cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural e-glass fiber non dental reinforced composite Utami, Aisya Putri; Sari, Wwidya Puspita; Darmawangsa, Darmawangsa
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.57887

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Salah satu bahan yang digunakan pada perawatan gigi tiruan cekat dalam praktik klinis adalah porcelain fused to metal (PFM) namun memiliki keterbatasan seperti estetikanya yang kurang, bahan metal yang menyebabkan hipersensitifitas pada pasien tertentu serta preparasi abutment yang cukup luas. Alternatif bahan yang dapat digunakan untuk gigi tiruan cekat adalah fiber reinforced composite (FRC) dengan E-glass fiber dental yang memiliki kelebihan seperti bikompatibilitas, estetik yang baik, serta mudah beradaptasi di lingkungan mulut. Kekuatan fleksural merupakan salah satu sifat mekanis dalam material kedokteran gigi agar tahan terhadap tekanan oklusal. Pengujian kekuatan fleksural ini sebagai gambaran komposit menerima beban pada saat aktivitas pengunyahan. Ketersediaan E-glass fiber dental di Indonesia masih terbatas dengan harga yang cukup mahal. E-glass fiber non dental secara umum telah digunakan dibidang teknik yang memiliki komposisi hampir sama dengan E-glass fiber dental. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural E-glass fiber non dental reinforced composite. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Analisis data menggunakan uji One Way Anova. Hasil uji pada FRC dengan fiber yang di beri 2 kali silane memiliki kekuatan fleksural tertinggi dengan nilai 215,63 MPa. Hasil: Fiber tanpa silane memiliki nilai terendah dengan nilai 168,12 MPa. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat pengaruh penambahan silane coupling agent terhadap kekuatan fleksural E-glass fiber non dental Reinfoced composite dan diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti E-glass fiber dental dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau.Kata Kunci: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Kekuatan Fleksural The Effect of Addition of Silane Coupling Agent on the Flexural Strength of E-Glass Fiber Non Dental Reinforced CompositeABSTRACTIntroduction: One of the materials used in fixed denture treatment in clinical practice is porcelain fused to metal (PFM) but it has limitations such as poor aesthetics, metal materials that cause hypersensitivity in certain patients and fairly extensive abutment preparation. Alternative materials that can be used for fixed dentures are fiber reinforced composite (FRC) with E-glass fiber dental which has advantages such as bicom patibility, good aesthetics, and easy to adapt to the oral environment. Flexural strength is one of the mechanical properties in dental materials to withstand occlusal pressure. This flexural strength test is a description of the composite receiving loads during chewing activities. The availability of E-glass fiber dental in Indonesia is still limited with a fairly expensive price. Non-dental E-glass fiber has generally been used in the engineering field which has a composition almost the same as E-glass fiber dental. The purpose of this study was to determine the effect of adding silane coupling agent on the flexural strength of E-glass fiber non-dental reinforced composite. Methods: The research method used was an experimental method. Data analysis used the One Way Anova test. The test results on FRC with fiber given 2 times silane have the highest flexural strength with a value of 215.63 MPa. Results: Fiber without silane has the lowest value with a value of 168.12 MPa. Conclusion: The conclusion of this study is that there is an effect of adding silane coupling agent on the flexural strength of E-glass fiber non-dental Reinforced composite and is expected to be an alternative to replace E-glass fiber dental with good quality and affordable price.Keywords: E-glass fiber, Fiber reinforced composite, Silane coupling agent, Flexural Strength
Pengaruh perendaman larutan ekstrak pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) sebagai pembersih pada bahan basis gigi tiruan nilon termoplastik terhadap stabilitas warna: studi experimental Rahim Nasution, Filza Annisa; Tarigan, Slamat; Wahyuni, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.58242

