cover
Contact Name
Suciati
Contact Email
psuciati@ecampus.ut.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jp-ut@ecampus.ut.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan
Published by Universitas Terbuka
ISSN : 14111942     EISSN : 24433586     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pendidikan diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Terbuka. Jurnal ini memuat artikel yang ditulis berdasarkan hasil penelitian dan analisis konseptual mencakup berbagai dimensi pendidikan, seperti kurikulum, pembelajaran, evaluasi, manajemen, kualitas Pendidikan, dan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi, dalam berbagai jenjang pendidikan dan modus penyampaian pembelajaran
Arjuna Subject : -
Articles 267 Documents
EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH: STUDI KASUS PADA SEKOLAH INTERNASIONAL X DI BALI Sidupa, Jeanny Novita
Jurnal Pendidikan Vol 19 No 2 (2018)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jp.v19i2.p117-132.2018

Abstract

Improving the educational quality can be done not only through improvements on instructional process such as curriculum, learning methods, the quality of teachers or educational facilities but also through principal leadership as the principal is directly related to the implementation of the school program. Data collection techniques used was interview, and documentation. The survey method is carried out only as an affirmation and supporting data. The research was conducted using qualitative descriptive approach. Moreover, to assure the validity of research, the data was tested through triangulation method. Based on the research findings, it was concluded that the hindrances on the effectiveness of principal leaders was caused by the absence of superintendents’ support in providing organizational structure, system and program which focused on school’s vision and mission. That being said, it was suggested that superintendent as a policy maker to put an effort to develop coordination and collaboration with all the stake holders as it will establish the school’s direction and foster a strong commitment in meeting those goals. Kualitas mutu sumber daya manusia salah satunya ditentukan oleh kualitas mutu pendidikan.Untuk meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya dapat dilakukan melalui perbaikan proses pembelajaran seperti kurikulum, metode pembelajaran, perbaikan kualitas guru atau sarana pendidikan tetapi juga melalui kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan sekolah karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program sekolah. Penelitian ini membahas mengenai pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah X di pulau Bali. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan pengamatan wawancara, dan dokumentasi. Metode survey dilakukan hanya sebagai penegasan dan data pendukung. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan kesimpulan. Pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa kendala-kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinannya adalah kurangnya dukungan dari pihak yayasan sekolah dalam menciptakan standar, sistem dan program yang berorientasi pada visi, misi dan tujuan sekolah. Untuk itu yayasan sebagai pembuat kebijakan hendaknya melakukan koordinasi dan kolaborasi yang baik dengan seluruh warga sekolah sehingga dapat menentukkan arah kebijakan dan menumbuhkan komitmen yang kuat dalam pemenuhan tujuan sekolah.
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) DAN ROLE PLAYING TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Yusuf Alamsyah
Jurnal Pendidikan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jp.v20i2.254.2019

