cover
Contact Name
Surya Farid Sathotho
Contact Email
suryafarid@isi.ac.id
Phone
+62818462800
Journal Mail Official
tonil@isi.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema
ISSN : 14116464     EISSN : 26858274     DOI : DOI: https://doi.org/10.24821/tnl.v19i2
Core Subject : Humanities, Art,
Tonil: Journal of Literature, Theatre, and Cinema Studies, issn: 1411-6464 (print) and issn: 2685-8274 (online), is a scientific journal in the fields of Theatre/Arts creations & studies under the publication banner of Theatre Department, Faculty of Performing Arts in Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta). TONIL publication emphasizes its role as a medium for communication, discussion, advocation and literary refinement. TONIL serves as a vessel to accommodate the ideas and criticism from the artists, scientists, practitioners, and also all positions involved in the field of Theatre and Performing Arts
Articles 7 Documents
Search results for , issue "vol 23, no 2: september 2026" : 7 Documents clear
Interaksi Sosial Dalam Drama Aduh Karya Putu Wijaya: Kajian Sosiolinguistik Praktis Purwanto Lephen; Hardjito Hardjito; Mukhlis Mukhlis; Ika Septiana
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.21459

Abstract

This study aims to analyze the forms of social interaction represented in Aduh, a drama by Putu Wijaya, through the perspective of practical sociolinguistics. The drama portrays the dynamics of relationships among characters constructed through language use in complex social situations characterized by tension, uncertainty, and conflicts of interest. This research employs a qualitative descriptive method using content analysis to examine the dialogues in the drama script. The data consist of the characters’ utterances that reveal patterns of social interaction, language choices, communication strategies, and social relationships developed throughout the dramatic events. The findings indicate that social interaction in Aduh is manifested through cooperation, competition, conflict, accommodation, and negotiation of meaning among characters. Variations in language use reflect differences in social status, interests, and attitudes of the characters. Furthermore, the use of questions, commands, accusations, rebuttals, and emotional expressions plays an important role in shaping social relationships. This study demonstrates that language functions not only as a means of communication but also as a tool for constructing, maintaining, and transforming social relations. The research is expected to enrich sociolinguistic studies of Indonesian drama, particularly concerning the representation of social interaction in dramatic texts.
Perkembangan Kepribadian 周挽 (Zhou Wan) Dalam Serial Drama China 炽夏 (Never-Ending Summer) Emylia Devi Fransizcha; Iffa Mar'atus Birri
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.21524

Abstract

Karya sastra tidak hanya menyajikan rangkaian peristiwa, tetapi juga menggambarkan kehidupan tokoh yang dapat dikaji melalui aspek psikologis. Penelitian ini mengkaji tokoh Zhou Wan dalam serial drama China Never-Ending Summer (2026) yang menghadapi persoalan keluarga, hubungan interpersonal, perpisahan, dan pertemuan kembali dari masa remaja hingga dewasa. Penelitian ini bertujuan mengungkap wujud id , ego , dan superego pada tokoh Zhou Wan serta menganalisis perkembangan kepribadiannya berdasarkan dinamika ketiga struktur tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra dan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Data berupa adegan yang memuat tindakan dan ekspresi, serta dialog maupun monolog tokoh Zhou Wan yang dikumpulkan melalui teknik simak dan katat, kemudian diklasifikasikan berdasarkan struktur id , ego , dan superego serta dianalisis berdasarkan konsep psikoanalisis Freud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ego merupakan struktur yang paling dominan dan konsisten, sedangkan superego berperan sebagai pengarah moral dan id muncul pada dua momen krusial sebagai titik balik psikologis. Perkembangan kepribadian Zhou Wan berlangsung secara tidak linier, dari remaja yang mengutamakan tuntutan keluarga dan tanggung jawab, mengalami munculnya dorongan id berupa keinginan balas dendam setelah kehilangan besar, hingga mencapai kemampuan yang lebih matang dalam mengelola dorongan, mempertimbangkan kenyataan, dan berpegang pada nilai-nilai moral pada masa dewasa.
Struktur Dramatik pada Naskah Lakon Ayahku Pulang karya Usmar Ismail Arni Purnamasari; Afri Wita; Gusrizal Gusrizal
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.19759

