cover
Contact Name
Nani Darmayanti
Contact Email
n.darmayanti@unpad.ac.id
Phone
+6282130179000
Journal Mail Official
n.darmayanti@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor Kabupaten Sumedan 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metahumaniora
ISSN : 20854838     EISSN : 26572176     DOI : 10.24198/metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles 263 Documents
DEIKSIS DALAM CERPEN “DIE KÜCHENUHR“ KARYA WOLFGANG BORCHERT Purwono, Prahoro Yudo; Kushartanti, Bernadette
Metahumaniora Vol 14, No 1 (2024): METAHUMANIORA, APRIL 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i1.50092

Abstract

Die Küchenuhr merupakan cerpen karya Wolfgang Borchert yang cukup terkenal, banyak dibaca dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, serta memiliki banyak deiksis-deiksis dalam narasinya. Frekuensi kemunculan deiksis yang cukup banyak ini merupakan salah satu ciri khas bahasa pada masa Trümmerliteratur, sehingga referen-referen yang ditunjukkan melalui deiksis dalam cerpen sangat mudah disalahpahami oleh pembaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bentuk, fungsi, dan makna deiksis dalam cerpen berjudul Die Küchenuhr karya Wolfgang Borchert. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teori pragmatik dari Huang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk deiksis persona dalam cerpen Die Küchenuhr terdapat 3 jenis, yaitu deiksis persona pertama, kedua, dan ketiga. Sementara deiksis spasial ditemukan dalam bentuk leksem da dan hier. Deiksis temporal ditemukan dalam bentuk leksem jetzt dan kalimat dengan kala lampau (perfekt). Jika ditinjau secara fungsi, deiksis persona secara umum memiliki fungsi sebagai subjek dalam kalimat dan menjadi referen untuk penunjukan kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga. Sementara deiksis spasial berfungsi sebagai adverbia tempat yang menunjukan referen suatu lokasi tertentu yang dapat berubah-ubah bergantung kognisi penutur. Deiksis temporal yang berfungsi sebagai adverbia waktu merujuk kepada kapan tuturan diujarkan dan siapa pusat tuturan tersebut (berpusat kepada waktu tuturan atau penutur) dengan leksem waktu yang digunakan, sehingga waktunya dapat berubah-ubah. Dalam kasus-kasus tertentu, khususnya pada leksem non-deiktis, kemudian penggunaan leksem tempat yang beralih fungsi sebagai konjungsi dalam kalimat, dan penggunaan leksem waktu dengan angka tertentu (seperti tanggal, jam, tahun) akan membuat semua leksem tersebut bersifat non-deiktis.
THE AMBIVALENT PORTRAYAL OF THE ECOFEMINIST MOVEMENT IN TANAH IBU KAMI (2020) Zhafirah, Faizzah Shabrina; Priyatna, Aquarini; Adipurwawidjana, Ari Jogaiswara
Metahumaniora Vol 13, No 3 (2023): METAHUMANIORA, DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i3.48736

Abstract

Tanah Ibu Kami (2020), a documentary film produced by The Gecko Project and Mongabay, published on YouTube, follows the travels of journalist Febriana Firdaus to four rural areas in Indonesia where she meets Sukinah from Kendeng, Central Java; Lodia Oematan and Aleta Baun from Mollo, East Nusa Tenggara; Eva Bande from Banggai, Central Sulawesi; and Farwiza from Banda Aceh, Aceh. The film portrays these women leading socio-ecological movements that fight for their rights along with their land rights, as they face the risks of violence, imprisonment, and judgment from large corporations and patriarchal customs and beliefs. Placing the documentary within the ecofeminist framework, exemplified by Warren (2000) and Shiva and Mies (2018), I would like to show how the documentary portrays the state and the cultural institutions having control over women and nature. In its narrative method, the film tends to look at the environmentalism done by women as something to be highlighted not because of its substantial aspects but more as a valorized act because of its masculine attributes. Thus, while the film glorifies women as empowered environmentalists with the ability to exert agency, the structure of and behind the film is based on patriarchal assumptions.
PENGARUH FAKTOR EKONOMI PADA POLA KONSUMSI: PERILAKU PEMAKAIAN BRAND SEPATU IMITASI CONVERSE DI KOTA SURABAYA Insani, Nataya Khuria; Riyanto, Edi Dwi
Metahumaniora Vol 14, No 2 (2024): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i2.54061