Abstract

In today's student learning model, an innovation strategy is needed to improve student learning achievement, including team games tournaments (TGT) and role-playing models. This study aims to determine the differences in Civics learning outcomes between and Role-Playing models, in Madrasah Ibtidaiyah Ulil Amri's 4th-grade students. The design of the experiment is a randomized design to determine the effect of differences between the two models on student learning outcomes. The results showed that the Civics learning outcomes of students using the Team Games Tournament (TGT) learning method and the Role Playing learning method differed significantly. Based on the average mean TGT learning method has better results or values than the Role-Playing method. Dalam model pembelajaran dewasa ini, diperlukan strategi inovatif untuk peningkatan prestasi belajar siswa, diantaranya dengan model pembelajaran Team games tournament dan role playing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar PKn yang menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dan Role Playing, pada siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Ulil Amri. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap untuk melihat pengaruh perbedaan antara kedua perlakuan terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar PKn siswa yang menggunakan metode pembelajaran TGT dan metode pembelajaran Role Playing berbeda secara signifikan. Dilihat dari rata-rata nilai hasil belajar, metode pembelajaran TGT memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan metode Role Playing.
THE NEEDS OF COLLABORATION IN OPERATING AN OPEN AND DISTANCE LEARNING INSTITUTION: UT CASE Herman, Herman
Jurnal Pendidikan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the importance of building collaboration among agencies in managing student support service for the distance student in Universitas Terbuka/UT (Indonesia Open University/IOU). As a mass-scale university with the number of students more than 600 thousand scattered in 37 provinces in Indonesia and overseas, heterogeneous socio-cultural background, offering more than 200 study program, and semester test held simultaneously, UT should be able to recruit thousands of tutors, invigilator, and executive personnel to conduct academic activities in those region. UT should manage course development team (curriculum developers, modules developers, content experts, media specialists, and art designers, linguists, and also graphics developers). UT should also provide classrooms for academic activities, lab and computer to facilitate student support service. This condition implies that the availability of human resources and infrastructure, including a computer lab connected to the internet in each unit of study is a necessity. Therefore, in order to improve the quality of distance learning and to accelerate change of learning style from traditional-based to e-learning-based, collaboration between UT with local agencies is a must to ensure the availability of human resources and e-learning facilities. Artikel ini membahas tentang peranan kolaborasi antar lembaga dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi mahasiswa peserta program pendidikan jarak jauh di Universitas Terbuka (UT). Model perkuliahan sistem jarak jauh mengharuskan pesertanya mempraktekkan belajar mandiri, menggunakan modul sebagai bahan belajar utama, dan memanfaatkan ICT sebagai media dalam proses pembelajaran. Bahan ajar dalam bentuk cetak dan non-cetak dikembangkan oleh tim pengembang yang meliputi pengembang kurikulum, pengembang modul, ahli materi, ahli media, ahli bahasa, dan ahli grafik. Bantuan belajar disediakan dalam bentuk tutorial secara tatap muka dan online bagi mahasiswa di setiap unit belajar di dalam dan luar negeri. Sebagai sebuah perguruan tinggi berskala massal dengan jumlah mahasiswa lebih dari 600 ribu, mahasiswanya tersebar di 37 propinsi di Indonesia dan luar negeri, menawarkan lebih dari 100 program studi, serta ujian semester dilaksanakan secara serentak, maka UT harus mampu merekrut ribuan tenaga akademik (tutor), pengawas ujian, dan tenaga pelaksana ujian semester di setiap wilayah unit belajar. Untuk melaksanakan ujian semester dan memberikan layanan bantuan belajar, UT juga harus mampu menyediakan pusat unit belajar di daerah (regional center), ribuan ruang ujian, ruang untuk tutorial serta fasilitas lab computer. Karena itu, kolaborasi antara UT dengan instansi pemerintah dan non-pemerintah di daerah harus dilakukan untuk menjamin kelangsungan kegiatan akademik di daerah. Demikian pula, ketersediaan SDM berbasis ICT yang berkualitas dan infrastruktur termasuk lab komputer yang terkoneksi dengan internet di setiap unit belajar harus menjadi prioritas demi terciptanya pembelajaran berbasis e-learning bagi mahasiswa UT di daerah.
KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MAHASISWA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH Karlimah, Karlimah
Jurnal Pendidikan Vol 11 No 2 (2010)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This experimental study was conducted to investigate students’ mathematical communication and problem solving abilities by using problem based learning (PBL). The subjects of this study were 67 student teachers from a State University in Bandung. Instruments of this study were a mathematical communication test and a mathematical problem solving test. The data were analyzed by using one and two path anova, Mann Whitney test and chi square test. The study found that: (1) Students’ mathematical communication and problem solving abilities in PBL classroom were higher than those of students of conventional classroom; (2) The advantage of PBL were also supported by the findings that mathematical communication and problem solving abilities of students with  low initial ability were higher in PBL classroom compared to those ofconventional classroom;  (3) There was significant correlation between mathematical communication and problem solving abilities; (4) There were no interaction between teaching approaches and prior mathematics ability on students’ mathematical communication and problem solving abilities.
PENGARUH PERANAN DAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) DI KECAMATAN BOGOR BARAT Ningrum, Wulan Ratna
Jurnal Pendidikan Vol 17 No 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jp.v17i2.p129-137.2016

