cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
LOGOS (Jurnal Filsafat - Teologi)
ISSN : 14125943     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Terbit 2 (dua) kali dalam setahun, Bulan januari dan Bulan Juli oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas . Majalah ini berorientasi pada Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini dimaksudkan sebagai media untuk mengangkat dan mengulas pengalaman manusia dan religius berdasarkan disiplin ilmu filsafat dan teologi serta ilmu-ilmu humaniora yang terkait dengannya.
Arjuna Subject : -
Articles 230 Documents
EKSISTENSI KAUM TERTAHBIS dalam Perspektif Ignasius dari Antiokia, Yohanes Krisostomus, Origenes dan Ambrosius dari Milan Situmorang, Sihol
LOGOS Vol 18 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i1.1177

Abstract

Dalam Gereja Katolik, keberadaan dan peran kaum tertahbis (diakon, imam, uskup) termasuk sesuatu yang sangat essensial dan fundamental. Pemahaman akan eksistensi dan hakikat imamat khusus ini mesti didasarkan pada Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru dalam konteks pelayanan terhadap komunitas Kristen dan karya missioner Gereja yang begitu pesat. Para Bapa Apostolik mulai merefleksikan pendekatan tipologis atas imamat Perjanjian Lama untuk berbicara tentang imamat pelayan Perjanjian Baru. Konsep imamat kaum tertahbis pun semakin bercorak hirarkis. Para Bapa Gereja (Ignasius dari Antiokia, Yohanes Krisostomus, Origenes dan Ambrosius dari Milan) mengajak kaum tertahbis, sebagai alter Christus, untuk menghayati imamat Kristus yang tunggal dan lestari.
JUMAT AGUNG: PERAYAAN AMBIGU ANTARA LITURGI DAN KESALEHAN UMAT? Ritan, Timoteus Enga
LOGOS Vol 13 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i1.867

Abstract

Liturgy and Popular Piety flourish and growing in the life of the faithful. The relationship between them evolving and affect each other. Liturgy are in a higher level when compared with the Popular Piety. However, in the practice often equated Liturgy, and even under the domination of the Popular Piety. Different meaning, mutually influential. Therefore, the most important thing here that we know the meaning correctly, so there is no deviation. An ambiguous celebration celebrated, because it is influenced by a variety of domination popular piety. The most important thing is shown that the extent to which the Popular Piety affected also to supports the Liturgy or the Liturgy itself can develop its own without the Popular Piety. Good Friday are in two rhythm between Liturgy and popular piety. Good Friday is a part of the celebration of Easter, which is celebrated differently. Look different, but it has a deep meaning in the journey towards Easter of Christ.
SEBUAH TANGGAPAN ATAS EMPAT DOKUMEN YANG DIKELUARKAN DAN DISAHKAN OLEH KONFERENSI WALI GEREJA INDONESIA TENTANG PEMBARUAN KARISMATIK KATOLIK INDONESIA Simanullang, Gonti
LOGOS Vol 10 No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i1.884

Abstract

The Indonesian bishops have issued four documents in which they state their pastoral responses to the Indonesian Catholic Charismatic Renewal (CCR). The 1993 Various Charisms, One Spirit, addressed to all Catholics of Indonesia, gives significant attention to CCR Service Committees at various levels and briefly the term ‘baptism in the Holy Spirit’. The 1995 The Renewal of Christian Lifewas a revision of the 1983 Pastoral Guidelines,is particularly addressed to Indonesian CCR and speaks of issues among which are ‘baptism in the Holy Spirit’, praying in tongues, and Service Committees. These 1993 and 1995 documents will be reviewed since they speak, although briefly, about the issue of ‘baptism in the Holy Spirit’. This article is a critical comment on the documents and recommends their  need for revision.
INDAHNYA PANGGILAN TUHAN : Butir-butir Refleksi Surat Apostolik Paus Fransiskus dalam Tahun Hidup Bakti Situmorang, Sihol
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.863

