cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Kepemimpinan Kiai Di Pesantren Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Saugi, Wildan; Suratman, Suratman; Fauziah, Kurniati
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.671

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui kepemimpinan kiai dalam meningkatkan mutu pendidikan di pesantren. Sebuah hasil penelitian kualitatif deskriptif yang berlokasi di pesantren Al-Kholil Berau. Sumber data primer adalah kiai, wakil pimpinan pesantren, ustaz, dan santri, sedangkan sumber data sekunder adalah dokumen-dokumen pendukung yang diperlukan dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model Miles Huberman dan Saldana yang meliputi empat tahap yakni pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kiai Suhari Mustaji merupakan gaya kepemimpinan demokratis-spiritual (karismatik). Hal itu ditandai dengan perannya dalam pengelolaan pendidikan di pesantren Al-Kholil sebagai pengasuh, motivator, pendidik, manajer, pengambil keputusan, pemimpin, dan teladan. Adapun upaya kiai dalam peningkatan mutu pendidikan adalah dengan merumuskan visi, misi, tujuan pesantren, merancang program peningkatan mutu pendidikan, mendatangkan guru dari lulusan pesantren Jawa, melakukan studi banding terkait dengan manajemen dan perbaikan mutu pendidikan pesantren, dan menjadikan kemajuan teknologi untuk mengembangkan pesantren. Faktor pendukung peningkatan mutu pendidikan pesantren terletak pada semangat kiai, para ustaz, dan dewan pengurus yang fokus pada pembentukan karakter santri berlandaskan pada akal, hati, dan jasmani. Sedangkan faktor penghambatnya adalah terletak pada himmah (semangat) santri yang masih lemah dalam menuntut ilmu agama. Kepemimpinan kiai di pesantren Al-Kholil Berau mampu mengintegrasikan antara pendidikan klasik dan modern (unlinier) dengan tetap mempertahankan keaslian tradisi pesantren di samping perkembangan teknologi saat ini.
Potret Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa Rijal, Muhammad Khairul; Nasir, Muhammad; Rahman, Fathur
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.672

Abstract

Diskursus tentang radikalisme agama di kalangan generasi muda Indonesia disinyalir semakin meningkat di era digital saat ini. Dalam konteks keagamaan, radikalisme agama dapat dimaknai sebagai fanatik terhadap suatu pendapat sehingga menolak pendapat orang lain, menutup pintu dialog dan mudah mengkafirkan kelompok yang berbeda paham dengan diri atau kelompoknya, serta pemahaman agama yang tekstual tanpa melihat dan mempertimbangkan esensi syariat (maqasid al-syari’ah). Radikalisme agama berawal dari cara pandang, sikap, dan prilaku beragama yang eksklusif. Oleh karena itu konsep moderat atau ‘wasatiyyah’ sudah seharusnya menjadi landasan dalam kebijakan untuk melawan narasi radikal beragama. Moderasi beragama akan mampu menjadi perekat antara semangat beragama dan komitmen kebangsaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potret pemahaman moderasi beragama aktivis mahasiswa Kalimantan Timur sebagai respons atas meningkatnya pola pikir radikal dalam beragama di kalangan mahasiswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif. Data diolah dengan metode clustering dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik dan naratif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa di kalangan aktivis mahasiswa yang aktif berorganisasi, 57% menyatakan paham terkait moderasi beragama dan terdapat 43% yang belum paham memahaminya. Selain itu, masih ditemukan pola pikir yang mengarah kepada pola pikir eksklusif dan dapat menumbuhkan sikap ekstrem dan radikal dalam beragama, terutama dalam aspek wawasan keberagamaan yang meliputi penerimaan terhadap budaya, dan mudah menyesatkan amalan keagamaan yang berbeda dari amalan kelompoknya. Pemerintah dalam hal ini para stakeholder yang berkepentingan diharapkan mampu memfasilitasi penguatan moderasi beragama di kalangan mahasiswa sebagai bagian dari untuk mencegah lahirnya pola pikir, sikap, dan perilaku yang mengarah kepada radikalisme agama.
Narasi Toleransi Beragama Pada Akun Youtube “Jeda Nulis” Haq, Zihni Ainul
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.673

