cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Internalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Masyarakat Muna yang Berfungsi Sebagai Upaya Pencegahan Intoleransi Artanto, Muhammad Fattah Dwi; Novira, Ade
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Indonesia yang berciri heterogen senantiasa dirawat, dihargai, dan dipertahankan secara konsisten. Heterogenitas Indonesia mencakup budaya, suku, agama, bahasa, tradisi dan lain-lainnya seluruhnya terikat dalam bingkai persatuan yang didasari dengan nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan. Tulisan ini membincangkan kearifan lokal dalam masyarakat Muna yang terkait dengan nilai pencegahan intoleransi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara nilai kearifan lokal yaitu: 1) poangka-angka tau; 2) popia-piara; 3) pomasi-masigho dalam upaya pencegahan sikap intoleransi dan untuk mengetahui bagaimana cara nilai kearifan lokal, poangka-angka tau, popia-piara, dan pomasi-masigho dapat meresap masuk ke dalam jiwa setiap orang untuk mencegah sikap intoleransi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan instrument peneliti itu sendiri sebagai instrument kunci, dengan pengumpulan data melalui data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal nilai yaitu: poangka-angka tau, popia-piara, dan pomasi-masigho di Muna Barat dapat mencegah masyarakat Muna Barat dari sikap intoleransi, karena nilai ini memiliki makna saling memahami, saling memelihara dan saling menyayangi, yang merupakan bagian dari sikap toleransi antar sesama, sehingga jika nilai poangka-angka tau, popia-piara, pomasi-masigho tertanam dalam jiwa suatu individu hal ini akan mencegah terjadinya sikap intoleransi. Nilai poangka-angka tau, popia-piara, dan pomasi-masigho diinternalisasikan melalui lingkungan dikeluarga, nilai ini paling pertama di ajarkan oleh orang tua sedari kecil dan didukung dengan kebiasaan seseorang melalui pendidikan di sekolah, diajarkan oleh guru dan juga melalui tradisi Suku Muna Barat yaitu pokadulu.
Peran Perempuan Bagi Pendidikan Anak Menurut Perspektif Al-Qur’an Hafid, Sipaami; Nawir, Nazaruddin
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan mempunyai posisi penting dalam keluarga yakni sebagai pendidik pertama dan utama, selain ia berperan pula dalam pendidikan formal dan nonformal yang mengajarkan akidah, ibadah, akhlak, ilmu pengetahuan umum, dan sebagainya. Itulah sebabnya perempuan menarik dikaji dengan melihat posisi dan peranannya di dalam kegiatan pendidikan anak sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Pijakan dasar atas permasalahan pada kajian ini adalah bagaimana peranan perempuan menurut pandangan pandangan Al-Qur’an? Dan bagaimana pula peranan perempuan terhadap pendidikan anak di dalam lingkungan keluarga? Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian pustaka dengan mengkaji referensi dari penelitian yang ada dalam bentuk terbitan, kemudian mengkaji teks-teks dengan mengaitkan peranan perempuan menurut Al-Qur’an. Hasil penelitian ini memandang perempuan sebagai mahluk yang unik dan diistimewakan dalam Al-Qur’an selama menjaga diri dalam iman dan takwa kepada Allah swt. Peran perempuan terhadap pendidikan anak dalam keluarga sangat besar dan urgen terhadap pembentukan jati diri dan perkembangan anak-anak agar menjadi orang-orang muslim yang berkarakter serta berkepribadian hebat. Dengan demikian kedudukan perempuan dalam perspektif Al-Qur’an dapat disetarakan dengan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan seperti dalam hal politik sebagaimana tercantum dalam surah At-Taubah ayat 71; kesetaraan hak sebagaimana tercantum dalam surah An-Nisa ayat 1 dan surah Ali Imran ayat 195; peningkatan spritual, pendidik sebagaimana dijelaskan dalam surah Luqman ayat 14; parner dalam manajemen keluarga seperti tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 187.
