cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
LOGOS (Jurnal Filsafat - Teologi)
ISSN : 14125943     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Terbit 2 (dua) kali dalam setahun, Bulan januari dan Bulan Juli oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas . Majalah ini berorientasi pada Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini dimaksudkan sebagai media untuk mengangkat dan mengulas pengalaman manusia dan religius berdasarkan disiplin ilmu filsafat dan teologi serta ilmu-ilmu humaniora yang terkait dengannya.
Arjuna Subject : -
Articles 230 Documents
ALLAH MEMILIH BUMI MENJADI TEMPAT TINGGALNYA : Refleksi Ekologis Atas Peristiwa Natal Nadeak, Largus
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i2.871

Abstract

Perayaan Natal merupakan kesempatan bagi orang Kristen untuk merenungkan dan mengalami peristiwa inkarnasi ilahi. Allah menjadi manusia dan memilih bumi menjadi tempat tinggal-Nya. Bumi menjadi rumah bersama Allah Pencipta dengan manusia ciptaan dan ciptaan lain. Cara Fransiskus Assisi merayakan Natal yang melibatkan warga ekologis, menjadi inspirasi panggilan untuk orang beriman agar menjaga bumi rumah bersama dan melindungi penghuninya yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan ciptaan lain. Dengan melindungi bumi dan penghuninya, manusia menghormati Pencipta, dan ciptaan berperan sakramental mentransparansikan Sang Pencipta. Agar bumi menjadi rumah bersama yang menyegarkan, manusia dipanggil untuk melakukan tindakan konkret di tempat dan di waktu masing-masing.
MIX MARRIAGE (CANON 1124) The Ecumenical Spirit and Pastoral Approaches Pandego, Higianes Indro
LOGOS Vol 16 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v16i2.1030

Abstract

Mixed marriage on the canon 1124, the 1983 Code refers to the marriage between Catholic and non-Catholic persons, which means that both of the persons are baptized. So, it must be the Sacrament (see can. 1055 §2). The Second Vatican Council picked the view of the people of God up based on the dignity of baptism. Then the Council expressed the idea of (full) communion in which the Catholic Church and the other Churches and communities have a relationship. To it Thus, The Council fosters the ecumenical movement that develops the union between the Christians, more especially concerning mixed marriage.
AMANAH AGUNG TUHAN YESUS DALAM KEEMPAT INJIL DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMAHAMI INJIL, BUDAYA DAN PEWARTA INJIL Wardoyo, Gregorius Tri
LOGOS Vol 18 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i1.1175

Abstract

Injil Matius 28:16-20 kerap kali dijadikan dasar misi murid-murid Yesus di dunia ini. Ada bahaya misi disempitkan pada tindakan membaptis saja. Melalui studi intertekstual yakni dengan membandingkan Injil Matius dengan ketiga Injil lainnya, ditemukan bahwa misi tidak sekadar tindakan  membaptis  tetapi lebih-lebih  mewartakan  Injil yang  berisi  bahwa Allah  senantiasa menyertai umat manusia dan bahwa Allah yang sama menawarkan kepada umat manusia pertobatan dan pengampunan dosa dari Allah. Inilah kabar sukacita yang hendaknya diwartakan oleh pewarta Injil dalam budaya dimana mereka hidup.
MENGENANGKAN DEKRIT PERFECTAE CARITATIS TENTANG PEMBAHARUAN DAN PENYESUAIAN HIDUP RELIGIUS Sinaga, Raidin
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.866

