LOGOS (Jurnal Filsafat - Teologi)
Terbit 2 (dua) kali dalam setahun, Bulan januari dan Bulan Juli oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas . Majalah ini berorientasi pada Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini dimaksudkan sebagai media untuk mengangkat dan mengulas pengalaman manusia dan religius berdasarkan disiplin ilmu filsafat dan teologi serta ilmu-ilmu humaniora yang terkait dengannya.
Articles
230 Documents
KRITIK RELIGIUS QOHELET (Pkh 4: 17-5: 6) (Semio-structural Approach)
Isaak, Servulus
LOGOS Vol 3 No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (380.296 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v3i2.389
Since last few decades biblical scholars introduce the so called ‘synchronic reading of the text’ as a method of interpretation. Some tend to call it holistic interpretation, others prefer to call it ‘aesthetic approach’, assuming that the Bible is a sort of artistry work based on the linguistic principles and philosophy of language. This approach goes to various directions such as narrative analysis, structuralism and a more simple structural analysis. Without undermining the validity of historic-critical method with its various steps of interpretation, this article aims to analyze Qoh 4: 17-5: 6 applying to some extend the semio-structural analysis. Scholars are debating on the notion of various terminologies applied in this approach. Hence, we will focus only on some basic linguistic concepts, without going too far into the complicated analysis of semiotic quadratic configuration, which would go beyond our purpose. Syntactic, argument, paradigmatic and semantic analysis in this article lead to highlight the universal semantic of the text. “Fear God!†is the key and the important capstone to understand the whole book of Qohelet, particularly the universal semantic of the pericope under analysis.
MANTAN ORDO KAPUSIN PROVINSI MEDAN DARI TAHUN 2000 HINGGA 2012: KAUSA PENGUNDURAN DIRI
Simanullang, Gonti
LOGOS Vol 14 No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (251.977 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v14i1.405
It is an undeniable fact that the number of young Capuchin candidates whohave not been ordained priests from 2000 to 2012 resign, at their own choice anddecision, from the Capuchin Order of Medan Province. This fact raises thequestion “Why did they withdraw from the Capuchin Order of the Province ofMedan?†To answer this question we used exploratory research and methods ofexit interview and exit questionary. It was found that there is a causalrelationship between the increasingly firm belief in the inability to live celibateand the reason for withdrawing from the Capuchin Order of the Province ofMedan. This finding is useful for finding ways that can help the CapuchinOrder of the Province of Medan be able to monitor early gifts of celibacy orfamily life in candidates, such as when candidates are still in postulancy ornovitiate.
JIWA MERDEKA DALAM MASYARAKAT YANG SERBA ATURAN
Nadeak, Largus
LOGOS Vol 7 No 1 (2009): Januari 2009
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (152.467 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v7i1.262
Masyarakat dewasa ini berada dalam kesulitan untuk mengadakan pilihan, karena terperangkap dalam 2 arus kecenderungan yang deras, yang keduanya bermuara pada “waduk†yang sama yaitu legalisasi. Legalisasi tersebut muncul dalam dua wajah yaitu legalisasi formal dan legalisasi immoral. Dalam situasi masyarakat demikian jiwa merdeka yang dituntun oleh Roh Allah harus menyala sehingga kebebasan sejati anak-anak Allah masih berlangsung secara terhormat. Jiwa merdeka yang dimiliki Musa menjadi inspirasi bagi umat beriman. Orang Israel yang dipimpin oleh Musa bisa bebas dari keadaan sulit, ketika terperangkap di antara Laut Merah yang terbentang luas di depan dan pengejaran serdadu Firaun yang kuat dan berjumlah besar di belakang mereka. Pengalaman Musa ini menggariskan dengan tegas bahwa, human possibility is rooted in divine necessity, and human necessity is rooted in divine possibility.
PEMEKARAN PERAN MANUSIA DALAM PENINGKATAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DI BIDANG PENDIDIKAN
Tambunan, Frietz R.
