cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Pengislaman Federasi Duri Abad XVII Hadrayani, Ira; Mukarramah, Mukarramah; Karim, Abd.
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.851

Abstract

Federasi Duri sering kali kurang dilirik oleh akademisi terutama dalam kajian Islam. Sementara itu, wilayah ini juga cukup penting dalam perkembangan sejarah Sulawesi Selatan. Keberadaan Federasi Duri sering kali tidak terbaca pada beberapa kajian. Disisi lain, Federasi memiliki perjalanan panjang mulai dari fase tomanurung, kerajaan, masuknya Islam, Kolonialisme sampai revolusi. Artikel ini membahas tentang Federasi Duri dan berfokus pada kajian pengislaman wilayah ini. Melihat bagaimana proses Islamisasi Federasi Duri? Penyebaran Islam di Duri menempuh jalur apa? Kedua pertanyaan ini sangat penting karena proses pengislaman membutuhkan media dalam penyalurannya. Federasi Duri dalam beberapa catatan, bersentuhan dengan Islam pada 1608. Persentuhan Islam dan Federasi Duri dapat dilihat dari posisi wilayah ini yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Luwu. Pada mulanya, wilayah ini tidak menerima Islam sepenuhnya namun faktor ekonomi dalam hal ini hubungan dagang dan faktor politik Federasi Duri akhirnya tercatat memeluk Islam pada Selasa 2 Sya‟ban (17 Juni 1687). Posisi Duri berada di jalur perdagangan Bone-Sidenreng-Duri-Toraja dan pada tahun tersebut telah menjadi wilayah fasal dari Kerajaan Bone. Hasil kajian tersebut ditemukan dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Data diperoleh dari penelusuran Arsip Kolonial Belanda dan sumber sejarah yang berhubungan langsung dengan objek kajian baik primer maupun sekunder. Kata kunci: federasi duri, islam, pengislaman, perdagangan, politik
Literasi Keagamaan Sebagai Pilar Eksistensi Panrita Kitta’ Di Tengah Pandemi Covid-19 Muslim, Abu; Nensia, Nensia
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.852

Abstract

Penelitian dengan mengoperasionalkan metode penelitian kualitatif ini bertujuan untuk melihat bagaimana eksistensi pengembangan literasi keislaman itu dan strategi penyesuaian pelaksanaannya di tengah pandemi Covid-19 khususnya di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Mengaitkan praktik literasi keagamaan sebagai pilar eksistensi penamaan Bumi Panrita Kitta sebagai ikon Kabupaten Sinjai dapat dilihat dalam beberapa aspek antara lain bahwa literasi keagamaan fis a fis literasi Alquran tetap eksis dilaksanakan meski di tengah pandemic covid 19. Pengembangan keberagamaan Islam dalam praktik literasi keberagamaan itu ditopan juga dalam perangkat dan sistem kebudayaan masyarakat Sinjai yang memang sangat dekat dengan nilai-nilai keagamaan Islam dalam pengertian asimilasi, akulturasi, dan asosiasi. Hal ini kemudian menjadikan Sinjai dengan semboyan Panrita Kitta‟ adalah semacam mnemonik device, dia tidak hanya simbol peradaban lokal, tapi menyimpan asa peradaban Islam yang sangat kuat. Ada Panrita dan Ada Kitta‟, dua frase luhur yang bersesuaian dengan nilai-nilai Islam. Ini bisa mencerminkan pribadi masyarakat Sinjai yang islamis religius, tetapi tetap moderat, karena ada pegangan kitab dan pantauan serta tuntunan dari para panrita sebagai alat kontrol sosial paling ampuh. Keluasan budaya, sinergitas masyarakat, relasi kekeluargaan yang dibangun adalah modal utama menumbuhkan semangat literasi.
Ekspresi Tazkiyah al-Nafs dalam Pappaseng Susmihara, Susmihara; Nuraeni, Nuraeni; M, M. Dahlan; Yani, Ahmad
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.860