Abstract

The aims of the study is to analyze the partial and simultaneous influence of parent role and parenting patterns on students learning achievement at Elementary Public School (Sekolah Dasar Negeri) in the District of West Bogor. A survey was conducted by distributing questionnaires to the respondents, complemented with interview for qualitative data. Student achievement is collected as part of the research data. The respondents are 100 parents from 50 schools throughout the district. The results of the study reveals that there is a positive and significant partial influence of parent role and parenting pattern on student learning achievement. Parent role and parenting pattern also have positive and significant simultaneous effect on student learning achievement. It can be concluded that efforts to improve student learning achievement should take into account parent role and parenting patterns. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh parsial dan simultan peran orangtua dan pola pengasuhan terhadap prestasi belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Bogor Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan menyebarkan kuesioner kepada responden, dilengkapi dengan wawancara untuk data kualitatif. Prestasi siswa dikumpulkan sebagai bagian dari data penelitian. Responden penelitian adalah 100 orang tua dari 50 sekolah di seluruh kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh parsial yang positif dan signifikan peran orangtua dan pola pengasuhan terhadap prestasi belajar siswa. Peran orang tua dan pola pengasuhan secara simultan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa upaya peningkatan prestasi belajar siswa harus memperhatikan peran orang tua dan pola pengasuhan siswa oleh orang tua di rumah.
PENGARUH SARANA BELAJAR DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA (Studi Empirical Pada Mahasiswa Beasiswa Bidikmisi UPBJJ-UT Ternate) Raden Sudarwo; Yusuf Yusuf; Anfas Anfas
Jurnal Pendidikan Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jp.v19i2.152.2018

Abstract

This study aims to determine the influence of learning facilities and student learning motivation towards the independence of student learning. The result of the research shows that there is positive and significant influence of learning tool (X1) on learning independence (Y). It is obtained by tvalue (2,159) with p = 0,034 <0,05 and ttable at 5% significant level with df = 78 equal to 1,991. There is a positive and significant influence of learning motivation (X2) on learning independence (Y). It is obtained tvalue (7,858) with p = 0,000 <0,05 and ttable at 5% significant level with df = 78 equal to 1,991. There is a positive and significant influence of learning facilities (X1) and learning motivation (X2) simultaneously to the independence of learning (Y). This shows the coefficient of double correlation RY (1,2) = 0,746 and R² = 0,557 and price Fvalue equal to 48,980 with p = 0,000 <0,05 and Ftable = 3,11 at 5% significant level. Coefficient value X1 = 0,186 and X2 = 0,647, constant number equal to 8,650 so that can be made regression equation Y = 8,650 + 0,186X1 + 0,647X2. The higher the learning means (X1) and the learning motivation (X2), the higher the learning independence (Y). Coefficient of Determination is R² of 0,557. Means 55,7% learning independence is explained by learning tools and learning motivation. Meanwhile, 44,3% is explained by other factors not discussed in this study. The study concludes that partially, learning facilities and student learning motivation has a positive and significant effect on student independence (self-sufficiency) in learning. In addition, both learning facility and motivation have a positive and significant effect on student learning independence or sense of self-sufficiency. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas belajar dan motivasi belajar siswa terhadap kemandirian belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan sanara belajar (X1) terhadap kemandirian belajar (Y). Hal ini diperoleh dengan nilai thitung (2,159) dengan p = 0,034 <0,05 dan ttabel pada 5% tingkat signifikan dengan df = 78 sama dengan 1,991. Ada pengaruh positif dan signifikan motivasi belajar (X2) pada kemandirian belajar (Y). Diperoleh nilai thitung (7,858) dengan p = 0,000 <0,05 dan ttabel pada taraf signifikan 5% dengan df = 78 sebesar 1,991. Ada pengaruh yang positif dan signifikan dari fasilitas belajar (X1) dan motivasi belajar (X2) secara bersamaan terhadap kemandirian belajar (Y). Hal ini menunjukkan koefisien korelasi ganda RY (1,2) = 0,746 dan R² = 0,557 dan harga Fhitung sebesar 48,980 dengan p = 0,000 <0,05 dan Ftabel = 3,11 pada taraf signifikan 5%. Nilai koefisien X1 = 0,186 dan X2 = 0,647, bilangan konstan sebesar 8,650 sehingga dapat dibuat persamaan regresi Y = 8,650 + 0,186X1 + 0,647X2. Semakin tinggi nilai sarana belajar (X1) dan motivasi belajar (X2), semakin tinggi kemandirian belajar (Y). Koefisien Determinasi adalah R² 0,557. Berarti 55,7% kemandirian belajar dijelaskan oleh alat belajar dan motivasi belajar. Sementara itu, 44,3% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara parsial, baik ketersediaan sarana prasaran belajar dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan pada kemandirian mahasiswa, dari dari kedua variable tersebut motivasi mempunyai pengaruh lebih besar. Secara simultan ketersediaan sarana prasarana dalam belajar dan pembelajaran, serta motivasi berpengaruh positif terhadap kemandirian belajar.
POTENSI PEMBELAJARAN AUDIO DAN RADIO INTERAKTIF DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA (SUATU KAJIAN TEORITIS) Setiawan, Denny
Jurnal Pendidikan Vol 10 No 2 (2009)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Many challenges must be faced by thr GOI in developing the program, nowadays the Govemment of lndonesia (G01) through Early Childhood Education (ECE) Department has been enhancing early childhood education programs for 0 to 8 year old children. The major challenges are children access to early childhood education services and quality of early childhood education programs. Considering the challenges, The United States Agency for Intemational Development (USAID) in partnership with Indonesia's Ministry of National Education is currently implementing a small scale interactive audio instruction (1AI) pilot program targeting 5-6 year olds and their teachers in seven provinces. The program can simultaneously lead acfivities to kindergarten children and teachers as well as train the teachers, who don't have early childhood education background, and how to create high qualityactivities for children. Because of its' simple technology, the program can be applied in various Indonesia district condition, This paper explores the potential role a simple technology can play in assisting the government meet its early childhood education goals and discusses whether something as commonplace as a CD player or radio, when coupled with a proven education methodology, could present a cost effective way to achieving quality at scale.
KEGIATAN PENGEMBANGAN KEAKSARAAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI TAMAN KANAK-KANAK Widuroyekti, Barokah; Sambada, Dwi; Prastiti, Tri Dyah
Jurnal Pendidikan Vol 17 No 2 (2016)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jp.v17i2.p93-103.2016

