cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : -
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, (P-ISSN: 1978-8673 dan E-ISSN: 2656-9620) merupakan jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Sriwijaya yang mempublikasikan hasil penelitian Pendidikan Sejarah, Kajian Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya dalam Pendidikan Sejarah. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 161 Documents
Perempuan Minangkabau dalam Dunia Pers di Sumatra’sWestkust Risa Marta Yati
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.11293

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi dan menganalisis bagaimana perkembangan dunia pers di Sumatra’s Westkust? Seberapa besar perempuan Minangkabau mengambil bagian di dalam kemajuan pers Bumiputra di Sumatra’s Westkust? Apa kontribusi kemajuan pers ini bagi peningkatan kualitas kehidupan perempuan Minangkabau masa itu? Berpijak pada empat tahapan metode sejarah yakni heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan Minangkabau dalam dunia pers di Sumatra’s Westkust ditandai dengan kemunculan mereka sebagai penulis, editor dan redaktur surat kabar seperti Roehana Koeddoes, Zoebeidah Ratna Djoewita, Saadah Alim, Rasoena Said, dan Rangkaja Ch. Sjamsoe isteri Datoek Toemenggoeng. Kehadiran perempuan Minangkabau dalam dunia pers ini semakin kokoh melalui penerbitan beberapa surat kabar khusus perempuan seperti Soenting Melajoe (1912), Soeara Perempoean (1917), ASJRAQ (1925), Soeara Kaoem Iboe Soematra (1925), Medan Puteri, Suara Puteri. Kemunculan surat kabar khusus perempuan ini berhasil menjadi pemantik yang sukses mengobarkan semangat kemajuan di antara perempuan Minangkabau saat itu dan menginiasiasi perempuan-perempuan lainnya di Hindia-Belanda untuk semakin sadar akan pentingnya eksistensi perempuan dalam kemajuan kaumnya serta pergerakan kemerdekaan bangsanya.  Kata kunci: perempuan Minangkabau, pers, Sumatra’s Westkust.Abstract: This paper aims to elaborate and analyze how the development of the press world in Sumatra’s Westkust? How much the Minangkabau women had taken part in the progress of the Bumiputra’s press in Sumatra’s Westkust? What was the contribution of this press progress to improving the quality of life of the Minangkabau woman at that time? Based on four stages of historical methods namely heuristics, criticism, interpretation and historiography, the results showed that the involvement of Minangkabau women in the press world in Sumatra's Westkust was marked by their emergence as journalism, editor and newspapers editor in chief such as Roehana Koeddoes, Zoebeidah Ratna Djoewita, Saadah Alim, Rasoena Said and Rangkaja Ch. Sjamsoe.  The presence of Minangkabau women in the press world was strengthened through the publication of several women’s newspapers such as Soenting Melajoe (1912), Soeara Perempoean (1917), ASJRAQ (1925), Soeara Kaoem Iboe Soematra (1925), Medan Puteri, Suara Puteri. The publication of this women's newspaper became a successful flintstone that fueled the spirit of progress among the Minangkabau women at the time and initiated other women in the Dutch East Indies to become increasingly aware of the importance of women's existence in the advancement of their people and the independence movement of their nation.Keywords: Minangkabau women, press, Sumatra’s Westkust.
Kebijakan Hukum Pada Pemerintahan Sultanah di Kesultanan Aceh Darussalam (1641-1699) Muhammad Ilham; Yullia Merry
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.11484