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang pappaseng Bugis yang merupakan ekspresi dari tazkiyah al-nafs dalam tasawuf yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Pappaseng sebagai sebuah genre puisi dalam sastra Bugis secara subtansi memiliki relevansi dengan nilai-nilai Islam. Penelitian diawali dengan pemerolehan teks pappaseng yang dilakukan melalui sumber pustaka kemudian dipadukan dengan sumbersumber lisan. Analisis yang diterapkan menggunakan pendekatan antropologi agama yang bermaksud untuk mengungkap nilai-nilai kebajikan kehidupan yang terkandung dalam teks-teks pappaseng. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, narasi pappaseng yang berkembang dalam masyarakat Bugis memiliki keselarasan dengan nilai-nilai Islam yang mencakup tiga aspek yaitu „tawakkal‟ yang di dalam pappaseng Bugis disebut pesona (pasrah kepada Tuhan); ukhuwah dalam pappaseng Bugis disebut assimellereng (persaudaraan); dan; shiddiq dalam pappaseng Bugis disebut lempu (jujur).
Revitalisasi Budaya Kearifan Lokal Mappanre Tasi dalam Membangun Moderasi Beragama Nur, Muhammad; Nasri, Nasri
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.861

Abstract

Tradisi Mappanre Tasi di Sulawesi Selatan menjadi salah satu bentuk keanekaragaman budaya kearifan lokal yang ada di Desa Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang. Budaya ini sudah ada sejak lama ditengah masyarakat pengikutnya hingga saat ini, meski berada di Tanah Bugis masyarakat Suku Mandar yang pertama kali membuka perkampungan yang berada di pesisir laut dan memperkenalkan tradisi ini terhadap warga sekitarnya sebagai upacara rutin di setiap bulan april. Menjadi fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran kearifan lokal budaya Mappanre Tasi yang berkembang di masyarakat pengikutnya, dan bagaimana tingkat penerimaan masyarakat lokal terhadap budaya Mappanre Tasi serta bagaimana aktualisasi kearifan lokal budaya Mappanre Tasi menjadi bagian penting dari penguatan moderasi beragama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif atas dasar fenomenologi, dengan pendekatan deskriptif, teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam terhadap sejumlah informan kunci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa, budaya kearifan lokal Mappanre Tasi hidup dan berkembang pada masyarakat nelayan yang mendiami daerah sekitar pesisir laut, tradisi ini dilaksanakan setiap tahun di bulan april dengan harapan agar hasil tangkapan ikan di waktu yang akan datang menjadi lebih banyak. Sedangkan respon masyarakat sekitar terhadap budaya ini cukup beragam, diantaranya pelaksanaan budaya ini merupakan warisan dari leluhur yang harus diteruskan ke generasi selanjutnya, dan adanya klaim dari sebagian tokoh masyarakat bahwa budaya ini menyimpan dari ajaran Agama Islam. Kemudian salah satu unsur yang termuat dalam moderasi beragama adalah akomodatif terhadap budaya lokal, sehingga budaya lokal Mappanre Tasi menjadi jembatan pemersatu bagi masyarakat penganut tradisi ini dengan masyarakat disekitarnya
Mengungkap Makna dan Nilai Kelong Agama HR, Sumarlin Rengko; Asriani, Nur; Rani, Andi Isra
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.862

Abstract

Tulisan ini memaparkan makna dan nilai yang tedapat dalam teks kelong agama. Kelong agama adalah salah satu jenis kelong yang dimiliki etnik Makassar. Kelong agama berisi hakikat dan sifat Tuhan, rasa bakti dan kewajiban manusia terhadap Tuhan, serta menegenai akhlak manusia. Kelong agama mencerminkan pola pikir yang penuturnya. Di dalam teks kelong agama terkandung makna dan nilai-nilai kehidupan pendukungnya. Makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalam kelong agama etnik Makassar dianalisis dengan menggunakan teori semantik secara deskriptif kualitatif, dan eksplorasi kelong agama perspektif nilai. Penulisan ini melalui tahap, seperti: penelitian pustaka, klasifikasi, terjemahan, dan menganalisis data. Hasil penelitian kelong agama menunjukkan bahwa terdapat dua jenis makna, yaitu makna denotatif dan konotatif. Teks kelong agama mengandung beragam nilai yang masih relevan dengan kehidupan sehari-hari, diantaranya nilai; kepercayaan, moral, religious, kepatuhan, kepribadian, pengetahuan, dan evaluasi diri.
Polemik Tradisi Menabuh Golomang dalam Ritual Pemakaman Pada Masyarakat Muslim Bolaang Mongondow Tungkagi, Donald Qomaidiasyah; Mokodongan, Tasya Aziza
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.863