Abstract

Yesus Kristus adalah pusat sejarah keselamatan, Dia juga puncaknya. Gereja berada dalam fase “inter tempora” , antara kedatangan pertama (Parousia I) dan yang kedua (Parousia II). Gereja “ada dalam dan bersama dunia”, tetapi sekaligus “tidak berasal dari” dunia. Keberadaan Gereja dalam sejarah manusia dan dunia, yang juga diyakini merupakan bagian dari sejarah keselamatan, menyadarkan Gereja akan “keduniawian”-nya. Kesadaran ini mendorong Gereja untuk mengadakan pertobatan dan pembaharuan diri. Dalam alur pemikiran ini Gereja dilihat bukan lagi sesuatu yang sempurna dan tetap mampu menjadi jawaban untuk manusia dalam setiap zaman. Sebaliknya, Gereja harus selalu memperbaharui diri supaya tetap aktual dan efektif dalam mewahyukan Allah dan menghadirkan Kerajaan-Nya di tengah manusia dan dunia yang menyejarah dan selalu mengalami perubahan. Gereja ada untuk misi perutusan, yakni demi keselamatan manusia dan dunia. Dari terminologi Yunani yang digunakan untuk menggambarkan Gereja, fungsi utama atau untuk apa Gereja ada menjadi sangat jelas. Kata yang dipakai ialah ekklesia (ek-kaleo) yang berarti “dipanggil keluar untuk berkumpul”. Panggilan ini bertujuan bukan demi Gereja sendiri tetapi demi misi perutusan. Gereja ada bukan untuk dirinya sendiri tetapi demi pelayanan umat manusia dan untuk membawa kabar keselamatan bagi seluruh dunia.
UNIVERSALITAS KESELAMATAN DI SION-IBU : Sebuah Tafsiran atas Mzm 87 Sinaga, Norbeth
LOGOS Vol 10 No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i1.882

Abstract

Lord has chosen dan determined Zion-Jerusalem as his city. The election and the determination of Zion as a city of God was realized by building of the temple of God on it. Consecutively, Zion has a peculiarty in comparison with the other cities which arounding it. The peculiarity of Zion as a city of God be found at its determination as a place for doing a worship in the faith of God. Whoever believe in God and calling His Holy Name in Zion will be a new born in Zion as a mother, and a participant in program of salvation made of God. Either Israel or another nations who believe in God will rejoice enjoying a salvation in Zion-Mother.
IMAMAT DAN KENABIAN Sinaga, Raidin
LOGOS Vol 12 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i1.861

Abstract

Pada hakekatnya imamat tidak bisa dipisahkan dari kenabian. Hal ini sangat jelas untuk para bapak Konsili Vatikan II yang diungkapkan dalam Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam: “ Tuhan Yesus, ‘yang oleh Bapa dikuduskan dan diutus ke dunia’ (Yoh 10: 36) mengikutsertakan seluruh Tubuh mistik-Nya dalam pengurapan Roh yang diterima-Nya sendiri” (PO, 2). Dengan kata lain, sudah sejak awal mula, dalam “benak Allah”, kesatuan itu ada dan harus dijaga dan dipertahankan. Dalam perjalanan Sejarah Keselamatan hal ini tidak langsung jelas, dibutuhkan proses yang panjang untuk sampai pada pemahaman yang benar. Hal itu nampak dari pemahaman tentang peran dan makna nabi dan imam dalam Perjanjian Lama sampai dengan paham dan praktek Gereja sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II.
TUGAS PERUTUSAN KELUARGA KRISTEN DALAM PENDIDIKAN MORAL ANAK : Menurut Amanat Apostolik Familiaris Consortio Moa, Antonius
LOGOS Vol 10 No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i2.877

Abstract

Family is the unity of life founded with love.  As the unity of person, family becomes the heart and the center of love’s actualization and “the prime place for person’s humanization. In this identity, Christian families find its essential, central, and irreplaceable rule in the mission and responsibility to become moral educator for their children. This duty is the result of dynamic and existential improvement from what is essential in the family itself. For this reason, every Christian family findsin itself the irrevocable call which determined the uniqueness of their dignity and responsibility as moral educator for their children. Now, in the reality of modern civilization, this mission becomes more important and urgent because people continually fight and struggle to live the moral values.
PEDULI EKOLOGI ALA YESUS DAN PAULUS Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1036

