cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 703 Documents
Peran Love Language dalam Komunikasi Keluarga Generasi Z untuk Membangun Self-Disclosure Kambey, Alannys Zefanya; Loisa, Riris
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33277

Abstract

This study aims to analyze the role of love language in communication between parents and children of generation Z for self-disclosure. The love language proposed by Chapman (2014) includes five main forms: words of affirmation, acts of service, receiving gifts, quality time, and physical touch. The study used a qualitative approach with a phenomenological method. Data collection was carried out through in-depth interviews with six informants consisting of parents and children of generation Z. The results of the study showed that love language plays an important role in creating comfort, trust, and openness between parents and children. Self-disclosure occurs because of the comfort and trust that arise from smooth communication through love language. However, differences in understanding between parents and children can hinder the process of self-disclosure. This study recommends the importance of parents' understanding of their children's love language in order to strengthen family relationships. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran Love Language dalam komunikasi antara orang tua dan anak generasi Z untuk penyingkapan diri (self-disclosure). Love Langeage yang dikemukakan oleh Chapman (2014) mencakup lima bentuk utama: words of affirmation, act of service, receiving gift, quality time, dan physical touch. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari orang tua dan anak generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa cinta berperan penting dalam menciptakan kenyamanan, kepercayaan, dan keterbukaan antara orang tua dan anak. Penyingkapan diri terjadi karena rasa nyaman dan kepercayaan yang muncul dari komunikasi yang berjalan lancar melalui bahasa cinta. Namun, perbedaan pemahaman antara orang tua dan anak dapat menghambat proses Self- Disclosure anak. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemahaman orang tua terhadap bahasa cinta anak guna mempererat hubungan keluarga.
Resepsi Khalayak terhadap Narasi Pemberitaan Medali ‘Giveaway’ di Metro TV Florentina, Regina; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33307

Abstract

Framing is the way the media conveys information to influence the audience's perception and interpretation of an event. This study aims to understand how audiences interpret the term “giveaway” in the news narrative of Gregoria Mariska Tunjung's medal win reported by Metro TV. The theories used include mass communication, the role of the media in influencing public perception through framing, as well as reception theory by Stuart Hall to analyze the audience's position in understanding media messages. The research approach used is qualitative with a case study method. Data were collected through structured interviews with 10 informants who have different backgrounds and are aware of the news of the 'giveaway' medal, as well as documentation from various sources. The data were analyzed using thematic analysis techniques. The results showed that the majority of respondents were in the Dominant-Hegemonic, Negotiated, and Oppositional Positions, where they had various interpretations of the media messages conveyed by Metro TV. This research concludes that audiences are not passive in receiving media messages, but actively interpret them based on ideology, culture, and individual understanding. This research also emphasizes the importance of proper framing in news reporting in order to better respect the context and struggles being reported. Framing merupakan cara media menyampaikan informasi untuk mempengaruhi persepsi dan interpretasi khalayak terhadap suatu peristiwa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana audiens menginterpretasikan istilah “giveaway” dalam narasi berita kemenangan medali Gregoria Mariska Tunjung yang dilaporkan oleh Metro TV. Teori yang digunakan meliputi komunikasi massa, peran media dalam mempengaruhi persepsi publik melalui framing, serta teori resepsi oleh Stuart Hall untuk menganalisis posisi audiens dalam memahami pesan media. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan 10 informan yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan mengetahui pemberitaan medali ‘giveaway’ tersebut, serta dokumentasi dari berbagai sumber. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada Posisi Dominant-Hegemonic, Negotiated, dan Oposisional, di mana mereka infroman memiliki pemaknaan beragam terhadap pesan media yang disampaikan Metro TV. Penelitian ini menyimpulkan bahwa audiens tidak pasif dalam menerima pesan media, melainkan aktif menginterpretasi berdasarkan ideologi, budaya, dan pemahaman individu. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya framing yang tepat dalam pemberitaan agar lebih menghormati konteks dan perjuangan yang dilaporkan.
TikTok sebagai Media dalam Membentuk Opini Publik melalui Film Netflix Ice Cold Adriana, Michel; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33312

