cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaconmw@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi, STIKES Mandala Waluya Kendari Jalan A.H Nasution No. G-37, Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
ISSN : 24426032     EISSN : 25989979     DOI : 10.35311
Core Subject : Health,
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia merupakan jurnal (Open Journal System) untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia telah memiliki ISSN cetak : 2442 - 6032 dan ISSN online : 2598-9979 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia terbit 2 kali setahun (Bulan Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 378 Documents
Perbandingan Efektivitas Perolehan Senyawa Bioaktif Flavonoid Melalui Pengaruh Metode Ekstraksi Pada Bunga Kasumba Turate Dan Daun Salam Rezki Amriati Syarif; Selpida Handayani; Aminah Aminah; Cahaya Putri Aidillah; A. Nur Wahdania
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1098

Abstract

Skrining dan Karakterisasi Komponen Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) Naringenin Menggunakan Desain Faktorial Terfraksi (DFT) Puteri Muzdalifa Hamid; Ilham Kuncahyo; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1102

Abstract

Naringenin merupakan salah satu senyawa yang termasuk golongan BCS kelas II yang mempunyai kelarutan yang rendah. Self-nanoemulsifying drug delivery systems (SNEDDS) dianggap sebagai pendekatan yang potensial untuk meningkatkan kelarutan naringenin karena stabil dan proses pembuatan yang relatif sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk memilih dan menentukan rasio komponen minyak, surfaktan dan ko-surfaktan dalam SNEDDS naringenin menggunakan desain faktorial terfraksi (DFT). Variabel yang digunakan dalam DFT pengembangan SNEDDS naringenin adalah tipe dan konsentrasi minyak (miglyol & capmul MCM), surfaktan (tween 80 & cremophor RH 40), dan ko-surfaktan (PEG 400 dan transcutol). Hasil DFT menunjukkan 16 run dengan perbedaan proporsi komponen SNEDDS naringenin yang selanjutnya akan dikarakterisasi parameter kritis meliputi waktu emulsifikasi, ukuran droplet, indeks polidispersitas (PDI), zeta potensial, persen transmitan dan drug loading. Penentuan komponen dan rasio komponen SNEDDS naringenin ditentukan dengan analisa single factor plot menggunakan program design expert 13.  Hasil penelitian menunjukkan capmul MCM, cremophor RH 40, transcutol terpilih sebagai komponen minyak, surfaktan dan ko-surfaktan yang memberikan kontribusi paling optimal dalam pembentukan SNEDDS naringenin. Kombinasi komponen tersebut menghasilkan rasio optimum, yaitu minyak sebesar 16,67-24,83%, surfaktan sebesar 53,11-66,67% dan ko-surfaktan sebesar 16,67-22,06%, yang mampu menghasilkan sistem SNEDDS dengan karakteristik fisik yang memenuhi kriteria nanoemulsi.
Optimasi Komponen SNEDDS Kurkumin dengan Metode D-Optimal dan Aktivitas Terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175 Aljufri Mahmud; Ilham Kuncahyo; Opstaria Saptarini
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1103