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pemakaian gigi tiruan setiap hari membutuhkan pembersihan dengan menggunakan beberapa metode. Metode pembersihan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kimiawi dengan cara perendaman dalam bahan pembersih gigi tiruan larutan ekstrak pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perendaman basis gigi tiruan nilon termoplastik dalam larutan ekstrak pandan wangi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% terhadap stabilitas warna selama 61 jam. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian laboratorium dengan ukuran nilon 20x3 mm berdasarkan ISO 1567. Total sampel sebanyak 24 sampel dibagi 4 kelompok, yaitu kelompok A direndam dalam akuades, dan kelompok B,C,D larutan ekstrak pandan wangi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% direndam selama 61 jam. Rumus besar sampel menggunakan rumus Federer, kemudian uji stabilitas warna menggunakan alat colorimeter CS-10, lalu lihat hasil jika ΔE<3,5 dianggap masih dapat diterima secara klinis, jika ΔE>3,5 menunjukkan perubahan warna dapat terlihat secara kasat mata dan tidak dapat diterima secara klinis. Hasil: Hasil rerata uji stabilitas warna didapati hanya konsentrasi 25% yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan dengan nilai 3,04±0,51 yang menyatakan kelompok 25% mencapai nilai ΔE<3,5. Berdasarkan hasil uji one-way ANOVA didapatkan nilai p=0,0001 sehingga dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara perendaman nilon pada kelompok konsentrasi dengan stabilitas warna. Simpulan: Penggunaan larutan ekstrak pandan wangi sebagai pembersih gigi tiruan dapat memengaruhi stabilitas warna, namun hanya konsentrasi 25% yang masih dapat digunakan sebagai bahan pembersih, karena masih berada dalam rentang nilai yang dapat diterima secara klinis.KATA KUNCI: Larutan ekstrak pandan wangi, nilon termoplastik, stabilitas warna.Immersion effect of thermoplastic nylon denture base material in pandan wangi extract solution (Pandanus amaryllifolius Roxb.) as a cleaner on color stability: experimental study ABSTRACT Introduction: Wearing dentures every day must be cleaned using several methods. The methods such as mechanical, chemical and combination. The cleaning method used in this research was a chemical method by immersing the nylon material in the denture cleaning material with pandan wangi extract solution (Pandanus amaryllifolius Roxb.). The aim of this study was to analyze the effect of immersion thermoplastic nylon in pandan wangi extract solution as a cleaner on color stability with concentrations of 25%, 50% and 75% for 61 hours. Methods: This study is a laboratory experimental with a size of 20x3 mm based on ISO 1567 as many as 24 samples divided into 4 groups, nylon group A was immersed in aquadest, and group B,C,D was immersed in pandan wangi extract solution with a concentration of 25%, 50% and 75% for 61 hours. The sample size formula used is the Federer formula, then measure color stability with colorimeter CS-10, then look at the results if ΔE<3,5 is considered clinically acceptable, if the ΔE>3.5 indicates color change or significant color change. visible to the naked eye and not clinically acceptable. Results: The mean results of the color stability test showed that only 25% concentration could be used as an alternative denture cleaning agent with a value of 3,04±0,51, which states that the 25% group achieved a ΔE<3,5. The results of a one-way ANOVA test, the value of p=0,0001 was stated that there was a significant effect between nylon immersion in the concentration group on color stability. Conclusion: The use of pandan wangi extract solution as a denture cleaning agent can affect the color stability of the nylon material, however, only a solution with a concentration of 25% can be used as an alternative denture cleaning agent, because it is still within the clinically acceptable value range. KEY WORDS: Pandan wangi extract solution, thermoplastic nylon, color stability
Pengaruh perendaman soft denture liner autopolimerisasi berbahan silikon dalam larutan natrium hipoklorit terhadap penyerapan air dan stabilitas warna : studi eksperimental Auliana, Amirah Najla; Dahar, Eddy; Wahyuni, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.58243

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Penggunaan soft denture liner (SDL) jangka panjang dapat menciptakan lingkungan anaerobik di rongga mulut, yang mendukung pertumbuhan Candida albicans dan meningkatkan risiko denture stomatitis. Natrium hipoklorit 0,5% efektif menghambat pertumbuhan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dan perbedaan pengaruh lama perendaman SDL berbahan dasar silikon dalam natrium hipoklorit terhadap penyerapan air dan stabilitas warna selama 2,5 dan 5 hari. Metode: Rancangan penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan 24 sampel SDL (15×2 mm) dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A dan C direndam dalam natrium hipoklorit 0,5%, sedangkan B dan D dalam akuades selama 2,5 dan 5 hari. Penyerapan air diukur dengan timbangan analitik, dan stabilitas warna diuji dengan