cover
Contact Name
Nasrul Wathoni
Contact Email
majalah@farmasetika.com
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
majalah@farmasetika.com
Editorial Address
Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jl. Bandung-Sumedang KM.21, 45363 Sumedang
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Farmasetika
ISSN : -     EISSN : 26862506     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmasetika Edisi Khusus merupakan majalah online farmasi di Indonesia berbentuk artikel ilmiah populer, artikel review, laporan kasus, komentar, dan komunikasi penelitian singkat di bidang farmasi. Edisi khusus ini dibuat untuk kepentingan informasi, edukasi dan penelitian kefarmasian. Majalah Farmasetika Edisi Khusus terbit 5 kali dalam setahun.
Articles 368 Documents
Efektivitas Biaya Terapi Antipsikotik Tunggal dan Pola Pengobatan pada Pasien Skizofrenia Astyamalia, Suzan; kemila, mira
Majalah Farmasetika Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v10i6.66879

Abstract

Penyakit saraf seperti skizofrenia bersifat progresif, kronis, dan membutuhkan biaya terapi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau terapi antipsikotik yang paling tepat dari segi manfaat dan biaya (cost-effective) pada pasien skizofrenia rawat jalan di Rumah Sakit Soerojo Magelang. Penelitian dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien periode Januari–Maret 2024. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan metode Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER), sedangkan efektivitas terapi diukur berdasarkan penurunan skor Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS). Hasil menunjukkan bahwa pasien skizofrenia laki-laki (62%) lebih banyak dibanding perempuan (38%), dengan kelompok usia terbanyak 26–45 tahun (82%). Penggunaan antipsikotik tunggal terbanyak meliputi olanzapin (37,7%), klozapin (29,5%), risperidon (13,1%), dan haloperidol (8,2%). Berdasarkan hasil analisis, risperidone memiliki nilai ACER terendah sebesar Rp 3.874,59 dengan penurunan skor PANSS 24,2% dan menunjukkan terapi ini paling cost-effective dibandingkan haloperidol yang memiliki nilai ACER Rp 6.639,04 dan penurunan PANSS 14,6%. Risperidon sebagai antipsikotik atipikal dinilai lebih efektif dan efisien dalam menurunkan gejala skizofrenia serta lebih menguntungkan dari segi manfaat dan ekonomi pasien.
Formulasi dan Uji Aktifitas Anti Jerawat Masker Gel Peel Off Ekstrak Daun Teh (Camelia sinensis L.) Dengan Variasi Polivinil Alkohol (PVA) Mahyuni, Siti; Sulistiyono, Fitria Dewi; Almashuri, Almashuri; Fandi Dealfif, Dio
Majalah Farmasetika Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v10i6.66942

Abstract

Jerawat terjadi karena penyumbatan sebum pada folikel rambut disertai peradangan  akibat infeksi bakteri Propionibacterium acne pada lapisan pilosebaceous. Daun teh (Camelia sinensis L) diketahui mengandung senyawa katekin dan epigallokatekin yang memiliki sifat antibakteri. Ekstrak daun teh dapat dimanfaatkan sebagai sediaan anti jerawat dalam bentuk masker gel peel off. Masker gel harus memiliki formula optimal agar aplikasinya efektif. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi polivinil alkohol (PVA) terbaik untuk membuat formula masker gel peel off ekstrak daun teh dan menentukan aktivitas antibakteri Propionibacterium acne dari formula tersebut. Ekstraksi daun teh dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PVA terbaik dalam formulasi sediaan masker gel peel off ekstrak daun teh adalah 6.5%. Formulasi ini memiliki diameter zona hambat 17,41± 0.096 mm, terkategori sedang. Nilai ini mendekati nilai diameter zona hambat kontrol klindamisin 1% sebesar 17.63 ± 0.093 mm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan formula sediaan masker gel peel off ekstrak daun teh berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai sediaan kosmetik antijerawat.  
Inovasi Penggunaan Limbah Kulit Nanas (Ananas comosus L) untuk Bedak Tabur dan Bedak Padat yang Ramah Lingkungan Leny, Leny; Nasution, Meiliza Putri; Iskandar, Benni; Sari, Melia
Majalah Farmasetika Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v10i6.67309