LOGOS Vol 3 No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (292.606 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v3i1.393
The implementation of regional autonomy after the end of the New Order Regime in Indonesia has become the focus of many discussions nowadays. This new spirit has affected many sectors in the society, including education. One of the elements of the regional autonomy is the demand for decentralisation in education. That means the distribution of the power from the center to the pheriphery. Needless to say, decentralisation is the substance of every educational reform but this demand has become greater due to the new demand of the implementation of the Total Quality Management in education field. Within this perspective, this paper will discuss the implementation of the TQM in education which in its very substance means the distribution of some power from the higher authority to the lower one and in the second place the empowering of the development of the human resources in the shoop-floor level. As happens in the industrial sector, the quality of product much depends on the quality of the workers who involve in the process of production. The quality of the education result – the educated and skilled person – depends on the quality of those who are involved in the educational process.
KASIH YESUS KRISTUS DI SALIB: Jawaban Tuntas atas Misteri Penderitaan Manusia
Ara, Alfonsus
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (327.121 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.561
Penderitaan berasal dari kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan yang terbatas dan dosa-dosa yang dilakukan manusia sendiri. Namun, penderitaan itu dikalahkan oleh kasih Yesus di salib. Dalam “kasih†Yesus, manusia akan menemukan dan memahami cakupan makna fundamental dan definitif dari penderitaan itu sendiri. Karena kasih, Dia memberikan rela tinggal bersama manusia yang menderita, memikul penderitaan manusia serta wafat di salib demi keselamatan manusia. Gereja dipanggil untuk masuk ke dalam kehidupan Yesus yang menderita dan wafat di salib karena kasih-Nya demi keselamatan umat manusia. Hanya dengan cara demikian, Gereja mampu menjelaskan dan bisa menjadi jalan keselamatan bagi orang-orang yang belum mengenal dan mengimani Yesus Kristus sebagai Allah dan Penebus
DOA Jalan Menuju Kontemplasi
Situmorang, Sihol
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (432.331 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.353
Doa temasuk bagian integral, pusat dan essensi setiap agama. Sebagai homo religiosus, manusia memiliki tradisi menyangkut pemahaman, penghayatan dan cara berdoa. Di balik aktivitas berdoa, manusia menyadari bahwa kehidupan di dunia ini tidak sepenuhnya berada dalam kontrolnya. Manusia tergantung kepada YANG LAIN, yang oleh Rudolf Otto disebut mysterium tremendum et fascinosum (Misteri yang menggetarkan dan sekaligus menawan). Dalam tradisi Kristen, doa berakar dalam Kitab Suci. Perjanjian Baru, khususnya Injil, menceritakan Yesus sebagai pendoa. Secara khusus dituliskan momen istimewa ketika Yesus berdoa. Ia memilih tempat yang sunyi dan berdoa sepanjang malam. Yesus juga mengkritisi isi dan cara berdoa. Ia mengajarkan doa Bapa Kami yang menjadi salah satu doa pokok Gereja. Relasi personal dengan Allah Bapa-Nya mendasari setiap doa Yesus. Dalam artikel ini dipaparkan beberapa unsur penting dalam doa, yakni apa itu berdoa, cobaan saat berdoa, waktu dan sikap doa, cara berdoa dan menjadi doa. Gagasan tersebut diramu dari pemikiran sejumlah mistikus Kristen awal dan pandangan Bapa-bapa Gereja.
REALITY AND ITS HIERARCHY "Polanyi’s Critics on Material Reductionism"
Tinambunan, Laurentius
LOGOS Vol 1 No 1 (2002): Januari 2002
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.036 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v1i1.213
Untuk menjawab kecenderungan ilmu-ilmu modern yang menciutkansegala sesuatu kepada hal-hal yang material, Michael Polanyimenawarkan sebuah alternatif pemahaman realitas. Menurut Polanyi, adahirarki kenyataan. Suatu realitas dari tingkat yang lebih tinggi tidak dapatdireduksi pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya, kesadaran tidak dapatdijelaskan dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang terjadi pada otak.Pengetahuan menyeluruh tentang setiap bagian dari suatu kenyataan,tidak dapat menjelaskan keseluruhan kenyataan tersebut. Dalam cahayapemahaman kenyataan seperti itu Polanyi membela adanya realitasmetafisis dan spiritual yang harus diakui bila martabat manusia ingindihormati.
