cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Higea
ISSN : -     EISSN : 25413554     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2022)" : 12 Documents clear
Aktivitas Antibakteri Spray Gel Hand Sanitizer Ekstrak Etil Asetat Daun Kunyit (Curcuma domestica Val) terhadap Staphylococcus aureus Yahdian Rasyadi; Muthia Miranda Zaunit; Riska Safitri
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.431

Abstract

Infeksi sebagian besar terjadi akibat kemalasan dalam menjaga kebersihan tangan. Saat ini kegiatan membersihkan tangan lebih praktis menggunakan hand sanitizer. Formulasi dan karakterisasi spray gel hand sanitizer ekstrak etil asetat daun kunyit (Curcuma domestica Val) dengan basis HPMC dengan konsentrasi ekstrak etil asetat daun kunyit masing-masingnya 6% (F1), 12% (F2), dan 18% (F3). Semua formula dapat diformulasi menjadi spray gel hand sanitizer dengan hasil karakterisasi yang memenuhi persyaratan. Tujuan penelitian melihat bagaimana aktivitas antibakteri dari masing-masing formula spray gel hand sanitizer ekstrak etil asetat daun dunyit (Curcuma domestica Val) F1,F2, dan F3 terhadap Staphylococcus aureus. Uji aktivitas antibakteri dari F1, F2, F3 dan P (sediaan pembanding) terhadap Staphylococcus aureus dilakukan menggunakan metode sumuran dengan melihat berapa diameter hambat dari masing-masing formula. Dari hasil uji aktivitas antibakteri didapatkan diameter hambat F1= 7,36±2,517 mm; F2= 9,26 ±2,082 mm; F3= 12,53 ±1,528 mm dan P= 9,4 ±1,0 mm. Dapat diambil kesimpulan bahwa sediaan spray gel ekstrak etil asetat daun kunyit (Curcuma domestica Val) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan kategori lemah dan F3 (spray gel mengandung ekstrak etil asetat 18%) memberikan daya hambat antibakteri yang paling besar dibandingkan formula yang lainnya (p<0,05).
Prevalensi Penyimpanan Antibiotik Di Rumah Tangga Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu Zamharira Muslim; Riska Anggia Juita; Avrilya Iqoranny Susilo
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.432

Abstract

Penyimpanan obat-obatan yang umumnya dilakukan di rumah tangga memiliki tujuan tersendiri baik itu sedang digunakan ataupun untuk penggunaan di masa mendatang. Antibiotik yang masih banyak disimpan untuk digunakan sebagai swamedikasi dalam rumah tangga. Penyimpanan antibiotik dapat memicu penggunaan obat yang tidak rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tren penyimpanan antibiotik di masyarakat kecamatan Teluk Segara kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian survey deskriptif, sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan metode wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40 orang ibu rumah tangga menyimpan obat antibiotik. Antibiotik yang disimpan mayoritas jenis Amoxicillin (67,39%), sebagian besar memperoleh antibiotik tidak menggunakan resep dokter (57,50%) dan alasan masyarakat menyimpan antibiotik untuk antisipasi bila terjadi sakit dimasa mendatang (48,10%). Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penyimpanan antibiotik di masyarakat Bengkulu masih sangat tinggi.
Karakterisasi Sifat Fisikokimia Dispersi Padat Celecoxib–PEG 4000 dengan Perbandingan Tiga Formula menggunakan Metode Co-grinding Muthia Fadhila; Indra Makmur; Sintia Ade Viona; Yeni Novita Sari; Sinta Wahyuni
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.433

Abstract

Celecoxib merupakan obat antiinflamasi yang termasuk golongan Biopharmaceutical Classification System kelas II, untuk meningkatkan kelarutannya dibuat menjadi sistem dispersi padat dengan polimer PEG 4000 sehingga bisa meningkatkan kelarutan dari celecoxib. Dispersi padat dibuat dengan metode Co-Grinding dalam beberapa perbandingan antara celecoxib dan polietilen glikol 4000 yaitu 6:4, 7:3, dan 8:2 serta campuran fisik 5:5. Serbuk celecoxib murni, campuran fisik, dan dispersi padat dikarakterisasi sifat fisikokimia meliputi analisis SEM, analisis FT-IR, analisis XRD, analisis DSC, dan uji disolusi. Pada uji disolusi diperoleh % terdisolusi pada menit ke-60 celecoxib murni 55,57% ± 0,690, campuran fisik 61,20% ± 1,464, formula 1 68,38% ± 0,744, formula 2 64,24% ± 0,181, dan formula 3 61,07% ± 1,463 tingginya disolusi pada formula dapat membuktikan bahwa kelarutannya meningkat lebih baik dibandingkan celecoxib murni.
Perbedaan Ekstraksi Daun Teratai (Nymphaea Pubescens Willd) Sebagai Fungsi Aktivitas Antioksidan Boy Chandra; Ridho Asra; Nadya Arta Mevia
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.434