Abstract

Nanas merupakan buah yang populer dikalangan masyarakat lokal maupun Internasional karena rasanya enak. Kulit nanas mengandung flavonoid, karotenoid, dan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan. Cahaya ultraviolet (UV) dapat meningkatkan pembentukan sejumlah senyawa reaktif atau radikal bebas pada kulit sehingga dibutuhkan senyawa dengan kemampuan antioksidan untuk mengurangi efek yang merugikan dari radikal bebas. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental, meliputi penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan bedak tabur dan bedak padat dan evaluasi stabilitas fisik sediaan. Analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menghitung persentase tingkat kesukaan sukarelawan dari data uji hedonik kemudian disajikan dalam bentuk tabulasi dan diagram batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan bedak tabur bertekstur halus, berwarna putih pucat hingga cream tua. Derajat kehalusan berkisar 6,6 , tidak terdapat butiran kasar, tidak menimbulkan iritasi. Hasil uji cycling test menunjukkan sediaan stabil. Pada uji hedonik, F1 merupakan sediaan bedak tabur yang paling disukai dengan persentase sebesar 86,67% karena memiliki tekstur ringan dan mudah diaplikasikan ke kulit. Pada sediaan bedak padat berbentuk compact, berwarna cream hingga coklat, tidak terdapat butiran kasar, tidak menimbulkan iritasi. Namun pada hasil uji cycling test, F0 tidak stabil karena mengalami keretakan. Pada uji hedonik diperoleh sediaan F2 yang paling disukai dengan persentase sebesar 88,33% memiliki warna yang mudah merata ketika diaplikasikan ke kulit. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol limbah kulit nanas dapat diformulasikan kedalam sediaan bedak tabur dan bedak padat dan mempunyai efek sebagai pemberi pigmen warna pada kulit dan mampu menjaga kulit dari paparan sinar UV. 
Kajian Risiko terkait Kontaminasi dan Ketercampuran di Ruang Penimbangan Industri Farmasi “XYZ” Insyirah, Ariani; Rusdiana, Taofik; Rambia, Ikhsan
Majalah Farmasetika Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v10i6.65646

Abstract

Industri farmasi memiliki peran dan tanggung jawab memastikan obat yang diproduksi aman, berkhasiat, dan bermutu sampai dikonsumsi oleh konsumen. Di Indonesia, terdapat PerBPOM Nomor 7 Tahun 2024 yang mengatur terkait seluruh proses dan ketentuan dalam pembuatan obat sehingga dapat memenuhi kriteria tersebut. Dalam proses pembuatan obat, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah terkait risiko kontaminasi dan ketercampuran saat penimbangan bahan baku. Potensi risiko tersebut dapat dikelola dengan cara melakukan kajian risiko. Salah satu metode pendekatan yang biasa digunakan adalah failure mode effect analysis (FMEA) yang berfokus pada tindakan pencegahan terjadinya kegagalan. Di industri farmasi “XYZ”, penilaian risiko biasa dilakukan dengan cara observasi secara langsung, melakukan wawancara dengan operator, dan berdiskusi dengan bagian tertentu terkait kemungkinan risiko yang dapat terjadi. Terdapat empat hal yang diidentifikasi, yaitu pakaian kerja, peralatan, kondisi ruangan, dan penandaan. Diperoleh total 11 risiko kegagalan dengan rincian lima berisiko rendah (terkait peralatan, kondisi ruangan, dan penandaan) dengan nilai RPN < 30, satu berisiko sedang (terkait penandaan) dengan nilai RPN 30 ≤ RPN ≤ 60, satu berisiko tinggi (terkait pakaian kerja) dengan nilai RPN 75 ≤ RPN ≤ 100, dan empat berisiko sangat tinggi (terkait pakaian kerja dan peralatan) dengan nilai RPN ≥ 150 sehingga menjadi prioritas utama yang perlu diselesaikan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko adalah memberikan pelatihan operator, merevisi SOP secara berkala, memastikan formulir pemantauan diisi oleh operator, serta memastikan peralatan dan pakaian kerja yang digunakan memiliki jumlah dan spesifikasi yang sesuai dengan ketentuan. Hal tersebut sudah mulai diterapkan dan memberikan hasil yang baik. Dengan mengendalikan potensi risiko kontaminasi dan ketercampuran, obat yang dihasilkan oleh industri farmasi diharapkan memenuhi tiga kriteria terkait keamanan, khasiat, dan kualitas.
Kajian Risiko Validasi Pembersihan Mesin yang Dilakukan Secara Manual Dengan Metode Failure Mode and Effects Analysis Aristokrat, Aria; Chaerunisaa, Anis Yohana
Majalah Farmasetika Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v10i6.67440

