cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : -
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, (P-ISSN: 1978-8673 dan E-ISSN: 2656-9620) merupakan jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Sriwijaya yang mempublikasikan hasil penelitian Pendidikan Sejarah, Kajian Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya dalam Pendidikan Sejarah. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 161 Documents
Eksistensi Majelis Al-Awwabien Dalam Mengamalkan Ritual Ratib Al-Haddad Di Kota Palembang Tahun 1985-2008 Nabila Julaikha Putri; Muhammad Ilmi Luthfi; Syarifuddin Syarifuddin; Supriyanto Supriyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.13821

Abstract

Abstrak: Penelitian ini di uraikan dalam tiga pokok bahasan rumusan masalah yaitu; (1). Majelis Al-Awwabien sebagai organisasi penyebar Ratib al-Haddad di Kota Palembang; (2). Ciri khas yang dibawakan oleh Majelis Al-Awwabien dalam pembacaan Ratib al-Haddad di Kota Palembang; (3). Mencari pengaruh Ratib al-Haddad pada jama’ah majelis al-Awwabien di Kota Palembang. Tujuan dilakukan penelitian ini ialah untuk mengeksplorasi pengaruh salah satu ajaran Islam klasik dalam mengamalkan sebuah ritual keagamaan, yakni ritual dzikir Ratib Al-Haddad di majelis Al-Awwabien Palembang. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui ciri khas Majelis Al-Awwabien dalam mengamalkan Ratib al-Haddad. Dan memahami pengaruh Ratib al-Haddad pada jama’ah majelis al-Awwabien di Palembang. Studi ini menggunakan metode penelitian historis dengan menggunakan pendekatan agama dan antropologi. Penelitian ini dilakukan berdasarkan data yang tepat melalui wawancara tiga informan yaitu Habib Ali Karor al-Haddad, Ustadz Abul Hasan Assyadzili dan Ustadz Ilyas. Hasil penelitian ini sebagaimana diketahui, dzikir Ratib Al-Haddad umumnya diamalkan oleh masyarakat keturunan Arab Hadramaut. Setelah majelis al-Awwabien yang didirikan oleh KH. Ali Umar Thoyyib pada tahun 1985 mengajarkan dzikir Ratib al-Haddad kepada masyarakat, secara perlahan menjadi amalan yang populer diluar lingkungan keturunan Arab. Jenis bacaan Ratib al-Haddad yang di ajarkan oleh majelis al-Awwabien sedikit berbeda dengan yang diamalkan oleh kalangan umum, yakni penambahan dzikir lainnya. Majelis Al-Awwabien sangatlah berpengaruh terhadap masyarakat Palembang sehingga menjadi lebih religius.Kata Kunci: Dzikir, Ratib A-Haddad, Majelis al-AwwabienAbstrack: This research is described in three main issues of problem formulation, namely; (1). Al-Awwabien Assembly as the organization that spreads Ratib al-Haddad in Palembang City; (2). Characteristics brought by the Al-Awwabien Assembly in the reading of Ratib al-Haddad in Palembang City; (3). Looking for the influence of Ratib al-Haddad on the al-Awwabien congregation in the city of Palembang. The purpose of this research is to explore the influence of one of the classical Islamic teachings in practicing a religious ritual, namely the dhikr ritual of Ratib Al-Haddad in the Al-Awwabien assembly in Palembang. This study also aims to determine the characteristics of the Al-Awwabien Assembly in practicing Ratib al-Haddad. And understand the influence of Ratib al-Haddad on the al-Awwabien congregation in Palembang. This study uses historical research methods using religious and anthropological approaches. This research was conducted based on accurate data through interviews with three informants, namely Habib Ali Karor al-Haddad, Ustadz Abul Hasan Assyadzili and Ustadz Ilyas. The results of this study, as is known, the dhikr of Ratib Al-Haddad is generally practiced by people of Hadramaut Arab descent. After the al-Awwabien assembly founded by KH. Ali Umar Thoyyib in 1985 taught the dhikr of Ratib al-Haddad to the public, slowly became a popular practice outside the Arab descent environment. The type of Ratib al-Haddad reading taught by the al-Awwabien assembly is slightly different from that practiced by the general public, namely the addition of other dhikr. The Al-Awwabien Assembly was very influential on the people of Palembang so that they became more religious.Keywords: Dhikr, Ratib A-Haddad, Majelis al-Awwabien
Pengembangan E-Modul Strategi Pembelajaran Sejarah dalam Upaya Peningkatan Literasi Digital Mahasiswa Eva Dina Chairunisa; Ahmad Zamhari
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.16047