Abstract

Sepatu saat ini menjadi trend fashion, terutama di kalangan masyarakat urban. Berbagai model sepatu banyak bermunculan karena telah menjadi salah satu kebutuhan fashion yang penting sama halnya dengan busana pakaian. Dengan trend sepatu yang saat ini marak menjadikan harga sepatu mahal, apalagi brand sepatu luar negeri. Bagi orang berpendapatan tinggi, tentu tidak masalah karena bisa membelinya. Namun, bagi orang berpendapatan rendah mungkin akan berpikir ulang untuk membeli produk tersebut. Maka dari itu muncul cara alternatif untuk masyarakat kelas bawah dan menengah yang berpendapatan rendah agar bisa tetap bergaya mengikuti trend fashion yang ada. Cara tersebut adalah dengan membeli dan menggunakan produk sepatu imitasi dari merek sepatu terkenal, salah satunya ialah sepatu imitasi dari merek Converse. Munculnya sepatu imitasi ini menunjukkan bahwa saat ini masyarakat menginginkan sepatu bermerek tetapi mereka juga melihat keadaan ekonomi mereka yang seutuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembentukan identitas yang dimunculkan oleh para konsumen pada produk sepatu imitasi dari merek Converse dengan menggunakan teori simulakrum Jean Baudrillard. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini di kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan beberapa metode untuk pengumpulan data. Pertama observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan terhadap subjek yang akan diteliti. Kedua wawancara, yaitu dengan melakukan tanya jawab kepada subjek yang akan diteliti. Ketiga interprestasi, yaitu memberikan pendapat maupun pandangan tentang hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan. Setalah itu melakukan analisis dengan mendeskripsikan dan memaknai data yang telah diperoleh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan produk sepatu imitasi dari merek Converse merupakan akibat munculnya konsumerisme, yakni pola konsumsi yang tidak sesuai dengan makna dari konsumsi, namun lebih mengarah pada simbol atau tanda.
DINAMIKA KEPRIBADIAN TOKOH DAN PENGARANG DALAM NOVEL RAHASIA NEGERI OSI KARYA ABINAYA GHINA JAMELA Wildanta, Yandi Chidlir; Indrastuti, Novi Siti Kussuji
Metahumaniora Vol 14, No 1 (2024): METAHUMANIORA, APRIL 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i1.52550

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika kepribadian dan aspek sosiologi pengarang yang terdapat dalam novel Rahasia Negeri Osi (RNO) Karya Abinaya Ghina Jamela. Data dalam penelitian ini berupa teks dan dokumentasi media yang memiliki relevansi dengan RNO. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode deskriptif analisis dengan cara mendeskripsikan fakta dan menghubungkan data dengan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud, yaitu struktur kepribadian dan dinamika kepribadian; dan diperkuat dengan metode sosiologi sastra Ian Watt, yaitu lingkungan pengarang, sastra sebagai cerminan masyarakat, dan fungsi sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika kepribadian tokoh utama dalam RNO dipengaruhi oleh obsesi dan eksplorasi Petos terhadap rasa ingin tahu. Melalui perasaan tersebut, Petos berhasil memproduksi kesenangan sekaligus menengahkan bentuk kontrol terhadap kesenangan tersebut baik secara realistik maupun moralistik. Selanjutnya, melalui gudang pengetahuan yang diperoleh dari keluarganya, Petos dapat mengontrol egonya berkaitan dengan sikap kehati-hatian terhadap orang asing, prinsip kesopanan, dan kebebasan berpendapat. Selain itu, secara sosiologis, representasi AGJ terhadap isu lingkungan, isu literasi, dan kritik terhadap orang dewasa dalam RNO dipengaruhi oleh lingkungan kepengarangan dan pengalaman menulis AGJ. Oleh karena itu, novel RNO tidak hanya berposisi sebagai teks sastra saja melainkan telah memberikan warna baru dalam khazanah sastra anak Indonesia.
NASKAH FATHU AL-ARIFIN: SEBUAH AJARAN TASAWUF TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH Sugandi, Rafid; Hidayat, Ahmad Taufik; Riza, Yulfira
Metahumaniora Vol 13, No 3 (2023): METAHUMANIORA, DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i3.48388