Abstract

Kurkumin merupakan senyawa aktif utama dari Curcuma longa yang termasuk dalam golongan Biopharmaceutics Classification System (BCS) kelas II dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans, bakteri utama penyebab karies gigi. Namun, pemanfaatan kurkumin masih terbatas karena memiliki kelarutan dalam air dan bioavailabilitas yang rendah. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, kurkumin diformulasikan dalam sistem penghantaran obat berbasis nanoemulsi menggunakan Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula optimum SNEDDS kurkumin, mengevaluasi karakteristik fisikokimianya, serta menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Streptococcus mutans. Formula SNEDDS disusun menggunakan kombinasi asam oleat sebagai fase minyak, Tween 80 sebagai surfaktan, dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode D-optimal mixture design. Formula yang diperoleh kemudian dikarakterisasi berdasarkan ukuran partikel, waktu emulsifikasi, drug loading, dan aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar terhadap Streptococcus mutans ATCC 25175. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum SNEDDS kurkumin memiliki ukuran partikel sebesar 138,3 nm, waktu emulsifikasi 11,07 detik, nilai drug loading sebesar 16,33 mg/mL  dan aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat sebesar 13,00 mm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa formulasi SNEDDS mampu menghasilkan karakteristik nanoemulsi yang baik serta mempertahankan aktivitas antibakteri kurkumin terhadap Streptococcus mutans.
Uji Aktivitas Anti Jerawat Krim Kratom (Mitragyna speciosa) pada Tikus Wistar yang Diinduksi Propionibacterium acnes Ariffialdi Nurhidyattulloh; Fath Dwisari; Adelia Chintya Ningrum; Khoirul Rista Abidin; Abdurraafi’ Maududi Dermawan; Nur Arsella; M. Dzaki Al Ghifari; M. Fikri Amrulloh; M. Erik Fernando; Sulisti Okta Romadhon
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1104

Abstract

Jerawat (acne vulgaris) merupakan gangguan kulit inflamasi kronis yang berhubungan dengan inflamasi akibat Propionibacterium acnes (P. acnes). Meningkatnya kekhawatiran terhadap resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif terapi topikal berbasis bahan alam. Mitragyna speciosa (M. speciosa), yang dikenal sebagai kratom, mengandung metabolit sekunder bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, senyawa fenolik, dan saponin yang dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi anti jerawat dari krim topikal yang diformulasikan menggunakan ekstrak metanol M. speciosa. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi, dilanjutkan dengan skrining fitokimia dan formulasi krim dengan konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 15%. Aktivitas antibakteri terhadap P. acnes diuji menggunakan metode difusi cakram. Uji in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina yang diinduksi P. acnes, dibagi ke dalam lima kelompok (n = 6 per kelompok), yaitu kontrol tanpa terapi (Acnes), asam azelaic (Aaz), serta tiga kelompok perlakuan krim ekstrak (MG 5, MG 10, MG 15). Tingkat keparahan jerawat dinilai melalui skor klinis dan pemeriksaan histopatologi jaringan telinga. Skrining fitokimia mengonfirmasi keberadaan alkaloid, flavonoid, fenol, dan saponin. Krim ekstrak konsentrasi 10% dan 15% menghasilkan zona hambat masing-masing sebesar 7,97 ± 0,40 mm dan 8,27 ± 0,91 mm, lebih rendah dibandingkan krim asam azelaic 20% (15,80 ± 0,00 mm). Analisis nonparametrik menggunakan uji Kruskal–Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok pada hari ke-3 dan ke-5 (p > 0,05). Meskipun demikian, kelompok perlakuan ekstrak menunjukkan kecenderungan penurunan skor jerawat secara deskriptif, yang didukung oleh perbaikan gambaran histopatologis jaringan telinga. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi aktivitas biologis krim ekstrak metanol M. speciosa sebagai kandidat terapi topikal jerawat, namun efektivitasnya masih memerlukan konfirmasi melalui optimasi formulasi dan penelitian lanjutan dengan kekuatan statistik yang lebih memadai.
The Evaluation of Antihypertensive Drug Use in Chronic Kidney Disease Patients at Prof. Dr. W. Z. Johannes Hospital Kupang Maria Yangsye Lenggu; Fatmawati Blegur; Priska Ernestina Tenda; Edityva Monicha; Falentinus Duly
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1109

