cover
Contact Name
Teguh Sandjaya
Contact Email
teguh.sandjaya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
kumawula.unpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 2620844X     DOI : -
Kumawula: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, dengan nomor terdaftar ISSN 2620-844X (online) adalah jurnal multidisiplin ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipatif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Jurnal ini meliputi berbagai kajian terkait pengabdian masyarakat dari berbagai bidang ilmu dengan menggunakan dua bahasa (Inggris dan Bahasa Indonesia). Fokus dan ruang lingkup pengabdian masyarakat pada jurnal ini diantaranya Collaborative Governance, Pembangunan Partisipatif, Pembangunan Berkelanjutan, Pembangunan Inklusif, Ekonomi Kreatif, Knowledge Transfer for Community Development, Aktualisasi Kearifan dan Budaya Lokal, Sustainable Livelihood, Transfer Teknologi, Globalisasi dan Transformasi Sosial, Pengembangan Kompetensi dan Kewirausahaan, Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Rekayasa Sosial, Manajemen Konflik, dan Literasi Informasi Digital.
Arjuna Subject : -
Articles 636 Documents
GERAKAN TANAM BUAH UNGGUL UNTUK PENYIAPAN EDU-AGROWISATA KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS PADJADJARAN DI KABUPATEN PANGANDARAN Hermanto, Bambang; Sitio, Nurul Mardhiah; Thirafi, Luthfi; Kurniawati, Linda; Sahda, Rainaldi Mardiana
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.69106

Abstract

Pangandaran Regency is renowned for its abundant agricultural products, as well as fisheries and livestock, including honje fruit, avocado, durian, rambutan, banana, sapodilla, and fern vegetables. With its fertile soil, Pangandaran Regency has great potential to be developed into an Edu-Agrotourism area—a program that provides hands-on experience in sustainable agriculture, livestock, and fisheries. However, until 2025, there has been no Edu-Agrotourism business initiative by local residents, the government, or the private sector. Seeing this vast untapped potential, the Padjadjaran University community service team is attempting to initiate an Edu-Agrotourism program through community empowerment activities. These activities include workshops and practical avocado and durian seedling planting on campus, within the community, and on the land of Cintaratu Village, Parigi District, Pangandaran Regency. The activities aim to equip local residents and village officials with training in planting and cultivating avocado and durian seedlings, as well as providing them with the necessary equipment to care for these plants. The results have led to growing awareness and understanding among the community and the Unpad academic community regarding Edu-Agrotourism, supported by their improved ability to care for plants as part of the Edu-Agrotourism ecosystem. This community service activity is the first step toward pioneering Edu-Agrotourism in Cintaratu Village, Pangandaran Regency, in the following year. The analysis indicates that Edu-Agrotourism in the Unpad Pangandaran campus area is worthy of further development.Kabupaten Pangandaran telah terkenal dengan hasil pertanian yang melimpah selain dari hasil perikanan dan peternakan, antara lain buah honje, alpukat, durian, rambutan, pisang, sawo, dan sayur pakis. Dengan kondisi tanah yang subur, wilayah kabupaten Pangandaran memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai kawasan Edu-Agrowisata, yakni kegiatan pendidikan dan agrowisata yang memberikan pengalaman langsung terkait praktik pertanian, peternakan, maupun perikanan yang berkelanjutan. Akan tetapi, hingga tahun 2025 belum ada inisiasi bisnis Edu-Agrowisata oleh warga sekitar, pemerintah, maupun pihak swasta. Melihat potensi besar yang belum termanfaatkan tersebut, tim pengabdian Universitas Padjadjaran berupaya menginisiasi program Edu-Agrowisata melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan workshop serta praktik penanaman bibit alpukat dan durian di wilayah kampus, warga sekitar, serta di wilayah tanah desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Kegiatan bertujuan untuk membekali penduduk sekitar dan perangkat desa dengan pelatihan penanaman dan teknik budidaya bibit tanaman alpukat dan durian, serta diberikan kelengkapan untuk merawat tanaman-tanaman tersebut. Hasilnya mulai tumbuh kesadaran dan pemahaman masyarakat maupun civitas Unpad mengenai Edu-Agrowisata yang didukung dengan kemampuan merawat tanaman sebagai bagian dari ekosistem Edu-Agrowisata. Kegiatan pengabdian ini merupakan langkah awal untuk merintis Edu-Agrowisata di wilayah Desa Cintaratu Kabupaten Pangandaran di tahun berikutnya. Hasil analisa menunjukkan Edu-Agrowisata di kawasan kampus Unpad Pangandaran layak memasuki tahap pengembangan lebih lanjut.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DONGGALA DALAM BUDIDAYA MANGROVE DI KELURAHAN KABONGA KECIL KECAMATAN BANAWA KABUPATEN DONGGALA Suparman, Suparman; Tallesang, Mukhtar; Yohan, Yohan; Nurnaningsih, Nurnaningsih; Suirlan, Rita
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.66770