Abstract

 Kontaminasi silang pada sarana produksi adalah hal yang sangat dihindari sehingga perlu dilakukannya pembersihan yang sudah divalidasi karena residu yang tersisa dapat menjadi cemaran. Namun, terdapat risiko yang dapat terjadi selama dilakukannya validasi pembersihan. Oleh karena itu penting untuk mengkaji risiko tersebut. Penelitian ini akan mengkaji resiko yang dapat terjadi pada setiap tahapan validasi pembersihan dengan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Penelitian dilakukan dengan cara observasional dan wawancara langsung di salah satu industri farmasi di Kota Bandung. Tahapan kajian risiko dimulai dengan mengidentifikasi risiko, menganalisis risiko berdasarkan tingkat keparahan, memberikan skor sehingga didapatkan nilai RPN, serta mengevaluasi risiko. Dari hasil kajian risiko, didapatkan sebanyak 26 risiko dengan 16 risiko minor, 4 risiko moderat dan 6 risiko mayor. Risiko yang termasuk dalam kategori mayor dibuat tindakan pengendalian risiko untuk mengurangi risiko terjadinya kegagalan dalam validasi pembersihan. Industri farmasi dapat melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian dari hasil kajian risiko ini seperti pengecekan terhadap sarana penunjang kritis yang ada, penentuan marker, pelaksanaan proses validasi, serta mempertimbangkan untuk pembersihan secara otomatis. 
Revolusi Kosmetika Topikal Melalui Formulasi Nanogel dan Nanoemulgel: Review Artikel Iskandar, Benni; Hijriyah, Ananda Juhaifa; Usti, Angelika; Bulan, Bulan; Aulia, Natasya; Thahira, Siffa; Octavia, Rickha; Firmansyah, Ferdy; Sari, Seftika
Majalah Farmasetika Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i1.68173

Abstract

Nanoteknologi telah membawa revolusi dalam pengembangan sediaan kosmetika topikal dengan fokus pada peningkatan efektivitas, stabilitas, dan keamanan produk perawatan kulit, seperti krim pelembap, tabir surya, dan krim anti-aging. Artikel ini bertujuan untuk mengulas secara mendalam mengenai formulasi nanogel dan nanoemulgel dalam industri kosmetika, dengan fokus pada manfaat, tantangan, serta masalah keamanan dan toksisitas terkait penggunaannya. Sebagai sistem penghantaran inovatif, nanogel dan nanoemulgel terbukti dapat meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif, stabilitas kimia, serta efektivitas senyawa aktif dalam formulasi topikal. Kedua sistem ini juga memungkinkan pelepasan zat aktif secara terkontrol dan meningkatkan penetrasi kulit lebih baik dibandingkan dengan formulasi konvensional. Penggunaan nanoteknologi dalam kosmetika topikal juga berpotensi memberikan perlindungan lebih baik terhadap bahan aktif dari degradasi oksidatif dan fotokimia, yang seringkali mengurangi efektivitas produk perawatan kulit konvensional. Namun demikian, meskipun menawarkan banyak manfaat, masalah terkait keamanan dan toksisitas jangka panjang masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi dalam pengembangan produk kosmetika berbasis nanoteknologi. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai evaluasi keamanan serta dampak jangka panjang penggunaan nanoteknologi pada kulit sangat diperlukan untuk memastikan keselamatan penggunaannya. Secara keseluruhan, nanogel dan nanoemulgel memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk kosmetika topikal yang lebih efektif, aman, stabil, dan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan konsumen modern. Diharapkan, pengembangan lebih lanjut dalam aspek formulasi dan evaluasi produk ini akan mendukung terciptanya solusi perawatan kulit yang lebih unggul dan ramah lingkungan. 
Evaluasi Emisi Karbon Dioksida (CO₂) Proses Granulasi pada Produksi Tablet Y di Pabrik X Nurdin, Halwa Aulia; Saptarini, Nyi Mekar; Bactiar, Bagus Muhti
Majalah Farmasetika Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i1.68236