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel dinilai dari Glomerular Filtration Rate <60 mL/menit/1,73m2 selama >3 bulan. Hipertensi menjadi penyebab penurunan fungsi ginjal dan sebaliknya penurunan fungsi ginjal yang progresif dapat memperburuk hipertensi. Pengendalian hipertensi dengan antihipertensi memperlambat progresivitas PGK dan menurunkan tingkat komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antihipertensi pada pasien PGK di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang tahun 2024. Jenis penelitian observasional melalui pendekatan cross sectional (retrospektif) menggunakan data rekam medis pasien. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling, yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 98 pasien. Data yang diperoleh dideskripsikan karakteristik pasien dan pola penggunaan antihipertensi serta dievaluasi penggunaan obat berdasarkan kriteria tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis mengacu pada panduan PNPK, KDIGO dan JNC 8. Hasil penelitian menunjukkan pasien PGK mayoritas laki-laki (53,06%), usia <60 tahun (57,14%), dengan PGK stadium 5 (86,74%). Terapi hipertensi didominasi oleh terapi kombinasi (76,53%), dengan kombinasi 2 obat paling banyak digunakan yaitu golongan Calcium Channel Blockers (CCB) dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) (32,65%), serta kombinasi amlodipin dan candesartan sebagai jenis obat terbanyak (25,51%). Evaluasi rasionalitas menunjukkan tepat indikasi (100%), tepat pasien (100%), tepat dosis (100%), dan tepat obat (97,96%), di mana ketidaktepatan obat (2,04%) ditemukan pada pemilihan jenis antihipertensi. Secara keseluruhan, rasionalitas penggunaan obat berdasarkan empat kriteria tersebut mencapai 97,96%. Pola peresepan antihipertensi di Rumah Sakit telah sesuai dengan panduan klinis, sehingga perlu dipertahankan melalui Pemantauan Terapi Obat (PTO) secara berkala untuk mencegah risiko komplikasi kardiovaskular pada pasien PGK.
Hubungan Kepatuhan Pengobatan Kombinasi Amlodipine Dan Candesartan Terhadap Efek Terapi Pasien Hipertensi Di Puskesmas Kapuan, Blora Satriyo Tantyo Danu Saputro; Titi Agni Hutahaen; Abdul Basith; Budy Cahayany Halimatun Ni’mah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1123

Abstract

Di Indonesia maupun di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius. Seringkali hipertensi tidak terdeteksi atau tidak diobati dengan baik, sehingga meningkatkan risiko konsekuensi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Pasien dengan hipertensi yang memerlukan terapi jangka panjang dan modifikasi gaya hidup terkadang kesulitan dalam mematuhi pengobatan hipertensi. Amlodipin seringkali dikombinasi dengan candesartan karena dapat meningkatkan kepatuhan dan kontrol hipertensi yang adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara kepatuhan pengobatan pasien yang menerima kombinasi amlodipine dan candesartan dengan efek terapeutik. Penelitian ini merupakan cross-sectional survey di Puskesmas Kapuan Blora pada bulan Desember 2025 menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) digunakan untuk mengevaluasi kepatuhan pengobatan, dan pedoman manajemen hipertensi kementrian kesehatan RI 2021 digunakan untuk mengevaluasi efek terapeutik pasien. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 31 pasien. Temuan menunjukkan bahwa pasien 61,3% patuh dan tekanan darah terkontrol; 38,7% tidak patuh dan tekanan darah tidak terkontrol. Faktor dominan yang berkontribusi terhadap ketidakpatuhan pengobatan pada penelitian kali ini yaitu lupa mengonsumsi obat, penghentian terapi tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan timbulnya ketidaknyamanan atau penolakan untuk minum obat setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pengobatan dan efek terapeutik pasien yang menerima amlodipine dan candesartan, dengan nilai Fisher’s Exact test sig (2 Sided) <0,001.
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik “Cefadroxil” pada Pasien Dewasa di Puskesmas Tambakrejo Bojonegoro Tri Wahyuni Puji Lestari; Titi Agni Hutahaen; Abdul Basith; Novita Dyah Andriyana
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1127

