cover
Contact Name
I Gusti Putu Ngurah Adi Santika
Contact Email
ngurahadisantika@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jpkrmahadewa@gmail.com
Editorial Address
Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Jln. Seroja, Tonja, Denpasar, (0361)431434 E-Mail : jpkrmahadewa@gmail.com
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi
ISSN : 23379561     EISSN : 25801430     DOI : -
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi adalah jurnal pendidikan dan kesehatan yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari dan Juni. Memuat tulisan berbahasa Indonesia maupun Inggris yang berasal dari hasil penelitian, kajian teoretis dan aplikasi teori dengan kajian masalah pendidikan olah raga dan kesehatan. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi telah melaksanakan (MOU) dengan Asosiasi Prodi Olahraga Perguruan Tinggi PGRI (APOPI).
Articles 406 Documents
PELATIHAN DAYA TAHAN OTOT BERBEBAN ½ KG 20 REPETISI 3 SET MENINGKATKAN FREKUENSI PUKULAN PENDETA TANGAN KIRI DAN KANAN PADA ANGGOTA PENCAK SILAT PERISAI DIRI RANTING SESETAN Suryawan, IKW.; Pangkahila, J.A.; Satriyasa, B.K.; Adiputra, LMIS. Handari; Griadi, IP. Adiartha; Wirawan, IMA.
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.338 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3338702

Abstract

Pencak silat adalah seni beladiri yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Komponen biomotorik yang terpenting dikembangkan adalah kekuatan, daya tahan otot, kecepatan waktu reaksi dan koordinasi. Dalam penelitian ini peneliti menerapkan pelatihan daya tahan otot untuk meningkatkan frekuensi pukulan pendeta dengan dua tipe pelatihan yaitu, Kelompok 1 melakukan pelatihan daya tahan otot dengan beban dumbbell seberat ½ kg sebanyak 20 repetisi 3 set dan Kelompok 2 melakukan pelatihan daya tahan otot berbeban ½ sebanyak 15 repetisi 4 set. Secara keseluruhan penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan frekuensi pukulan pendeta. Perbedaan rerata frekuensi pendeta sebelum pelatihan pada Kelompok 1 26,22 ± 1,21 x/30 detik dan sesudah pelatihan 32,28 ± 1,03 x/30 detik menunjukkan adanya perbedaan bermakna p = 0,000 (p<0,05). Rerata frekuensi pukulan pendetasebelum pelatihan pada Kelompok 2 adalah sebesar 26,22 ± 1,56x/30 detik dan sesudah pelatihan 29,56 ± 1,23x/30 detik (p<0,05). Perbedaan frekuensi pukulan sesudah pelatihan antara kedua kelompok juga menunjukkan perbedaan yang bermakna p = 0,000 (p<0,05). Disimpulkan bahwa pelatihan daya tahan otot berbeban ½ kg 20 repetisi 3 set lebih meningkatkan dibandingkan pelatihan daya tahan otot berbeban ½ kg 15 repetisi 4 set.
PELATIHAN SQUAT JUMP TRAINING BERJARAK 5 METER 10 REPETISI 3SET TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI PADA SISWA PUTRA PESERTA EKSTRA KURIKULER ATLETIK LOMPAT JAUH SMP NEGERI 3 UBUD TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Suartini, Ni Wayan; Segu, Agustinus Dei; Vanagosi, Kadek Dian
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 4 No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.861 KB)

