cover
Contact Name
Nurcahyo Widyodaru Saputro
Contact Email
nurcahyo.widyo@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
wagionohs4@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agrotek Indonesia
ISSN : 24778494     EISSN : 25802747     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrotek Indonesia Adalah jurnal ilmiah Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang yang mennyampaikan hasil-hasil penelitian dan informasi ilmiah di bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 145 Documents
Pengaruh Lama Waktu Inkubasi Dan Dosis Pupuk Organik Terhadap Perubahan Sifat Fisik Tanah Inceptisol di Jatinangor Sophia Dwiratna; Edy Suryadi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 2 No 2 (2017): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.96 KB) | DOI: 10.33661/jai.v2i2.1182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara dosis pupuk organik dan lama inkubasi terhadap sifat fisik tanah yaitu bobot isi (Bulk Density), kadar air, porositas, dan permeabilitas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan, yaitu lama waktu inkubasi dan dosis pupuk organik. Lama inkubasi terdiri dari 3 taraf, yaitu 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu dan dosis pupuk organik terdiri dari 4 taraf, yaitu 0 ton/ha, 10 ton/ha, 20 ton/ha, 30 ton/ha. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak terjadi interaksi antara lama inkubasi dan dosis pupuk organik begitupula pengaruh dosis pupuk organik yang tidak signifikan terhadap keempat parameter sifat fisik tanah, tetapi faktor lama inkubasi memiliki pengaruh yang nyata terhadap bobot isi dan porositas tanah. Kemudian, berdasarkan hasil rata – rata pada kedua faktor perlakuan, perlakuan lama inkubasi dari 4 minggu sampai 6 minggu dapat menurunkan bobot isi tanah sebesar 10,82%, serta meningkatkan porositas dan permeabilitas tanah masing – masing sebesar 8,34% dan 80%. Sedangkan, pemberian dosis pupuk organik sebanyak 20 ton/ha pada lama inkubasi 4 minggu sampai 6 minggu dapat menurunkan bobot isi tanah sebesar 15,57%, serta meningkatkan 10,38% kadar air tanah, 12,97% porositas tanah dan 49,77% permeabilitas tanahKata Kunci : Tanah, Pupuk Organik, Lama Inkubasi, Sifat Fisik Tanah
Kombinasi Pupuk N, P, K Denganpupuk Organik Granul (Pog) Untuk Meningkatkan P-Tersedia Dan Serapan Hara Jagung (Zea mays L.) Pada Typic Eutrudept Mega Kartika Hermawan; Emma Trinurani Sofyan; Yuliati Machfud
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 3 No 2 (2018): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.511 KB) | DOI: 10.33661/jai.v3i2.1374

Abstract

Balanced fertilizing is a site-specific nutrient management concept that takes into consideration the ability of soils to provide nutrients naturally and nutrient recovery previously uptaked by plants. The concept is a response to the various negative impacts caused by intensive and continuous inorganic fertilizing. This study aims to determine the combinantion of N, P, K fertilizer with Granular Organic Fertilizer (POG) that can give the best effect on available phosphate in soil, nutrient uptake and the growth of maize (Zea Mays L.)in Typic Eutrudept. The research used rendomized block design (RBD) with ten treatments and three replications. The results showed combination of ½ N, P, K + 1 POG gave significant effect to increase available-P and nutrient uptake of maize (Zea Mays L.). Keywords: Granular Organic Fertilizer, Maize, Nutrient Uptake, Typic Eutrudept.
Penjadwalan Irigasi Menggunakan Neraca Air Harian Pada Budidaya Ubi Jalar (Ipomea Batatas L.) Varietas Rancing Sophia Dwiratna; Edy Suryadi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.119 KB) | DOI: 10.33661/jai.v4i1.1857

