cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 77 Documents
Search results for , issue "2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI" : 77 Documents clear
ANALISIS FREKUENSI DATA HUJAN STASIUN KARANG TUNGGAL, KAB. KUTAI KARTANEGARA DAN STASIUN PAMPANG, SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR Haryanto, Budi; Simangunsong, Johannes E.; Widiastuti, Masayu; Adam, Amer Abdallah; Nursafitri, Rike
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Frekuensi merupakan salah satu tahapan awal dalam Analisis Hidrologi yang sangat penting. Dalam praktek, pada umumnya perhitungan Analisis Frekuensi dilakukan menggunakan Persamaan Koefisien Faktor hingga diperoleh besaran hujan/debit beserta probabilitas kejadiannya. Namun biasanya perhitungan tersebut dilakukan tanpa menyertakan visualisasi berupa grafik Cumulative Distribution Functions (CDF) sehingga apabila data hujan/debit yang digunakan sebagai data analisis tidak cukup bagus, hal itu sangat sulit untuk segera diketahui. Selain itu, analisis frekuensi data-data hujan di Kalimantan Timur yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah masih sangat minim, apalagi yang dapat diakses secara online sehingga itu menyulitkan para pihak yang membutuhkannya.Menyadari hal tersebut mendorong penulis untuk meneliti data-data hujan dari Stasiun Karang Tunggal, Kab. Kutai Kertanegara dan Pampang, Samarinda, Kalimantan Timur. Analisis Frekuensi dilakukan dengan menyertakan visualisasi plotting data pada kurva CDF. Pertimbangan untuk menentukan jenis distribusi manakah yang paling cocok untuk masing-masing data hujan juga menggunakan Interval Confidence Curve, selain Uji Chi-Square dan Uji Smirnov-Kolmogorov. Dari analisis tersebut disimpulkan bahwa jenis distribusi yang paling cocok untuk data hujan dari Stasiun Karang Tunggal dan Pampang adalah distribusi Gumbel. Besaran hujan pada Stasiun Karang Tunggal dengan periode ulang 2; 5; 10; 20; 50; 100; 200; 500 dan 1000 tahun berturut-turut yaitu, sebesar 83,30mm; 105,16 mm; 119,63 mm; 133,51 mm; 151,48 mm; 164,94 mm; 178,35 mm; 196,05 mm dan 209,43mm. Adapun pada Stasiun Pampang dengan periode ulang hujan yang sama berturut-turut yaitu sebesar 79,51 mm; 90,43 mm; 97,66 mm; 104,60 mm; 113,58 mm; 120,31 mm; 127,01 mm; 135,86 mm dan142,54 mm.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kemudahan informasi bagi para praktisi/peneliti maupun pihak-pihak lain yang membutuhkannya, baik untuk tujuan akademik ilmiah, dalam pengambilan kebijakan menyangkut pengelolaan Sumber Daya Air maupun untuk kepentingan desain, termasuk dalam dunia pertambangan.
STUDI KORELASI ANTARA DATA INTEGRITY - ZERO SPOTTING TERHADAP KONFIGURASI ALAT GALI-MUAT DI PT KALTIM PRIMA COAL Oktarian, Rendi; ST, M. Arif Saputra,
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Kaltim Prima Coal telah melakukan peningkatan Fleet management Systems (FMS) di bulan Juni 2022 untuk mendukung pencatatan dan pengoptimalan aktivitas penambangan. Pengoperasian FMS yang handal dan efisien sangat penting untuk mengoptimalkan produksi dan utilisasi di dalam aktivitas penambangan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang masalah dengan sistem dan operasional yang mengganggu kerja dispatcher dari tidak tercatatnya waktu spotting truck atau zero spotting dan dampaknya pada produktivitas, waktu tempuh dan utilisasi alat serta memberikan masukan terkait konfigurasi alat gali-muat yang optimal. Konfigurasi shovel-truk yang tidak optimal dapat mengakibatkan angka shovel wait atau truck queue menjadi sulit dikontrol. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tingginya angka zero spotting menyebabkan tingginya angka load rate digger (produktifitas), waktu tempuh, expected idle time (hang), dan rendahnya angka operating time. Keempat faktor tersebut menyebabkan tidak akuratnya perhitungan Dispatch optimalisation systems (DOS) dalam pengaturan flow truck dan dapat mengakibatkan excess truck queue, unused shovel dan tidak optimalnya produksi digger. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya untuk memantau integritas data dengan meningkatkan kesadaran data integrity di kalangan dispatcher dan operator untuk menangani data input yang dibutuhkan untuk perhitungan DOS serta meningkatkan kapasitas perangkat dispatch dan jaringan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa data integrity – zero spotting diatas 85% yang menghasilkan konfigurasi alat gali - muat yang lebih optimal, yang dilihat dari parameter%Operating dan %Ready alat gali yang diatas 80% dengan tetap menjaga angka antrian truk berada dibawah target. Proses peningkatan data integrity merupakan upaya yang berkesinambungan dan sejak bulan Februari 2023, upaya ini menghasilkan peningkatan integritas menjadi 85.9% dan berturut-turut untuk bulan selanjutnya tetap diatas 85%.
