cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript" : 20 Documents clear
PENGEMBANGAN SEDIAAN GEL BERBASIS EKSTRAK IKAN GABUS DAN ASTAXANTHIN UNTUK PENYEMBUHAN LUKA BAKAR PADA MODEL HEWAN TIKUS Basuki, Rahmat; Ratna, Djamil; Esti, Mumpuni
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.1606

Abstract

Luka bakar menyebabkan kerusakan jaringan ditandai penurunan aktivitas scavenging dan antioksidan. Ekstrak Ikan gabus kaya akan protein hewani sumber albumin, yang berkhasiat dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Haematococcus pluvialis merupakan mikroalga yang mengandung senyawa astaxantin dengan aktivitas antioksidan lebih poten dibanding beta karoten dan vitamin E. Penelitian terhadap penggunaan kedua bahan tersebut dalam sediaan gel bertujuan untuk mengetahui efektivitas gel kombinasi astaxantin dan ekstrak ikan gabus untuk luka bakar disertai evaluasi sediaan gel. Uji efektivitas diawali pengkondisian luka bakar terbuka pada tikus, kemudian luka diolesi gel F0 (basis), gel F1 (kontrol positif), gel F2 (gel ekstrak ikan gabus 10 g dan astaxantin 0,0032 g) dan gel uji F3 (ekstrak ikan gabus 15 g dan astaxantin 0,0032 g). Terhadap gel uji dilakukan standarisasi ekstrak dan evaluasi gel. Efektivitas gel diuji melalui pengamatan dan pengukuran luka bakar berbentuk lingkaran pada tikus, disertai perhitungan persentase penyembuhan. Hasil pengukuran diameter luka bakar setelah perlakuan didapat, rata rata diameter luka pada F0 8,87 mm, F1 6,79 mm, F2 2,50 nm dan F3 1,91 mm. sedangkan data rata rata persentase penyembuhan F0 62,93 %, F1 45,08%, F2 87,49 %, dan F3 89.92%. Data dianalis menggunakan SPSS versi 16. Hasill analisa menunjukan bahwa gel basis, kontrol positif dan gel uji tidak memiliki perbedaan yang signikan terhadap kemampuan penyembuhan
ANALISIS HUBUNGAN KESESUAIAN PROSEDUR PERACIKAN DAN KUALITAS SEDIAAN RACIKAN NONSTERIL BEBERAPA APOTEK DI KABUPATEN PEKALONGAN Rizqi Aulia, Rachim; Indri, Hapsari; Tita, Nofianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.1908

Abstract

Sediaan racikan yang ada di fasilitas kesehatan mempunyai permasalahan utama yaitu tentang kualitas sediaan karena dalam proses peracikannya belum menggunakan persyaratan yang ketat seperti pada industri farmasi. Kualitas sediaan yang baik menunjukkan terpenuhinya persyaratan fisik dan terhindarnya dari kontaminan patogen. Namun, pada implementasinya tenaga peracik tidak begitu memperhatikan standar prosedur operasional yang dapat mempengaruhi kualitas dari sediaan yang diracik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi prosedur peracikan, kualitas sediaan racikan nonsteril dan hubungan diantara kesesuaian prosedur peracikan dengan kualitas sediaan. Penelitian dilaksanakan di beberapa apotek wilayah Kabupaten Pekalongan secara observasional analitik yang dilakukan pada Januari-Maret 2024. Instrumen penelitian berupa lembar checklist yang tervalidasi dan hasil uji fisik maupun mikrobiologi dari sampel. Ditemukan kesesuaian implementasi aspek dan prosedur peracikan berdasarkan Pedoman United State Pharmacopeia (USP) dan Standar Prosedur Operasional (SPO) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) masing-masing 94,29% dan 91,23%; tidak memenuhi syarat seperti homogenitas pulveres (46%), keragaman bobot (22%), daya sebar salep (33.34%) dan kontaminan bakteri Staphylococcus aureus (100%) serta jamur Candida albicans (33.34%) pada sediaan racikan cair. Adanya hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara kesesuaian aspek peracikan berdasarkan pedoman USP <795> p=0.554 (p<0.05) serta adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara kesesuaian prosedur peracikan berdasarkan SPO IAI pusat terhadap kualitas sediaan p=0.007 (p<0.05). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa kesesuaian prosedur  peracikan berdasarkan SPO IAI memiliki hubungan yang kuat dan signifikan terhadap kualitas sediaan, tetapi masih banyak aspek kualitas sediaan yang tidak memenuhi syarat dan memiliki hubungan yang lemah terhadap aspek peracikan berdasarkan pedoman USP <795>, sehingga perlunya sosialisasi, monitoring dan evaluasi terkait prosedur operasional kepada tenaga peracik yang ada di pelayanan kefarmasian khususnya di apotek Kabupaten Pekalongan.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI SEDIAAN GEL ITRACONAZOLE DENGAN SISTEM PEMBAWA VESICULAR TRANSFERSOM SEBAGAI ANTIJAMUR Widia Primi, Annisya; Ai Rian, Julyanti; Dika Tri, Agustina; Rizka Sri, Jayanti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2013

