cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 723 Documents
PENERAPAN SOLUTION-FOCUSED BRIEF THERAPY DENGAN PENDEKATAN KELOMPOK UNTUK MEMPERBAIKI KONSEP DIRI REMAJA DI LPKA SLM Jerry Jerry; Woro Kurnianingrum; Debora Basaria
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3869.2020

Abstract

ABSTRACTAdolescents face the developmental task of  'identity versus identity confusion' which requires them to form a complete picture of themselves through the process of exploration of various types of work, values or ideologies and sexual identity. The concept of self begins to develop and stabilize in adolescence due to the formation of self-identity. Adolescents with negative self-concepts are more inclined to become deviants as a form of inability to adjust to the norms, causing them to be involved in legal issues. Adolescents in juvenile correctional facilities tend to show negative self-concepts compared to others. Negative views on themselves, coupled with being labelled as criminals results in low self-concept. Therefore, the aim of this study is to assess the effectiveness of solution-focused brief therapy with a group approach to improve self-concept in adolescents in SLM LPKA. The sampling technique used in this study was purposive sampling, which found five teenagers in SLM LPKA with low self-concepts as seen from DAP pre-test results. This study used one group pre-test post-test research design in which participants were administered DAP test before and after the intervention, and the results compared. Solution-focused brief therapy with a group approach in this study was conducted in five sessions for 60 minutes each. The five participants showed better self-concept after intervention. Changes could be seen during the intervention process and from the results of the DAP post-test. Based on the results obtained, it can be concluded that solution-focused brief therapy with a group approach is effective to improve self-concept in adolescents in SLM LPKA. Remaja menghadapi tugas perkembangan ‘identity versus identity confusion’ yang menuntut mereka harus membentuk gambaran yang utuh mengenai diri sendiri melalui proses eksplorasi terhadap berbagai jenis pekerjaan, nilai atau ideologi serta identitas seksual. Konsep diri mulai berkembang dan stabil pada masa remaja karena mulainya pembentukkan identitas diri. Remaja yang memiliki konsep diri yang negatif mudah melakukan tindakan yang menyimpang sebagai bentuk ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku sehingga menyebabkan remaja terlibat dalam masalah hukum. Remaja yang berada dalam lembaga permasyarakatan dapat menunjukkan konsep diri yang cenderung negatif dibandingkan dengan remaja lainnya. Pandangan negatif terhadap dirinya dengan label remaja pidana membuat remaja memiliki  konsep diri yang rendah.  Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas penerapan solution-focused brief therapy dengan pendekatan kelompok untuk memperbaiki konsep diri pada remaja di LPKA SLM. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive samping yaitu lima orang remaja di LPKA SLM yang memiliki konsep diri rendah dilihat dari pre-test DAP. Penelitian ini menggunakan desain penelitian one group pre-test post-test dimana partisipan diberikan tes DAP untuk mengetahui perbandingan hasil sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Solution-focused brief therapy dengan pendekatan kelompok dalam penelitian ini diberikan sebanyak lima sesi yang dilakukan selama 60 menit setiap sesi. Terlihat kelima partisipan menunjukkan konsep diri yang lebih baik. Perubahan dapat dilihat dari selama proses intervensi berlangsung dan hasil post-test DAP. Berdasarkan hasil yang didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa solution-focused brief therapy dengan pendekatan kelompok cukup efektif untuk memperbaiki konsep diri pada remaja di LPKA SLM.
PENGEMBANGAN KAMUS KOMPETENSI TEKNIS DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR MESIN PERTANIAN Jaya, Winandi Marda; Nurendra, Annisaa Miranty
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3382.2019