Abstract

Abstrak: Aceh merupakan wilayah yang istimewa. Dari kawasan ini, lahir kerajaan Islam salah satunya Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam perjalanan sejarahnya, Kesultanan Aceh Darussalam pernah dipimpin oleh perempuan (sultanah). Kedudukan perempuan sebagai pemimpin atau sultanah sering menjadi isu yang kontroversi. Berangkat dari fakta sejarah tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah  bagaimana kebijakan politik sultanah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1641-1699. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan kebijakan hukum sultanah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1641-1699. Penelitian ini menggunakan metode historis yaitu heuristik, interpretasi, kritik sumber dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah kematian Sultan Iskandar Thani, Kesultanan Aceh dipimpin oleh sultanah yaitu Sultanah Taj ‘Alam Safiyyat al-Din, Sultanah Nur al-‘Alam Naqiyyat al-Din, Sultanah ‘Inayat Shah Zakiyyat al-Din dan Sultanah Kamalat al-Din. Kebijakan hukum sultanah menjadi daya tarik karena Kesultanan Aceh Darussalam adalah kerajaan yang bercorak Islam.Kata Kunci: Hukum, Sultanah, Kesultanan, Aceh, DarussalamAbstract: Aceh is a special region. From this area, an Islamic kingdom was born, one of which was the Sultanate of Aceh Darussalam. In the course of its history, the Sultanate of Aceh Darussalam was once led by a woman (sultanah). Women's position as leader or sultanah is often a controversial issue. Departing from these historical facts, the problem in this study is how the political policies of the Sultanate of Aceh Darussalam Sultanate in 1641-1699. This study uses historical methods, namely heuristics, interpretation, source criticism and historiography. The results showed that after the death of Sultan Iskandar Thani, the Sultanate of Aceh was led by sultans namely Sultanah Taj 'Alam Safiyyat al-Din, Sultanah Nur al-'Alam Naqiyyat al-Din, Sultanah' Inayat Shah Zakiyyat al-Din and Sultanah Kamalat al-Din . Sultanate's political policy became an attraction because the Sultanate of Aceh Darussalam was a kingdom with an Islamic pattern. Keywords: Law, Sultanah, Kesultanan, Aceh, Darussalam
Nilai-Nilai Dealektika Hubungan Sriwijaya dengan Dinasti Umaiyah Pada Abad VIII Masehi Wandiyo Wandiyo; Ida Suryani; Kabib Sholeh
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.10261

Abstract

Abstrak: Hubungan Sriwijaya dengan Dinasti Umayah sudah terjadi pada abad VIII Masehi yang ditandai dengan saling mengirimkan surat sebagai bentuk hubungan kerjasama. Untuk lebih dalam membahas topik tersebut, penelitian ini mengangkat permasalahan bagaimana nilai-nilai dealektika hubungan Sriwijaya dengan Dinasti Umayah?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai-nilai dealektika hubungan Sriwijaya dengan Dinasti Umayah pada abad VIII Masehi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode historis yaitu heuristik, verifikasi sumber, interpretasi dan historiografi. Penelitian ini mengungkapakan hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan penguasa Arab yaitu Dinasti Umayah, tepatnya pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (717 M) pada abad VIII Masehi. Dalam hubungan tersebut dibuktikan dengan pengiriman surat oleh Sriwijaya kepada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, yang menyebutnya Sriwijaya sendiri sebagai kerajaan maha raja, rajanya sendiri keturunan dari para raja. Pengiriman surat tersebut terjadi sampai dua kali, yang menariknya salah satu isi surat tersebut terdapat dealek dari raja Sriwijaya yang menginginkan untuk dikirimkannya  seorang ulama atau ahli dalam agama Islam ke pusat Sriwijaya di Palembang. Dalam dealektika hubungan keduanya terdapat nilai-nilai yang terkandung baik secara politik, ekonomi dan agama.Kata kunci : Nilai, Dealektika, Sriwijaya, Umayah. Abstract: The relationship between Srivijaya and the Umayyad dynasty occurred in the VIII century AD which was marked by sending letters to each other as a form of cooperative relations. To further discuss this topic, this study raises the issue of how are the dealectical values of Srivijaya's relationship with the Umayyad dynasty. The purpose of this study was to analyze the dealectic values of the relationship of Srivijaya with the Umayyad dynasty in the VIII century AD. The method used in this study is the historical method, namely heuristics, source verification, interpretation and historiography. This study reveals the relationship of the Kingdom of Srivijaya with the Arab rulers of the Umayyad dynasty, precisely during the reign of Umar bin Abdul Aziz (717 AD) in the VII century AD. In this connection, it was proven by sending a letter by Sriwijaya to the government of Umar bin Abdul Aziz, who called him Srivijaya himself as the kingdom of the king, his own king descended from the kings. The sending of the letter happened twice, interestingly, one of the contents of the letter contained a deal from the Srivijaya king who wanted to send an ulama or expert in Islam to the Srivijaya center in Palembang. In the dealectics of the two relations there are values contained both politically, economically and religiously.Keywords: Dealectic value, Srivijaya, Umayah.
Kota Lubuklinggau Dalam Kurun Waktu 1825-1948 Berlian Susetyo; Ravico Ravico
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.12902