Abstract

Abstrak: Mengacu kepada empat kompetensi yang harus dimiliki pada abad 21, kemampuan literasi digital adalah salah satu kompetensi yang sangat penting untuk dimiliki generasi muda saat ini khususnya mahasiswa Pendidikan Sejarah. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana mengembangkan e-modul pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Sejarah di Prodi Pendidikan Sejarah, FKIP-Universitas PGRI Palembang. Adapun ujuan dari penelitian ini menghasilkan e-modul pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Sejarah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan dengan tahapan yaitu, need assessment, literature review, planning, develop preminarry form of product, revisi produk, preminnary field test, dan revisi produk. Dalam modul ini disusun menjadi lima bagian besar, terdiri dari teori belajar, PAIKEM, Model, metode dan media pembelajaran serta contohnya dan penilaian pada pembelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul ini dinilai sudah komunikatif dan user friendly untuk digunakan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Strategi Pembelajaran Sejarah.Kata Kunci: E-Modul, Pembelajaran Sejarah, Literasi, Digital. Abstract: Referring to the four competencies that must be possessed in the 21st century, digital literacy skills are one of the most important competencies for today's young generation especially student of history education. The problem of this research is how to develop an e-module in the History Learning Strategy course in History Study Program in Faculty of Teacher and Training Education, University of PGRI Palembang. The purpose of this research is to produce e-modules in the History Learning Strategy course. This study uses a development research method with stages, namely, need assessment, literature review, planning, developing the preminarry form of product, product revision, preminnary field test, and product revision. In this module, it is organized into five major sections, consisting of learning theory, PAIKEM, models, methods and learning media as well as examples and assessments of historical learning. The results showed that this e-module was considered communicative and user friendly to be used by students taking the History Learning Strategy course.Keywords: E-Modul, History, Learning, Digital, Lieteracy
Peran Polisi Pamong Praja dalam Menangani Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat di Kabupaten Lombok Timur Tahun 2000-2020 Bambang Eka Saputra; Abdul Hafiz; Abdul Rasyad; Lalu Murdi; Muhammad Shulhan Hadi; Muchamad Triyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14897

Abstract

Abstrak: Eksistensi Polisi Pamong Praja (Pol-PP) dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan pemerintahan, baik sejak masa kolonial Belanda sampai Indonesia merdeka. Peran Pol-PP mewujudkan ketentraman dan ketentraman di Lombok Timur menjadi bagian dari agenda rutin pemerintah daerah. Atas dasar pemikiran tersebut kajian tentang sejarah dan peranan Pol-PP dalam menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat di Lombok Timur menjadi penting dilakukan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Pol-PP di Indonesia dan Lombok Timur, dan mengetahui peran Pol-PP dalam menjaga dan mengatasi ketentraman dan ketertiban umum di Lombok Timur. Metode penelitian sejarah digunakan untuk mengungkap tentang eksistensi dan peran Pol-PP dalam menjaga keamana, dan ketetiban dalam roda pemerintahan di Lombok Timur. Tahapan metode sejarah dilakukan melalui heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pol-PP di Lombok Timur telah memberikan sumbangan yang berarti terhadap keberhasilan pemerintah daerah Lombok Timur dalam menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat khususnya. Hal ini terwujud dari periode tahun 2000-20020 dimana peran dan fungsi Pol-PP berjalan dengan baik.Kata Kunci: Peran, Polisi Pamong Praja, Ketertiban, Keamanan.Abstract: The existence of the Civil Service Police (Pol-PP) in the historical trajectory of the Indonesian nation has become an inseparable part of the administration of government, both from the Dutch colonial period until Indonesia's independence. The role of Pol-PP in realizing peace and tranquility in East Lombok is part of the routine agenda of the local government. On the basis of this thought, a study of the history and role of Pol-PP in maintaining peace and order in East Lombok is important. This study aims to determine the history of the establishment of Pol-PP in Indonesia and East Lombok. Knowing the role of Pol-PP in maintaining and overcoming public peace and order in East Lombok. The historical research method is used to reveal the existence and role of Pol-PP in maintaining security and order in the wheels of government in East Lombok. The stages of the historical method are carried out through heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of the study indicate that the Pol-PP in East Lombok has made a significant contribution to the success of the East Lombok regional government in maintaining peace and order in the community in particular. This was realized from the period 2000-20020 where the role and function of Pol-PP went well.Keywords: Role, Civil Service Police, Order, Security. 
Pemanfaatan Museum dan Situs Cagar Budaya di Pontianak Sebagai Sumber Belajar Sejarah Indonesia Mohammad Rikaz Prabowo; Supardi Supardi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14704