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antimikroba, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Cefadroxil merupakan salah satu antibiotik yang sering diresepkan di puskesmas untuk menangani infeksi bakteri ringan hingga sedang sehingga evaluasi rasionalitas penggunaannya perlu dilakukan secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat rasionalitas penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro berdasarkan prinsip 5 Tepat meliputi tepat pasien (tidak terdapat kontraindikasi), tepat indikasi (sesuai diagnosis menurut Formularium Nasional dan Pedoman Terapi Nasional), tepat obat (pemilihan antibiotik lini yang direkomendasikan), tepat dosis (dosis dan frekuensi sesuai standar), dan tepat waktu pemberian (durasi terapi sesuai pedoman). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis periode Juni–September 2025. Dari total 119 pasien pengguna antibiotik diperoleh sampel sebanyak 55 pasien menggunakan rumus Slovin. Penilaian rasionalitas dilakukan dengan membandingkan diagnosis, pemilihan obat, dosis, frekuensi, dan lama pemberian terhadap standar terapi nasional. Hasil analisis menunjukkan ketepatan pasien sebesar 100%, ketepatan indikasi 83,6%, ketepatan obat 85,5%, ketepatan dosis 90,9%, dan ketepatan waktu pemberian 87,3%. Secara umum, penggunaan cefadroxil di Puskesmas Tambakrejo telah memenuhi sebagian besar kriteria penggunaan obat rasional. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan periode Juni–September 2025 tergolong rasional, namun masih diperlukan peningkatan pada aspek ketepatan indikasi dan pemilihan obat untuk mendukung penggunaan antibiotik yang lebih optimal serta mencegah resistensi antimikroba.
Analisis Geospasial Pelayanan Pendekar Obat Berdasarkan Karakteristik Pasien Geriatri Di RSUD Dr. Gondo Suwarno Kabupaten Semarang Panji Tirta Manungku Puja Santosa; Avianti Eka Dewi Aditya Purwaningsih; Amalia Nurul Ulum
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1157

Abstract

Akses fisik menjadi hambatan utama untuk kesuksesan terapi pada pasien geriatri yang memiliki penyakit penyerta. Program pengantaran obat adalah bagian home pharmacy care di salah satu RSUD Kabupaten Semarang yang mendistribusikan obat hingga ke rumah pasien dan menjadi solusi atas hambatan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian kriteria penerima program "Pendekar Obat" berdasarkan kriteria klinis dan administratif, juga menganalisis pola persebaran spasial pengguna aktual layanan. Data penelitian pengantaran obat didapatkan secara observasional menggunakan desain cross-sectional retrospektif pada periode Mei–Oktober 2025. Sampel pada penelitian ini sebanyak 383 pasien yang dipilih dengan cara systematic random sampling dari total populasi 9.000 pengguna layanan. Data penelitian diolah dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif serta divisualisasikan secara spasial menggunakan Google My Maps. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia pengguna layanan adalah 62,35 tahun, yang merupakan rentang sesuai dengan kriteria populasi lansia. Berdasarkan analisis kepatuhan terhadap standar operasional, nilai tertinggi dicapai oleh semua indikator yaitu: kriteria jenis obat (98,17%), kriteria pasien (geriatri dengan komorbid, 66,60%), dan jarak domisili <3 km (79,40%). Pola persebaran heterogen pada analisis geospasial terpusat pada Kelurahan Lerep (2,41 km) dan Gedanganak (1,83 km). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa program ini sudah efektif menjangkau target populasi pada wilayah topografi sulit, tetapi program ini dijadikan pemanfaatan kenyamanan penunjang oleh pengguna program yang berdomisili di dekat rumah sakit.
Formulasi Emulgel Minyak Atsiri Biji Pala (Myristica fragrans) dengan Variasi HPMC pada Luka Bakar Derajat II Ariana Ariana; Siti Aisiyah; Fitri Kurniasari
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1160

