Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio (JPKM) is published regularly twice a year in January and June by the Institute for Research and Community Service (LPPM), Santu Paulus College of Teacher Training and Education. This journal contains scientific articles from research in the fields of religion, education, social, culture, and humanities. The JPKM Editorial Team receives scientific articles that have never been published in journals or other media. The published article script has been evaluated through a review and editing process to fit the style of the JPKM.
Articles
314 Documents
MEMBANGUN BUDAYA MUTU DAN UNGGUL DI SEKOLAH
Hendrikus Midun
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (526.853 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.117
Membangun mutu pendidikan merupakan usaha bersama dan terus-menerus semua komponen pendidikan. Budaya mutu dimulai dengan komitmen mutu dari semua komponen sekolah, kerjasama, dan kepemimpinan yang kuat dalam sekolah. Ketiga hal ini mendorong setiap komponen sekolah untuk merealisasikan standar dan pinsip mutu dalam dinamika pendidikan. Budaya mutu dan unggul nampak pada layanan pendidikan yang bermutu. Indikator utamanya adalah kepuasaan pelanggan, baik pelanggan internal dan eksternal. Kepuasaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan dan keberhasilan, tidak saja setelah periode pendidikan tetapi juga selama proses pendidikan berlangsung. Maka komitmen yang dituntut dari setiap komponen pendidikan terutama dewan sekolah, pendidik, peserta didik adalah berpikir dan betindak menghasilkan yang terbaik, berorientasi ke masa depan, terbuka dan adaptif terhadap perubahan, melakukan penyempurnaan terus menenus, dan merubah cara pandang terhadap sesuatu. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik mutu dan tawaran solutif bagaimana mutu dimiliki dan dijalankan pada aktivitas pendidikan.
NASIB KAUM PEREMPUAN: BERKACA PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL”
Ambros Leonangung Edu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (510.669 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.118
Sejak awal penciptaaan, laki-laki dan perempuan sudah ada bersama. Bahkan mereka diciptakan untuk hidup berdampingan. Tetapi di mata lelaki, keberadaan perempuan bersifat problematis. Mungkin bukannya tidak dibutuhkan, tetapi kontribusinya dipertanyakan. Aneka kekerasan yang dialami perempuan sudah semestinya terjadi. Cara pandang tersebut menjadi sisi tilik ]untuk menjelaskan praksis aneka kekerasan terhadap perempuan. Tulisan ini ingin membedah kekerasan dengan bertolak dari reflesi atas novel Perempuan di Titik Nol, karya Nawal El-Saadawi. Novel ini akan mengupas secara tajam konteks dan relevansi kekerasan yang dialami para perempuan dewasa ini.
PHONOLOGY ACQUISITION AT THE HOLOPHRASTIC STAGE
Sebastianus Menggo
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (455.019 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.119
The aim of this preliminary research is to know and describe the phonology acquisition toward early childhood on 15 until 20 months age old in Santo Paulus Preschool, Singaraja, Bali which altogether 7 children. Purposive procedure was applied in this study. Then data were collected through observation, field note, and natural recorded when the respondents were playing and interacting each other in school park. Data collection were done during four days and only certain utterances of those respondents were recorded. The utterances recorded are expected to be representative of the whole 7 children’s phonology acquisition. Utterances repeated by students were recorded precisely by the researcher. The result showed that, children on 15 until 20 months old age generally have acquired vocal phonemes (u, i, e, o). Then, the structure of utterances by this age from easy to difficult phonemes. The distinction of phonem difficulty referenced to the how child articulated the total of distinction feature of each phonem. Vocal phonemes acquisition of 15 until 20 months age old have already completely acquired. There was no vocal phonem change or created a new vocal phonem. Meanwhile, consonant acquisition for the children of this stage, the researcher found that 4 children still have the problem of certain consonants such as r, s, k, j and t. The children articulated those phonemes were different from adult’s production but those differences indicated to the equality of semantic perspective with adult.