Abstract

The 2016 cyanide coffee murder case was widely discussed in the mass media at the time, with Jessica Wongso as a suspect in the murder of Mirna. This case was brought up again in 2023 through a documentary film entitled "Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso," which aired on Netflix. The film clip video spread through various social media, one of which was TikTok, made the case that caused a stir in 2016 discussed again. Many provided information, views, and opinions to participate in the cyanide coffee case discussion actively. This study uses a qualitative approach with a case study method to analyze the stages of public opinion formation. Using the thinking of the stages of public opinion formation by Cutlip and Center and Erikson and Tedin. The study results show that TikTok is an effective platform for forming public opinion. Through four stages, namely the emergence of issues, there is attention from opinion leaders, discussing solutions, and determining solutions. Through data collection through in-depth interviews, observations, literature studies, and documentation, it is hoped that results that are close to the truth can be obtained. In addition, the results of this study are expected to gain insight into the stages of public opinion formation. Kasus pembunuhan kopi sianida pada tahun 2016 ramai dibahas pada masanya di media massa, dengan Jessica Wongso sebagai tersangka pembunuhan terhadap Mirna. Kasus ini terangkat kembali pada tahun 2023 melalui film dokumenter yang berjudul "Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso" yang tayang di Netflix. Video cuplikan film tersebar melalui berbagai media sosial salah satunya TikTok, membuat kasus yang menghebohkan pada tahun 2016 tersebut kembali dibahas. Banyak yang memberikan informasi, pandangan, dan pendapat mereka untuk turut aktif dalam berpartisipasi diskusi kasus kopi sianida. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menganalisis tahapan terbentuknya opini publik. Menggunakan pemikiran tahapan pembentukan opini publik Cutlip dan Center serta Erikson dan Tedin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok menjadi platform yang efektif dalam membentuk opini publik. Melalui empat tahapan yaitu munculnya isu, terdapat perhatian opinion leader, mendiskusikan solusi, dan menetapkan solusi. Melalui pengumpulan data dengan wawancara secara mendalam, observasi, studi pustaka dan dokumentasi, diharapkan dapat memperoleh hasil yang mendekati kebenaran. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat mendapatkan wawasan mengenai tahapan pembentukan opini publik.
Strategi Tim AMB Diskominfotik DKJ dalam Mengidentifikasi Isu Pemberitaan di Media Herman, Sylvia; Yoedtadi, Moehammad Gafar
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33313

Abstract

As a major city with complex activities, DKJ often becomes the focus of various issues. To address this, Diskominfotik DKJ utilizes media monitoring as a tool to identify negative issues emerging in the region. This study focuses on the strategies implemented by the AMB Team of Diskominfotik in detecting negative issues from media coverage. A qualitative approach with a case study method is used in this research, with data collected through observation, interviews, and documentation. The subject of the study is the AMB Team of Diskominfotik DKJ, while the object is the strategies they use to identify negative issues. The findings show that in identifying negative issues, the AMB Team conducts issue management by applying strategies such as media monitoring and sentiment analysis. By monitoring news across various platforms, including print media, television, radio, and online media, they are able to gather data on emerging issues. This strategy is supported by sentiment analysis, which helps classify news as positive, negative, or neutral. Such analysis enables swift issue identification and efficient decision-making to prevent potential crises. Additionally, structured organizational communication, encompassing horizontal, upward, and downward communication, further accelerates the flow of information and ensures appropriate responses to developing issues. Sebagai kota besar dengan aktivitas yang kompleks, DKJ sering kali menjadi sorotan berbagai isu beragam. Untuk mengatasi hal ini, Diskominfotik DKJ memanfaatkan media monitoring sebagai alat untuk mengidentifikasi isu negatif yang berkembang di wilayahnya. Penelitian ini berfokus pada strategi yang diterapkan Tim AMB Diskominfotik dalam mendeteksi isu negatif dari pemberitaan media. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini, dengan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah Tim AMB Diskominfotik DKJ, sementara objeknya adalah strategi yang mereka gunakan dalam mengidentifikasi isu negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengidentifikasi isu negatif Tim AMB melakukan manajemen isu dengan menerapkan strategi media monitoring dan analisis sentimen. Dengan memantau berita dari berbagai platform, seperti media cetak, televisi, radio, dan online, mereka mampu mengumpulkan data tentang isu yang muncul. Strategi ini didukung oleh analisis sentimen yang membantu mengklasifikasikan pemberitaan sebagai positif, negatif, atau netral. Analisis ini memungkinkan identifikasi isu secara cepat serta pengambilan keputusan yang efisien untuk mencegah krisis. Langkah-langkah tersebut membantu Tim AMB dalam mendeteksi isu negatif di pemberitaan secara real-time. Selain itu, komunikasi organisasi yang terstruktur, meliputi komunikasi horizontal, vertikal, dan diagonal, turut mempercepat penyampaian informasi dan memastikan respons yang tepat terhadap isu yang sedang berkembang.
Pembentukan Identitas Diri Penonton Remaja melalui Drama Korea Love Next Door Priscilia, Tiara; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33314