Abstract

Abstrak: Kajian tentang Kota Lubuklinggau berdasarkan kronologis sejarah masih belum ada kajian yang komprehensif, sehingga terjadi kegagalan pemahaman generasi muda dalam memahami sejarah Kota Lubuklinggau. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kota Lubuklinggau pada masa Kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, masa setelah proklamasi kemerdekaan serta masa agresi militer pertama dan kedua. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, antara lain heuristik, kritik sumber, intepretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lubuklinggau Tahun 1929 menjadi dusun kedudukan marga Sindang Kelingi Ilir, kemudian dikembangkan menjadi ibukota Onder Afdeeling Moesie Oeloe masa kolonial Belanda Tahun. Pada masa Jepang Tahun 1942, Lubuklinggau menjadi ibukota Bunshu Musikami Rawas. Pada masa setelah kemerdekaan Tahun 1945, Lubuklinggau menjadi Kawedanaan Musi Ulu sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Musi Ulu Rawas. Kemudian pada masa agresi militer Belanda I Tahun 1947 dan agresi militer Belanda II Tahun 1948, Lubuklinggau menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Palembang sekaligus pusat pemerintahan militer Sub Teritorium Sumatera Selatan (SUBKOSS). Kata Kunci: Moesie Oeloe, Musi Ulu Rawas, LubuklinggauAbstract: The study of Lubuklinggau City is based on historical chronology, there is still no comprehensive study, so that there is a failure in understanding the young generation in understanding the history of Lubuklinggau City. Furthermore, this study aims to describe the city of Lubuklinggau during the Dutch colonial period, the Japanese occupation period, the period after the proclamation of independence and the period of the first and second military aggression. The research method used is the historical method, including heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results showed that Lubuklinggau in 1929 became the hamlet of the Sindang Kelingi Ilir clan, then it was developed into the capital of Onder Afdeeling Moesie Oeloe during the Dutch colonial period. During the Japanese period in 1942, Lubuklinggau became the capital of the Bunshu Musikami Rawas. In the period after independence in 1945, Lubuklinggau became Kawedanaan Musi Ulu as well as the capital of Musi Ulu Rawas Regency. Then during the Dutch military aggression I in 1947 and Dutch military aggression II in 1948, Lubuklinggau became the center of the Palembang Residency government as well as the center of the South Sumatra SubTerritory (SUBKOSS) military government. Keywords: Moesie Oeloe, Musi Ulu Rawas, Lubuklinggau
“Sesuatu yang Tak Pernah Terjadi” Membayangkan Kemenangan Nusantara Melawan Kolonialisme Haldi Patra
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.10102

Abstract

Abstrak: Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, para bapak bangsa Indonesia sepakat bahwa wilayah kedaulatan republik yang akan dibentuk ini adalah bekas wilayah Hindia-Belanda. Alasan atas integrasi ini adalah karena mereka merasa “senasib sepenanggungan”, karena sama-sama pernah dikalahkan dan dijajah oleh Belanda. Tulisan mengenai counterfactual ini, akan mengangkat permasalahan mengenai pemikiran nasionalisme sebagai sesuatu yang bersifat absolutely splendid ancestors (warisan dari nenek moyang kita yang cemerlang). Tujuan penulisan ini untuk mengelaborasi pemikiran nasionalisme bangsa Indonesia. Metode yang digunakan yaitu kepustakaan dengan mengumpulkan bahan-bahan penelitian yang berupa buku dan  artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan nasib di masa lalu nasionalisme Indonesia tidak akan tertanam dalam diri bangsa-bangsa itu. Ketiadaan rasa senasib itu membuat mereka tidak merasa perlu untuk berintegrasi dengan Indonesia. Nasionalisme yang muncul pada dalam diri mereka adalah nasional suku bangsa mereka masing-masing.Kata kunci:Nasionalisme, Counterfactual, Perlawanan Penduduk Lokal, Kolonialisme Abstract: When Indonesian independence was proclaimed, the fathers of the Indonesian people agreed that the territory of the republic that was to be formed was the former Dutch East Indies. The reason for this integration is because they feel "the same fate", because both have been defeated and colonized by the Dutch. This article on counterfactual will raise the issue of nationalism thinking as something that is absolutely splendid ancestors (the legacy of our brilliant ancestors). The purpose of this paper is to elaborate the thinking of Indonesian nationalism. The method used is the literature by gathering research materials in the form of books and relevant scientific articles. The results showed that the differences in the fate of the past Indonesian nationalism would not be embedded in the nations. The lack of a sense of shared destiny made them not feel the need to integrate with Indonesia. Nationalism that arises in them is the nationality of their respective tribes.Keywords : Nationalism, Counterfactual, Resistances, Colonialism 
Dwifungsi ABRI Dalam Konflik Internal PDI 1976-1998 Alphonsius Rodriquest Eko W; Kurniawati Kurniawati; M. Hasmi Yanuardi; Maulani Maulani
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.11162

