cover
Contact Name
Sunu Bagaskara
Contact Email
sunu.bagaskara@yarsi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
melok.roro@yarsi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal Psikogenesis
  • Jurnal-Online-Psikogenesis
  • Website
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 23033177     EISSN : 25977547     DOI : -
Jurnal Psikogenesis is a semiannualy publication produced by Fakultas Psikologi Universitas YARSI since 2012 (e-ISSN: 2597-7547, p-ISSN: 2303-3177). The journal reflects the wide application of all aspects of psychology related to health. It also addresses the social contexts in which psychological and health processes are embedded. The main emphasis of the journal is on original research, theoretical review papers, meta-analyses, and applied studies.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
INTERVENSI DENGAN PENDEKATAN EKLEKTIK YANG BERFOKUS PADA SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HUBUNGAN ROMANTIS PADA DEWASA MUDA DARI KELUARGA DENGAN ORANGTUA BERCERAI Titi Sahidah Fitriana
Jurnal Online Psikogenesis Vol 2, No 1 (2013): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v2i1.40

Abstract

Abstract:This study aims to test the effectiveness of interventions with an eclectic approach that focuses on finding the problems solution in young adults who come from families with divorced parents. This study uses a single subject experimental design, which gives interventions for two participants in four meetings with the duration 90-120 minutes. Effectiveness of interventions evaluated qualitatively through interviews and observation during the session, and compares the attitudes of participants towards marriage and optimism for a romantic relationship (pre and post intervention). Results showed that intervention with an eclectic approach that focuses on finding solutions, effective in improving the quality of romantic relationships in adults who come from families with divorced parents. Participants had more positive attitudes toward marriage and more optimists with a romantic relationship in the future. They also can reduce negative thoughts, maintain beneficial behavior in romantic relationships and improve their quality of romantic relationships, particularly in terms of communication with their partner.Key words: interventions, eclectic approach, romantic relationships, divorced parents.Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas intervensi dengan pendekatan eklektik yang berfokus pada pencarian solusi dari masalah pada dewasa muda dari keluarga dengan orangtua bercerai. Melalui desain penelitian single subject experimental, intervensi diberikan kepada dua orang partisipan dalam empat kali pertemuan dengan durasi 90-120 menit. Efektivitas intervensi dievaluasi secara kualitatif yaitu melalui pengamatan dan wawancara peneliti terhadap perkataan dan insight partisipan selama menjalani sesi intervensi. Efektivitas juga dievaluasi dengan melihat rating partisipan terhadap sikap kepada pernikahan dan optimisme terhadap hubungan romantis di awal dan akhir intervensi. Berdasarkan hasil intervensi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa intervensi dengan pendekatan eklektik yang berfokus pada pencarian solusi, efektif dalam meningkatkan kualitas hubungan romantis pada subjek dewasa muda yang berasal dari keluarga dengan orangtua bercerai. Partisipan memiliki sikap yang lebih positif terhadap pernikahan dan optimisme yang lebih besar terhadap kesuksesan hubungan romantis di masa depan. Partisipan juga mendapatkan manfaat intervensi berupa mengurangi pikiran-pikiran negatif, mempertahankan perilaku yang bermanfaat dalam hubungan romantis dan meningkatkan kualitas hubungan romantis terutama dalam hal komunikasi dengan pasangan.Kata kunci: intervensi, pendekatan eklektik, hubungan romantis, orang tua bercerai
Hubungan Culture Intelligence dengan Organizational Citizenship Behavior melalui Kepemimpinan Transformasional Angela Irena Sindoro Dahzuki; Aditya Nanda Priyatama; Rafika Nur Kusumawati
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 2 (2018): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.884 KB) | DOI: 10.24854/jps.v6i2.697

