cover
Contact Name
Widia Ardias
Contact Email
wee2d.ardias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltajdid@uinib.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid
ISSN : 14102617     EISSN : 2685466X     DOI : -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, sebagai media informasi dan forum pembahasan kajian tentang ilmu ushuluddin yang terkait dalam empat aspek bidang keilmuan yakni, Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-quran dan Tafsir (Tafsir Hadis), Psikologi Islam. Majalah ini berisi kumpulan tulisan ringkas hasil penelitian, hipotesa, survey dan karya akademik lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DALAM GERAKAN POLITIK FORMALISASI ISLAM DI INDONESIA Rahman, Abd
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v18i2.213

Abstract

Persoalan ideologi merupakan faktor yang penting memunculkan ekspresi politik berbentuk kekerasan dan teror. Apabila seseorang telah cukup kuat pemahaman yang merasuki pemikiran dan jiwanya, maka akan sulit untuk dilakukan perbaikan pola pikir. Apalagi bila pemahaman agamanya cukup sempit, yakni melihat agama hanya secara tekstual, maka hal ini berpotensi menjadi fanatisme agama yang nantinya bisa mengarah pada tuntutan formalisasi agama dan bentuk ekspresi politiknya berupa kekerasan dan teror. Kenyatan demikian ini tentu sangat merugikan bagi kehidupan rakyat karena hanya akan menimbulkan gejolak yang tiada berakhir. Dakwah-dakwah yang lebih menekankan tentang ‘Islam versi Arab’ harus segera direduksi agar tidak menjadi pemicu timbulnya fundamentalisme dan radikalisme.
KEBENARAN ILMIAH DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU (Suatu Pendekatan Historis dalam Memahami Kebenaran Ilmiah dan Aktualisasinya dalam Bidang Praksis) Hamdan Akromullah
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v21i1.246

Abstract

Bergumulan manusia dalam kehidupannya guna mencari dan menemukan kebenaran yang esensial melahirkan beberapa pertanyaan mendasar, yaitu apakah kebenaran  itu  sungguh  ada?  Dan  kalau  ada,  apakah  kebenaran  itu?  Bagaimanakah manusia memperolehnya? Bagaimanakah sifat dari kebenaran itu sendiri, yaitu apakah dia bersifat relatif ataukah bersifat mutlak? Dan pertanyaan-pertanyaan itu akan terus berkembang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi manusia itu sendiri. Adalah berawal dari masa Yunani Kuno yaitu salah satu tokohnya Socrates, sekalipun secara tidak langsung, yang telah    meletakkan dasar-dasar kebenaran ilmiah dengan pengandaiannya bahwa ada kebenaran objektif, ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang kurang baik. Kemudian ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Kemudian  dilanjutkan  oleh  muridnya  Plato  yang  mengatakan  bahwa  kebenaran  itu sebagai ketidaktersembunyian adanya tidak dapat dicapai manusia selama berada di dunia ini. Dengan kata lain, menurut Plato kebenaran adalah sesuatu yang terdapat pada apa yang dikenal atau pada apa yang dikejar untuk dikenal. Dari perdebatan antara guru dan murid  ini  sedemikian  rupa  telah  menebarkan  sikap  kritis  ,  terbuka,  dan  dialogis  di kalangan filsuf yang terus ditumbuh kembangkan sehingga membentuk suatu sejarah perkembangan filsafat yang dapat di simpulkan kepada yang sifatnya pertama secara linier  (garis  lurus)  menuju  kepada  progresifisme.  Kedua    perkembangan  filsafat  itu bersifat dialektis. Kemudian ketiga perkembangan yang secara berputar (sirkuler), merupakan pengulangan-pengulangan. Tulisan ini mencoba menyajikan apa dan bagaimana kebenaran ilmiah itu, dengan menggunakan pendekatan historis mulai dari zaman Yunani Kuno sampai zaman Kontemporer. Dengan demikian selain melihat apa dan bagaimana kebenaran ilmiah itu dalam tulisan ini penulis akan menyajikan beberapa pemikiran para filsuf pada zamannya berkenaan dengan kebenaran dalam rentang sejarahnya. Kemudian bagaimanakah hubungan antara kebenaran ilmiah itu dengan ilmu pengetahuan dan bidang praksis.
SIFAT DAN ZAT ALLAH MENURUT ABDUH BERDASARKAN BUKU HASYIAH Eka Putra Wirman
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i2.95

Abstract

Rasionalitas Abduh jelas berbeda dengan Rasionalisme yang memuja dan mengedepan kepentingan rasio di atas kepen-tingan nash. Rasio bagi Abduh bukan target dan tujuan tetapi media untuk memahami dan menjelaskan nash. Ukuran kebenaran teologis adalah nash, sedangkan rasio bekerja untuk menjelaskan nash dan demi kepentingan nash (baca: wahyu). Sementara itu Rasionalisme menjadikan rasio sebagai tolok ukur, sehingga kebenaran dan kebaikan tergantung kepada sejauh mana memuaskan dahaga akal, bukan dahaga spiritualitas dan bimbingan wahyu (baca: nash).
BEKERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Zulmaizarna -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 17, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v17i1.115

