cover
Contact Name
Teguh Sandjaya
Contact Email
teguh.sandjaya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
kumawula.unpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 2620844X     DOI : -
Kumawula: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, dengan nomor terdaftar ISSN 2620-844X (online) adalah jurnal multidisiplin ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipatif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Jurnal ini meliputi berbagai kajian terkait pengabdian masyarakat dari berbagai bidang ilmu dengan menggunakan dua bahasa (Inggris dan Bahasa Indonesia). Fokus dan ruang lingkup pengabdian masyarakat pada jurnal ini diantaranya Collaborative Governance, Pembangunan Partisipatif, Pembangunan Berkelanjutan, Pembangunan Inklusif, Ekonomi Kreatif, Knowledge Transfer for Community Development, Aktualisasi Kearifan dan Budaya Lokal, Sustainable Livelihood, Transfer Teknologi, Globalisasi dan Transformasi Sosial, Pengembangan Kompetensi dan Kewirausahaan, Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Rekayasa Sosial, Manajemen Konflik, dan Literasi Informasi Digital.
Arjuna Subject : -
Articles 567 Documents
PENDAMPINGAN MASYARAKAT DAN INTERVENSI GIZI MELALUI GERAKAN CEGAH STUNTING ITU PENTIING DI KOTA PALOPO SULAWESI SELATAN Ningrum, Ratih Setia; Usrah, Ayyada; Saribulan, Saribulan; Yazid, Auliyah Baba; Zahra, Rafika; Lestari, Yuyun; Amalia, Dinda; Fadilla, Dian; Kurniawati, Nur; Amalia, Putri; Yasmine Alifah, Adela Putri; Khatimah, Khusnul; Anggreni, Cahya; Zulkifli, Naurah Ghina Aulia Halid; Aswad A, Muhammad Hajarul; Beddu, Rahmawati
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.61723

Abstract

This study explores community empowerment and nutritional interventions to address stunting in Purangi Subdistrict, Sendana District, Palopo City, South Sulawesi, Indonesia. The primary objective is to enhance community capacity and improve the nutritional status of children under five years of age using the Asset-Based Community Development (ABCD) approach. This method leverages local assets, including community seed gardens and the transformation of land into nutrition gardens. Interventions included the provision of nutrition packages, caregiving, and the introduction of moringa leaf pudding as an innovative complementary food. Nutritional progress was monitored through the EPPBGM application provided by the local health center. Implemented from September to October 2024, the program yielded promising outcomes. Community assets were effectively mobilized through coordinated efforts with the local government and related agencies. As a result, one child successfully transitioned out of the stunting category. Nevertheless, further investigation is required to analyze the nutritional composition of the moringa pudding and evaluate its long-term effectiveness as a dietary intervention.Artikel ini membahas pendampingan dan intervensi gizi untuk mengatasi stunting di Kelurahan Purangi, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Tujuannya adalah melakukan pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan status gizi balita melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) melalui pemanfaatan aset lokal seperti kebun bibit rakyat dan lahan kosong menjadi kebun gizi. Intervensi juga dilakukan dengan pemberian paket gizi dan perawatan, serta inovasi makanan pendamping berupa puding daun kelor. Pemantauan gizi dilakukan menggunakan aplikasi EPPBGM dari Puskesmas setempat. Kegiatan ini dilaksanakan pada September–Oktober 2024 dengan hasil yang positif. Aset yang dimiliki masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan gizi, berhasil dimaksimalkan melalui koordinasi dengan pemerintah setempat dan beberapa dinas terkait. Setelah diberikan intervensi gizi, salah satu balita berhasil keluar dari kategori stunting. Namun, dibutuhkan kajian lanjutan mengenai kandungan gizi puding kelor dan efektivitasnya sebagai intervensi jangka panjang.
EDUKASI HUKUM DALAM PENGELOLAAN IRIGASI PADA DAERAH DENGAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TINGGI Werdiningtyas, Ratri; Rosari, Bertania Kartikaning Tiyas; Hadiani, Rintis; Wahyudi, Agus Hari; As'ad, Sholihin; Setiono, Setiono; Solichin, Solichin; Hapsari, Shabrina
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.60031