Abstract

Perilaku yang tidak terdapat pada deksripsi pekerjaan secara formal dalam sebuah pekerjaan tetapi jika dilakukan akan dihargai atau dapat disebut sebagai Organizational Citizenship Behavior. Perilaku ini muncul karena terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi, salah satunya kepemimpinan transformasional. Selain karakteristik seorang pemimpin, organisasi perlu menyadari bahwa setiap karyawan mempunyai latar belakang budaya atau kultur yang berbeda. Culture Intelligence hadir untuk memahami keberagaman dari berbagai budaya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hubungan culture intelligence dan organizational citizenship behavior dengan kepemimpinan transformasional sebagai variabel mediator, (2) mengetahui hubungan culture intelligence dan organizational citizenship behavior (3) mengetahui hubungan culture intelligence dengan kepemimpinan transformasional, (4) mengetahui hubungan kepemimpinan transformasional dan organizational citizenship behavior. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan sampel sebanyak 73 karyawan yang terdiri dari 44 karyawan laki-laki dan 29 karyawan perempuan . Hasil uji hipotesis menunjukkan  persamaan langsung antara culture intelligence dan organizational citizenship behavior sebesar 0,203, sementara persamaan tidak langsung antara culture intelligence dan organizational citizenship behavior yang dimediatori oleh kepemimpinan transformasional adalah sebesar 0,378. Penelitian ini bersifat mediasi sempurna dikarenakan hubungan culture intelligence dan organizational citizenship behavior bernilai tidak signifikan positif, sedangkan untuk hubungan culture intelligence dan kepemimpinan transformasional serta hubungan kepemimpinan transformasional dan organizational citizenship behavior bernilai positif dan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, culture intelligence dan organizational citizenship behavior yang dimediatori oleh kepemimpinan transformasional terdapat hubungan yang signifikan dan positif.
POWER IN MARRIAGE PADA IBU BEKERJA DAN IBU RUMAH TANGGA Yuni Nurhamida
Jurnal Online Psikogenesis Vol 1, No 2 (2013): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v1i2.45

Abstract

Abstract.This research aimed to compare power in marriage in employed mother and unemployed mother. Power in marriage is sharing power between husband and wife that consist of 3 aspects : share in household task, child care task, and sharing power in decision making. Sample in this research are married women, have children, stay in malang and Batu City. Subject of the research are 120 wives; 60 employed wives and 60 unemployed wives. The result showed very significant differences in sharing household and child care task, which is employed mother share these task more than unemployed mother; but in decision making there is no significant differences among employed and unemployed mother, both of them involve in decision making in family.Keyword : power in marriage, employed mother, unemployed motherAbstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan power in marriage pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Power in marriage adalah pembagian kekuasaan dalam rumah tangga yang terdiri dari 3 aspek, yaitu pembagian tugas dalam rumah tangga, tugas perawatan anak, dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Sampel dalam penelitian ini adalah perempuan yang sudah menikah, memiliki anak, tinggal di Kota Malang dan Kota Batu. Subjek penelitian berjumlah 120 orang; 60 orang ibu bekerja, dan 60 orang ibu rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang sangat signifikan dalam pembagian tugas rumah tangga dan perawatan anak; ibu bekerja lebih banyak berbagi dengan suami dibanding ibu rumah tangga; dan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam keterlibatan mengambil keputusan pada ibu bekerja dan ibu rumah tangga; kedua kelompok tersebut sama-sama cukup terlibat dalam pengambilan keputusan dalam rumah tanggaKata kunci : power in marriage, ibu rumah tangga, ibu bekerja
Efektivitas Teknik Forward Chaining Pada Kemampuan Menggunakan Kemeja Pada Anak Dengan Disabilitas Intelektual Jaslinder Jaslinder; Rini Hildayani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i1.874

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya keterbatasan pada anak dengan disabilitas intelektual tingkat sedang yang belum mampu memakai kemeja secara mandiri. Pada sisi lain, kemeja merupakan salah satu pakaian wajib yang harus anak pakai setiap hari, terutama saat ke sekolah. Penelitian ini menggunakan program modifikasi perilaku dengan teknik forward chaining yang tujuannya mengajarkan anak untuk dapat memakai kemeja secara mandiri. Manfaat dari penelitian ini adalah membantu anak agar lebih mandiri dalam berpakaian dan dapat berfungsi dengan lebih optimal. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah single subject design dengan desain penelitian A-B. Partisipan dalam penelitian ini adalah seorang anak laki-laki berusia 6 tahun 5 bulan dengan diagnosis disabilitas intelektual tingkat sedang. Program modifikasi perilaku dalam penelitian ini menggabungkan teknik forward chaining dengan beberapa teknik lainnya, seperti prompt dan positive reinforcement. Program ini terdiri dari 7 tahapan, dengan masing-masing tiga kali percobaan pada setiap tahapannya. Analisis keberhasilan efektivitas program menggunakan analisis visual dengan membandingkan data yang diperoleh ketika baseline, intervensi, dan follow up. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik forward chaining bersamaan dengan prompt dan positive reinforcement terbukti efektif dalam membantu anak menguasai kemampuan untuk memakai kemeja secara mandiri. 
Gambaran Kepuasan Pernikahan Pada Penyintas Kanker Serviks Pasca Pengobatan Kanker Evryanti Cahaya Putri; Venie Viktoria Rondang Maulina
Jurnal Online Psikogenesis Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.876 KB) | DOI: 10.24854/jps.v4i2.345