Abstract

PT. KIX (inisial) merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang sedang menyesuaikan diri dengan tantangan bisnis saat ini. Dengan demikian, PT. KIX memerlukan pemetaan terhadap hubungan sebab akibat permasalahan yang terjadi dengan proses bisnis sebelum mengembangkan intervensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas organisasi di PT. KIX, mengetahui hubungan sebab akibat permasalahan yang terjadi, dan mengembangkan intervensi yang sesuai. Action research adalah metode yang digunakan dengan menggunakan teori open system sebagai panduan diagnosis. Data yang disajikan bersifat kuantitatif (kuesioner, studi dokumen) dan kualitatif (observasi, wawancara, studi dokumen). Jumlah responden kuesioner sebanyak 92 orang yang terdiri dari operator, staf, inspektur, kepala seksi, kepala bagian, dan manajer. Sementara itu, responden wawancara berjumlah 5 orang yang terdiri dari 3 manajer, 1 kepala seksi, dan 1 kepala bagian. Validasi dilakukan melalui kajian teori yang disesuaikan dengan budaya dan proses bisnis perusahaan, serta judgement expert, yaitu manajer HR, kepala bagian dan pemegang jabatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan adanya kebutuhan terhadap pengembangan kamus kompetensi teknis dan aspek-aspek yang diperlukan dalam pembuatan kamus kompetensi teknis tersebut. Kesimpulan penelitian ini yaitu, proses bisnis yang ada di PT. KIX belum berjalan efektif, sehingga intervensi yang dilakukan adalah mengembangkan kamus kompetensi teknis di salah satu divisi yang ada di PT. KIX. Meskipun demikian, konsep yang digunakan dapat diaplikasikan di divisi lain sehingga diharapkan dapat membantu dalam pengelolaan sumber daya manusia yang ada di PT. KIX. PT. KIX is manufacturing company that adapting with business challenges. So that, PT. KIX needs to analyze the causes and impacts of existing problems with business processes before applying interventions. This research aims to measure the effectiveness of organization at PT. KIX based on the causes and impacts of existing problems, and developing appropriate interventions. Action research is the method used in this study with open system theory as a diagnosis guide. The data presented in both quantitative (questionnaire, document study) and qualitative (observation, interview, and document study). Participants of questionnaire is 92 included operators, staff, inspector, section head, head of divison, and manager. Meanwhile, the number of qualitative participant is five included three managers, one section head, and one head of division. The validation was measured by using theoretical study, which is appropriated with organization culture and business processes, and judgment expert (HR manager, section head, and job holders). This study found that there was a need for development of technical competency dictionary and the aspects needed to developing the technical competency dictionary. The conclusion of this study is the business processes at PT. KIX has not effective yet. So that, the intervention needed is developing a technical competency dictionary in one of divisions in PT. KIX. Nevertheless, the concepts that used can be applied in other divisions, so that it is expected to help in the management human resources in PT. KIX.
PERANAN COGNITIVE FLEXIBILITY, SELF-ESTEEM, DAN LONELINESS TERHADAP CELEBRITY WORSHIP PADA REMAJA Aufa, Rahmatul; Mar'at, Samsunuwiyati; Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3483.2019

