cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
LOGOS (Jurnal Filsafat - Teologi)
ISSN : 14125943     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Terbit 2 (dua) kali dalam setahun, Bulan januari dan Bulan Juli oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas . Majalah ini berorientasi pada Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini dimaksudkan sebagai media untuk mengangkat dan mengulas pengalaman manusia dan religius berdasarkan disiplin ilmu filsafat dan teologi serta ilmu-ilmu humaniora yang terkait dengannya.
Arjuna Subject : -
Articles 230 Documents
DIALOG ANTARA TEOLOGI DAN FILSAFAT Perspektif Teologi Sistematik Sunarko, Adrianus
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.31 KB) | DOI: 10.54367/logos.v17i2.806

Abstract

Pengalaman mengajar teologi selama beberapa tahun menunjukkan adanya kesulitan yang dihadapi banyak mahasiswa dalam melihat relasi antara filsafat dan teologi. Susah payah mempelajari filsafat seringkali dikeluhkan karena tidak dilihat kaitan dan gunanya untuk teologi. Filsafat kadang bahkan dilihat sebagai sesuatu yang mempersulit orang untuk masuk dalam refleksi teologis. Dalam artikel ini berusaha ditunjukkan, bahwa dialog antara filsafat dan teologi sudah memiliki sejarah yang panjang. Melalui contoh-contoh yang konkret hendak diperlihatkan, bahwa bagi teologi dialog dengan filsafat dapat menghasilkan buah yang positif. Untuk itu baik filsafat maupun teologi perlu dijalankan secara konsisten, sesuai dengan prinsip-prinsip metodologis masingmasing ilmu.
GEREJA UMAT ALLAH SEBAGAI KOMUNIO PARTISIPATIF Refleksi Yuridis-Pastoral atas KHK 1983, Kann.204-207 Pandego, Higianes Indro
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.275 KB) | DOI: 10.54367/logos.v17i2.807

Abstract

The sacrament of baptism makes a person united with Christ and made a member of God’s People. God’s People in the Codex Pius Benedict (Codex 1917) are understood based on ordained and unbaptized. This concept gave rise to a pyramid image of the God’s People. On the contrary, the Codex 1983, which was influenced by the views of the Second Vatican Council, see the People of God in common baptism. Based on the baptism, they assumed the general priesthood duties of Jesus Christ according to their individual. The special conditions were bornf for those who received ordination and thus became sacred ministers who exercised the priesthood of office. Both of the general priesthood and the office of priesthood, are carried out in the communion of the Church. In the community spirit, each member of God’s People participates in the mission of Church received from Christ.
PANGGILAN KRISTIANI, GEREJA, FILSAFAT DAN PANCASILA Suseno, Franz Magnis
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.874 KB) | DOI: 10.54367/logos.v17i2.803

Abstract

In this paper the author reflects on the vocation of Catholic places for the study of philosophy and theology. Believing the gospel, Christians are called to give witness to its redeeming power. But almost from the very beginning Christians felt the need to understand what they believe. From this need rose theology and philosophy. Protestantism, enlightenment and secularism posed new challenges. Aware of them the Catholic Church, since the Council of Trent, obliges her priests to study philosophy and theology. The author then suggests that not only future priests, but also religious sisters, brothers and lay people should get a solid philosophical and theological formation. Our teaching of philosophy should be open also to non-Catholics and non-Christians. Our philosophical and theological institutions must not be inward looking, but enter into the intellectual discourse of the whole society. Turning to Indonesia the author shows that state philosophy Pancasila poses an intellectual challenge for Catholic philosophers they should take up. As a closing note the author points to new challenges the Catholic Church faces after the Second Vatican Council. Indonesian Catholic philosophers and theologians should take an active part in facing them.
REKONSILIASI KOSMOLOGIS Antara Teorema Penciptaan dan Teori Evolusi Gunawan, Leo Agung Srie
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.711 KB) | DOI: 10.54367/logos.v17i2.804