Abstract

Setelah menjalani pengobatan, penyintas kanker serviks mengalami perubahan secara fisik, psikologis, dukungan sosial yang diterima, perubahan intimacy dan seksualitas, ekonomi keluarga, serta masalah kesetiaan dan kepercayaan pada pasangan. Hal-hal tersebut terkait dengan karakteristik yang mempengaruhi kepuasan pernikahan seseorang. Kepuasan pernikahan dapat membuat sepasang suami istri mempertahankan pernikahan atau mengakhiri hubungan pernikahan mereka dan bagi para penyintas kanker berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup pada dirinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara semi-structured. Subjek penelitian berjumlah dua orang dan memiliki karakteristik, yaitu penyintas kanker serviks yang telah selesai menjalani pengobatan kanker, berstatus menikah, dan tinggal bersama dengan suami. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kehidupan pernikahan kedua partisipan setelah menjalani pengobatan kanker dipersepsikan puas oleh keduanya. Karakteristik yang mendukung kepuasan pernikahan kedua partisipan yaitu companionship, commitment, responsibility, unselfishness, honesty, trust, and fidelity, serta adaptability, flexibility, and tolerance. Karakteristik yang tidak mendukung yaitu admiration and respect, spirituality and values, serta affection. Karakteristik yang berbeda dalam memengaruhi kepuasan pernikahan kedua partisipan yaitu communication, ability to deal with crises and stress, serta empathy and sensitivity. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan kedua partisipan adalah kedekatan sebelum pernikahan, tempat tinggal, dan pendapatan keluarga. Faktor-faktor yang memiliki pengaruh berbeda adalah kebahagiaan pernikahan orang tua dan pendidikan. Suami memiliki pengaruh yang besar dalam mempersepsikan kepuasan pernikahan bagi peyintas kanker serviks.
Efektivitas Teknik Antecedent Control dan Token Economy dalam Meningkatkan Durasi Perilaku Belajar pada Anak dengan Gangguan Intelektual Taraf Ringan Lena Lena; Dini P. Daengsari
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v7i1.880

Abstract

Perilaku belajar yang konsisten bagi anak dengan mild intellectual disability (MID) merupakan hal penting yang perlu dilakukan untuk dapat memaksimalkan kapasitas kemampuan anak, terutama dalam aspek konseptual. Belajar perlu di lakukan tidak hanya di sekolah, namun juga di rumah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menerapkan perilaku belajar di rumah adalah menggunakan teknik antecedent control dan token economy. Teknik antecedent control dapat dilakukan untuk mengontrol stimulus anteseden, sedangkan teknik token economy diterapkan untuk memanipulasi konsekuensi yang didapatkan dari munculnya perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan teknik antecedent control dan token economy dalam meningkatkan durasi perilaku belajar anak usia sekolah dengan MID. Metode penelitian terbagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap baseline, intervensi, dan follow up yang dilakukan dalam 25 sesi pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan durasi perilaku belajar dari sesi baseline hingga sesi follow up. Rata-rata durasi perilaku belajar anak dengan MID meningkat sebanyak 3 kali lebih lama, yaitu dari 22 menit menjadi 66,2 menit. Hasil penelitian membuktikan bahwa teknik antecedent control dan token economy cukup efektif dalam meningkatkan durasi perilaku belajar di rumah pada anak usia sekolah dengan MID, yang juga berimplikasi pada pengembangan kemampuan pemahaman aspek konseptual. Dengan demikian, teknik tersebut dapat menjadi alternatif intervensi yang bisa diterapkan oleh orangtua terhadap anak MID di rumah untuk mengoptimalkan kapasitas yang mereka miliki.
Perilaku Penyalahgunaan Obat Pada Komunitas Lesbian Di Kota Makassar Indra Fajarwati Ibnu; Muh Syafar; A. Amalia Arismaya
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.636 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i2.497