IMPACT THE RESULT OF BLASTING WITH ELECTRONIC DETONATOR USING SEGMENTATION AND NON-SEGMENTATION METHODS Alghifari, Mohamad Rifki; Handayana, Raden Haris; Salahudin, Sani
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat peledakan overburden batubara adalah getaran. Getaran ini dihasilkan dari sisa energi peledakan yang merambat pada struktur batuan, yang dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan. Di Indonesia, pemerintah mengatur pembatasan getaran pada SNI 7571:2010. Dalam hal ini Sebuku Tanjung Coal yang merupakan perusahaan tambang yang melakukan kegiatan peledakan untuk menghilangkan lapisan tanah penutup batubara dan lokasi peledakan dekat dengan struktur bangunan (rumah umum), khususnya di Pit T3. Struktur gedung ini termasuk dalam gedung Kelas 2 pada SNI 7571:2010 dengan nilai Peak Vector Sum (PVS) maksimal 3 mm/s atau nilai Peak Particle Velocity (PPV) 3-7 mm/s pada frekuensi 0- 100 Hz. Jarak beberapa critical area dari lokasi peledakan sekitar 200-700 m. Sistem inisiasi yang digunakan adalah Hanwha Electronic Blasting System 2nd Generation (HEBS II) kombinasi HiMex 70 (Emulsion) sebagai bahan peledak. Pada makalah ini, desain tie-up peledakan menggunakan metode segment dan non- segment untuk membandingkan hasil peledakan dari kedua metode tersebut. Berdasarkan 16 perbandingan data yang diperoleh, diperoleh hasil vibrasi menggunakan segmen dan non segmen dengan rentang nilai 2,767-15,102 mm/s. Hasil rata-rata waktu penggalian dengan metode segmen adalah 10,9 detik, sedangkan metode non-segmen adalah 10,3 detik. Ukuran rata-rata fragmentasi (D80) dengan metode segmen adalah 49,1 cm, sedangkan metode non-segmen adalah 45,4 cm.
ANALISIS DAYA SAING KOMPETITIF DAN KOMPARATIF INDUSTRI BERBASIS TEMBAGA INDONESIA BERDASARKAN HARMONIZED SYSTEM CODE MENGGUNAKAN METODE TRADE SPECIALIZATION INDEX DAN REVEALED COMPARATIVE ADVANTAGE Mahdyrianto, Fadhil; Puspita, Mega
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan cadangan tembaga terbesar ketujuh di dunia yaitu sebesar 3,1 miliar ton dalam bentuk bijih, dengan persentase 3,21% dari total cadangan tembaga global. Saat ini Indonesia masih mengekspor tembaga dalam bentuk konsentrat sebanyak 53,45% dan sisanya diolah didalam negeri untuk diolah menjadi katoda tembaga (Cu Cathode). Saat ini, industri hilir di Indonesia yang menyerap Cu Cathode sebagai bahan baku adalah industri yang memproduksi Cu Bar, Cu Wire dan Cu Rod. Industri tersebut masih melakukan impor bahan baku karena jumlah pabrik smelter yang memproduksi Cu Cathode masih sangat terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa industri antara dan hilir berbasis tembaga sudah ada di dalam negeri, namun belum berkembang dan/atau tumbuh secara optimal.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing kompetitif dan komparatif industri berbasis tembaga berdasarkan Harmonized System Code menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Trade Specialization Index (TSI). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perdagangan, dimana data yang digunakan antara lain nilai ekspor, nilai impor dan nilai ekspor total Indonesia serta nilai ekspor total dunia.Dari hasil analisis metode RCA dan TSI menunjukkan bahwa Industri berbasis tembaga yang mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif adalah Industri yang memproduksi Cu Cathode (HS 7403), Cu Bar/Rod (HS 7407) dan Cu Wire (HS 7408) yang ditunjukkan dengan nilai RCA1 dan berada pada status tahap pertumbuhan (0,01TSI0,80). Hasil analisis ini dapat digunakan oleh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, produsen, dan eksportir, untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi industri tembaga Indonesia di pasar global.