Abstract

Abstrak: Pembelajaran sejarah akan lebih bermakna jika peserta didik dapat merasakan langsung pengalaman belajarnya. Salah satunya dengan melakukan edukasi di museum. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana pemanfaatan museum dan cagar budaya di Pontianak. Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemanfaatan museum dan cagar budaya serta kesesuaiannya dalam materi pada mata pelajaran sejarah. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan yang berkaitan dengan topik yang dipilih. Hasil penelitian yaitu Pertama, museum dapat menambah wawasan pengetahuan dan perjalanan bangsa, rasa cinta tanah air, serta patriotisme peserta didik. Musuem dan cagar budaya sebagai sumber belajar alternatif, mengimbangi keterbatasan belajar di kelas. Keduanya dapat membuka cakrawala peserta didik melihat dan menghayati kehidupan serta peninggalan sejarah di masa lalu secara nyata. Kedua, museum dan cagar budata di Pontianak yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah antara lain Museum Provinsi Kalimantan Barat dan Keraton Kadriyah Kesultanan Pontianak. Ketiga, pada Museum Provinsi terdapat koleksi geologikan, arkeologika, historika, dan benda-benda bersejarah hasil kebudayaan pra-aksara hingga masa islam. Hal ini mendukung sebagai sumber belajar sejarah dan berkorelasi dengan materi. Sedangkan Keraton Kadriyah keberadaannya dapat memperdalam khazanah keilmuan peserta didik mengenai materi pada masa kesultanan-kesultanan Islam di Kalimantan. Terdapat pula Masjid Jami’ yang memadukan gaya arsitektur rumah melayu dan timur tengah sebagai hasil kebudayaan bangunan masa Islam.Kata Kunci: Museum, Cagar Budaya, Sumber Belajar, Pontianak.Abstract: Historical learning will be more meaningful if learners can feel the learning experience directly. One of them is by doing education in the museum. The problem of this research is how to use museums and cultural reserves in Pontianak.  The purpose of this study is to describe the use of museums and cultural reserves and their suitability in materials in historical subjects. The method used is qualitative descriptive through literature studies related to the chosen topic. The results of the research are  first,  the museum can add insight into the knowledge and journey of the nation, the love of the homeland, and the patriotism of learners. Musuem and cultural heritage as alternative learning resources, offsetting the limitations of learning in the classroom. Both can open the horizons of learners to see and live life and historical relics in the past for real.  Second,  budata museums and reserves in Pontianak that can be used as sources of historical learning include the West Kalimantan Provincial Museum and the Kadriyah Palace of the Pontianak Sultanate. Third,  in the Provincial Museum there is a collection of geology, archaeology, history, and historical objects produced by pre-script culture until the islamic period. It is supportive as a source of historical learning and correlates with matter. While the Kadriyah Palace its existence can deepen the scientific treasures of learners about the material during the Islamic sultanates in Kalimantan. There is also Jami' Mosque which combines the architectural style of Malay and Middle Eastern houses as a result of Islamic building culture. Keywords: Museums, Cultural Heritage, Learning Resources, Pontianak.
Agresi Militer Belanda di Wilayah Batu Pujon 1947-1948: Sebuah Kajian Sejarah Lokal Moch. Dimas Galuh Mahardika
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i1.14979

