cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
Koneksi@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Koneksi
ISSN : -     EISSN : 25980785     DOI : -
Koneksi (E-ISSN : 2598 - 0785) is a national journal, which all articles contain student's writing, are published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Koneksi are result from research and scientific studies conduct by Faculty of Communication students in communication field. Koneksi published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 703 Documents
Analisis Komunikasi Non-Verbal di Line (Studi Kasus Hubungan Jarak Jauh pada Mahasiswa Fikom Untar) Simanjorang, Aura Diva Maria Br; Aulia, Sisca
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36477

Abstract

Nonverbal communication is often more powerful than verbal communication, as it can emphasize, strengthen, and even replace spoken messages. In the context of interpersonal relationships, communication. This study discusses the role of nonverbal communication in maintaining emotional closeness among Untar Faculty of Communication Sciences students in long-distance relationships, particularly through the LINE application. In the digital era, nonverbal expressions are no longer only manifested through physical gestures, but also through visual symbols such as stickers, emojis, message reply patterns, and audio features. This study aims to analyze the forms of nonverbal communication used by students in long-distance relationships and understand how these elements help maintain the quality of interpersonal relationships. This study uses Paul Ekman and Wallace Friesen's Kinesics theory, which includes five categories of nonverbal expression: emblem, illustrator, regulator, affect display, and adapter, as the basis for analysis. The research method used is a qualitative approach with in-depth interview techniques and source triangulation. The results show that stickers and emojis are the most dominant digital symbols for expressing emotions, clarifying messages, and reducing miscommunication. Additionally, features like voice notes, reply pauses, and "read" marks serve as digital regulators that help maintain the rhythm of communication. Overall, digital nonverbal communication has been shown to play a crucial role in maintaining emotional closeness in long-distance relationships. Komunikasi nonverbal sering kali lebih kuat dibandingkan komunikasi verbal, karena dapat menegaskan, memperkuat, bahkan menggantikan pesan yang diucapkan. Dalam konteks hubungan antarpribadi. Penelitian ini membahas peran komunikasi nonverbal dalam menjaga kedekatan emosional pada mahasiswa Fikom Untar yang menjalani hubungan jarak jauh (long-distance relationship), khususnya melalui aplikasi LINE. Di era digital, ekspresi non-verbal tidak lagi hanya diwujudkan melalui gestur fisik, tetapi juga melalui simbol visual seperti stiker, emoji, pola balasan pesan, dan fitur audio. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi non-verbal yang digunakan mahasiswa dalam hubungan jarak jauh serta memahami bagaimana elemen-elemen tersebut membantu mempertahankan kualitas hubungan interpersonal. Kajian ini menggunakan teori Kinesics Paul Ekman dan Wallace Friesen, yang mencakup lima kategori ekspresi non-verbal: emblem, illustrator, regulator, affect display, dan adaptor, sebagai landasan analisis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stiker dan emoji menjadi simbol digital yang paling dominan untuk mengekspresikan emosi, memperjelas pesan, dan mengurangi miskomunikasi. Selain itu, fitur seperti voice note, jeda balasan, dan tanda “read” berfungsi sebagai regulator digital yang membantu menjaga ritme komunikasi. Secara keseluruhan, komunikasi non-verbal digital terbukti berperan penting dalam mempertahankan kedekatan emosional pasangan dalam hubungan jarak jauh.
Interaksi Parasosial Penggemar Indonesia terhadap Boygroup Korea Selatan Fitrah, Imelda Aimar; Pribadi, Muhammad Adi
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36493