Abstract

Self-identity is a concept of self-recognition, seeking purpose, and upholding personal values and beliefs. Self-identity is fundamental in the formation of identity, particularly during the teenage years. The teenage stage is a developmental period marked by instability in the search for identity. Teenagers absorb various sources and information from the internet, such as Korean dramas. This study aims to analyze the formation of teenage self-identity through Korean dramas using symbolic interaction theory as the primary framework. The research employs a qualitative approach with a phenomenological method. The findings indicate that understanding the messages in the Korean drama Love Next Door through its narrative and character interactions has the potential to foster self-confidence, openness in communication, empathy, and flexibility among teenagers in planning their future and shaping their self-identity. This is evident in how teenagers comprehend the drama's messages and apply them in daily life, including decision-making and building social relationships in society. Identitas diri adalah situasi atau konsep pengenalan diri, mencari tujuan dan memegang nilai dan keyakinan diri pada individu. Identitas diri merupakan satu hal yang fundamental pada pembentukan identitas diri terutama pada masa remaja. Remaja merupakan perkembangan seseorang yang masih ditandai dengan kelabilan dalam pencarian jati diri. Remaja akan menyerap berbagai sumber dan informasi dari internet seperti pada drama Korea. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan identitas diri remaja melalui drama Korea dengan menggunakan teori interaksi simbolik sebagai landasan utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Hasi pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pemahaman pesan drama Korea Love Next Door melalui narasi dan interaksi karakter berpotensi mendorong rasa percaya diri, keterbukaan komunikasi, empati, dan fleksibilitas remaja dalam merencanakan masa depan serta membentuk identitas diri. Hal ini terlihat dari cara remaja memahami pesan pada drama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengambilan keputusan dan menjalin hubungan sosial di masyarakat.
Persepsi Generasi Z terhadap Dinasti Politik dalam Pemberitaan Media Massa Febriani, Wina; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33315

Abstract

This study analyzes Generation Z's perceptions of political dynasties as reported by mass media. As a digital generation, Generation Z is significantly influenced by information disseminated through both traditional and digital media. They are highly susceptible to continuous exposure to mass media information, particularly via new media platforms such as social media. This research employs a qualitative approach, utilizing in-depth interviews to examine how media exposure shapes their understanding and opinions regarding political dynasties. The findings reveal that Generation Z critically views political dynasties as a threat to democratic values, expressing concerns about nepotism and unequal access to leadership opportunities. Media, especially social media, plays a pivotal role in shaping their perspectives while also providing a space for discussion and activism. Despite challenges such as information bias, Generation Z demonstrates critical awareness in processing media content. This study highlights the potential of Generation Z as agents of change in promoting a more inclusive and transparent political system in Indonesia. Penelitian ini menganalisi persepsi Generasi Z terhadap dinasti politik yang diberitakan oleh media massa. Generasi Z sebagai generasi digital sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterima melalui media tradisional maupun digital, Generasi Z sangat mudah terpengaruh oleh informasi dari media massa secara terus – menerus yang mengalir melalui media baru, yakni media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam untuk menganalisis bagaimana paparan media membentuk pemahaman dan opini mereka terhadap dinasti politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z secara kritis memandang dinasti politik sebagai ancaman bagi nilai-nilai demokrasi, dengan kekhawatiran terkait nepotisme dan ketimpangan akses terhadap peluang kepemimpinan. Media, khususnya media sosial, memiliki peran penting dalam membentuk perspektif mereka sekaligus menyediakan ruang untuk diskusi dan aktivisme. Meskipun menghadapi tantangan seperti bias informasi, Generasi Z menunjukkan kesadaran kritis dalam memproses konten media. Penelitian ini menyoroti potensi Generasi Z sebagai agen perubahan dalam mendorong sistem politik yang lebih inklusif dan transparan di Indonesia.
DAAI TV Memanfaatkan Aplikasi DAAI+ Guna Menjangkau Pemirsa yang Lebih Luas Ho, Wynne Chrestella; Yoedtadi, Moehammad Gafar
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33317