Abstract

Abstrak: Peristiwa yang menandai periode 1945-1950 adalah Agresi Militer I dan II oleh pemerintah Belanda dengan mengerahkan berbagai divisi militer sebagai upaya merebut kembali tanah jajahan. Keinginan besar Belanda untuk mendapatkan kekuasaan kembali atas Indonesia setelah proklamasi merupakan salah satu bentuk ancaman nyata yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dengan dalih "Aksi Polisionil", tentara Belanda melakukan aktifitas militer di wilayah Indonesia, sekaligus melanggar perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Gejolak di berbagai daerah mulai muncul, salah satunya terjadi di wilayah Batu-Pujon. Monumen status quo lijn di daerah Pujon menjadi simbol batas pendudukan Belanda dan wilayah Republik. Pertempuran yang terjadi di wilayah Batu-Pujon merupakan salah satu dari sekian banyak pertempuran yang terjadi selama periode Agresi Militer. Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode penelitian sejarah untuk menceritakan peristiwa Agresi Militer Belanda dalam konteks sejarah lokal wilayah Batu- Pujon.Kata Kunci: Agresi, Militer, Belanda, Batu, Pujon, TNI.Abstract: One of the events marking the period 1945-1950 was the Military Aggression I and II which deployed many military divisions in an effort to fight for independence in the regions. The Dutch' great desire to regain control of Indonesia after the proclamation is one form of real threat that must again be faced by the Indonesian nation. Under the pretext of "Police Action", the Dutch soldiers carried out military activities while violating a previously agreed agreement. Turmoil in various regions began to appear, one of them in the Batu-Pujon region which is one of the highlands and flanked by several mountains. The status quo monument in Pandesari area became a symbol of the boundaries of dutch occupation and Republic territory. The battle that took place in the Batu-Pujon region was a small battle that took place during the Military Aggression. This article written by using the historical research methods try to explain the history of Dutch Military Agression in the local history context of Batu-Pujon region. Keywords: Agression, Batu, Pujon, Indonesian, National, Army.
Peran Kapitan Jonkers Dalam Menolak Tindakan Rasisme Ditinjau dari Kebijakan VOC di Marunda (1684-1689) Ardiansyah Ardiansyah; Jumardi Jumardi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.14671

Abstract

Abstrak: Kapitan Jonkers memiliki merupakan orang kepercayaan pimpinan di VOC. Ia menolak kebijakan untuk pemisahan antar suku yang tinggal di Marunda karena sebagian dari pasukannya berasal dari berbagai macam etnis dan suku yang berbeda. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana upaya Kapitan Jonkers menolak kebijakan rasis di Marunda?. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk menggenang akan kepahlawanannya dalam menentang konsep rasisme yang sejak dulu tanamkan di Nusantara. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode historis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kapitan Jonkers berupaya mempersatukan etnis-etnis yang tinggal di daerah Marunda. Penolakan yang dilakukannya terhadap kebijakan pemisahan antar etnis di Marunda merupakan bukti bahwa Kapitan Jonkers ialah seorang yang berjuang untuk persatuan antar etnis mengingat kebanyakan pengikutnya berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Pemecahan tiap suku dan etnis di Marunda, menurutnya dapat menimbulkan kecemburuan satu sama lain sehingga perpecahan dapat terjadi antar suku-suku yang tinggal di sana.Kata Kunci: Kapitan Jonkers, Rasisme, VOC, Marunda.The Role of Kapitan Jonkers in Rejecting Racism From the VOC Policy in Marunda (1684-1689) Abstract: Kapitan Jonkers had a confidant of leadership in the VOC. He rejected the policy of segregation between the tribes living in Marunda because some of his troops came from different ethnic groups and tribes. The problem of this research is how is Kapitan Jonkers' efforts to reject racist policies in Marunda?. The purpose of this research is to garner his heroism in opposing the concept of racism that has been instilled in the archipelago for a long time. The research method used is the historical method. The results of this study indicate that Kapitan Jonkers seeks to unite the ethnic groups living in the Marunda area. His rejection of the policy of inter-ethnic separation in Marunda is proof that Kapitan Jonkers is a person who struggles for inter-ethnic unity considering that most of his followers come from various regions in the archipelago. The division of each tribe and ethnicity in Marunda, according to him, can cause jealousy with each other so that divisions can occur between the tribes who live there.Keywords: Kapitan, Jonkers, Racism, VOC, Marunda. 
Upaya Pelestarian Ka Ga Nga Aksara Lokal Suku Rejang Di Kabupaten Rejang Lebong Hudaidah Hudaidah; Tedi Rizki
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.18323