Abstract

The issue of agricultural land conversion has become an increasingly pressing concern in Indonesia. Mixing land use for residential and agricultural purposes causes clogged irrigation canals due to trash dumping and sedimentation, affecting water flow and increasing pollution hazards. Impaired irrigation reduces agricultural productivity, leading to land conversion. This results in a cycle of malfunction in irrigation networks and land use. Law No. 17 of 2019 and Government Regulation No. 77 of 2001 emphasize farmers' major involvement in irrigation water management, yet many are unaware of their rights and obligations. One of the major challenges faced by farmers is the lack of knowledge about their rights and responsibilities as agricultural land managers in irrigated areas. The community service program intends to teach farmers in the Bengawan Solo Irrigation Area about their roles in irrigation management and spatial planning, thereby improving their legal knowledge and equipping them to effectively monitor their access to irrigation. The target participants for legal education on irrigation network management and spatial planning are farmers in the Bengawan Solo Irrigation Area, Jaten Subdistrict, Karanganyar Regency, Central Java. A half-day socialization and interactive workshop was held at the Jaten District Office, attended by 39 people consisting of 14 farmers, 17 P3A management personnel, and 6 village officials. The interactive sessions showed that farmers who do not know how to defend their irrigation management rights tend to shift to more economically profitable land uses, which disrupts irrigation networks and water reliability.Isu konversi lahan pertanian menjadi perhatian yang semakin mendesak di Indonesia. Bercampurnya penggunaan lahan untuk perumahan permukiman dan pertanian menyebabkan tersumbat di saluran irigasi karena pembuangan sampah dan sedimentasi, mempengaruhi aliran air dan peningkatan polusi air. Hal ini mengakibatkan siklus kerusakan pada jaringan irigasi dan penggunaan lahan. Turunnya produktifitas pertanian sebagai akibatnya menyebabkan maraknya fenomena konversi lahan pertanian menjadi perumahan permukiman. Undang-Undang No. 17 Tahun 2019 dan Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2001 menekankan keterlibatan besar petani dalam pengelolaan air irigasi, namun banyak petani yang tidak menyadari hak dan kewajiban mereka. Sehingga salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan tentang hak dan tanggung jawab petnai sebagai pengelola lahan pertanian di daerah irigasi. Program pengabdian masyarakat ini bermaksud untuk mengedukasi petani di daerah irigasi yang banyak terkonversi lahannya tentang hak, kewajiban dan peran mereka dalam pengelolaan irigasi dan penataan ruang, sehingga meningkatkan pengetahuan hukum mereka dan membekali mereka untuk menjaga akses irigasi sebagai haknya. Target peserta edukasi hukum pengelolaan jaringan irigasi dan penataan ruang adalah petani di daerah irigasi Bengawan Solo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sosialisasi dan workshop interaktif setengah hari dilakukan di Balai Desa Jaten, Kecamatan Jaten yang dihadiri 39 orang yang terdiri dari 14 petani, 17 anggota/pengurus P3A, dan 6 pejabat desa. Dari sesi interaktif menunjukkan bahwa petani yang tidak tahu cara untuk membela hak pengelolaan irigasi mereka cenderung beralih ke penggunaan lahan yang lebih menguntungkan secara ekonomi, yang mengganggu jaringan irigasi dan keandalan air
SOSIALISASI PENGEMBANGAN WISATA RELIGI SYEKH MAULANA MANGUN SEJATI DALAM MENINGKATKAN DAYA TARIK WISATAWAN BERBASIS BUDAYA KEARIFAN LOKAL Irhamni, Muhammad Ricza; Astuti, Wulan Budi; Hidayat, Arief; Nadik, Jeni; Afnizar, Ikmal; Najla, Nadira Hulwatun
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.59103