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengungkap struktur dramatik pada naskah lakon Ayahku Pulang karya Usmar Ismail. Penelitian terdahulu lebih banyak menyoroti aspek nilai moral, karakter, semiotika, dan kritik sosial. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori struktur dramatik David Letwin. Struktur dramatik David Letwin meliputi karakter utama, peristiwa pendorong, cita-cita, rintangan, masa krisis, klimaks, dan resolusi. Naskah lakon Ayahku Pulang menggambarkan kisah keluarga yang ditinggalkan kepala keluarganya. Ia akhirnya pulang dalam keadaan tua dan miskin. Kepulangannya membawa keharuan konflik sekaligus batin di antara keluarga. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketujuh komponen dramatik David Letwin hadir secara utuh dalam naskah dan saling terhubung dalam membangun alur cerita emosional dan moral. Tokoh Raden Saleh berperan sebagai pusat dramatik yang menggambarkan pergulatan batin antara penyesalan dan penerimaan. Kesimpulannya, struktur dramatik dalam lakon Ayahku Pulang bukan sekadar rangkaian peristiwa, melainkan refleksi nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikan melalui dinamika konflik keluarga. Penelitian ini menegaskan bahwa teori David Letwin efektif digunakan untuk membaca dan mengungkap kontruksi dramatik dalam karya teater Indonesia modern.
Representasi dan Resistensi Perempuan dalam Novel Momoye Mereka Memanggilku Karya Ekahindra dan Koichi Kimura Melysa Haryanti; Elmustian Elmustian; Mangatur Sinaga
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.21526

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji representasi nilai dan tindakan feminisme serta bentuk resistensi perempuan terhadap dominasi dalam novel Momoye Mereka Memanggilku karya Ekahindra dan Koichi Kimura. Novel tersebut mengangkat pengalaman perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi seksual pada masa pendudukan Jepang, sekaligus memperlihatkan perjuangan perempuan dalam memperoleh pengakuan, keadilan, dan pemulihan martabat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminis. Data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, dialog, narasi, tindakan, dan peristiwa yang merepresentasikan nilai dan tindakan feminisme serta resistensi perempuan. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian diklasifikasikan berdasarkan fokus penelitian dan dianalisis secara interpretatif. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai feminisme dalam novel direpresentasikan melalui nilai keadilan, kebebasan dan hak perempuan, serta martabat perempuan. Nilai tersebut diwujudkan melalui tindakan feminisme menyuarakan pengalaman dan hak perempuan, memperjuangkan keadilan, mempertahankan hak dan martabat, serta menolak penindasan dan kekerasan. Resistensi perempuan terhadap dominasi ditampilkan melalui resistensi verbal, nonverbal, dan komprehensif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam novel tidak berhenti pada posisi sebagai korban, tetapi bergerak menjadi subjek yang memiliki kesadaran, suara, dan agensi untuk menentang ketidakadilan serta memperjuangkan hak dan martabatnya.
Ritual Performance Dalam Pertunjukan Topeng Dheleng di Sumenep, Madura Surya Farid Sathotho; Philipus Nugroho Hari Wibowo
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.13793

Abstract

Topeng dheleng adalah salah satu varian topeng dalang yang berkembang di Sumenep, Madura, dengan seluruh pemeran laki-laki mengenakan topeng (tokop), sementara dialog seluruh tokoh disuarakan oleh seorang dalang. Berbeda dari kebanyakan topeng dalang berbasis cerita Panji di daerah lain, topeng dheleng memiliki dimensi ritual yang kuat karena senantiasa diakhiri dengan rokat pandhaba, yaitu ritual tolak bala. Penelitian kualitatif ini menganalisis pertunjukan topeng dheleng kelompok Rukun Perawas di Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Sumenep, sebagai ritual performance, menggunakan kerangka Victor Turner dan Richard Schechner. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, dokumentasi video, dan wawancara, lalu dianalisis secara deskriptif-induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa topeng dheleng menempati posisi cair antara passage rites dan calendrical rites, serta bergerak dalam kontinum efikasi-hiburan Schechner, tempat efikasi ritual rokat dan efikasi teatrikal pertunjukan saling menopang dan tidak dapat dipisahkan.Kata kunci: ritual performance; topeng dheleng; rokat pandhaba; Sumenep
Dari Realisme Ke Teater Hibrid: Transformasi Estetika Kelompok Teater Modern Indonesia Cerly Chairani Lubis; Monita Precillia
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.21508