Abstract

Abstrak: Tulisan ini mengkaji aksara  lokal Ka Ga Nga dan upaya pelestariannya pada Suku Rejang Di Kabupaten Rejang Lebong. Adapun permasalahan yang akan diangkat yaitu bagaimana perkembangan aksara Ka Ga Nga dan bagaimana upaya pelestariannya.  Adapun tujuan kajian untuk mendeskripsikan perkembangan aksara Ka Ga Nga dan upaya pelestariannya. Dalam melakukan kajian digunakan metode penelitian sejarah atau historis dengan pendekatan antropologis dan sosiologis, tempat penelitian dilakukan di Rejang Lebong provinsi Bengkulu. Hasil yang diperoleh bahwa aksara Ka Ga Nga diperkirakan berkembang pesat di Sumatera bagian Selatan pada abad ke- 16 hingga abad ke- 17 Masehi sebagai dari perkembangan dari aksara pallawa dan kawi. Aksara Ka Ga Nga sendiri banyak berkembang di wilayah Sumatera dan Sulawesi. Hal ini menandakan bahwa aksara Ka Ga Nga berkerabat dengan aksara di tanah  Bugis.  Namun dengan seiringnya waktu serta adanya penyatuan bahasa kesatuan tanah air aksara Ka Ga Nga sendiri mengalami penurunan penyebaran di kalangan masyarakat Rejang Lebong sehingga pemerintah serta badan adat setempat terus berupaya tetap melestarikan aksara Ka Ga Nga.  Badan Musyawarah Adat melakukan upaya-upaya mengembalikan warisan budaya Suku Rejang Lebong khususnya aksara Ka Ga Nga agar tidak hilang di masa depan dengan melakukan berbagai upaya-upaya prepentif.Kata Kunci : Pelestarian, Ka Ga Nga, Aksara, Lokal, Rejang, Lebong.Effort To Preserve Ka Ga Nga Local Script, Rejang Tribe In Rejang Lebong RegencyAbstract: This paper examines the local Ka Ga Nga and its conservation efforts in Rejang Tribe In Rejang Lebong Regency. The problems that will be raised are how to develop the Ka Ga Nga script and how to preserve it. The purpose of the study is to describe the development of the Ka Ga Nga script and its preservation efforts. In conducting the study, historical or historical research methods with anthropological and sociological approaches were used, where the research was conducted in Rejang Lebong, Bengkulu province. The results obtained are that the Ka Ga Nga is expected to develop rapidly in southern Sumatra in the 16th century to the 17th century AD as a result of the development of the pallawa and kawi.script Ka Ga Nga itself is widely developed in Sumatra and Sulawesi. This indicates that the Ka Ga Nga script is related to the script in Bugis land. However, with the passage of time and the unification of the language of the homeland, the Ka Ga Nga itself has decreased its distribution among the Rejang Lebong people so that the government and local traditional bodies continue to strive to preserve the Ka Ga Nga. The Indigenous Deliberative Council made efforts to restore the cultural heritage of the Rejang Lebong Tribe, especially the Ka Ga Nga so that it would not be lost in the future by making various preventive efforts. Keywords: Preservation, Ka Ga Nga, Local, Script, Rejang, Lebong.
Perkembangan Pemikiran Pluralisme Gus Dur (1971-2001) Nadif Hanan Narendra; Hieronymus Purwanta; Nur Fatah Abidin
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.16184