Abstract

Saat ini fenomena demam idola kian menyemarak di Indonesia. Semakin tinggi tingkat pengidolaan seseorang, maka semakin tinggi juga tingkat keterlibatan dengan sosok yang di idolakan. Semakin individu mengidolakan atau terlibat dengan sosok yang di idolakan maka semakin besar pula keintiman (intimacy) yang diimajinasikan terhadap sosok idola tersebut. Ketika individu menjadikan selebriti fokus utama hidupnya, maka disfungsi akan terbentuk. Beberapa individu akan membentuk hubungan khayalan dengan selebriti idola mereka dan akhirnya mengarah ke obsesi virtual terhadap selebriti idola. Obsesi inilah yang akhirnya dikenal dengan istilah celebrity worship (McCutcheon,Maltby, & Houran, 2003). Beberapa penelitian menunjukkan celebrity worship dikaitkan dengan traits para penggemar yang patologis, negatif dan menyimpang, kinerja dan keterampilan belajar yang rendah, self-esteem yang rendah dan memiliki kesulitan dalam membentuk identitasnya, psyhological well-being yang rendah.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peranan cognitive flexibility, self-esteem, loneliness, terhadap celebrity worship pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis multiple regresi. Sampel penelitian ini remaja berjumlah 630 orang dengan usia 10-24 tahun yang memiliki tokoh selebriti idola. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non-probability sampling, yakni purposive sampling. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif. yaitu dengan cara menyebar kuesioner penelitian kepada partisipan yang memenuhi kriteria. Dalam penelitian ini, peneliti mengadaptasi instrument pengumpulan data, yaitu celebrity attitude scale (CAS) 22 item, cognitive flexibility scale 12 item, Rosenberg Self Esteem Scale (RSES)10 item dan UCLA loneliness scale 20 item. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peranan dari cognitive flexibility, self-esteem, loneliness, usia dan jenis kelamin sebagai data  demografi terhadap celebrity worship pada remaja dengan nilai R2 sebesar 12,1%. Secara parsial, terdapat dua variabel yang berperan positif terhadap celebrity worship, yaitu variabel cognitive flexibility, dan variabel loneliness. The idol fever phenomenon is increasingly popular in Indonesia. The higher the level of one's idolization, the higher the level of involvement with the idol. The more individuals idolize or engage with idolized figures, the greater the intimacy imagined against the idol figure. When an individual makes a celebrity the main focus of his/her life, then dysfunction will form. Some individuals will form imaginary relationships with their idol celebrities which will eventually lead to virtual obsession with idol celebrities. This obsession is also known as celebrity worship (McCutcheon, Maltby, & Houran, 2003). Several studies show celebrity worship is associated with fans' pathological, negative, and distorted traits, low performance and learning skills, low self-esteem and difficulty in forming their identities, along with low psyhological well-being. This research was conducted to determine the role of cognitive flexibility, self-esteem, and loneliness, against celebrity worship in adolescents. This research uses quantitative approach with multiple regression analysis. The sample of this study were 630 teenagers aged 10-24 years who had idols. The sampling technique uses non-probability sampling technique, namely purposive sampling. This research was conducted using quantitative methods by distributing research questionnaires to participants who meet the criteria. In this study, researchers adapted data collection instruments, which are 22 items celebrity attitude scale (CAS), 12 items cognitive flexibility scale, 10 items Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) and UCLA loneliness scale of 20 items. The results of this study indicate the role of cognitive flexibility, self-esteem, loneliness, age and gender as demographic data on celebrity worship in adolescents with an R2 of 12.1%. Partially, there are two variables that have a positive role in celebrity worship, namely the cognitive flexibility variable, and the loneliness variable.
PERBEDAAN FAKTOR RISIKO RESILIENSI PADA TINGKAT SISWA SMP, SMA DAN MAHASISWA POLITEKNIK (STUDI KASUS PADA SEKOLAH DI JAKARTA, JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR) Marat, Samsunuwiyati; Idulfilastri, Rita Markus; Dewi, Fransisca Iriani R.; Bahiyah, Siti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.7499.2019