Abstract

 Salah satu permasalahan budidaya di lahan kering adalah keterbatasan ketersediaan air untuk irigasi. Hal ini menyebabkan petani lahan kering umumnya hanya melakukan satu kali tanam dalam satu tahun. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan teknologi pemanenan air hujan atau air limpasan. Untuk meningkatkan produktivitas air hujan yang dipanen dibutuhkan suatu usaha dalam menghemat penggunaan air. Pengaturan jadwal irigasi berdasarkan analisis neraca air lahan harian diharapkan dapat meningkatkan nilai produktivitas air dilahan kering. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji penjadwalan irigasi menggunakan neraca air lahan harian pada budidaya ubi jalar (Ipomea batatas L) varietas rancing. Penelitian ini dilaksanakan di kebun penelitian Ciparanje, Kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor pada bulan Juli sampai November 2018. Penelitian ini dilakukan menggunakan batas deplesi 20% dengan total pemberian irigasi sebesar 9.285,6 liter sedangkan deplesi 30% adalah sebesar 8.687 liter. Substitusi kebutuhan air tanaman dengan deplesi 20% dapat memenuhi 129 m2 luasan areal budidaya, sedangkan deplesi 30% dapat memenuhi 138 m2 luasan areal budidaya selama satu musim tanam. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan air tanaman selama satu musim tanam dapat terpenuhi dari jumlah volume air yang terdapat dalam kolam pemanenan air limpasan. Kata kunci : penjadwalan irigasi, neraca air lahan harian, lahan kering, ubi jalar.
Efek Komposisi dan Dosis Amelioran terhadap Sifat Tanah dan Hasil Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) pada Inceptisols Yosef Edwin Gunawan Situmorang; Anne Nurbaity; Tualar Simarmata
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.841 KB) | DOI: 10.33661/jai.v4i1.1280

Abstract

Pupuk anorganik memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman cabai. Akan tetapi, penggunaannya terus-menerus dapat menyebabkan kualitas tanah menurun. Penggunaan amelioran atau bahan pembenah tanah diharapkan dapat meningkatkan kualitas tanah. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi dan dosis amelioran terbaik terhadap sifat tanah dan hasil tanaman cabai pada Inceptisols dan dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri atas dua faktor yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama yaitu komposisi amelioran yang terdiri atas empat taraf (a1 = 80% Pupuk Kandang Sapi + 20% Biochar Tempurung Kelapa ; a2 = 95% Komposisi a1 + 5% Dolomit dan Guano ; a3 = 90% Komposisi a1 + 10% Dolomit dan Guano ; a4 = 85% Komposisi a1 + 15% Dolomit dan Guano), dan faktor kedua yaitu dosis amelioran yang terdiri atas empat taraf (t0 = 0 ton/ha ; t1 = 2 ton/ha ; t2 = 4 ton/ha ; t3= 6 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara komposisi dan dosis amelioran terhadap sifat tanah dan hasil tanaman cabai pada Inceptisols. Pemberian dosis amelioran 4 ton/ha dapat memberikan peningkatan sifat tanah terbaik dan meningkatkan hasil tanaman cabai sebesar 44,9%.
Uji Virulensi 100 Isolat Cendawan Blas (Pyricularia oryzae Cavara) terhadap Satu Set Varietas Padi Diferensial Indonesia Ani Lestari
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.951 KB) | DOI: 10.33661/jai.v1i1.249