Abstract

Abstrak: Gus Dur adalah salah satu tokoh yang identik dengan pemikiran pluralismenya. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana perkembangan pemikiran Gus Dur tentang pluralisme (1971-2001)?. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan pemikiran Gus Dur tentang pluralisme (1971-2001). Penelitian dilaksanakan dengan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Gus Dur tentang pluralisme dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Menurut Gus Dur, pluralisme terfokus pada tauhid, hukum (fiqh), dan etika (akhlaq). Kebijakan ini sering menimbulkan kontroversi namun demikian kebijakan pluralisme Gus Dur mampu menghilangkan pengaruh Orde Baru, memulihkan hak asasi para korban diskriminasi seperti korban yang dianggap terlibat dalam partai komunis dan etnis Tionghoa, serta menyelesaikan permasalahan separatisme yang terjadi di Indonesia. Pemikiran pluralism Gus Dur terbentuk berdasarkan dialektika Gus Dur dengan lingkungan sekitarnya mulai dari masa sekolah sampai dengan menjabat sebagai presiden. Meskipun menghasilkan kontroversi, pemikiran pluralisme Gus Dur telah membuka cakrawala bangsa mengenai praktik baik pluralisme yang perlu dilanjutkan pada era saat ini. Kata Kunci: Gus Dur, Pemikiran Islam, Pluralisme, Ulama.The Development of Gus Dur’s Pluralism Thought (1971-2001)Abstract: Gus Dur is well acknowledge as pluralists. The problem this research is how Gus Dur's thoughts on pluralism from 1971 to 2001. This article aims to analyze the development of Gus Dur's thoughts on pluralism from 1971 to 2001. This research used historical method. The research findings show that Gus Dur's thoughts on pluralism were influenced by internal and external factors. According to Gus Dur, pluralism focuses on monotheism, law (fiqh), and ethics (akhlaq). This policy often caused controversy, however, Gus Dur's policy of pluralism was able to eliminate the influence of the New Order, restore the human rights of victims of discrimination such as victims who were considered involved in the communist party and ethnic Chinese, as well as resolve the problems of separatism that occurred in Indonesia. Gus Dur's thought of pluralism was formed based on Gus Dur's dialectic with the surrounding environment from his school days to serving as president. Although it generates controversy, Gus Dur's thinking of pluralism has opened the nation's horizons regarding the good practice of pluralism that needs to be continued in the current era. Keywords: Clerics, Gus Dur, Islamic Thought, Pluralism.
Eventful Man or Event Making Man? Para Tokoh Pejuang Lokal (1945-1950) Berdasarkan Toponimi Nama Jalan di Kota Palembang Aulia Novemy Dhita; Muhammad Reza Pahlevi; Khalidatun Nuzula; Rieca Nona Mutia; Salsabila Nofradatu; Tubagus Rizky Sunandar
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.18385

