cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Seni Tari
ISSN : 22526714     EISSN : 25032585     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
Karya Tari Angkang-Duriangkang Dikaji Dalam Perspektif Analisis Koreografi Asra, Restu Gustian
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.43433

Abstract

Seni pertunjukan tradisi Melayu di kepulauan riau banyak macamnya dan memiliki cirinya masing masing sesuai dengan asal wilayah dimana kesenian itu tumbuh yang merupakan cerminan terhadap budaya setempat. Karya tari Angkang-Duriangkang salah satu karya tari yang berpijak dari cerita legenda dan bentuk gerak khas melayu. Dengan metode penelitian deskripsi kualitatif serta observasi langsung terhadap karya ini dapat penulis lihat bahwa Gerak yang muncul atas dasar gerak tradisi daerah melayu salah satunya ialah gerak zapin, disertai pula dengan pengolahan rasa yang dibawakan dengan tema yang diangkat yaitu ialah seorang daeng yang gagah perkasa. Bentuk penyajiannya menarik dengan simbol-simbol gerak dan pengolahan properti, musik yang disajikan pun menimbulkan rasa satu kesatuan yang kuat dalam sajian karya tari ini. Dikaji dalam analisis koreografi tarian ini hampir memenuhi syarat dalam pengkaryaan, namun ada beberapa elemen yang tidak digunakan karena faktor fungsi tari ini sendiri.
Koreografi Tari Gambyong Jangkung Kuning Di Surakarta Nastiti, Laras Shantika; Malarsih, Malarsih
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.46167

Abstract

Tari Gambyong Jangkung Kuning berasal dari Surakarta, merupakan susunan karya tari baru yang ikut andil dalam memperkaya jenis tari dengan genre Gambyong, disusun oleh Irwan Dhamasto pada tahun 2016. Bercerita mengenai figur seorang Timun Mas yang memulai masa akhil baligh dengan berbagai ancaman dari Buta Ijo yang ingin memperistri Timun Mas. Proses penyusunan karya tari tidak terlepas dari bentuk koreografinya. Oleh karena itu, permasalahan yang dikaji mengenai bagaimana elemen dan proses koreografi Tari Gambyong Jangkung Kuning di Surakarta. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis bentuk serta proses koreografi Tari Gambyong Jangkung Kuning di Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan koreografis. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian mengenai koreografi Tari Gambyong Jangkung Kuning mencakup elemen dan proses koreografi. Elemen koreografi terdiri dari gerak, tema, desain musik, desain kostum, tata rias, tata pentas, dan tata lampu. Proses koreografi diperoleh melalui tahap: 1) penemuan ide; 2) eksplorasi; 3) improvisasi; 4) komposisi. Saran dari penelitian ini bagi koreografer, diharapkan dapat mempertahankan eksistensi serta karakteristik dalam gerak Tari Gambyong Jangkung Kuning. Kata kunci: Koreografi, Proses Koreografi, Gambyong Jangkung Kuning
Estetika Bentuk Pertunjukan Tari Bedhaya Prabu Wibawa Di Yayasan Siswa Among Beksa Keraton Yogyakarta Aristi, Putri Mertia; Lestari, Wahyu
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.46340

Abstract

Estetika Tari Bedhaya Prabu Wibawa memiliki keunikan pada properti pistol, properti pistol belum pernah digunakan pada tari bedhaya gaya Yogyakarta pada lingkungan Yayasan dan lingkungan Keraton Yogyakarta, diciptakan oleh Ibu Yudhonegoro yaitu seorang ahli tari klasik putri gaya Yogyakarta. Estetika Tari Bedhaya Prabu Wibawa terletak pada beberapa ragam gerak pada pola inti yaitu ragam gerak mapan lampah semang slindhitan sampai dengan ragam gerak bangomate dan terletak pada properti yang digunakan. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan estetika bentuk pertunjukan Tari Bedhaya Prabu Wibawa. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetika dan estetis koreografis. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan estetika bentuk pertunjukan Tari Bedhaya Prabu Wibawa dapat dilihat dari struktur pertunjukan tari yang terdiri dari Maju Beksan, Beksan dan Mundur Beksan. Ragam gerak tari yaitu mapan lampah semang slindhitan, ngancap rakit bunderan, mapan ulap-ulap, ngoyog panggel, gajahan, gawang, mapan bangomatè, mapan encot-encot, jangkung miling, mapan tawing, bangomatè, ngancap rakit, ulap-ulap ukel, lampah sekar, bangomate. Tema tari, iringan tari, rias wajah dan busana tari, tempat pertunjukan dan properti pistol. Saran semoga Tari Bedhaya Prabu Wibawa bisa menjadi materi ajar di sekolah-sekolah lain
Pelestarian Seni Di Sanggar Sobokartti Kota Semarang Karunianingtias, Intan Nuraini; Putra, Bintang Hanggoro
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.46385