Abstract

Salah satu permasalahan utama dalam upaya peningkatan produksi padi adalah terjadinya serangan penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Magnaphorte oryzae B. Couch (anamorf Pyricularia oryzae Cavara). Penyakit blas merupakan penyakit penting pada pertanaman padi. Patogen penyakit blas memiliki keragaman genetik dan kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga dapat dengan cepat mematahkan ketahanan varietas yang baru ditanam. Penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan keberadaan populasi ras blas pada lokasi tersebut. Untuk itu informasi hasil monitoring keberadaan ras blas di suatu agroekositem sangat diperlukan. Penelitian ini dilakukan tahun 2009 sampai 2010, di BB-Biogen, penelitian bertujuan untuk 1) memperoleh isolat blas dengan frekuensi intensitas serangan dan tingkat virulensi tertinggi, 2) melakukan pengelompokan ras dominan per daerah asal isolat, serta 3) mendapatkan informasi keragaman genetik cendawan blas dari empat daerah berbeda yaitu : Sukabumi, Lampung, Jasinga, dan Sitiung berdasarkan tingkat virulensinya. Analisis keragaman fenotipik dilakukan dengan cara menguji satu set varietas diferensial Indonesia terhadap 100 isolat blas daun dan leher malai koleksi BB-Biogen. Berdasarkan hasil pengujian fenotipe telah teridentifikasi bahwa 100 isolat blas terdiri dari 19 ras yang berbeda. Banyaknya macam ras dalam satu lokasi berkisar antara 4-12 macam. Ras 001 merupakan ras yang dominan dengan frekuensi virulensi tertinggi, yaitu 35 % (35 isolat) dari total populasi. Ras 001 terdapat di seluruh lokasi sampling yaitu Sukabumi, Lampung, Jasinga, dan Sitiung. Terdapat pula ras spesifik lokasi, yaitu 1) ras 153, 235, dan ras 313 yang merupakan ras spesifik di Sukabumi, 2) ras 060, 061, dan ras 101 di Jasinga, dan 3) ras 021, 023, 033, dan 103 di Sitiung. Nilai keragaman genetik (Hi) pada tiap lokasi (Lampung, Sukabumi, Jasinga dan Sitiung) berkisar antara 0.79 (Lampung) sampai 0.82 (Sukabumi, Jasinga, dan Sitiung). Hasil perhitungan nilai koefisien diferensiasi genetik (GST) menunjukkan nilai GST yang cukup tinggi yaitu 0.76. Kata Kunci: Virulensi, blast, Pyricularia, Ras
Penilaian Tingkat Respon Galur Jagung Unpad Toleran Naungan pada Sistem Agroforestri dengan Albizia (Albizia falcataria L.) Berdasarkan Komponen Indeks Toleransi Muhammad Syafi’i; Ika Ika Cartika; Dedi Ruswandi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.585 KB) | DOI: 10.33661/jai.v1i2.316

Abstract

Pengembangan jagung dibawah tegakan sengon pada sistem agroforestri merupakan alternatif dalam mengatasi berkurangnya lahan jagung karena beralih fungsi menjadi daerah industri dan pemukiman. Akan tetapi masalah yang timbul adalah berkurangnya intensitas cahaya karena naungan sengon, sehingga diperlukan jagung toleran terhadap intensitas cahaya rendah. beberapa indeks toleransi yang dihitung dalam penelitian ini terdiri dari rata-rata hasil (MP), rata-rata hasil geometrik (GMP), indeks toleransi terhadap cekaman (STI), indeks stabilitas terhadap cekaman (SSI), toleransi terhadap cekaman (TOL), indeks hasil (YI) dan indeks stabilitas hasil (YSI), serta untuk memahami hubungan antara indeks toleransi pada masing-masing genotip dilakukan analisis komponen utama (PCA) dan analisis klaster (AHC). Indeks toleransi dihitung berdasarkan potensi hasil pada kondisi tanpa bercekaman (Yp) dan hasil pada kondisi cekaman naungan (Ys).  Hasilnya menunjukan Yp dan Ys berkorelasi signifikan dan positif dengan MP, GMP dan STI. Oleh karena itu ketiga indeks tersebut dianggap sebgai indeks toleransi terbaik untuk mengukur tingkat toleransi genotip jagung terhadap naungan dibanding TOL, SSI dan YSI. Analisis komponen utama mengklasifikasikan genotip menjadi 2 komponen utama. Kedua PC tersebut memiliki eigen value >1 dan berkontribusi terhadap variabilitas antar genotip sebesar 98.50%. PC1 berkontribusi sebesar  69.42 dari Yp dan indeks TOL, MP, GMP, SSI, dan STI. PC2 memberikan kontribusi terhadap keragaman sebesar 29.08% dari Ys dan indeks YI. Analisis klaster berdasarkan indeks toleransi membagi genotip menjadi empat kelompok, menunjukan variabilitas genetik yang cukup tinggi sehingga bisa dijadikan dasar untuk pemilihan dan pengembangan genotip jagung toleran terhadap naungan sengon. Kata kunci : agroforestri, indeks toleransi, jagung.
Catatan Hama Baru, Diabrotica sp. (Coleoptera: Chrysomelidae) pada Pertanaman Kedelai di Ngale, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur Lutfi Afifah
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.075 KB) | DOI: 10.33661/jai.v1i2.344