Abstract

Spiritual tourism is part of the tourism sector that seeks to fulfill human spiritual needs and attracts many people because of the community's richness and deep cultural strength. One of the greatest potentials is spiritual tourism in the Sheikh Maulana Mangun Sejati area, which has been developed as a religious destination based on local values to support the local community's economy. At the socialization stage, several important steps were taken, namely: first, training was conducted to prepare the tourism area; second, socialization and briefing on the use of digital financial records; third, the use of technology, including the construction of an official website and the implementation of training. The existence of strong local traditions confirms that the development of religious tourism must always be based on local cultural values as a guarantee of authenticity and its connection to the identity of the local community. To ensure the success of the religious tourism destination development strategy, it is necessary to prioritize the main attraction as the central point of tourist visits. Tourism area preparation training is useful for improving products in the form of an official website and the digital delivery of information. Human resource management applied in the training is also useful for providing skills in tourism management, by involving IPNU-IPPNU Kedung Sub-district to participate in tourism management. Wisata spiritual merupakan bagian dari sektor pariwisata yang berupaya memenuhi kebutuhan rohani manusia dan menarik minati banyak orang karena kekayaan budaya yang dalam dan kekuatan dalam masyarakatnya. Salah satu potensi terbesar adalah wisata spiritual di kawasan Syekh Maulana Mangun Sejati yang dikembangkan sebagai destinasi religius berlandaskan nilai-nilai lokal untuk mendukung perekonomian komunitas setempatnya.  Pada tahapan sosialisasi dilakukan beberapa langkah penting: pertama-tama dilaksanakan pelatihan persiapkan kawasan pariwisata; kedua adalah sosialisasi dan pembekalan penggunaan pencatatan keuangan digital; ketiga adalah penggunaan teknologi meliputi pembangunan situs web resmi dan pelaksaanaan pelatihan. Keberadaan tradisi lokal yang kuat menegaskan bahwa pengembangan pariwisata religius harus senantiasa berdasarkan nilai-nilai budaya lokal sebagai jaminan keautentikan dan keterkaitannya dengan jati diri masyarakat setempat. Untuk memastikan strategi pengembangan destinasi wisata religius yang sukses perlu didahulukan atraksi utama sebagai pusat kunjungan utama para wisatawan. Pelatihan penyiapan kawasan wisata bermanfaat dalam meningkatkan produk berupa website official, dan menyampaikan informasi secara digital. Pengelolaan sumber daya manusia yang telah dilaksanakan dalam pelatihan juga bermanfaat untuk memberikan bekal keterampilan dalam manajemen pariwisata, dengan melibatkan IPNU-IPPNU Kecamatan Kedung untuk berpartisipasi dalam pengelolaan pariwisata. Pelatihan promosi menggunakan media massa memberikan manfaat pengenalan wisata religi Syekh Maulana Mangun Sejati secara lebih luas, serta pembuatan produk cinderamata dapat meningkatkan esensi makam Syekh Maulana Mangun Sejati.
INOVASI TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN DALAM PRODUKSI BATIK ORGANIK MANGROVE DAN PENGEMBANGAN DESA WISATA KEBUNDADAP TIMUR Hastri, Evi Dwi; Romadhan, Siddik; Hopid, Hopid
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.62625

Abstract

In line with the development direction of Kebundadap Timur Village and the effort to improve the local economy through mangrove tourism development, the community can enhance their economic resilience by creating sustainable employment and entrepreneurship opportunities, such as through ecotourism and the downstream processing of mangroves into organic batik. The potential of mangroves is evident from the diversity of species found in Kebundadap Timur Village, with no fewer than 22 mangrove species recorded. The downstream development of mangroves as the village’s main potential represents a crucial strategy to strengthen market share positioning, increase profitability, and contribute positively to local economic development. This strategy extends beyond the tourism industry to include the batik industry, which is designed to be competitive at local, national, and even global levels. The Women's Empowerment Group (PKK) of Kebundadap Timur Village is engaged in the management of organic mangrove batik, while the Village-Owned Enterprise (BUMDesa) Pasopati focuses on managing mangrove educational tourism. The methodological approach to addressing partner issues involved different focus areas: Partner 1 faced challenges in production and marketing, while Partner 2 needed solutions in promotion and destination development. The outcomes of this initiative include: (1) increased quantity of natural dye and organic hand-drawn batik products by Partner 1, with production achievement rising from 0% to 100%; (2) successful marketing of mangrove-based organic batik through partnership cooperation and digital marketing by Partner 1, also reaching 100% achievement; and (3) increased income-generating activities from WMK tourism through digital promotion and enhanced tourist attraction development by Partner 2, with monthly revenue increasing from IDR 3,000,000 to IDR 5,950,000.Sejalan dengan arah pengembangan Desa Kebundadap Timur dan melihat pada peningkatan Ekonomi Lokal melalui pengembangan wisata mangrove, masyarakat dapat meningkatkan ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan kerja dan kewirausahaan berkelanjutan, seperti ekowisata, dan hilirasisi mangrove menjadi batik organik. Potensi mangrove dapat dilihat dari beragamnya jenis mangrove di Desa Kebundadap Timur yakni tidak kurang dari 22 jenis mangrove. Hilirisasi mangrove sebagai potensi utama Desa Kebundadap Timur merupakan strategi penting untuk memperkuat posisi pangsa pasar, meningkatkan profitabilitas, dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi lokal. Tidak hanya pada industri pariwista, namun pada industri batik yang dirancang untuk mampu bersaing secara lokal, nasional, hingga global. Kelompok PKK Desa Kebundadap Timur bergerak di bidang tata kelola batik organik mangrove sedangkan Bumdesa Pasopati bergerak di bidang tata kelola eduwisata mangrove. Tahapan metode yang dilakukan untuk memberikan solusi pada permasalahan mitra yakni pada Mitra-1 di bidang produksi dan pemasaran, sedangkan permasalahan mitra-2 yakni pada bidang promosi dan pengembangan destinasi. Luaran kegiatan sebagai hasil yang diperoleh yaitu peningkatan Kuantitas produk pewarna dan batik tulis organik (Mitra 1) berhasil memproduksi dengan capaian dari 0% menjadi 100%, Pemasaran batik organik Mangrove dengan adanya kemitraan kerjasama dan pemasaran digital (Mitra 1) berhasil dengan capaian dari 0% menjadi 100%, dan Peningkatan Income Generating Wisata WMK dengan promosi digital dan pengembangan daya tarik destinasi wisata (Mitra 2) sebelum kegiatan sebesar Rp.3.000.000,-/bulan dan setelah kegiatan Rp.5.950.000,-/bulan.
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DESA LEBAKSARI MELALUI PENGOLAHAN PELEPAH PISANG MENJADI PRODUK INOVATIF Manshur, Ahmad; Al-Bari, Akhmad; Izza, Yogi Prana; Hidayat, Nur Maulana; Ningsih, Wita
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.61165