Abstract

This community service activity aims to empower coastal communities in Kabonga Kecil Village, Banawa District, Donggala Regency. A participatory approach (involving the community at every stage), educational efforts (providing training and outreach), and an economic-based approach (creating business opportunities from mangroves) are key to implementing this program. The method used is the Participatory Rural Appraisal (PRA) approach, combined with the concept of community-based development in coastal resource management. The results of this community service include the replanting of 500 mangrove seedlings in an abrasion-affected area of 1 hectare, with the involvement of approximately 25 people through mutual cooperation, consisting of community members, village heads, youth leaders, and the community service team, providing hope for the restoration of coastal ecosystems. In addition, an initial initiative was established in the form of a mangrove care group with 10 members, which synergizes with the Palu City Mangrovers community. In the economic aspect, it has been agreed to develop the area as a potential mangrove ecotourism destination, which is expected to become an alternative source of income for the local community.Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat pesisir di Kelurahan Kabonga Kecil Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala. Pendekatan partisipatif (melibatkan masyarakat dalam setiap tahap), edukatif (memberikan pelatihan dan sosialisasi), serta berbasis ekonomi (menciptakan peluang usaha dari mangrove) menjadi kunci dalam pelaksanaan program ini. Metode yang digunakan melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dipadukan dengan konsep community-based development dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Capaian hasil pengabdian adalah menghasilkan penanaman kembali mangrove sebanyak 500 bibit di kawasan abrasi seluas 1 hektar dengan melibatkan sekitar 25 orang melalui gotong royong yang terdiri dari masyarakat, lurah, tokoh pemuda, dan tim pengabdian yang memberi harapan bagi pemulihan ekosistem pesisir. Selain itu, terbentuk inisiatif awal berupa 1 kelompok peduli mangrove yang beranggotakan 10 orang, yang bersinergi dengan komunitas Mangrovers Kota Palu. Dalam aspek ekonomi, telah disepakati pengembangan kawasan sebagai calon destinasi ekowisata mangrove, yang diharapkan menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat lokal.
PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT DESA PASIRUKEM MELALUI INTEGRASI BUDIDAYA IKAN LELE SISTEM BIOFLOK DAN DIVERSIFIKASI PRODUK OLAHAN Wulandari, Yeni Sari; Sam’un, Mohamad; Suherman, Enjang
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.68715

Abstract

Community empowerment through the development of the fisheries sector is one of the strategies to improve the welfare of rural communities. This community service activity was conducted from August to November 2025 in Pasirukem Village, Cilamaya Kulon District, Karawang Regency, involving approximately 22 participants consisting of fish farming groups and food processing groups. The activity aimed to enhance community capacity through the application of biofloc-based catfish farming technology and the diversification of processed catfish products. The method used was a participatory approach, which included preparation, focus group discussions (FGD), socialization, training, mentoring, as well as monitoring and evaluation. The activities carried out included the construction of biofloc ponds; training on catfish cultivation; training on processing products into nuggets, roulade, shredded catfish, and crispy catfish; as well as training on business management and digital marketing. The results of the activity showed an increase in the partners’ knowledge, as indicated by the improvement in post-test results compared to the pre-test, with the average initial score of 17.67% increasing to 100% after the training activities. In addition, the partners were able to practice processing catfish into several value-added products as an effort to diversify fisheries-based products. This activity is expected to serve as an initial step in developing sustainable catfish farming and processing enterprises in Pasirukem Village.Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sektor perikanan merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Agustus–November 2025 di Desa Pasirukem, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang dengan melibatkan sekitar 22 peserta yang terdiri dari kelompok pembudidaya ikan dan kelompok pengolah produk pangan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui penerapan teknologi budidaya ikan lele sistem bioflok serta diversifikasi produk olahan ikan lele. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang meliputi tahap persiapan, focus group discussion (FGD), sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembangunan kolam bioflok, pelatihan budidaya ikan lele, pelatihan pengolahan produk menjadi nugget, rolade, abon, dan lele krispi, serta pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mitra yang ditunjukkan oleh peningkatan hasil post-test dibandingkan dengan pre-test, dengan rata-rata nilai awal sebesar 17,67% meningkat menjadi 100% setelah kegiatan pelatihan. Selain itu, mitra juga mampu mempraktikkan pengolahan ikan lele menjadi beberapa produk olahan sebagai upaya diversifikasi produk berbasis perikanan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan usaha budidaya dan pengolahan ikan lele yang berkelanjutan di Desa Pasirukem.
MITIGASI RISIKO KEBAKARAN MELALUI SOSIALISASI DAN PELATIHAN TANGGAP DARURAT DI DESA KAPOTA UTARA Hamka, Sry Faslia; Irmawan, Amin; Ira, Wa; Naima, Wa Ode
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.66344