Abstract

Penelitian mengenai resiliensi remaja secara indegenous belum banyak dilakukan. Penelitian mengenai faktor-faktor risiko di dalam resiliensi remaja Cina Benteng telah ditemukan adanya 7 (tujuh) faktor risiko yang dihadapi remaja yaitu (1) bencana alam (banjir), (2) pergaulan seks bebas, (3) penyalahgunaan narkoba, (4) bullying, (5) kemacetan lalu lintas, (6) pemalakan, (7) informasi negatif dari media sosial. Ke tujuh faktor risiko ini digunakan untuk menguji faktor risiko pada remaja dengan cakupan remaja yang lebih luas dan mempertahankan keragaman indigenous. Tujuan penelitian adalah menguji apakah ada perbedaan sikap pada remaja SMP, SMA dan Perguruan Tinggi sehingga remaja mampu bertahan atau keluar dari kesulitan hidupnya berdasarkan 7 faktor risiko resileiensi. Jumlah partisipan sebanyak 567 orang terdiri dari siswa SMP sebanyak 179 orang, siswa SMA sebanyak 221 orang dan mahasiswa duduk di semester 1 sebanyak 167 orang, sedangkan wilayah pengambilan data di Jakarta, Jawa Tengah-kota Purwokerto dan Jawa Timur-kota Bojonegoro. Pengolahan data menggunakan SPSS versi 22 dengan teknik statistik One-way ANOVA. Hasil pengujian adanya perbedaan (sig.< 0,05) pada faktor risiko bencana alam/banjir, perilaku seks bebas, narkoba, kemacetan lalu lintas dan informasi negatif dari media sosial. Artinya, siswa SMP, siswa SMA dan mahasiswa bersikap berbeda-beda terhadap faktor-faktor risiko tersebut. Sedangkan faktor risiko bullying tidak terbukti adanya perbedaan (sig.>0,05), dengan demikian ditanggapi dengan sikap sama antara siswa SMP, SMA dan Politeknik. Jika ditinjau dari tingkat pendidikan terbukti siswa SMA dan SMP bersikap sama (sig.>0,05) pada faktor risiko bencana alam dan kemacetan lalu lintas. Sedangkan, mahasiswa dan siswa mempunyai kesamaan sikap pada faktor risiko informasi negatif di media sosial. Terkait dengan budaya lokal terbukti bahwa remaja SMA di Jakarta, Purwokerto dan Bojonegoro berbeda sikap menyingkapi risiko yang dihadapinya terutama mengenai narkoba. Namun kesamaan sikap ketika dihadapi oleh situasi pemalakan dan mendapatkan informasi negatif dari sosial media. Remaja Jakarta mempunyai banyak sikap berbeda dengan remaja di Purwokerto dan Bojonegoro. There is little research on indigenous adolescents’ resilience. Research on risk factors in resilience of Benteng China adolescents has found 7 (seven) risk factors faced by adolescents, namely (1) natural disasters (floods), (2) promiscuity, (3) drug abuse, (4) bullying, (5) traffic congestion, (6) mugging, (7) negative information from social media. These seven risk factors are used to test risk factors broader range of adolescents while maintaining maintain indigenous diversity. The purpose of this study is to test whether there are differences in attitudes in adolescents of junior high, high school and tertiary institutions that allow adolescents to survive or solve their life issues based on the 7 risk factors for resilience. The number of participants were 567 people consisted of 179 junior high school students, 221 high school students and 167 students in semester 1 of tertiary education, while the data collection areas were in Jakarta, Central Java in Purwokerto and East Java in Bojonegoro. Data was processed using SPSS version 22 with One-way ANOVA statistical technique. The test results show differences (sig. <0.05) on risk factors for natural disasters / floods, free sex, drugs, traffic jams and negative information from social media. This means that middle school students, high school students and college students behave differently towards these risk factors. Meanwhile the risk factors for bullying have not shown significant differences (sig.> 0.05), causing similar responses among middle, high school and polytechnic students. When viewed from the level of education it is proven that high school and junior high school students behave in the same way (sig.> 0.05) on natural disaster risk factors and traffic congestion. Meanwhile, college students and students have the same attitude towards negative information on social media. Associated with local culture, it is evident that high school students in Jakarta, Purwokerto and Bojonegoro have different attitudes toward the risks they face, especially regarding drug abuse but similar attitudes when faced with mugging and exposure to negative information from social media. Adolescents in Jakarta show many different attitudes compared to adolescents in Purwokerto and Bojonegoro.
GROUP ART THERAPY UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM REMAJA DI LPKA TNG Misty, Eviana; Tirta, Stella
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3872.2020