Abstract

Tulisan ini mengungkapkan makna narasi toleransi beragama pada akun Youtube “Jeda Nulis” dalam vlog “Indonesia Rumah Bersama: Bhinneka Tunggal Ika” oleh Habib Husein Ja’far Al-Hadar. Media sosial saat ini terus mengalami kemajuan dalam mentransformasikan pesan-pesan positif mengenai toleransi beragama sebagai hal yang sangat penting dipraktikkan oleh masyarakat. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Data-data penelitian dikumpulkan dari Youtube milik Habib Ja’far dalam bentuk dokumentasi video. Analisis data menggunakan semiotika dengan menerapkan teori Roland Barthes. Bentuk analisis data yaitu menentukan dan menafsirkan pesan toleransi beragama yang saat ini sering kita temui di media sosial. Makna semiotika dari teori Roland Barthes terdiri dari tiga makna yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Tiga makna tersebut diyakini mampu mengungkap simbol dan pesan yang sebenarnya terkandung dibalik ceramah atau nasihat pesan toleransi beragama pada akun youtube “Jeda Nulis” dengan judul video “Indonesia Rumah Bersama: Bhinneka Tunggal Ika”. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna toleransi, adalah: pertama, berisi pesan pentingnya rasa saling menghormati perbedaan satu sama lain; kedua, menjaga persaudaraan antar umat beragama dan memelihara persatuan bangsa Indonesia serta berlomba-lomba berbuat kebaikan; dan ketiga, agama Islam diturunkan untuk seluruh makhluk di muka bumi ini atau rahmatan lil alamin. Ketiga narasi toleransi beragama tersebut berimplikasi terhadap lahirnya tatanan sosial dalam konteks masyarakat bhinneka dan penguatan kehidupan kebangsaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tradisi “Puasa Suci Tiga Hari” dalam Praktik Masyarakat Lokal Ridha, Ahmad; Abbas, Abbas; Iswandi, Iswandi
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.674

Abstract

Penelitian mengenai keberadan tradisi puasa yang dipraktikan oleh masyarakat lokal di Indonesia masih kurang mendapatkan perhatian dari peneliti. Artikel ini mengangkat tradisi “puasa suci tiga hari” (PSTH) dalam bulan suci Ramadhan yang diperaktikan oleh sekelompok masyarakat dari Suku Muna di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengesplorasi tradisi PSTH pada bulan Ramadhan yang telah lama dipraktikkan oleh sekelompok masyarakat tertentu dengan melihat keterkaitan integrasi tradisi lokal dan ajaran Islam. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif dengan sumber data yang melibatkan lima informan yang diwawancarai secara mendalam. Analisis data dilakukan dengan pengklasifikasian data dengan penyajian data bersifat deksriptif. Hasil penelitian ini menujukkan puasa yang berlangsung merupakan tradisi masyarakat lokal yang diberlakukan sebagai ibadah yang setara dengan puasa ramadhan, hal itu ditandai dengan penggunaan bacaan niat yang sama dengan niat puasa ramadhan. Pada praktiknya PSTH menujukkan totalitas diri, karena selama berlangsung pelaksanaannya, mereka sebagai pelaku tidak boleh melakukan interaksi sosial, harus berada pada tempat tertutup, dan tidak dibolehkan terkena sinar matahari serta disyaratkan untuk tidak membatalkan wudu. Kedudukan PSTH bagi masyarakat pelakunya merupakan suatu hal yang dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam. Perkawinan PTSH dengan puasa . Ramadhan terjadi akibat suatu konteks historinya, di mana puasa Ramadhan dilangsung dengan hanya “puasa tiga tiga hari” karena adanya faktor pekerjaan pelaku yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian dan nelayan, sehingga praktik PTSH dapat berjalan tanpa mengganggu mata pencahariannya, dan sekaligus dinilai sebagai puasa Ramadhan yang bernilai satu bulan.
Representasi Moderasi Beragama dalam Dakwah Habib Husein Ja’far Al-Hadar pada Konten Podcast Noice “Berbeda Tapi Bersama” Utomo, Deni Puji; Adiwijaya, Rachmat
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.675