Abstract

Minyak atsiri biji pala (Myristica fragrans) memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka bakar. Minyak atsiri bersifat lipofilik sehingga diformulasikan dalam bentuk emulgel yang dapat menghantarkan zat aktif yang sukar larut dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi HPMC terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas sediaan emulgel terhadap penyembuhan luka bakar derajat IIa, serta menentukan formula terbaik. Penelitian diawali dengan identifikasi minyak atsiri biji pala meliputi pemeriksaan organoleptik, berat jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol, dan analisis GC-MS, serta pembuatan sediaan emulgel minyak atsiri biji pala 3% dengan variasi konsentrasi HPMC sebesar 4%, 5%, dan 6%. Evaluasi mutu fisik sediaan emulgel meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, diameter globul, dan stabilitas. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dan dilanjutkan uji post hoc Tukey. Aktivitas penyembuhan luka bakar diuji pada tiga ekor kelinci yang diberikan luka bakar derajat IIa dengan formula berbeda selama 12 hari. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan dilanjutkan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi HPMC berpengaruh terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas penyembuhan luka bakar sediaan emulgel minyak atsiri biji pala. HPMC 5% menghasilkan sediaan homogen, pH 7,13 ± 0,03, viskositas 13.066 ± 488,8 cPs, daya sebar 6,47 ± 0,23 cm, daya lekat 2,96 ± 0,07 detik, diameter globul < 2 µm, serta stabil selama pengujian. Persentase penyembuhan luka pada hari ke-12 untuk F1, F2, dan F3 masing-masing sebesar 100%, sedangkan kontrol negatif sebesar 77,08%. Formula dengan HPMC 6% menunjukkan kecepatan penyembuhan luka yang lebih tinggi pada beberapa hari pengamatan, namun formula HPMC 5% memberikan keseimbangan mutu fisik, stabilitas, dan efektivitas penyembuhan luka bakar derajat IIa yang paling baik.
Formulasi dan Evaluasi Fisik Sediaan Emulgel Ekstrak Etanol Daun Kitolod (Isotoma longiflora (L.) C.Presl) dengan Variasi Konsentrasi Carbopol-940 sebagai Gelling Agent Syarifah Nur Oktarina Putri; Tri Budi Julianti
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1174

Abstract

Tanaman kitolod mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Emulgel salah satu jenis produk semipadat yang merupakan kombinasi sistem emulsi dan gel, sehingga memiliki keuntungan dalam kenyamanan penggunaan dan daya sebar pada sediaan topikal. Ekstrak daun kitolod diformulasikan dalam sediaan topikal berpotensi mengatasi permasalahan kulit dalam menangkal radikal bebas. Daun kitolod berpotensi sebagai antioksidan karena mengandung senyawa flavonoid. Salah satu bahan pembentuk emulgel yaitu carbopol-940 sebagai Gelling agent yang bermanfaat untuk membentuk viskositas dan memperbaiki sifat fisik serta reologi sediaan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasi carbopol-940 sebagai Gelling agent pada karakteristik fisik dan stabilitas fisik terhadap sediaan emulgel. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Emulgel dibuat dengan variasi konsentrasi carbopol-940 sebesar 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%, dengan masing-masing formula dilakukan pengujian 3x replikasi. Emulgel dilakukan evaluasi fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya lekat, daya sebar, pH, viskositas, sineresis, tipe emulsi, stabilitas fisik, serta uji hedonik. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, dilanjutkan dengan One Way Anova untuk data berdistribusi normal (p > 0,05) atau uji Kruskal-Wallis untuk data tidak normal. Uji hedonik dengan hasil signifikan (p < 0,05) dilanjutkan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil menunjukkan variasi konsentrasi carbopol-940 sebagai Gelling agent mempengaruhi karakteristik fisik dan stabilitas fisik terhadap sediaan emulgel. Formula 1 dengan konsentrasi carbopol-940 1% menunjukkan hasil terbaik berdasarkan parameter viskositas, daya sebar, daya lekat, pH, stabilitas fisik selama penyimpanan, serta tingkat kesukaan panelis pada uji hedonik terutama pada parameter tekstur.