cover
Contact Name
Hendra
Contact Email
agroteknikapolitani@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agroteknikapolitani@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. lima puluh kota,
Sumatera barat
INDONESIA
Agroteknika
ISSN : 26853353     EISSN : 26853450     DOI : -
Agroteknika adalah jurnal nasional untuk publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Agroteknika sebagai kajian ilmiah hasil penelitian pada bidang teknologi pertanian dengan ruang lingkup: mekanisasi pertanian, teknologi pangan, irigasi, teknologi budidaya tanaman pangan dan perkebunan, energi terbarukan, sistem informasi pertanian, sistem informasi geografis dan bioinformatika.
Arjuna Subject : -
Articles 208 Documents
Identifikasi Lahan Potensial Pengembangan Sawah Irigasi Baru dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Provinsi Bengkulu Antika, Rinti; Prawito, Priyono; Sukisno, Sukisno
Agroteknika Vol 9 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i1.649

Abstract

Ketersediaan lahan sawah merupakan faktor penting dalam mendukung ketahanan pangan, terutama di tengah meningkatnya tekanan konversi lahan pertanian. Sehingga diperlukan identifikasi lahan potensial untuk mendukung peningkatan produksi pangan. Tujuan penelitian mengidentifikasi ketersediaan lahan, mengevaluasi kesesuaian lahan, dan menentukan potensi pengembangan sawah irigasi baru di wilayah selatan Provinsi Bengkulu yang meliputi Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur. Penelitian dilakukan melalui analisis spasial menggunakan sistem informasi geografis dengan pendekatan penyaringan bertahap terhadap tutupan lahan, status kawasan, kemiringan lereng, rencana tata ruang wilayah, izin usaha pertambangan, lahan baku sawah, serta kriteria luas hamparan minimum 5 ha. Selanjutnya dilakukan observasi lapang dan analisis laborotarium untuk mengetahui kesesuaian lahan tanaman padi sawah irigasi dengan karakteristik lahan berdasarkan parameter temperatur, ketersediaan air, media perakaran, retensi hara, bahaya erosi, dan penyiapan lahan sehingga dihasilkan lahan potensial untuk cetak sawah baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total luas wilayah penelitian sebesar 626.249,68 ha, terdapat lahan non-produktif seluas 61.300,96 ha yang berpotensi untuk pengembangan pertanian. Berdasarkan hasil identifikasi ketersediaan dan kesesuaian lahan, luas lahan yang potensial untuk pengembangan sawah baru mencapai 95,27 ha. Lahan tersebut tersebar di Desa Talang Perapat Kabupaten Seluma seluas 80 ha (85,03%) dengan kelas kesesuaian S2 rc1,2; Desa Manau IX Kabupaten Kaur seluas 9 ha (9,44%) dengan kelas S3 rc1,4; serta Desa Tambangan Kabupaten Bengkulu Selatan seluas 5,27 ha (5,53%) dengan kelas S2 rc4 nr. Pengembangan lahan tersebut menjadi sawah irigasi berpotensi menghasilkan sekitar 476 ton gabah kering panen per musim tanam dengan asumsi produktivitas rata-rata 5 ton ha⁻¹ dan berpotensi mendukung peningkatan produksi padi serta penguatan ketahanan pangan daerah.
Pemodelan Dinamis Kebutuhan Air Tanaman Padi Pada Irigasi Lahan Kering Semi-Arid Naen Menggunakan Cropwat 8.0 Banunaek, Zofar Agluis; Naikofi, Kristina Irnasari
Agroteknika Vol 9 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i1.677