Abstract

Sanggar Sobokartti didirikan pada tahun 1920. Sejak tahun 1920 hingga tahun 2020 Sanggar Sobokartti masih eksis dan berupaya mempertahankan pelestarian seni di tengah kemajuan jaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan pelestarian seni di Sanggar Sobokartti Kota Semarang. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan obeservasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan pelestarian seni di Sanggar Sobokartti dilihat dari 3 hal yaitu : 1) upaya perlindungan dengan cara melakukan latihan, melaksanakan pementasan, dan mengikuti berbagai event seni; 2) aspek pemanfaatan, pemanfaatan yang dimaksud dilakukan dengan cara memanfaatkan sebuah berkesenian menjadi sesuatu yang memiliki nilai fungsi; 3) melakukan pengembangan dengan cara mengadakan festival, lomba dan membuat website. Upaya pelestarian seni di sanggar terdapat faktor pendukung yaitu sistem organisasi yang berjalan dengan baik, jadwal latihan yang tersruktur dengan baik dan perkembangan teknologi dengan cara memanfaat media sosial dan faktor penghambat pelestarian yaitu terkait pendanaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, sanggar Sobokartti memiliki sumber daya yang mendukung upaya pelestarian seni. Oleh sebab itu perlu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber daya yang ada.
Makna Simbolik Tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit Cirebon Rosiana, Fifit Fitriyah; Arsih, Utami
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.46463

Abstract

Tari Topeng Tumenggung merupakan salah satu jenis Tari Topeng Cirebon gaya Slangit. Tari yang diciptakan oleh seniman tari Cirebon merupakan suatu kerangka yang penuh dengan makna simbolik untuk dikomunikasikan pada orang lain. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis dan mendeskripsikan makna simbolik yang terkandung pada Tari Topeng Tumenggung gaya Slangit. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi teknik dan sumber. Teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian berisi bahwa Tari Topeng Tumenggung gaya Slangit merupakan tari dengan urutan sajian yang ke-4 dalam Tari Topeng Cirebon gaya Slangit. Tari Topeng Tumenggung gaya Slangit memiliki makna simbol diskursif berupa makna penari, makna gerak, makna musik, makna rias, makna busana, makna properti, makna pola lantai, dan makna sesaji serta memiliki makna presentasional yang merupakan makna Tari Topeng Tumenggung gaya Slangit secara keseluruhan yakni sebuah tarian yang menggunakan topeng Tumenggung, diiringi dengan gending waledan, dan menggambarkan seseorang yang dewasa, arif, dan tegas. Makna Tari Topeng Tumenggung dikategorikan menjadi 2 yaitu makna denotasi dan makna konotasi serta dimaknai dari dalang topeng dan bukan dalang topeng.
Eksistensi Tortor Ija Juma Tidahan Dalam Masyarakat Simalungun Di Kabupaten Simalungun Rahman, Khairur; Heniwaty, Yusnizar
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.46538

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan eksistensi Tortor Ijajuma Tidahan pada masyarakat Simalungun di Kabupaten Simalungun. Penelitian dilakukan dimulai dari bulan September-November 2020. Lokasi penelitian di Kabupaten Simalungun tepatnya di Kecamatan Raya. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah untuk mengetahui sejarah dari keberadaan Tortor Ija Juma Tidahan . Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah pelatih tari, penari, dan pengelola sanggar. Teknik analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dianalisis dalam tiga kurun waktu yang berbeda yaitu era 1962-1972 menjelaskannTortor Ija Juma Tidahan masih dalam bentuk aktivitas adat mencari lahan,motif gerak pada era ini belum ada pembakuan gerak, karena lebih mengutamakan nilai sakral atau pemujaan kepada Debata, dan untuk kostumnya masih memperhatikan nilai-nilai sakral pada penyajiannya, 1980-1990 Tortor Ijajuma Tidahan mulai bergeser keberadaannya tidak lagi sebagai aktivitas adat tetapi masih dipakai dalam pesta rondang bintang dan disandingkan dalam urutan tortor Simalungun, diera ini bentuk penyajiannya hanya berbeda pada beberapa bentuk gerak yang sudah ada penambahannya. 1990-sekarang murni tidak lagi dipakai dalam adat, lebih sering dipakai untuk aktivitas hiburan dan disekolah minggu bagi umat nasrani di gereja. Kostum pada era ini sudah banyak dikreasikan dengan warna.
Bentuk Pertunjukan Tari Podang Di Nagari Koto Nan Gadang Kota Payakumbuh Edinon, Gustia Arini
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.46836