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ajaran tasawuf tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah dalam naskah berjudul Fathu Al-Arifin yang ditulis oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas tanggal 9 Jumadil Awwal 1287 Hijriyah. Selain membahas tentang ajaran tasawuf, tulisan ini juga mendeskripsikan kondisi fisik naskah yang dalam ilmu filologi dikenal dengan kodikologi. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif dengan menggunakan metode studi literatur dalam mengumpulkan datanya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kodikologi. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat tata cara (panduan berzikir) bernuansa tasawuf dalam naskah Fathu Al-Arifin. Panduan zikir itu diwujudkan dalam praktik tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Di samping itu, naskah Fathu Al-Arifin juga memuat tentang baiat dan talkin dalam tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Syekh Ahmad Khatib Sambas menggabungkan dua tarekat (Qadiriyah dan Naqsyabandiyah) menjadi satu yaitu tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah sehingga ada dua teknik zikir dalam tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yaitu nafi isbat (zikir bersuara keras) dan siiri ism dzat (zikir dalam hati). Tarekat Qadiriyah berzikir jahr nafi itsbat (bersuara keras), sedangkan tarekat Naqsyabandiyah berzikir sirri ism dzat (zikir dalam hati). Ada empat metode zikir dalam tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yaitu kesempurnaan suluk, adab, zikir dan muraqabah. Naskah ini berasal dari Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat dan disimpan di Lembaga Suaka Luhung Naskah (SULUAH) Padang.
ORNAMEN DAN UKIRAN PADA JENJANG AN DAN ANJUNGAN RUMAH ADAT LONTIOK DESA PULAU BELIMBING Azaky, Andri; Elmustian, Elmustian; Syafrial, Syafrial; Faizah, Hasnah
Metahumaniora Vol 14, No 2 (2024): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i2.51856

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna filosofis yang ada pada ukiran jenjang dan anjungan Rumah Adat Lontiok di Desa Pulau Belimbing, Kampar. Demikian halnya penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi pengetahuan dasar khususnya bagi masyarakat Melayu agar mampu menyentuh generasi muda untuk menjaga nilai-nilai yang ada dan membentuk karakternya. Adapun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Penulis mengamati langsung objek yang berfokus pada jenjang dan anjungan Rumah Adat Lontiok di Desa Pulau Belimbing. Dalam metode penelitian, teknik analisis yang digunakan berupa pengumpulan data dokumentasi, wawancara, dan observasi langsung terhadap bangunan dan arsitekturnya. Selanjutnya hasil ditemukan dari analisis adalah ornamen dan ukiran yang ada pada objek kajian Rumah Adat Lontiok berisikan makna dan motif Melayu. Melalui analisis kajian, ditemukan makna dari lingkaran yang berjumlah 4,5, dan 6 pada ukiran papan tumpuan anak jenjang kiri dan kanan Rumah Adat Lontiok. Hal itu merujuk pada hukum yang mendirikan rumah tersebut, yaitu empat hukum adat, lima rukun Islam, dan enam rukun Iman. Kemudian ditemukan juga makna ornamen pada anjungan rumah tersebut yang berisikan motif flora dari pelambangan makna terhadap sebuah pohon besar tempat bernaungnya ketua adat dan masyarakatnya. Ornamen dalam anjungan tersebut juga terdapat motif berbentuk tombak yang dimaknai pada hukum adat dan kepercayaan, serta peraturannya. Demikian pula di dalamnya ada ornamen yang berbentuk batu nisan di pangkal dan ujung anjungan yang dimaknai sebagai sebuah kuburan. Hal tersebut dikiaskan sebagai rumah terakhir manusia sebelum menghadap Tuhan.
ANALYSIS OF MORPHOLOGICAL REDUPLICATION IN LOCAL MADURA POETRY Lutfitasari, Wevi; Taembo, Maulid; Maulidia Putri, Ifa
Metahumaniora Vol 14, No 1 (2024): METAHUMANIORA, APRIL 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i1.51949