Abstract

Itraconazole merupakan obat anti jamur yang memiliki keterbatasan kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi termasuk kedalam (Biopharmaceutical Classfication System) Kelas II. Hal ini menjadi permasalahan dalam bioavailabilitas yang dimiliki itraconazole sehingga menurunkan nilai terapetiknya. Oleh karena itu, perlunya meningkatkan kelarutan sehingga dapat meningkatkan laju disolusi, kelarutan dan absorbsi itraconazole. Untuk mengatasi keterbatasan itraconazole, maka dilakukan pengembangan teknologi formulasi terhadap peningkatan kelarutan dengan dibuat sistem vesicular dalam bentuk transfersom serta diinkorporasikan kedalam bentuk sediaan gel untuk mempermudah pengaplikasian transfersom itraconazole sebagai antijamur. Mekanisme transfersom dengan mengkombinasikan fosfolipid dan surfaktan sehingga membuat transfersom sangat fleksibel dan mampu menembus lapisan kulit yang sulit ditembus oleh sistem penghantaran obat konvensional. Untuk mengetahui keberhasilan transfersom dilakukan karakteristik transfersom yaitu pengujian  Particle Size Analisis, Potensial Zeta, PDI dan Stabilitas. Formula transfersom pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi surfaktan dan fosfolipid yang digunakan 10%. Dari ke 3 formula tersebut didapatkan nilai PSA FT1 124 nm ± 0.47,  FT2 135 ± 0.58, dan FT3 146± 0.47 memenuhi persyaratan <150 nm. Nilai Potensial Zeta ke 3 Formula FT1 -42.5 mV, FT2 -45.8 Mv dan FT3 -43.2 mV memenuh kriteria ±-35 mV. Nilai PDI mendekati 1 yang artinya sediaan formula transfersom Itraconazole homogen. Pengujian morfologi Transfersom menggunakan TEM. Pengembangan sediaan gel dengan komponen formula utama Carbopol dilakukan variasi konsentrasi 0.3%, 0.6% dan 0.9%. Didapatkan pH dan viskositas yang memenuhi persyaratan pada formula FCB 0.6 dengan pH 5.1 ± 0.2 dan viscositas gel 23453 cPs ±1.95.
FORMULATION AND ANTIOXIDANT ACTIVITY TEST OF PEEL OFF GEL MASK KOMBUCHA BUNGA TELANG USING THE DPPH METHOD Yayan, Rizikiyan; Fasiha Nur, Fadila; Ine, Suharyani; Renny, Amelia
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2079

Abstract

Free radicals are unpaired molecules that can cause damage to body cells. This cellular damage can be countered with natural antioxidants derived from plants, one of which is butterfly pea flower, when combined with kombucha, resulting in butterfly pea kombucha that has better antioxidant activity for the body. Peel-off gel masks are facial cosmetic preparations that have a gel-like consistency when applied to the face. After a certain period, they dry and form a film layer that can be peeled off. The concentrations of butterfly pea flower kombucha used were 5%, 7.5%, and 10%. The purpose of the study was to determine the antioxidant activity of the butterfly pea flower kombucha peel-off gel mask using the DPPH method and to obtain the optimum formula. The DPPH method was used to assess the ability of the antioxidant activity to inhibit DPPH. The evaluation of the peel-off gel mask formulation was conducted through organoleptic testing, homogeneity, pH, spreadability, adhesion, drying time, viscosity, and flow properties. To determine antioxidant activity, antioxidant activity testing was performed using a UV-Vis spectrophotometer. The results of the evaluation of the peel-off gel mask formulations 1, 2, and 3 fulfill all testing requirements, with antioxidant activity showing IC50 values of 56.03 ppm ± 0,02 for Formula 1, 52.50 ppm ± 0,02 for Formula 2, and 49.32 ppm ± 0,04 for Formula 3
OPTIMASI METODE EKSTRAKSI TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ASETON DAGING KERANG DARAH (Anadara granosa) Juliana, Baco; Citra, Dewi; Mus, Ifaya; Mulyadi, Prasetyo; Syawal, Abdurrahman; Nesha, Repista
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2086