Abstract

Lesbian merupakan salah satu kelompok yang mempunyai resiko tinggi menjadi seorang penyalahguna obat karena faktor pergaulan, trauma, konflik dan lingkungan. Penyalahgunaan obat pada komunitas lesbi terjadi karena kurang tersentuhnya  komunitas tersebut sehingga seorang lesbi dapat menjadi pengguna obat-obatan karena dipengaruhi oleh perilaku pada masing-masing pergaulan dikomunitas lesbi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai perilaku lesbian terhadap penyalahgunaan obat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian adalah lesbian yang terdiri dari  terdiri dari 2 butchi (peran sebagai pria) dan 1 informan femm (peran sebagai wanita). Pengumpulan data primer dilakukan melalui teknik wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan mulai menjadi lesbi sejak SD, SMP dan SMA dengan alasan ketertarikan sendiri yang sudah ada dalam diri dan karena pengaruh dari teman. Semua lesbi menggunakan obat dalam pergaulan di komunitas lesbinya. Jenis obat yang digunakan oleh lesbi yaitu somadril dan karnopen. Lesbi menggunakan obat dengan alasan untuk menghilangkan stress, membuat tenang, simbol sebagai anak gaul dan untuk melakukan seks. Untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, disamping minum obat tersebut, lesbi juga menggunakan vinger dan vibrator. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa perilaku lesbi sudah muncul sejak usia anak-anak hingga remaja. Perilaku ini kadang tidak sadari munculnya dengan berbagai alasan hingga lesbi terjebak dalam status yang membuat komunitas tersendiri demi pemuasan psikologi dan seksualnya. Perilaku berisiko yang dilakukan pun sering menyertai pergaulan lesbi seperti menggunakan obat penenang yang dapat mereka dapatkan diapotik untuk mengatasi stress dan melakukan seks. Hubungan seks dilakukan dengan pasangan lesbinya maupun dengan tante-tante bahkan kadang dengan teman lesbi apabila lesbi telah teler. Disarankan kepada Balai Pengawasan Obat dan Makanan untuk memperketat pengawasan terhadap pembelian obat-obat penenang di apotik-apotik.
Pemaknaan Pasien terhadap Komunikasi Pelayanan Kesehatan Dokter yang Bertugas di Klinik dan Puskesmas Riselligia Caninsti; Rahmi Nur Hidayati; Alabanyo Brebahama; Endang Fourianalistyawati
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.081 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i2.502

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena sering terjadinya kesalahpahaman dalam hal komunikasi antara petugas kesehatan, yaitu dokter dengan pasien dan keluarga pasien di berbagai seting, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik atau praktik pribadi. Pada penelitian ini, peneliti mencoba memahami pemaknaan pasien terhadap komunikasi pelayanan kesehatan dokter di fasilitas kesehatan primer yaitu klinik swasta dan Puskesmas. Tujuan penelitian ini yaitu memahami pengalaman pasien dan pemaknaannya terhadap komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Dokter. Subjek penelitian berjumlah 6 orang, dengan 3 subjek merupakan pasien klinik dan 3 subjek adalah pasien Puskesmas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi, dengan metode pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan pemaknaan terhadap komunikasi pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Dokter pada pasien klinik dan pasien Puskesmas. Perbedaan pemaknaan dalam komunikasi pelayanan kesehatan ini dilihat dari sisi proses komunikasi, unsur-unsur dalam komunikasi dan komunikasi efektif. Ada beberapa faktor yang memengaruhi persepsi pasien klinik dan Puskesmas terhadap komunikasi dokter. Pada pasien klinik, faktor yang memengaruhi persepsi pasien adalah si pemersepsi (orang yang melakukan persepsi, yang dalam hal ini adalah individu pasien). Sedangkan, pada pasien Puskesmas, persepsi komunikasi pasien lebih dipengaruhi oleh faktor target atau tujuan yang ingin dicapai ketika melakukan komunikasi dengan dokter di Puskesmas.
Pelatihan Emotion Coaching Untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Orangtua Dalam Merespon Momen Emosional Anak Usia 4-5 Tahun Reno Intan; Farida Kurniawati; Eko Handayani
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.279 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i2.507