Abstract

Adolescence is a transitional period between childhood and adulthood which is marked by physical and psychological changes, the desire to be free from authority, curiosity, the search for self-identity, and the formation of peer groups, and therefore, adolescence is an important period for the development of self-esteem. There are several psychological impacts experienced by adolescents in LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), one of which is low self-esteem. One way to increase self-esteem is to use art therapy. This study was conducted in TNG LPKA on 6 adolescents known as AR, SJ, MR, TA, PA, and AN who showed low self-esteem. Group interventions were conducted using group art therapy for eight sessions. This study uses semi-structured interviews, as well as the Draw-a-Person test, the BAUM test, and the Wartegg Zeichen Test; which were analyzed to obtain a comparative picture of self-esteem before and after group intervention. Based on the results of observations, Draw-a-Person and BAUM tests, an increase in self-esteem in the six participants was found, as well as attitudes and activeness in the group. The results of the Wartegg Zeichen Test differ for each participant. These results indicate that group art therapy is quite effective in increasing adolescent self-esteem in TNG LPKA. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dan menuju ke masa dewasa yang ditandai dengan timbulnya perubahan fisik dan psikis, keinginan bebas dari kekuasaan, rasa ingin tahu, mencari dan menemukan identitas diri, serta pembentukan kelompok sebaya, sehingga pada masa remaja merupakan masa yang penting dalam perkembangan self-esteem. Terdapat beberapa dampak psikologis yang dialami remaja berada di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), satu diantaranya adalah self-esteem yang rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan self-esteem adalah dengan menggunakan art therapy. Penelitian ini dilaksanakan di LPKA  TNG terhadap 6 remaja dengan inisial AR, SJ, MR, TA, PA, dan AN yang menunjukkan indikasi self-esteem yang rendah. Intervensi kelompok dilakukan dengan menggunakan group art therapy selama delapan sesi. Penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur, serta tes Draw-a-Person, tes BAUM, dan Wartegg Zeichen Test; yang dianalisis untuk mendapatkan gambaran perbandingan self-esteem sebelum dan sesudah pemberian intervensi kelompok. Berdasarkan hasil observasi dan tes Draw-a-Person serta BAUM, ditemukan peningkatan self-esteem pada keenam partisipan baik dari perubahan tingkat self-esteem serta dari sikap dan keaktifan dalam kelompok. Perbedaan hasil Wartegg Zeichen Test berbeda-beda dari setiap partisipan. Hasil tersebut menunjukkan group art therapy cukup efektif untuk meningkatkan self-esteem remaja di LPKA  TNG.
PENERAPAN BIBLIOTHERAPY UNTUK MENURUNKAN TINGKAT PERILAKU AGRESI PADA REMAJA DI LPKA X Aryani, Fransiska Xaveria; Basaria, Debora; Pranawati, Santy Yanuar
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3803.2020

Abstract

Adolescence is a period marked by the search for self-identity. Self-identity is a concept of self, an opportunity to achieve agreeable goals, values, and beliefs starting in adolescence. When adolescents experience problems in their search for identity - or when adolescents have limited opportunities - they are at risk of displaying behaviors with negative consequences. Adolescents with poor impulse control are more likely to display aggressive behavior and not think about their future. Aggression is defined as a physical or verbal behavior that hurts, threatens, or endangers other targeted individuals or objects. Bibliotherapy is an intervention that reduces the level of aggression in children and adolescents, therefore this study aims to determine the effectiveness of bibliotherapy in reducing the level of aggressive behavior among adolescents in X LPKA. Research and group intervention using bibliotherapy involved six participants. All participants are adolescents with a tendency towards aggression and were inmates at X LPKA. This study uses one group pre-test post-test design. The intervention process was conducted throughout 6 sessions and each session lasted between 60-90 minutes. The results of the intervention shows that bibliotherapy is effective to reduce the level of aggressive behavior in adolescents in LPKA X. This can be seen from the results of the evaluation of interventions and pre-test and post-test comparison. In addition to changes in the level of aggressive behavior, changes are also seen in the proactivity of participants in the group. Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri. Identitas diri merupakan konsep mengenai diri, kesempatan mencapai tujuan, nilai, dan kepercayaan yang ingin disepakati mulai pada masa remaja. Ketika remaja mengalami masalah saat pencarian identitasnya – atau ketika remaja hanya memiliki kesempatan yang terbatas – remaja beresiko menampilkan perilaku dengan konsekuensi negatif. Remaja yang masih cenderung memiliki kontrol dorongan yang buruk dapat menyebabkan remaja tersebut kemungkinan besar untuk menampilkan perilaku agresi dan tidak memikirkan masa depannya. Agresi didefinisikan sebagai suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam, atau membahayakan individu lain atau objek-objek yang menjadi sasaran perilaku tersebut secara fisik atau verbal. Bibliotherapy merupakan salah satu jenis intervensi untuk menurunkan tingkat agresi pada anak dan remaja, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas penerapan bibliotherapy untuk menurunkan tingkat perilaku agresi pada remaja di LPKA X. Penelitian dan intervensi kelompok dengan bibliotherapy ini melibatkan enam partisipan. Seluruh partisipan merupakan remaja dengan kecenderungan perilaku agresi dan berstatus sebagai anak didik lapas (andikpas) di LPKA X. Penelitian ini menggunakan one group pre-test post-test design. Proses intervensi dilaksanakan dalam 6 sesi dan setiap sesinya berlangsung antara 60-90 menit. Hasil intervensi dapat menunjukkan bahwa bibliotherapy efektif digunakan untuk menurunkan tingkat perilaku agresi pada remaja di LPKA X. Efektivitas bibliotherapy untuk menurunkan tingkat perilaku agresi pada remaja dapat dilihat dari hasil evaluasi intervensi dan perbandingan pre-test dan post-test. Selain perubahan pada tingkat perilaku agresinya, perubahan juga terlihat pada keaktifan partisipan dalam kelompok.
TEKNOLOGI DIGITAL SEBAGAI MEDIA OBJEKTIFIKASI PEREMPUAN: KAJIAN KRITIS MEDIA SOSIAL Khairah, Himmatul; Tambunan, Shuri Mariasih Gietty
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3507.2019