Abstract

Berdasarkan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa siswa SMP Negeri 3 Ubud dalam even-even olahraga PORSENIJAR baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten belum menunjukkan hasil yang maksimal, terutama pada cabang olahraga yang dalam pelaksanaannya memerlukan kekuatan otot tungkai seperti lompat jauh. Oleh karena itu,masalah kekuatan otot tungkai merupakan masalah yang sangat serius harus ditangani oleh para guru, dan pelatih olahraga disekolah tersebut. Sehingga peneliti mencoba mengadakan penelitian tentang peningkatan kekuatan otot tungkai dengan judul :? Pelatihan Squat jump training berjarak 5 meter 10 repetisi 3 set terhadap peningkatan kekuatan otot tungkai siswa putra peserta ekstra kurikuler atletik lompat jauh SMP Negeri 3 Ubud tahun pelajaran 2016/2017.?Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi diambil dari siswa putra peserta ekstra kurikuler atletik. Sampel berjumlah 36 orang diambil secara acak sederhana dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan teknik ordinal pairing yang masing-masing kelompok terdiri dari 18 orang. Pelatihan yang dilakukan dalam penelitian ini ialah Pelatihan squat jump training berjarak 5 meter 10 repetisi 3 set untuk kelompok perlakuan frekuensi pelatihan 4 kali dalam seminggu selama 6 minggu pada siswa putra peserta ekstra kurikuler SMP Negeri 3 Ubud.Data berupa hasil pengukuran kekuatan otot tungkai dengan alat ukur leg dynamometer yang diambil sebelum dan sesudah pelatihan. Data yang diperoleh diuji menggunakan program computer SPSS 16. Data berdistribusi normal dan homogen sehingga selanjutnya diuji menggunkan uji t-paired untuk membandingkan nilai rata-rata sebelum dan sesudah pelatihan antara masing-masing kelompok, sedangkan uji t-test independent untuk mengetahui  rata-rata perbedaan nilai rata-rata antara kedua kelompok. Hasil uji t-paired kelompok perlakuan dan kelompok control terjadi peningkatan yang bermakna (p < 0,05). Hasil uji t-test independendt didapat bahwa kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah pelatihan tidak ada perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Simpulannya bahwa pelatihan squat jump training berjarak 5 meter meningkatkan kekuatan otot tungkai dan menyatakan hipotesis nol ditolak.
PENGEMBANGAN ELEKTRODE BIOSENSOR LIPASE TERMOSTABIL ISOLAT BANYUWEDANG YANG DIAMOBIL DENGAN PVC UNTUK PENENTUAN KADAR TRIGLISERIDA Wiguna, DGE. Sastra; Wirmandiyanthi, KD.; Santika, IGPNA.
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.168 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3343011

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan rentang kerja (suhu dan pH) elektrode biosensor lipase termostabil isolat Banyuwedang yang diamobil dengan menggunakan PVC dan (2) menentukan kadar trigliserida dalam emulsi minyak olive dengan elektrode biosensor tersebut. Subjek penelitian ini adalah elektrode biosensor trigliserida. Objek penelitian adalah Rentang Kerja (Suhu dan pH) elektrode biosensor dan kadar trigliserida dalam emulsi minyak olive. Data suhu dan pH optimum serta kadar trigliserida dalam emulsi minyak olive dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rentang kerja biosensor berdasarkan pengukuran kedua jenis elektrode didapatkan pada pH 6,0 hingga 8,0 dan pada suhu 10-70oC. Hubungan kadar trigliserida yang terukur terhadap emulsi minyak olive yang digunakan diperoleh hubungan bahwa kadar trigliserida terukur berbanding lurus dengan emulsi minyak olive yang digunakan dan diperoleh persamaan Y = 0,009X ? 0,026, dengan Y adalah kadar trigliserida yang terukur sebagai konsumsi oksigen (ppm) dan X adalah emulsi minyak olive  yang digunakan (ppm).
PELATIHAN LARI JINGKAT MELEWATI 10 RINTANGAN JARAK 1 METER SETINGGI 25 CM BERBEBAN 500 GRAM DI PERGELANGAN KAKI 10 REPETISI 4 SET TERHADAP PENINGKATAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 2 SUKAWATI Tunas, IN.; Dewi, IA. Kade Arisanti; Santika, IGPNA.; Subekti, Maryoto; Adnyana, IW.; Mertayasa, IP.
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.292 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3340187

Abstract

Berdasarkan pengamatan di lapangan melalui penelitian pendahuluan yang dilakukan dengan mengukur 5 orang siswa yang diambil secara random diperoleh rata-rata daya ledak otot tungkai siswa SMP Negeri 2 Sukawati adalah 7,8 cm. Berkaitan dengan hal itu peneliti memberikan Pelatihan Lari Jingkat Melewati 10 Rintangan Jarak 1 Meter Setinggi 25 cm Berbeban 500 gram Di Pergelangan Kaki 10 Repetisi 4 Set yang dilakukan selama 6 minggu. Berdasarkan nilai analisis dengan menggunakan uji t-paired test seperti pada tabel 1 dapat disampaikan bahwa rerata pengukuran awal daya ledak otot tungkai pada kelompok 1 (perlakuan) = 9,07±1,73 cm. Rerata hasil pegukuran awal pada kelompok 2 (kontrol) = 8,79±2,50 cm. Rerata pengukuran akhir pada kelompok 1 (perlakuan) = 21.07±3,65 cm. Rerata pengukuran akhir pada kelompok 2 (kontrol) = 17,52±2,01 cm. hasil pengukuran daya ledak otot tungkai pada kelompok 1 (perlakuan) diperoleh beda rerata 12 cm dan kelompok 2 (kontrol) diperoleh beda rerata 8,73 cm dengan hasil tes daya ledak otot tungkai sebelum dan sesudah pelatihan antar kelompok diperoleh beda rerata 3,55 cm dengan nilai (p = 0,04), ini menunjukkan pelatihan daya ledak otot tungkai ada perbedaan yang bermakna (p < 0,05).
PELATIHAN PLIOMETRIK JUMP TO BOX LEBIH MENINGKATKAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DARI PADA PELATIHAN PLIOMETRIK BARRIER HOPS PADA PERMAINAN BOLA BASKET Utama, MB. Redy; Pangkahila, Alex; Adiputra, IN.; Tianing, NW.; Weta, IW.; Adiputra, LMI. Sri Handari
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.32 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3338704