Abstract

 Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang pelaksanaan konsep Dwifungsi ABRI dalam konflik internal Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Penelitian bertujuan untuk mengetahui keterlibatan militer dalam konflik internal PDI.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yakni terdiri dari pengumpulan sumber, verifikasi/ kritik sejarah, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terlibatnya militer dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia tidak lepas peran Jenderal A.H.Nasution. Puncak dari campur tangan ABRI dalam konflik internal PDI adalah dengan terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996. Konflik yang melibatkan DPP PDI Megawati dan DPP PDI Soerjadi ini diduga juga melibatkan pihak eksternal partai, khususnya pemerintah dan ABRI. Dampak dari Peristiwa 27 Juli 1996 dirasakan semua pihak yang terlibat, baik pemerintah, ABRI, PDI dan bahkan masyarakat.Kata kunci: Dwifungsi, ABRI, PDIAbstract: This study examines the implementation of the dual concept of ABRI in the internal conflict of the Indonesian Democratic Party (PDI). The research aims to determine the involvement of the military in the internal conflicts of the PDI. The research method used in this study is the historical method, which consists of collecting sources, verifying / critique history, interpretation, and historiography. The results showed that the involvement of the military in socio-political life in Indonesia could not be separated from the role of General A.H.Nasution. The peak of ABRI's interference in the PDI internal conflict was the 27 July 1996 incident. The conflict involving the Megawati PDP Megawati and the Soerjadi PDI was allegedly also involving external parties, especially the government and ABRI. The impact of the July 27, 1996 incident was felt by all parties involved, both the government, ABRI, PDI and even the communityKeywords: Dual Function, ABRI,  PDI 
Tan Malaka: Dari Gerakan hingga Kontroversi Uun Lionar; Ridho Bayu Yefterson; Hendra Naldi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.13012

Abstract

Abstrak: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno di tahun 1963, Tan Malaka hingga saat ini masih menjadi pahlawan yang “redup”. Keterlibatannya dalam tubuh Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa Hindia Belanda telah menempatkan Tan Malaka pada posisi sulit, mengingat keberadaan PKI yang telah mengukir sejarah kelam di era kemerdekaan. Padahal, jika memperhatikan ide dan gagasan Tan Malaka yang tertuang dalam banyak karyanya, maka selayaknya ia dijuluki sebagai Bapak Republik. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kiprah Tan Malaka dalam pergerakan nasional dah mengekplorasi titik kontroversi Tan Malaka. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa titik kontroversial Tan Malaka terletak pada keterlibatannya di tubuh PKI masa Hindia Belanda, namun demikian Tan Malaka adalah seorang nasionalis yang konsisten memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia melalui ideologi yang diyakininya. Adanya larangan ajaran Marxisme-Komunisme pasca pemberontakan PKI di tahun 1965 membuat Tan Malaka semakin terpinggirkan sebagai pahlawan nasional, selama Orde Baru namanya tidak terdapat dalam buku-buku pelajaran di sekolah maupun dalam Album Pahlawan Nasional, hal ini menjadi kontroversi atas keterlibatnnya di tubuh PKI. Namun, Era Reformasi menunjukkan sebuah kemajuan, buku-buku karangan Tan Malaka kembali dicetak dan banyak ilmuan mulai serius menyelami sosok Tan Malaka, terutama berkenaan dengan pemikiran dan gagasannya.Kata Kunci: Tan Malaka, Kontroversi, RevolusiAbstract: Defined as a National Hero by President Soekarno in 1963, Tan Malaka is still a "dim" hero. His involvement in the Indonesian Communist Party (PKI) during the Dutch East Indies had put Tan Malaka in a difficult position, given the existence of the PKI which had carved a dark history in the era of independence. In fact, if you pay attention to Tan Malaka's ideas and ideas contained in many of his works, then he should be called the Father of the Republic. This research aims to examine Tan Malaka's progress in the national movement and to explore the points of controversy of Tan Malaka. The method in this study uses the historical method which consists of 4 (four) stages, namely hauristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings of this study indicate that Tan Malaka's controversial point lies in his involvement in the PKI during the Dutch East Indies, however, Tan Malaka was a nationalist who consistently fought for the ideals of Indonesian independence through the ideology he believed in. The prohibition against the teachings of Marxism-Communism after the PKI rebellion in 1965 made Tan Malaka even more marginalized as a national hero, during the New Order his name was not included in school textbooks or in the National Hero Album, this became a controversy over his involvement in the PKI. However, the Reformation Era showed progress, Tan Malaka's books were again printed and many scientists began to seriously delve into the figure of Tan Malaka, especially with regard to his thoughts and ideas.Keywords: Tan Malaka, Controversy, Revolution 
Sejarah Perumnas Depok I: Perumahan Nasional Pertama di Indonesia (1974-1980) Yusuf Budi Prasetya Santosa; Rani Noviyanti
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.11418

