cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 703 Documents
Komunikasi Interpersonal dalam Perspektif Teori Negosiasi Wajah: Studi pada Rumah Tangga Pasangan Muda Ruki, Christin Kurniawati; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36256

Abstract

When entering the early stages of marriage, couples often lack sufficient experience in managing conflict, so negotiating skills to maintain harmony are crucial. This study aims to analyze the strategies young couples use to negotiate face in dealing with marital conflict. This study uses the concept of facework from Brown and Levinson, which was later developed by Ting-Toomey into Face Negotiation Theory, which explains that each individual strives to maintain, protect, and restore their face through certain communication styles. To understand the dynamics of marital relationships, this study also uses the patterns of marital relationships in the household proposed by Subiyanto, namely property owner, head complement, senior junior partner, and equal partner. The research method used is a qualitative approach with in-depth interviews with young couples with marriages under five years old. The results show that face negotiation occurs in various forms of conflict influenced by relationship patterns, communication experiences, and cultural values. Couples with an equal partner pattern tend to demonstrate more open and mutually supportive communication compared to other more hierarchical patterns that show a tendency to dominate in maintaining personal face. Ketika memasuki fase awal pernikahan, pasangan sering kali belum memiliki pengalaman yang memadai dalam mengelola pertentangan, sehingga kemampuan bernegosiasi untuk menjaga keharmonisan menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pasangan muda menegosiasikan wajah dalam menghadapi konflik rumah tangga. Penelitian ini menggunakan konsep facework dari Brown dan Levinson yang kemudian dikembangkan oleh Ting-Toomey menjadi Face Negotiation Theory, yang menjelaskan bahwa setiap individu berusaha mempertahankan, melindungi, dan memulihkan wajahnya melalui gaya komunikasi tertentu. Untuk memahami dinamika dalam hubungan rumah tangga penelitian ini juga menggunakan pola hubungan suami istri dalam rumah tangga yang dikemukakan oleh Subiyanto, yaitu owner property, head complement, senior junior partner, dan equal partner. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada pasangan muda dengan usia pernikahan di bawah lima tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi wajah terjadi dalam berbagai bentuk konflik yang dipengaruhi oleh pola relasi, pengalaman komunikasi, serta nilai budaya, pasangan dengan pola equal partner cenderung menunjukkan komunikasi yang lebih terbuka dan saling mendukung di bandingkan pola lain yang lebih hierarkis menunjukkan kecenderungan dominasi dalam mempertahankan wajah pribadi.
Representasi Anak Sulung sebagai Pilar Keluarga di Film Bila Esok Ibu Tiada Pratikna, Gabriella Shalisha; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36272

Abstract

The family is the primary space for shaping social roles, including the position of the firstborn, which in many Indonesian cultures is often understood as the bearer of the greatest responsibility. Representations of this role frequently appear in mass media, including films. This study aims to examine how the firstborn as the pillar of the family is represented in the film Bila Esok Ibu Tiada using Roland Barthes’ semiotic analysis. The research employs a descriptive qualitative approach with Barthes’ semiotic textual analysis. The concepts and theories used include film as a mass communication medium, representation, and social roles. The findings show that the film represents the firstborn as a central figure who holds leadership responsibilities, makes decisions, and maintains family stability. The film also portrays the firstborn’s sacrifices as a form of devotion aligned with Indonesian cultural values that place collective interests above individual needs. In addition, the film reveals unequal distribution of roles and the social and emotional pressures that are often overlooked. Thus, these representations reflect dominant cultural constructions within Indonesian society rather than universal social realities.     Keluarga merupakan ruang utama dalam pembentukan peran sosial, termasuk posisi anak sulung yang dalam sebagian budaya Indonesia sering dipahami sebagai pemegang tanggung jawab terbesar. Representasi mengenai peran tersebut beberapa kali muncul dalam media massa, salah satunya film. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana anak sulung sebagai pilar keluarga direpresentasikan dalam film Bila Esok Ibu Tiada dengan analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis teks yaitu semiotika Roland Barthes. Konsep dan teori yang digunakan adalah film sebagai media massa, representasi, dan peran sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film merepresentasikan anak sulung sebagai figur sentral yang memegang peran kepemimpinan, pengambil keputusan, dan penjaga stabilitas keluarga. Film juga merepresentasikan pengorbanan anak sulung sebagai bentuk pengabdian yang selaras dengan nilai budaya Indonesia yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Selain itu, tampak ketidakadilan pembagian peran serta tekanan sosial dan emosional yang sering tidak disadari. Dengan demikian, representasi tersebut mencerminkan konstruksi budaya yang dominan di masyarakat Indonesia, daripada realitas sosial secara keseluruhan.
Krisis Kepercayaan pada Fenomena Kabur Aja Dulu Studi Resepsi Gen Z dalam Perspektif Komunikasi Krisis Franco, Joe; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36299