colorimeter CS-10. Analisis data menggunakan uji T independen. Hasil: Berdasarkan uji T Independen  terdapat pengaruh  signifikan pada perendaman SDL dalam natrium hipoklorit 0,5% selama 2,5 dan 5 hari terhadap penyerapan air dengan nilai p=0,005 dan p=0,0001. Terdapat pengaruh signifikan pada perendaman SDL dalam natrium hipoklorit 0,5%  selama 2,5 dan 5 hari terhadap stabilitas warna dengan nilai signifikansi keduanya p=0,0001. Terdapat perbedaan pengaruh lama perendaman antara kelompok perendaman SDL dalam natrium hipoklorit 0,5% selama 2,5 hari dengan 5 hari terhadap penyerapan air dengan nilai signifikansi p=0,0001 dan terdapat perbedaan pengaruh lama perendaman antara kelompok perendaman SDL selama 2,5 hari dengan 5 hari terhadap stabilitas warna dengan nilai signifikansi p=0,0001. Simpulan: Penggunaan natrium hipoklorit sebagai bahan pembersih SDL dapat memengaruhi penyerapan air dan stabilitas warna, konsentrasi 0,5% dapat digunakan sebagai bahan pembersih karena masih berada dalam rentang nilai yang dapat diterima secara klinisKATA KUNCI: Soft denture liner, natrium hipoklorit 0,5% , penyerapan air, stabilitas warnaImmersion Effect of Autopolymerization Silicon Soft Denture Liner in Sodium Hypochlorite Solution on Water Absorption and Color StabilityABSTRACTIntroduction: The long-term use of soft denture liner (SDL) can create an anaerobic environment in the oral cavity, which supports the growth of Candida albicans and increases the risk of denture stomatitis. Sodium hypochlorite (0.5%) is effective in inhibiting this growth. This study aims to investigate the effects of immersion and the differing durations of immersion of silicone-based SDL in sodium hypochlorite on water absorption and color stability over 2.5 and 5 days. Methods: This study is a laboratory experimental design involving 24 SDL samples (15×2 mm) divided into four groups. Groups A and C were immersed in 0.5% sodium hypochlorite, while groups B and D were immersed in distilled water for 2.5 and 5 days. Water absorption was measured using an analytical balance, and color stability was assessed with a CS-10 colorimeter. Data analysis used an independent T-test. Results: The independent T-test indicated significant effects of immersing SDL in 0.5% sodium hypochlorite for both 2.5 days and 5 days on water absorption, with p-values of 0.005 and 0.0001. There was also a significant effect on color stability for both durations, with a significance value of p=0.0001. There were significant differences in the effects of immersion duration between the 2.5-day and 5-day groups regarding both water absorption and color stability, with significance values of p=0.0001. Conclusion: The use of sodium hypochlorite as a SDL cleaner can affect water absorption and color stability; a 0.5% concentration can be used as a cleaning agent because it remains within a clinically acceptable range.KEY WORDS: Soft denture liner, 0.5% sodium hypochlorite, water absorption, color stability
Perilaku tindakan pemeliharaan dan tingkat kebersihan gigi tiruan lengkap basis akrilik pada masyarakat desa: studi observasional Haeruddin, Muhammad Rifaldi; Jubhari, Eri Hendra; Mulyanti, Mulyanti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.57802

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pemeliharaan gigi tiruan merupakan aspek penting yang berbeda-beda di setiap masyarakat. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi edentulous di Indonesia menunjukkan angka 0,9% di daerah perkotaan dan 1,7% di pedesaan. Tingginya angka edentulus di Desa Polejiwa, Kecamatan Malangke Barat, Luwu Utara, mengindikasikan banyak pengguna gigi tiruan lengkap, yang sering kali tidak mendapatkan instruksi pemeliharaan dari dokter gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku pemeliharaan dan tingkat kebersihan gigi tiruan akrilik di masyarakat Desa. Metode: Metode yang digunakan adalah studi observasional analitik dengan desain cross sectional, melibatkan purposive sampling untuk memilih pengguna gigi tiruan yang dibuat oleh dokter gigi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan kebersihan menggunakan indeks Hoad-Reddick, yang kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara perilaku pemeliharaan dan tingkat kebersihan. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa 10% gigi tiruan maksila berada dalam kategori bersih, sementara 46,7% kotor dan 43,3% sangat kotor. Gigi tiruan mandibula, 13,3% bersih, 40% kotor, dan 46,7% sangat kotor. Analisis Chi-Square menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (nilai p <0.05) antara perilaku pemeliharaan berupa frekuensi pembersihan gigi tiruan dan tingkat kebersihan gigi tiruan, dengan nilai p= 0,001 untuk rahang atas dan nilai p = 0,000 untuk rahang bawah. Simpulan: Tingkat kebersihan gigi tiruan berbasis akrilik pada masyarakat Desa Polejiwa masih tergolong buruk. Ditemukan pengaruh frekuensi pembersihan gigi tiruan terhadap tingkat kebersihan gigi tiruan rahang atas maupun rahang bawah pada masyarakat Desa Polejiwa.KATA KUNCI: Gigi tiruan lengkap, akrilik, perilaku pemeliharaan kebersihan, tingkat kebersihan gigi tiruanBehavior in maintenance actions and the cleanliness level of full acrylic denture bases among the community village: study observationalABSTRAKIntroduction: The maintenance of dentures is an important aspect that varies within communities. According to the 2018 Riskesdas, the prevalence of edentulism in Indonesia shows a rate of 0.9% in urban areas and 1.7% in rural areas. The high rate of edentulism in Polejiwa Village, Malangke Barat District, Luwu Utara, indicates a significant number of complete denture users who often do not receive maintenance instructions from their dentists. This study aims to analyze the maintenance behaviors and cleanliness levels of acrylic dentures among the residents of Village. Methods: TAn analytical observational method with a cross-sectional design was used, involving purposive sampling to select denture users who had their dentures made by a dentist. Data were collected through a questionnaire and cleanliness examinations using the Hoad-Reddick index, which were then analyzed using the Chi-Square test to assess the relationship between maintenance behaviors and cleanliness levels. Results: The study results indicate that 10% of maxillary dentures were classified as clean, while 46.7% were dirty and 43.3% were very dirty. For mandibular dentures, 13.3% were clean, 40% were dirty, and 46.7% were very dirty. The Chi-Square test indicates a significant effect (p-value < 0.05) between maintenance behavior, specifically the frequency of cleaning dentures, and the level of denture cleanliness, with a p-value of 0.001 for the upper jaw and a p-value of 0.000 for the lower jaw. Conclusion:  The cleanliness level of acrylic-based dentures in the community of Polejiwa Village is still classified as poor. A significant association was found between the frequency of denture cleaning and the cleanliness levels of both upper and lower jaw dentures in the community of Polejiwa Village.KEYWORDS: Complete dentures, acrylic, hygiene maintenance behavior, denture cleanliness level
Klasifikasi gigi impaksi molar ketiga mandibula pada masa pandemi COVID-19 pasien di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie: Studi Cross-sectional Putri, Icha Try; Pramasari, Cristiani Nadya; Samad, Syahril
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.57806

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Gigi bungsu tumbuh miring atau disebut juga dengan gigi impaksi merupakan gigi yang belum erupsi seluruhnya atau erupsi sebagian, dikarenakan terhalang oleh gigi sekitar, tulang dan jaringan lunak sekitarnya sehingga erupsi tidak dapat digambarkan menurut posisi anatomisnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran klasifikasi gigi impaksi molar ketiga mandibula pasien pada masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif menggunakan subjek rekam medis dan foto rontgen panoramik di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda januari-juni 2021. Pengambilan data berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Data dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin dan klasifikasi Winter dan Pell and Gregory dijabarkan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil: Saat masa pandemi COVID-19 pasien terbanyak dengan kategori jenis kelamin adalah perempuan, dengan kategori usia adalah usia 25-34 tahun, dan berdasarkan distribusi elemen gigi impaksi molar ketiga adalah klas IIA Vertikal. Simpulan: Klinisi dapat mempersiapkan perlengkapan alat dan bahan serta alat perlindungan diri untuk persiapan melakukan odontektomi pada masa pandemi COVID-19. KATA KUNCI: Gigi Impaksi, molar ketiga, mandibula, COVID-19, RadiograpImpacted mandibular third molar classification during COVID-19 pandemic in rsud abdoel wahab sjahranie Samarinda: Cross-sectional StudyABSTRACTIntroduction: Wisdom teeth growing obliquely or also known as impaction teeth are teeth that have not erupted completely or partially erupted, due to obstruction by surrounding teeth, bone and soft tissue so that eruption cannot be described according to their anatomical position. The purpose of this study was to determine the classification of mandibular third molar impaction teeth during the COVID-19 pandemic. Methods: This study is a quantitative study with a descriptive method using the subject of medical records