Abstract

Abstrak: Sejak terjadi perpindahan industri dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia, banyak bermunculan kota-kota industri baru. Tingginya angka industrialisasi meningkatkan arus urbanisasi sehingga banyak permasalahan yang muncul di kota-kota industri baru tersebut termasuk persoalan pemukiman. Perumnas Depok I merupakan role model bagi pembangunan pemukiman rakyat yang dibangun oleh pemerintah di seluruh Indonesia. Masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana sejarah Perumnas Depok I yang merupakan perumahan nasional pertama di Indonesia (1974-1980). Tujuan penelitian yaitu menelusuri sejarah pemukiman Perumnas Depok I (1974-1980). Penelitian ini menggunakan metode historis yang melalui empat tahapan penelitian di antaranya heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perumnas Depok I merupakan pembuktian oleh perusahaan Perum Perumnas dalam menjalankan tugasnya untuk menyediakan pemukiman murah bagi rakyat golongan menengah ke bawah. Pembangunan Perumnas Depok I oleh Perum Perumnas tidak hanya telah menyediakan rumah murah dan layak bagi para penghuninya, melainkan juga telah mendorong pembangunan Kota Depok sehingga menjadi Kota Satelit.Kata kunci : Sejarah, Perumahan, Nasional, Depok IHistory National Housing of Depok I: First National Housing in Indonesia (1974-1980)Abstract: Since the industrial movement occurred from developed countries to developing countries including Indonesia, many new industrial cities have sprung up. The high rate of industrialization increases the flow of urbanization so that many problems that arise in these new industrial cities include the problem of settlements. Perumnas Depok I is a role model for the construction of community settlements built by governments throughout Indonesia. The problem in this study is how the history of Depok I National Housing which is the first national housing in Indonesia (1974-1980). The purpose of this research is to trace the history of the settlement of Perumnas Depok I (1974-1980). This study uses a historical method that goes through four stages of research, including heuristics, verification, interpretation and historiography. The results showed that the Depok Perumnas I is a proof by the Perumnas company in carrying out their duties to provide low-cost housing for the people of the lower middle class. The construction of the Depok Perumnas I by Perum Perumnas has not only provided cheap and decent housing for its residents, but has also encouraged the development of the City of Depok to become a Satellite City.Keywords: History, Housing, National, Depok I
Seloko Adat Melayu dalam Membangun Masyarakat Jambi yang Berkarakter dan Multikultural Nelly Indrayani; Siti Syuhada
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v9i2.11870