Abstract

Fire is a type of disaster that often occurs in various community environments, such as offices, residential areas, and other locations where human activity takes place. Especially in densely populated areas, fires can be caused by various factors, including human negligence, such as using electricity beyond its capacity and failing to turn off heat sources like stoves and irons. As a preventive measure, risk mitigation activities are carried out through outreach and emergency response training aimed at providing the community with an understanding of fire mitigation and response efforts. The method used is a participatory approach through several stages of activities, namely outreach, surveys, and identification of needs; training and simulation of emergency response; mentoring and evaluation; and planning for program sustainability. Activities are carried out through collaboration between the Muhammadiyah Wakatobi Institute of Technology and Business, the North Kapota Village Government, and the Wakatobi Regency Civil Service Police Unit and Fire Department. The results of the activity demonstrated increased community understanding and preparedness in dealing with potential fires, as well as the formation of a village fire volunteer team as part of the program's sustainability efforts. This activity is expected to become a model for community-based fire mitigation that can be applied sustainably in environments with similar characteristics.Kebakaran merupakan salah satu jenis bencana yang sering terjadi di berbagai lingkungan masyarakat, seperti perkantoran, kawasan permukiman, dan tempat-tempat lain yang menjadi lokasi aktivitas manusia. Khususnya di wilayah padat penduduk, kebakaran dapat disebabkan oleh berbagai faktor, terutama disebabkan oleh faktor kelalaian manusia, misalnya penggunaan listrik yang melampaui kapasitas daya serta tidak mematikan sumber panas seperti kompor dan setrika. Sebagai langkah pencegahan, dilakukan kegiatan mitigasi risiko melalui sosialisasi dan pelatihan tanggap darurat yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai upaya mitigasi dan penanggulangan kebakaran. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui beberapa tahapan kegiatan, yaitu sosialisasi, survei dan identifikasi kebutuhan, pelatihan dan simulasi tanggap darurat, pendampingan dan evaluasi, serta perencanaan keberlanjutan program. Kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi antara Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi, Pemerintah Desa Kapota Utara, serta Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Wakatobi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran, serta terbentuknya tim relawan kebakaran desa sebagai bagian dari upaya keberlanjutan program. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model mitigasi kebakaran berbasis masyarakat yang dapat diterapkan secara berkelanjutan pada lingkungan dengan karakteristik serupa.
PAGELARAN TARI LINTAS SANGGAR DAN PERAN KAMPUNG WISATA DALAM PENGUATAN COMMUNITY-BASED TOURISM DI DESA PANGANDARAN Ramdhani, Dani; Dienaputra, Reiza D; Hermanto, Bambang; Novianti, Evi; Ratnasari, Dewi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v%vi%i.67698