Abstract

Parasocial relationships have become increasingly prominent in the social media era, especially among K-Pop fans in Indonesia. This study explores how parasocial interactions between Indonesian fans and NCT Dream are formed and experienced through digital activities on Twitter (X). A qualitative phenomenological approach was used to examine the experiences of seven active fans and regular Twitter users. Data were collected via in-depth interviews and digital documentation, then analyzed using Miles and Huberman’s model through data reduction, display, and conclusion drawing. Findings reveal that parasocial interactions develop across three dimensions. The knowledge dimension arises from repeated exposure to digital content, fostering familiarity with NCT Dream members. The affective dimension reflects emotional attachment, including comfort, enthusiasm, and loss when idols are inactive. The behavioral dimension appears in fandom participation through trending topics, voting, streaming, and donations. The study concludes that Twitter (X) creates an ecosystem that enhances parasocial closeness through information exposure, real-time presence, and coordinated fan activities, highlighting multidimensional psychological and social dynamics in digital fandom.   Hubungan parasosial semakin menonjol di era media sosial, terutama di kalangan penggemar K-Pop di Indonesia. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana interaksi parasosial antara penggemar Indonesia dan NCT Dream terbentuk dan dialami melalui aktivitas digital di X. Pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan untuk menelaah pengalaman tujuh penggemar aktif dan pengguna rutin X. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi digital, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi parasosial berkembang melalui tiga dimensi. Dimensi pengetahuan muncul dari paparan berulang terhadap konten digital, menumbuhkan rasa familiar dengan anggota NCT Dream. Dimensi afektif tercermin dari keterikatan emosional, termasuk kenyamanan, antusiasme, dan rasa kehilangan ketika idol tidak aktif. Dimensi perilaku terlihat dalam partisipasi fandom melalui topik trending, voting, streaming, dan donasi. Penelitian menyimpulkan bahwa X menciptakan ekosistem yang memperkuat kedekatan parasosial melalui paparan informasi, kehadiran secara real-time, dan koordinasi aktivitas penggemar, menyoroti dinamika psikologis dan sosial multidimensional dalam fandom digital.
Komodifikasi dalam Ekonomi Politik Media: Studi Kasus pada Instagram Sabrina Chairunnisa Hardianto, Aldi; Pratidina, Indah Sari
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36777

Abstract

The rapid advancement of digital technology has transformed social media into a capitalization space where identity and creativity are converted into economic exchange value. This study analyzes the commodification processes within the digital activities of influencer Sabrina Chairunnisa through the lens of the political economy of media, specifically applying Vincent Mosco’s conceptual framework. Through a qualitative descriptive approach and case study method, data was collected via virtual observation of Instagram content and documentation to understand how creativity transforms into commercial value. The research reveals that Chairunnisa effectively integrates content creation, labor, and audience interaction to generate economic profit while maintaining ethical work standards without exploitation. Educational skincare reviews and entertainment content transform into commodities that significantly benefit brands like Wardah and JimsHoney, turning personal expression into a strategic marketing tool. Furthermore, the meticulous labor of her creative team and the high engagement of her audience are capitalized upon to strengthen her bargaining power in the competitive influencer marketing industry. This study concludes that social media functions as a complex capitalist ecosystem where digital influence and creative labor are systematically commodified. Pesatnya perkembangan teknologi digital telah mengubah media sosial menjadi ruang kapitalisasi di mana identitas dan kreativitas bertransformasi menjadi nilai tukar ekonomi. Penelitian ini menganalisis proses komodifikasi dalam aktivitas digital influencer Sabrina Chairunnisa melalui perspektif ekonomi politik media dengan menerapkan kerangka konseptual komodifikasi dari Vincent Mosco. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan lewat observasi virtual terhadap konten Instagram serta dokumentasi untuk memahami mekanisme kreativitas menjadi komoditas komersial. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Chairunnisa secara efektif mengintegrasikan kreasi konten, tenaga kerja, dan interaksi audiens untuk menghasilkan keuntungan ekonomi sembari tetap mempertahankan standar kerja yang etis tanpa eksploitasi. Konten ulasan edukatif mengenai perawatan kulit dan hiburan bertransformasi menjadi komoditas yang memberikan keuntungan signifikan bagi jenama seperti Wardah dan JimsHoney, sekaligus mengubah ekspresi personal menjadi alat pemasaran strategis. Lebih lanjut, kerja cermat tim kreatifnya serta keterlibatan audiens yang tinggi dikapitalisasi untuk memperkuat posisi tawarnya dalam industri pemasaran influencer yang kompetitif. Studi ini menyimpulkan bahwa media sosial berfungsi sebagai ekosistem kapitalis yang kompleks di mana pengaruh digital dan kerja kreatif dikomodifikasi secara sistematis.
Membangun Kepuasan Kerja melalui Pola Komunikasi Organisasi (Studi Kasus PT. Gorontalo Minerals) Ruchban, Mohammad Hamdallah; Yoedtadi, Moehammad Gafar
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37136