Abstract

Diabrotica sp. (Coleoptera: Chrysomelidae) merupakan hama kedelai yang kurang mendapat perhatian. Diabrotica sp. tidak termasuk kedalam daftar hama kedelai di Indonesia. Namun Diabrotica sp.  telah mendapat perhatian sebagai hama pada kedelai di daerah temperate. Peningkatan populasi di lapangan yang didukung oleh kondisi cuaca yang mendukung, dapat meningkatkan status Diabrotica sp. dari hama minor menjadi hama penting. Diabrotica sp. teramati pada saat penelitian tentang Penelitian Pengembangan Pengelolaan Kesehatan Tanaman Secara Terpadu untuk Peningkatan Produktivitas Kedelai pada tahun 2013 dan 2014 di Kab. Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan pengamatan di lapangan Diabrotica sp. merupakan hama minor pada pertanaman kedelai di Indonesia. Meskipun belum pernah dilaporkan sebagai hama pada tanaman kedelai di Indonesia, pengamatan jumlah populasi Diabrotica sp. pada musim tanam kemarau 2 (MK2) tahun 2013 di Ngawi, Jawa Timur menunjukkan hasil tingkat populasi yang tinggi. Populasi Diabrotica sp. selama pengamatan dalam 10 minggu pengamatan menggunakan perangkap lubang jebakan dan nampan kuning terdapat 620 ekor. Jumlah populasi Diabrotica sp. ini ditaksir lebih tinggi lagi di pertanaman kedelai. Populasi Diabrotica sp. meningkat pada minggu ke 5 pengamatan atau dalam fase pembentukan bunga dan polong. Populasi Diabrotica sp. pada MK2 tahun 2014 menunjukkan fluktuatif dan cenderung dengan kelimpahan lebih rendah. Diabrotica sp. berpotensi menjadi hama penting pada pertanaman kedelai.  Kata kunci: Glycine max, Diabrotica sp., hama baru, hama minor.
Review: Aktivitas Antioksidan dari Berbagai Sumber Buah-buahan di Indonesia Hayatul Rahmi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.416 KB) | DOI: 10.33661/jai.v2i1.721

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang dapat menangkap radikal bebas, karena bisa menyumbangkan satuelektronnya.Antioksidan terbagi atas dua jenis yaitu antioksidan alami (buah-buahan dan tanaman) dan antioksidanbuatan.Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa buah-buahan memiliki aktivitas antioksidan diantaranya buahnaga, sirsak, jambu merah, belimbing wuluh, strawberi, mahkota dewa,salak, rambutan,alpukat, jamblang, kemloko, apel,pisang, manggis, paprika hijau, kiwi, pinang yaki, dan tomat. Untuk mengetahui aktivitas antioksidan umumnyamenggunakan metoda 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH), sehingga diperoleh nilai InhibitionConcentration 50%(IC50). Nilai IC50 dari buah-buahan tersebut berkisar dari 0,01408ppm sampai660,08 ppm. Metoda ekstraksi yangbanyak dilakukan dengan menggunakan pelarut air, etanol, methanol, eter, etil asetat, dan butanol.Aktivitas antioksidandari buah-buahan karena adanya senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, tannin, dan antosianin.Kata kunci : antioksidan, DPPH,IC50, senyawa metabolit sekunder
Peningkatan Konsentrasi CO2 dan Suhu menyebabkan Penurunan Laju Pembukaan Stomata serta Hasil Berat Kering Tanaman Kedelai Mochamad Arief Soleh; Makie Kokubun
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.414 KB) | DOI: 10.33661/jai.v3i1.1164