Abstract

Sawah tadah hujan di wilayah semi-arid menghadapi keterbatasan air akibat variabilitas curah hujan dan tingginya evapotranspirasi, sehingga diperlukan pemodelan kebutuhan air berbasis data iklim dan karakteristik tanah untuk meningkatkan efisiensi serta keberlanjutan pengelolaan pertanian. Penelitian ini bertujuan memodelkan kebutuhan air tanaman padi pada sistem sawah tadah hujan di wilayah semi-arid Naen menggunakan perangkat lunak Cropwat 8.0 sebagai dasar optimasi pengelolaan air. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan data iklim, curah hujan dan sifat fisik tanah. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai evapotranspirasi referensi (ETo) sebesar 4,00 mm/hari pada kondisi suhu rata-rata 26,3°C dan kelembapan relatif 82%. Total curah hujan tahunan mencapai 1.302,6 mm, dengan curah hujan efektif sebesar 778,2 mm atau sekitar 60% dari total curah hujan. Karakteristik tanah menunjukkan nilai Total Available Water (TAW) sebesar 200 mm/m dan laju infiltrasi 30 mm/hari, yang mengindikasikan kemampuan tanah yang baik dalam menyimpan air. Pemodelan menggunakan Cropwat 8.0 menunjukkan bahwa total kebutuhan air irigasi (Irrigation Requirement/IRR) selama satu musim tanam sebesar 207,6 mm, dengan periode tanam paling optimal pada dekade kedua bulan November. Pada periode Desember hingga Februari, kebutuhan irigasi tercatat 0,00 mm per dekade karena curah hujan telah mencukupi kebutuhan evapotranspirasi tanaman. Hasil penelitian menegaskan bahwa Cropwat 8.0 efektif digunakan sebagai alat pendukung perencanaan irigasi berbasis data lokal. Sinkronisasi waktu tanam dengan awal musim hujan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air dan menjaga produktivitas padi pada sistem sawah tadah hujan di wilayah semi-arid Naen.
Pengaruh Teknik Perendaman dan Pengeringan pada Produksi Tepung Ikan Lele (Clarias sp) Terhadap Kadar Kalsium dan Kadar Abu Dyah Cahyaningsih; Fitriana Mustikaningrum
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): ARTICLES IN PRESS
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.704

Abstract

Produksi ikan lele yang terus meningkat memerlukan inovasi pada pengolahan untuk dapat meningkatkan nilai tambah, daya simpan, serta pemanfaatan kandungan gizi ikan lele, salah satunya melalui pengembangan tepung ikan lele. Namun, kualitas tepung ikan lele dipengaruhi oleh proses pengolahan seperti perendaman dan pengeringan yang belum sepenuhnya terstandarisasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik perendaman dan pengeringan pada produksi tepung ikan lele terhadap kadar kalsium, kadar abu, serta daya terima tepung ikan lele. Uji daya terima meliputi parameter warna dan aroma oleh 15 panelis terlatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik perendaman dan pengeringan berpengaruh signifikan terhadap kadar kalsium dan kadar abu (p<0,05). Kadar kalsium tertinggi diperoleh pada teknik perendaman 30 menit dengan pengeringan 12 jam sebesar 4,83%, sedangkan hasil terendah pada teknik perendaman 15 menit dengan pengeringan 12 jam sebesar 3,86%. Kadar abu tertinggi terdapat pada teknik perendaman 15 menit dengan pengeringan 8 jam sebesar 15,7%, dan terendah pada teknik perendaman 15 menit dan pengeringan 12 jam sebesar 13,73%. Seluruh perlakuan memenuhi standar mutu SNI untuk kadar kalsium dan abu. Namun hasil uji daya terima menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh signifikan terhadap warna (p=0,525), aroma (p0,930), dan penilaian keseluruhan (p=0,779). Perlakuan terbaik diperoleh pada teknik perendaman 30 menit dengan pengeringan 12 jam berdasarkan parameter kimia dan tingkat penerimaan panelis yang relatif lebih tinggi. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan kombinasi perlakuan tersebut dalam produksi tepung ikan lele untuk meningkatkan mutu kimia. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis metode pengolahan lain untuk meningkatkan daya terima, seperti variasi bahan perendaman atau teknik pengeringan yang berbeda.
Analisis Komposisi Kimia Beras dengan Metode Eksploratif Spektra NIR-Vis Sebagai Dasar Pengembangan Metode Analisis Non-Destruktif Dewanti Cahya Widi; Dwi Yuli Prastika; Elsa Dwi Ana Santosa; Lintang Sukma Surtri Putri; Masagus Muhammad Prima Putra; Muhammad Saifur Rohman
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): ARTICLES IN PRESS
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.609