Abstract

The development of tourism in Pangandaran has largely focused on coastal attractions, while the integration of local cultural potential, particularly traditional dance, into community-based tourism remains limited. This community service activity aims to strengthen the role of local dance performances and tourism village institutions in supporting Community-Based Tourism (CBT) through a collaborative cultural event. The Early-Year Dance Festival 2024 was organized by PT Jasa dan Kepariwisataan Jabar (Perseroda) in collaboration with the Pangandaran Tourism Village and involved seven dance studios across Pangandaran Regency. This study employs a Participatory Action Research (PAR) approach based on CBT principles, emphasizing active community participation in the planning, implementation, and evaluation processes. The results demonstrate significant community involvement through the participation of local art groups, MSMEs, and youth performers. Beyond cultural preservation, the activity fostered inter-studio collaboration and generated a local economic multiplier effect, reflected in increased visitor engagement and local product consumption. This initiative illustrates the sustainable integration of culture and tourism and provides a practical model of regional corporate social responsibility.Pengembangan pariwisata di Pangandaran selama ini masih didominasi oleh wisata bahari, sementara pemanfaatan potensi budaya lokal, khususnya seni tari, dalam kerangka pariwisata berbasis masyarakat belum terintegrasi secara optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat peran seni tari dan kelembagaan Kampung Wisata dalam mendukung penguatan Community-Based Tourism (CBT) melalui kolaborasi lintas sanggar. Pagelaran Tari Awal Tahun 2024 diselenggarakan oleh PT Jasa dan Kepariwisataan Jabar (Perseroda) bekerja sama dengan Kampung Wisata Pangandaran dengan melibatkan tujuh sanggar tari dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pangandaran. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan prinsip CBT, yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat melalui keterlibatan komunitas seni, pelaku UMKM, dan generasi muda. Selain berkontribusi terhadap pelestarian seni tari tradisional, kegiatan ini juga memperkuat jejaring kolaborasi lintas sanggar serta menghasilkan efek ekonomi lokal (multiplier effect) berupa peningkatan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kegiatan ini menjadi praktik nyata integrasi seni dan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan serta contoh penerapan tanggung jawab sosial perusahaan di tingkat daerah.
KOPACE (KOPI KELOR ACEH) TRANSFORMASI USAHA GEURUBAK KUPI MELALUI INOVASI KOPI KELOR Asnidar, Asnidar; Fajriah, Agustina Nurul; Dwitya, Yonadiah; Murni, Mayang; Nafaida, Rizky; Nabila, Rozana; Khaira, Cut Ulviatul
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.66934

Abstract

This Community Service (PKM) program was implemented to address the stagnation of the Geurubak Kupi micro-business in Langsa City, caused by products lacking distinctive characteristics, unsystematic financial management, and conventional marketing strategies. This partnership program involved a series of stages, including outreach, training, technology implementation, mentoring, and evaluation. The main innovation was the development of Acehnese Moringa Coffee (KOPACE), a specialty beverage that combines the flavor of Acehnese coffee with the health benefits of moringa leaves. The implementation of technologies such as a dehydrating oven, a coffee grinder, and a flour grinder ensured product quality and hygiene. Furthermore, financial management training based on simple bookkeeping and production cost calculations helped partners manage their businesses more efficiently. Marketing aspects were also strengthened through training in branding, packaging design, and digital promotion strategies. Evaluation results showed a significant increase in the partners' understanding, with an average improvement of more than 10%–15% in knowledge of moringa coffee processing, financial management, and marketing strategies. KOPACE products are now a new signature product of the Geurubak Kupi business, adding economic value, increasing competitiveness, and opening up broader market opportunities. Thus, this PKM program contributes to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), specifically Decent Work and Economic Growth, Responsible Consumption and Production, and Good Health and Well-being.Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan stagnasi usaha mikro Geurubak Kupi di Kota Langsa yang disebabkan oleh produk tanpa ciri khas, manajemen keuangan yang tidak tersistematis, serta strategi pemasaran yang masih konvensional. Melalui program kemitraan ini, dilakukan serangkaian tahapan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Inovasi utama kegiatan adalah pengembangan produk Kopi Kelor Aceh (KOPACE) sebagai minuman khas yang menggabungkan cita rasa kopi Aceh dengan manfaat kesehatan dari daun kelor. Penerapan teknologi seperti oven dehydrated, mesin grinder kopi, dan mesin grinder tepung memastikan kualitas dan higienitas produk. Selain itu, pelatihan manajemen keuangan berbasis pencatatan sederhana dan perhitungan harga pokok produksi membantu mitra lebih efisien dalam mengelola usaha. Aspek pemasaran juga diperkuat melalui pelatihan branding, desain kemasan, serta strategi promosi digital. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman mitra, dengan rata-rata peningkatan lebih dari 10% pada pengetahuan pengolahan kopi kelor, manajemen keuangan, dan strategi pemasaran. Produk KOPACE kini hadir sebagai ciri khas baru usaha Geurubak Kupi sekaligus memberi nilai tambah ekonomi, meningkatkan daya saing, dan membuka peluang pasar lebih luas. Dengan demikian, program PKM ini berkontribusi pada pencapaian SDGs, khususnya tujuan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, konsumsi-produksi yang bertanggung jawab, serta peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
EDUKASI BANTUAN HIDUP DASAR: STRATEGI PENINGKATAN PENGETAHUAN PADA DAERAH RAWAN BENCANA DI DESA TANJUNGSARI Mubaroq, Bagja Al; Septiani, Indri; Sunita, Elni; Ramdhaniati, Thusiani; Ramadani, Efita; Mirwanti, Ristina
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.64618