Abstract

The “Kabur Aja Dulu” phenomenon reflects a growing trust crisis among Indonesian Gen Z toward the government, driven by social, economic, and political conditions that they perceive as failing to meet their expectations. This study aims to analyze Gen Z’s reception of the phenomenon and how they interpret it as a form of trust crisis using a communication perspective. Two theoretical frameworks are applied: Coombs’ Situational Crisis Communication Theory (SCCT) to examine attribution of government responsibility, and Stuart Hall’s Encoding/Decoding model to identify Gen Z’s reception positions. This research employs a descriptive, qualitative method through in-depth interviews with five Gen Z participants and one expert to validate the data. The findings indicate that Gen Z predominantly occupies dominant and negotiated positions, reflecting general acceptance of the phenomenon as an expression of dissatisfaction toward the government. Participants attribute significant responsibility to the government, reinforced by negative reputation, corruption cases, and defensive crisis communication. Many also view migration as a rational response to limited domestic opportunities and perceived inconsistencies in public policy. This study highlights that restoring public trust requires systemic reforms, transparency, and a more empathetic, consistent communication approach from the government that aligns with the expectations of younger generations.     Fenomena “Kabur Aja Dulu” mencerminkan meningkatnya krisis kepercayaan generasi muda terhadap pemerintah, terutama dalam konteks sosial, ekonomi, dan politik yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi Gen Z terhadap fenomena tersebut serta memahami bagaimana Gen Z mengaitkannya dengan krisis kepercayaan dalam perspektif komunikasi krisis. Dua kerangka teori digunakan, yaitu Situational Crisis Communication Theory (SCCT) Coombs untuk melihat atribusi tanggung jawab pemerintah, dan teori Encoding/Decoding Stuart Hall untuk menelaah posisi resepsi Gen Z terhadap makna fenomena ini. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dengan lima narasumber Gen Z serta satu narasumber ahli sebagai validasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi Gen Z berada pada posisi dominan dan negosiasi, menandakan penerimaan umum bahwa fenomena ini adalah bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah. Gen Z memberi atribusi tanggung jawab besar kepada pemerintah, diperburuk oleh reputasi negatif, kasus korupsi, dan komunikasi krisis yang dinilai defensif. Narasumber juga memandang migrasi sebagai pilihan rasional akibat keterbatasan peluang dan kualitas kebijakan dalam negeri. Studi ini menegaskan bahwa pemulihan kepercayaan publik mensyaratkan transparansi, perbaikan sistemik, serta komunikasi pemerintah yang lebih empatik, konsisten, dan responsif terhadap kebutuhan generasi muda.
Relasi Interpersonal dan Trust Building dalam Dinamika Hubungan pada Generasi Z di Aplikasi Bumble Chrestella, Chintya; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36303

