oleh setiap individu, bukan dengan mendirikan negara Islam melalui gerakan radikal. Pada Pilpres 2019, beberapa anggota Jamaah Tabligh terlibat dalam politik praktis dan hal tersebut dapat dilihat dalam dua perspektif yang saling berlawanan, yakni sebagai sebuah tindakan yang wajar karena dilakukan di luar forum Jamaah Tabligh, tetapi juga dinilai sebagai sebuah penyimpangan karena tindakan tersebut bertentangan dengan usul dakwah mereka.
PERSPEKTIF MASLAHAH DALAM PERJANJIAN PERKAWINAN MENGENAI HARTA DALAM UNDANG-UNDANG PERKAWINAN A’yun , Wildaniyah Mufidatul; Hidayatullah, Alif Hendra
Harmoni Vol. 22 No. 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v22i1.667

Abstract

Perjanjian perkawinan dalam undang-undang perkawinan ialah suatu perjanjian antara dua orang calon suami isteri untuk mengatur jalannya hubungan sebuah keluarga terlebih persoalan harta kekayaan dari kedua belah pihak atau pribadi masing-masing yang dibuat menjelang perkawinan serta disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan. Tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan antara lain sebagai keabsahan perkawinan, untuk mencegah perbuatan tercela di dalamnya karena perkawinan itu harapannya untuk seumur hidup, demi kepastian hukum, alat bukti yang sah, dan mencegah adanya penyelundupan hukum. Perjanjian yang demikian ini, harus diadakan sebelum pernikahan dilaksanakan dan perihal perjanjian tersebut harus diletakkan dalam sebuah keterangan yang ditulis sebagai bukti kemufakatan antar kedua belah pihak dan sifatnya tetap. Metode dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan Pendekatan perundang-undangan merupakan penelitian yang mengutamakan bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan sebagai bahan acuan dasar dalam melakukan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, perjanjian perkawinan mengenai harta dalam undang-undang perkawinan yaitu perjanjian perkawinan yang dapat dilakukan sebelum atau di waktu perkawinan, dalam bentuk kesepakatan tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan. kedua, tinjauan maslahah terhadap perjanjian perkawinan mengenai harta dalam undang-undang perkawinan yakni perjanjian perkawinan yang berdampak kemaslahatan bertujuan untuk menerapkan syari’at Islam dalam persoalan muamalah. Perjanjian perkawinan mengenai harta menggunakan kaidah yang terkandung dalam maqasid al-Shari’ah yakni hifd al-Mal yang berarti menjaga serta memanfaatkan harta kekayaan untuk perihal kebaikan.
KERUKUNAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL PASCA KONTESTASI POLITIK IDENTITAS SAAT PILKADA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT TAHUN 2018 Alfi Syahrin, Alif; Noviani, Fitri; Irwan Nur; Idris, Muhammad
Harmoni Vol. 22 No. 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v1i22.676