and panoramic x-rays at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital January-June 2021. Data collection is based on predetermined inclusion criteria. Data were categorized based on age, gender and Winter and Pell and Gregory classifications described in the form of tables and narratives. Results: During the COVID-19 pandemic, the most patients with the gender category were female, with the age category being 25-34 years old, and based on the distribution of third molar impaction tooth elements were class IIA Vertical. Conclusion: Clinicians can prepare equipment and materials as well as personal protective equipment in preparation for performing odontectomy during the COVID-19 pandemic.KEY WORDS: Impacted teeth, third molar, mandibular, covid-19, radiograph 
Pengaruh minuman kopi dan teh terhadap perubahan warna gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas: studi eksperimental Effendi, Bella Astria; Tarigan, Slamat; Wahyuni, Siti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.58292

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas memiliki fungsi estetis yang sangat diperhatikan terutama pada bagian anterior, namun salah satu kekurangan gigi artifisial tersebut adalah perubahan warna yang dapat terjadi seiring berjalannya waktu. Mengonsumsi kopi dan teh telah menjadi kebiasaan bagi penduduk Indonesia, kopi dan teh banyak digemari karena dapat dinikmati kapan saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas dalam minuman kopi konsentrasi 0,7%, 1,4%, dan teh konsentrasi 0,9% selama 7 hari terhadap perubahan warna. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan 32 sampel gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas insisivus sentralis yang ditanam pada lempengan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan ukuran 20 mm x 20 mm x 6 mm dengan permukaan labial menghadap ke atas dan terbagi menjadi 4 kelompok (perendaman dalam A akuades, B minuman kopi konsentrasi 0,7%, C minuman kopi konsentrasi 1,4%, dan D minuman teh konsentrasi 0,9% selama 7 hari). Data dianalisis dengan uji ANOVA satu arah dan dilanjutkan uji LSD. Hasil: Terdapat perbedaan pengaruh antara kelompok C dengan kelompok D terhadap perubahan warna gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas (p<0,05) dan tidak terdapat perbedaan pengaruh antara kelompok B dengan kelompok C (p>0,05) serta antara kelompok B dengan kelompok D terhadap perubahan warna gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas (p>0,05). Simpulan: Minuman kopi dan teh dapat menyebabkan perubahan warna gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas dengan minuman kopi merupakan minuman yang memiliki pengaruh paling besar, namun nilai perubahan warna yang dihasilkan masih berada dalam rentang nilai perubahan warna yang masih dapat diterima secara klinis KATA KUNCI: Gigi artifisial resin akrilik polimerisasi panas, minuman kopi dan teh, perubahan warna.Effect of heat-polymerized acrylic artificial teeth immersion in coffee and tea drinks on color change: experimental studyABSTRACT Introduction: Heat-polymerized acrylic resin artificial teeth have a very important aesthetic function, especially in the anterior teeth, but one of the disadvantaged is color changes that occur gradually over time. Consuming coffee and tea drinks has became a habit for Indonesians, because they can be enjoyed at any time. This study aims to determine the effect of immersion heat-polymerized acrylic resin artificial teeth in 0,7%, 1,4% coffee drinks, and 0,9% tea drinks for 7 days on color changes. Methods: This research is an experimental laboratory. The sample consisted of 32 central incisor heat-polymerized acrylic resin artificial teeth placed in a 20 mm x 20 mm x 6 mm cylinder heat-polymerized acrylic resin denture base with the labial surface facing up and divided into 4 groups (immersion in A distilled water, B 0,7% coffee drinks, C 1,4% coffee drinks, and D 0,9% tea drinks for 7 days). Data were analyzed by one-way ANOVA and continued with the LSD test. Results: There is a significant difference between heat-polymerized acrylic resin artificial teeth immersion in group C and group D on the color change (p<0.05) and there is no significant difference between heat-polymerized acrylic resin artificial teeth immersion in group B and group C (p>0.05) and also between group B and group D on the color change (p>0.05). Conclusion: Coffee and tea drinks can cause color change in heat-polymerized acrylic artificial teeth, which coffee drinks have the greatest effect in color change, however the range of color change value is still acceptable clinically.KEY WORDS: Heat-polymerized crylic artificial teeth, coffee and tea drinks, color change.