HYDROGEOLOGICAL MODELING USING MODFLOW TO ESTIMATE THE GROUNDWATER INFLOW INTO PIT QZ FOR PUMPING PLAN AT DIFFERENT MINE DEVELOPMENT STAGES Ramadhona, Yudanta Arba; Fauziyyah, Fithriyani; Maulana, Achmad; Yusuf, Alfian
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An excavation activity in open pit mining often means penetrating the local or regional groundwater table into the pit which may cause water in a rush into the excavation location. In case that the host rock is significantly permeable, it can become a big problem for mining excavation operations. Consequently, in order to avoid excessive waterlogging, a good dewatering strategy is required by simulating and estimating groundwater inflow. Pit QZ geologically located in the tertiary Pasir sub- basin, are multi-seam deposits within the Miocene age Warukin Formation which is mainly composed of coal, mudstone, and interbedded fine sandstone. The hydrogeological model was built by MODFLOW both conceptual and numerical modeling based on hydrogeology parameters data taken from field observation and study literature for modeling groundwater inflow into the pit at different mine development stages. This study uses groundwater evapotranspiration and other hydrologic features, such as observation wells and rivers, as boundary conditions. Based on geological conditions of Pit QZ, the hydrostratigraphy consists of sandstone as aquifers, mudstone and coal as aquitards with hydraulic conductivity values in aquifer of 1 x 10-5 m/s and aquitard of 1 x 10-8 m/s. The groundwater budget result revealed that the mining area would receive net groundwater inflows of 8,636 m3day-1 in the initial stages of development. The net groundwater inflow would be 16,605 m3day- 1 and 22,219 m3day-1 in the second and third development stages, respectively. The result of the model can be used to plan optimal groundwater pumping and the possible locations to dewater the groundwater for safe mining at different mine development stages. This hydrogeological model can also be integrated with the geotechnical model to characterize the groundwater table for the purposes of slope stability analysis because of its effect on pore water pressure within the slope material. 
Model Konseptual : Horizontal Borehole Mining (HBHM) Untuk Penambangan Endapan Aluvial Laut Secara Efektif dan Efisien Marbun, Nomensen Ricardo; Nurdaen, Nofhy Gumelar; Dwipayana, Arif
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Horizontal Borehole Mining (HBHM) merupakan sistem penggalian/ penambangan langsung pada zona ore di bawah permukaan bumi yang memanfaatkan media air berkecepatan tinggi (water jet) sebagai pemberai dan sekaligus menjadi media angkut material terberai ke atas permukaan, melalui pipa yang dirancang horizontal mengikuti lapiran ore. Sebagai besar cadangan bijih timah yang dimiliki oleh PT Timah Tbk berasal dari endapan placer (alluvial tin) dimana sistem pengendapannya terdistribusi secara lateral. Konsep/ teori HBHM ini sangat relevan dengan kondisi endapan timah yang terdistribusi lateral. Tulisan ini menyajikan model konseptual HBHM dan perhitungan sederhana yang menjelaskan bagaimana sistem hidrolika bekerja. Efisien dalam biaya produksi dan efektif dalam proses penambangan menjadi tujuan yang diharapkan dalam tulisan ini.Jika model panjang pipa total pipa 100 meter, yaitu 40 meter pipa vertikal, 10 meter pipa lengkung dan 50 meter pipa horizontal diperkirakan flow rate (v) 28,28 m/s, coefisient losses(k) 0,14 dengan head losses 5,65 meter. Tekanan Hidrostatis yang dihasilkan 343,4 kN/m2. Pada pipa Horizontal dengan panjang 50 meter, setelah head looses kecepatan aliran menjadi 23,67 m/s. Setelah pemberaian, material solid bercampur dengan air membentuk slurry (lumpur). Dengan menggunakan persamaan energi potensial dan energi kinetik, kecepatan aliran awal slurry 36,9 m/s dan menjadi 6,1 m/s saat tiba ke permukaan. Dalam konsep panggalian/ penambangan nya, dilakukan dengan skema forward mining (sistem penambangan maju) dan backward mining (sistem penambangan mundur).Model konseptual HBHM ini masih bersifat hipotetik, sehingga perlu pengkayaan informasi lebih lanjut untuk menghasilkan model yang final. Tidak perlu dilakukannya pengupasan overburden saat penambangan di laut berlangsung, perolehan recovery penambangan yang relatif tinggi efisien dan efektif dari segi pembiayaan menjadi target utama jika model konseptual HBHM ini dapat diimplementasikan.
