cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Higea
ISSN : -     EISSN : 25413554     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
Karakteristik Pasien Multidrug Resistant Tuberculosis yang Dirawat di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2018 – 2020 Valencia Perdana Rizal; Erlina Rustam; Fenty Anggrainy
Jurnal Farmasi Higea Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v13i2.388

Abstract

Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) adalah penyakit tuberkulosis dengan resistansi kuman TB terhadap minimal OAT lini pertama yaitu isoniazid dan rifampisin. WHO mencatat bahwa Indonesia termasuk ke dalam 20 besar negara yang memiliki kasus MDR-TB terbanyak di dunia yaitu menempati posisi ke-5 dari periode 2016 sampai 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita MDR-TB di Bangsal Paru RSUP Dr.M. Djamil Padang periode 2018 – 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data rekam medis pasien MDR-TB di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jumlah sampel penelitian ini adalah 39 pasien yang telah didiagnosis MDR-TB. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,64% pasien berada pada kelompok usia 25-34 tahun, pasien laki-laki 74,35%, bekerja 66,66%, bekas perokok 46,15%, IMT normal 51,28%, pasien dengan hasil pemeriksaan BTA sputum negatif sebanyak 20,51%, tidak ada riwayat penyakit TB dalam keluarga 69,23%, keluhan utama batuk 69,23%, kriteria suspect 1 84,61%, dan memiliki komorbid 76,92%. Kesimpulan penelitian ini adalah didapatkan karakteristik pasien MDR-TB terbanyak yaitu kelompok usia 25-34 tahun, laki-laki, bekerja, merupakan bekas perokok, IMT normal, hasil pemeriksaan BTA sputum negatif, tidak memiliki riwayat penyakit TB dalam keluarga, keluhan utama batuk, kriteria suspect 1, dan memiliki komorbid.
Isolasi dan Pengujian Aktivitas Antibakteri Minyak Essensial Daun Torbangun (Plectranthus Amboinicus (Lour.) Spreng terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Hilmarni Hilmarni; Devahimer Harsep Rosi; Ariya Eka Kusuma
Jurnal Farmasi Higea Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v13i2.361

Abstract

Plectranthus amboinicus merupakan tanaman yang telah lama digunakan sebagai obat dan makanan. Tumbuhan ini mengandung metabolit sekunder yang berhubungan dengan pemanfaatannya untuk pengobatan seperti tanin, saponin, flavonoid, glikosida steroid. Selain itu, kandungan daun dan batang Plectranthus amboinicus diantaranya adalah minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada konsentrasi minyak essensial daun Torbangun yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri ditentukan dengan metode uji difusi agar. Konsentrasi minyak essensial Daun Plectranthus  amboinicus  yang digunakan adalah 1%,2%, 4%,6% dan 8%. Hasil penelitian menunjukan minyak essensial Torbangun dengan konsentrasi  6 dan 8 % menunjukan aktifitas sebagai antibakteri yang sangat kuat dengan diameter hambat 20,23 dan 22,83 mm. Hasil ini menguatkan penggunaan Plectranthus  amboinicus dapat digunakan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Propolis Terhadap Streptococcus Mutans Isna Wardaniati; Vini Gusmawarni
Jurnal Farmasi Higea Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v13i2.372

Abstract

Lebah Trigona merupakan lebah asli asia yang tidak memiliki sengat dan menghasilkan propolis. Propolis digunakan untuk menutup sel-sel ruang heksagonal pada sarang lebah, komponen utama dari propolis adalah resin (flavonoid, asam fenolat, dan ester) atau getah tanaman yang dikumpulkan oleh lebah. Propolis bermanfaat sebagai antioksidan, antimikroba, anti-inflamasi, anti-pendarahan, anti-tumor, antihistamin, antijamur, menguatkan pembuluh darah, dan antivirus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ektrak etanol propolis lebah Trigona itama terhadap Strptococcus mutans, dengan metode difusi cakram pada media MHA dengan kloramfenikol sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Ekstrak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang didapat di encerkan menjadi 80%, 60% dan 40% menggunakan DMSO dengan pengenceran bertingkat. Hasil penelitian menunjukan terhadap zona hambat ektrak etanol propolis lebah Trigona itama terhadap Streptococcus mutans dengan konsentrasi 80%, 60%, dan 40% dengan rata-rata 11 mm, 9,3 mm dan 8 mm dan pada kloramfenikol sebesar 26,6 mm. 
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Rambut Jagung (Zea mays L.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis Anzharni Fajrina; Dwi Dinni Aulia Bakhtra; Aried Eriadi; Wahyu Chania Putri; Sinta Wahyuni
Jurnal Farmasi Higea Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v13i2.391