Abstract

Sudden cardiac arrest is a medical emergency that requires immediate treatment. The general public plays an important role in providing initial treatment in the form of first aid. This activity aims to increase public knowledge of Basic Life Support (BLS) through training for members of the Disaster-Resilient Village (Destana) and the Youth Integrated Health Post (Posyandu Remaja) in Tanjungsari Village. The education was provided to 43 participants using lectures to deliver BLS theory and facilitator-led practical training, supported by BLS mannequins and audiovisual materials, including PowerPoint presentations and videos. The educational program began with a pre-test, followed by a material presentation and practical session, and concluded with a post-test. The results showed a significant increase in participants' knowledge (p < 0.001), with an average knowledge score of 46 ± 20.8 before the activity and 78 ± 16.4 after the activity. This indicates that the education provided had a positive impact on increasing community knowledge of managing cardiac arrest emergencies in disaster situations. This activity also served as an effort to strengthen the community's capacity to provide appropriate initial treatment before professional medical assistance became available. Thus, similar educational activities involving material presentations, video screenings, practical sessions, and simulations can be conducted for a wider community. Kejadian henti jantung mendadak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan dengan cepat. Masyarakat awam memiliki peran penting dalam pemberian penanganan awal dalam pemberian pertolongan pertama. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) melalui pelatihan kepada anggota Desa Tanggung Bencana (Destana) dan Posyandu Remaja di Desa Tanjungsari. Edukasi diberikan kepada 43 peserta menggunakan metode ceramah untuk teori BHD dan metode pelatihan yang dipimpin oleh fasilitator untuk praktik, serta menggunakan media manekin BHD serta audiovisual power point dan video. Edukasi dimulai dengan pre-test, sesi pemberian materi dan praktik, serta post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan pada pengetahuan peserta (p<0,001), dengan nilai rata-rata pengetahuan sebelum kegiatan 46±20,8 dan sesudah kegiatan 78±16,4. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan memberikan dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat menghadapi kondisi gawat darurat henti jantung pada keadaan bencana. Kegiatan ini juga merupakan upaya untuk memperkuat kapasitas komunitas agar mampu melakukan penanganan awal secara tepat sebelum bantuan medis profesional tersedia. Dengan demikian, kegiatan edukasi serupa melalui pemberian materi, pemutaran video, praktikum, dan simulasi dapat dilakukan kepada masyarakat lebih luas.
SEKOLAH INTERAKTIF GENDER DAN LIFE SKILLS DALAM PENINGKATAN KAPASITAS REMAJA UNTUK PENCEGAHAN KEKERASAN BERBASIS GENDER Nafisah, Lu'lu; Rizqi, Yuditha Nindya Kartika; Maryati, Leni
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.68288

