cover
Contact Name
Alvi Nur Yudistira
Contact Email
maz.wie@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@jppik.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan
ISSN : 19786514     EISSN : 26848651     DOI : -
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan kelautan menerima artikel yang memuat hasil penelitian dalam bidang perikanan dalam arti luas. Topik yang dapat dipublikasikan melalui jurnal ini antara lain : penyuluhan perikanan; pemberdayaan masyarakat perikanan; konservasi dan sumberdaya perikanan; sosial dan ekonomi perikanan; budidaya perikanan; pengolahan ikan; pemanfaatan sumberdaya perikanan; penangkapan ikan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2025)" : 7 Documents clear
Dinamika Kebijakan Penerapan Penyuluhan Perikanan: Kasus Kota Probolinggo Tahun 2009-2024 Favendri, Yoga Yonut; Taryoto, Andin H; Astarika, Rina
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.551

Abstract

Penyuluhan perikanan sebagai instrumen penting peningkatan kapasitas dan produktifitas pelaku utama, penyuluhan akan efektif jika didukung kebijakan selaras dari pusat hingga daerah yang sesuai amanah UU No. 16 Tahun 2006. Upaya tersebut akan menimbulkan pertanyaan akan dinamika kebijakan pemerintah daerah khususnya Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif Historis Komparatif, mencakup kebijakan penyuluhan perikanan dalam aspek kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan, sarana prasarana, pendanaan, serta pembinaan dan pengawasan pada periode (2009-2024). Selama tiga periode pemerintahan, terdapat tiga kelembagaan penyuluhan yang berbeda dan perubahan dalam ketenagaan penyuluh. Kegiatan penyuluhan dimulai dengan pembuatan program dan rencana kegiatan, menggunakan metode yang sesuai dengan pelaku utama perikanan. Sarana dan prasarana penyuluhan disediakan sejak 2009, meski hanya sebagian yang digunakan. Pendanaan berasal dari APBD dan APBN untuk kegiatan penyuluhan dan operasional, sedangkan pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh instansi pemerintah terkait di Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Diperlukan sinergitas kebijakan penyuluhan perikanan dari pusat hingga daerah, sehingga dapat membuat pelayanan terhadap masyarakat perikanan dapat terlayani dengan baik. 
Produksi Ekspor dan Distribusi Benih Ikan Bandeng di Wilayah Asia Anwar, Anwar; Safitri, Diah Ayu; Budiyati, Budiyati
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.518

Abstract

Ikan hidup komoditas ekspor yang menjadi primadona pasar ASEAN yaitu nener dan benih kerapu, sehingga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali berencana menjajaki perluasan ekspor benih ikan bandeng hidup atau nener ke sejumlah negara karena kapasitas produksi yang besar untuk memenuhi permintaan pasar internasional. Perluasan ekspor benih ikan bandeng atau nener didasari oleh kapasitas produksi nener yang besar, namun permintaan domestik belum mampu menyerapnya secara keseluruhan. Penelitian ini perlu untuk dilakukan dengan tujuan yaitu untuk menganalisis perkembangan ekspor subsektor perikanan nener bandeng di Indonesia dan distribusinya di pasar Asia. Data volume ekspor merupakan data gabungan yang diperoleh dari BKIPM Denpasar, BKIPM Jakarta I, BKIPM Surabaya I, BKIPM Tarakan, BKIPM Batam yang melalulintaskan nener bandeng selama time series lima tahun (2019-2023). Pengumpulan data sekunder dilakukan pada bulan April 2024, dianalisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Ekspor nener Indonesia telah menembus tiga belas negara tujuan, dengan Filipina sebagai pasar utamanya. Ekspor nener dalam kurun waktu lima tahun terakhir mencapai rata-rata 3,6 miliar ekor per tahun. Provinsi Bali merupakan sentra produksi nener bandeng Indonesia dengan total ekspor tahunannya mencapai angka milyaran ekor. Produksi harian nener di Bali mencapai 10, 2-12 juta ekor nener per hari, yang berasal dari hatchery skala kecil sebanyak 4.500 unit dan hatchery skala besar sebanyak 176 unit. Keperluan nener untuk budidaya ikan bandeng terus mengalami peningkatan, sehingga sektor ini masih memiliki prospek yang besar. Pengembangan hatchery nener di berbagai wilayah di Indonesia merupakan langkah strategis untuk meningkatkan produksi perikanan, mengurangi kemiskinan, dan menjaga kelestarian sumber daya laut.
Analisis Usaha dan Kesejahteraan Nelayan Perikanan Tangkap Teri di TPI Krakahan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Nababan, Benny Osta; Sari, Yesi Dewita; Riadi, Septa
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.562