Abstract

The problem of the universe having a great mystery encloses the big question about its origin. To answer the origin of universe, generally, there are two approaches, namely faith and science. The main question has to be replied: “What do the differences and the similarity of them?” The approach of faith bases on the inquiry of “who causes the existence of the universe”. This approach states that the origin of universe was created by God and hence, it was formed by God from a nothingness (creatio ex nihilo). This is known as the theorem of creation. Furthermore, the scientific approach is grounded on the research of “how the universe was formed in the beginning”. This oncoming being explained by the Big Bang Theory, which is continued by the Big Crunch Theory, asserts that the origin of universe came from the prime matter which exploded incredibly in a such a way that the formation process of the universe took place (the singularity). This is well-known as the theory of evolution (the cosmological evolution). In conclusion, the scientific approach explaining the process of creation and the faith one answering the actor of it are complementary.
BELAS KASIH & KEADILAN ALLAH (Kel 34:5-7) Stanislaus, Surip; Saragih, Arie R. Oktavianus
LOGOS Vol 17 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.174 KB) | DOI: 10.54367/logos.v17i2.805

Abstract

Belaskasih Allah sering dimengerti keliru terutama dalam hubungannya dengan keadilan-Nya. Kalau Allah tetap menghukum setiap kesalahan manusia, lalu di mana belaskasih-Nya? Pewahyuan nama Allah dalam Kel 34:57  mengungkapkan bahwa hakikat Allah adalah belaskasih sekaligus adil. Belaskasih Allah secara eksplisit nyata dalam ungkapan “penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa.” Dalam belaskasih itu Allah serentak menyatakan diri-Nya sebagai yang “tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” Tindakan Allah yang tetap menghukum orang yang bersalah adalah perwujudan keadilan-Nya. Belaskasih Allah tidak meniadakan keadilan-Nya. Allah dikatakan adil kalau Ia mengganjar orang yang benar dan menghukum orang yang salah. Ganjaran Allah itu tercurah dalam berkat dan hukuman-Nya dalam kutuk/kemalangan. Namun bagi bangsa Israel, hukuman Allah sering kali bukan semata hukuman demi hukuman, melainkan hukuman itu bertujuan untuk mendidik, menegur dan menyucikan mereka. Dalam hal ini hukuman menjadi sarana karya penyelamatan Allah sehingga tak bertentangan dengan belaskasih-Nya. Oleh karena itu, belaskasih Allah jangan disalahgunakan untuk kompromi terhadap dosa dan melanggar etos Kristiani. Kita harus mengajarkan belaskasih Allah tanpa meniadakan keadilan-Nya, agar belaskasih Allah itu tidak ditafsirkan sebagai pembiaran dan kesempatan bagi manusia untuk berbuat apa saja. Belaskasih Allah harus dipandang sebagai undangan dan kesempatan bagi manusia untuk bertobat demi keselamatannya.
“KELUARGA YANG RAPUH” MENDIDIK MORAL ANAK DI DALAM BUDAYA POSTMODERNISME Moa, Antonius
LOGOS Vol 12 No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i2.864

Abstract

Nowdays, family as the union of persons are in fragile condition and in crisis. These things are happening as the effect of a strong cultural changing: from modernity to a fragile culture called postmodernity. What to do? How families handle this crisis? As the main actor in the mission and responsibility for children's moral educations, families are facing great challenges. To be able to do this mission and face this problem, families have to renew themselves continuously, find and create a model for their moral education for their children which comes from realities faced in particular time. It means, the families must know their reality because each family has different reality. Another  invitation is to find way to integrate the values from modern and post-modern culture. Whith this solution hopefuly the crisis in the families will be lessen or solve in proper way. 
KEMBALI MENJADI TANAH : Satu Refleksi Ekologis Prapaska Nadeak, Largus
LOGOS Vol 10 No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v10i1.880

Abstract

Fenomena manusia yang terasing dari tanah, terasing dari bumi, terasing dari Allah bisa kita amanti di data ekologis dan perilaku manusia dewasa ini. Di  beberapa tempat tanah jadi tandus sulit hidup tanam-tanaman kerena sudah rusak oleh pestisida dan pupuk kimia; di beberapa kota dan daerah banjir makin sering karena hutan dan air tanah tidak dikelola dengan baik; di bumi manusia tidak peduli dengan tata ciptaan yang dikehendaki Allah Pencipta. Pandangan manusia atas statusnya yang bukan bagian bumi, dan tindakan yang berhubungan dengan pandangannya atas statusnya tersebut, turut memengaruhi keterasingan yang terjadi. Kembali menjadi tanah! Seruan ini yang disampaikan pada hari Rabu Abu, merupakan ajakan agar umat Kristen berubah dan bertobat, kembali menata hidup, kembali menata relasi dengan sesama dan dengan ciptaan lain di bumi, dan juga dengan Allah yang sudah memilih tinggal di bumi ini. Kembali menjadi tanah, merupakan proses perjalanan pengolahan tanah, pengolahan hidup sehingga manusia merasa damai sebagai tanah, dan bersama komunitas ciptaan Allah mengalami at home on earth.
“ORDINARIS WILAYAH” DALAM GEREJA LATIN Purba, Asrot
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1039

