cover
Contact Name
suhartini
Contact Email
tiensahmad1@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
direktorat@poltekkesbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan)
ISSN : 23561718     EISSN : 26852195     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal ini menggambarkan Media informasi kesehatan scopenya meliputi; keperawatan, kebidanan, analis kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 248 Documents
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ADJIDARMO KABUPATEN LEBAK TAHUN 2013 Omo Sutomo; Kadar Kuswandi
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.451 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.138

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan case control bertujuan untuk memperoleh informasi tentang Factor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Adjidarmo Kabupaten Lebak tahun 2013. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Adjidarmo Kabupaten Lebak periode Januari sampai dengan Desember 2013 berjumlah 4.328 orang ibu bersalin. Sedangkan yang menjadi sampel penelitian berjumlah 1036 orang ibu bersalin yakni 518 kelompok kasus dan 518 kelompok control; dengan demikian pengambilan sampel ini dengan menggunakan perbandingan 1:1 tidak berpasangan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menelaah data skunder pada buku register ibu hamil di ruang bersalin, dengan menggunakan format pengumpulan data yang disesuaikan dengan variabel yang diperlukan. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan perangkat komputer. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi Square Hasil analisis diperoleh bahwa kejadian ketuban pecah dini (KPD) dari seluruh ibu bersalin sebanyak 12,0%. Sebagian besar (55,2%) ibu bersalin berusia < 27 tahun, lebih dari separuh ibu bersalin (51,4%) memiliki paritas primipara, masih terdapat sebagian kecil ibu bersalin (10,4%) memiliki pekerjaan tetap, sebagian besar suami ibu bersalin (61,1%) bekerja sebagai buruh/tani/sopir/ojeg. Dari hsil analisis bivariat diperoleh bahwa variable umur dan paritas ibu memiliki hubungan bermakna dengan kejadian KPD; dengan masing-masing nilai p=0,000; sedangkan untuk variable umur kehamilan, pekerjaan ibu dan pekerjaan suami ibu tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian KPD; dengan masing-masing nilai p>0,05 (p > α). Dari hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam membuat kebijakan terutama dalam pengelolan persalinan untuk mencegah terjadinya KPD. Disamping itu, perlu pula diamati hubungan trauma dengan kejadian KPD.
LITERATURE RIVIEW HUBUNGAN ANTARA PSIKOLOGI DAN SPIRITUAL DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER PAYUDARA Popy Irawati
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.712 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.139

Abstract

Kejadian sakit merupaka kejadian yang selalu dianggap buruk dan merugikan dalam mempertahakan kualitas hidup. Kebutuhan spiritual berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup manusia yang merupakan tujuan penting dalam tatanan klinik (Balbony at all, 2007) Salah satu pemicu kejadian kanker adalah stress dan kecemasan yang terjadi dalam waktu yang lama, hal tersebut juga dapat memperberat penyakit yang telah terdiagnosis . makalah ini akan menelaah beberapa literature yang mengemukakan tentang penelitian yang dilakukan pada pasien kanker payudara tentang bagaimana peran psikologi dan spiritual terhadap perkembangan penyakit kanker, yang dilakukan pada saat diberikan terapi dan setelah selesai melaksanakan program terapi. Tujuan studi ini adalah menelaah literature untuk mengetahui hubungan antara psikologi dan spiritual dengan kualitas hidup pasien kanker payudara. Disain studi dalam penelitian ini adalah menggabungkan literature yang mempunyai arahan yang sama yang diunduh dari Cinahl dan Proquest untuk mempelajari hubungan antara psikologi dan spiritual dengan kualitas hidup pasien kanker payudara. Empat literature yang kami temukan terdiri dari 3 literature kuantitatif dan 1 literatur kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program MBSR secara significan dapat menurunkan tingkat stress pada penderita kanker payudara dengan nilai yang sinifikan pada kecemasan, takut kekambuhan dan tanda depresi. Factor spiritual dan religi merupakan factor yang sangat mendukung terhadap peningkatan kualitas hidup pasien dengan kanker payudara. Social support juga merupakan factor yang secara signifikan mendukung meningkatkan optimism yang pada akhirnya meningkatkan kulaitas hidup pasien dengan kanker payudara.
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN EKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DI RSUD AJIDARMO KAB. LEBAK TAHUN 2013 Suhartini Suhartini
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.140