Abstract

Teratai (Nymphaea pubescens Willd.) adalah salah satu tumbuhan yang mengandung banyak senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Daun teratai mengandung senyawa flavonoid, tanin, fenol dan asam galat yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kandungan senyawa kimia dan aktivitas antioksidan yang terdapat pada daun teratai (Nymphaea pubescens Willd.) berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Metode yang digunakan yaitu metode maserasi dengan pelarut etanol 70% dan rebusan dengan aquadest. Dari hasil ekstraksi yang diperoleh, dilakukan skrining fitokimia dan aktivitas antioksidan dengan metode 1,1-difenil-2- pikrilhidrazil (DPPH). Pada metode maserasi menggunakan etanol terdapat kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan fenol, sedangkan dari metode rebusan dengan air didapatkan kandungan kimia seperti flavonoid, tanin dan fenol. Pada pengujian aktivitas antioksidan, didapatkan nilai IC50 56,4088 μg/mL (kuat) dan 375,4779 μg/mL (lemah) untuk masing-masing ekstrak etanol dan ekstrak air. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol mengandung lebih banyak senyawa kimia dan memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak, Fraksi N-Heksan, Fraksi Etil Asetat, Fraksi Air dari Biji Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Escherichia coli Baiq Mitasari; Tatiana Siska Wardani; Anita Dwi Septiarini
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.430

Abstract

Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah tanaman pepaya (Carica papaya L.). Biji pepaya dapat digunakan sebagai pengobatan tradisional. Pada biji pepaya juga terdapat senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Penyakit diare dapat disebabkan oleh berbagai bakteri, diantaranya bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol dan fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air biji buah papaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 25922 dengan menggunakan metode difusi dan dilusi denga kosentrasi 1%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25% serta kontrol positifnya adalah Ciprofloxacin dan kontrol negatifnya adalah DMSO 1%. Hasil dari pengujian ini yaitu ekstrak etanol 96%, fraksi n- heksan, etil asetat dan fraksi air dari biji buah pepaya (Carica papaya L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Escherichia coli ATCC 25922. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol biji buah pepaya merupakan fraksi paling aktif sebagai antibakteri pada konsentrasi 25% dengan diameter daya hambat 6 mm. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sulit ditentukan, karena fraksi etil asetat berwarna dan sulit menentukan hasil yang keruh dan jernih. Nilai dari Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) yang didapat adalah 25%.
Skrining Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Etanol pada Buah Matoa (Pometia pinnata) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test Dwi Dinni Aulia Bakhtra; Delin Kristia Monica; Anzharni Fajrina; Aried Eriadi
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.435

Abstract

Matoa (Pometia pinnata) merupakan salah satu tumbuhan yang dapat dianggap sebagai spesies tanaman menjanjikan sebagai sumber antioksidan alami dengan nilai potensial tinggi bagi persiapan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam ekstrak etanol buah matoa (kulit, biji dan daging) serta melakukan uji aktivitas sitotoksik dengan variasi 5 konsentrasi larutan uji yaitu 1000 μg/mL, 500 μg/mL, 250 μg/mL, 100 μg/mL dan 50 μg/mL dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil yang didapatkan dari skrining fitokimia ekstrak etanol buah matoa yaitu pada kulit buah matoa mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, tanin dan saponin. Sedangkan pada biji buah matoa mengandung alkaloid, flavonoid, fenol dan tanin serta pada daging buah matoa mengandung flavonoid, fenol, tanin dan saponin. Pengujian dilanjutkan dengan uji aktivitas sitotoksik esktrak etanol buah matoa dengan nilai LC50 pada ekstrak etanol daging buah matoa sebesar 69,81 μg/mL, diikuti dengan ekstrak etanol kulit buah matoa 83,38 μg/mL dan ekstrak etanol biji buah matoa 216,81 μg/mL yang menandakan bahwa ekstrak etanol pada daging buah matoa (Pometia pinnata) memiliki aktivitas sitotoksik yang baik. Senyawa metabolit sekunder yang diduga dapat mempengaruhi aktivitas sitotoksik ini berasal dari golongan alkaloid, flavonoid, fenol dan tannin.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Cabai Rawit Merah (Capsicum Annuum Var.Frutescens (L.) Kuntze) Menggunakan Metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP) Sestry Misfadhila; Novita Wulandari; Rina Desni Yetti; Gemmy Sarina; Muhammad Haris
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.440