Abstract

Tak bisa dipungkiri bahwa tarekat religius atau hidup bakti adalah harta yang tak tergantikan bagi Gereja. Kehadiran dan sumbangannya sungguh telah mewarnai dan menghiasi Gereja dan perutusannya sepanjang masa. Kaum religius laksana garda depan bagi karya misioner Gereja lewat karya pastoral, pendidikan, sosial maupun kesehatan. Kesadaran akan sumbangan besar kaum religius inilah kiranya yang mendorong pemimpin Gereja senantiasa memberi dukungan kepada hidup bakti dengan menerbitkan sejumlah dokumen penting, khususnya sejak Konsili Vatikan II. Gereja berharap bahwa kaum religus berbuah lebih subur lagi untuk memperlihatkan keindahan, kesuburan dan kesempurnaan Kerajaan Allah. Paus Fransiskus menetapkan tahun 2015sebagai Tahun Hidup Bakti sebagai suatu ajakan untuk semakin menghargai sumbangan karisma dan kesaksian kaum religius. Tahun ini menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus kesempatan untuk berefleksi bagi tarekat hidup bakti secara khusus dan bagi seluruh Gereja secara umum.Dengan demikian tugas perutusan yang diterima dari Sang Misionaris Agung lebih berbuah lagi.
ECONOMIC TRINITY AND IMMANENT TRINITY Revisiting the Basic Axiom of Karl Rahner Janggat, Hilarius
LOGOS Vol 10 No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i2.879

Abstract

Karl Rahner memberikan sumbangan besar bagi revitalisasi diskursus tentang Trinitas pada abad ke-20 hingga abad ini. Revitalisasi itu dipercik oleh aksioma dasarnya: “Trinitas ekonomik adalah Trinitas imanen, dan Trinitas imanen adalah Trinitas ekonomik”. Singkatnya, “Trinitas ekonomik adalah Trinitas imanen, dan sebaliknya”. Yang dimaksud  dengan Trinitas ekonomik ialah Trinitas yang mengkomunikasikan  dirinya dalam misi keselamatan Yesus Kristus dan dalam pengudusanRoh Kudus. Sedangkan Trinitas imanen ialah Trinitas di dalam dirinya sendiri yang absolut dan transenden, independen dari dunia ciptaan dan kebutuhannya. Pernyataan identitas Trinitas ekonomik (Bapa, Putra dan Roh Kudus) koresponden dengan Trinitas imanen. Itu berarti tidak ada dua Trinitas. Trinitas tetap satu. Penjaminnya ialah inkarnasi Putra Allah. Tanpa inkarnasi, kita tidak tahu apa-apa tentang Trinitas. Bagian pertama aksioma itu mengacu kepada Kristologi, sedangkan bagian kedua kepada Trinitas. Teologi modern lebih mempertahankan kesatuan antara Kristologi dan Trinitas. Itulah sebabnya kita tidak dapat mereduksikan Trinitas imanen kepada Trinitas ekonomik atau menghilangkan bagian kedua dari aksioma dasar itu. Kristologi dan Trinitas salingberhubungan, tidak terpisahkan.  
SIKAP JUJUR MENDASARI TANGGUNG JAWAB Nadeak, Largus
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1038

Abstract

“Tidak ada orang yang tidak membantah jika seorang dalam pusaran kasus”, demikian komentar Mahfud MD ketika dirut Asabri membantah bahwa tidak ada korupsi di Asuransi ini. Ungkapan Ibu guru bahasa Inggris saya juga meyakinkan bahwa orang Indonesia terbiasa berdalih. Pilihan berdalih merupakan tindakan tidak jujur dan berentetan dengan ketidaksediaan orang menghadapi dan menerima konsekuensi tindakan, atau tidak mau bertanggung jawab. Tulisan ini menjelaskan bahwa satu sikap yang sangat hakiki yang perlu dilatih dan dibiasakan agar orang bertanggung jawab adalah sikap jujur. Sikap ini tampak dalam pilihan menyatakan kenyataan yang sebenarnya sekaligus membentuk orang berintegritas, yaitu mewujudnyatakan apa yang dikatakan. Sikap ini akan mengoptimalkan kebaikan serta mengakui dan memperbaiki kesalahan. Tanggung jawab personal dijamin oleh keujuran personal yang memancar dari hati nurani yang kuat yang diterangi oleh sinar ilahi dalam iman. Kejujuran personal hendaknya ditopang oleh kolektivitas yang bermutu yang melindungi kebenaran. Kebersamaan jujur dan bertanggung jawab menjadi pelaku dan sekaligus kondisi agar terjadi kedamaian sejati dan kesejahteraan bersama (bonum commune). Kebersamaan beriman harus kuat menghayati pesan Allah, “Orang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi penghianat dirusak oleh kecurangannya” (Amsal 11, 3).
PEDULI EKOLOGI ALA FRANSISKUS ASISI Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1317