Abstract

Kerukunan menjadi konsep yang ideal bagi masyarakat multikultural untuk menjalani kehidupan bersama dan melakukan kerja sama. Pada penyelenggaraan Pilkada Gubernur Provinsi Kalimantan Barat tahun 2018, nuansa politik identitas begitu kental dalam masyarakat multikultural di Kabupaten Sintang. Kentalnya politik identitas yang merebak dalam kehidupan masyarakat multikultural dapat mengganggu kerukunan yang sudah terjalin pada masyarakat multikultural di Kabupaten Sintang. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan jalinan kerukunan yang sudah ada dan tetap terjaga dalam masyarakat multikultural walaupun semakin kentalnya politik identitas dalam kalangan masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan menggunakan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu kondensasi data, display data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara hasil perolehan suara Pilkada tahun 2018 dengan faktor kesamaan agama di Kabupaten Sintang, kerukunan dalam masyarakat multikultural tetap terjaga dalam bentuk adanya aktivitas gotong-royong, tolong menolong dan kumpul bersama. Faktor-faktor yang melatarbelakangi tetap terjalin kerukunan dalam masyarakat multikultural yaitu adanya asas kebermanfaatan bersama, sudah saling mengenalnya antar kelompok masyarakat dan adanya peran organisasi kesukuan. Kesimpulan bahwa politik identitas dianggap sebagai suatu keniscayaan dalam kehidupan, namun hal tersebut tidak diumbar di khalayak umum agar tidak melahirkan perpecahan dalam keberagaman. Dengan begitu, kerukunan yang sudah terjalin menjadi tidak terganggu dengan adanya pilihan politik berdasarkan identitas.
TASAWUF SEBAGAI KEMAJUAN PERADABAN: STUDI PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EKONOMI TAREKAT IDRISYYIAH DI TASIKMALAYA Munandar, Siswoyo Aris
Harmoni Vol. 22 No. 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v1i22.677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran aktif gerakan tasawuf dalam kemajuan peradaban di masyarakat terutama di bidang sosial dan ekonomi. Secara konseptual, tasawuf adalah suatu tradisi mistik dalam Islam yang menekankan pada hubungan manusia dengan Tuhan melalui pengalaman spiritual. Sebagai suatu tradisi yang sudah ada sejak awal Islam, tasawuf telah berkontribusi dalam banyak aspek kehidupan sosial, budaya, dan politik di dunia Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur dan wawancara dengan beberapa anggota tarekat Idrisiyyah. Analisis data dilakukan dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna dan pengalaman tasawuf dalam konteks kemajuan peradaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarekat Idrisiyyah memiliki peran yang penting dalam kemajuan peradaban, terutama dalam bidang sosial dan ekonomi yakni dengan mendirikan sebuah gerakan dakwah dalam bidang perekonomian berupa Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), serta sebuah warung kelontong pada 1987 yang dikelola oleh pengurus Yayasan Al-Idrisiyyah. Usaha warung kelontong berubah menjadi unit usaha ritel minimarket dengan nama Qini Mart di era 2000-an. Sekitar tahun 2007, Qini Mart mulai membangun sistem yang lebih modern dengan menggunakan sistem Convenience Store seperti yang digunakan banyak usaha ritel modern. Qinimart sekarang memiliki sekitar 11 Cabang, selain itu mendirikan BMT Idrisiyyah, Qini Mart (Minimarket) Qini Center, Qini Vaname (Tambak Udang) Depo Qini (Perikanan), Qini Minang (Restoran), Perkebunan, Warung UKM, Asosiasi Pengusaha Idrisiyyah (API), Travel Haji dan Umrah. Selain itu, dakwah Syekh Muhammad Fathurahman melebarkan sayapnya membuat channel youtube ‘Tarekat Idrisiyyah’ dan memiliki siaran Radio Idrisiyyah. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang peran gerakan tasawuf dalam membangun kemajuan positif bagi peradaban manusia.
MAJELIS MUJAHIDIN MENUJU INDONESIA BERSYARIAT Wahab, Abdul Jamil
Harmoni Vol. 22 No. 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v1i22.686

Abstract

Buku ini mendeskripsikan eksistensi Majelis Mujahidin (MM) sebagai bagian dari gerakan Islam yang lahir di era reformasi. Fenomena MM merupakan repetisi dari wacana politik Islam lama di awal kemerdekaan yang mengusung simbolisme politik Islam. Buku ini mampu menjelaskan secara baik, sejarah dan perjuangan MM yaitu mewujudkan formalisasi syariat Islam dalam bernegara. Beberapa bagian dalam buku ini mampu memberikan penjelasan secara ilmiah dan akademik tentang MM, namun terdapat catatan kritis terhadap buku ini yaitu, terdapat tulisan yang bersifat propaganda dan agitatif, terhadap pemerintah maupun pihak yang dianggap tidak sejalan dengan MM. Di beberapa bagian buku ini juga terdapat pernyataan yang ambigu seperti pernyataan bahwa MM tidak mempropagandakan pembentukan negara Islam, namun di beberapa bagian lain buku ini justru sebaliknya. Dalam buku ini juga terdapat pernyataan yang bersifat peyoratif seperti rumusan Pancasila dianggap produk kelompok sekuler dan menggeneralisasi nonmuslim sebagai orang-orang yang memusuhi Islam dan memiliki Islamophobia. Di tengah kemajemukan bangsa ini, ungkapan propaganda dan agitatif perlu dihindari untuk mencegah munculnya friksi dan polarisasi di masyarakat.
KESANTUNAN BAHASA DAKWAH DI MEDIA SOSIAL Nanda, Aisyah Putri
Harmoni Vol. 22 No. 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v22i2.480