PENGARUH PENAMBAHAN BATU KAPUR UNTUK PENCEGAHAN PEMBENTUKAN AIR ASAM TAMBANG PADA MATERIAL CO-DISPOSAL TAILINGS MANAGEMENT FACILITY (TMF) Afandi, Khairul; Sinamo, Boymo S.; Hadi, Ismoyo Catur
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan peningkatan jumlah cadangan bijih yang ekonomis, PTAR membutuhkan tambahan lokasi sebagai penempatan tailing sebesar 61,2 juta ton. Tailing sebagai sisa pengolahan emas dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3). PTAR akan membuat fasilitas baru dalam penempatan tailing yang dihasilkan dengan metode penimbusan akhir. Fasilitas ini disebut dengan Tailing Management Facility (TMF). TMF nantinya akan menampung tailing kering dan dicampur dengan batuan samping yang kemudian disebut dengan co-disposal. Material tailing kering dan 92% batuan samping di PTAR memiliki karakteristik geokimia PAF (Potentially Acid Forming).Pada penelitian ini dilakukan studi untuk mengetahui pengaruh penambahan batu kapur dan dosis batu kapur yang optimal sebagai pencampur material co-disposal untuk mencegah terbentuknya air asam tambang. Metode dilakukan dengan menggunakan metode uji statik yang kemudian diverifikasi uji kinetik. Uji statik meliputi Acid Based Accounting (ABA) dan uji Net Acid Generating (NAG) pH. Uji kinetik dilakukan dengan metode Free Drainage Column Leach Test (FDCLT) disertai teknik pemadatan.Penambahan batu kapur dan proses pemadatan pada material co-disposal memberikan dampak terhadap karakteristik geokimia material. Berdasarkan hasil pengujian terjadi penurunan nilai NAPP seiring dengan penambahan dosis batu kapur. Selain itu nilai NAG pH dan pH air lindian mengalami peningkatan dengan penambahan batu kapur. Hasil penelitian menunjukkan dosis limestone optimal sebagai pencampur material co-disposal adalah sebanyak 10 kg/ton tailing.
PEMODELAN AIR PERMUKAAN DENGAN HEC-RAS UNTUK MENGANALISIS KAPASITAS CEKDAM LATUMBI DI PT MEDAMI Putra, Dandi Winata; Utami, Mewwa; Hartami, Pantjanita Novi; Tuheteru, Edy Jamal
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT MEDAMI merupakan tambang nikel dengan metode tambang terbuka. Pada pengoperasian tambang terbuka diperlukan perencanaan sistem penyaliran yang baik untuk mengendalikan air permukaan dari area pertambangan menuju badan alami sungai dan daerah sekitarnya. Perencanaan penyaliran utamanya terkait dengan pengelolaan air tambang telah diatur pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber daya Mineral Republik Indonesia Nomor 1827K/30/MEM/2018. PT MEDAMI diketahui belum memiliki ketentuan menurut peraturan tersebut. Maka dari itu, perlu dilakukan kajian terkait perhitungan dengan kapasitas sekurang- kurangnya 1,25 kali volume air tambang pada curah hujan tertinggi selama 84 jam serta kajian pada saat curah hujan ekstrem. Analisis dilakukan dengan melakukan pemodelan air permukaan 2D menggunakan Software HEC-RAS. Hasil dari pemodelan diperoleh volume untuk Cekdam Latumbi 159.000 m3. Berdasarkan hasil skema model banjir di lokasi cekdam menunjukkan fasilitas pengendapan PT MEDAMI tidak cukup untuk menahan air limpasan ditunjukkan dengan sebaran air limpasan yang meluap. Ketiga cekdam tersebut tidak memenuhi persyaratan Kepmen ESDM sehingga perlu penambahan kapasitas untuk Cekdam Latumbi sebesar 40,78 % dari kapasitas aktual.