Abstract

Kepedulian Fransiskus terhadap sesama manusia, sesama makhluk ciptaan dan lingkungan alam berakar pada relasinya dengan Allah Pencipta. Ia melihat dirinya, segala makhluk dan lingkungan alam sebagai sama-sama atau sesama ciptaan yang berasal dari satu asal, yaitu Allah Pencipta semesta alam. Oleh karena itu, semua makhluk ciptaan dipandang, diperlakukan dan dicintainya sebagai saudara dan saudari. Mengapa Fransiskus bersikap demikian? Ia memandang alam semesta dan segala isinya bukan terutama dari segi kegunaannya demi pemenuhan kebutuhan dan peningkatan mutu hidup manusia, tetapi lebih pada nilai yang ada dalam dirinya sendiri dan arti simbolis sakramentalnya. Keberadaan setiap makhluk bukan saja karena bermanfaat bagi manusia, tetapi juga karena memiliki nilai dalam dirinya sendiri dan menjadi tanda yang menghadirkan Allah. Setiap makhluk pun memiliki kesamaan, yakni sama-sama sebagai ciptaan Allah, sehingga semuanya sederajat dan Fransiskus menyapanya dengan sebutan saudara-saudari. Madah Gita Sang Surya yang digubah dua bulan menjelang kematiannya, menyingkapkan kedekatan yang begitu mendalam Fransiskus dengan alam dan segala makhluk ciptaan.
MELANGKAH KE DALAM DUNIA MISTIKNYA WILIAM JAMES Maurenis, Andreas
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i2.874

Abstract

Mystical experience has become a new discourse and has been resounded in the midst of our world which has lost the feel of its religiosity due to modernism and secularism. Though modernism gives advance in human life but it is undeniable that somehow it affects to the very core of human thirst for a deepest spiritual growth and improvment. So, in this part William James has become one of the most known philosophers in nineteen century and in the same time as a psychologist who tries to bring back the mystcal experience as a vessel for every individual to find the true meaning of their spirituality need. James is going to re-present this encountered-experience with the transcendent reality into the midst of human being’s world day to day. By deepest reflection of knowledge, James tries to understand the mystical experience by giving the comparison of mystical experience with some psychology aspect. In other hand, he favors to let people know how the rasionalism deals with this kind of spiritual encounters. And he explains too, how the mystical experience comes to human’s life. Further, James also gives the understanding of mysticalexperience as far as it useful for the personal growth and the growth of social relationship in human being’s life.  
KEBUDAYAAN BUKAN HANYA SEKEDAR ADAT-ISTIADAT Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 13 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i1.869

Abstract

Dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang kebudayaan sering dimengerti sebagai adat-istiadat suku bangsa tertentu atau kesenian daerah suku bangsa tertentu.  Di sisi lain jika membaca tulisan-tulisan tentang kebudayaan, kita akan menemukan bermacam-macam definisi kebudayaan dan argumentasi-argumentasinya mengapa kebudayaan didefinisikan seperti itu. Tulisan ini mengangkat beberapa aspek yang biasanya dibicarakan para ahli jika mereka melukiskan kebudayaan.
DISKURSUS AGAMA DALAM RUANG PUBLIK MENURUT JÜRGEN HABERMAS Gunawan, Leo Agung Srie; Bangun, Nathanio Chris Maranatha
LOGOS Vol 16 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v16i2.1028

Abstract

Today, the role of religions still exists in the public sphere. Habermas sees that religious citizens tend to give their aspirations in the public sphere in a destructive way. As a result, A religion is considered the cause of crime. Actually, It has a various positive benefits to be brought into the public sphere. Therefore, they can convey aspirations in a more appropriate way, namely through a religious discourse. The religious discourse is an act of discourse, that is a discussion with arguments to reach a rational consensus of the best arguments, in the realm of religion. It involves the religious, the secular, and the citizens. It also faces several challenges such as religious fundamentalism, religious privatization, and political religiofication, but it is very relevant to Indonesia, which has many religions and belief streams. Particularly, it is important to see how the relationship between religion and state in Indonesia in order to should be realized.