Abstract

This study aims to analyze the organizational communication patterns between leaders and employees in building job satisfaction at PT Gorontalo Minerals. The research employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation with nine informants, including company leaders and staff. Data analysis was conducted through the reduction, presentation, and conclusion-drawing stages, following the Miles and Huberman model, while data validity was strengthened through source and technique triangulation. The findings indicate that the company uses a chain-of-command pattern, reflecting a hierarchical organizational structure. Downward communication occurs through meetings, briefings, and work instructions, while upward communication occurs through performance reports and evaluations. Horizontal and diagonal communication also takes place for interdepartmental coordination, though it remains dominated by formal channels. Supporting factors for effective organizational communication include leadership openness, adequate communication facilities, and a collaborative work culture. Conversely, communication barriers consist of message distortion due to bureaucracy, differences in employees’ cultural backgrounds, and technical obstacles in the field. An open, clear, and participatory communication pattern has been proven to enhance job satisfaction, as reflected in increased motivation, loyalty, and productivity. This study affirms that the effectiveness of organizational communication is a key determinant in establishing a harmonious, productive, and adaptive work environment in the face of organizational change. Penelitian ini menganalisis pola komunikasi organisasi antara pimpinan dan karyawan dalam membangun kepuasan kerja di PT. Gorontalo Minerals. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap sembilan informan yang terdiri dari pimpinan dan staf. Analisis dilakukan dengan teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara induktif menggunakan model Miles dan Huberman, serta diuji validitasnya melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan menerapkan pola komunikasi rantai yang mencerminkan struktur organisasi hierarkis. Komunikasi vertikal dari atas ke bawah dilakukan melalui rapat, briefing, dan instruksi kerja, sedangkan komunikasi dari bawah ke atas berlangsung melalui laporan dan evaluasi kinerja. Komunikasi horizontal dan diagonal juga terjalin untuk koordinasi lintas departemen, meskipun masih bersifat formal. Faktor pendukung utama komunikasi organisasi meliputi keterbukaan pimpinan, fasilitas komunikasi yang memadai, serta budaya kerja kolaboratif. Sebaliknya, hambatan komunikasi mencakup distorsi pesan akibat birokrasi, perbedaan latar belakang karyawan, dan kendala teknis di lapangan. Pola komunikasi yang jelas dan terbuka terbukti meningkatkan kepuasan kerja karyawan, yang ditandai dengan meningkatnya motivasi, loyalitas, dan produktivitas. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas komunikasi organisasi merupakan determinan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan berorientasi pada kinerja, serta merekomendasikan penguatan komunikasi digital dan forum interaktif untuk meningkatkan responsivitas organisasi.
Dinamika Komunikasi Internasional Anak Pasca Perselingkuhan Orang Tua Vania, Artika Naila; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37137