Abstract

Television is one of the most effective media in influencing society, especially as a primary source of information for many people around the world, including in Indonesia. DAAI TV utilizes the DAAI+ application to reach a wider audience in the digital era. Where everyone has turned to gadgets to get information and make things easier. Using a qualitative approach, data was obtained through interviews with management, the digital team, the branding team, and application users. The results of the study show that DAAI+ reflects media convergence by combining traditional television broadcasts and on-demand access, increasing the flexibility and reach of content. However, there are obstacles in using the application because loyal DAAI viewers are from the older generation, and must compete with popular entertainment that is more in demand by the general public. Also, the limited interactive features are a challenge in increasing user engagement. Going forward, DAAI TV plans to strengthen the application through content personalization and interactive features. This study shows how traditional television can transform through new media to remain relevant. It is necessary to develop a stronger internal technical team and improve server stability to ensure the application runs more smoothly and efficiently. Televisi merupakan salah satu media yang paling efektif dalam mempengaruhi masyarakat, terutama sebagai sumber informasi utama bagi banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. DAAI TV memanfaatkan aplikasi DAAI+ untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas di era digital. Dimana semua orang sudah beralih ke gadget untuk mendapatkan infromasi serta memudahkan dalam hal apapun. Dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui wawancara dengan pihak manajemen, tim digital, tim branding, dan pengguna aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAAI+ mencerminkan konvergensi media dengan menggabungkan siaran televisi tradisional dan akses on-demand, meningkatkan fleksibilitas dan jangkauan konten. Namun, memiliki kendala dalam penggunaan aplikasi dikarenakan penonton loyal DAAI adalah generasi lama, dan harus bersaing dengan hiburan populer yang lebih banyak diminati masyarakat umum, serta keterbatasan fitur interaktif menjadi tantangan dalam meningkatkan keterlibatan pengguna. ke depan, DAAI TV berencana memperkuat aplikasi melalui personalisasi konten dan fitur interaktif. Penelitian ini menunjukkan bagaimana televisi tradisional dapat bertransformasi melalui media baru untuk tetap relevan. Perlu adanya pengembangan tim teknis internal yang lebih kuat dan peningkatan stabilitas server guna memastikan aplikasi berjalan lebih lancar dan efisien.
Komunikasi Interpersonal Pengguna Aplikasi Kencan Bumble Nathalie, Zefanya Aurell; Junaidi, Ahmad
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33318

Abstract

Bumble is unique compared to other dating apps, namely that only female users can initiate a conversation after a match occurs, this feature not only gives women more control in determining the direction of the interaction, but also is able to create different and interesting communication patterns. This study aims to analyze how interpersonal communication can develop following a match in the context of using the Bumble dating app. The theory used in this study is interpersonal communication theory, which highlights the stages of relationship development through digital interaction. Using a qualitative approach with a case study method, this research explores users' subjective experiences of communicating through the app. Data was collected through in-depth interviews with female university students in Jakarta who are active users of the Bumble app to understand how initial interactions occur and develop into more intense communication, complemented by a literature study. The results revealed that interpersonal communication on Bumble evolves gradually, often turning to other communication platforms to build further trust and comfort. The conclusion of this study provides insights into how dating apps facilitate unique interpersonal communication patterns in a digital context and their relevance to the needs of the younger generation. Bumble memiliki keunikan dibandingkan aplikasi kencan lainnya, yaitu hanya pengguna perempuan yang dapat memulai percakapan setelah terjadi kecocokan (match), fitur ini tidak hanya memberikan kendali lebih besar kepada perempuan dalam menentukan arah interaksi, tetapi juga mampu menciptakan pola komunikasi yang berbeda dan menarik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis bagaimana komunikasi interpersonal dapat berkembang setelah terjadinya kecocokan dalam konteks penggunaan aplikasi kencan Bumble. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi interpersonal, yang menyoroti tahapan perkembangan hubungan melalui interaksi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi pengalaman subjektif pengguna dalam melakukan komunikasi melalui aplikasi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara secara mendalam dengan mahasiswa perempuam di Jakarta yang menjadi pengguna aktif aplikasi Bumble untuk memahami bagaimana interaksi awal terjadi dan berkembang menjadi komunikasi yang lebih intens, dilengkapi dengan studi literatur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa komunikasi interpersonal di Bumble berkembang secara bertahap, yang sering kali beralih ke platform komunikasi lain untuk membangun kepercayaan dan kenyamanan lebih lanjut. Kesimpulan dari penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana aplikasi kencan memfasilitasi pola komunikasi interpersonal yang unik dalam konteks digital dan relevansinya terhadap kebutuhan generasi muda.
Pesan Moral Dalam Visual Peringatan Darurat: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Hidayat, Rahmat; Yoedtadi, Moehammad Gafar
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33320