Abstract

Lebaksari Village, located in Bojonegoro Regency, has strong agricultural potential. One of its main strengths is the abundant growth of banana trees, planted both as primary crops and as a means to utilize unused land. Although banana pseudostems have the potential to be processed into higher-value products, their use has been limited to making ropes with low economic value. To enhance the value of local products, a community service program using the Asset-Based Community Development (ABCD) method was implemented. The program followed five stages: discovery, dream, design, define, and destiny. Technical training was provided to members of the PKK women’s group and local artisans. The training focused on producing innovative crafts from banana pseudostems, such as bags and jewelry. For sustainability, the initiative was entrusted to the PKK group through their regular meetings, with support from Lebaksari village officials. The products are expected to be marketed through local bazaars and social media platforms, with a sales target of at least 1.25 times the production cost to boost household income through creative industries. A qualitative evaluation revealed high enthusiasm and active participation, as shown by the number of questions raised. The program successfully improved community knowledge and skills. Participants demonstrated the ability to identify good-quality raw materials, apply innovative crafting techniques, and produce products that meet performance criteria such as neatness, functionality, and marketability. This initiative lays the foundation for a self-sustaining creative economy in Lebaksari, reflecting the success of knowledge transfer and community empowerment.Desa Lebaksari yang terletak di Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi besar di bidang pertanian. Salah satu keunggulan desa ini adalah keberadaan pohon pisang yang banyak ditanam, baik sebagai tanaman utama maupun untuk memanfaatkan lahan kosong. Meskipun pelepah dari pohon pisang memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, namun pemanfaatannya di desa ini masih terbatas pada pembuatan tali yang memiliki nilai ekonomi rendah. Untuk meningkatkan nilai produk lokal, program pengabdian masyarakat menggunakan metode Asset-Based Community Development (ABCD) maka dilaksanakan. Tahapan program mencakup discovery, dream, design, define, dan destiny. Pelatihan teknis diberikan kepada anggota PKK dan pengrajin lokal, berfokus pada pembuatan kerajinan inovatif dari pelepah pisang seperti tas dan perhiasan. Untuk keberlanjutan program maka program kemudian dititipkan melalui ibu PKK melaui pertemuan rutinnya serta dukungan pejabat desa lebaksari. Produk diharapkan dapat dipasarkan lewat bazar lokal dan media sosial, dengan target omzet minimal 1,25 kali dari biaya produksi. Produk-produk ini diharapkan dapat dipasarkan melalui bazar lokal dan media sosial untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui ekonomi kreatif. Evaluasi kualitatif menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif peserta yang tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, dibuktikan dengan kemampuan peserta dalam mengidentifikasi bahan baku pelepah pisang, menerapkan teknik produksi inovatif, serta menghasilkan produk yang memenuhi kriteria unjuk kerja seperti kerapihan, fungsionalitas, dan nilai jual.
PENINGKATAN MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA NELAYAN MELALUI SELF PRODUCTION SKILL BARUGA PESISIR DI KABUPATEN TAKALAR Rasulong, Ismail; Anggoro KR, M. Yusuf Alfian Rendra; Imran, Hamzah Al; Rizal, Samsul; Yusuf, Muhammad; Achsanuddin, Andi Nur; Kahar, Kahar
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.61951