Abstract

Dalam Islam bekerja mendapat tempat yang terhormat dinilai sebagai ibadah, dan kemalasan dinilai sebagai kehinaan. Diperlukan pengaturan yang seimbangan antara bekerja, ibadah, muamalah dan istirahat. Setiap pekerjaan hendaklah dilakukan dengan memiliki etos kerja Islami, yaitu bekerjadiawali dengan niat penuh keikhlasan berdasarkan karena Allah, diiringi dengansemangat sungguh-sungguh, dan berkeyakin-an bahwa usaha secara maksimal akan memperoleh hasil lebih baik, sehinggadapat membawa berkah dan keredhaan Allah serta bernilai ibadah.Sebagai seorang muslim perlu membekali diri dengan memiliki sikap-sikap bekerja secara propesional, teliti, bertanggungjawab dan lainnya, sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Sehingga nilai pekerjaan merupakan amal saleh yang dapat menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.
IBRAHIM MUTAFARRIKA DAN SULTAN MAHMUD II (Modernisme Islam Awal Di Turki) Eliana Siregar
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.133

Abstract

Modernisme dalam Islam menjadi suatu keharusan bilamana dinamika situasi dan kondisisocial yang mengitarinya menghendaki adanya perubahan social. Modernisme,meskipun ia lahir danberkembang pertama kalinya di Barat,kemudian menyeberang ke dunia Islam misalnya lewat ekspedisiNapoleon Bonavarte ke Mesir,namun setelah mengalami proses modifikasi di sana-sini,ternyatamodernisme Barat tersebut bagi banyak kalangan bisa diterima atau ditolerir dan semakinmempercepat proses modernisme Islam, yang cepat atau lambat diyakini secara teologis misalnya olehHarun Nasution (Almarhum) di Indonesia,akan berkembang pesat di dunia Islam sendiri. Hal inidikarenakan bahwa Islam itu sendiri yang mengajarkan bahwa Islam itu adalah agama yang rasionaldan berperadaban tinggi. Sultan Mahmud II di berbagai bidang kehidupan publik secara struktural danpenuh sukses. Proses modernisme Islam awal di Turki ini bila dicermati secara intens,di kemudianhari ternyata sangat berperan pro-aktif menjadi lahan penyuburan bagi diproklamirkannya Turkisebagai negara republik sekuler nan modern di tangan Kemal, dimana euphoria ini masih tetapmemberi nuansa bagi masa depan Turki hingga detik ini,sekaligus juga banyak komunitas muslimlainnya di dunia yang menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk bangkit dari ketertinggalannya.
PENDIDIKAN KECERDASAN INTELEKTUAL DALAM HADIS Faisal faisal
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i1.154

Abstract

Sebagai aspek penting dalam diri manusia, kecerdasan intelektual mendapat perhatianbesar dalam ajaran Islam. Melalui penelusuran hadis, kajian ini memperlihatkan bahwa RasulullahSAW sudah memberikan prinsip-prinsip pokok tentang pendidikan atau pembentukan kecerdasanintelektual. Paling tidak prinsip itu terkait dengan konsep mencari jodoh, memelihara kehamilandan menyusui bayi dengan sempurna, menyayangi anak-anak dan memperhatikan tumbuhkembangnya, serta melarang hal-hal yang bisa melemahkan inteligensi (onani, pornografi, zina,minuman keras dan segala yang memabukkan). Dari penelusuran ini dikatahui bahwa konseppendidikan intelektual dalam Islam adalah integral, holistik, dan komprehensif antara optimalisasipembentukan, pertumbuhan dan pengembangan aspek bawaan (hereditas) dan lingkungan(environment).Sebagai aspek penting dalam diri manusia, kecerdasan intelektual mendapat perhatianbesar dalam ajaran Islam. Melalui penelusuran hadis, kajian ini memperlihatkan bahwa RasulullahSAW sudah memberikan prinsip-prinsip pokok tentang pendidikan atau pembentukan kecerdasanintelektual. Paling tidak prinsip itu terkait dengan konsep mencari jodoh, memelihara kehamilandan menyusui bayi dengan sempurna, menyayangi anak-anak dan memperhatikan tumbuhkembangnya, serta melarang hal-hal yang bisa melemahkan inteligensi (onani, pornografi, zina,minuman keras dan segala yang memabukkan). Dari penelusuran ini dikatahui bahwa konseppendidikan intelektual dalam Islam adalah integral, holistik, dan komprehensif antara optimalisasipembentukan, pertumbuhan dan pengembangan aspek bawaan (hereditas) dan lingkungan(environment).
DIALOG FILSAFAT ILMU DAN PSIKOLOGI SEBAGAI DASAR DAN ARAH PENGEMBANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PARA SARJANANYA Nur Aisyiah Yusri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.171