Abstract

The study was aimed to develop character-education-based literacy activities through the children active involvement ofliteracy practice in kindergarten. In particular, the aim is (1) the analysis of the needs and constraints to obtain baseline data; (2) designing and developing a guidebook for character-based literacy activities with the active involvement of children in the literacy practice in kindergarten. The study was carried out by using a development research approach. The research subjects consisted of 22 kindergarten teachers and childrens from three kindergarten institutions. The research location is three kindergartens in Jombang, namely: TK Pembina Gudo, TK Negeri Pembina Jombang, and TK Al Wardah Peterongan. Data were collected through observation, interviews, scrutiny of documents, materials selection, and material mapping. Data were analyzed with descriptive techniques. Test the validity of product development validation performed by two groups of product development validator, the validator group practitioners/teachers (V1) and validator expert (V2). The results showed that the literacy hear-speak on a kindergartner who stand out include the ability to: retell stories read, perform songs, and participate in the conversation. As the literacy skills to read and write show the emergence of capabilities: holding the book from the right side, turning the page on the right side; show interest in writing; and draw/scribble and can tell by the picture. The result of the development is the Activity Books for Literacy Development Character-Education-Based, as a handbook for teachers.An assessment of the validity of product developmentcarried out on four aspects, namely the aspects of substance, presentation, linguistic, and graphic design. Validity test results showed that the quality of the product development of products in general have met the quality of "good" and "excellent".Recommendations for kindergarten teachers to conduct literacy activities by including elements of character education in all of the planning component of literacy learning, includes the objective component, material and activities procedure. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kegiatan keaksaraan berbasis karakter melalui pelibatan aktif praktik keaksaraan anak TK. Secara khusus tujuannya adalah (1) analisis kebutuhan dan kendala untuk memperoleh data dasar; (2) mendesain dan mengembangkan buku panduan kegiatan keaksaraan berbasis karakter dengan pelibatan aktifanak dalam praktik keaksaraan di TK. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian pengembangan.Subyek penelitian terdiri atas 22 orang guru TK dan anak-anak TK yang berasal dari tiga lembaga TK. Lokasi penelitian adalah tiga TK di Kabupaten Jomban, yakni TK Pembina Kecamatan Gudo, TK Negeri Pembina Kecamatan Jombang, dan TK Al Wardah Kecamatan Peterongan.&nbsp; Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pencermatan dokumen, seleksi bahan, dan pemetaan materi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Uji validitas produk pengembangan dilakukan validasi produk pengembangan oleh dua kelompok validator, yakni kelompok validator praktisi/guru (V1) dan validator ahli (V2).Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi dengar-bicara pada anak TK yang menonjol meliputi kemampuan: menceritakan kembali cerita yang dibacakan, melakukan nyanyian, dan ikut serta dalam percakapan. Adapun kemampuan literasi baca-tulis menunjukkan kemunculan kemampuan: memegang buku dari sisi kanan, membalik halaman dari sisi kanan; menunjukkan ketertarikan terhadap tulisan; dan membuat gambar/coretan dan dapat bercerita dengan gambar tersebut. Hasil pengembangan adalah Buku Kegiatan untuk Pengembangan Keaksaraan Berbasis Pendidikan Karakter, sebagai buku panduan untuk guru. Penilaian terhadap validitas produk pengembangan dilakukan terhadap empat aspek, yakni aspek substansi, penyajian, kebahasaan, dan kegrafikan.&nbsp; Hasil uji validitas produk menunjukkan bahwa kualitas produk pengembangan secara umum telah memenuhi kualitas “baik” dan “sangat baik”. Rekomendasi bagi guru TK adalah melaksanakan kegiatan keaksaraan dengan cara memasukkan unsur-unsur pendidikan karakter pada semua komponen perencanaan pembelajaran keaksaraan, meliputi komponen tujuan, materi, dan prosedur kegiatan.&nbsp;