Abstract

The family is the foundation for child development, because it is in this environment that children first learn values, norms, and behavior patterns before interacting more widely at school and in society. When family functions weaken due to prolonged conflict, relationships that are no longer harmonious, or the inability of couples to adapt, the risk of divorce becomes higher. The study aims to describe changes in children's interpersonal communication patterns after divorce due to infidelity. The research uses a qualitative descriptive method with interviews, observations, and literature studies such as books, journals, and previous research. The results show that divorce due to infidelity triggers a significant shift in communication between children and parents. A phenomenon of realignment of relationships occurs, where emotional closeness shifts to figures who are considered safer and more supportive. Interactions that were previously warm become more infrequent, rigid, and distant, especially towards the parent who committed adultery, who is seen as a source of emotional discomfort. The restoration of communication is greatly influenced by emotional support from the non-adulterous parent and the immediate environment, such as peers, extended family, or teachers who provide a safe space to express feelings and emotional balance. Keluarga menjadi fondasi awal bagi perkembangan anak, sebab di lingkungan inilah anak pertama kali mempelajari nilai, norma, dan pola perilaku sebelum berinteraksi lebih luas di sekolah dan masyarakat. Ketika fungsi-fungsi keluarga melemah akibat konflik berkepanjangan, hubungan yang tidak lagi harmonis, atau ketidakmampuan pasangan beradaptasi, risiko terjadinya perceraian menjadi lebih tinggi. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan perubahan pola komunikasi interpersonal anak setelah perceraian akibat perselingkuhan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan wawancara, observasi serta studi literatur seperti buku, jurnal, dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian karena perselingkuhan memicu pergeseran signifikan dalam komunikasi anak dan orang tua. Terjadi fenomena realignment relasi, di mana kedekatan emosional berpindah kepada figur yang dianggap lebih aman dan suportif. Interaksi yang sebelumnya hangat bergeser menjadi lebih jarang, kaku, dan berjarak, terutama terhadap orang tua pelaku perselingkuhan yang dipandang sebagai sumber ketidaknyamanan emosional. Pemulihan komunikasi sangat dipengaruhi oleh dukungan emosional dari orang tua non-pelaku serta lingkungan terdekat seperti teman sebaya, keluarga besar, atau guru yang menyediakan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dan keseimbangan emosionalnya.
Konstruksi Sosial Healthy Lifestyle dalam Budaya Fitness Gen Z di Lingkungan Perguruan Tinggi Djaja, Calvin Adiputra; Candraningrum, Diah Ayu
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37139

Abstract

The growing awareness of healthy lifestyles among Generation Z has increased alongside concerns for physical health, mental well-being, and self-identity, particularly within urban and university environments. Fitness communities have emerged not only as spaces for physical exercise but also as social arenas where values, norms, and identities are collectively shaped. This study aims to understand how Generation Z students at Universitas Tarumanagara (UNTAR), Jakarta, construct the meaning of a healthy lifestyle through their involvement in fitness communities. Using a qualitative approach with a case study method, this research explores participants’ lived experiences in engaging in fitness activities, developing healthy routines, and interpreting a healthy lifestyle as part of their self-identity. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and social media documentation. The analysis was guided by Berger and Luckmann’s Social Construction of Reality theory, focusing on the processes of externalization, objectivation, and internalization. The findings reveal that a healthy lifestyle is not merely understood as maintaining physical health but also as a symbol of discipline, mental balance, and social existence. Fitness communities function as social spaces that strengthen motivation, emotional support, and the internalization of healthy living values. This study highlights that healthy lifestyles among Generation Z are socially constructed through personal experiences and community dynamics. Perkembangan gaya hidup sehat di kalangan Generasi Z semakin menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan fisik, mental, dan citra diri, khususnya di lingkungan perkotaan dan kampus. Komunitas fitness menjadi salah satu ruang sosial yang tidak hanya memfasilitasi aktivitas kebugaran, tetapi juga membentuk nilai, norma, dan identitas generasi muda. Dalam konteks tersebut, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana mahasiswa Generasi Z Universitas Tarumanagara (UNTAR) Jakarta mengonstruksi makna healthy lifestyle melalui keterlibatan mereka dalam komunitas fitness. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali pengalaman langsung anggota komunitas dalam menjalankan aktivitas kebugaran, membentuk rutinitas sehat, serta memaknai gaya hidup sehat sebagai bagian dari identitas diri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi media sosial. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada Teori Konstruksi Realitas Sosial Berger dan Luckmann yang menekankan proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa healthy lifestyle tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga sebagai simbol kedisiplinan, keseimbangan mental, serta eksistensi sosial. Komunitas fitness berperan sebagai ruang interaksi yang memperkuat motivasi, dukungan emosional, dan internalisasi nilai-nilai hidup sehat. Temuan ini menegaskan bahwa gaya hidup sehat bagi Generasi Z merupakan konstruksi sosial yang terbentuk melalui pengalaman personal dan dinamika komunitas.
Pemanfaatan Second Account Instagram sebagai Sarana Ekspresi True Self Pada Generasi Z Lianindra, Vincent; Sukendro, Gregorius Genep
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37140