Abstract

Perkembangan teater modern Indonesia menunjukkan hubungan dinamis antara pengaruh estetika Barat dan pencarian bentuk pertunjukan yang kontekstual dengan kebudayaan Indonesia. Realisme, terutama melalui sistem pemeranan Konstantin Stanislavski menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan praktik keaktoran dan pendidikan teater modern. Namun, perkembangannya memperlihatkan kecenderungan pergeseran menuju bentuk pertunjukan yang lebih hibrid. Penelitian ini bertujuan menganalisis jejak realisme dalam perkembangan kelompok teater modern Indonesia serta mengidentifikasi proses transformasi estetik dari realisme menuju bentuk pertunjukan hibrid. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi pustaka dan dokumentasi pertunjukan. Data mencakup naskah, arsip, rekaman pertunjukan, kritik teater, dan sumber ilmiah terkait Bengkel Teater Rendra, Studiklub Teater Bandung, Teater Populer, Teater Kecil, Teater Mandiri, dan Teater Koma. Analisis dilakukan secara interpretatif terhadap metode pemeranan, bentuk pemanggungan, tata artistik, dan perkembangan estetika pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realisme tidak berhenti sebagai konvensi estetik, tetapi menjadi pijakan yang mengalami adaptasi dan reinterpretasi. Pertemuan dengan teater tradisi, epik, simbolisme, serta bentuk eksperimental menghasilkan estetika hibrid yang lebih cair dan kontekstual. Dengan demikian, transformasi tersebut merepresentasikan proses negosiasi kreatif dalam pencarian identitas teater modern Indonesia.
Brikolase dan Thrifting dalam subkultur Punk Bunga Islammy
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 23, No 2: September 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v23i2.21518

Abstract

Thrifting atau praktik membeli dan mengenakan pakaian bekas telah lama melekat pada sejarah subkultur punk sebagai bentuk perlawanan kultural yang bekerja melalui mekanisme brikolase. Menggunakan pendekatan studi literatur kualitatif-interpretatif dan bertumpu pada kerangka teori subkultur Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) serta konsep brikolase Hebdige, artikel ini menelaah bagaimana komunitas punk Inggris pada dekade 1970-an mengubah pakaian bekas dari penanda subordinasi ekonomi menjadi instrumen ekspresi oposisional terhadap budaya dominan. Analisis dilakukan melalui pemetaan literatur, analisis tematik, dan interpretasi teoretis atas berbagai sumber tentang thrifting, brikolase, dan subkultur punk. Temuan menunjukkan bahwa perlawanan punk melalui thrifting bekerja secara simultan pada tiga tingkatan, yakni penolakan terhadap logika konsumsi kapitalis, pembongkaran hierarki selera kelas menengah, dan pernyataan terbuka atas posisi kelas yang oleh budaya dominan hendak disembunyikan. Artikel ini juga memperluas pembacaan tersebut dengan meninjau dimensi gender dalam praktik berburu barang bekas, etika DIY (do it yourself) sebagai landasan otonomi ekonomi komunitas, serta relevansi thrifting punk bagi wacana konsumsi berkelanjutan masa kini, tanpa mengabaikan kritik pasca-subkultural yang mempertanyakan koherensi ideologis semacam itu. Artikel ini menyimpulkan bahwa thrifting dalam konteks punk merupakan praktik yang secara ideologis koheren, dan bahwa komodifikasi estetika punk oleh industri mode kontemporer justru menjadi bukti atas kekuatan kultural gerakan ini yang masih bertahan hingga kini.Kata kunci: thrifting; subkultur punk; brikolase; perlawanan kultural; mode subkulturalKata kunci: thrifting; subkultur punk; brikolase; perlawanan kultural; mode subkultural

Page 1 of 1 | Total Record : 7