Abstract

Rambut jagung memiliki kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol rambut jagung terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Ekstraksi rambut jagung dilakukan dengan metode maserasi. Ekstrak etanol rambut jagung diuji aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis menggunakan metode difusi kertas cakram. Ciprofloxacin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak etanol rambut jagung mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, glikosida, saponin dan tanin. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol rambut jagung dengan konsentrasi uji sebesar 30%, 20% dan 10% diperoleh rata-rata diameter hambat terhadap Streptococcus mutans 9,68 mm, 9,63 mm dan 9,31 mm dengan kekuatan daya hambat sedang dan rata-rata diameter hambat terhadap Porphyromonas gingivalis 10,21 mm, 10,54 mm dan 10,21 mm dengan kekuatan daya hambat kuat.
Aktivitas Antibakteri Spray Gel Hand Sanitizer Ekstrak Etil Asetat Daun Kunyit (Curcuma domestica Val) terhadap Staphylococcus aureus Yahdian Rasyadi; Muthia Miranda Zaunit; Riska Safitri
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.431

Abstract

Infeksi sebagian besar terjadi akibat kemalasan dalam menjaga kebersihan tangan. Saat ini kegiatan membersihkan tangan lebih praktis menggunakan hand sanitizer. Formulasi dan karakterisasi spray gel hand sanitizer ekstrak etil asetat daun kunyit (Curcuma domestica Val) dengan basis HPMC dengan konsentrasi ekstrak etil asetat daun kunyit masing-masingnya 6% (F1), 12% (F2), dan 18% (F3). Semua formula dapat diformulasi menjadi spray gel hand sanitizer dengan hasil karakterisasi yang memenuhi persyaratan. Tujuan penelitian melihat bagaimana aktivitas antibakteri dari masing-masing formula spray gel hand sanitizer ekstrak etil asetat daun dunyit (Curcuma domestica Val) F1,F2, dan F3 terhadap Staphylococcus aureus. Uji aktivitas antibakteri dari F1, F2, F3 dan P (sediaan pembanding) terhadap Staphylococcus aureus dilakukan menggunakan metode sumuran dengan melihat berapa diameter hambat dari masing-masing formula. Dari hasil uji aktivitas antibakteri didapatkan diameter hambat F1= 7,36±2,517 mm; F2= 9,26 ±2,082 mm; F3= 12,53 ±1,528 mm dan P= 9,4 ±1,0 mm. Dapat diambil kesimpulan bahwa sediaan spray gel ekstrak etil asetat daun kunyit (Curcuma domestica Val) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan kategori lemah dan F3 (spray gel mengandung ekstrak etil asetat 18%) memberikan daya hambat antibakteri yang paling besar dibandingkan formula yang lainnya (p<0,05).
Prevalensi Penyimpanan Antibiotik Di Rumah Tangga Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu Zamharira Muslim; Riska Anggia Juita; Avrilya Iqoranny Susilo
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.432

Abstract

Penyimpanan obat-obatan yang umumnya dilakukan di rumah tangga memiliki tujuan tersendiri baik itu sedang digunakan ataupun untuk penggunaan di masa mendatang. Antibiotik yang masih banyak disimpan untuk digunakan sebagai swamedikasi dalam rumah tangga. Penyimpanan antibiotik dapat memicu penggunaan obat yang tidak rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tren penyimpanan antibiotik di masyarakat kecamatan Teluk Segara kota Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian survey deskriptif, sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan metode wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40 orang ibu rumah tangga menyimpan obat antibiotik. Antibiotik yang disimpan mayoritas jenis Amoxicillin (67,39%), sebagian besar memperoleh antibiotik tidak menggunakan resep dokter (57,50%) dan alasan masyarakat menyimpan antibiotik untuk antisipasi bila terjadi sakit dimasa mendatang (48,10%). Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penyimpanan antibiotik di masyarakat Bengkulu masih sangat tinggi.
Karakterisasi Sifat Fisikokimia Dispersi Padat Celecoxib–PEG 4000 dengan Perbandingan Tiga Formula menggunakan Metode Co-grinding Muthia Fadhila; Indra Makmur; Sintia Ade Viona; Yeni Novita Sari; Sinta Wahyuni
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.433

Abstract

Celecoxib merupakan obat antiinflamasi yang termasuk golongan Biopharmaceutical Classification System kelas II, untuk meningkatkan kelarutannya dibuat menjadi sistem dispersi padat dengan polimer PEG 4000 sehingga bisa meningkatkan kelarutan dari celecoxib. Dispersi padat dibuat dengan metode Co-Grinding dalam beberapa perbandingan antara celecoxib dan polietilen glikol 4000 yaitu 6:4, 7:3, dan 8:2 serta campuran fisik 5:5. Serbuk celecoxib murni, campuran fisik, dan dispersi padat dikarakterisasi sifat fisikokimia meliputi analisis SEM, analisis FT-IR, analisis XRD, analisis DSC, dan uji disolusi. Pada uji disolusi diperoleh % terdisolusi pada menit ke-60 celecoxib murni 55,57% ± 0,690, campuran fisik 61,20% ± 1,464, formula 1 68,38% ± 0,744, formula 2 64,24% ± 0,181, dan formula 3 61,07% ± 1,463 tingginya disolusi pada formula dapat membuktikan bahwa kelarutannya meningkat lebih baik dibandingkan celecoxib murni.
Perbedaan Ekstraksi Daun Teratai (Nymphaea Pubescens Willd) Sebagai Fungsi Aktivitas Antioksidan Boy Chandra; Ridho Asra; Nadya Arta Mevia
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.434