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK DAN PRESTASI BELAJAR MATERI BANGUN DATAR SEGIEMPAT BAGI SISWA KELAS VII-A SMP NEGERI 2 PATEAN SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013 ., Mustakim
Jurnal Pendidikan Vol 16 No 1 (2015)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar di kelas VII khususnya VII-A SMP Negeri 2 Patean, selama ini guru jarang melakukan variasi pada pembelajaran di kelas dan kurang memberikan tantangan kepada siswa bahkan belum pernah menerapkan Pembelajaran pemecahan masalah dengan pendekatan saintifik. Permasalahan dalam penelitian ini, apakah pembelajaran Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematik dan prestasi belajar siswa pada materi bangun datar segiempat bagi siswa kelas VII-A.Untuk membahas permasalahan di atas, maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, masing-masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan tes akhir siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Patean yang berjumlah 25 siswa dengan komposisi 13 siswa putra dan 12 siswa putri. Indikator dalam penelitian ini adalah (1) Kemampuan berpikir kreatif matematik siswa rata-rata minimal pada kategori cukup kreatif, (2) Sekurang-kurangnya lebih dari 75% siswa kemampuan berpikir kreatif matematik siswanya termasuk kategori cukup kreatif, (3) Prestasi belajar siswa rata-rata mencapai batas minimal KKM yaitu 70, (4) Sekurang-kurangnya lebih dari 75% siswa prestasi belajarnya mencapai batas minimal KKM yaitu 70. Pada kondisi awal (pra-siklus) kemampuan berpikir kreatif matematik siswa dengan level sangat kreatif 0 siswa (0%), kreatif 2 siswa (8%), cukup kreatif 6 siswa (24%), kurang kreatif 8 siswa (32%), dan tidak kreatif 9 siswa (36%). Pada siklus I terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa level sangat kreatif 1 siswa (4%), kreatif 7 siswa (28%), cukup kreatif 9 siswa (36%), kurang kreatif 5 siswa (20%), dan tidak kreatif 3 siswa (12%). Pada siklus II lebih meningkat, siswa dengan kemampuan berpikir kreatif matematik level sangat kreatif 2 siswa (8%), level kreatif 9 siswa (36%), cukup kreatif 9 siswa (36%), kurang kreatif 3 siswa (12%), dan tidak kreatif 2 siswa (8%). Pada Siklus II banyak siswa dengan kemampuan berpikir kreatif matematika minimal level cukup kreatif ada 20 siswa (80%). Pada kondisi awal (pra-siklus) nilai tertinggi prestasi belajar siswa 80, nilai terendah 40, rata-rata nilai 60, dan ketuntasan klasikal 32% atau hanya 8 siswa yang mampu mencapai nilai di atas KKM 70. Pada Siklus I, nilai tertinggi prestasi belajar siswa 90, nilai terendah 45, dengan rata-rata nilai 68, dan ketuntasan klasikal 68% atau hanya 17 siswa yang mampu mencapai nilai di atas KKM 70. Sehingga masih ada 8 siswa atau 32% yang nilai prestasi belajarnya di bawah KKM. Pada siklus II meningkat menjadi nilai tertinggi prestasi belajar siswa 95, nilai terendah 50, dengan rata-rata nilai 75, dan ketuntasan klasikal 80% atau 20 siswa telah mampu mencapai nilai di atas KKM 70 namun masih ada 5 siswa atau 20% yang nilai prestasi belajarnya di bawah KKM. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penerapan Pembelajaran Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematik dan prestasi belajar siswa.