Abstract

Sebagai bagian dari perkembangan teknologi digital yang sangat dinamis, media sosial dapat berfungsi sebagai media pemberdayaan perempuan atau media untuk meningkatkan kesadaran (awareness) terhadap isu-isu gender. Akan tetapi, dalam kenyataannya, media sosial justru dipakai sebagai alat pelanggeng dominasi ideologi patriarki yang memosisikan perempuan sebagai obyek atau pihak yang lebih inferior. Kajian kritis terhadap media sosial melalui pendekatan multi disiplin seperti yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode digital ethnography harus terus dikembangkan agar penelitian akademis dapat membongkar ideologi dominan dalam praktik budaya yang terjadi di media sosial. Penelitian ini menganalisis bagaimana media sosial Instagram digunakan oleh penggunanya, dalam hal ini seorang public figure, yang memiliki follower dalam jumlah banyak melalui akun @phtfcl, untuk mengkonstruksi imaji laki-laki maskulin sebagai individu yang sukses karena memiliki kekayaan yang dapat digunakan untuk mendapatkan perempuan ‘ideal’. Pemikiran dasar penelitian ini adalah bagaimana objektifikasi perempuan terutama dalam media sosial sangat terkait dengan status sosial perempuan di dunia ‘nyata.’ Inilah yang kemudian menjadi signikansi utama mengapa media sosial harus selalu dipermasalahkan kompleksitasnya. Permasalahan utama adalah bagaimana PHT mengkonstruksi pemaknaan dominan atas dirinya sebagai bagian dari konstruksi dominan mengenai maskulinitas yang memosisikan perempuan sebagai obyek. Temuan penelitian menunjukkan objektifikasi perempuan sebagai bentuk pelanggengan budaya patriarki yang direproduksi secara berkesinambungan oleh media sosial. Akan tetapi, peneliti juga menemukan adanya dinamika afirmasi dan kontestasi oleh warganet sebagai bagian dari masyarakat jejaring yang secara aktif menunjukkan agensinya dalam memaknai objektifikasi tersebut. As part of the dynamic development of digital technology, social media serves as a medium for women empowerment or to increase awareness of gender issues. However, in reality, social media is often used as a tool to perpetuate the domination of patriarchal ideology that positions women as more inferior objects or party. Critical studies of social media through a multidisciplinary approach as conducted in this study using digital ethnography methods must continue to be developed in order for academic research to dismantle the dominant ideology in cultural practices that occur in social media. This study analyze how Instagram social media is used, in this case, by a public figure with a large number of followers through the @phtfcl account, to construct the image of masculine men as successful individuals because they have wealth that can be used to get 'ideal' women. The basic thinking of this research is how the objectification of women, especially in social media is closely related to the social status of women in the 'real' world. This is then the main significance of why social media must always be questioned about its complexity. The main problem is how PHT constructs the dominant meaning of himself as part of the dominant construction of masculinity that positions women as objects. Research findings show objectification of women as a form of perpetuating patriarchal culture that is reproduced on an ongoing basis by social media. However, researchers also found the dynamics of affirmation and contestation by citizens as part of a networked society that actively shows its agency in interpreting said objectification.
SELF-EFFICACY SISWA SD YANG MENGHADAPI SOAL CERITA MATEMATIKA: DAMPAK PENGAJARAN STRATEGI METAKOGNITIF IDEA Darmawan, Natalia W.; Tiatri, Sri; Mularsih, Heni
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3487.2019