Abstract

Gender-based violence (GBV) remains a significant public health issue, including in Banyumas Regency, where cases of violence against women and children continue to increase. Limited gender literacy and inadequate life skills among adolescents make them both a vulnerable group and a strategic target for GBV prevention efforts. This community service program aimed to strengthen adolescents' capacity as agents of gender-based violence prevention through the implementation of an Interactive Gender School integrated with Life Skills Training for members of the Karang Taruna in Teluk Village. The program was implemented over four months through gender education, assertive communication training, conflict resolution, digital literacy education, and the establishment of a youth forum as a platform for advocacy and collective action. Program effectiveness was evaluated using a one-group pretest–posttest approach involving 44 adolescents. Data were collected before and after the intervention using standardized instruments and analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test due to the non-normal distribution of the data. The evaluation demonstrated significant improvements in gender literacy (Z = –4.668; p < 0.001) and life skills (Z = –2.819; p = 0.005). Participants also showed a better ability to recognize signs of violence, practice assertive communication, and understand GBV reporting mechanisms. These findings indicate that integrating an Interactive Gender School with Life Skills Training is an effective community empowerment approach for strengthening adolescents' capacity to prevent gender-based violence and has strong potential for replication in other communities.Kekerasan berbasis gender (KBG) masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang serius, termasuk di Kabupaten Banyumas yang terus menunjukkan peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Rendahnya literasi gender serta keterampilan hidup (life skills) pada remaja menjadikan mereka kelompok yang rentan sekaligus strategis dalam upaya pencegahan KBG. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas remaja sebagai agen pencegahan kekerasan berbasis gender melalui pelaksanaan Sekolah Interaktif Gender yang terintegrasi dengan pelatihan Life Skills bagi anggota Karang Taruna Desa Teluk. Program dilaksanakan selama empat bulan melalui kegiatan edukasi gender, pelatihan komunikasi asertif, penyelesaian konflik, literasi digital, serta pembentukan forum remaja sebagai wadah advokasi dan aksi kolektif. Efektivitas program dievaluasi menggunakan pendekatan one-group pretest–posttest yang melibatkan 44 remaja. Data dikumpulkan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan instrumen terstandar, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada literasi gender (Z = –4,668; p < 0,001) dan life skills (Z = –2,819; p = 0,005). Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengenali tanda-tanda kekerasan, menerapkan komunikasi asertif, serta memahami mekanisme pelaporan kasus kekerasan berbasis gender. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi Sekolah Interaktif Gender dan pelatihan Life Skills merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang efektif dalam meningkatkan kapasitas remaja untuk mencegah kekerasan berbasis gender serta berpotensi direplikasi pada komunitas lain.
SMART FOOD, SMART CONTENT: LITERASI PANGAN DAN KONTEN DIGITAL UNTUK KETAHANAN KOMUNITAS DI WILAYAH BENCANA Saragih, Ruth Putryani; Ardiansyah, Ardiansyah; Purnomo, M. Fathir Ajie
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.67567

Abstract

This Community Service Program originated from the issue of low levels of food literacy and media literacy among communities living in disaster-prone areas such as Pekayon, West Bekasi (Indonesia), and Hualien (Taiwan). Limited understanding of food labeling and the widespread dissemination of misinformation on social media make these communities vulnerable to the risks of unsafe food consumption and uninformed decision-making. The program aims to strengthen community resilience through education on food security, enhancement of food label comprehension, and training in the production of educational digital content. The implementation method employed a participatory and cross-disciplinary collaborative approach between Food Science and Communication Studies, encompassing public outreach, joint seminars with industry partners, and social media content creation workshops. The results indicate a significant improvement in participants' understanding of the importance of reading food labels, alongside increased critical awareness of the role of digital media in promoting healthy food campaigns. Participants also demonstrated fundamental skills in producing relevant and engaging educational content for dissemination through social media. This initiative underscores that the integration of food literacy and media literacy can enhance community resilience in the face of disasters, both physically and informationally. Furthermore, the program contributes to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) 3, 4, and 12 through education, community participation, and the promotion of more responsible production and consumption practices.Program Pengabdian kepada Masyarakat ini berangkat dari permasalahan rendahnya literasi pangan dan literasi media masyarakat di wilayah rawan bencana seperti Pekayon, Bekasi Barat (Indonesia) dan Hualien (Taiwan). Rendahnya pemahaman terhadap label pangan serta maraknya misinformasi di media sosial menyebabkan masyarakat rentan terhadap risiko konsumsi pangan tidak aman dan pengambilan keputusan yang tidak berbasis pengetahuan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan komunitas melalui edukasi ketahanan pangan, peningkatan kemampuan membaca label pangan, serta pelatihan pembuatan konten digital edukatif. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif lintas disiplin antara Ilmu Pangan dan Ilmu Komunikasi, meliputi sosialisasi, seminar bersama mitra industri, dan pelatihan pembuatan konten media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman peserta terhadap pentingnya membaca label pangan, serta tumbuhnya kesadaran kritis mengenai peran media digital dalam kampanye pangan sehat. Peserta juga menunjukkan kemampuan dasar dalam memproduksi konten edukatif yang relevan dan menarik untuk disebarluaskan melalui media sosial. Kegiatan ini menegaskan bahwa integrasi antara literasi pangan dan literasi media mampu memperkuat ketahanan komunitas dalam menghadapi bencana, baik dari aspek fisik maupun informasi. Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 3, 4, dan 12 melalui upaya edukasi, partisipasi masyarakat, serta produksi dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
PENERAPAN ECO-INNOVATION PADA LIMBAH SABUT KELAPA DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN PANGAN KELOMPOK TANI DIPOREJO Rusti, Nanda; Widakdo, Danang S. W. P. J.; Nur, Kurniawan Muhammad; Alfiyah, Nurul; Wardana, Aditya; Syaina, Nike; Azizam, Wahyu Farhan
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.66739