Abstract

Coastal communities are often identified as communities with sharp economic disparities, dense settlements, low skills, poor, slums, and low education. The poverty level is caused by the disparity in income between the entrepreneurial fishermen group and the fishing labor family group. The main problems faced by the target community groups include two areas, namely (1) low knowledge and understanding of family financial planning and (2) lack of skills to produce their own consumptive goods. The method of implementing activities is collaborative and productive. In the initial stage, a Focus Group Discussion (FGD) on the utilization of Baruga Pesisir as a community empowerment service center was conducted, followed by counseling on family financial planning, and training on the production of liquid soap for laundry and dish soap. The results of this activity are (1) the community independently took the initiative to utilize the Baruga Pesisir as a place for the education of fisherwomen, (2) the community has a level of understanding of family financial management, and (3) fisherwomen have independent soap production skills.Masyarakat pesisir seringkali diidentikkan sebagai komunitas masyarakat dengan kesenjangan ekonomi yang tajam, permukiman yang padat, rendah keterampilan, miskin, kumuh, dan Pendidikan yang rendah. Tingkat kemiskinan disebabkan oleh disparitas pendapatan yang senjang antara kelompok nelayan pengusaha dengan kelompok keluarga buruh nelayan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh kelompok masyarakat sasaran meliputi dua bidang yaitu (1) rendahnya pengetahuan dan pemahaman  tentang perencanaan keuangan keluarga dan (2) minimnya keterampilan produksi barang kebutuhan konsumtif sehari-hari. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan manajemen keuangan keluarga dan keterampilan produksi mandiri guna mengurangi pengeluaran rumah tangga nelayan. Metode pelaksanaan kegiatan adalah bersifat kolaboratif dan produktif. Di tahap awal dilakukan Focus Group Discussion (FGD) tentang pemanfaatan Baruga Pesisir, dilanjutkan dengan penyuluhan tentang perencanaan keuangan keluarga, dan pelatihan produksi sabun cair. Hasil dari kegiatan ini adalah (1) masyarakat secara mandiri mengambil inisiatif untuk memanfaatkan baruga pesisir sebagai tempat untuk edukasi ibu-ibu nelayan, (2) masyarakat memiliki tingkat pemahaman tentang manajemen keuangan keluarga, dan (3) ibu-ibu nelayan memiliki keterampilan produksi sabun cuci secara mandiri.
ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN DIGITALISASI BISNIS PADA PENDAMPING UMKM DI KOTA TANGERANG Rivani, Rivani; Hanidah, In-In; Resnawaty, Risna
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.60995

Abstract

Digitalisasi bisnis adalah metode penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di Kota Tangerang. UMKM dengan digitalisasi bisnis dapat meningkatkan daya saing usahanya. Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisa efektivitas pelatihan tentang teknologi digitalisasi bisnis dan program pendampingannya yang ditawarkan kepada para pendamping digitalisasi bisnis untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam membantu proses digitalisasi bisnis UMKM. Kegiatan ini bersifat kualitatif dan didukung dengan data primer yang dihasilkan dari observasi, wawancara, dan survei ke lapangan menggunakan kuesioner di antara 40 peserta program pelatihan digitalisasi bisnis yang merupakan Account Officer dari Lembaga Keuangan Mikro. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan berjalan sangat baik, ditunjukkan dengan antusiasme peserta dan penilaian positif terhadap materi serta keterampilan pemateri. Pada pendampingan pasca-pelatihan, 81% pelaku UMKM mampu mencatat transaksi keuangan secara tertib, 86% mulai memanfaatkan media sosial untuk promosi, dan 41% menggunakan marketplace untuk transaksi digital. Kendala utama adalah preferensi pelaku UMKM terhadap metode tradisional akibat keterbatasan teknologi atau faktor usia. Program ini membuktikan bahwa pelatihan dan pendampingan yang terstruktur dapat memperkuat peran pendamping UMKM dalam mendukung transformasi digital. Dukungan berkelanjutan dari mentor dan narasumber ahli juga menjadi kunci keberhasilan implementasi digitalisasi pada UMKM di Tangerang.

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 3 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 3 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 3 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 3 (2019): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2019): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2019): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 3 (2018): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2018): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2018): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat More Issue