Abstract

Moderasi Moderasi beragama merupakan falsafah yang menjadi penyeimbang dalam kehidupan masyarakat dalam bingkai Republik Indonesia. Islam mengajarkan nilai-nilai luhur moderasi beragama yang telah digariskan dalam Alquran dengan istilah wasathiyah atau jalan tengah. Konsep wasathiyah menjadi tolok ukur mengenai layak atau tidaknya sebuah kelompok atau golongan berada pada sebuah negara atau daerah yang dihuninya. Penelitian ini mengkaji tentang proses dialog dalam Dakwah Habib Husein Ja’far Hadar pada Konten Podcast Noice “Berbeda Tapi Bersama” yang terdapat dalam Alquran surat An-Nahl ayat 125 dalam Perspektif Moderasi Beragama. Dalam melakukan Penelitian ini, kami menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif (penggambaran). Dengan menggunakan Teknik pengumpulan data observasi dan dokumentasi dari konten yang terdapat di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dakwah Habib Husein Ja’far al-Hadar. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa konsep moderasi beragama dalam dakwah Habib Ja’far selaras dengan indikator moderasi beragama, yakni wawasan kebangsaan dengan menonjolkan ciri keindonesiaan sambil menutup identitas asalnya sebagai keturunan Arab, sikap toleransi yang tinggi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode dakwah yang digunakan oleh Habib Ja’far adalah menyampaikan pesan-pesan agama dengan cara menerapkan metode yang berlandaskan pada Alquran surat An-Nahl ayat 125 yakni Hikmah (bijaksana), Mau’idzah Al Hasanah (pelajaran yang baik), dan Mujadalah (dialog dengan cara yang lemah lembut), serta menyesuaikan metode dakwahnya dengan empat indikator moderasi beragama.
Melek dan Responsivitas Pengelolaan Arsip Melalui Penyuluhan Kearsipan Astuti, I Gst. Ayu Uik; Zakir, Muh.
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.846

Abstract

Arsip adalah salah satu sumber informasi yang terekam (record information) yang berfungsi menunjang proses kegiatan administrasi dan manajemen birokrasi serta dapat menyediakan informasi mengenai bahan bukti kegiatan dan hubungan sosial yang ada pada organisasi. Arsip menjadi cerminan aktivitas suatu organisasi sehingga dapat menjadi bukti yang autentik yang dapat pula dimanfaatkan oleh lembaga, instansi pemerintah dan masyarakat umum untuk tujuan pendidikan dan penelitian. Karakter arsip yang berisikan informasi membuatnya terus bertambah sejalan dengan semakin berkembangnya pelaksanaan fungsi dari organisasi yang berkembang. Walaupun volume arsip terus bertambah pada organisasi namun terkadang cenderung diabaikan dalam pengelolaannya. Arsip bahkan dipandang sebelah mata sehingga tidak perlu dikelola dengan memperhatikan sistem yang seharusnya. Hal ini berdampak pada kesulitan penemuan kembali arsip dalam pelaksanaaan tugas organisasi ataupun pengambilan keputusan (decision making),yang pada akhirnya memerlukan waktu yang lama untuk penemuan kembali (retreval). Posisi kajian aktivitas penyuluhan kearsipan sebagai jalan masuk akan melek dan peka responsivitas pengelolaan arsip yang diharapkan mampu memberikan gambaran secara umum tentang arti pentingnya arsip serta teknis cara mengelolanya secara baik dan benar sehingga mampu meningkatkan skill dalam pengelolaan arsip. Sudah selayaknya arsip dipandang secara keseluruhan sebagai informasi yang tidak terpisahkan dari kegiatan organisasi.
Menguji Konsistensi Alat Ukur Penilaian Kinerja Anggaran Tingkat Satuan Kerja Pada Aplikasi “Smart DJA" Santoso, Arif Gunawan; Zakiah, Zakiah; Dewi, Rita Sukma
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.847