Teknik sinus lifting pada pasien dengan septa sinus maksilaris: systematic review Nurunnisa, Hanifa Rayna; Hardianto, Andri; Riawan, Lucky
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.55192

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Prosedur sinus lifting merupakan prosedur standar yang dilakukan di regio posterior maksila atrofi sebelum penempatan implan gigi, dengan perforasi membran sinus sebagai salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat keberadaan septa sinus maksilaris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui teknik dan modifikasi terbaru dari sinus lifting yang tersedia untuk pasien dengan septa sinus maksilaris. Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang mengacu pada kerangka Patient or Problem, Intervention, Control or Comparison, and Outcome (PICO) dan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Pencarian artikel dilakukan pada tiga database dan satu academic search engine, yaitu PubMed, Science Direct, CrossRef, dan Google Scholar, menggunakan kata kunci dan kriteria inklusi. Hasil: Sebanyak dua belas artikel memenuhi kriteria untuk dilakukan review yang menggambarkan beberapa teknik sinus lifting dan modifikasinya yang dapat digunakan dalam menangani pasien dengan septa sinus maksilaris. Pendekatan lateral window adalah teknik dasar yang umum digunakan. Namun, teknik alternatif mencakup pendekatan lateral window menggunakan panduan bedah, pendekatan lateral window dengan teknik floating septum, pendekatan single window palatal, dan pendekatan transcrestal yang dibantu oleh perangkat hidrolik merupakan alternatif lain yang dapat digunakan dalam prosedur sinus lifting pada pasien septa sinus maksilaris. Simpulan: Pendekatan lateral window untuk sinus lifting adalah teknik yang direkomendasikan dan paling umum digunakan untuk pendekatan bedah pada pasien yang memiliki septa sinus maksilaris, dengan hasil yang dapat diprediksi. KATA KUNCI: teknik sinus lifting, modifikasi sinus lifting, septa sinus maksilaris, implan dentalSinus lifting technique on patient with maxillary sinus septa: systematic reviewABSTRACT Introduction: The sinus lifting procedure is a standard procedure performed in the atrophic posterior maxillary region prior to dental implants placement, with sinus membrane perforation as one of the complications that can occur due to the presence of maxillary sinus septa. The aim of this study is to explore the latest techniques and modifications of sinus lifting available for patients with maxillary sinus septa. Methods: This study is a systematic review based on the Patient or Problem, Intervention, Control or Comparison, and Outcome (PICO) framework and follows the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Article searches were conducted in three databases and one academic search engine: PubMed, Science Direct, CrossRef, and Google Scholar using specific keywords and inclusion criteria. Results: A total of 12 articles met the criteria for a review, describing several sinus lifting techniques and their modifications for patients with maxillary sinus septa. The lateral window approach is the basic technique commonly used. However, alternative techniques include the lateral window approach using a surgical guide, the lateral window approach with the floating septum technique, the single window palatal approach, and the transcrestal approach assisted by hydraulic devices. Conclusion: The lateral window approach for sinus lifting is the recommended and most commonly used technique for surgical intervention in patients with maxillary sinus septa, yielding predictable outcomes. KEY WORDS: Sinus lifting technique, sinus lifting modification, maxillary sinus septa, Implant dental 
The effect of Averrhoa bilimbi L. gel as a natural teeth whitening ingredient on the hardness of tooth email: study experimental Rahaju, Asih; Endrowahyudi, Hartanto; Fadhil, Andi Muhammad; Yuslianti, Euis Reni
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.59464

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Averrhoa bilimbi L, known for its oxalic acid and peroxide content, may serve as a natural alternative to synthetic whitening agents Synthetic teeth-whitening agents, such as carbamide peroxide, are effective but often cause adverse effects like enamel demineralization and sensitivity. This study aimed to evaluate the effect of 50% Averrhoa bilimbi L gel on enamel hardness and compare it with a synthetic whitening agent and a negative control.  