Abstract

Emisi karbon dioksida (CO₂) merupakan indikator penting dalam menilai dampak aktivitas energi dan industri terhadap lingkungan. Pada tahun 2024, total emisi CO₂ dari penggunaan bahan bakar fosil dan industri di Indonesia mencapai 812,22 juta ton, yang setara dengan 2,1% dari total emisi global dan 3,47% dari total emisi CO₂ benua asia. Meskipun kontribusi sektor industri tertentu relatif kecil dalam skala nasional, emisi dari proses produksi tetap memberikan dampak yang signifikan pada akumulasi emisi jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses granulasi tablet Y di Pabrik X dengan metode observasional-deskriptif pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan mengkaji durasi pelaksanaan serta emisi CO₂ yang dihasilkan selama proses granulasi tablet Y yang diproduksi pada periode Januari-Desember 2024. Proses granulasi dilakukan dalam sistem batch dengan kapasitas 845.000 kg (1.300.000 tablet) per batch. Hasil yang didapatkan proses granulasi tersebut menghasilkan emisi sebesar 596.409 gram per batch dan mencapai 40,5 ton per tahun. Temuan ini menegaskan bahwa upaya mitigasi pada level industri memiliki peranan penting dalam mendukung strategi pengurangan emisi nasional serta pencapaian target pengendalian perubahan iklim.
Kajian Penguatan Sistem Seleksi Pemasok Bahan Baku Obat di PT. XYZ Mengacu pada CPOB 2024 Gaharani, Prodio Efa; Rusdiana, Taofik; Rambia, Ikhsan
Majalah Farmasetika Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i1.68826

Abstract

Kualitas obat sangat dipengaruhi oleh mutu bahan baku sehingga proses seleksi pemasok bahan baku obat menjadi poin kritis dalam pemenuhan CPOB dan pengendalian rantai pasok. Kasus cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang ditemukan BPOM menunjukkan kegagalan dalam kualifikasi pemasok khususnya seleksi pemasok sehingga berdampak langsung bagi keamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulir seleksi pemasok bahan baku obat khususnya di PT. XYZ yang mengacu pada regulasi di Indonesia sebagai langkah antisipatif terhadap risiko mutu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengembangan formulir. Pengembangan ini dilakukan melalui kajian sistematis terhadap CPOB, Surat edaran BPOM Nomor 5 tahun 2023, Regulasi BPOM, APIC (Active Pharmaceutical Ingredients Commite), dan literatur yang relevan dengan parameter yang disusun berdasarkan prinsip risk based approach sesuai ICH Q9. Hasil penelitian menunjukkan formulir seleksi pemasok harus mencangkup verifikasi legalitas dokumen, pemeriksaan mutu dan ketertelusuran rantai pasok. Formulir seleksi pemasok ini dapat menjadi salah satu upaya yang efektif bagi Industri Farmasi dalam membuat sistem yang lebih terukur dan terdokumentasi sehingga meningkatkan pengendalian mutu bahan baku obat. Selain diimplementasikan di PT. XYZ, formulir ini berpotensi menjadi acuan bagi Industri Farmasi khususnya di Indonesia dalam memperkuat pengendalian mutu bahan baku obat dan mencegah terulangnya insiden substandard seperti kasus cemaran EG dan DEG.
Review Artikel : Tinjauan Pengujian dan Peningkatan Stabilitas Sediaan Nanoemulsi dari Berbagai Bahan Alam Ibrahim, Raihan; Fahri Fahlufi, Chikal; Ambar Cahyana, Haikal; Sabran Buana, , Bayu; Muizzul Aziz, Aris; Saputro, M. Ramadhan; Pratama, Reza
Majalah Farmasetika Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i1.67962