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan  pelatihan  jump to box dan barrier hops terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai. Penelitian ini dilakukan terhadap 32 orang siswa SMK Negeri 1 Kuta Selatan yang dipilih secara acak sederhana yang telah memenuhi kriteria insklusi dan eksklusi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok sehingga masing-masing kelempok berjumlah 16 orang dan diberikan perlakuan yang berbeda selama enam minggu. Kelompok satu  diberikan pelatihan jump to box dan kelompok dua diberikan pelatihan barrier hops. Data yang didapat dianalisis dengan uji t paired untuk mengethui perbedaan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kedua kelompok dan uji t-independent untuk menguji perbedaan daya ledak otot tungkai antar kelompok baik sebelum maupun sesudah pelatihan. Batas kemaknaan di pakai 0,05. Hasil penelitian menunjukan rerata daya ledak otot tungkai antar kelompok sesudah pelatihan sebesar 58,00±10,33 cm pada kelompok jump to box dan pada kelompok barrier hops sebesar 50,49±10,19 cm. Rerata daya ledak otot tungkai pelatihan jump to box lebih tinggi dibandingkan dengan pelatihan barrier hops yang secara statistik berbeda bermakna dengan nilai p=0,036 (p<0,05). Dengan demikian, pelatihan jump to box dan pelatihan barrier hops dapat meningkatkan daya ledak otot tungkai, di mana pelatihan jump to box lebih meningkatkan daripada pelatihan barrier hops.
PELATIHAN LARI KIJANG JARAK 1 METER 8 REPETISI 5 SET MENINGKATKAN KECEPATAN LARI SPRINT SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NASIONAL DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Andik, IMP.; Adnyana, IW.; Prananta, IGNAC.; Santika, IGPNA.; Saputra, IGAA.; Pranata, KY.
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.575 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3344561

Abstract

Berdasarkan observasi di lapangan, atlet SMP Nasional Denpasar belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal yang disebabkan oleh kurangnya kecepatan lari sprint  dalam atletik. Berdasarkan latar belakang di atas dan untuk lebih meningkatkan prestasi yang dimiliki, maka penulis mencoba melaksanakan penelitian dengan  judul ?Pelatihan lari kijang jarak 1 meter 8 repetisi 5 set meningkatkan kecepatan lari sprint siswa putra kelas VIII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2017/2018?. Populasi yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Nasional Denpasar tahun pelajaran 2017/2018 sebanyak 120 orang. Karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu yang tersedia, untuk itu sampel yang diambil dalam penelitian ini hanya menggunakan 38 orang dengan menggunakan perhitungan rumus Pocock. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan lari kijang jarak 1 meter  8 repetisi 5 set dan pelatihan agility ladder 8 repetisi 5 set sama ? sama meningkatkan kecepatan lari sprint. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil post test kedua kelompok, tetapi didapatkan hasil bahwa pelatihan lari kijang jarak 1 meter  8 repetisi 5 set lebaik baik dari pada pelatihan agility ladder 8 repetisi 5 set dalam meningkatkan kecepatan lari sprint siswa putra kelas VIII SMP Nasional Denpasar Tahun Pelajaran 2017/2018.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LAY UP SHOOT BOLA BASKET Kresnayadi, IP. Eri; Rusitayanti, NW. Ary; Sumerta, IK.; Ariawati, NW.; Sudiarta, IGN.; Bagia, IM.
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.853 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3342979