EFEKTIVITAS PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIVEMENT DIVISION) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA SD
Kanisius Supardi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.813 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.120
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar IPA siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan desain quasi eksperimental dan bentuk desainnya adalah nonequivalent control.Instrument yang digunakan adalah tes. Data awal diperoleh dengan cara mencatat nilai rapor mata pelajaran IPA siswa kelas V semester dua tahun pelajaran 2014/2015 yang digunakan untuk menguji homogenitas kelompok dan pembentukan kelompok pada kelas eksprimen. Data hasil penelitian ini ini diperoleh dari selisih pretes dan postes kelas eksperimen dan kelas kontrol yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji t-independen, sehingga diperoleh thitung = 4,20> ttabel = 1,67 sehingga hasil belajar IPA dari kedua kelas berbeda secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukan ada perbedaan hasil belajar IPA antara kelas eksperimen yang diajar dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kelas kontrol yang tidak menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD.Hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas eksperimen lebih efektif dibandingkan dengan kelas kontrol yang tidak menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
TRADISI ROKO MOLAS POCO DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PENGHARGAAN TERHADAP MARTABAT PEREMPUAN MANGGARAI
Maksimilianus Jemali;
Rudolof Ngalu;
Adrianus Jebarus
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (541.382 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.122
Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk menggali salah satu tradisi dan kearifan lokal masyarakat Manggarai yaitu roko molas poco. Tradisi ini terbilang unik karena hanya terjadi pada saat pendirian rumah adat (mbaru gendang). Tradisi ini coba dihubungkan oleh peneliti dengan konteks penghargaan terhadap martabat kaum perempuan. Tentu, substansinya adalah penamaan (roko molas poco) tidak serta merta dilakukan. Pasti memiliki pendasaran dengan landasan filosofis dan kultural yang sangat kuat. pembongkaran pemahaman ini tidak terlepas dari bagaimana mempersepsikan kaum perempuan Manggarai di tengah kebudayaan kontemporer. Bahwa perempuan merupakan sosok yang mesti dihargai. Kaum perempuan adalah subyek yang mesti mendapat perlakukan setara harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, memaknai kearifan lokal merupakan sebuah imperasi bagi pemahaman baru terhadap kaum perempuan. Salah satunya melalui tradisi roko molas poco dalam kebudayaan Manggarai
MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK
Stephanus Turibius Rahmat;
Theresia Alviani Sum
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (542.732 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.123
Usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan seorang anak. Pada masa ini, seorang anak harus diberi stimulus tertentu sebagai persiapan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi (school readiness). Dengan itu, seorang anak dibantu untuk merangsang perkembangan kepribadiaan, psikomotor, kognitif maupun aspek sosial. Selain itu, usia dini menjadi periode kritis bagi seorang anak. Perkembangan seorang anak selanjutnya sangat ditentukan oleh stimulasi yang dialami anak pada usia dini. Anak akan mempunyai mental yang baik jika sejak usia dini dibekali dengan hal-hal positif dan konstruktif. Bentuk layanan yang diberikan kepada seorang anak sangat menentukan perkembangan kehidupan selanjutnya. Orang tua, pendidik dan masyarakat perlu bekerja sama untuk membentuk mental anak supaya kelak menjadi anak yang berkarakter baik. Salah satu upaya untuk membentuk dan mengembangkan mental anak yang baik adalah adalah dengan mengembangkan kreativitas. Kreativitas menjadi domain yang mesti ditumbuhkembangkan dalam diri anak. Seorang anak mampu mengoptimalkan nilai-nilai potensial dalam dirinya dengan mengembangkan kreativitas.
RELEVANSI EPISTEMOLOGI JOHN LOCKE
Vitalis Tarsan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (617.91 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.124
Tulisan ini menjelaskan epistemologi John Locke dan relevansinya untuk kontek kita saat ini. Ada empat poin yang akan menjadi penjelasan tentang epistemologinya, yaitu: pertama, gagasan tentang konsep; kedua, konsep pengetahuan; ketiga, kepastian pengetahuan manusia; dan keempat, konsep penilaian, kebenaran, dan kesalahan. Poin terakhir adalah rangkaian epistemologi Jhon Locke yang relevan untuk konteks kita.