Methods:  This experimental laboratory study utilized 36 teeth from 18 New Zealand rabbits (Oryctolagus cuniculus), Averrhoa bilimbi L extract was obtained via maceration with 96% ethanol and formulated into a gel. Eighteen New Zealand rabbits (36 teeth) were divided into three groups: negative control, carbamide peroxide (10%), and 50% Averrhoa bilimbi gel. Each group underwent a 4-hour daily treatment for 14 days, following which enamel hardness was evaluated using the Vickers hardness test. Data were analyzed using ANOVA (p<0.05). Results: There were no significant differences in enamel hardness among the three groups (p=0.4240), indicating that Averrhoa bilimbi L gel had comparable effects on enamel hardness to carbamide peroxide and the negative control. Conclusions: 50% Averrhoa bilimbi L gel is a safe natural alternative for teeth whitening, as it does not significantly impact enamel hardness. Further research is recommended to explore its effects on soft tissues and overall dental safety.KEY WORDS: Averrhoa bilimbi L, hardness, whiteningPengaruh gel Averrhoa bilimbi L. sebagai bahan pemutih gigi alami terhadap kekerasan email gigi: studi eksperimentalABSTRAKPendahuluan: Averrhoa bilimbi L, yang dikenal karena kandungan asam oksalat dan peroksidanya, dapat menjadi alternatif alami pengganti bahan pemutih gigi sintetis. Bahan pemutih gigi sintetis, seperti karbamid peroksida, efektif tetapi sering menimbulkan efek samping seperti demineralisasi email gigi dan sensitivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek gel Averrhoa bilimbi L 50% terhadap kekerasan email gigi dan membandingkannya dengan bahan pemutih sintetis serta kontrol negatif. Metode: Studi laboratorium eksperimental ini menggunakan 36 gigi dari 18 kelinci New Zealand (Oryctolagus cuniculus), ekstrak Averrhoa bilimbi L diperoleh melalui maserasi dengan etanol 96% dan diformulasikan menjadi gel. Delapan belas kelinci New Zealand (36 gigi) dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol negatif, carbamide peroksida (10%), dan gel Averrhoa bilimbi 50%. Setiap kelompok menjalani perlakuan harian selama 4 jam selama 14 hari, setelah itu kekerasan email dievaluasi menggunakan uji kekerasan Vickers. Data dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05). Hasil: tidak ada perbedaan signifikan dalam kekerasan enamel gigi di antara ketiga kelompok (p = 0,4240), yang menunjukkan bahwa gel Averrhoa bilimbi memiliki efek yang sebanding dengan karbamid peroksida dan kontrol negatif. Simpulan: Gel Averrhoa bilimbi dengan konsentrasi 50% merupakan alternatif alami yang aman untuk pemutih gigi, karena tidak memengaruhi kekerasan enamel secara signifikan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi efeknya pada jaringan lunak dan keseluruhan keamanan gigi.KATA KUNCI: averrhoa bilimbi, kekerasan, pemutih
Pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack) terhadap kekasaran permukaan dan kekuatan impak Belinda, Evelyn; Tamin, Haslinda Z
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.59040

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Dalam pemakaian gigi tiruan, disinfeksi perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan gigi tiruan. Sekarang ini telah banyak dikembangkan bahan alami sebagai pembersih gigi tiruan, di antaranya yaitu ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack). Daun sungkai memiliki kandungan senyawa tanin dan flavonoid yang mampu bekerja sebagai antijamur, namun tanin dan flavonoid juga termasuk turunan senyawa fenol yang dapat memengaruhi kekasaran permukaan dan kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas (RAPP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan efek perendaman basis gigi tiruan RAPP dalam ekstrak daun sungkai 30%, 40%, dan 50% terhadap kekasaran permukaan dan kekuatan impak. Metode: Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel pada penelitian ini berjumlah 32 sampel (65 x 10 x 2,5 mm), yang dibagi menjadi 4 kelompok terdiri dari kelompok yang direndam dengan ekstrak daun sungkai 30%, 40%, 50%, dan kelompok kontrol (aquadest) yang direndam selama 2 hari 12 jam 50 menit (simulasi perendaman 10 menit/hari dalam 1 tahun). Sampel diuji menggunakan surface roughness tester untuk kekasaran permukaan dan charpy impact tester untuk kekuatan impak. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji univarian, One-way ANOVA, dan LSD (Least Significant Difference). Hasil: Hasil uji One-way ANOVA diperoleh nilai signifikansi p=0,0001 (p<0,05) yang menunjukkan terdapat pengaruh perendaman basis gigi tiruan RAPP dalam ekstrak daun sungkai 30%, 40%, dan 50% terhadap kekasaran permukaan dan kekuatan impak. Simpulan: Terdapat perbedaan efek perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack) berupa peningkatan kekasaran permukaan dan penurunan kekuatan impak yang dihasilkan pada konsentrasi 30% lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi 40% dan 50%, sehingga ekstrak daun sungkai dengan konsentrasi 30% dapat dijadikan sebagai alternatif bahan pembersih gigi tiruan yang alami.KATA KUNCI: Bahan pembersih gigi tiruan, ekstrak daun sungkai, resin akrilik polimerisasi panas, kekasaran permukaan, kekuatan impakThe effect of immersion heat-polymerized PMMA denture base resin in sungkai leaf extract (Peronema canescens Jack) on surface roughness and impact strength: experimental studyABSTRACTIntroduction: Denture disinfection is essential for maintaining hygiene when using dentures. In recent years, various natural denture cleansers have been developed, including sungkai leaf extract (Peronema canescens Jack). Sungkai leaves contain tannins and flavonoids with antifungal properties; however, they also contain phenolic derivatives that can influence the surface roughness and impact strength of polymethyl methacrylate (PMMA). This