Abstract

Reduplikasi merupakan salah satu proses morfologis yang menghasilkan bentukan kata baru dan makna gramatikal pada hasil bentukan tersebut melalui pengulangan kata (Lutfitasari, 2023:35). Artinya, reduplikasi menjadi teori potensial untuk telaah makna-makna gramatikal pada bentuk pengulangan kata dalam syair lokal Madura. Syair lokal Madura memiliki makna unik sebagai penggambaran fenomena kebudayaan masyarakat Madura. Makna unik tersebut juga melekat pada bentuk pengulangan kata sebagai hasil dari proses morofologis (reduplikasi), sehingga bentukan morfologis pada syair lokal Madura menjadi tema menarik untuk ditelaah secara mandalam. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguraikan jenis reduplikasi morfologis dalam syair lokal Madura yang memiliki makna gramatikal sebagai cerminan kebudayaan masyarakat Madura. Ada dua fokus penelitian ini, yaitu 1) menganalisis jenis reduplikasi morfologis syair lokal Madura, dan 2) menganalisis fungsi makna gramatikal pada bentuk reduplikasi dalam syair lokal Madura sebagai cerminan kebudayaan Masyarakat Madura. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang berfungsi untuk menguraikan hasil telaah jenis dan makna reduplikasi. Sumber data penelitian ini berasal dari syair-syair lokal Madura berupa paparegan, kejhung, dan syi’ir Madura. Ada dua hasil penelitian ini. Pertama, jenis reduplikasi morfologis dalam syair lokal Madura berupa jenis kata ulang sebagian regresif dan termasuk dalam dwilingga. Bentukan reduplikasi morfologis tersebut berupa kategori kata nomina, adjektiva, numeralia (bilangan atau kuantitas), adverbial, dan verba. Kedua, makna gramatikal pada bentukan reduplikasi morfologis dalam syair lokal Madura berfungsi untuk mengungkapkan karakteristik budaya andhap asor (rendah hati), keragaman hasil laut, nilai sosial yang dipatuhi oleh perempuan Madura, kedudukan dalam pertemanan, dan wujud kepatuhan masyarakat madura.
BAGIAN TUBUH SEBAGAI SARANA PENGUNGKAP EMOSI MARAH ORANG SUNDA: KAJIAN METAFORA KOGNITIF Lyra, Hera Meganova
Metahumaniora Vol 13, No 3 (2023): METAHUMANIORA, DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i3.49780