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bentuk pertunjukan tari tradisional yang ada di Nagari Koto Nan Gadang Kota Payakumbuh yaitu tari Podang secara rinci, mulai dari unsur utama tari yaitu gerak, hingga unsur pendukung tari yang mencakup penari, pola lantai, properti, busana, musik iringan hingga tempat pertunjukannya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan, observasi, wawancara serta dokumentasi. Teknik analisis data yaitu dengan melakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan bahwa bentuk pertunjukan tari Podang dilihat dari dua unsur yaitu unsur utama dan unsur pendukung. Unsur utama yaitu gerak tari Podang yang menampilkan gerakan silat dan permainan Podang yang memiliki 20 gerakan dalam pertunjukannya, sedangkan unsur pendukung tari terdiri penari Tari Podang yang ditarikan oleh 2 orang penari laki-laki dewasa, pola lantai yang menggunakan garis lurus dan garis lengkung, busana yang dikenakan baju taluak balango, sarawa galembong, kain saruang/jao dan deta, menggunakan alat musik tradisional Minangkabau yaitu talempong, bansi, dan gandang tambua yang dimainkan oleh 5 orang pemusik, properti pertunjukan yaitu pedang panjang berukuran 80-100 cm, waktu dan tempat pertunjukan tari Podang dapat ditampilkan kapan saja dan dimana saja disesuaikan dengan kebutuhan atau tuntutan gerakan yang ditarikan penari. Simpulan dari penelitian yang telah dilakukan, bentuk pertunjukan tari Podang memiliki karakteristik bentuk yang khas khususnya pada bentuk geraknya. Oleh sebab itu tari Podang perlu terus dilestarikan.
Pengembangan Modul Pembelajaran Tari Kreasi Bagi Mahasiswa Siswantari, Heni; Putra, Lovandri Dwanda
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.47562

Abstract

Pengembangan modul pembelajaran tari kreasi untuk mahasiswa dilatarbelakangi dengan keterbatasan media pembelajaran sebagai alternatif sumber belajar materi tentang tari kreasi. Hal ini dapat dirasakan dalam pembelajaran seni tari di perguruan tinggi yang menunjukkan bahwa pembelajaran tari bagi mahasiswa PGSD masih terbatas pada aspek meniru gerakan tari yang ada. Oleh karena itu, tujuan penelian ini adalah untuk mengetahui proses pengembangan dan kualitas dari para ahli modul pembelajaran tari kreasi bagi mahasiswa PGSD. Penelitian ini termasuk jenis penelitian research and development (R&D) dengan menggunakan metode pengembangan ADDIE. Hasil penilaian kualitas modul pembelajaran tari kreasi oleh ahli media mendapat nilai 86,25 “baik sekali”, ahli materi mendapat nilai 85 “baik sekali” dan ahli bahasa mendapat nilai 82 “baik sekali”. Hasil penelitian berupa modul ini akan diimplementasikan dan dijadikan referensi sumber belajar bagi dosen dan mahasiswa dalam mempelajari proses penciptaan tari kreasi bagi mahasiswa PGSD
Pembelajaran Olah Tubuh Sebagai Reflektif Gerak Minangkabau Berbasis Suzuki Method Rosalina, Venny
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i1.47700

Abstract

Suzuki Method merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran olah tubuh di Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Padang. Kurangnya pelatihan tentang pengolahan tubuh menyebabkan dasar teknik tari yang dilakukan mahasiswa tidak menghasilkan gerak-gerak yang maksimal. Hal ini terjadi karena pondasi tubuh itu sendiri yang akan mempengaruhi ketubuhannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan menggunakan teknik observasi dalam melakukan pengumpulan data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gerak pada suzuki method yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran olah tubuh, namun tetap mereflektifkan gerak Minangkabau. Hasil dalam penelitian ini menunjukan tiga gerakan utama yang menjadi karakterisitik dalam Suzuki Method yaitu gerak stomping, basic, dan statue. Gerak tersebut memfokuskan pada kekuatan dan ketahan pada jejak kaki yang hampir sama dengan disiplin kuda-kuda atau pitunggua sebagai representasi gerak Minangkabau.
Analisis Koreografi Tari Liuk Si Liri Nathania, Ivena
Jurnal Seni Tari Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v10i2.43397

Abstract

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini ialah bagaimana analisis koreografi karyatari Liuk Si Liri. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui lebih detail analisis koreografi tariLiuk Si Liri agar dapat menjadi informasi atau sumber acuan dalam menganalisis suatu gerak tari.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputiobservasi, wawancara, dokumentasi serta studi pustaka. Dalam penelitian ini menggunakanmetodologi kualitatif yang dibantu dengan metodologi penelitian deskriptif pustaka. Penelitianmenunjukkan bahwa bahwa koreografer mengangkat tema dengan latar belakang perempuan SukuDayak Kayaan Mendalam yang berfokus pada tato motif Tedak pako’ yang digunakan sehinggamenjadi keunikan bagi perempuan Suku Dayak Kayaan Mendalam dengan skema dramatik akhirkerucut tunggal yang ditambah instrument musik Ketabung, Kanong satu, Kanong dua, Gong,Tetawak, Kacapi Rabab dan Piano yang mampu menambah unsur dramatik karya