Abstract

Salah satu nilai kinerja Lembaga/kementerian negara, diukur dari bagaimana ia mengelola keuangan negara. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214/PMK.02/2017 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Anggaran atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, salah satu instrument penilaian kinerja Lembaga adalah Nilai Kinerja Anggaran (NKA). Terdapat empat instrumen yang digunakan untuk mengukurnya, yaitu variabel capaian keluaran, realisasi anggaran, efisiensi, dan konsistensi rencana penarikan dana. Tiga variable merupakan variable independent, sementara satu variable, yaitu efisiensi, merupakan variable terikat, yaitu variable efisiensi. Efisiensi terikat dengan nilai realisasi anggaran dan nilai capaian keluaran. Sebagai instrument penilaian kinerja, berbagai alat ukur tersebut harus memenuhi kriteria alat ukur yang konsisten dan relevan. Pada tahun 2020, terdapat anomali ketika ketiga variable bebas yang diperoleh oleh Balai Litbang Agama Semarang mendapatkan nilai tertinggi, namun nilai akhir yang dihasilkan, ternyata perolehan nilainya berada dibawah satker lain yang memiliki nilai lebih rendah. Penelitian dilakukan untuk menguji apakah mekanisme penilaian yang ditentukan oleh Kementerian Keuangan memenuhi kriteria sebagai alat ukur yang konsisten dan relevan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan simulasi variasi nilai pada keempat variable dan dibandingkan dengan hasil akhir penilaian kinerja berdasrakan datasimulasi. Berdasarkan pengamatan data simulasi, ditemukan bahwa terdapat ketidakkonsistenan atas alat ukur yang ditentukan. Inkonsistensi terutama didapatkan pada mekanisme penentuan nilai efisiensi, yang berdampak pada tidak konsistennya nilai pada masing-masing variable terhadap nilai akhir kinerja anggaran. Karena itu, perlu peninjauan ulang metode/cara mengukur variabel efisiensi, sehingga tidak berdampak pada tidak konsistennya keseluruhan alat ukur kinerja anggaran.
Ilalang Arenna Haji Bawakaraeng: Syamsurijal, Syamsurijal
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.848

Abstract

Haji Bawakaraeng selama ini telah menjadi istilah kontroversial dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Istilah itu ditujukan kepada komunitas yang sering melakukan ritual di Gunung Bawakaraeng, khususnya pada bulan Zulhijah. Istilah tersebut seakan-akan menunjukkan adanya pelaksanaan haji yang aneh dan menyempal dari kelaziman. Jika biasanya masyarakat pada umumnya melakukan ritual haji di Mekkah, maka di Sulawesi Selatan ada sekelompok orang yang justru melakukannya di puncak Bawakaraeng. Tetapi komunitas itu sendiri tidak merasa sedang melakukan haji sebagaimana pelaksanaan haji di Mekkah. Mereka yakin haji ke Mekkah tidak bisa digantikan dengan naik ke Bawakaraeng. Hanya saja soal mendapatkan pahala haji, tempat sering kali tidak menjadi soal. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan mengapa bisa mereka digelari Haji Bawakaraeng dan bagaimana sikap mereka dalam merespons pelabelan tersebut. Melalui penelitian kualitatif, ditemukan, istilah Haji Bawakaraeng adalah konstruksi orang di luar komunitas Bawakaraeng untuk memberikan label negatif terhadap ritual yang sering dilakukan di Gunung Bawakaraeng. Pelabelan itu adalah upaya kelompok Islam tertentu untuk menyingkirkan komunitas yang secara resmi beragama Islam, tetapi dipandang oleh kalangan tersebut masih sering melakukan perbuatan khurafat dan kemusyrikan. Tetapi yang menarik, meski ada di antara komunitas Bawakaraeng yang menolak istilah itu tetapi secara umum mereka justru menggunakannya. Mereka menggunakan istilah tersebut sebagai identitas. Melalui identitas Haji Bawakaraeng itulah mereka lalu membangun diskursus baru tentang haji. Cara mereka memberi makna baru terhadap Haji Bawakaraeng di tengah pelabelan negatif masyarakat adalah sebuah permainan identitas melalui sebuah nama.
Mappanre temme’: Sisi Eksotis Akulturasi Budaya di Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo Waris, Abdul; Ahmad, Hadiah
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.849