MODEL PENDIDIKAN KETERAMPILAN HIDUP (LIFE SKILLS) BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH KORBAN LUMPUR LAPINDO Sutini, Sutini; Daulay, Pardamean
Jurnal Pendidikan Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to describe the development of models of educational research skills (life skills) for school dropouts Lapindo mudflow victims. Collecting data dropouts and the desired type of life skills is done through interviews and kuesinoer. While the development of life skills education model using the methods of research and development by modifying the model Plomp. Data were analyzed descriptively and the average percentage and kualitatiof analysis model of Miles and Huberman (1992). The results showed that the characteristics of school dropouts in the Lapindo mudflow victims Siring village and sub-district Renojoyo Porong, Besuki village and Pejarakan Jabon subdistrict, and village districts Sentul Tanggulangin Kedungbendo and numbered 67 people. Of these the majority of high school education or equivalent, ie 30 people or 44.78%, while 26 people or 38.80% junior high school graduates, and 11 people, or 16.41% of primary school graduates or equivalent. Mostly aged between 16 and 18 years of age, ie 39 (58.20%). Type the desired skills are service motorcycles, sewing, mobile phone service, and home industries. Memindaklanjuti desire for school dropouts Lapindo mudflow victims (APSKLL), the three modules developed life skills education, the service module motorcycles, sewing skills module, and mobile phone service modules. Writing module is made as simple as possible, the basic material content, word choice tailored to the educational level, and comes in the form of examples and illustrative pictures are clear. However, the module has not been tested because it was before used in the training of life skills education for APSKLL advisable to conduct research trials modu use. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan hasil penelitian pengembangan model pendidikan keterampilan hidup (life skills) bagi anak putus sekolah korban lumpur Lapindo. Pengumpulan data anak putus sekolah dan jenis keterampilan hidup yang diinginkan dilakukan melalui metode wawancara dan kuesiner. Sementara pengembangan model pendidikan keterampilan hidup menggunakan metode penelitian dan pengembangan dengan memodifikasi model&nbsp;Plomp. Data dianalisis secara deskriptif persentase dan rata-rata serta analisis kualitatif model Miles dan Huberman (1992). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik anak putus sekolah korban lumpur Lapindo di desa Renojoyo dan Siring kecamatan Porong, desa Besuki dan Pejarakan Kecamatan Jabon, dan desa Kedungbendo dan Sentul kecamatan Tanggulangin berjumlah 67 orang. Dari jumlah tersebut sebagian besar berpendidikan SLTA atau sederajat, yakni 30 orang atau 44,78%, sedangkan 26 orang atau 38,80% lulusan SMP atau sederajat, dan 11 orang atau 16,41% lulusan SD atau sederajat. Sebagian besar berusia antara 16 sampai usia 18 tahun, yakni 39 orang (58,20%). Jenis keterampilan yang diinginkan adalah&nbsp;service&nbsp;sepeda motor, menjahit,&nbsp;service handphone, dan&nbsp;home&nbsp;industri. Untuk memindaklanjuti keinginan anak putus sekolah korban lumpur Lapindo (APSKLL) tersebut, dikembangkan tiga modul pendidikan keterampilan hidup, yakni modul&nbsp;service&nbsp;sepeda motor, modul keterampilan menjahit, dan modul&nbsp;service handphone. Penulisan modul dibuat sesederhana mungkin, isi materi yang mendasar, pilihan kata disesuaikan dengan tingkat pendidikan, serta dilengkapi ilustrasi berupa contoh dan gambar-gambar yang jelas. Namun, modul tersebut belum diujicoba, karena itu sebelum dipergunakan dalam pelatihan pendidikan keterampilan hidup bagi APSKLL disarankan untuk melakukan penelitian uji coba penggunaan modu.

Page 10 of 27 | Total Record : 267