INISIATIF BENEFISIASI PEMILAHAN BIJIH DI TAMBANG EMAS MARTABE Siregar, Latipa Henim; Liu, Michael; Silitonga, Benny; Kurnadi, Surya; Mangatas, Ro; Simanjuntak, Bonni; Rosani, Aisah
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambang Emas Martabe saat ini sedang memulai inisiatif benefisiasi pemilahan bijih yang bertujuan untuk meningkatkan nilai mutu dari bijih yang ditambang. Teknologi dan aplikasi pemilahan bijih digunakan untuk memisahkan bijih dan non bijih berdasarkan karakteristik tertentu yang berbeda seperti warna, kepadatan, dan radiasi. Martabe sebelumnya telah menjajaki opsi untuk menggunakan transmisi sinar-x (XRT) dan fluoresensi (XRF) sebagai sumber radiasi di mana sinyal yang terdeteksi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan mineral berdasarkan karakteristiknya, namun hasilnya sulit untuk mencapai pemisahan antara bijih dengan non bijih berdasarkan karakteristik tersebut. Pada percobaan selanjutnya dengan pengambilan sampel di sirkuit crushing ditemukan hubungan antara ukuran butiran dengan kadar Au berdasarkan hasil analisa distribusi ukuran butiran. Diketahui bahwa ada hubungan yang jelas antara fraksi kasar dan halus. Ukuran partikel pada+100mm ke atas dilaporkan memiliki nilai Au yang lebih rendah sedangkan ukuran partikel di bawah - 100m yang menunjukkan nilai Au yang lebih tinggi. Termuan ini selanjutnya dicoba untuk dibuktikan pada stockpile kadar rendah dan sub-ekonomik dengan pengambilan sampel dan assay yang lebih banyak dan hasilnya juga menunjukkan hasil yang serupa. Upaya pembuktian dan pengujian konsep tersebut dilakukan pada skala yang lebih besar, yaitu dengan menggunakan unit mobile screening Terex Finlay 883. Unit mobile screen yang memiliki kapasitas sebesar 300 t/jam ini ditempatkan di salah satu stockpile sub-ekonomi untuk pengujian. Hasil awal menunjukkan bahwa dengan menerapkan pemilahan bijih berdasarkan ukuran butiran, mampu memberikan perbedaan kadar Au antara fraksi kasar dan halus yang dipisahkan. Perbedaan rata-rata kadar Au tsb. antara 50% hingga 70%. Rata- rata kadar Au fraksi kasar ketika dipisahkan dilaporkan sebesar 1,01 g/t sedangkan kadar Au halus dilaporkan sebesar 2.46 g/t. Dengan mengadopsi inisiatif ini, akan memungkinkan bijih kadar rendah hingga sub-ekonomi untuk dipilah berdasarkan ukuran bijih menjadi ekonomis dan layak, serta mengurangi biaya operasi dan pengolahan karena hanya ton bijih ekonomis yang diproses.
ANALISA TINGKAT TOTAL SUSPENDED SOLID BERDASARKAN LITOLOGI BATUAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN SISTEM DEWATERING Nugraha, Fery; Mangatur, Yonathan; Wibowo, Wahyu; Palimbunga, Aris Study
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air limbah yang tertampung pada Sump PT. Bara Anugrah Sejahtera (BAS) memiliki tingkat Total Suspended Solid (TSS) di atas 5000 mg/liter secara konsisten. Tingginya tingkat Total Suspended Solid (TSS) bersumber dari erosi lapisan tanah maupun batuan yang terbawa oleh air. Hal ini berdampak sangat signifikan pada dewatering PT. BAS. Tingkat TSS ini termasuk apa pun yang melayang atau mengambang di air, dari sedimen, lanau, dan pasir hingga plankton dan ganggang. Padatan tersuspensi total (TSS) adalah partikel yang lebih besar dari 2 mikron yang mengambang pada air. Selain itu, permasalahan yang paling utama dihadapi adalah partikel suspended solid tidak dapat terendapkan sehingga tingkat TSS dan tingkat kekeruhan air belum ada penurunan. Secara Stratigrafi, lithologi batuan di daerah IUP PT. BAS tersusun atas batuan-batuan dari Formasi Kasai dan Muara Enim. Pada area bukaan tambang secara keseluruhan berada di Formasi Muara Enim tersusun atas perlapisan antara batupasir kuarsa, lempung dan lempung pasiran. Salah satu upaya yang perlu dilakukan dengan mengindentifikasi material ataupun lapisan yang menjadi penyumbang tingkat TSS tinggi pada air Sump. Pemilahan sampel per lapisan dilakukan berdasarkan jenis litologi batuan secara vertikal. Sampel dimasukkan kedalam wadah bening lalu diaduk bersama air sebagai anggapan air yang mengerosi lapisan batuan. Sampel kemudian didiamkan untuk mengukur lama waktu pengendapan ataupun penurunan tingkat TSS per jangka waktu yang ditentukan. Hasil uji tingkat TSS per litologi didapatkan secara keseluruhan semua lapisan batuan menyumbang tingkat TSS cukup tinggi mencapai lebih dari 3000 mg/liter pada saat awal dilakukan adukan dengan air dalam wadah. Perbedaaan signifikan terdapat sampel satuan batuan lempung yang tidak tampak terendapkan dan tingkat TSS tetap tinggi lebih dari 1000 mg/liter. Sedangkan pada sampel lainnya mulai dari soil hingga satuan batuan pasir, tingkat TSS per periode waktu mengalami penurunan mencapai kurang 200 mg/liter.