Abstract

Abstrak: Sidney Hook mengklasifikasikan the hero in history menjadi dua kateogori yaitu eventful man dan event making man. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, dapat mengklasifikasikan para tokoh pejuang (1945-1950) di Palembang yang ditelusuri berdasarkan toponimi nama jalan di Kota Palembang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengklasifikasian The hero in history-Sidney Hook terhadap para tokoh perjuang (1945-1950) di Palembang berdasarkan toponimi nama jalan di Palembang?. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan peran dan nilai-nilai perjuangan para tokoh pejuang (1945-1950) yang ditelusuri berdasarkan toponimi nama jalan di Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan metode historis dalam pemecahan permasalahan dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hampi sebagian besar nama jalan di Palembang menggunakan nama para tokoh pejuang (1945-1950) di Palembang. Berdasarkan klasifikasi The hero on history-Sidney Hook, A.K. Gani (Jl. A.K. Gani) merupakan eventful man dan event making man. Adapun Abdul Rozak (Jl. Residen Abdul Rozak) dan M. Isa (Jl. dr. M. Isa) merupakan event making man. Selain ketiga tokoh pejuang tersebut, terdapat banyak tokoh pejuang (1945-1950) lainnya di Palembang.Kata Kunci: Sidney, Hook, Pejuang, Toponimi, PalembangEventful Man or Event Making Man? The Local Hero (1945-1950) Based on The Toponymy of Street Names in Palembang CityAbstract: Sidney Hook classifies the hero in history into two categories, namely eventful man and event making man.  Using this approach, it can classify the fighter figures (1945-1950) in Palembang which are traced based on the toponymy of street names in Palembang City. The problem in this study is how to classify ‘the hero in history-Sidney Hook’ against the fighting figures (1945-1950) in Palembang based on the toponymy of street names in Palembang?.  This study aims to describe the role and values of the struggle of the fighter figures (1945-1950) which are traced based on the toponymy of street names in Palembang City. This research uses historical methods in solving problems with heuristic stages, source criticism, interpretation and historiography. Based on the results of the study, it was obtained that most street names in Palembang use the names of fighter figures (1945-1950) in Palembang. Based on the classification of ‘the hero on history-Sidney Hook’, A.K. Gani (A.K. Gani Street) is an eventful man and an event making man. Abdul Rozak (Residen Abdul Rozak Street) and M. Isa (M. Isa Street) are making man events. In addition to these three fighter figures, there are many other fighter figures (1945-1950) in Palembang.Keyword: Sidney, Hook, Fighter, Toponym, Palembang.
Lapangan Merdeka Lubuklinggau sebagai Situs Budaya Lahan Bersejarah Tahun 1934 - 1988 Berlian Susetyo; Muhammad Wahayuni
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.16908

Abstract

Abstrak: Upaya penyelamatan cagar budaya merupakan hal yang wajib dilakukan karena merupakan identitas sebuah bangsa. Melalui penelitian ini akan dijelaskan bagaimana lapangan merdeka Lubuklinggau ini dapat menjadi dasar untuk dijadikan situs budaya lahan bersejarah.  Adapun tujuan penelitian yaitu menjelaskan Lapangan Merdeka Lubuklinggau sebagai situs budaya lahan bersejarah (1934-1988). Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, dengan tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bangunan atau situs umumnya kurang mendapat perhatian. Bangunan-bangunan bersejarah yang penting umumnya berada di pusat-pusat kota. Kini pusat kota dikembangkan menjadi daerah komersial sehingga cagar budaya yang ada di wilayah ini sangat rentan untuk dibongkar dan digantikan dengan bangunan-bangunan pusat belanja atau wisata, seperti misalnya Lapangan Merdeka yang berada di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan. Oleh karenanya, tempat ini merupakan lokasi peristiwa lintas zaman dimulai dari masa kolonial, masa revolusi fisik dan masa orde baru.Kata Kunci: Lapangan, Merdeka, Situs, Budaya, Lahan, Bersejarah.Lubuklinggau Merdeka Field As A Cultural Site Historical Land 1934 - 1988 Abstract: Efforts to save cultural heritage is something that must be done because it is the identity of a nation. Through this research, it will be explained how the Lubuklinggau independent field can be the basis for becoming a historical land cultural site. The purpose of the research is to explain the Lubuklinggau Merdeka Square as a historical land cultural site (1934-1988). The research method used is the historical method, with stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that buildings or sites generally received less attention. Important historical buildings are generally located in city centers. Now the city center has been developed into a commercial area so that the cultural heritage in this area is very vulnerable to be demolished and replaced with shopping or tourist center buildings, such as Merdeka Square in Lubuklinggau City, South Sumatra Province. Therefore, this place is the location of events across the ages starting from the colonial period, the physical revolution period and the new order era. Keywords: Merdeka,  Field, Cultural, Site, Historic, Land.