Abstract

Angka kematian ibu dan bayi di negara berkembang seperti Indonesia masih cukup tinggi, dan salah satu penyebabnya adalah Pre Eklampsia-Eklampsia, selain sepsis dan perdarahan. Data Medical Record RSUD Ajidarmo tahun 2014 di gambarkan bahwa, ibu hamil dengan eklampsia yang dirawat ruangan rawat inap kebidanan tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu ada 60 kasus eklampsia dan 1 kematian bayi (CFR 1,6%), namun faktor risiko yang menyebabkan kejadian eklampsia tersebut, sampai saat ini belum diketahui.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian eklampsia pada ibu bersalin yang dirawat di ruang kebidanan RSUD Adjidarmo tahun 2013 Metodologi penelitian ini dengan menggunakan desain kasus kontrol, dan populasi penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang terdata pada register rawat inap dan rekam medik RSUD Adjidarmo, tahun 2013, Sampel penelitian ini adalah 54 orang ibu bersalin dengan eklampsia dan 54 orang ibu dengan persalinan normal dengan perbandingan 1:1, Total sampel 108 orang. tehnik pengambilan sampel pada kasus yaitu seluruh kasus eklampsia yang memenuhi kriteria insklusi dan ekslusi, pada kelompok kontrol dengan systematic random sampling. Penelitian dilaksanakan sejak Agustus sampai dengan November 2014 Hasil penelitian Masih ditemukan 36.3 % ibu melahirkan dengan usia muda (<20 tahun) dan usia tua (>35 tahun), pendidikan SLTP kebawah (69.4%), melahirkan anak pertama (primi) sebesar 75.9%, (19,4%) dengan riwayat hipertensi, usia kehamilan ≥37 minggu (74,1%). Ada hubungan bermakna antara usia ibu dengan dengan kejadian eklampsia OR sebesar 5,3, dengan paritas OR 5,7, riwayat penyakit OR 2,6, usia kehamilan OR 0,2, dan tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian eklampsia. Dari hasil analisis faktor risiko eklampsia pada ibu bersalin di RSUD Adjidarmo , disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia ibu, paritas, riwayat penyakit sebelumnya dan usia kehamilan, namun pada penelitian ini faktor pendidikan tidak berhubungan, untuk itu dimohon agar RS dapat memberikan pelayanan dan penanganan terbaik kepada pasien eklampsia yang di rawat di RS Adjidarmo untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi melaului optimalisasi pelayanan dan peningkatan PKMRS terkait eklampsia di ruang rawat jalan/inap ibu dan bayi
PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA BAYI USIA 4-6 BULAN DI PUSKESMAS RANGKASBITUNG KAB. LEBAK TAHUN 2014 Yayah Rokayah
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.374 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.141

Abstract

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak lahir merupakan modal dasar dalam pembentukan manusia berkualitas, terutama pemberian ASI ekslusif yaitu pemberian ASI kepada bayi sejak lahir sampai dengan usia bayi 6 bulan. ASI merupakan makanan yang paling sempurna, karena kandungan gizi dalam ASI sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Analisis di 6 negara berkembang menunjukan ada perbedaan antara bayi yang mendapatkan ASI dengan yang tidak diberi ASI terhadap risiko kematian akibat penyakit infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang yang berhubungan dengan kelangsungan pemberian ASI ekslusif pada bayi usia 4-6 bulan di Desa Rangkasbitung Barat Puskesmas Rangkasbitung. Metode yang digunakan adalah survei dengan pendekatan Cross sectional. Populasinya adalah semua ibu yang mempunyai bayi > 6 bulan yang sudah diberikan ASI ekslusif s.d 4 bulan yang tercatat di buku register ibu dan anak, Sampel yang diambil secara proporsif sebanyak 37 orang. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa variabel pengetahuan, pengalaman menyusui dan dukungan tenaga kesehatan mempunyai hubungan dengan kelangsungan pemberian ASI Ekslusif pada bayi usia 4 sampai 6 bulan. sedangkan variable yang paling erat hubungannya dengan kelangsungan pemberian ASI ekslusif adalah dukungan tenaga kesehatan dengan α 0.004. berdasarkan hasil tersebut disarankan motivasi bidan lebih ditingkatkan lagi dalam memberikan penyuluhan maupun konseling sehingga pengetahuan ibu-ibu mengenai ASI ekslusif menjadi lebih baik.
ANALISIS EPIDEMIOLOGIA PENYAKIT DEMEM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KABUPATEN LEBAK 2011 – 2013 Ahmad Ahmad
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.805 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.142