Abstract

Beras merupakan komoditas pangan utama dengan komposisi kimia meliputi kadar air, protein, lemak, karbohidrat, dan mineral (Ca, Fe, Mg, Zn) yang berpengaruh pada nilai gizi, rasa dan umur simpan beras. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesahihan metode spektroskopi NIR-Vis dalam analisis komposisi kimia beras sebagai dasar pengembangan metode analisis non-destruktif. Enam varietas beras (beras Cokelat, Merah, Hitam, Mentik Putih, Pandan Wangi, dan Porang) dipilih karena mewakili variasi warna, aroma, tekstur dan komposisi gizi beras. Metode penelitian ini terdiri dari uji proksimat yang dilakukan sesuai SNI 01-2891-1992 dan eksplorasi spektra NIR-Vis yang diukur pada panjang gelombang 400–1700 nm. Hasil menunjukkan bahwa kadar air tertinggi terdapat pada beras Mentik Putih (11,57±0,03%), kadar abu dan lemak tertinggi pada beras Hitam (2,55±0,01% dan 5,02±0,03%), kadar protein tertinggi pada beras Cokelat (10,68±0,67%), serta kadar karbohidrat tertinggi pada beras Porang (82,34±0,09%). Sedangkan, kadar mineral Ca tertinggi terdapat pada beras Hitam (0,72±0,04 mg/L), Fe dan Mg pada beras Merah (0,90±0,01 mg/L dan 1,04±0,01 mg/L), dan Zn pada beras Mentik Putih (1,31±0,01 mg/L). Analisis korelasi Pearson (r) menunjukkan kadar karbohidrat berkorelasi positif kuat (r→+1,0) pada 1300–1650 nm, kadar lemak dan protein menunjukkan korelasi negatif kuat (r→-0,9) pada 1000–1200 nm, sedangkan kadar air menunjukkan korelasi positif lemah (r→+0,3) di 600 nm. Analisis PCA menunjukkan efisiensi tinggi dengan PC 1 (53,8%) dan PC 2 (44,2%) secara kumulatif telah menangkap 98% total perbedaan antar sampel. Penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi uji proksimat dan spektroskopi NIR-Vis efektif digunakan sebagai metode non-destruktif untuk analisis komposisi kimia beras.
Peningkatan Mutu Benih Kedelai (Glycine Max (L.) Merr.) dengan Sari Buah Nanas Sebagai Organic Seed Priming Muhammad Al Qudus Ibsanda; Irawati Chaniago; Aswaldi Anwar
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): ARTICLES IN PRESS
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.641

Abstract

Kedelai sebagai salah satu komoditas penting yang berperan dalam pemenuhan bahan pangan dan pakan sebagai sumber protein dan lemak nabati. Penyediaan benih berkualitas baik menjadi salah satu kunci penting dalam upaya meningkatkan produksi kedelai. Perbaikan kualitas benih kedelai dapat dicapai dengan pemberian sari buah nanas berdasarkan reaksi hidrolisis antara enzim bromelin dan protein kedelai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi sari buah nanas terbaik yang dapat digunakan untuk invigorasi benih kedelai. Percobaan dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2025 di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima konsentrasi sari buah nanas yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100% dengan empat ulangan. Benih kedelai direndam selama 3 jam dalam larutan sari buah nanas sebelum dilakukan uji perkecambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sari buah nanas sebagai organic priming dapat meningkatkan persentase daya berkecambah, perkecambahan pada hari hitung pertama, potensi tumbuh maksimum, nilai indeks perkecambahan, bobot kering kecambah normal, dan pertumbuhan akar kecambah. Priming menggunakan konsentrasi 50% sari buah nanas menunjukkan hasil terbaik pada persentase daya berkecambah, perkecambahan pada hari hitung pertama, potensi tumbuh maksimum, dan nilai indeks perkecambahan benih.
Analisis Spasial Ketersediaan Lahan Potensial untuk Pengembangan Jagung (Zea mays L.) di Bagian Utara Provinsi Bengkulu Thoriq Taqiyyuddin; Bambang Sulistyo; Priyono Prawito
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): ARTICLES IN PRESS
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.647