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan bagian tubuh yang digunakan sebagai sarana orang Sunda dalam mengekspresikan emosi marahnya melalui penggambaran metafora kognitif. Kajian yang digunakan dalam tulisan ini adalah kajian semantik kognitif dengan berfokus pada teori Lakoff dan Johnson (2003) yang diperjelas oleh Saeed (2006). Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan metode kajian distribusional. Dihasilkan lima jenis bagian tubuh yang digunakan sebagai sarana pengungkap ekspresi emosi marah orang Sunda, yaitu: (1) bagian tubuh beungeut ‘wajah’; (2) bagian tubuh dada ‘dada’; (3) bagian tubuh getih ‘darah’; (4) bagian tubuh haté ‘hati’; dan (5) bagian tubuh mata atau panon ‘mata’. Skema citra yang dihasilkan oleh metafora bagian tubuh pengungkap ekspresi emosi marah adalah: [1] skema citra indentity, [2] skema citra force, [3] skema citra space, [4] skema citra container, [5] skema citra path, dan [6] skema citra activity
AMBIVALENSI BIROKRAT HINDIA BELANDA: STUDI KASUS VISI HASAN MUSTAPA AKHIR ABAD XIX Razy, Mohammad Refi Omar Ar; Munigar, Muhammad Miqdad Rojab; Ma'mur, Tarunasena
Metahumaniora Vol 14, No 2 (2024): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i2.56562

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan transisi politik di Kesultanan Aceh pada akhir abad XIX melalui sudut pandang Hasan Mustapa. Meskipun banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi Hindia Belanda dalam menaklukkan Aceh, namun masih sedikit penelitian yang mengkaji kondisi-kondisi tersebut dari sudut pandang pegawai negeri setempat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Melalui pembacaan catatan harian Hasan Mustapa, kami mencoba mengelaborasi visi Hasan dalam fase masa transisi dan pengintegrasian Aceh ke dalam wilayah Hindia Belanda. Hasan Mustapa, seorang pemuka agama dari Garut yang terkenal di Makkah karena murid-muridnya yang cendekia, diangkat sebagai Penghulu (1893–1895) di Kutaraja, Aceh, atas rekomendasi Snouck Hurgronje kepada Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Ambivalensi Hasan dalam memaknai masa transisi dan integrasi Aceh yang kompleks mencerminkan kewajiban ganda untuk memenuhi tugas birokrasi kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda sekaligus bersimpati pada perjuangan rakyat Aceh sebagai sesama Muslim. Selain itu, Sultan Muhammad Daud Syah muncul sebagai tokoh penting dalam perjuangan rakyat Aceh, yang melanjutkan perlawanan mereka dalam masa transisi dan integrasi Aceh. Meskipun banyak pemimpin dan pejabat tinggi ditinggalkan selama perang, perlawanan rakyat Aceh yang terus berlanjut menjadi tantangan yang signifikan bagi pemerintah kolonial.
DISKURSUS POLITIK ETIS DALAM FILM GURU BESAR TJOKROAMINOTO Tyas, Adelia Risnaning
Metahumaniora Vol 14, No 1 (2024): METAHUMANIORA, APRIL 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v14i1.53491

Abstract

Wacana politik etis pada film Guru Besar Tjokroaminoto mengisahkan sebuah perlawanan Tjokroaminoto dan para intelektual terhadap wacana politik etis tentang sebuah hadiah pendidikan, perairan serta ancaman penangkapan bagi mereka yang melanggar norma-norma politik etis. Metode analisis wacana digunakan untuk mengamati relasi kekuasaan yang terbentuk dari episteme atau pengetahuan di zaman politik etis. Kekuasaan didisiplinkan, dinormalisasi dari pengetahuan, terbentuk karena adanya relasi antar masyarakat, penjajah, dan organisasi hingga tercipta kebenaran pada masanya. Penelitian menemukan adanya wacana pendidikan, pembangunan moral pada janji-janji politik etis, pendisiplinan, normalisasi subjek dengan episteme membentuk dan dididik atas larangan, penolakan, oposisi benar dan salah. Penolakan organisasi yang tidak benar atau tidak sejalan dengan politik etis. Kedisplinan dan hukuman tidak sesuai dengan aturan. Hukuman guru kepada murid jika berkomentar atau menjawab soal, hingga adanya episteme pendisiplinan yang dinormalisasikan oleh pekerja, penjara, perceraian dan pernikahan oleh perempuan dengan alasan untuk patuh kepada orangtua.