Abstract

This study aims to explore how Instagram second accounts function as a space for Gen Z to express their true selves. The research employs the theories of self-disclosure, the Johari Window, and dramaturgy. A descriptive qualitative approach was used, with data collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that second accounts genuinely serve as a space for Gen Z to represent their true selves. In a digital environment that is less pressured, more private, and free from social expectations and normative demands, participants can present the most honest, emotional, and authentic aspects of themselves. Expert insights further confirm that social pressure is a major factor preventing individuals from fully expressing themselves in public spaces. Religious, social, and cultural norms—such as expectations to always appear well-behaved, polite, stable, or not overly emotional—often lead individuals to adjust their self-expression. However, second accounts provide a safer, smaller, and more controlled environment that allows individuals to detach from these standards. Thus, second accounts not only serve as an escape from social expectations but also provide a meaningful space for self-understanding and the expression of one’s true self. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana second account Instagram mampu menjadi ruang untuk menunjukkan true self pada Gen Z. Penelitian ini menggunakan teori self-disclosure, jendela Johari, dan dramaturgi. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa second account benar-benar menjadi ruang representasi true self bagi Gen Z. Dalam lingkungan digital yang minim tekanan, lebih privat, dan tidak dipenuhi tuntutan citra dan norma, para narasumber dapat menampilkan sisi diri yang paling jujur, emosional, dan apa adanya. Hal ini dikonfirmasi oleh ahli, yaitu bahwa tekanan sosial merupakan faktor terbesar yang sering menahan seseorang untuk menampilkan dirinya secara utuh di ruang publik. Norma agama, norma sosial, dan norma budaya seperti harapan untuk selalu terlihat baik, sopan, stabil, atau tidak terlalu emosional membuat individu menyesuaikan ekspresinya. Namun, second account memberi ruang yang lebih aman, kecil, dan terkendali sehingga individu dapat melepaskan diri dari standar tersebut. Dengan demikian, second account tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelarian dari ekspektasi sosial, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami diri dan mengekspresikan true self mereka.
Semiotika Saussure dan Narasi Feminisme Liberal dalam Lagu "The Man" oleh Taylor Swift Carolina, Alexandra; Winduwati, Septia
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37142