Abstract

Penelitian ini membahas tradisi menabuh golomang dalam ritual pemakaman masyarakat muslim di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya polemik terhadap keberadaan musik tradisional golomang dalam ritual pemakaman masyarakat muslim Bolaang Mongondow. Terdapat tiga faktor yang mendasari munculnya polemik dalam masyarakat: pertama, masih kuatnya persepsi masyarakat yang memandang penggunaan musik golomang hanya dapat dilaksanakan oleh keturunan bangsawan; kedua, terjadi kontestasi tradisi di dalam masyarakat yang memandang penggunaan musik dalam ritual pemakaman tidak selaras dengan ajaran Islam; ketiga, terdapat pandangan masyarakat yang menganggap alat musik umumnya digunakan sebagai media hiburan dan senangsenang semata, sehingga penggunaan musik golomang dalam ritual pemakaman dianggap tidak menghormati pihak yang berduka. Meskipun keberadaan musik dalam ritual pemakaman masih terjadi pro dan kontra, namun fakta menunjukkan tradisi ini terus-menerus bertumbuh, bahkan mengalami proses adaptasi dan pencarian makna baru. Pementasan musik golomang tidak lagi sebatas dalam ritual pemakaman, namun dipentaskan juga dan perkawinan, dan kesenian pertunjukkan khalayak.
Dimensi Permainan Maddende dalam Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Halifah, Syarifah; Mustamin, Fitriani; Razak, Rasmida
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.864

Abstract

Artikel ini membahas permainan Maddende yang dilakukan oleh anak-anak pada sekolah TK Al-Imaniah di Kota Parepare. Dimensi ruang anak usia dini adalah bermain, namun pada kenyataannya ruang bermain anak yang disediakan oleh sekolah PAUD belum mengakomodasi sesuai perkembangan anak pada usia 5-6 tahun. Pada sisi yang sama, mood anak-anak dalam bermain mengalami ritme yang tidak konstan sehingga memunculkan prososial negatif seperti hiperaktif dan tantrum. Objek penelitian ini adalah anak didik pada kelompok B di TK Al-Imaniah. Data dikumpulkan melalui observasi dan melakukan wawancara serta memanfaatkan dokumen-dokumen perangkat pembelajaran dan aktivitas anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dimensi permainan maddende yang dipraktikkan TK AlImaniah dalam upaya meningkatkan kecerdasan interpersonal anak usia dini. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa permainan maddende mengandung dimensi untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal anak sehingga mereka mampu beradaptasi, bekerjasama, serta dapat memahami situasi lingkungannya.
Prosesi Mappasiarekeng dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Bugis di Ajangale Usman, Usman; Kaharuddin, Kaharuddin
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.865