Abstract

Ketersediaan informasi spasial lahan potensial menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan jagung secara berkelanjutan. Di Provinsi Bengkulu, khususnya Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu Utara, dan Bengkulu Tengah, informasi kesesuaian lahan untuk budidaya jagung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan lahan potensial secara spasial serta menentukan lokasi prioritas pengembangan jagung. Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis melalui metode overlay berbobot dan matching berdasarkan kelas kesesuaian lahan S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal), dan N (tidak sesuai). Data yang digunakan meliputi peta administrasi, kemiringan lereng, status kawasan, izin usaha pertambangan, jenis tanah, dan curah hujan, serta data lapangan berupa drainase, tekstur tanah, kedalaman efektif, bahan kasar, batuan permukaan, dan pH tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan potensial untuk pengembangan jagung mencapai 2.471,36 ha dengan dominasi kelas kesesuaian aktual S2 (cukup sesuai). Faktor pembatas utama pada seluruh jenis tanah adalah curah hujan (tc), sedangkan faktor pembatas lain yang spesifik meliputi kondisi drainase (rc) pada Alfisols, Inceptisol dan oxisols, serta retensi hara (nr) pada Oxisols. Secara umum, karakteristik media perakaran, tekstur, kedalaman tanah, dan kemiringan lereng tergolong sesuai (S1), namun keterbatasan iklim dan sifat kimia tanah menjadi kendala utama dalam optimalisasi produksi jagung. Sebaran lahan potensial cenderung berada pada wilayah dengan kondisi topografi relatif landai. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan pengelolaan air dan kesuburan tanah menjadi kunci dalam meningkatkan kelas kesesuaian lahan.
Efektivitas Kombinasi Pupuk Kandang Kambing dan Pupuk Anorganik NPK dalam Meningkatkan Efisiensi Penggunaan Hara dan Hasil Jagung (Zea mays L.) di Tanah Ultisol Rita Hayati; Leony Agustine; Feira Budiarsyah Arief
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): ARTICLES IN PRESS
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.656

Abstract

Peningkatan populasi global mendesak peningkatan produktivitas jagung di lahan sub-optimal, seperti ultisol yang masam dan miskin hara, sembari memitigasi dampak lingkungan dari pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis kombinasi pupuk kandang kambing (pukan) dan NPK terbaik untuk meningkatkan efisiensi hara dan hasil jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari lima taraf perlakuan dan setiap taraf diulang sebanyak lima kali, sehingga diperoleh 25 satuan percobaan. Hasil menunjukkan perlakuan kombinasi (P3 dan P4) memberikan pengaruh terhadap serapan dan efisiensi hara. Secara signifikan, perlakuan P4 (50% NPK + 100% Pukan) menghasilkan serapan N tertinggi (107,64 kg N ha-1), sekaligus menunjukkan efisiensi penggunaan N, P, dan K yang optimal. Keunggulan ini disebabkan oleh peran pukan yang memperbaiki sifat kimia tanah. Pukan berhasil meningkatkan pH tanah dan Kapasitas Tukar Kation (KTK), sehingga mengatasi masalah fiksasi Fosfor (P) dan pencucian Kalium (K) yang menjadi kendala utama ultisol. Secara agronomi, perlakuan P4 menghasilkan berat pipil tertinggi (3.400-3.500 kg/ha) yang setara dengan perlakuan P3. Penelitian menyimpulkan substitusi 50% dosis NPK dengan pupuk kandang kambing adalah strategi yang efisien dan berkelanjutan untuk budidaya jagung di lahan ultisol.
Karakteristik Kimia, Aktivitas Antioksidan, dan Karakteristik Sensoris Minuman Kakao Berbasis Kacang-Kacangan Joshua Christmas Natanael Luwidharto; Viki Hendi Kurniaditya; Adelia Nur Purnama Sari
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): ARTICLES IN PRESS
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.615