Abstract

Prinsip kesantunan bahasa berfungsi sebagai identitas penutur yang memiliki pengaruh besar pada lawan tuturnya. Terutama bagi dai yang berdakwah melalui media sosial. Tren ini mulai muncul saat pandemi COVID-19 merebak di penjuru dunia. Oleh karena itu, penggunaan bahasa dan moralitas dari seseorang dapat mempengaruhi pengikutnya atau bahkan menjadi senjata bagi dirinya sendiri. Penelitian berbasis teori prinsip sopan santun yang ditinjau dari sosiopragmatik. Mengkaji penggunaan bahasa dakwah dai Muslim United di media sosial dari tiga maksim prinsip sopan santun, yaitu maksim pujian, maksim kerendahan hati dan maksim permufakatan. Alasan utamanya terletak pada retorika bahasa dai Muslim United lebih dekat dengan bahasa anak muda zaman milenial. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif interpretatif yang menganalisis tuturan bahasa agama dai Muslim United. Bentuk data yang terhimpun berupa tuturan bahasa dakwah saja yang diperoleh dari teknik simak dan teknik catat. Analisis data penelitian ini diuraikan dengan deskriptif atau narasi sesuai dengan prinsip sopan santun. Adapun hasil penelitian yang diperoleh dai Muslim United menemukan ketiga unsur maksim pujian/penghargaan, maksim kesederhanaan, dan maksim permufakatan di setiap berceramah. Ditambah dengan tuturan ironi dan kelakar yang terselip setiap suasana mulai menegang. Di zaman ini tuturan di media sosial sangat riskan sehingga muncul perseteruan antar perorangan karena merasa terzalimi. Oleh karena itu retorika bahasa dakwah sangat penting untuk dipelajari terutama bagi dai-dai muda di media sosial.
DYNAMICS OF INTERFAITH COMMUNICATION IN SEGREGATED COMMUNITIES Alhamuddin; Alifuddin , Muhammad
Harmoni Vol. 23 No. 1 (2024): Januari-Juni 2024
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v23i1.532

Abstract

Abstract This study aimed to analyze interfaith communication between Muslims in Aoma and Christians in Ambesakoa, focusing on whether the in-group/out-group dichotomy acted as a barrier and identifying factors that fostered mindful communication. Employing a descriptive phenomenological approach, data were collected through semi-structured interviews and participant observation. Instruments included interview guides and field notes. Thematic analysis of the data revealed the following findings: Firstly, communication occurred nominally but with moderate intensity, shaped by long-term acquaintance and familial ties, and influenced by segregated living environments and individual busyness. Secondly, social interactions transcend primordial boundaries, avoiding stereotypes and prejudices, thereby promoting mindful communication. Thirdly, both communities fostered mindful interfaith communication driven by nationalism, shared family lines, and adherence to kalosara values. This study underscored the importance of inclusive education and cultural values in enhancing interfaith communication in segregated societies. It suggests that promoting deeper understanding and respect across religious divides can mitigate barriers created by in-group/out-group dynamics. By acknowledging and fostering these factors, societies can cultivate environments conducive to harmonious interfaith relations. This research contributes to the broader discourse on interfaith dialogue, highlighting practical strategies for promoting mutual respect and understanding in culturally diverse communities. Abstrak Studi ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi lintas agama antara Muslim di Aoma dan Kristen di Ambesakoa, dengan fokus pada apakah dikotomi dalam kelompok/luar kelompok bertindak sebagai penghalang dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong komunikasi yang penuh perhatian. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara semi-struktural dan observasi partisipan. Instrumen yang digunakan meliputi panduan wawancara dan catatan lapangan. Analisis tematik dari data mengungkapkan temuan sebagai berikut: Pertama, komunikasi terjadi secara nominal namun dengan intensitas moderat, dipengaruhi oleh kenalan jangka panjang dan ikatan keluarga, serta dipengaruhi oleh lingkungan hidup yang terpisah dan kesibukan individual. Kedua, interaksi sosial melampaui batas-batas primordial, menghindari stereotip dan prasangka, sehingga mendorong komunikasi yang penuh perhatian. Ketiga, kedua komunitas mempromosikan komunikasi lintas agama yang penuh perhatian didorong oleh nasionalisme, garis keturunan bersama, dan nilai-nilai kalosara. Studi ini menekankan pentingnya pendidikan inklusif dan nilai-nilai budaya dalam meningkatkan komunikasi lintas agama di masyarakat yang terpisah. Studi ini juga menyarankan bahwa mempromosikan pemahaman yang lebih dalam dan saling menghormati di antara perbedaan agama dapat mengurangi hambatan yang diciptakan oleh dinamika kelompok dalam/luar kelompok. Dengan mengakui dan mengembangkan faktor-faktor ini, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung hubungan lintas agama yang harmonis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus lebih luas mengenai dialog lintas agama, dengan menyoroti strategi praktis untuk mempromosikan saling menghormati dan pemahaman dalam komunitas yang beragam budaya.
HOW SOCIAL MOVEMENT WORKS IN MUHAMMADIYAH: A CASE STUDY OF AL-KHUZAEMAH MOSQUE Mahbub Wijaya, Mirza; Budiman, Mamdukh; Firdaus, Nuzulul
Harmoni Vol. 22 No. 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v22i2.687