Abstract

Teratai (Nymphaea pubescens Willd.) adalah salah satu tumbuhan yang mengandung banyak senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Daun teratai mengandung senyawa flavonoid, tanin, fenol dan asam galat yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kandungan senyawa kimia dan aktivitas antioksidan yang terdapat pada daun teratai (Nymphaea pubescens Willd.) berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Metode yang digunakan yaitu metode maserasi dengan pelarut etanol 70% dan rebusan dengan aquadest. Dari hasil ekstraksi yang diperoleh, dilakukan skrining fitokimia dan aktivitas antioksidan dengan metode 1,1-difenil-2- pikrilhidrazil (DPPH). Pada metode maserasi menggunakan etanol terdapat kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan fenol, sedangkan dari metode rebusan dengan air didapatkan kandungan kimia seperti flavonoid, tanin dan fenol. Pada pengujian aktivitas antioksidan, didapatkan nilai IC50 56,4088 μg/mL (kuat) dan 375,4779 μg/mL (lemah) untuk masing-masing ekstrak etanol dan ekstrak air. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol mengandung lebih banyak senyawa kimia dan memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak, Fraksi N-Heksan, Fraksi Etil Asetat, Fraksi Air dari Biji Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Escherichia coli Baiq Mitasari; Tatiana Siska Wardani; Anita Dwi Septiarini
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.430

Abstract

Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah tanaman pepaya (Carica papaya L.). Biji pepaya dapat digunakan sebagai pengobatan tradisional. Pada biji pepaya juga terdapat senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare. Penyakit diare dapat disebabkan oleh berbagai bakteri, diantaranya bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol dan fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air biji buah papaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 25922 dengan menggunakan metode difusi dan dilusi denga kosentrasi 1%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25% serta kontrol positifnya adalah Ciprofloxacin dan kontrol negatifnya adalah DMSO 1%. Hasil dari pengujian ini yaitu ekstrak etanol 96%, fraksi n- heksan, etil asetat dan fraksi air dari biji buah pepaya (Carica papaya L.) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Escherichia coli ATCC 25922. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol biji buah pepaya merupakan fraksi paling aktif sebagai antibakteri pada konsentrasi 25% dengan diameter daya hambat 6 mm. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sulit ditentukan, karena fraksi etil asetat berwarna dan sulit menentukan hasil yang keruh dan jernih. Nilai dari Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) yang didapat adalah 25%.
Skrining Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Etanol pada Buah Matoa (Pometia pinnata) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test Dwi Dinni Aulia Bakhtra; Delin Kristia Monica; Anzharni Fajrina; Aried Eriadi
Jurnal Farmasi Higea Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v14i1.435

Abstract

Matoa (Pometia pinnata) merupakan salah satu tumbuhan yang dapat dianggap sebagai spesies tanaman menjanjikan sebagai sumber antioksidan alami dengan nilai potensial tinggi bagi persiapan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam ekstrak etanol buah matoa (kulit, biji dan daging) serta melakukan uji aktivitas sitotoksik dengan variasi 5 konsentrasi larutan uji yaitu 1000 μg/mL, 500 μg/mL, 250 μg/mL, 100 μg/mL dan 50 μg/mL dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil yang didapatkan dari skrining fitokimia ekstrak etanol buah matoa yaitu pada kulit buah matoa mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, tanin dan saponin. Sedangkan pada biji buah matoa mengandung alkaloid, flavonoid, fenol dan tanin serta pada daging buah matoa mengandung flavonoid, fenol, tanin dan saponin. Pengujian dilanjutkan dengan uji aktivitas sitotoksik esktrak etanol buah matoa dengan nilai LC50 pada ekstrak etanol daging buah matoa sebesar 69,81 μg/mL, diikuti dengan ekstrak etanol kulit buah matoa 83,38 μg/mL dan ekstrak etanol biji buah matoa 216,81 μg/mL yang menandakan bahwa ekstrak etanol pada daging buah matoa (Pometia pinnata) memiliki aktivitas sitotoksik yang baik. Senyawa metabolit sekunder yang diduga dapat mempengaruhi aktivitas sitotoksik ini berasal dari golongan alkaloid, flavonoid, fenol dan tannin.