Abstract

Performa pemecahan soal cerita matematika pada siswa SD di Indonesia masih rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya performa pemecahan soal cerita matematika adalah self-efficacy rendah pada siswa. Untuk mengembangkan self-efficacy siswa diperlukan penguasaan strategi belajar yang efektif. Beberapa penelitian yang menguji keterkaitan antara strategi metakognitif dan pemecahan masalah matematika telah banyak dilakukan, namun di Indonesia menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh pengajaran strategi metakognitif IDEA terhadap peningkatan self-efficacy soal cerita matematika pada siswa kelas 5 SD. Strategi metakognitif IDEA merupakan metode pengajaran soal cerita matematika yang dikembangkan berdasarkan teori Polya (1973) terdiri dari empat langkah, yaitu memahami masalah, membuat rencana perhitungan, melakukan perhitungan, dan melakukan pengecekan kembali. Self-efficacy pemecahan soal cerita matematika merupakan suatu keyakinan individu atas kemampuannya dalam mengatur diri dan menyelesaikan tugas pemecahan soal cerita matematika. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5 SD X Jakarta Barat berjumlah 6 siswa. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Pengukuran self-efficacy soal cerita matematika menggunakan kuesioner self-efficacy yang disusun berdasarkan teori Bandura (1997) meliputi dimensi level, generality, dan strength. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif, dengan desain penelitian quasi experiment, one group pretest-posttest. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik paired sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada self-efficacy pemecahan soal cerita matematika sebelum dan sesudah pengajaran strategi metakognitif (t = -1.535, ρ > 0.05). Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh pengajaran strategi metakognitif terhadap peningkatan self-efficacy soal cerita matematika pada siswa kelas 5 SD.    Elementary school students in Indonesia still struggle to solve mathematical word problems. One factor that causes this is low self-efficacy among students. To develop self-efficacy, students need mastery of effective learning strategies. Several studies examining the link between metacognitive strategies and mathematical problem solving have been carried out, however in Indonesia they show varied results. This study aims to examine the effect of teaching IDEA metacognitive strategies on increasing self-efficacy of 5th grade students in doing mathematical word problems. IDEA metacognitive strategy is a method of teaching mathematical world problems developed based on Polya's (1973)  theory consisting of four steps, namely understanding the problem, making a calculation plan, doing the calculation, and re-checking. Self-efficacy in solving mathematical word problems is an individual's belief in his/her ability to organize themselves and complete the task of solving mathematical word problems. The samples in this study were six 5th grade students of SD X West Jakarta. The sampling technique is purposive sampling. Measurement of self-efficacy in solving mathematical word problems used a self-efficacy questionnaire that was compiled based on Bandura's (1997)  theory which includes levels, generality, and strength dimensions. The research method is quantitative, with a quasi-experimental research design, one group pretest-posttest. Data analysis was performed using paired sample T-test statistical test. The result shows that there is no significant differences in the self-efficacy in solving mathematical word problems before and after teaching metacognitive strategies (t = -1.535, ρ > 0.05). Based on the results of the analysis, it was concluded that teaching metacognitive strategies has no effect on increasing self-efficacy in solving math word problems among 5th grade students.     
Kata Pengantar JMISHS Vol 3 No 2 UNTAR, DPPM
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata Pengantar JMISHS Vol 3 No 2
PENGARUH KEPUASAN KERJA TERHADAP PROXIMAL WITHDRAWAL STATES PADA KARYAWAN PERUSAHAAN PERBANKAN Venesia, Venesia; Tumanggor, Raja O.; Suyasa, P. Tommy Y.S.
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3496.2020