Abstract

Uji stabilitas merupakan tahapan penting dalam pengembangan sediaan farmasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan efektivitas produk selama masa simpan. Nanoemulsi menjadi salah satu bentuk sediaan cair yang banyak dikembangkan karena mampu meningkatkan kelarutan, bioavailabilitas, serta kestabilan zat aktif yang bersifat lipofilik. Kajian ini bertujuan untuk meninjau berbagai penelitian terkait pengujian dan peningkatan stabilitas sediaan nanoemulsi berbasis bahan alam dengan menyoroti pengaruh bahan aktif, jenis surfaktan dan kosurfaktan, serta kondisi penyimpanan terhadap kestabilan sistem. Metode yang digunakan adalah telaah pustaka dari berbagai penelitian terbitan sepuluh tahun terakhir yang membahas formulasi dan uji stabilitas nanoemulsi bahan alam. Data yang dianalisis mencakup parameter fisik seperti ukuran droplet, indeks polidispersitas, viskositas, pH, dan kejernihan, serta metode pengujian stabilitas seperti freeze thaw, centrifugation, dan heating cooling test. menunjukkan bahwa kombinasi surfaktan nonionik Tween 80 dengan kosurfaktan PEG 400 atau gliserin merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan kestabilan fisik dan kimia nanoemulsi berbasis bahan alam. Sistem nanoemulsi yang dibuat menggunakan metode berenergi tinggi, khususnya ultrasonikasi, menghasilkan ukuran droplet dengan indeks polidispersitas rendah kurang dari 0,5, sehingga mampu menekan terjadinya koalesensi dan flokulasi selama penyimpanan. Selain itu, penyimpanan pada suhu ruang dan penggunaan bahan aktif yang mengandung senyawa antioksidan tinggi terbukti memperlambat oksidasi lipid dan mempertahankan kestabilan nanoemulsi dalam jangka panjang.
Optimasi Polivinil Alkohol dan Gliserin dalam Paper Soap dengan Metode Simplex Lattice Design Ambarwati, Rini; Fatmi, Mindiya; Dewi Oktaviani, Mega
Majalah Farmasetika Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i1.69031

Abstract

Sabun merupakan salah satu produk kebersihan yang tersedia dalam berbagai bentuk, salah satunya berbentuk seperti lembaran helai kertas atau disebut paper soap. Paper soap memiliki kelebihan praktis, ringan, mudah dibawa, dan higienis. Dalam proses pembuatan sediaan paper soap terdapat bahan tambahan utama yang digunakan yaitu polimer dan plasticizer. Pada penelitian ini dilakukan optimasi formula sediaan paper soap dengan variasi kombinasi Polivinil Alkohol (PVA) sebagai polimer dan gliserin sebagai plasticizer menggunakan metode Simplex Lattice Design. Metode tersebut dapat dipakai untuk optimasi formula dalam berbabgai macam perbedaan jumlah komposisi bahan, yang jumlah totalnya dibuat sama. Pembuatan paper soap ini umumnya sama dengan pembuatan sabun. Perbedaannya, sediaan paper soap dibuat dengan polimer yang membentuk lapisan film yang elastis seperti PVA (Polivinil Alkohol). Paper soap juga harus memiliki kelenturan yang baik, salah satunya bahan yang mempengaruhi kelenturan paper soap adalah plasticizer seperti gliserin. Terdapat 8 formula awal dengan variasi perbandingan antara PVA:Gliserin F1(1:5), F2(3:3), F3(4:2), F4(5:1), F5(3:3), F6(1:5), F7(5:1). Parameter yang diuji meliputi uji organoleptik, pH, tinggi busa, kadar air, alkali bebas dan asam lemak bebas, ketahanan lipat, waktu tercuci, dan ketebalan dari sediaan. Satu formula optimum dipilih berdasarkan nilai desirability tertinggi. Hasil penelitian diperoleh formula terbaik dengan variasi perbandingan antara PVA:Gliserin 3:3 (F2&F5). Setelah dilakukan optimasi didapatkan formula optimum berdasarkan metode simplex lattice design dengan perbandingan konsentrasi PVA:Gliserin 2.770:3.230 dengan hasil rata-rata uji pH (7.236), tinggi busa (2.355 cm), kadar air (13.722%), alkali bebas (0.04%), ketahanan lipat (379.667), ketebalan paper soap (0.099 mm), waktu tercuci (44.913 detik). Belum adanya SNI yang khusus membahas tentang persyaratan paper soap, sehingga untuk acuan menggunakan SNI 3532:2021 tentang sabun mandi padat. Semua hasil pengujiannya memenuhi persyaratan SNI 3532:2021.

Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 2, Tahun 2026 (In Press) Vol 11, No 1 (2026) Vol 10, No 6 (2025) Vol 10, No 5 (2025) Vol 10, No 4 (2025) Vol 10, No 3 (2025) Vol 10, No 2 (2025) Vol 10, No 1 (2025) Vol 9, No 6 (2024) Vol 9, No 5 (2024) Vol 9, No 4 (2024) Vol 9, No 3 (2024) Vol 9, No 2 (2024) Vol 9, No 1 (2024) Supl. 9 No. 1, Tahun 2024 Vol 8, No 5 (2023) Vol 8, No 4 (2023) Vol 8, No 3 (2023) Vol 8, No 2 (2023) Vol 8, No 1 (2023) Vol 7, No 5 (2022): Vol. 7, No. 5, Tahun 2022 Vol 7, No 4 (2022): Vol. 7, No. 4, Tahun 2022 Vol 7, No 3 (2022): Vol. 7, No. 3, Tahun 2022 Vol 7, No 2 (2022): Vol. 7, No. 2, Tahun 2022 Vol 7, No 1 (2022): Vol. 7, No. 1, Tahun 2022 Vol 6, No 5 (2021): Vol. 6, No. 5, Tahun 2021 Vol 6, No 4 (2021): Vol. 6, No. 4, Tahun 2021 Vol 6, No 3 (2021): Vol. 6, No. 3, Tahun 2021 Vol 6, No 2 (2021): Vol. 6, No. 2, Tahun 2021 Vol 6, No 1 (2021): Vol. 6, No. 1, Tahun 2021 Vol. 6, Supl. 1, Tahun 2021 Vol 5, No 5 (2020): Vol. 5, No. 5, Tahun 2020 Vol 5, No 4 (2020): Vol. 5, No. 4, Tahun 2020 Vol 5, No 3 (2020): Vol. 5, No. 3, Tahun 2020 Vol 5, No 2 (2020): Vol. 5, No. 2, Tahun 2020 Vol 5, No 1 (2020): Vol. 5, No. 1, Tahun 2020 Vol 4, No 5 (2019): Vol. 4, No. 5, Tahun 2019 Vol 4, No 4 (2019): Vol. 4, No. 4, Tahun 2019 Vol 4, No 3 (2019): Vol. 4, No. 3, Tahun 2019 Vol 4, No 2 (2019): Vol. 4, No. 2, Tahun 2019 Vol 4, No 1 (2019): Vol. 4, No. 1, Tahun 2019 Vol. 4, Supl. 1, Tahun 2019 Vol 3, No 5 (2018): Vol. 3, No. 5, Tahun 2018 Vol 3, No 4 (2018): Vol. 3, No. 4, Tahun 2018 Vol 3, No 3 (2018): Vol. 3, No. 3, Tahun 2018 Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3, No. 2, Tahun 2018 Vol 3, No 1 (2018): Vol. 3, No. 1, Tahun 2018 Vol 2, No 5 (2017): Vol. 2, No. 5, Tahun 2017 Vol 2, No 4 (2017): Vol. 2, No. 4, Tahun 2017 Vol 2, No 3 (2017): Vol. 2, No. 3, Tahun 2017 Vol 2, No 2 (2017): Vol. 2, No. 2, Tahun 2017 Vol 2, No 1 (2017): Vol. 2, No. 1, Tahun 2017 Vol 1, No 5 (2016): Vol. 1, No. 5, Tahun 2016 Vol 1, No 4 (2016): Vol. 1, No. 4, Tahun 2016 Vol 1, No 3 (2016): Vol. 1, No. 3, Tahun 2016 Vol 1, No 2 (2016): Vol. 1, No. 2, Tahun 2016 Vol 1, No 1 (2016): Vol. 1, No. 1, Tahun 2016 More Issue