DIMENSI TEOLOGIS KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Chrispinus H. Jebarus
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (538.421 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.125
Pasien merupakan subyek pelayanan medis. Pasien mempunyai hak untuk mendapat pelayanan medis yang maksimal dari para tenaga medis. Untuk itu, tenaga medis dituntut untuk melaksanakan asuhan pelayanan medis untuk pasien dengan memandang pasien secara bio-psiko-sosio-spiritual secara komprehensif, sebab tenaga medis sebagai tenaga yang profesional mesti menjamin terlaksananya tugas tersebut dengan baik dan bertanggung jawab secara moral. Karena itu, komunikasi merupakan faktor yang paling penting untuk menetapkan hubungan terapeutik antara tenaga medis dan pasien. Menemukan cara yang efektif untuk mengatasi hambatan komunikasi akan memberikan kesempatan bagi tenaga medis dalam menjembatani budaya dalam pemberian asuhan kesehatan. Tenaga medis yang menggunakan sumber yang tersedia dan memecahkan masalah saat terdapat kesulitan komunikasi akan lebih bisa membantu klien dan keluarga untuk mengakses pelayanan kesehatan dan manfaat dari layanan asuhan kesehatan. Saat tenaga medis mampu berkomunikasi dengan baik dalam bentuk verbal dan tertulis, maka tenaga medis telah membantu pasien untuk bisa mengalami kesembuhan. Dalam hal ini, komunikasi terapeutik sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien.
PEMANFAATAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF DAUR ULANG DALAM PEMBELAJARAN SAINS ANAK USIA 5-6 TAHUN
Adriani Tamo Ina Talu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (539.576 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.126
Alat permainan edukatif daur ulang dapat diartikan sebagai barang-barang bekas di lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan dasar dalam kegiatan seni dan kerajinan tangan. Bahan daur ulang yang dimaksudkan adalah kertas bekas (majalah, koran, kantong beras), kardus atau karton, bahan/kain, plastik, kaleng, busa, tali, tutup botol, karet. Pemanfaatan bahan daur ulang menjadikan prinsip pembelajaran sains untuk anak usia 5-6 tahun dapat dilaksanakan dengan optimal karena sains merupakan ilmu pengetahuan yang mengajak anak mengeksplorasi dengan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Anak usia dini memiliki kemampuan untuk mengamati, mengeksplorasi, dan menemukan dunia di sekitar mereka. Kemampuan dan kecenderungan ini merupakan dasar untuk belajar ilmu yang dapat dan harus didorong serta didukung sejak dini. Di samping itu penggunaan alat permainan edukatif dari bahan daur ulang dalam pembelajaran sejak dini mampu menciptakan generasi mendatang yang lebih baik dalam hal pemeliharaan lingkungan sehingga tercapai lingkungan hidup yang sehat bagi seluruh makhluk hidup. Pembiasaan dalam mendaur ulang sampah ditambah dengan kreativitas yang tinggi dalam memanfaatkan alat permainan edukatif dari bahan daur ulang akan membantu anak dan masyarakat dalam peningkatan taraf hidupnya.
PENDEKATAN PAIKEM SEBAGAI SOLUSI ATAS PERMASALAHAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Florianus Dus Arifian
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (600.132 KB)
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.127
. Pembelajaran bahasa Indonesia yang diliputi suasana aktif membuka ruang bagi siswa untuk menjadi subjek dalam pembelajaran yang sungguh menggunakan bahasa. Pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif menjamin siswa untuk menyalurkan daya jelajahnya atas keterampilan berbahasa sehingga siswa tersebut menjumpai hal-hal baru. Perjumpaan dengan hal-hal baru menginspirasi siswa untuk mengkreasikan produk sebagai hasil sekaligus bukti autentik kinerjanya. Sampai pada titik ini, pembelajaran bahasa Indonesia dikatakan efektif. Pembelajaran yang efektif mendatangkan kenikmatan pembelajaran pada siswa. Oleh karena itu, PAIKEM diyakini dapat mengatasi permasalahan pembelajaraan bahasa Indonesia. Namun, untuk mendesain PAIKEM bahasa Indonesia diperlukan penyelarasan dengan paradigma permikiran terbaru tentang pembelajaran bahasa. Selain itu, diperlukan pentahapan yang jelas atas pembelajaran dan pengelolaan yang memadai atas pengalaman belajar dan serta sumber belajar