Abstract

Kerang darah (Anadara granosa) merupakan kelompok famili Arcidae, yang diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan mengandung berbagai senyawa bioaktif salah satunya flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode maserasi dan sonikasi terhadap kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental, sampel kerang darah (Anadara granosa) diekstraksi dengan metode maserasi dan sonikasi menggunakan pelarut aseton, untuk penentuan kadar flavonoid total ditentukan dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 436 nm, adapun uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH yang diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) melalui uji skrining positif mengandung flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Hasil uji kadar flavonoid total menggunakan metode maserasi memiliki kadar flavonoid 584,03 mgQE/g ekstrak atau sebesar 58,4% b/v mg/ml, sedangkan ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) menggunakan metode sonikasi memiliki kadar flavonoid 662,7 mgQE/g ekstrak atau sebesar 66,2% b/v mg/ml. Hasil uji aktivitas antioksidan dari ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) menggunakan metode maserasi yang dinyatakan dalam nilai IC50 diperoleh sebesar 64,18 μg/mL dengan kategori antioksidan kuat, sedangkan hasil uji aktivitas antioksidan dari ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) menggunakan metode sonikasi diperoleh sebesar 48,66 μg/mL dengan kategori antioksidan sangat kuat. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan fraksinasi senyawa flavonoid dan juga membuat sediaan farmasi yang cocok dari ekstrak aseton kerang darah (Anadara granosa) yang mempunyai aktivitas antioksidan.
IN VITRO AND MOLECULAR DOCKING ANALYSIS OF NUTMEG EXTRACT ANTIBACTERIAL ACTIVITY AGAINST Propionibacterium acnes Angga Saputra, Yasir; Indah Puspita, Sari; Veni Putri, Nurhayati; Aida Febina, Sholeha
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2107

Abstract

This study investigated the antibacterial activity of nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) extract against Propionibacterium acnes  through in vitro and molecular docking approaches. The nutmeg flesh was extracted using ultrasonication with 96% ethanol, yielding 8.21% extract. Phytochemical screening revealed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, and steroids. The antibacterial activity was evaluated using the microdilution method, determining Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) values of 0.5% and 1%, respectively. Molecular docking analysis was performed to understand the interaction between nutmeg's bioactive compounds and three essential Propionibacterium Acnes proteins: Sialidase (7LBV), lipase (5H6G), and Penicillin-Binding Protein 2 (3UPO). Among the tested compounds, myristicin showed the strongest binding affinity with 7LBV (-6.8 kcal/mol), while lignan exhibited notable interactions with 3UPO (-6.6 kcal/mol) and 5H6G (-5.9 kcal/mol). The molecular interactions were primarily stabilized through hydrophobic interactions and hydrogen bonding with specific amino acid residues. These findings suggest that nutmeg extract possesses significant antibacterial activity against Propionibacterium Acnes, potentially mediated through multiple molecular targets, supporting its development as a natural anti-acne ingredient.
SEVERITAS INTERAKSI OBAT CLOZAPINE PADA PASIEN SKIZOFRENIA: ANALISIS KARAKTERISTIK Siska, Lidiya; Muhammad, Fauzi; Juwita, Ramadhani; Karina, Erlianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2110

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang memerlukan penanganan farmakologis, seringkali melibatkan penggunaan clozapine sebagai terapi lini akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keparahan interaksi obat pada penggunaan clozapine dan menganalisis karakteristik pasien skizofrenia yang mempengaruhi interaksi obat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sambang Lihum. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan retrospektif. Rekam medis pasien skizofrenia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara purposive dari data tahun 2023. Analisis dilakukan dari 100 pasien ditemukan 96 pasien memiliki potensi interaksi obat. Mayoritas interaksi (78%) tergolong farmakodinamik dengan 72 kasus berada pada tingkat keparahan mayor. Obat yang paling sering berinteraksi dengan clozapine antara lain haloperidol, lorazepam, trifluoperazine, trihexyphenidyl, dan chlorpromazine. Karakteristik pasien terdiri dari pasien skizofrenia yang menggunakan clozapine mayoritas berjenis kelamin laki-laki (66%), berusia 26–45 tahun (68%), tidak bekerja (79%), berpendidikan maksimal SD (40%), dan telah menjalani terapi selama < 5 – 10 tahun (83%). Hasil analisis menunjukkan interaksi farmakodinamik pada tingkat keparahan mayor sering terjadi pada pasien skizofrenia. Faktor usia berhubungan signifikan terhadap potensi interaksi obat ( ) dimana pasien usia > 45 tahun memiliki kemungkinan 1.262 kali lebih besar mengalami interaksi obat katagori mayor dibandingkan pasien < 45 tahun. Temuan ini menunjukkan perlunya diperhatikan faktor usia dalam optimalisasi terapi clozapine guna mengurangi risiko efek samping akibat interaksi obat.
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK PROPOLIS Heterotrigona itama DAN DAUN Sonneratia caseolaris TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Muhammad Bayu , Radityo; Paula Mariana, Kustiawan
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2126