Optimalisasi Tata Kelola Kearsipan Pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Uik Astuti, I Gst. Ayu; Asnianti, Asnianti
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membincangkan pentingnya penyelenggaraan kearsipan dalam administrasi perkantoran pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, yang mempunyai nilai informatif bagi organisasi. Arsip dipandang penting oleh karena dapat menyajikan informasi yang terkait dengan bukti kegiatan organisasi termasuk hubungan sosial yang terjadi pada organisasi. Namun pada faktanya, penyelenggaraan kearsipan pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan belum menunjukkan adanya standarisasi pengelolaan arsip yang handal, termasuk sarana dan prasana terkait penataan arsip aktif. Pengkajian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan menyajikan fakta secara deskriptif analitis. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan fakta yang sesungguhnya yang menjadi problem sekaligus menemukan solusi yang terkait pada penyelenggaraan kearsipan pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa, secara institusional penyelenggaraan kearsipan merupakan bagian dari tata kelola kearsipan yang harus dilakukan sesuai dengan kaidah kearsipan yang bersifat dinamis. Secara khusus penyelenggaraan kearsipan pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan memmiliki tantangan dalam tiga hal, yaitu dalam aspek kebijakan, pengelolaan arsip, dan pembinaan sumber daya manusia kearsipan. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa tata kelola kearsipan juga dapat mempengaruhi capaian tujuan organisasi. Optimalisasi tata kelola kearsipan dilakukan melalui penguatan kapasitas pelaksanaan sistem kearsipan dengan ruang lingkup penyelenggaraan kearsipan secara menyeluruh yang didasarkan pada kebijakan, pengelolaan, serta pembinaan sumber daya manusia kearsipan.
Praktik Etnoparenting pada Masyarakat Adat Karampuang: Tinjauan Teologi dan Kosmologi Nirwana, Nirwana; Muhlis, Muhlis
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keyakinan orang tua dalam melakukan praktik pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh budaya dan etnis mereka. Setiap keluarga memiliki praktik dan nilai berdasarkan kearifan lokal dan keyakinan kosmologis yang biasanya didapatkan secara turun temurun. Praktik pengasuhan yang terintegrasi dengan kearifan lokal suatu suku atau etnis tertentu disebut dengan etnoparenting. Penelitian ini mengkaji praktik etnoparenting pada suku adat Karampuang sebagai salah satu suku budaya Bugis di Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk menjabarkan dan menggali informasi berdasarkan pengalaman praktik serta nilai etnoparenting pada masyarakat adat Karampuang Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan, kemudian peneliti menginterpretasikan data yang diperoleh dengan perspektif psikologis. Subjek penelitian diklasifikasikan pada orang tua yang memiliki anak berdasarkan umur anaknya: orang tua yang sedang hamil dengan masa kehamilan 7-9 bulan, orang tua yang memiliki anak antara 6 bulan sampai 1 tahun, dan orang tua yang memiliki anak 2-3 tahun. Hasil penelitian dijabarkan dalam tinjauan teologis dan kosmologi yang terdiri dari beberapa dimensi seperti keyakinan terhadap sejarah alam semesta dengan melakukan ritual khusus dalam menjaga alam yang dikenal dengan istilah Mappogau Sihanua. Falsafah pembangunan manusia dalam bentuk saling menghargai dan saling menghormati. Nilai spiritual dengan mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak dalam kandungan dan beberapa ritual lain yang diyakini dapat menanamkan nilai-nilai keIslaman sejak dini kepada anak, serta peran ayah dan ibu dalam pengasuhan.