Abstract

Online dating among Generation Z shows that many relationships begin in virtual spaces, yet their continuation depends on interpersonal relationship quality and trust. This study describes interpersonal relationship development and trust-building processes within the relationship dynamics of Generation Z Bumble users. It draws on DeVito and Knapp’s stages of interpersonal relationship development and Octaviolan and Ardi’s concepts of virtual communication and trust-building stages. Using a qualitative case study approach, the findings indicate that relationships typically progress from light conversations that create positive emotions to routine communication, moving to other platforms, increased self-disclosure, and face-to-face meetings. However, relationships may decline when expectations do not align with real experiences. Trust is built through identity verification, consistent communication, and direct interaction, but can easily collapse when dishonesty or mismatches in self-presentation occur. Relationship dynamics are often fluctuating connections may strengthen quickly yet also loosen rapidly due to the availability of alternative partners. Overall, interpersonal relationships and trust building act as the central drivers of relationship dynamics on Bumble, shaping the direction, intensity, and sustainability of relationships, whether they develop, stagnate, or end. Fenomena penggunaan aplikasi online dating di kalangan Generasi Z menunjukkan bahwa banyak hubungan dimulai di ruang virtual, namun keberlanjutannya tergantung pada kualitas relasi interpersonal dan kepercayaan yang terbangun. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan relasi interpersonal dan proses trust building dalam dinamika hubungan Generasi Z pengguna Bumble. Penelitian menggunakan konsep tahapan perkembangan relasi interpersonal menurut DeVito dan Knapp, serta konsep komunikasi virtual dan tahapan trust building Octaviolan dan Ardi sebagai landasan teoritis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi interpersonal berkembang dari obrolan ringan yang memunculkan emosi positif, berlanjut pada komunikasi rutin, perpindahan platform, peningkatan keterbukaan diri, hingga pertemuan tatap muka, lalu dapat menurun ketika ekspektasi tidak sesuai kenyataan. Trust building dibangun melalui verifikasi identitas, konsistensi komunikasi, dan pengalaman interaksi langsung, namun mudah runtuh ketika muncul kebohongan atau ketidaksesuaian citra diri. Dinamika hubungan tampak fluktuatif, cepat menguat namun juga cepat merenggang karena banyaknya alternatif pasangan. Secara keseluruhan, relasi interpersonal dan trust building menjadi poros utama yang menggerakkan dinamika hubungan di Bumble karena keduanya menentukan arah, intensitas, serta keberlanjutan hubungan, baik itu berkembang, stagnan, atau berakhir.
Representasi Feminisme Postmodern pada Tokoh Tewkesbury dalam Film Enola Holmes (2020) Jahja, Belinda Purwanto; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36343

Abstract

This study analyzes the representation of postmodern feminism through the character of Lord Tewkesbury in the film Enola Holmes (2020). The film is viewed as a cultural text that not only tells a story but also shapes and negotiates gender meanings through visual, verbal, and narrative signs. This research employs postmodern feminist theory using deconstructionist, poststructuralist, and performative approaches, which understand gender as a fluid social construct continuously formed through discourse. The analysis applies Roland Barthes’ semiotic framework of denotation, connotation, and myth. The study focuses on three key scenes that illustrate the reversal of gender roles, the negotiation of masculine identity within the social context of the Victorian era, and the performance of non-hegemonic gender expressions. The findings indicate that Tewkesbury is consistently portrayed as gentle, empathetic, reflective, and cooperative, thereby challenging dominant masculinity. These representations construct a myth of alternative masculinity that is more inclusive and humanistic, while emphasizing the role of popular media in expanding the understanding of gender as a dynamic spectrum in contemporary popular culture.     Penelitian ini menganalisis representasi feminisme postmodern melalui tokoh Lord Tewkesbury dalam film Enola Holmes (2020). Film dipandang sebagai teks budaya yang tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga membentuk dan menegosiasikan makna gender melalui tanda visual, verbal, dan naratif. Penelitian ini menggunakan teori feminisme postmodern dengan pendekatan dekonstruksionis, poststrukturalis, dan performatif, yang memandang gender sebagai konstruksi sosial yang bersifat cair dan terus dibentuk melalui wacana. Analisis dilakukan dengan semiotika Roland Barthes yang mencakup denotasi, konotasi, dan mitos. Kajian ini menelaah tiga adegan kunci yang menunjukkan pembalikan peran gender, negosiasi identitas maskulinitas dalam konteks sosial era Victoria, serta performativitas gender non-hegemonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tewkesbury digambarkan sebagai sosok yang lembut, empatik, reflektif, dan kooperatif, sehingga menantang maskulinitas dominan. Representasi tersebut membangun mitos maskulinitas alternatif yang lebih inklusif dan humanis, serta menegaskan peran media populer dalam memperluas pemahaman gender sebagai spektrum yang dinamis dalam konteks budaya populer kontemporer secara luas masa kini.
Pola Komunikasi Pengguna Media Sosial dalam Perilaku People Pleasing terhadap Ekspektasi Sosial Anggraeni, Apriyani; Loisa, Riris; Irena, Lydia
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36378

