cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Harmoni
ISSN : 1412663X     EISSN : 25028472     DOI : -
Core Subject : Education,
Ruang lingkup jurnal ini meliputi: 1. Aliran, Paham dan Gerakan Keagamaan 2. Pelayanan Keagamaan 3. Hubungan Antarumat Beragama 4. Toleransi Umat Beragama
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
WHEN INTOLERANT LANGUAGE CROWDS THE FEED: HOW DIGITAL DISCOURSES RECONSTRUCT RELIGIOUS FREEDOM IN INDONESIA Hanipah, Heni; Djou, Dakia N.; Muslimin
Harmoni Vol. 24 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i2.929

Abstract

This study explores how intolerant language circulating on TikTok and Instagram reshapes public understandings of religious freedom in Indonesia. Although previous research has mapped hate speech forms or explored media–religion relations, few studies have integrated linguistic, pragmatic, and ideological analyses to explain how intolerance operates as symbolic power in digital environments. This research addresses that gap by analysing how intolerant expressions are produced, circulated, and interpreted within high-engagement online controversies. The study employs a descriptive qualitative design using Critical Discourse Analysis and social pragmatics. The dataset consists of 480 comment units from 130 public accounts on TikTok, Instagram, and X, complemented by 12 online news texts collected between January 2023 and August 2025. Analytical procedures include linguistic categorisation, pragmatic mapping of speech acts, and ideological interpretation of discursive power. The findings show, first, that intolerant language functions as a symbolic authority that reinforces moral hegemony and marginalises alternative religious viewpoints. Second, algorithmic amplification shifts religious freedom from a rights-based principle toward a visibility-driven performance shaped by emotional engagement. Third, counter‑discourses promoting respect and equality receive limited circulation, indicating an asymmetrical discursive ecology. These results suggest that digital platforms not only host but also structure negotiations of religious freedom. The study concludes that strengthening critical linguistic literacy and improving content governance are essential for safeguarding pluralism in Indonesia’s digital public sphere.  Abstrak Penelitian ini mengkaji bagaimana bahasa intoleran yang beredar di TikTok dan Instagram membentuk ulang pemahaman publik mengenai kebebasan beragama di Indonesia. Meskipun penelitian sebelumnya telah memetakan bentuk ujaran kebencian atau menelaah hubungan antara media dan agama, hanya sedikit studi yang mengintegrasikan analisis linguistik, pragmatik, dan ideologis untuk menjelaskan bagaimana intoleransi beroperasi sebagai kekuatan simbolik dalam lingkungan digital. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis bagaimana ekspresi intoleran diproduksi, disirkulasikan, dan ditafsirkan dalam kontroversi daring yang memiliki tingkat interaksi tinggi. Studi ini menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis dan pragmatik sosial. Dataset terdiri atas 480 unit komentar dari 130 akun publik di TikTok, Instagram, dan X, dilengkapi dengan 12 teks berita daring yang dikumpulkan antara Januari 2023 hingga Agustus 2025. Prosedur analisis meliputi kategorisasi linguistik, pemetaan tindak tutur secara pragmatik, dan interpretasi ideologis terhadap dinamika kekuasaan dalam wacana. Temuan menunjukkan, pertama, bahwa bahasa intoleran berfungsi sebagai otoritas simbolik yang memperkuat hegemoni moral dan meminggirkan pandangan keagamaan alternatif. Kedua, amplifikasi algoritmik menggeser kebebasan beragama dari prinsip berbasis hak menuju performativitas yang ditentukan oleh visibilitas dan resonansi emosional. Ketiga, wacana tandingan yang mempromosikan rasa hormat dan kesetaraan memperoleh sirkulasi yang terbatas, menandakan ekologi wacana yang tidak seimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa platform digital tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga struktur yang membentuk negosiasi kebebasan beragama. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan literasi linguistik kritis dan peningkatan tata kelola konten sangat penting untuk menjaga pluralisme dalam ruang publik digital Indonesia
MINISTRY BEYOND TOLERANCE: REFRAMING INTERFAITH HARMONY THROUGH KURIKULUM BERBASIS CINTA (KBC) IN INDONESIA Cahyati, Sri; Encep Syarief Nurdin; Yadi Ruyadi; Asep Dahliyana; Mupid Hidayat; Warlim; Kama Abdul Hakam; Ganjar Muhammad Ganeswara
Harmoni Vol. 24 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i2.946

Abstract

Interfaith harmony remains a critical challenge in Indonesia’s plural society, where intolerance persists despite normative policy frameworks. Existing scholarship has rarely provided a systematic conceptual model linking Islamic compassion-based values to measurable indicators of harmony. Addressing this gap, this study examines the Ministry of Religious Affairs’ Kurikulum Berbasis Cinta (Love-Based Curriculum, KBC) and its relevance to strengthening tolerance, acceptance of difference, non-violence, and interreligious harmony. A qualitative descriptive design was employed, combining a systematic literature review of policy documents, peer-reviewed journal articles, and theoretical works. Data were extracted using a structured template and coded deductively around the values of mahabbah, rahmah, and amanah, and inductively to capture emergent themes. The analysis followed PRISMA guidelines to ensure transparency and rigor. Findings indicate three key contributions. First, KBC provides a coherent normative foundation that integrates spiritual, social, and ecological dimensions of education. Second, the values of mahabbah and rahmah are conceptually linked to empathy, tolerance, and conflict resolution, while amanah reinforces ecological responsibility and shared moral accountability. Third, the framework demonstrates that religious moderation can emerge as an outcome of KBC, moving beyond doctrinal instruction toward dialogical and inclusive practices. This study concludes that KBC offers a novel conceptual framework for embedding affective and ethical values into education. Future research should empirically test its implementation to assess its effectiveness in fostering sustainable interfaith harmony and social cohesion. ABSTRAKKerukunan antarumat beragama tetap menjadi tantangan krusial dalam masyarakat majemuk Indonesia, di mana intoleransi masih bertahan meskipun telah tersedia kerangka kebijakan normatif. Kajian sebelumnya jarang menyajikan model konseptual yang sistematis yang menghubungkan nilai-nilai berbasis cinta dalam Islam dengan indikator harmoni yang terukur. Untuk mengisi kekosongan tersebut, penelitian ini menelaah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas Kementerian Agama serta relevansinya dalam memperkuat toleransi, penerimaan perbedaan, anti-kekerasan, dan kerja sama antaragama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan tinjauan sistematis terhadap dokumen kebijakan, studi akademik dan karya teoretis. Data diekstraksi menggunakan templat terstruktur dan dikodekan secara deduktif berdasarkan nilai mahabbah, rahmah, dan amanah, serta secara induktif untuk menangkap tema-tema baru. Analisis mengikuti pedoman PRISMA guna memastikan transparansi dan ketelitian. Temuan menunjukkan tiga poin utama. Pertama, Kurikulum Berbasis Cinta menyediakan landasan normatif yang koheren dengan mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis pendidikan. Kedua, nilai mahabbah dan rahmah terkait secara konseptual dengan empati, toleransi dan resolusi konflik; sedangkan amanah memperkuat tanggung jawab ekologis dan akuntabilitas moral bersama. Ketiga, kerangka ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat muncul sebagai hasil dari pedagogi berbasis cinta, melampaui pengajaran doktrinal menuju praktik dialogis dan inklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menawarkan kerangka konseptual baru untuk mengintegrasikan nilai afektif dan etis dalam pendidikan. Penelitian lanjutan perlu menguji implementasinya secara empiris guna menilai efektivitasnya dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan kohesi sosial yang berkelanjutan.