Identitas dan Adaptasi Kultural Tionghoa Muslim di Kota Kendari Syarifuddin, Syarifuddin; Karim, Abd.; Rustam, Rismawaty
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini meramu data dengan metode penelitian kualitatif. Data ditemukan dengan teknik wawancara, observasi, kajian literatur dan dokumentasi. Orang Tionghoa Muslim di Kota Kendari mengekspresikan identitas mereka dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menempatkan diri dan identitas mereka sebagai suku bangsa lokal bersama dengan suku lainnya. Konsepsi tersebut membawa arti terjadinya keterbukaan identitas dalam diri orang Tionghoa dengan masyarakat lokal. Adaptasi kultural merupakan cara khusus Tionghoa Muslim untuk memposisikan identitas mereka terhadap lingkungan soisal bersama dengan masyarakat lokal. Artikel ini menemukan bahwa adaptasi kultural orang Tionghoa Muslim di Kota Kendari terindikasi melalui bahasa, budaya ke-tionghoa-an, hubungan antar masyarakat, dan hubungan keagamaan. Indikator secara bahasa, Tionghoa Muslim menunjukkan kemampuan fasih berbahasa lokal yang ada di Kendari seperti bahasa Tolaki, Bugis, dan Morone. Dari segi budaya, Tionghoa Muslim melaksanakan tradisi Tionghoa melalui penyesuaian dengan norma agama tanpa mengubah substansi budaya mereka. Salah satu cara adpatasi mereka untuk memposisikan identitas mereka yakni dengan jalan kawin mawin antara Tionghoa Muslim dengan etnis lain. Meskipun beberapa kasus dari Tionghoa Muslim mengalami masalah adaptasi terhadap hal tersebut akan tetapi mereka tetap menjalankan kehidupan mereka sesuai dengan jalan hidup sebagai orang Tionghoa sekaligus beragama Islam. Dalam kasus konversi agama, orang Tionghoa relatif mendapatkan kendala ketika ada yang ingin memeluk agama Islam, ada yang mendapatkan penolakan dari pihak keluarganya. Selain itu, Tionghoa Muslim kadang kala memperoleh perlakuan kurang baik dari penduduk lokal karena mereka masih dianggap berasal dari golongan pendatang minoritas. Kisah-kisah mereka memberikan gambaran bahwa Tionghoa Muslim merupakan bagian dari keIndonesiaan.
Strategi Pewarisan Nilai-Nilai Pappaseng dalam Masyarakat Bugis Wajo Yani, Ahmad; Susmihara, Susmihara; Nurkidam, A.
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang strategi pewarisan nilai-nilai pappaseng pada masyarakat Bugis Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Bugis, seperti; lempu’ (kejujuran); acca (kecendekiaan), sitinaja (kepatutan), getteng (ketehuhan), reso (usaha), siri’ (prinsip malu). Kajian diawali dengan pemerolehan teks pappaseng melalui sumber pustaka, yang kemudian diintegrasikan dengan sumber lisan. Analisis menggunakan teknik antropologi budaya dengan tujuan mengungkap strategi pewarisan nilai-nilai pappaseng dalam masyarakat Bugis Wajo. Hasil kajian menunjukkan bahwa pewarisan nilai-nilai luhur pappaseng melalui internalisasi; pembiasaan secara konsisten dengan memberi keteladanan dan penanaman nilai sebagai tindakan keseharian seseorang atau kelompok masyarakat hingga terjadi penyerapan nilai, norma, atau aturan sampai terbentuknya suatu pola tingkah laku sosial dalam kepribadiannya, sehingga dengan proses pewarisan nilai-nilai utama pappaseng yakni: lempu’ (jujur), acca (cendekia) melalui saluran-saluran pewarisan nilai seperti melalui keluarga, sosial masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah akan terbentuk manusia-manusia yang berkepribadian dan terpandang selaras dengan lingkungan sosial dan budayanya. Dalam istilah Bugis dikenal dengan tau tongeng atau to matanre siri. Pewarisan nilai-nilai pappaseng diungkapkan dalam bentuk pangaja (nasihat), elong (nyanyian), werekkada (ungkapan), dan bentuk percakapan atau diucapkan secara dialog guna membentuk karakter khas keturunannya dengan kedisiplinan, konsistensi agar senantiasa memiliki etika berinteraksi dengan sesama, tata krama terhadap orang tua, tidak lepas dari fungsi dan peranan pappaseng sebagai sumber nilai budaya dalam masyarakat Bugis di Kabputen Wajo Sulawesi Selatan.