Abstract

Estimasi potensi ikan pelagis kecil tahun 2017 sebesar 364.633 ton menjadi 275.486 ton pada tahun 2022 atau potensi ikan pelagis kecil menurun sebesar 32,36%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan usaha perikanan tangkap teri di TPI Krakahan dan untuk mengetahui kesejahteraan nelayan perikanan tangkap teri di TPI Krakahan. Penelitian dilaksanakan di TPI Krakahan, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Waktu penelitian selama 3 bulan dari bulan Februari sampai April 2024. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan nelayan setiap ABK perikanan tangkap ikan teri yang mendaratkan hasil tangkapan sebesar 19,01 juta rupiah/tahun atau 1,58 juta rupiah/bulan. Keuntungan 1 kapal sebesar 150,78 juta rupiah per tahun setelah dikurangi total biaya. Setelah keuntungan kapal dikurangi bagi hasil maka diperoleh pendapatan pemilik kapal sebesar 36,76 juta rupiah/tahun atau 3,06 juta rupiah/bulan. R/C Ratio sebesar 2,05 menunjukkan penerimaan 2,05 kali lebih besar dibandingkan total biaya. Payback period sebesar 3,51 tahun atau pengembalian investasi kurang dari 4 tahun. Hasil analisis usaha menunjukkan perikanan tangkap teri di TPI Krakahan masih menunjukkan layak secara ekonomi untuk dilanjutkan. Penelitian ini juga mengkaji kesejahteraan nelayan ABK maupun pemilik kapal dengan cara membandingkan pendapatan dengan UMK Brebes yang sebesar 2.103.100 rupiah pada tahun 2024. Pendapatan nelayan ABK hanya sebesar 75,30% dari UMK Brebes yang artinya kesejahteraan nelayan ABK perikanan tangkap teri di TPI Krakahan, Kabupaten Brebes masih rendah (miskin). Pendapatan pemilik kapal 45,65% lebih tinggi dibandingkan UMK Brebes yang menunjukkan pemilik kapal lebih sejahtera dibandingkan dengan ABK. 
Kajian Pengembangan Perikanan Gurita (Studi Kasus: Desa Perikanan Cerdas/Smart Fisheries Village Desa Linau, Bengkulu) Sawestri, Sevi; Muthmainnah, Dina; Nurwanti, Nurwanti; Imama, Rumi Lilmutakina; Antoni S, Rezki; Antomi, Robi; Ismanto, Rully
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.553

Abstract

Desa Perikanan Cerdas atau Smart Fisheries Village (SFV) merupakan salah program KKP dalam pengembangan potensi perikanan desa. Desa Linau, Kaur telah ditunjuk sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program tersebut dengan komoditi gurita. Dalam pelaksanaannya, pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan Desa Linau, serta Pemerintah Desa dan masyarakatnya telah diberi pemenuhan kapasitas keterampilan dan pengetahuan, serta pendampingan perihal pengembangan potensi perikanan desa. Kajian penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal yang akan memberikan wawasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan, profitabilitas, dan keberhasilan operasi penangkapan gurita di Desa Linau. Penelitian ini dilaksanakan selama 11 (sebelas) bulan pada bulan Februari-Desember 2023 di Desa Linau, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, in-depth interview dengan pelaku kunci, dan dokumentasi. Metode analisis data kajian ini menggunakan analisis deskriptif dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha perikanan yang sudah dibekali keterampilan, proses penjualan produk melalui e-commerce, dan potensi gurita di alam yang melimpah merupakan faktor pendukung dalam keberhasilan SFV Desa Linau. Berdasarkan analisis SWOT, nilai titik koordinat sumbu x adalah 0,75 dan nilai titik koordinat sumbu Y adalah 0,09. Posisi titik koordinat hasil penelitian ini berada pada kuadran 1, sehingga menggunakan strategi agresif. Strategi atau rekomendasi agresif pada pengembangan perikanan gurita SFV Desa Linau akan difokuskan pada peningkatan daya saing, keberlanjutan dan ketahanan dalam menghadapi dinamika pasar dan tantangan lingkungan.
Efektivitas Ukuran Bukaan Mulut Bubu Karang terhadap Hasil Tangkapan Ikan di Perairan Sorong Siaila, Max; Ruchimat, Toni; Jabbar, Meuthia Aula
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.508