Abstract

Cabai rawit merah (Capsicum annuum var.frutescens (L) Kuntze) telah banyak diteliti dan diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian tentang pengujian aktivitas antioksidan ekstrak cabai rawit merah telah dilakukan beberapa peneliti terdahulu dengan metode DPPH dan Microwave Assisted Extraction (MAE). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol cabai rawit merah dengan metode ferric reducing antioxidant power (FRAP), menggunakan asam askorbat sebagai senyawa pembanding. FRAP merupakan salah satu metode uji aktivitas antioksidan dengan mekanisme kemampuan senyawa uji untuk mereduksi ion besi (III) menjadi ion besi (II). Cabai rawit merah dimaserasi dengan etanol 70 % dan diperoleh rendemen ekstrak 65,6142 %. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan yang diperoleh dari ekstrak etanol cabai rawit merah dan asam askorbat sebagai pembanding ditunjukkan dengan nilai 1,4438 mmol Fe2+/100 g dan 7,8290 mmol Fe2+/100 g.
Penentuan Kadar Fenolat Total dan Uji Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Non Polar, Semi Polar dan Polar Buah Rotan (Calamus manan) Sandra Tri Juli Fendri; Verawati Verawati; Amilia Putri; Siska Ferilda
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.442

Abstract

Telah dilakukan penelitian pada penentuan kadar fenolat total dan uji aktivitas antioksidan dari ekstrak non polar, semi polar dan polar buah rotan (Calamus manan) secara spektrofotometri Uv-Vis. Ekstrak didapatkan dengan metode maserasi bertingkat menggunakan cairan penyari heksan, etil asetat dan metanol. Kadar fenolat total ditentukan dengan metode Folin-Ciocalteu menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 758 nm dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH pada panjang gelombang serapan maksimum 519 nm dengan asam galat sebagai pembanding. Kadar fenolat total dari ekstrak non polar, semi polar dan polar berturut-turut sebesar 0,731%; 4,827% ; 10,3163% b/b dan aktivitas antioksidan didapatkan hasil bahwa ekstrak non polar polar memiliki nilai IC50 240,479 µg/mL, pada ekstrak semi polar memiliki nilai IC50 sebesar 162,093 µg/mL dan ekstrak polar memiliki nilai IC50 sebesar 63,88 µg/mL. Ekstrak polar memiliki aktivitas antioksidan kuat sedangkan pada ekstrak nonpolar dan semi polar memiliki aktivitas antioksidan lemah.
Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bawang Putih Tunggal terhadap Staphylococcus aureus Nadia Pudiarifanti; Jon Farizal
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.450

Abstract

Resistensi antibiotika yang meningkat dapat dihambat dengan cara menggunakan antibiotik secara rasional dan mengembangkan sediaan bahan alam yang ada sebagai alternatif pengobatan. Salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan adalah bawang putih tunggal atau bahasa ilmiahnya adalah Allivum sativum Linn. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa bawang putih tunggal memiliki berbagai manfaat, salah satunya sebagai antibakterikarena kandungan allicin, namun masih sedikit literatur yang melakukan penelitian terkait bawang putih tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan fitokimia bawang putih tunggal dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian semu eksperimental dengan menggunakan ekstrak etanol bawang putih tunggal untuk melihat kandungan fitokimia dan konsentrasi ekstrak100%, 80%, 60%, 40%, 20% untuk melihat aktivitas antibakteri dengan aquadest steril sebagai kontrol negatif dan kloramfenikol sebagai kontrol positif. Penelitian dilakukan di Laboratorium Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol bawang putih tunggal memili kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin, sedangkan steroid tidak terdeteksi. Selain itu hasil uji aktivitas antibakteri terhadap S. aureus hanya terlihat pada konsentrasi ekstrak 100% dengan rata-rata diameter 9mm, sedangkan konsentrasi lainnya tidak menunjukkan aktivitas antibakteri.
Evaluasi Masalah Terkait Obat pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan Gagal Ginjal Kronik di Rawatan Inap RSUP DR. M. Djamil Padang Widya Kardela; Rezlie Bellatasie; Nurayni Nurayni; Erlina Rustam
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.451

Abstract

Penyakit metabolik akibat adanya kelainan insulin, kerja insulin atau keduanya yang dikenal dengan istilah diabetes melitus (DM) tipe 2 menyebabkan komplikasi mikrovaskular salah satunya penyakit gagal ginjal kronik. Penatalaksanaan farmakologi untuk kondisi ini berpotensi menimbulkan kejadian masalah terkait obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi masalah terkait obat pada penggunaan obat antidiabetes dan antihipertensi pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi gagal ginjal kronik di rawat inap RSUP DR. M. Djamil Padang periode Januari-Desember 2021. Jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif menggunakan metode cross sectional dan pengambilan data bersifat retrospektif. Masalah terkait obat di identifikasi berdasarkan klasifikasi Pharmaceutical Care Network Europe V.05 (PCNE). Hasil evaluasi masalah terkait obat terhadap 23 pasien terdapat dua kategori masalah terkait obat yang teridentifikasi yaitu masalah interaksi obat potensial sebanyak 35 kejadian (59%) dan masalah dosis atau frekuensi terlalu tinggi sebanyak 24 kejadian (41%). Berdasarkan hasil penilaian dan identifikasi masalah terkait obat, maka perlu adanya pencegahan dan manajemen masalah terkait obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan gagal ginjal kronik.

Page 1 of 2 | Total Record : 12