Abstract

Tradisi Mappanre temme’ adalah salah satu tradisi turun temurun yang dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Belawa setelah anak-anaknya mengkhatamkan bacaan Al-Qur’annya sebanyak 30 Juz. Pada dasarnya, tradisi ini juga dilaksanakan di sejumlah daerah, namun tradisi ini mengalami pergeseran nilai sosial di Kecamatan Belawa, di antaranya dengan pelaksanaannya yang tidak lagi mengikut pada acara lainnya. Hal ini menjadi menarik untuk meneliti perubahan-perubahannya dan hal yang mendasarinya, serta nilai yang dikandungnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk melihat eksistensi dan keunikan tradisi Mappanre temme’, serta mengurai nilainilainya sebagai sebuah hasil akulturasi. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis di Kecamatan Belawa masih mempertahankan keberadaan tradisi Mappanre temme’, bahkan cenderung melahirkannya sebagai tradisi yang mewah dan berkelas. Pergeseran nilai sosialnya tampak dari proses pelaksanaannya, yakni berdiri sendiri, penggunaan pakaian adat yang mewah dan komplit, pengadaan menu dan resepsi mewah, dan pengadaan musik hiburan. Sebagai dampaknya, tradisi Mappanre temme’ terlihat sangat unik dan eksotis ketika dilaksanakan secara sendiri, tanpa mengikut pada acara lain. Mappanre temme’ pada akhirnya menjadi simbol kelas sosial di masyarakat Kecamatan Belawa.
Sanro vs Dukun “Abal-Abal” : Eksistensi Pengobatan Tradisional di Era Modern Syuhudi, Muhammad Irfan
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.850

Abstract

Kehadiran dukun palsu atau sering disebut juga dukun abal-abal di tengah masyarakat, ternyata tidak membawa stigma terhadap dukun asli atau sanro. Buktinya, masyarakat masih mempercayai sanro dapat mengobati sakit medis maupun nonmedis (supranatural). Artikel ini bertujuan ingin mendeskripsikan strategi sanro menghadapi keberadaan dukun abal-abal di masyarakat, serta bagaimana pasien membedakan antara sanro dengan dukun abal-abal. Menggunakan jenis penelitian kualitatif, pengumpulan data bersumber dari wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Sedangkan penentuan informan dilakukan dengan sengaja (purposive sampling), yaitu orang-orang yang memahami penelitian ini, yaitu sanro dan mereka yang pernah berobat ke sanro (pasien). Sementara analisis penelitian ini menggunakan analisis naratif. Penelitian ini menemukan, sebagai berikut: Pertama, sanro sebenarnya tidak merasa terganggu dengan kehadiran atau keberadaan dukun abal-abal di tengah-tengah mereka. Sanro bahkan merasa kasian dengan tindakan dukun abal-abal yang menipu orang sakit demi meraup keuntungan ekonomi. Dengan pengobatan bersumber dari ajaran Islam (doa-doa, ayat-ayat Al-Quran, mengaji, dan medium air putih), ini juga merupakan salah satu strategi sanro untuk mendapat kepercayaan masyarakat. Kedua, cara pasien membedakan antara sanro dengan dukun abal-abal, yaitu sanro bisa mengobati penyakit medis dan nonmedis, yang dibuktikan dengan kesembuhan pasien, serta sanro mengobati pasien tanpa bayaran sedangkan dukun abal-abal selalu mematok harga untuk setiap kali pengobatan. Pengobatan tradisional berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan pasien terhadap keahlian mengobati sanro.