Abstract

Artikel ini membahas prosesi mappasiarekeng yang khas dalam tradisi perkawinan masyarakat Bugis di Ajangale. Kajian ini bersifat kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif analitis. Teknik pengumpulan data diawali dengan observasi, kemudian dilakukan pengamatan dan wawancara langsung kepada informan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui fungsi prosesi mappasiarekeng dalam tradisi perkawinan masyarakat Bugis yang khas dilakukan di wilayah Ajangale Kabupaten Bone. Prosedur analisis dilakukan yakni diawali dengan memaping data, kemudian menafsirkan, dan menyajikannya hingga mencapai kesimpulan. Hasil penelitian yang dicapai menunjukkan bahwa, prosesi mappasiarekeng merupakan bahagian penting yang dilaksanakan oleh masyarakat Bugis di Kecamatan Ajangale yang keberadaannya masih bertahan hingga dewasa kini. Prosesi mappasiarekeng merupakan sebagai bahagian dari tradisi perkawinan, yang dasarnya tidak diatur secara formal dalam syariat Islam. Namun, dalam tradisi suku Bugis di Ajangale kegiatan ini menjadi tahapan yang wajib dilaksanakan menurut adat-istiadat masyarakat. Adapun fungsi mappasiarekeng bagi masyarakat Bugis di Ajangale yaitu memosisikannya sebagai tahap penguatan atas kesepakatan hal-hal yang telah diputuskan pada mappettuada (lamaran) yang telah dilakukan sebelumnya, mencakup: tanra esso (penentuan hari akad), dui menre’/dui balanca (uang belanja), sompa (mahar), dan hal-hal lainnya. Fungsi lain mappasiarekeng yaitu tercapainya mufakat, menciptakan suasana kekeluargaan, serta menciptakan rasa kebersamaan antara keluarga kedua belah pihak.
Tradisi Hanta Ua Pua: Geliat Islamisasi dan Strategi Ulama dalam Menyebarkan Islam di Bima Aksa, Aksa
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.866

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang tradisi Hanta Ua Pua dalam geliat Islamisasi dan dan strategi akomodasi dakwah oleh ulama Melayu di Kesultanan Bima. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan sosiologi agama dan antropologi budaya. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen, kajian arsip dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa geliat awal Islamisasi di Kesultanan Bima mendapat respon baik dari masyarakat dan penguasa setempat. Sultan Abdul Khair pasca konversi agama berkomitmen menjunjung tinggi ajaran agama Islam. Langkah kongkritnya dengan menjadikan Islam sebagai agama resmi Kesultanan. Namun, pasca meninggalkan Sultan Abdul Khair syiar Islam mulai redup karena sempat terjadi kekosongan mubaliq di Kesultanan Bima. Selain itu, sultan Abdul Khair Sirajuddin yang menggantikan ayahnya kurang peduli dengan agama Islam dan mengabaikan nasehat ulama di awal kekuasaannya. Tradisi Hanta Ua Pua merupakan satu strategi dakwah yang dilakukan oleh ulama dalam mengeliatkan syiar Islam dengan tetap mengakomodir budaya masyarakat Bima. Mengingat pancaran sinar Islam di masyarakat dan kalangan istana saat itu mulai meredup. Atas keberhasilan ulama menarik hati sultan, Sirih Puan atau tradisi Hanta Ua Pua menjadi perayaan resmi dalam upacara adat kesultanan. Tradisi ini juga menjadi salah satu dari tiga perayaan akbar di lingkup kesultanan Bima.
Nilai Simbolik Rumah Adat Caile dalam Studi Budaya Nur, Haerani; Syukur, Syamzan; Mastanning, Mastanning
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.867

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai rumah adat Caile di Desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa dalam Perspektif Budaya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan Field Research berupa hasil wawancara, observasi langsung ke lokasi dan Library Research sebagai data pendukung yaitu mencari sumber-sumber secara tertulis yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, Caile dibagun oleh Dampangia pada tahun 1468 atau pertengahan abad 15 M. Rumah adat Caile merupakan rumah pertama yang dibangun di wilayah itu dan setiap orang yang lewat akan menoleh sehingga nama Caile diambil dari bahasa Konjo yaitu Assaile yang berarti menoleh. Kedua, fungsi rumah adat Caile pada masa kerajaan hingga masa modern, Rumah adat Caile difungsikan sebagai tempat pelantikan raja dan orang-orang yang dipercaya sebagai pelaksana tugas pemerintahan namun pada masa modern ini Caile tidak lagi menjadi tempat pelantikan raja. Ketiga, nilai-nilai yang terkandung dalam rumah adat Caile sebagai salah satu warisan budaya yang ikonik bagi masyarakat Pao memberikan pengaruh pada pola hidup masyarakat. Oleh karena itu, rumah adat tersebut perlu dijaga dan dipertahankan. Keyakinan masyarakat terhadap kesakralan rumah adat tersebut membuat keberadaannya menjadi salah satu warisan budaya terpenting di desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.