Abstract

Fenomena global warming sejak dua dekade terakhir telah menyita waktu para peneliti tanaman untukmengevaluasi berbagai respon tanaman dalam ruang lingkup peningkatan CO2 dan temperatur. Peningkatankonsentrasi CO2 di atmosfer yang diikuti dengan peningkatan suhu akan menyebabkan perubahan respon tanamankearah penurunan produksi. Tanaman kedelai yang di tanaman di ruang terkendali dengan suhu 2°C dan konsentrasiCO2 200 ppm lebih tinggi dari keadaan ambient serta ditanam pada kondisi konsentrasi CO2 ambient sebesar 380 ppm.Tanaman kemudian dipindahkan bergantian dari CO2 tinggi ke CO2 ambient dan sebaliknya (A-E atau E-A). Responspembukaan stomata (gs) tanaman kedelai di rejim CO2 lebih tinggi cenderung menurun signifikan dari sebesar 1400mmol H2O·m-2·s-1 menjadi 700 mmol H2O·m-2·s-1 pada umur 4 HSP (hari setelah pindah) dibandingkan dengan rejimCO2 ambient. Lebih jauh respon stomata makin menurun drastis pada umur 32 HSP atau 80 HST (hari setelah tanam)di rejim CO2 lebih tinggi. Sebelum dipindahkan yaitu pada umur 48 HST bobot kering tanaman di rejim CO2 tinggilebih tinggi 33% dibanding di rejim ambient, sedangkan setelah dipindahkan dari rejim ambinet ke rejim CO2 tinggipad umur 81 HST perbedaan berat kering hanya sebesar 7%. Pada awal tumbuh di rejim CO2 tinggi tanaman mampumemanfaatkan kelebihan CO2 untuk berfotosintesis sehingga bobot kering tanaman meningkat signifikan namum padatahap lanjutan yaitu pada 32 HSP peningkatan bobot tanaman mejadi tidak signifikan menandakan ada mekanismedownregulation yaitu peningkatan CO2 tidak lagi mampu lagi meningkatkan laju fotosintesis namum sebaliknya.Downregulation ini ditandai dengan semakin menurunnya aktivitas pembukaan stomata, dan akan semakin buruk biladisertai oleh peningkatan suhu.Kata kunci: Konduktansi Stomata, Peningkatan CO2, Kedelai, downregulation.
Optimasi Pupuk Organik Cair Dan Npk Terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah Dan Hasil Jagung Di Lahan Tercemar Limbah Clarifier Muhammad Agus Mulyana; Emma Trinurani Sofyan; Pujawati Suryatmana
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.339 KB) | DOI: 10.33661/jai.v3i1.1171

Abstract

Degradation of rice fields ecosistem from industrial waste contamination has caused harmful impact for farmingsustainability and developing crop production. This study aimed to investigate the effect of various treatment of NPKand Liquid Organic Fertillizer towards several chemical compound in the soil and Vegetatif and generative Growth ofSweet Corn (Zea mays) in clarifier contaminated rice fields from industrial waste. The experiment was conducted in thecontaminated clarifier ricefield of PT PUPUK KUJANG CIKAMPEK from June to August 2017. Randomized blockdesign with nine single treatment, that is A = 0 NPK and 0 ml/L POC, B = 1 NPK and 0 ml/L POC, C = 1 NPK and 2,5ml/L POC, D = 1 NPK and 5 ml/L POC, E = 1 NPK and 7,5 ml/L POC, dan F = 1 NPK and 10 ml/L POC, G = 3/4NPK and 5 ml/L POC, H = 1/2 NPK and 5 ml/L POC, I = 0 NPK and 5 ml/L POC each with three replicates was usedas experimental design in this research. The result showed that the application NPK and Liquid Organic fertilizer hassignificant effect on increasing several chemical compound in the soil and Vegetatif and generative Growth of SweetCorn (Zea mays).Keywords : NPK, Liquid Organic Fertillizer

Page 6 of 15 | Total Record : 145