Abstract

Abstrak:. Heterogenitas tidak jarang berpengaruh kepada perbedaan yang berujung konflik. Akan tetapi daerah yang menjadi tujuan perpindahan sering kali memiliki sejumlah aturan atau hukum adat untuk mengatur heterogenitas masyarakatnya. Penduduk yang mendiami daerah Jambi berasal dari berbagai wilayah sehingga didiami suku dan etnik yang beraneka ragam. Seperti Minangkabau, Pelembang, Melayu Riau dan Jawa. Jambi sebagai daerah tujuan perpindahan masyarakat itu, memiliki seloko Adat Melayu yang memiliki pesan makna sosial terhadap masyarakat heterogenitas itu. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan adat Seloko di Jambi dan apa nilai-nilai dari adat Seloko. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran perkembangan adat Seloko dan nilai-nilai yang dikandungnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis yakni mengumpulkan sumber-sumber yang berkaitan Seloko. Kemudian mengungkapkan pesan-pesan nilai seloko adat, dan menginterpretasikan serta mengintegrasikannya dengan kultur masyarakat Jambi yang heterogen. Melalui metode ini menunujukkan bahwa budaya Melayu menjadi pandangan hidup yang tercermin dalam sejumlah aturan yang berlaku di daerah Jambi. Sejumlah aturan, hukum-hukum adat yang berlaku di dalam masyarakat suku bangsa Melayu Jambi hampir semuanya disampaikan melalui seloko adat Melayu. Seloko berupa patatah-petitih dan pandangan hidup yang berisi pesan nilai untuk seluruh warga Jambi yang heterogen. Seloko adat memiliki nilai pesan moral, pertama pesan dalam bidang keagamaan, kedua pesan bidang sosial, dan ketiga pesan bidang pendidikan karakter. Nilai pesan ini memberikan makna dalam masyarakat yang multi etnik, sehingga tertanam pembentukan nilai-nilai karakter Melayu dalam konteks masyarakat heterogen. Kata Kunci: Seloko Adat Melayu Jambi, Nilai Karakter, Multikultural.Kata Kunci: Seloko Adat Melayu Jambi, Nilai Karakter, MultikulturalAbstract: Heterogeneity often affects differences that lead to conflict. However, the areas that are the destination of displacement often have a number of customary rules or laws to regulate the heterogenity of their communities. The people who live in Jambi, come from various regions such as Minangkabau, Palembang, Riau Malay and Javanese. Jambi as a destination for the movement of the community has traditional Malay Seloko which has a message of social meaning for this heterogeneous society. The problem in this research is how to development of Seloko custom in Jambi and what the values of Seloko. The purpose of this research is to get an overview of the development and value of Seloko. The research method used is a hisorical method , namely collecting sources related Seloko. Then express messages of traditional Seloko values, and interpret and integrate them with the heterogeneous culture of Jambi society. Through this method, its shows that Malay culture is a way of life which is reflected in a number of regulations that apply in Jambi. Almost all of the rules and customary laws that apply in Jambi Malay ethnic community are conveyed through the Malay custom Seloko. Seloko is in the form of paths and vies of life which is contain messages of value for all heterogeneous Jambi residents. Seloko adat has a moral values, firs messages in the religious field, second in the social field, and third in the field of character education. The value of this message gives meaning in a multi-ethnic society, so that it is embedded in the formation of Malay character values in the context of a heterogeneous society. Key Words: Seloko Adat of Jambi Malay, Character Value, Multicultural.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal Rumah Adat Kajang Lako di Jambi Ahmad Alim Wijaya; Syarifuddin Syarifuddin; Aulia Novemy Dhita
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.11488

Abstract

Abstrak: Keberagaman kebudayaan yang dimiliki masyarakat daerah dapat dilihat dari rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat seperti rumah adat Kajang lako di Jambi. Rumah adat ini memiliki arsitektur unik sebagai kearifan lokal di Provinsi Jambi. Adapun permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai nilai-nilai kearifan lokal rumah adat Kajang lako. Tujuan penelitian untuk menguraikan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada rumah adat Kajang lako di Jambi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif naratif yang bertujuan untuk mengetahui tentang fakta-fakta yang ada yang diproses dengan ditelaah secara faktual, akurat, dan sistematis. Dalam proses teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain termasuk sebagai kekayaan lokal dan bagian dari cerminan multikultural, kajang lako memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang tepat untuk diterapkan yaitu nilai historis, religius, kekeluargaan, gotong royong dan kerjasamaKata kunci: Rumah Adat, Kajang lako, Kearifan Lokal Abstract:  The cultural diversity possessed by local communities can be seen from the traditional houses owned by the community such as the Kajang Lako traditional house in Jambi. This traditional house has a unique architecture as local wisdom in Jambi Province. The problems studied in this study are the values of local wisdom of the Kajang Lako traditional house. The research objective was to describe the values of local wisdom found in the Kajang Lako traditional house in Jambi. The research method used in this research is descriptive narrative research method which aims to find out about the existing facts which are processed by being reviewed factually, accurately, and systematically. In the process of data collection techniques, researchers used literature study techniques. The results show that apart from being included as a local wealth and part of a multicultural reflection, kajang lako has the appropriate local wisdom values to be applied, namely historical, religious, kinship, mutual cooperation and cooperation..Keywords : Custom House, Kajang lako, Local Wisdom