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, karena jumlah penderitanya semakin meningkat dan wilayah terjangkitnya semakin meluas. Sejak Kasus demam berdarah dengue, pertama kali ditemukan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968, sampai saat ini penyakit DBD di Indonesia belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Jumlah korban dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan seiring dengan meluasnya daerah terjangkit yang hampir menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Keadaan yang sama juga terjadi di wilayah Propinsi Banten , termasuk di kabupaten Lebak data DBD pada tahun 2013 berjumlah 249 kasus kasus dan 5 kematian. Secara epidemiologis faktor risiko yang menjadi penyebab kejadian dimaksud sampai saat ini belum teranalisis secara baik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologis penyakit demam berdarah dengue di Kabupaten Lebak tahun 2011 – 2013.Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah crossectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder tentang kejadian penyakit demam berdarah dengue yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak selama tahun 2011 – 2013. Hasil penelitian menunjukkan Kasus penyakit demam berdarah selama tahun 2011 – 2013 di Kabupaten Lebak sebanyak 648 kasus. Proporsi kejadian penyakit demam berdarah di Kabupaten Lebak tahun 2011 – 2013 relatif sama antara laki – laki dengan perempuan masing – masing 49.1 % dan 50,9 % , dengan usia terendah berusia 1 tahun dan tertinggi berusia 84 tahun. Penyakit demam berdarah rata – rata menyerang usia produktif setiap tahunnya dengan rentang usia antara 21 sampai 26 tahun. Penderita demam berdarah, sebagian besar (60 %) tinggal di daerah perkotaan, sementara sebagaian kecil lainnya tinggal di pedesaan. Penyakit ini sebagian besar menyerang penduduk di tiga kecamatan, sementara sebagian kecil lainnya tersebar di 25 kecamatan lainnya di Kabupaten Lebak.Penyakit demam berdarah di beberapa tempat di Kabupaten Lebak sudah termasuk penyakit endemic, karena penyakit ini selalu ditemukan setiap bulannya.Penyakit ini cenderung meningkat pada bulan Desember sampai dengan Pebruari setiap tahunnya. Rata – rata kematian akibat penyakit demam berdarah di Kabupaten Lebak dalam tiga tahun terakhir sebanyak 2 %, yang berarti setiap 100 penderita demam berdarah akan terjadi kematian 2 orang. Perlunya petugas kesehatan memberikan penyuluhan tentang pencegahan dan pengendalian penyakit demam berdarah kepada masyarakat khususnya di wilayah perkotaan Kabupaten Lebak mengingat penyakit ini sebagian besar diderita oleh masyarakat perkotaan Kabupaten Lebak. Selain itu, Keluarga dapat mengenali penyakit demam berdarah lebih dini, sehingga penangan penyakit ini semakin baik dan tingkat kematian akibat penyakit demam berdarah dapat ditekan.
PENGARUH PENGERINGAN PREPARAT BAKTERI TAHAN ASAM PADA INKUBATOR TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK Nining Kurniati; Shufiyani Shufiyani
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.773 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.143

Abstract

Target utama pengedalian penyakit tuberculosis paru (TB) adalah menemukan pasien TB menular (BTA positif) dan menyembuhkan penyakitnya. Dengan memprioritaskan pada penemuan pasien TB dengan BTA positif, maka laboratorium merupakan kunci utama dalam mendiagnosis pasien TB. Pemeriksaan mikroskopik sediaan dahak merupakan salah satu cara yang paling efisien untuk mengidentifikasi penderita TB. Penderita dengan sediaan positif, sepuluh kali lebih infeksius dibandingkan dengan penderita dengan sediaan negatif. (9)Berdasarkan hasil pemeriksaan data pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kultur maka didapatkan hasil penelitian sebagai berikut, 1)Tidak ada pengaruh pada pengeringan pada suhu kamar dan suhu inkubator. 2) Gambaran hasil preparat BTA pada pengeringan suhu 200 C (suhu kamar) dan suhu incubator (500 C, 600 C dan 700 C), untuk sampel positif 1 didapatkan hasil 100% hasil pemeriksaan mikroskopik positif 1, dan sampel positif 3 didapatkan hasil 100 % pemeriksaan mikrskop positif 3. 3)Gambaran stabilitas hasil preparat BTA pada pengeringan suhu 200 C (suhu kamar) dan suhu incubator (500 C, 600 C dan 700 C) selama 3 minggu 100% hasilnya sama menunjukan preparat tersebut stabil.
UJI DAYA HAMBAT AIR PERASAN DAUN KATUK TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STREPTOCOCCUS PYOGENES SECARA INVITRO Ahmad Ahmad; Hanny Siti Nuraeni
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.695 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.144