Abstract

This study analyzes and explores mosque management from the perspective of grassroots social movements within Muhammadiyah. Through observable phenomena, the author elaborates on the theory of social movements within mosques affiliated with Muhammadiyah. This qualitative descriptive research was conducted at Al-Khuzaemah Grand Mosque in Pekalongan Regency. The study involved six informants, including mosque officials, organizational leaders, and Muhammadiyah sympathizers. Data was collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using transcendental phenomenological analysis by Van Kaam. The study’s findings indicate that Muhammadiyah members substantially embrace the concept of religious moderation. The social movement within Al-Khuzaemah Mosque begins with a commitment to integrate with the surrounding community, regular religious study gatherings, training for Muhammadiyah cadres, the selection and invitation of external speakers, and consistent adherence to Muhammadiyah’s values in preaching while respecting the religious practices of other groups. As a result, a grassroots social movement emphasizing religious moderation has substantively emerged.
TABURAR: UNDERSTANDING MODERATION THROUGH HOUSE DOORS IN THE UGAR VILLAGE Putri Ayu, Kurnia; Yamin, Ade; Sahib, Rahmawansyah; Prasojo, Zaenuddin Hudi
Harmoni Vol. 22 No. 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v22i2.691

Abstract

This study aims to reveal the moderation practices carried out by the people of Ugar village, Kokas district, Fakfak Regency, West Papua Province, through their house doors (Taburar). It departs from the assumption that there are functions and roles on the house door as a picture of mutual trust in which the community holds fast to the village philosophy as a basis for values and norms used to regulate family and community life. This traditional philosophy has enabled the Ugar community to survive and adapt to new understandings that enter their village. Qualitative research method with observation and interview techniques related to cultural phenomena and community activities. Several references were used to enrich the data. This paper found that every house in the Ugar community has many doors with their respective characters. Each character has a philosophy and value that leads to the formation of moderation. The internalization of this traditional value allows the strengthening of religious moderation and respect for other identities to occur.
THE RELEVANCE OF THE ABU DHABI DOCUMENT AS A SUSTAINABILITY OF RELIGIOUS MODERATION IN INDONESIA FROM A HADITH PERSPECTIVE Daffa, Muhammad
Harmoni Vol. 22 No. 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v22i2.701

Abstract

Pope Francis and Al-Azhar Grand Imam Ahmad Al-Tayyeb signed the Abu Dhabi Document. On February 4, 2019, they signed the Document of Human Brotherhood for World Peace and Coexistence. Through a hadith perspective, the purpose of this study is to discuss the significance of the Abu Dhabi document as a continuation of religious moderation in Indonesia. Case studies on religious studies were the focus of the qualitative research that took place. The researcher was treated as an outsider in this method. Based on the findings of the research, it is seen that the Abu Dhabi document has significance for the long-term sustainability of religious moderation in Indonesia from the perspective of hadith so that Indonesia can use the Abu Dhabi document as a model of religious moderation. Through hadith, this study offers a new perspective on the Abu Dhabi document. In the context of religious life in Indonesia, traditions on humanity and religious moderation emerge as an essential source of inspiration. As a direction for religious moderation, one alternative is the relevance of the values outlined in the Abu Dhabi document. As a result, this study shows that, from a hadith perspective, the significance of the Abu Dhabi document may be related to the long-term sustainability of religious moderation in Indonesia.