Abstract

The development of technology and social media encourages users to adjust their communication patterns to gain social acceptance, which in turn gives rise to the phenomenon of people pleasing in the digital space. This study examines the communication patterns of Instagram users in meeting social expectations, particularly through the phenomenon of people-pleasing, from the perspective of Erving Goffman's dramaturgy. Social media, especially Instagram, is used by users to project a more perfect self-image as part of impression management, while their true identities are more often displayed in private spaces. This study uses a qualitative approach with a phenomenological method through in-depth interviews, observation of informants' Instagram accounts, and documentation. The results show that pressure from the social environment influences how a person communicates, selects content, edits posts, and chooses language to gain recognition from others. The phenomenon of people-pleasing emerges as a way to maintain a positive image and elicit responses from the audience through various channels such as stories, comments, and direct messages. The research findings also indicate that users utilize the DM feature as a place for more authentic interactions, while public posts become a "front stage" for presenting an ideal version of themselves. This research helps understand how social expectations shape communication in the digital world and emphasizes the importance of honest and balanced interactions. Perkembangan teknologi dan media sosial mendorong pengguna untuk menyesuaikan pola komunikasinya demi memperoleh penerimaan sosial, yang kemudian memunculkan fenomena people pleasing di ruang digital. Penelitian ini membahas pola komunikasi pengguna Instagram dalam berkomunikasi untuk memenuhi harapan sosial, khususnya melalui fenomena people pleasing, dilihat dari sudut pandang dramaturgi Erving Goffman. Media sosial, terutama Instagram, digunakan oleh pengguna untuk menunjukkan gambaran diri yang lebih sempurna sebagai bagian dari pengelolaan kesan, sementara identitas sebenarnya lebih sering ditampilkan di area pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam, pengamatan akun Instagram informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan dari lingkungan sosial memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, memilih konten, mengedit unggahan, serta memilih bahasa untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Fenomena people pleasing muncul sebagai cara untuk mempertahankan citra positif dan memancing respons dari audiens melalui berbagai saluran seperti story, komentar, dan pesan langsung. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pengguna memanfaatkan fitur DM sebagai tempat interaksi yang lebih autentik, sementara unggahan publik menjadi tempat "panggung depan" untuk menampilkan versi diri yang ideal. Penelitian ini membantu memahami bagaimana harapan sosial membentuk komunikasi di dunia digital dan menekankan pentingnya interaksi yang jujur serta seimbang.
Makna Otonomi Ekonomi Perempuan dalam Lagu Miss Independent: Analisis Semiotika Roland Barthes Muaya, Fellycia; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36390

Abstract

This study examines the representation of perceptions of women’s economic autonomy in Ne-Yo’s "Miss Independent" (2008) using Roland Barthes’ semiotic approach. The lyrics serve as the subject, while the focus is on understanding how young women internalize messages of financial independence, decision- making freedom, and self-reliance. Analysis is conducted across three semiotic levels: denotation, connotation, and myth, to explore how the song constructs the image of an independent woman. Findings indicate that the lyrics reinforce liberal feminist values by emphasizing autonomy, equality, and empowerment, while also reflecting the social realities and aspirations of. The study demonstrates that popular music functions as a cultural medium that can shape perceptions, inspire agency, and foster critical media literacy. By linking lyrical representation with the lived experiences of young women, this research highlights the role of music in promoting gender equality and empowering to embrace independence both socially and economically. The study contributes to cultural communication scholarship and provides insight for creating more inclusive and empowering cultural works.     Penelitian ini menelaah representasi persepsi terhadap otonomi ekonomi perempuan melalui lirik lagu Ne-Yo, "Miss Independent" (2008) menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Subjek penelitian adalah lirik lagu, sedangkan objeknya adalah kemandirian ekonomi perempuan, termasuk kemampuan mengelola keuangan, membuat keputusan, dan menegaskan identitas diri. Analisis dilakukan pada tiga tingkatan makna: denotasi, konotasi, dan mitos, untuk memahami bagaimana lagu membangun citra perempuan mandiri. Temuan menunjukkan bahwa lirik lagu menguatkan nilai-nilai feminisme liberal dengan menekankan otonomi, kesetaraan, dan pemberdayaan, sekaligus mencerminkan realitas sosial dan aspirasi. Musik populer berfungsi sebagai medium budaya yang membentuk persepsi, mendorong kemandirian, dan meningkatkan literasi media kritis. Dengan menghubungkan representasi lirik dan pengalaman nyata perempuan muda, penelitian ini menyoroti peran musik dalam mempromosikan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan untuk mandiri secara sosial dan ekonomi. Studi ini diharapkan memperkaya kajian komunikasi budaya serta memberikan inspirasi bagi penciptaan karya yang lebih inklusif dan memberdayakan.
Analisis Semiotika Representasi Pesan Moral dalam Film Thunderbolts Prajnanda, Jason Cipto; Setyanto, Yugih
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36392