Abstract

Music can convey experiences and social criticism. This study examines how Taylor Swift’s song “The Man” represents liberal feminism through symbolic language in popular music. The significance of this research lies in understanding how mass media, particularly music, serves as a medium for articulating and disseminating feminist discourse amid persistent gender bias in society. The aim of this study is to identify forms of criticism toward double standards, stereotypes, and unequal treatment experienced by women as depicted in the lyrics. The analysis employs Ferdinand de Saussure’s semiotics combined with Stuart Hall’s Representation Theory and the concept of liberal feminism as the conceptual framework. The methodology used is a qualitative approach through textual analysis and informant triangulation to enrich the interpretation of meaning. The findings show that the hypothetical scenario “if I were a man” functions as a critical strategy highlighting male privilege in various contexts. The relationship between signifier and signified in the lyrics illustrates women’s experiences of having to work harder yet still being treated differently from men. Additional insights from informants reinforce that this message remains highly relevant to the conditions faced by women today, who continue to encounter bias, stereotypes, and unequal opportunities across social and professional spheres. Musik dapat menyampaikan pengalaman dan kritik sosial. Penelitian ini mengkaji bagaimana lagu “The Man” karya Taylor Swift merepresentasikan feminisme liberal melalui bahasa simbolik dalam musik populer. Signifikansi penelitian terletak pada pentingnya memahami bagaimana media massa, khususnya musik, menjadi sarana artikulasi dan penyebaran wacana feminisme di tengah masih kuatnya bias gender dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk kritik terhadap standar ganda, stereotipe, serta ketidakadilan perlakuan yang dialami perempuan sebagaimana ditampilkan dalam lirik lagu. Analisis dilakukan dengan menggunakan semiotika Ferdinand de Saussure yang dikombinasikan dengan Teori Representasi Stuart Hall dan konsep feminisme liberal sebagai kerangka konseptual. Metodologi yang digunakan berupa pendekatan kualitatif melalui analisis teks dan triangulasi data informan untuk memperkaya interpretasi makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario hipotetik “jika saya laki-laki” berfungsi sebagai strategi kritik yang menyoroti privilese laki-laki dalam banyak hal. Relasi antara penanda dan petanda dalam lirik menggambarkan pengalaman perempuan yang harus berupaya lebih keras namun tetap diperlukan berbeda dengan laki-laki. Tambahan wawasan dari informan memperkuat temuan bahwa pesan ini masih sangat relevan dengan kondisi perempuan masa kini, yang masih menghadapi bias, stereotipe, dan ketimpangan peluang dalam berbagai ranah sosial maupun profesional.
Parentifikasi dan Pola Komunikasi dalam Keluarga: Pengalaman Fenomenologis Anak Sulung Nassapramita, Cinta; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37145

Abstract

responsibilities that should be carried out by the parents. This phenomenon is commonly experienced by firstborn children in families with unequal communication patterns, economic pressure, or emotional conflict. This study aims to understand the meaning of parentification and to describe the communication patterns between firstborn children and their parents in families experiencing role imbalance. The theoretical framework includes family systems theory, parentification theory, family communication theory, and role theory as the basis for understanding the relationships and interaction patterns that emerge within the family. This study employed a qualitative phenomenological approach through in-depth interviews with three informants who experienced parentification with varying intensities. The findings indicate that parentification appears through both emotional and instrumental roles, such as mediating conflicts and managing the family’s emotional atmosphere. The communication patterns formed tend to be one-way, provide limited space for expression, and place the child in a position of maintaining family stability. Parentification is understood ambivalently, both as a form of moral responsibility and as a source of psychological pressure and emotional fatigue. This study concludes that empathetic communication and clear generational boundaries are necessary to ensure that a child’s role remains aligned with their developmental stage. Parentifikasi merupakan kondisi ketika anak mengambil alih tanggung jawab emosional maupun instrumental yang seharusnya dijalankan oleh orang tua. Fenomena ini sering dialami anak sulung dalam keluarga dengan komunikasi yang tidak setara, tekanan ekonomi, atau konflik emosional. Penelitian ini bertujuan untuk memehami makna parentifikasi serta menggambarkan pola komunikasi antara anak sulung dan orang tua dalam keluarga yang mengalami ketidakseimbangan peran. Teori yang digunakan meliputi teori sistem keluarga, teori parentifikasi, teori komunikasi keluarga, dan teori peran sebagai dasar untuk memahami hubungan dan pola interaksi yang muncul dalam keluarga. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan yang mengalami parentifikasi dengan intensitas berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parentifikasi muncul melalui peran emosional dan instrumental, seperti menjadi penengah konflik, mengatur suasana keluarga. Pola komunikasi yang terbentuk cenderung bersifat satu arah, kurang memberi ruang ekspresi, dan membuat anak berperan untuk menjaga stabilitas keluarga. Parentifikasi dimaknai secara ambivalen, baik sebagai bentuk tanggung jawab moral maupun sebagai sumber tekanan psikologis dan kelelahan emosional. Penelitian ini menyimpulkan perlunya komunikasi empatik dan batas generasi yang jelas agar peran anak tetap sesuai pada tahap perkembangannya.
Analisis Perilaku Parasosial Penggemar Marvel melalui Konten di TikTok Kwok, Michelle Aurellia; Rusdi, Farid
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.37146