Abstract

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru sikap Yesus yang peduli ekologi dapat ditemukan dalam pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah. Visi-misi hidup Yesus adalah perjuangan demi terwujudnya Kerajaan Allah. Penginjil Yohanes menegaskan bahwa Yesus datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang sejak awal mula penciptaan alam semesta menghendaki keharmonian dan keutuhan hidup seluruh ciptaan-Nya, sehingga semuanya diciptakan baik adanya bahkan amat baik (Yoh 5:19,30; 8:26,28,38; Kej 1:10,12,18,21,25,31). Berkaitan dengan keutuhan ciptaan dan harmoni alam, Yesus mewartakan Kerajaan Allah itu lewat perumpamaan-perumpamaan alamiah. Setiap perumpamaan berkenaan dengan kehidupan manusia maupun alam ciptaan yang mengarah pada perbaikan dan pemulihan, keutuhan dan keselamatan. Sebagai contoh Penginjil Matius memaparkan tentang matahari dan hujan yang diperuntukkan bagi orang benar maupun jahat (Mat 5:45) sebagai gambaran kasih Allah yang tanpa pandang bulu dan terbuka untuk semua lapisan dengan bobot yang sama. Penginjil Markus pun menyajikan perumpamaan alamiah, seperti benih yang tumbuh (Mrk 4:26-29), biji sesawi (Mrk 4:30-34) dan pohon Ara (Mrk 13:24-32). Penginjil Lukas juga berbicara tentang perumpamaan yang memakai unsur-unsur alami, seperti awan, hujan, angin dan matahari (Luk 12:54-55). Menurut Paulus, Yesus Kristus itulah kebijaksanaan Allah yang dimuliakan karena pencurahan darah-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya telah membawa pendamaian dan pemulihan keutuhan seluruh alam semesta (Kol 1:15-20). Dengan demikian oleh, untuk, dalam dan dengan Yesus rahasia karya penyelamatan Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya telah dinyatakan (Ef 1:9-10). Sebagaimana dalam Kol 1:15-20 karya penyelamatan Allah bagi jemaat terpilih dan seluruh ciptaan terjadi oleh dan menyatu dengan Kristus sebagai Kepala, demikian halnya dalam Ef 1:9-10, bahkan melangkah lebih jauh lagi yakni jemaat dikutsertakan dalam misi penyelamatan Kristus (Ef 3:8-11)
STRUKTUR RASA ADORASI Gunawan, Leo Agung Srie
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1313

Abstract

The true religious feeling is rooted in adoration. The taste of adoration is derived from the experience of God which indeed shake one’s soul. On one side, the experience of God leads to the recognition of God as the Great Creator of the universe. In this case, God is experienced as the everything. On the other side, it causes that human being encounters the self-recognition as a helpless creature. One feels as a nothingness of creature here. The feeling of adoration, therefore, has a religious structure in human soul that has a direction to God. As the structure of soul, the adoration is likely to be subjective which means that the subject experiences God (the world of ideas) and at the same time, it is objective that God is experienced by the subject (the real world). The object of the experience of adoration is, particularly, transcendent. Finally, the sense of adoration is needed to revive the living of faith for the believers.
MISERICORDIAE VULTUS : Menelisik Bulla Pemakluman Yubileum Luar Biasa Kerahiman Situmorang, Sihol
LOGOS Vol 13 No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v13i2.872

Abstract

Tatkala dunia diterpa oleh berbagai kekerasan yang mengakibatkan rentetan tragedi dan penderitaan, Paus Fransiskus menetapkan Yubileum Luar Biasa Kerahiman. Paus yakin, bahwa kekerasan hanya dapat diretas bila manusia menjadikan belas kasih sebagai spirit dan landasan hidup, dalam berpikir maupun bertindak. Masa depan yang lebih baik, damai dan bersaudara dapat dicapai bila manusia belajar hidup menurut citranya yang sejati, yakni Allah, yang telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Citra Allah tidak lain adalah belas kasih. Seruan untuk berbelas kasih seperti Bapa merupakan ajakan untuk menghidupi jati diri manusia seperti tatkala ia diciptakan. Oleh dosa, manusia kehilangan gambaran diri Allah dalam dirinya. Yesus datang dan menjadi manusia untuk memulihkan citra manusia dan mewujudkan belas kasih Allah. Umat beriman, dengan bercermin pada Yesus dan merenungkan Injil, diajak menjadi insan yang berberlas kasih dan murah hati, sebagaimana tertuang dalam motto yubileum luar biasa ini, yakni Misericordes sicut Pater.

Page 11 of 23 | Total Record : 230