Abstract

Radikal bebas adalah molekul reaktif yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan dan dapat merusak jaringan tubuh seperti protein dan DNA. Antioksidan yang ditemukan di alam berperan dalam menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan tersebut. Bahan alam propolis Heterotrigona itama dan daun Sonneratia caseolaris diketahui mengandung senyawa antioksidan alami. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari kombinasi ekstrak H. itama propolis dan daun S. caseolaris menggunakan metode DPPH. Hasil pengujian antioksidan menunjukkan bahwa variasi kombinasi ekstrak H. itama propolis (EP) dan daun S. caseolaris (ESC) rasio 1:1 (IC50 56,6 ppm), 2:1 (IC50 71,5 ppm), 0:1 (IC50 50,36 ppm), dan 1:0 (IC50 73,13 ppm). Sedangkan rasio 1:2 memiliki nilai IC50 35,1 ppm dan kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat dibandingkan variasi kombinasi ekstrak lainnya. Hal ini menunjukan kombinasi ekstrak tersebut dapat bersinergi dalam meningkatkan aktivitas antioksidan.
SISTEM PENGHANTARAN OBAT ACNE PATCH DARI ISOLAT PIPERIN SEBAGAI ANTI JERAWAT Retty, Handayani; Nurul, Auliasari; Zahra Shafira Nur, Aurulianti
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2128

Abstract

Jerawat merupakan penyakit kulit yang timbul akibat peradangan pada folikel pilosebasea yang salah satunya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Piperin (Piper nigrum L.) merupakan senyawa utama pada tumbuhan lada hitam yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antijerawat dari isolat piperin dalam bentuk sediaan acne patch. Pada penelitian ini isolat piperin dilakukan uji karakteristik menggunakan Spektrometri Massa (MS) untuk melihat analisis fragmen molekul yang diperoleh yang diperoleh. Basis patch diformulasikan dengan variasi konsentrasi HPMC dan PEG 400 dan dibuat dengan metode solvent casting. Formulasi acne patch dibuat dalam empat variasi formula dengan konsentrasi isolat piperin yaitu F0 tanpa isolat; F1 isolat 20%; F2 isolat 30%; F3 isolat 40%. Sediaan acne patch dievaluasi stabilitas fisik meliputi organoleptik, keseragaman bobot, ketebalan patch, ketahanan lipat, pH, susut pengeringan dan daya serap kelembaban. Uji aktivitas antijerawat dilakukan terhadap bakteri Propionibacterium acnes menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan acne patch dengan konsentrasi 20%, 30% dan 40% menghasilkan sediaan patch dengan stabilitas fisik yang baik dan memiliki aktivitas antijerawat terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan diameter hambat pada F1 isolat 20% memiliki daya hambat 12,99 ± 1,62 mm (F1, 20%), 13,29 ± 0,28 mm (F2, 30%), dan 13,49 ± 1,17 mm (F3, 40%), yang termasuk kategori daya hambat kuat.
COST-EFFECTIVENESS DEXKETOPROFEN VS KETOROLAC IN CAESAREAN PATIENTS AT 'X' HOSPITAL, PANDEGLANG Yusransyah, Yusransyah; Sofi Nurmay, Stiani; Farahdina, Chairani; Latifah Nur, Rizki; Baha, Udin
Pharmacoscript Vol. 8 No. 2 (2025): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v8i2.2150

Abstract

Post-cesarean section pain must be treated promptly and appropriately to prevent chronic conditions. Dexketoprofen and Ketorolac are non-narcotic analgesics commonly used to manage such pain. This study aimed to analyse the cost-effectiveness of dexketoprofen and ketorolac in patients undergoing cesarean sections at Mother and Child Hospital "X" in Pandeglang. The study used a cross-sectional design with cost-effectiveness analysis, specifically the Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER). Pain intensity was measured one hour after surgery using the Faces Pain Rating Scale and Visual Analog Scale (VAS). Inclusion criteria were patients who underwent cesarean section and received non-narcotic analgesics. A total of 90 patients participated: 39 in the dexketoprofen group and 51 in the ketorolac group. Data were analyzed using ACER and the Mann-Whitney test. The ACER, based on the Faces Pain Rating Scale, showed a cost of IDR 1,142 for the dexketoprofen group and IDR 958.03 for the ketorolac group. Using the VAS, the cost was IDR 1,110 for dexketoprofen and IDR 657.45 for ketorolac. Statistical results showed a p-value < 0.05 for both pain measurement tools, indicating a significant difference in effectiveness between the two therapies. Based on both instruments, ketorolac was more cost-effective than dexketoprofen in managing post-cesarean section pain. This finding suggests that ketorolac may be a preferable option in clinical settings where cost and effectiveness are key considerations for post-operative analgesia in cesarean section patients.

Page 1 of 2 | Total Record : 20