Kepemimpinan Transformasional Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada Masa New Normal Putra, Syawal Kurnia; Rahma, Bahaking; Mardhiah, Mardhiah
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset ini fokus untuk memahami kepemimpinan transformasional kepala madrasah untuk meluaskan mutu pendidikan pada lembaga pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar pada masa new normal. Riset menggunakan metode deskiptif kualitatif serta memilih pendekatan fenomenologi. Penulis mendapatkan data lapangan melalui wawancara pada pimpinan madrasah, kepala Tata Usaha, pendidik, tenaga kependidikan, serta peserta didik, sekaligus menggunakan observasi dan dokumentasi pada beberapa hal yang terkait dengan kepemimpinan. Analisis data yang dikumpulkan kemudian dianalisis melalui empat tahap yaitu analisa taksonomi, domain, komponensial dan tema kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama kepala madrasah sebagai pemimpin yang transformatif memiliki empat dimensi yaitu: a) idealized influenced, seorang kepala madrasah mampu dijadikan panutan oleh seluruh stakeholder; b) inspirational motivation, seorang kepala madrasah mampu menginspirasi serta memberi motivasi terhadap seluruh stakeholder untuk mencapai tujuan madrasah yang bermutu; c) intellectual stimulation, memiliki kapabilitas mengembangkan ide dan gagasan seluruh stakeholder untuk memajukan madrasah; d) individualized consideration, seorang kepala madrasah menerima aspirasi serta masukan-masukan seluruh stakeholder untuk pengembangan madrasah yang dipimpinnya. Kedua terdapat upaya yang dilakukan oleh kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan yakni: a) Pembentukan tim kerja; b) menjalin dan memelihara komunikasi dengan berbagai pihak; c) melakukan MoU dengan berbagai instansi eksternal. Artikel ini merekomendasikan bahwa model kepemimpinan transformasional kepala madrasah sangat cocok diterapkan pada organisasi atau lembaga pendidikan termasuk antisipasi masa transisi dari masa normal menuju new normal. Riset kepemimpinan transformasional sekaligus dapat mereduksi gaya kepemimpinan transaksional.
Budaya Gantala Jarang dalam Pesta Pernikahan pada Masyarakat di Kabupaten Jeneponto Nurdin, Nurdin
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pelestarian Budaya masakan gantala jarang dalam pesta pernikahan pada masyarakat di Kabupaten Jeneponto. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Peneliti hanya menyampaikan data dengan cara menguraikan berupa kalimat. Sedangkan jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti pada tulisan ini adalah jenis deskriptif, kemudian mendiskripsikan fenomena, gejala, kejadian dan peristiwa yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan Jeneponto sudah menjadi tradisi adat yang menggabungkan keistimewaan Jeneponto. Gantala jarang merupakan sajian daging kuda yang tidak mengandung bumbu, hanya menggunakan garam secukupnya saja. Pesta perayaan pernikahan akan terasa lengkap jika beberapa masakan ikut di sajikan. Karena para tamu datang ke pesta ketika kuda-kuda disembelih, dijadikan sajian untuk dihidangkan kepada para tamu undangan. Hidangan masakan gantala jarang yang langka ini telah mewarnai perayaan-perayaan lain. Selain pesta pernikahan , pesta khitanan dan aqiqah, menyambut Idul Fitri dan Idul Adha pun menjadi momen yang tepat ketika gantala jarang ikut disajikan. Selain hidangan masakan Gantala Jarang , tradisi barazanji juga ikut memeriahkan perayaan pesta-pesta seperti pernikahan, khitanan, aqiqah dan acara lainnya. Kuliner Gantala Jarang menjadi makanan khas masyarakat Jeneponto. Gantala Jarang ini yang membuat bangga masyarakat Jeneponto, karena dari 24 kabupaten kota, hanya Jeneponto yang makan daging kuda, meskipun ada kabupaten lain juga makan daging kuda tetapi bukan menjadi suatu keharusan. Gantala, ada juga penangkaran kuda. Gantala Jarang menjadi konsumsi utama masyarakat Jeneponto karena masyarakat Jeneponto percaya bahwa daging kuda mencegah penyakit Infeksi ( tetanus ). Selain itu lemak dari daging kuda juga berfungsi mengobati penyakit asma, luka bakar dll. Lemak kuda dikemas dalam bentuk minyak yang disebut minyak kuda. Serta organ tubuh kuda lainnya baik untuk kesehatan.