Abstract

Kata “Ordinaris Wilayah” sering digunakan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983. Siapakah yang dimaksud dengan istilah ini? Berdasarkan Kanon 134 KHK 1983, subyek yang termasuk Ordinaris Wilayah adalah Paus untuk seluruh Gereja, para pemimpin Gereja-gereja partikular, para pemimpin sementara Gereja-gereja partikular pada saat takhta Gereja partikular tersebut terhalang dan takhta lowong dan Vikaris Jenderal serta Vikaris Episkopal. Tulisan ini hendak menampilkan profil dari figur-figur di atas. Para Ordinaris Wilayah tersebut dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yakni: Ordinaris Wilayah Asli, Ordinaris Wilayah Sementara dan Ordinaris Wilayah Perwakilan.Ordinaris Wilayah Asli mencakup para pemimpin Gereja-gereja partikular, yang terdiri dari Uskup Diosesan, Vikaris Apostolik, Prefek Apostolik, Abas Teritorial dan Administrator dari wilayah gerejawi administrasi apostolik yang didirikan secara permanen. Ordinaris Wilayah Sementara terdiri dari Administrator Diosesan, Administrator Apostolik yang memimpin keuskupan pada saat takhta lowong dan para pemimpin sementara keuskupan pada saat takhta terhalang dan takhta lowong.Subyek Ordinaris Wilayah Perwakilan terdiri dari Vikaris Jenderal dan Vikaris Episkopal, menurut kompetensinya masing-masing
BERPARTISIPASI AKTIF BERINTERKULTURASI DI KENISCAYAAN MULTI KULTUR : Implementasi Ratio Formationis Ordinis Fratrum Capocinorum di Indonesia Nadeak, Largus
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1321

Abstract

Kemajuan teknologi komunikasi memudahkan manusia untuk mengenal satu bumi serta memelihara keragaman budaya dan agama yang ada di dalamnya agar kebersamaan bersaudara hidup dalam damai. Keragaman budaya (multikultur) sangat khas di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keniscayaan multikultur bisa menjadi ancaman kebersamaan kalau ada kelompok primordial sempit dan kelompok radikalisme destruktif yang ingin mengkoloni satu budaya dan masyarakat penghayatnya demi kepentingan politis dan kuasa. Sebaliknya keniscayaan multikultur akan menjadi rahmat indah “bepelangi” kalau masyarakat berpartisipasi aktif berinterkulturasi. Budaya perjumpaan akan bertumbuh sehingga setiap budaya memiliki jati nilai dan masyarakat penghayatnya memiliki jati diri. Ordo Kapusin penyebar kharisma persaudaraan dengan kesadaran tinggi mengajak semua saudara untuk aktif berpartisipasi berinterkulturasi secara internasional dan terutama secara nasional dan lokal. Usaha berinterkulturasi diwajibkan untuk dijabarkan dalam kurikulum dan program pendidikan di setiap daerah agar para saudara menjadi berkharisma dengan menggali kearifan lokal yang bersintese dengan nilai universal yang dihayati dan diserukan oleh Fransiskus dari Assisi penghayat Injil Tuhan Yesus Kristus.
BUDAYA-BUDAYA YANG BERPENGARUH TERHADAP TEOLOGI KRISTEN Ara, Alvonsus
LOGOS Vol 12 No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v12i1.860

Abstract

Setiap wawasan teologi kristiani tumbuh dan berkembang sesuai dengan pola pikir dan situasi sosial-politik yang hidup dalam konteks budaya dan zamannya. Apabila wawasan teologi didalami, maka patut ditegaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan teologi kristen sangat dipengaruhi oleh budaya Yahudi, budaya Yunani, budaya Romawi dan budaya kristiani sendiri. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dipaparkan secara khusus kekayaan dari masing-masing budaya yang sangatmenentukan isi teologi kristiani.

Page 9 of 23 | Total Record : 230