Abstract

One of the villages that produces the most coconuts in Kabat District, Banyuwangi Regency, is Kedayunan Village. This village produces coconut-derived products such as copra and coconut kernels, with a plantation area of 187 ha and a production of 298.5 tons in 2024. One of the farmer groups that produces large quantities of coconut kernels and copra in Kedayunan Village is the Diporejo Farmer Group. The coconut processing activities generate abundant coconut fiber waste. This waste requires further processing so that it can be transformed into a high-value product, helping to improve environmental health, promote economic growth, and support food independence for farmer groups. The large amount of coconut fiber waste generated by the partners requires further processing into an eco-innovation product. This waste can contribute to the development of a sustainable green economy by reducing environmental waste and enhancing food security. The coconut fiber waste will be processed into cocopeat to be used as a growing medium for chili seedlings because all members of the Diporejo Farmer Group intercrop chili plants within their coconut plantations. However, the partners still depend on commercially available chili seedlings, which they consider relatively expensive. Cocopeat was chosen as a seedling medium because it is an organic growing medium with excellent water- and nutrient-retention capacity, and it contains essential nutrients that support the seedling process better than many other seedling media. Desa Kedayunan merupakan penghasil kelapa terbanyak di Kabupaten Banyuwangi. Desa ini membuat produk turunan kelapa menjadi kopra dan kelapa butir dengan luas lahan sebesar 187 ha dengan produksi sebesar 298,5 ton pada tahun 2024. Salah satu kelompok tani yang mampu menghasilkan banyak kelapa butir dan kopra di Desa Kedayunan adalah Kelompok Tani Diporejo.  Hasil dari olahan kelapa tersebut menyisakan limbah sabut kelapa yang melimpah. Limbah tersebut jika tidak dikelola akan menyebabkan penumpukan sampah, merusak estetika lingkungan, timbul bau busuk, dan menimbulkan sarang nyamuk serta penyakit. Adanya hal tersebut, maka perlu adanya pengolahan lebih lanjut agar limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai jual tinggi, membantu meningkatkan kesehatan lingkungan, dan kemandirian pangan bagi kelompok tani. Oleh karena itu, maka dibutuhkan sosialisasi dan pelatihan tentang pengolahan limbah sabut kelapa lebih lanjut sebagai produk eco-innovation. Limbah tersebut nantinya, dapat membawa sebuah kemajuan menuju ekonomi hijau berkelanjutan, dengan mengurangi limbah pada lingkungan, dapat meningkatkan ketahanan pangan. Pengolahan limbah sabut kelapa akan dibuat menjadi cocopeat sebagai bahan media semai bibit cabai, karena ditemukan bahwa seluruh anggota kelompok tani Diporejo pada kebun kelapanya ditumpangsarikan dengan tanaman cabai, akan tetapi mitra dalam memenuhi kebutuhan bibit cabai masih tergantung dengan pasar, dan mitra juga merasa bahwa bibit yang ada di pasaran cukup mahal. Hasil dari kegiatan ini Kelompok Tani Diporejo mampu membuat media semai dari bahan cocopeat dan tidak hanya itu, kelompok tani juga mampu secara mandiri membenihkan bibit cabai tanpa harus membeli ke pasar. Adanya hal tersebut kelompok tani mampu memproduksi pangan mandiri khususnya untuk komoditas cabai.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 3 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 3 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 3 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 3 (2019): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2019): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 3 (2018): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2018): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat More Issue