MELACAK PERAN AGAMA DALAM RUANG PUBLIK
Gora, Redemptus B.
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (375.933 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.562
Pemikiran Jurgen Habermas tentang masyarakat postsekular harus dimengerti juga dalam kaitannya dengan kebangkitan agama. Dalam masyarakat sekular, lewat proses modernisasi, agama didomestifikasi. Kini dalam zaman postsekular agama bukannya lenyap, sebaliknya justeru menunjukkan potensi semantiknya. Melihat peristiwa itu, Jurgen Habermas meyakini bahwa peran agama dalam ruang publik suatu negara hukum demokratis perlu diperhitungkan. Agama tidak cukup dipandang sebagai artefak kebudayaan yang usang. Penulis berusaha menguraikan bagaimana Habermas menimbang eksistensi dan peran agama itu dalam ruang publik
MERAYAKAN Å abbÄt, HARI SABAT, TAHUN SABAT & TAHUN YOBEL Inspirasi Biblis Peduli Ekologi
Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (627.256 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.563
Ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi telah memajukan perababan dan memberi kenyamanan hidup manusia. Di sisi lain keduanya telah menyulut dan memicu kerakusan manusia untuk mengeksploitasi alam dan melahirkan krisis ekologi. Masalah ekologis ini merupakan dampak negatif dari penggunaan ilmu dan teknologi yang tidak tepat guna. Merayakan Hari Sabat, Tahun Sabat dan Tahun Yobel sebagaimana telah dipraktekkan bangsa Israel dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk peduli ekologi. Å abbÄt Allah (Kej 2:1-3) yang menjadi mahkota dari karya penciptaan dalam Kej 1:1-2:4a dan perkembangan selanjutnya dalam Kel 20:8-11 bukan semata-mata untuk keperluan-Nya sendiri, tetapi sebagai model bagi manusia yang harus menahan diri dari kerjanya dan membatasi diri dari sepak terjang kehidupannya. Dengan merayakan Å¡abbÄt manusia bukan saja beristirahat dari kerja tetapi juga beristirahat untuk menikmati sukacita atas segala pemberian Allah dan beribadat kepada-Nya. Norma-norma tentang Hari Sabat, Tahun Sabat dan Tahun Yobel menyajikan pengistirahatan, pembebasan dan pemulihan dari tindakan-tindakan yang eksploitatif baik terhadap tanah, orang dan budak maupun binatang, sehingga orang yang merayakannya dapat terinspirasi untuk peduli ekologi
MANIFESTASI THE SACRED PADA MASYARAKAT INDONESIA: Adisi Substitusi dan Sinkretisasi
Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol 16 No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : UNIKA Santo Thomas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (415.555 KB)
|
DOI: 10.54367/logos.v16i1.564
Selain yang diajarkan dalam agama-agama resmi, setiap suku bangsa Indonesia juga memiliki keyakinan-keyakinan asli terkait dengan apa saja yang dianggap sakral (the sacred). Lebih dari itu adat-istiadat yang ditampakkan dalam upacara-upacara tradisional bisa dengan mudah dicari hubungannya dengan apa yang dianggap sakral itu. Artikel ini akan menampilkan beberapa manifestasi yang sakral dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya bisa merupakan substitusi (penggantian), adisi (tambahan) dan sinkretisasi (penyesuaian, penyelarasan). Untuk memperluas sudut pandang terhadap fenomena itu, dalam artikel ini akan dihadirkan gagasan-gagasan antropolog dan sosiolog yang mendalami masalah keagamaan.