Wali Nikah: Antara Teks dan Konteks Mading, Mading; Rustam, Rismawaty; Rizky, Nur Iftitah
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang wali nikah, antara teks dan konteks. Wali nikah adalah rukun yang harus terpenuhi bagi calon mempelai perempuan yang berkehendak untuk dinikahkan. Wali Nikah dalam syari'at Islam tidak bisa dipandang sebelah mata karena termasuk rukun perkawinan. Perkawinan tidak akan sah jika dilangsungkan dengan tidak adanya wali nikah dari pihak perempuan. Dalam UU No.1/1974 dan peraturan pelaksanaannya Nomor 9 tahun 1975 perihal perkawinan dan syari'at Islam memandang bahwa wali nikah adalah mutlak ada dalam perkawinan dengan memenuhi syarat tertentu seperti; Islam, dewasa (baligh), berakal, laki - laki dan adil. Karena masalah wali nikah sangat penting pada perkawinan, maka dalam uraian ini akan dijelaskan pula hak dan kewajiban serta urutan-urutan wali menurut syari'at Islam dan beberapa pandangan mazhab serta pendapat para ahli yang dikaitkan dengan UU. NO. 1/1974 dan peraturan pelaksanaannya. Pada prinsipnya UU. Nomor 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pelaksanaannya masih mencakup luas dan tidak terperinci secara mendetail karena itu diperlukan bahasan lebih terperinci dengan tinjauan syariat Islam. Dalam pembahasan ini kami uraikan secara sedarhana dan jelas terutama kedudukan wali dalam perkawinan yang merupakan rukun yang menentukan sah tidaknya perkawinan itu sendiri.
Strategi Integrasi Sosial Makassar Diaspora di Pulau Alor Sabara, Sabara; Damayanti, Sari
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasca Perang Makassar pada 1669, terjadi gelombang migrasi orang Bugis dan Makassar yang cukup massif. Mereka berdiaspora ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Gelombang diaspora tersebut terdiri atas kelompok pedagang yang sebelumnya bermukim di wilayah Pelabuhan Makassar. Mereka tiba di Alor pada 1673, kemudian membentuk sebuah enklave di pesisir barat laut Pulau Alor yang dikenal sebagai Kampung Makassar. Tulisan ini mengulas bagaimana kedatangan diaspora asal Makassar ke Pulau Alor dan proses integrasi sosial dengan masyarakat lokal. Selanjutnya memotret perkembangan komunitas keturunan tersebut pada masa kini, bagaimana mereka mengambil peran sosial, budaya dan politik di Kabupaten Alor. Penelitian dilakukan pada Oktober 2022 di Kabupaten Alor dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian menemukan kedatangan empat armada yang berisi pendatang asal Makassar pada abad XVII merupakan rombongan pedagang yang meninggalkan pelabuhan Makassar, yang saat itu dimonopoli oleh VOC pasca perjanjian Bongaya. Kedatangan rombongan diterima oleh raja Alor dan diberikan tanah di pesisir Alor Kecil yang saat itu merupakan ibukota Kerajaan Alor. Kedatangan mereka tidak hanya diterima bahkan diakui sebagai salah satu suku yang ada di Alor serta memiliki tempat khusus dalam setiap ritual budaya Alor. Saat ini keturunan mereka mengambil peran yang signifikan dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan agama di Alor.