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik kimia, aktivitas antioksidan, dan tingkat penerimaan minuman kakao berbasis kacang-kacangan sebagai alternatif pengganti susu pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Formulasi minuman kakao dilakukan dengan penambahan sari kacang hijau, kacang tanah, dan kacang kedelai, kemudian dibandingkan dengan kontrol tanpa penambahan kacang-kacangan. Analisis meliputi komposisi proksimat (protein, lemak, karbohidrat, kadar air, kadar abu, serat kasar, dan energi), kandungan mineral (kalsium dan fosfor), aktivitas antioksidan, total fenol, serta evaluasi sensoris dengan 30 panelis menggunakan skala hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kacang-kacangan meningkatkan kadar protein, lemak, serat, energi, serta mineral secara signifikan dibandingkan kontrol. Formulasi dengan kacang kedelai menghasilkan kadar protein dan serat tertinggi, sedangkan kacang tanah memberikan kontribusi tertinggi terhadap kadar lemak. Aktivitas antioksidan dan total fenol juga meningkat pada semua formulasi dengan penambahan kacang-kacangan, terutama pada sampel berbasis kedelai. Hasil uji sensoris menunjukkan bahwa minuman kakao berbasis kacang-kacangan secara umum dapat diterima dengan baik oleh panelis. Minuman coklat dengan penambahan kacang kedelai dan kacang hijau menghasilkan kesukaan panelis yang tinggi pada setiap parameter dan tidak berbeda signikan dengan kontrol. Dengan demikian, minuman kakao berbasis kacang-kacangan berpotensi sebagai produk alternatif bergizi, kaya antioksidan, dan relevan untuk mendukung diversifikasi pangan lokal. Kata kunci: Antioksidan, Kakao, Leguminosa, Makan Bergizi Gratis, Protein Abstract. This study aimed to evaluate the chemical characteristics, antioxidant activity, and acceptability of legume-based cocoa beverages as an alternative to milk in the Free Nutritious Meal (MBG) program. Cocoa beverages were formulated with mung bean, peanut, and soybean extracts, and compared to a control sample without legumes. Analyses included proximate composition (protein, fat, carbohydrate, moisture, ash, crude fiber, and energy), mineral content (calcium and phosphorus), antioxidant activity (DPPH method), total phenolic content, and sensory evaluation assessed by 30 untrained panelists using a hedonic scale. The results showed that the addition of legumes significantly increased protein, fat, fiber, energy, and mineral contents compared to the control. Soybean-based formulation exhibited the highest protein and fiber levels, while peanut-based formulation provided the highest fat content. Antioxidant activity and total phenolic content also increased in all legume-based formulations, particularly in soybean samples. Sensory evaluation indicated that legume-based cocoa beverages were generally well accepted by panelists, which was chocolate beverages supplemented with soybeans and mung beans received high preference scores from the panelists across all evaluated parameters and showed no significant difference compared to the control. Therefore, legume-based cocoa beverages have potential as nutritious, antioxidant-rich products and are relevant for supporting local food diversification. Keywords: Antioxidants; Cocoa; Legumes; Makan Bergizi Gratis; Protein