Abstract

Tulisan ini mencoba membuat suatu gambaran bagaimana filsafat ilmu di satu sisi, dan psikologi di sisi yang lain, sebagai ilmu dalam rentang perjalanan keimuannya, kemudian membuat suatu kerangka pemikiran sedemikian rupa sehingga antara filsafat ilmu dan psikologi dapat berjalan bergandengan tangan dalam rangka mempersiapkan “diri” dan sarjananya menghadapi persoalan-persoalan yang ada dengan menampilkan beberapa persoalan yang ada dan solusi-solusi yang kira-kira dapat diberikan.Tulisan ini memperlihatkan bahwa guna meningkatkan kualitas para sarjana psikologi, menjadikan filsafat ilmu sebagai dasar dan arah pengembangan ilmu adalah tepat. Sebab filsafat ilmu adalah implisit dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, dan implisit dalam paradigma manusia seutuhnya yang di dalam penalarannya pertama-tama dan terutama harus mampu dan sanggup melakukan terobosan ke kawasan yang paling mendasar, ke kawasan untuk memahami hakikat ilmu sampai batas ultimate. Dan tentu yang tidak kalah pentingnya adalah menghasilkan sarjana-sarjana yang mampu menggali dan mengembangkan keilmuannya dapat mengamalkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dan dapat menjadikan ilmunya aplikatif dalam segala situasi dan kondisi.
KRITIK HADIS DALAM PENDEKATAN FILOSOFIS Taufiqurrahman Taufiqurrahman
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 21, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v21i2.224

Abstract

The research or criticism of hadith is always directed at the criticism of sanad (external criticism; naqd al-khariji) and matan criticism (internal criticism; naqd al-dakhili). In the criticism of sanad (naqd al-khariji) the focus of the study is always directed at the quality of the narrators and the method of transmission used; whether the credibility of the narrators and the hadith is acknowledged and whether the traditions of tahammul and there 'indicate that he is a hadith of the Prophet. Whereas in the criticism of matan (naqd al-dakhili) it is more directed at the provisions that matan hadith must not conflict with the Koran; Mutawatir traditions or those of higher quality; historical facts; common sense; the five senses; and avoid syadz and ‘illah.Departing from the focus of the study of criticism of Sanad on the assessment of the quality of the narrators, the existence of the Science of Jarh wa Ta'dil is absolutely necessary. It is through this knowledge that the judgment of the critical scholars against the narrators is revealed by jarh or ta'dil or from the point of view of whether or not their transmission is accepted.
KECEMASAN PADA DEWASA TUA (LANSIA) DALAM MENGHADAPI KEMATIAN Widia Sri Ardias; Putri Intan Purwari
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 22, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v22i1.281

Abstract

This study aims to look at the relationship between religiosity and death in older adults. The subject selection technique was done by purposive sampling consisting of 48 elderly adults. This study uses a non experimental quantitative approach. Hypothesis testing is done through the Pearson product moment correlation statistical test using the SPSS application. This study proves that there is a negative linear relationship between religiosity and anxiety of death in older adults. this proves that religious older adults have lower anxiety in the face of death. On the other hand, older adults with a low religious level proved to be more anxious in facing death. 
RAMADHAN STAY: COLLABORATION BETWEEN TRADITION, TOURISM, AND SPIRITUALISM An Exploration of The Local Wisdom in Minangkabau -, Sefriyono
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.85

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan, pada masyarakat pedesaan seperti di Minangkabau, akulturasi Islam dan tradisi lokal terimple-mentasi meskipun tradisi lokal tersebut betentangan dengan Islam—Islam dan tradisi lokal tidak saling mendominasi satu sama lain sebagaimana bisa dilihat dalamMukim Ramadhan yang diperlihatkan oleh Islam pedesaan seperti di Malalo, Sumatera Barat. Dalam rentetan prosesi Mukim Ramadhan ada tiga elemen budaya yang saling menguatkan yakni: tradisilokal, spritualisme, dan wisata.Tradisi lokal bisa dipahami dari sikap-sikap beragama seperti berdo‟a untuk mendapatkan kekuatan fisik, mental, dan kebersihan jiwa sebagai syarat pelaksanaan Mukim Ramadhan yang dilaksanakan di kuburan Tuanku Lima Puluh. Tingginya etos ibadah bisa dipahami dari ungkapan, “bulan di luar ramadhan adalah bulan untuk bekerja, bulan puasa bulan ibadah”. Sementara makna wisata bisa dilihat dari istirahat dari pekerjaan dan menikmati ibadah Ramadhan.

Page 8 of 18 | Total Record : 178