Abstract

Penggunaan tanaman obat didasarkan pada kepercayaan dan pengalaman yang diturunkan dari generasi ke generasi yang bersifat pengetahuan tradisional. Daun katuk (Sauropus androgunus) merupakan salah satu tanaman obat yang bersifat sebagai antikuman dan antiprotozoa karena mengandung zat aktif diantaranya flavonoid dan tanin. Telah dilakukan penelitian mengenai daya hambat air perasan daun katuk (Sauropus androgunus) terhadap bakteri Streptococcus pyogenes dengan variasi konsentrasi dan waktu kontak tertentu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berapa konsentrasi terendah air perasan daun katuk dalam menghambat Streptococcus pyogenes. Metode dalam penelitian ini adalah dilusi, yaitu variasi konsentrasi air perasan daun katuk sebanyak 5 mL dikontakkan dengan strain murni Streptococcus pyogenes sebanyak 0,1 mL dengan kerapatan 1,5x108/mL dengan variasi waktu kontak yang berbeda kemudian digores pada media Agar Darah (AD). Pengamatan dilakukan dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan bakteri Streptococcus pyogenes pada media AD. Uji penelitian menggunakan air perasan daun katuk dengan variasi konsentrasi 25%,50%, 75%, dan 100% dengan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit. Hasil Uji Penelitian pada air perasan daun katuk adalah hasilnya tidak dapat menghambat bakteri Streptococcus pyogenes pada konsentrasi 25%,50%, 75%, dan 100% dengan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit. Berdasarkan hal tersebut, maka uji penelitian menggunakan air perasan daun katuk dengan variasi konsentrasi 25%,50%, 75%, dan 100% dengan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit. Kesimpulan penelitian ini adah air perasan daun katuk tidak menghambat Streptococcus pyogenes.
KAJIAN RETROSPEKTIF PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DAN CHIKUNGUNYA DI KOTA TANGERANG DALAM 10 TAHUN (2003-2013) Aminah Aminah; Makhabbah Jamilatun
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 2 No 1 (2015): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.208 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v2i1.145

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya merupakan penyakit viral endemis bersumber nyamuk di Indonesia.Organisasi kesehatan dunia WHO tahun 2009 mengelompokkan demam berdarahmenjadi demam berdarah ringan dan tiga kriteria demam berdarah berat yaitu Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Sindrom Syok Dengue (SSD)[1]. Data sekunder berupa laporan kasus penyakit yang diterima/ditangani puskesmas dan laporan pemeriksaan laboratorium terkait DBD dan Chikungunya selama sepuluh tahun dikumpulkan dan disajikan secara deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan desain eksploratif pada kasusDBD-Chikungunya di Kota Tangerang tahun 2003-2013. Instrumen penelitian yang digunakan berupa buku bantu DBD yang dibuat oleh penanggung jawab Program pemberantasan DBD di Puskesmas Kota Tangerang tahun 2003-2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Puskesmas yang ada di wilayah Kota Tangerang yang berjumlah 32 Puskesmas. Sampel dalam penelitian ini berjumlah tujuh Puskesmas yang terdiri dari dua Puskesmas dengan data lengkap mulai 2003 dan lima Puskesmas dengan data kurang lengkap. Pengumpulan data dilakukan secara langsung peneliti dengan menelaah catatan/data yang ada dalam buku bantu DBD di Puskesmas Kota Tangerang mulai tahun 2003 hingga 2013. Data yang dikumpulkan sesuai dengan variabel yang menjadi fokus penelitian yaitu data tentang kejadian DBD dan Chikungunya baik yang baru suspek maupun yang sudah dikonfirmasi.Data disalin dari buku bantu DBD ke dalam format digital untuk selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data menggunakan perangkat lunak dalam komputer. Dari hasil analisis yang dilakukan, berikut simpulan yang dapat ditarik: Pencatatan Kasus DBD-Chikungunya di Puskesmas belum tertata dengan baik dan belum seragam. Masih terjadi banyak kasus DBD-Chikungunya yang tercatat di Kota Tangerang. Rata-rata frekuensi DBD-Chikungunya tinggi terjadi pada dua trimester pertama. Perkembangan penyakit DBD-Chikungunya dari tahun ke tahun tidak seragam.
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PREMENSTRUAL SYNDROME DENGAN PERILAKU DALAM MENGATASI PREMENSTRUAL SYNDROME PADA MAHASISWA JURUSAN KEBIDANAN RANGKASBITUNG POLTEKKES KEMENKES BANTEN TAHUN 2015 Nintinjri Husnida; Hani Sutianingsih
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 3 No 1 (2016): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.448 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v3i1.147