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan skor pengetahuan dan keterampilan orangtua dalam merespon momen emosional anak usia 4 – 5 tahun, dengan metode emotion coaching. Pelatihan diberikan selama tiga hari (N=12). Pengetahuan partisipan diukur menggunakan alat ukur yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah kuesioner pengetahuan emotion coaching yang terdiri dari pertanyaan terbuka. Bagian kedua adalah kuesioner momen emosional yang diberikan dalam bentuk skala likert. Partisipan diberikan alat ukur yang sama di awal, di akhir pelatihan, dan follow up. Kegiatan follow up dilakukan setelah dua minggu. Untuk melihat perubahan pengetahuan, skor pada kuesioner pengetahuan dibandingkan. Keterampilan partisipan dalam merespon momen emosional anak yang terdapat dalam tayangan video, diukur dengan menggunakan ceklis emotion coaching. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dan keterampilan pada partisipan. Pada follow up, partisipan menunjukkan penurunan skor pada pengetahuan tetang emotion coaching, namun terdapat peningkatan pengetahuan partisipan mengenai cara merepon momen emosional anak. Disarankan pengukuran kembali, terhadap keterampilan partisipan dengan menggunakan metode langsung seperti wawancara dan observasi untuk memastikan efektivitas pelatihan.
KEBAHAGIAAN PADA PEREMPUAN Miwa Patnani, M.Si., Psi
Jurnal Online Psikogenesis Vol 1, No 1 (2012): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v1i1.36

Abstract

Abstract.Every people in the world, both men and women, want to reach happiness all the time. With the variety of roles that women lived, seems indeed tend to be more prone to have depression and mental disorders. Therefore, it is very important to discuss how to improve the happiness of women, so that women are able to undergo a variety of their role optimally. In order to increase the happiness of women, first thing to do is understanding an overview of happiness on women, including those things that become a source of happiness, and the happiness of the component that most frequently present in a woman's happiness. This research aims to know the description of happiness in women based on age differences, marital status and employment status. The benefits of this research are getting a picture of happiness on females, so that later it can be deduced what are things that can be done to increase the happiness in women. This research is qualitative research with the research subject is a number of 22 women aged 18-62 years in the area of Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi. The selection of subjects is carried out by using an incidental sampling technique. Data collecting tool used was a demographics data questionnaires and happiness questionnaires. Happiness questionnaire in this study was used to measure the source of happiness, feeling of happiness levels and components of happiness. The results showed that the most important source of happiness on the women is family. The level of the highest feeling of happiness was found in women with the age range of 30-39 years. Meanwhile, for the components of happiness were consistently in supporting the happiness is a positive cognition and control.Keywords: source, happiness, women.Abstrak.Kebahagiaan adalah hal yang ingin dicapai oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan berbagai peran yang dijalani, perempuan tampaknya memang cenderung lebih mudah mengalami depresi dan gangguan mental. Oleh karena itu, sangat penting untuk didiskusikan adalah bagaimana upaya meningkatkan kebahagiaan pada perempuan agar kaum perempuan mampu menjalani berbagai perannya dengan optimal. Untuk dapat meningkatkan kebahagiaan pada kaum perempuan, terlebih dahulu harus dipahami gambaran kebahagiaan pada kaum perempuan, termasuk hal-hal apa saja yang menjadi sumber kebahagiaan dan komponen kebahagiaan yang paling sering ada dalam kebahagiaan seorang perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebahagiaan pada kaum perempuan berdasarkan perbedaan usia, status pernikahan dan status pekerjaan. Manfaat dari penelitian ini adalah diperolehnya gambaran tentang kebahagiaan pada kaum perempuan, sehingga nantinya dapat disimpulkan apa saja hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan pada kaum perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan subyek penelitian adalah sejumlah 22 orang perempuan berusia 18 – 62 tahun di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi. Pemilihan subyek dilakukan dengan menggunakan teknik incidental sampling. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner data demografi dan kuesioner kebahagiaan. Kuesioner kebahagiaan dalam penelitian ini mengukur sumber kebahagiaan, tingkat rasa bahagia dan komponen kebahagiaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber kebahagiaan pada kaum perempuan yang paling penting adalah keluarga. Tingkat rasa bahagia yang paling tinggi ditemukan pada kaum perempuan dengan rentang usia 30-39 tahun. Sementara untuk komponen kebahagiaan yang konsisten dalam mendukung kebahagiaan adalah kognisi yang positif dan pengendalian.Kata kunci: sumber, kebahagiaan, perempuan.

Page 2 of 20 | Total Record : 192