Abstract

This study explores parasocial behavior among Marvel fans through their content consumption patterns on TikTok, focusing on how algorithm-driven engagement and short-form audiovisual media strengthen emotional attachment to fictional characters and media franchises. As TikTok increasingly becomes a primary platform for fan culture expression, the phenomenon of parasocial relationships expands beyond traditional media and evolves into participatory digital behavior such as duets, stitches, edits, fan theories, and reaction videos. Using a qualitative descriptive approach, the research analyzes user interactions, recurring themes, and engagement indicators within selected TikTok Marvel fandom content. The findings reveal that TikTok’s algorithmic personalization encourages repetitive exposure to Marvel-related content, leading to heightened perceived intimacy with characters such as Tony Stark, Loki, Wanda Maximoff, and Spider-Man. This emotional closeness manifests in behaviors such as defending characters in online debates, expressing grief over fictional events, and forming community identities around shared admiration. Additionally, creators and micro-influencers play a central role in sustaining parasocial involvement by framing narratives that invite emotional resonance and reinforcing fan belonging through targeted content. The study concludes that TikTok not only facilitates fan engagement but also amplifies parasocial dynamics by providing immersive, interactive media experiences. These findings contribute to broader discussions on digital fandom, media psychology, and the evolving nature of audience character relationships in the era of participatory social platforms. Studi ini mengeksplorasi perilaku parasosial di kalangan penggemar Marvel melalui pola konsumsi konten mereka di TikTok, dengan fokus pada bagaimana keterlibatan berbasis algoritma dan media audiovisual berdurasi pendek memperkuat keterikatan emosional dengan karakter fiksi dan waralaba media. Seiring TikTok semakin menjadi platform utama untuk ekspresi budaya penggemar, fenomena hubungan parasosial meluas melampaui media tradisional dan berevolusi menjadi perilaku digital partisipatif seperti duet, stitch, fan edit, fan theory dan fan reaction. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis interaksi pengguna, tema berulang, dan indikator keterlibatan dalam konten fandom Marvel TikTok terpilih. Temuan ini mengungkapkan bahwa personalisasi algoritmik TikTok mendorong paparan berulang terhadap konten terkait Marvel, yang mengarah pada peningkatan persepsi keintiman dengan karakter seperti Tony Stark, Loki, Wanda Maximoff, dan Spider-Man. Kedekatan emosional ini terwujud dalam perilaku seperti membela karakter dalam debat daring, mengungkapkan kesedihan atas peristiwa fiksi, dan membentuk identitas komunitas berdasarkan kekaguman bersama. Selain itu, kreator dan mikro-influencer memainkan peran sentral dalam mempertahankan keterlibatan parasosial dengan membingkai narasi yang mengundang resonansi emosional dan memperkuat rasa memiliki penggemar melalui konten yang tertarget. Studi ini menyimpulkan bahwa TikTok tidak hanya memfasilitasi keterlibatan penggemar tetapi juga memperkuat dinamika parasosial dengan menyediakan pengalaman media yang imersif dan interaktif. Temuan ini berkontribusi pada diskusi yang lebih luas tentang fandom digital, psikologi media, dan perkembangan hubungan antar karakter penonton di era platform sosial partisipatif.