Abstract

This study analyzes the representation of moral messages in the film “Thunderbolts” using Roland Barthes’ semiotic framework, which includes denotation, connotation, and myth. The research focuses on six key scenes featuring Yelena Belova, Bucky Barnes, and Sentry. These characters are portrayed as complex antiheroes who carry emotional burdens and moral dilemmas that shape the film’s ethical narrative. A qualitative descriptive method is used, with data collected through repeated observation and documentation of visual and verbal signs. The findings show that moral messages in the film are not delivered explicitly but emerge through gestures, expressions, atmosphere, and interpersonal interactions. Denotatively, the scenes depict conflict and vulnerability, connotatively, they reveal themes of trauma, self-awareness, empathy, and restraint. At the myth level, the film constructs the idea that moral growth is a nonlinear journey shaped by personal struggle. This study contributes to understanding how contemporary superhero films articulate moral complexity through antihero figures. Penelitian ini menganalisis representasi pesan moral dalam film “Thunderbolts” dengan menggunakan model semiotika Roland Barthes, yang mencakup tataran denotasi, konotasi, dan mitos. Analisis difokuskan pada enam adegan kunci yang melibatkan Yelena Belova, Bucky Barnes, dan Sentry sebagai tokoh anti pahlawan dengan beban emosional serta dilema moral. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi berulang dan dokumentasi terhadap tanda visual maupun verbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan moral tidak disampaikan secara langsung, tetapi dibangun melalui ekspresi, gestur, dinamika suasana, serta interaksi antar tokoh. Pada level denotasi, adegan memperlihatkan konflik dan kerentanan. Pada level konotasi muncul tema trauma, kesadaran diri, empati, dan pengendalian diri. Sedangkan pada level mitos, film menegaskan bahwa proses perubahan moral bersifat panjang, tidak linear, dan dipengaruhi pergulatan pribadi. Penelitian ini memperkaya pemahaman mengenai bagaimana film pahlawan super modern menampilkan kompleksitas moral melalui figur anti pahlawan.
Makna Prasangka sebagai 'Monster' dalam Film Monster (2023) Meliana, Agdelia; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36457