Abstract

Visual elements such as symbols or images are often used to evoke public emotions and convey moral messages through viral posts on social media. The viral post about the "Emergency Warning" with the Garuda symbol on a blue background is an interesting phenomenon to study, especially in the context of representation and the moral message contained therein. This shows that visualizations that are appropriate to the circumstances that occur around can strengthen the delivery of important information to the public. This study aims to uncover the moral message behind the Garuda symbol on a blue background with the words "Emergency Warning" using Charles Sanders Peirce's semiotic approach. This research method is qualitative with the analysis of signs, objects, and logistical interpretation based on Peirce's semiotic theory. The subject of the study is the visual symbol of Garuda on a blue background with the words "Emergency Warning," while the object of the research is the moral message contained therein. The results show that the color blue reflects stability, the Garuda symbol represents the values ​​of Pancasila, and the text "Emergency Warning" gives a sense of urgency. However, the visual noise in this image affects public understanding, resulting in diverse interpretations. This research emphasizes the importance of visual clarity in conveying moral messages in national symbols. Elemen visual seperti simbol atau gambar, sering digunakan untuk menggugah emosi masyarakat dan menyampaikan pesan moral melalui postingan viral di media sosial. Postingan viral tentang “Peringatan Darurat” dengan simbol Garuda berlatar biru menjadi fenomena menarik untuk dikaji, terutama dalam konteks representasi dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa visualisasi yang sesuai dengan keadaan yang terjadi di sekitar dapat memperkuat penyampaian informasi penting kepada publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pesan moral di balik simbol Garuda berlatar biru dengan tulisan "Peringatan Darurat" yang menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis tanda, objek, dan interpretasi logis berdasarkan teori semiotika Peirce. Subjek penelitian adalah visual simbol Garuda berlatar biru dengan tulisan "Peringatan Darurat," sementara objek penelitian adalah pesan moral yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna biru mencerminkan kestabilan, simbol Garuda merepresentasikan nilai-nilai Pancasila, dan teks "Peringatan Darurat" memberikan kesan urgensi. Namun, noise visual pada gambar ini memengaruhi pemahaman publik, menghasilkan interpretasi yang beragam. Penelitian ini menegaskan pentingnya kejelasan visual dalam menyampaikan pesan moral pada simbol - simbol nasional.
Representasi Toxic Masculinity Pada Film Monster (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure) Wicaksono, Raihan Zahran; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33321

Abstract

In mass communication research, films are often recognized as a powerful medium for conveying social and cultural messages to audiences. As a form of visual communication, films serve not only as entertainment but also as a platform that reflects societal realities, including family dynamics and gender roles. This study applies mass communication theory, focusing on film as a medium, alongside family communication theory, and employs a qualitative descriptive approach using discourse analysis based on Ferdinand de Saussure’s semiotic theory to interpret the meanings embedded in the visual and verbal symbols within the film. The primary objective of this study is to examine how the film portrays the construction of toxic masculinity and how dysfunctional family communication dynamics reinforce harmful masculine behaviors. By applying family communication theory, this research explores the role of communication in shaping gender identities and how family communication patterns influence the development of social behaviors. The findings of this study illustrate how the culture of toxic masculinity in dysfunctional families shapes behavioral patterns that portray men as dominant figures, emphasizing masculinity from the perspective of mass communication. Dalam kajian komunikasi massa, film sering dipandang sebagai salah satu bentuk media yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial dan budaya kepada audiens. Sebagai produk komunikasi visual, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium yang dapat merepresentasikan realitas sosial, termasuk dinamika hubungan keluarga dan konstruksi gender. Penelitian ini menggunakan teori Komunikasi massa dengan film sebagai produknya, komunikasi keluarga, dan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  deskriptif dengan metode analisis wacana berdasarkan teori semiotika Ferdinand de Saussure untuk menggali makna yang terkandung dalam simbol-simbol visual dan verbal dalam film. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana film tersebut menggambarkan konstruksi maskulinitas yang toksik, serta bagaimana dinamika komunikasi dalam keluarga disfungsional memperkuat perilaku-perilaku maskulin yang destruktif. Dengan menggunakan teori komunikasi keluarga, penelitian ini mengeksplorasi peran komunikasi dalam membentuk identitas gender dan bagaimana pola komunikasi dalam keluarga mempengaruhi pembentukan perilaku sosial. Hasil penelitian ini merepresentasikan bagaimana budaya toxic masculinity dalam keluarga disfungsional dapat membentuk pola perilaku yang mencerminkan gambaran laki-laki sebagai sosok dominan, yang memperkuat maskulinitas dari perspektif komunikasi massa.