Abstract

Premenstrual Syndrome meupakan suatu kondisi dimana wanita lebih sensitif terhadap perasaan dan kondisi tubuhnya dalam bentuk sekumpulan gejala fisik dan mental. Keluhan yang dialami bisa bervariasi dari bulan ke bulan bisa menjadi lebih ringan ataupun lebih berat. Sekitar 80% hingga 95% wanita antara 16-45 tahun mengalami gejala-gejala Premenstrual Syndrome yang dapat mengganggu. Gejalanya berupa pusing, depresi serta perasaan sensitive berlebihan sekitar dua minggu sebelum haid biasanya dianggap hal yang wajar bagi wanita usia produktif sekitar 40% wanita berusia 14-50 tahun. Berdasarkan penelitian yang disponsori WHO didapatkan hasil bahwa gejala Premenstrual Syndrome dialami oleh 23 % wanita Indonesia. Angka ini menunjukan bahwa penderita Premenstrual Syndrome di Indonesia cukup tinggi sehingga perlu dilakukan upaya untuk mencegah dan mengatasi gejala Premenstrual Syndrome dalam bentuk perilaku yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang Premenstrual Syndrome dengan perilaku mengatasi Premenstrual Syndrome pada mahasiswa Jurusan Kebidanan Rangkasbitung Poltkkes Kemenkes Banten tahun Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan analitik observasional menggunakan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel yang digunakan 150 responden., berdasarkan rumus pengambilan sampel menurut Slovin. Data penelitian diambil secara primer menggunakan kuesioner. Analisis data untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap tentang Premenstrual Syndrome. Saran untuk Jurusan Kebidanan Rangkasbitung untuk dapat mengoptimalkan peran organisasi kemahasiswaan dibawah jurusn agar dapat memotivasi mahasiswa untuk memiliki perilaku yang baik tentang Premenstrual Syndrome dengan metode yang menarik dan efektif.
PENGARUH FREKUENSI PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PRILAKU KONTROL (MONITORING) KADAR GULA DARAH PADA LANSIA DENGAN RIWAYAT PENYAKIT DIABETES MELLITUS Sunardi Sunardi; Toto Subiakto
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 3 No 1 (2016): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.22 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v3i1.148

Abstract

Saat ini 6,3 juta (19%) dari seluruh orang yang berusia > 65 tahun memiliki diabetes mellitus. (Black & Hawks, 2014). Manifestasi klinis meyakinkan adanya diabetes mellitus, tetapi uji laboratorium kadar gula darah diperlukan untuk menegakan diagnostik pasti, pemeriksaan kadar gula darah secara teratur dan terencana dapat mendeteksi adanya kelainan lebih lanjut. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara dalam menentukan keberhasilan manajemen diabetes mellitus. Fenomena yang terjadi dan menjadi masalah penelitian ini adalah apakah benar bahwa prilaku kontrol(monitoring) kadar gula darah seseorang yang mengalami diabetes mellitus dapat dipengaruhi oleh banyaknya frekwensi pendidikan kesehatan yang diterimannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Pengaruh frekuensi pendidikan kesehatan terhadap prilaku kontrol (monitoring) kadar gula darah pada lansia yang memiliki penyakit diabetes mellitus. Desain Penelitian adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas kecamatan Neglasari Kota Tangerang, pengambilan sampel dilaksanakan bulan Juni-September 2015 terhadap lansia dengan riwayat diabetes mellitus yang berobat/kontrol kepuskesmas. Hasil penelitian dari 60 responden, menunjukkan ada hubungan yang siknifikan antara frekwensi pendidikan kesehatan dengan prilaku kontrol (Monitoring) kadar gula darah pada lansia yang mengalami diabetes mellitus, dengan nilai p=0,001 (α = 0,05). Hal ini berarti semakin banyak pendidikan kesehatan yang diterima lansia, maka semakin sering lansia berprilaku control (monitoring) kadar gula darahnya.

Page 10 of 25 | Total Record : 248