study aims to analyze the effects of immersing PMMA denture bases in 30%, 40%, and 50% sungkai leaf extract on surface roughness and impact strength. Methods: The design of this research is laboratory experimental. Surface roughness measurements and impact tests were conducted on 32 samples (65 x 10 x 2.5 mm). The samples were divided into four groups with sungkai leaf extract concentrations of 30%, 40%, 50%, and aquadest as a control group. The samples were immersed for 2 days 12 hours and 50 minutes to simulate the daily soaking duration of 10 minutes/day over 1 year. The samples were measured using surface roughness tester for surface roughness measurements and Charpy impact tester for impact tests. The data were analyzed using univariate tests, One-way ANOVA, and LSD (Least Significant Difference). Results: One-way ANOVA test results showed a significance value of p=0.0001 (p<0.05), indicating that immersion of PMMA denture base in sungkai leaf extract 30%, 40%, and 50% significantly affected surface roughness and impact strength. Conclusion: The immersion of heat-polymerized PMMA denture base resin in sungkai leaf extract (Peronema canescens Jack) resulted in increased surface roughness and decreased impact strength. However, the changes produced at 30% concentration were lower compared to concentrations of 40% and 50%. Therefore, sungkai leaf extract at 30% concentration may serve as a viable natural alternative to dental cleaning agents.KEY WORDS: denture cleansers, sungkai leaf extract, polymethyl methacrylate, surface roughness, impact strength
Perbedaan pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) dan klorheksidin terhadap jumlah Candida albicans: studi eksperimental Nasution, Assajdah; Wahyuni, Siti; Tarigan, Slamat
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 9, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v9i1.61155

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan:  Bahan gigi tiruan yang sering digunakan sebagai basis adalah resin akrilik polimethyl methacrylate (PMMA) jenis heat cured (resin akrilik polimerisasi panas). Bahan tersebut memiliki mikroporositas yang menyebabkan mudah terjadi akumulasi sisa makanan. Minyak atsiri pada daun kemangi mampu menghambat beberapa bakteri dan jamur seperti Candida albicans. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan pengaruh perendaman basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum) 15%, 20%, 25% dan klorheksidin terhadap jumlah Candida albicans. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian laboratorium dengan sampel basis gigi tiruan RAPP yang direndam dalam ekstrak daun kemangi 15%, 20%, 25%, dan klorheksidin selama 15 menit dengan sampel berukuran 10x10x1 mm sebanyak 30 sampel. Setiap sampel diukur menggunakan spektrofotometer. Sampel dianalisis dengan uji Shapiro-Wilk, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa, ada pengaruh perendaman basis gigi tiruan RAPP dalam ekstrak daun kemangi 15%, 20%, 25%, dan klorheksidin setelah dibandingkan dengan akuabides (kontrol) terhadap jumlah Candida albicans dengan nilai p=0,019 (p<0,05). Simpulan: Perendaman basis gigi tiruan RAPP dalam ekstrak daun kemangi selama 15 menit memiliki perbedaan pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan dengan klorheksidin dalam menghambat pertumbuhan jumlah Candida albicans. KATA KUNCI: Gigi tiruan akrilik, klorheksidin, ekstrak daun kemangi, akrilik, candida albicans The difference in the effect of immersing heat-polymerized acrylic resin denture base in basil (Ocimum basilicum) leaf extract and chlorhexidine on the quantity of Candida albicans: study experimental    ABSTRACT Introduction: Denture material that is often used as a base is heat-cured polymethyl methacrylate (PMMA) acrylic resin (hot polymerized acrylic resin). This material has microporosity which causes easy accumulation of food residue. Essential oils in basil leaves can inhibit several bacteria and fungi such as Candida albicans. This study aims to analyze the difference in the effect of immersing heat-polymerized acrylic resin (HPAR) denture base in basil (Ocimum basilicum) leaf extract at concentrations of 15%, 20%, 25%, as well as chlorhexidine, on the quantity of Candida albicans. Methods: This type of research is a laboratory study with RAPP denture base samples soaked in basil leaf extract 15%, 20%, 25%, and chlorhexidine for 15 minutes with samples measuring 10x10x1 mm as many as 30 samples. Each sample was measured using a spectrophotometer. Samples were analyzed by hapiro-Wilk, Kruskal-Wallis, and Mann-Whitney tests. Results: The results of the Kruskal-Wallis test showed that there was an effect of soaking RAPP denture base in basil leaf extract of 15%, 20%, 25%, and chlorhexidine after being compared with aquabidest (control) on the number of Candida albicans with a value of p = 0.019 (p <0.05). Conclusion: Immersing HPAR denture base in basil (Ocimum basilicum) leaf extract for 15 minutes has a significantly greater effect in inhibiting the growth of Candida albicans compared to chlorhexidine. KEY WORDS: Acrylic denture, chlorhexidine, basil leaf extract, acrilyc, Candida albicans