Abstract

Film is a medium in mass communication that functions to convey messages to audiences through audio-visual forms. This study aims to analyze the meaning of prejudice as a ‘monster’ in the Japanese film Monster (2023) using Roland Barthes’ semiotic analysis and Edwin M. Lemert’s labeling theory. The focus of this research is on visual and narrative signs that indicate social prejudice toward the Other within the context of social relations in Japanese society. The main concepts employed include mass communication, film as a medium of mass communication, prejudice, the concept of monsters in Japanese culture, Roland Barthes semiotics, and labeling theory. This study adopts a qualitative approach with semiotic text analysis to examine denotative, connotative, and mythic meanings presented in the film. The findings show that the ‘monster’ in the film does not refer to a physical being, but rather to a social construct formed through rigid cultural systems and social institutions. Labeling mechanisms, normative pressures, and Japanese cultural values play an important role in transforming difference into stigma. Thus, Monster conveys a social critique of society’s efforts to maintain superficial harmony by excluding individuals who are considered different. The film essentially addresses the failure of social systems to protect individuals. Prejudice and the labeling of "monsters" arise from a rigid society that chooses to exclude the other in order to maintain social harmony.   Film menjadi salah satu media dalam komunikasi massa yang berfungsi menyampaikan pesan kepada audiens melalui bentuk audio-visualnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna prasangka sebagai ‘monster’ dalam film Jepang Monster (2023) dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes dan teori labelling Edwin M. Lemert. Fokus penelitian diarahkan pada tanda-tanda visual dan naratif yang menunjukkan prasangka sosial terhadap liyan (the other) dalam konteks relasi sosial masyarakat Jepang. Konsep-konsep utama yang digunakan meliputi komunikasi massa, film sebagai media komunikasi massa, prasangka, konsep monster dalam budaya Jepang, semiotika Roland Barthes, serta teori labelling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis teks semiotika untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘monster’ dalam film tidak merujuk pada sosok fisik, melainkan pada konstruksi sosial yang terbentuk melalui sistem budaya dan institusi sosial yang kaku. Mekanisme pelabelan, tekanan norma, serta nilai budaya Jepang berperan penting dalam mengubah perbedaan menjadi stigma. Dengan demikian, film Monster menyampaikan kritik sosial terhadap upaya masyarakat mempertahankan harmoni semu dengan cara menyingkirkan individu yang dianggap berbeda. Film sejatinya merujuk pada kegagalan sistem sosial dalam melindungi individu. Prasangka dan pelabelan ‘monster’ muncul dari masyarakat yang kaku, yang memilih untuk menyingkirkan liyan (the other) demi mempertahankan harmoni sosial.
Paparan Drama Tiongkok terhadap Pandangan Realitas Budaya Tiongkok pada Penonton di Indonesia Grace, Jennifer; Loisa, Riris
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36464

Abstract

 This study is motivated by the growing penetration of Chinese dramas in Indonesia, which are increasingly competing with the dominance of Korean dramas, particularly among viewers aged 18–35 who are active consumers of digital media. This phenomenon indicates that foreign entertainment plays a role in shaping cross-cultural perceptions and has become part of the dynamics of cultural globalization. The study aims to measure the influence of exposure to foreign entertainment products on viewers’ perceptions of the reality of the producing culture, using Cultivation Theory as the main framework to explain how intensive and repetitive exposure can affect audiences’ understanding, attitudes, and behavioral tendencies. Variables such as frequency, duration, attention, and viewer involvement are derived from the concepts of media exposure and foreign entertainment, while the process of cultural perception formation is explained through the concept of stereotypes within the warmth–competence framework. This research employs a quantitative approach through an online survey of 100 respondents who meet the criteria of Chinese drama viewers. The findings affirm that foreign entertainment media plays a significant role as an agent of cultural transmission and contributes to shaping how audiences interpret cultural realities within the context of contemporary globalization.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penetrasi drama Tiongkok di Indonesia yang kini bersaing dengan dominasi drama Korea, terutama pada kelompok penonton berusia 18–35 tahun yang menjadi konsumen aktif media digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa hiburan asing berperan dalam membentuk persepsi budaya lintas negara dan menjadi bagian dari dinamika globalisasi budaya. Studi ini bertujuan mengukur pengaruh terpaan produk hiburan asing terhadap pandangan tentang realitas budaya produsen dengan menggunakan Teori Kultivasi sebagai landasan utama untuk menjelaskan bagaimana terpaan yang intensif dan berulang mampu memengaruhi pemahaman, sikap, serta kecenderungan perilaku penonton. Variabel frekuensi, durasi, atensi, dan keterlibatan penonton dijelaskan melalui konsep terpaan media dan hiburan asing, sedangkan proses pembentukan persepsi budaya dijelaskan menggunakan konsep stereotip dalam kerangka warmth dan competence. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei daring kepada 100 responden yang memenuhi kriteria penonton drama Tiongkok. Temuan ini menegaskan bahwa media hiburan asing memiliki peran signifikan sebagai agen transmisi budaya dan turut membentuk cara audiens memaknai realitas budaya dalam konteks globalisasi kontemporer.