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Kuta, berjumlah 34 orang. Data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil analisis data pada Motivasi belajar teknik lay up shoot bola basket meningkat melalui penerapan model pembelajaran kooperatif  tipe TAI  pada siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Kuta tahun pelajaran 2018/2019. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata motivasi belajar teknik lay up shoot bola basket siswa secara klasikal pada siklus I sebesar 11,78 yang berada pada kategori tinggi dan mengalami peningkatan sebesar 3,53 pada siklus II menjadi 15,31 yang berada pada kategori sangat tinggi. Hasil belajar teknik lay up shoot bola basket siswa secara klasikal pada siklus I sebesar 70,58% yang berada pada kategori cukup baik dan mengalami peningkatan sebesar 20,59% pada siklus II menjadi 91,17% yang  berada pada kategori sangat baik. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa motivasi dan hasil belajar teknik lay up shoot bola basket meningkat melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI pada siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Kuta Tahun Pelajaran 2018/2019.
ANALISIS KEMAMPUAN GERAK DASAR SENAM AEROBIK MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEMARANG Nurcahyo, Andi; Christiana, Metta
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.238 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3340170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa fakultas hukum dalam melakukan gerak dasar senam aerobik. Subjek penelitian ini berjumlah 90 orang mhasiswa Fakultas Hukum Universitas Semarang. Alat pengumpul data dalam penelitian ini menggunakan data primer yaitu melalui tes dan catatan lapangan. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian menggunakan teknik uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa Fakultas Hukum dapat meningkatkan kemampuan melakukan gerak dasar senam aerobik. Hal ini berarti bahwa hipotesis dalam peneltian ini diterima.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GI (GROUP INVESTIGATION) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR PASING ATAS BOLA VOLI Widiantari, Ni Luh Gde; Dewi, I.A. Kade Arisanthi
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol 5 No 2 (2019): Juni 2019
Publisher : Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.293 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.3338695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar teknik dasar pasing atas bola voli melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation) pada siswa kelas VII.1 SMP Negeri 3 Mengwi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII.1 SMP Negeri 3 Mengwi, berjumlah 35 orang, yaitu 15 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata aktivitas belajar teknik dasar pasing atas bola voli secara klasikal pada observasi awal 6,28 (cukup aktif), meningkat pada siklus I menjadi 7,56 (aktif), dan meningkat pada siklus II menjadi 9,02 (sangat aktif). Sedangkan hasil belajar secara klasikal pada observasi awal 59,98 (kurang baik), meningkat pada siklus I menjadi 78,87 (baik), dan meningkatkan pada siklus II menjadi 97,14 (sangat baik). Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, disimpulkan bahwa aktivitas dan hasil belajar teknik dasar pasing atas bola voli meningkat melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe GI pada siswa kelas VII.1 SMP Negeri 3 Mengwi.
KELELAHAN DAN RECOVERY DALAM OLAHRAGA I Made Yoga Parwata
Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi Vol. 1 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Prodi Olahraga Perguruan Tinggi PGRI (APOPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.626 KB)

Abstract

Pembinaan olahraga prestasi khususnya menuntut penampilan atlet yang selalu prima dan selalu terjadi peningkatan prestasi. Dengan sendirinya memerlukan latihan peningkatan kemampuan fisik dan latihan teknik secara bersama dalam jangka waktu panjang dan pembebanan yang progresif. Latihan ialah upaya sadar yang dilakukan secara berkelanjutan dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan fungsional raga (Giriwijoyo, 2010). Ketika seorang atlet melakukan pelatihan dalam volume besar atau pada intensitas sangat tinggi, kebugaran akan meningkat tetapi kelelahan juga akan meningkat (Bompa, 2009). Maka diperlukan usaha untuk mengurangi tingkat kelelahan dengan melaksanakan program recovery pada atlet yang bersangkutan. Recovery aktif adalah latihan dengan intensitas rendah atau ringan . pemulihan aktif (recovery) mengacu pada pemulihan dari latihan menggunakan intensitas kegiatan rendah dengan tujuan untuk pemulihan. Pemulihan aktif membantu membersihkan otot-otot dari asam laktat yang menyebabkan rasa sakit dan kelelahan. Recovery pasif yaitu latihan yang tidak melibatkan aktifitas atau dilakukan duduk diam atau aktifitas istirahat total. Jadi recovery pasif yaitu suatu aktivitas fisik tanpa adanya aktifitas fisik, yaitu diam, istirahat total (duduk, terlentang atau tidur). Kelelahan terjadi pada setiap orang yang melakukan aktivitas olahraga dengan intensitas tinggi. Kelelahan tidak bisa diatasi hanya dengan istirahat, sebab kelelahan bisa terjadi karena sistem metabolisme energi. Dalam penyedian energi saat beraktivitas olahraga yang kurang sempurna. Kelelahan dapat dibagi dalam dua tipe, yaitu lelah mental dan lelah fisik. Lelah mental biasanya disebabkan karena kerja mental sedangakan lelah fisik karena pekerjaan otot. Pemulihan sangat penting setelah melaksanakan program latihan atau pertandingan. Pemulihan (recovery) adalah mengembalikan kondisi tubuh sebelum pertandingan, pemahaman ini sangat penting bagi atlet dan pelatih dalam melakukan program pelatihan untuk mendapatkan hasil atau prestasi yang terbaik. Pentingnya penyusunan program latihan dan istirahat yang seimbang bagi seorang atlet. Pemulihan juga harus menjadi bagian dari program latihan. Program recovery dapat dilakuk dengan recovery aktif atau recovery pasif.

Page 11 of 41 | Total Record : 406