Abstract

Banks play an important role in a country's economy. However, banks face various challenges in meeting their objectives. One of the challenges faced by some banks is a high employee turnover rate. In regards to turnover, there is a new concept of proximal withdrawal states proposed by Hom, Mitchell, Lee, and Griffeth (2012) as the closest and more accurate predictor of turnover than intention to leave (Li, Lee, Mitchell, Hom, & Griffeth, 2016).Proximal withdrawal states is the condition of one's motivation towards the company where he/she works, which consists of two dimensions, namely (a) preference to leave or stay in the company (intention to leave) and (b) control of those desires (perceived control over preference). The combination of the two dimensions forms four types of proximal withdrawal states, namely enthusiastic leavers, reluctant stayers, reluctant leavers, and enthusiastic stayers. Job satisfaction, which has a significant negative relationship with intention to quit (Masum et al., 2016), proved to be more accurate in predicting turnover when analyzed with proximal withdrawal states (Li et al., 2016).This study aims to determine the effect of job satisfaction on proximal withdrawal states in banking company employees. This study uses descriptive non-experimental research method, with purposive sampling technique. 273 banking company employees who participated in this study. The results of the analysis using multinominal logistic regression testing showed the effect of job satisfaction on proximal withdrawal states for banking employees. The higher the level of job satisfaction of banking employees, the greater the tendency for employees to become enthusiastic stayers or reluctant stayers, both of whom have a desire to remain in the company. Bank memiliki peran penting bagi perekonomian negara. Namun bank menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi tujuannya. Salah satu tantangan yang dihadapi beberapa bank adalah tingkat turnover karyawan yang tinggi. Terkait dengan turnover, terdapat konsep baru mengenai proximal withdrawal states yang diusulkan oleh Hom, Mitchell, Lee, dan Griffeth (2012) sebagai faktor (prediktor) yang paling dekat dan lebih akurat untuk memprediksi turnover dibandingkan intention to leave (Li, Lee, Mitchell, Hom, & Griffeth, 2016). Proximal withdrawal states adalah kondisi motivasi seseorang terhadap perusahaan di mana ia bekerja, yang terdiri dari dua dimensi yaitu (a) preferensi untuk keluar atau menetap di perusahaan (intention to leave) dan (b) kendali atas keinginan tersebut (perceived control over preference). Perpaduan kedua dimensi tersebut membentuk empat jenis proximal withdrawal states, yaitu enthusiastic leavers, reluctant stayers, reluctant leavers, dan enthusiastic stayers. Kepuasan kerja, yang memiliki hubungan signifikan negatif dengan intention to quit (Masum et al., 2016), terbukti semakin akurat dalam memprediksi turnover ketika dianalisis dengan proximal withdrawal states (Li et al., 2016). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap proximal withdrawal states pada karyawan perusahaan perbankan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian non eksperimental deskriptif, dengan teknik purposive sampling. Terdapat 273 karyawan perusahaan perbankan yang menjadi partisipan dalam penelitian ini. Hasil analisis dengan pengujian regresi logistik multinominal menunjukkan adanya pengaruh kepuasan kerja terhadap proximal withdrawal states pada karyawan perbankan. Semakin tinggi tingkat kepuasan kerja karyawan perbankan, maka semakin besar peluang karyawan untuk menjadi enthusiastic stayers ataupun reluctant stayers, di mana keduanya memiliki keinginan untuk menetap di perusahaan.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 3 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni More Issue