Abstract

Pada tahun 2016, produksi perikanan tangkap di Kota Sorong tercatat sebesar 47.328 ton, namun pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 44.710 ton (BPS, 2017). Penurunan dan fluktuasi hasil produksi tersebut umumnya dipengaruhi oleh jenis alat tangkap yang digunakan serta kapasitas kapal yang beroperasi. Berangkat dari kondisi ini, penelitian dilakukan untuk mengkaji sejauh mana variasi ukuran bukaan mulut bubu memengaruhi hasil tangkapan ikan di perairan Sorong, Papua Barat Daya. Penelitian menerapkan metode experimental fishing dengan membandingkan tiga ukuran bukaan mulut bubu, yakni Ø30 cm, Ø40 cm, dan Ø50 cm, selama periode enam bulan (Januari–Juni 2024). Hasil penelitian memperlihatkan adanya pengaruh signifikan dari perbedaan ukuran bubu terhadap jumlah dan komposisi ikan yang tertangkap. Secara total diperoleh 124 ekor ikan dengan berat kumulatif 122,4 kg yang terdiri atas 20 spesies. Bubu dengan bukaan Ø50 cm memberikan hasil paling tinggi, ditandai dengan dominasi tangkapan Kakap Timor (Lutjanus timorensis) sebesar 19 kg. Analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menguatkan temuan bahwa ukuran bukaan bubu berpengaruh nyata terhadap produktivitas hasil tangkapanKata
Optimalisasi Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Kegiatan Pengolahan Ikan Pindang di Bali Budiadnyani, I Gusti Ayu; Nugraha, I Made Aditya; Samanta, Pinky Natalia; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Astiana, Ika
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.538

Abstract

Industri pengolahan hasil perikanan memiliki peranan penting dalam mendukung perekonomian daerah dan ekspor, khususnya di Bali yang kaya akan sumber daya laut. Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan serius terkait penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Lingkungan kerja yang basah, penggunaan alat tajam, bahan kimia, serta suhu rendah menjadikan pekerja berisiko tinggi mengalami kecelakaan dan gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan K3 pada industri pengolahan hasil perikanan di Bali serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitasnya. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pekerja dan supervisor, serta penyebaran kuesioner kepada responden yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, penggunaan alat pelindung diri (APD), perilaku kerja, pengawasan, dan pelatihan memiliki pengaruh signifikan terhadap penerapan K3. Industri pengolahan modern cenderung memiliki tingkat kepatuhan dan kesadaran K3 yang lebih tinggi dibandingkan dengan industri tradisional, yang masih terbatas dalam fasilitas keselamatan dan pelatihan tenaga kerja. Faktor utama yang menghambat penerapan K3 meliputi rendahnya kesadaran pekerja, kurangnya pelatihan rutin, pengawasan yang belum optimal, dan kondisi lingkungan kerja yang berisiko. Oleh karena itu, peningkatan efektivitas penerapan K3 dapat dilakukan melalui edukasi berkelanjutan, pelatihan teknis, penyediaan APD yang memadai, serta penguatan sistem pengawasan di lapangan. Dengan penerapan strategi tersebut, diharapkan tercipta lingkungan kerja yang lebih aman, produktivitas pekerja meningkat, kualitas produk terjaga, dan keberlanjutan industri pengolahan hasil perikanan di Bali dapat dipertahankan.
Analisis Hasil Tangkapan Nelayan Yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar Nazhoom, Nabiel; Bilkhis Wijaya, Aphrodita Shelbyla
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.524

Abstract

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar di Banyuwangi memainkan peran penting dalam sektor perikanan tangkap dan ekonomi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di PPP Muncar selama periode Juli-Agustus 2024. Penelitian berfokus pada jenis ikan, jumlah hasil tangkapan, serta alat tangkap yang digunakan nelayan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei lapang. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara nelayan, serta diperoleh dari laporan resmi instansi terkait. Analisis data meliputi identifikasi jenis ikan, penghitungan berat total hasil tangkapan, dan analisis alat tangkap yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ikan lemuru mendominasi hasil tangkapan dengan total 208.200 kg atau sekitar 88% dari total tangkapan. Selain itu, alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pengangkut bagan, yang terbukti efektif untuk menangkap ikan pelagis kecil. Hasil ini mencerminkan kemampuan adaptasi nelayan terhadap kondisi lingkungan laut dan dinamika musiman, serta pentingnya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di perairan Muncar. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengelola pelabuhan dan pemerintah dalam merumuskan strategi pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 7