cover
Contact Name
Rajab Ritonga
Contact Email
rajab.ritonga@dsn.moestopo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rajab.ritonga@dsn.moestopo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
ISSN : 08534470     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
The journal is for publications focusing on social life in which communication occurs through the use of various media. The manuscripts to be published include the results of research, theoretical thinking, and the study of various phenomena of human life in communication. As a scientific periodical, the journal is subject to standard provisions of peer reviews conducted by Communication Scholars from various universities.
Arjuna Subject : -
Articles 223 Documents
Speech Act in Talk Show: Locutionary, Illocutionary and Perlocutionary Acts in the Oprah Winfrey Show Retno Ningsih, Tri Wahyu; Rahayu, Rusiana; Purwaningsih, Endang
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 6, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v6i2.260

Abstract

The objective of this study is to analyze the kinds of speech acts performed by Oprah Winfrey. The theory in this research is the speech act theory (locutionary, illocutionary, and perlocutionary acts) from Searle. The study used a descriptive qualitative approach. The data were taken from The Oprah Winfrey Show in the episode with special guest stars Celine Dion, Milagros, and Dink Donald.   The results of the research obtained are the most dominant data of perlocutionary act is to get the hearers to do something which occurred in 14 times which represent 28.26%. The highest category of illocutionary acts is directives that occur in 23 times which represent 46.3%. The most dominant illocutionary act of directives is the act of asking that occur in 9 times which represent 18.4%. It happened because Oprah Winfrey as the host often asked the guest stars as the hearers to answer the questions from her as the speaker. It reflects to the purpose of talk show which is to find out and get information from the guest stars, thus the audiences in the studio and the viewers at home could get the information. The hearers were not only the guest stars, but the audiences and the viewers at home also involved. Directives are the most illocutionary acts performed by Oprah Winfrey because she often asked the guest stars to answer the questions from her. It reflects to the purpose of talk show which is to get information. The most dominant data of perlocutionary acts are to get the hearers to do something. It made the talk show became interactive and communicative.
Memahami Format Iklan di Dalam Video Games Ajibulloh, Alvian Alrasid; Yudhistira, Nurfian
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 7, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v7i1.271

Abstract

Evolusi industri game dan perubahan lanskap periklanan di masa pandemi bertanggung jawab atas meningkatnya minat pemasar dalam menggunakan game untuk tujuan periklanan. Para pembuat game juga mulai melakukan diversifikasi format iklan, sejak itu menurut data pada tahun 2020 mereka mengalami peningkatan pendapatan dari iklan sebesar 75%. Oleh karena itu kita perlu memahami jenis-jenis format iklan dalam game. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat beberapa jenis format iklan dalam game, yakni; static in-game advertising, dynamic in-game advertising, advertising games (pure advertising games). Adapun untuk format dynamic in-game advertising memiliki beberapa jenis, yaitu; (1) interstitial ads, (2) in-game video, (3) native banners, (4) contextual ads, (5) rewarded ads, (6) expandable ads, (7) the secret area, (8) the in-game marketplace. Kesemua jenis ini dapat memberikan manfaat dalam proses pemasaran seperti mampu menciptakan experiential marketing, brand engagement, product placement.
Konsep Strategi Branding Destinasi Bagi Industri Pariwisata Halal Dalam Menarik Wisatawan M. Syam, Hamdani; Rumyeni, Rumyeni; Samsudin, Dafrizal
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 6, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v6i2.248

Abstract

Pariwisata halal adalah salah satu model pariwisata yang memiliki prinsip keteraturan sesuai dengan ajaran bagi masyarakat muslim. Dalam beberapa tahun belakangan ini, pariwisata halal dipandang memiliki pasar terkuat di dunia. Hal ini mengacu pada kesadaran masyarakat yang tinggi akan pentingnya menggunakan produk-produk yang sudah terbukti aman atau halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana membangun brand destinasi pariwisata halal melalui strategi promosi dalam menarik wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan yaitu mengumpulkan data yang didapatkan dari buku-buku dan jurnal ilmiah yang ada hubungan dengan penelitian ini. Teknik analisis data terdiri dari tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Dari beberapa studi literatur yang dilakukan, maka didapatkan bahwa destinasi pariwisata memiliki dampak terhadap pembangunan ekonomi suatu negara, termasuk industri pariwisata halal karena dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar serta dapat menciptakan lapangan kerja. Dalam memperkenalkan pariwisata halal ke pihak lain, strategi branding destinasi penting dilakukan. Industri pariwisata halal dapat melakukan promosi yang selaras dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Maka dengan demikian, tidak dapat disangkal lagi bahwa jejaring sosial memainkan peran penting dalam branding destinasi. Dalam strategi branding destinasi bahwa serangkaian aktivitas pemasaran dan promosi yang dilakukan dapat mendukung penciptaan nama, simbol, logo industri pariwisata halal yang mudah mengidentifikasikan dan membedakan dengan destinasi pariwisata lainnya.Kata Kunci: Pariwisata Halal; Branding Destinasi; Wisatawan
Strategi Penyampaian Pesan Melalui Instagram @Tautaufestival dalam Membangun Kesadaran dan Kepercayaan Khalayak Visiaditya, Kirana Aufa; Yudies, Manda Aulia; Azzahra, Marsha Nurfitria; Wempi, J.A.
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 7, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v7i1.276

Abstract

Tau Tau Festival merupakan sebuah festival musik yang digarap oleh Seraya Group. Sebagai salah satu festival musik yang masih terhitung baru, Tau Tau Festival menggunakan media sosial Instagram untuk membangun kesadaran dan kepercayaan khalayaknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi penyampaian pesan melalui instagram @tautaufestival dalam membangun kesadaran dan kepercayaan khalayak. Penelitian dilakukan menggunakan teori komunikasi Lasswell, dengan pendekatan kualitatif evaluatif dan metode wawancara, studi literatur, dan observasi sebagai teknik pengumpulan datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penyampaian pesan yang dilakukan oleh admin Instagram Tau Tau Festival dinilai mampu memberikan informasi yang sangat efektif kepada khalayak, serta berperan untuk membangun kesadaran dan kepercayaan dalam meningkatkan hubungan yang erat antara pihak Tau Tau Festival dengan khalayak selaku pengunjung acara.
Penggunaan Media Sosial TikTok oleh Tanoto Foundation untuk Menjangkau Generasi Z Muris, Dendy; Toroxandy, Mirakel Alantaurizqa; Rahmawati, Salsabila Dian
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 6, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v6i2.258

Abstract

As a philanthropic foundation, the Tanoto Foundation has unique programs with individual educational development. Teladan is a program that guides the younger generation to create a quality generation and prepare the next generation of leaders. Generation Z is the current generation that Tanoto is focused on. There are challenges in preparing Generation Z as future leaders. Based on the data, generation Z has a low interest in learning. Apart from that, Generation Z prefers social media when looking for information. For this reason, Tanoto is trying to use TikTok social media to facilitate Generation Z to be more interested in education and increase digital literacy for the future. This research seeks to find out how the TANOTO Foundation uses TikTok as an informal educational forum for Generation Z through edutainment content. The research was carried out using a qualitative approach and interview and observation methods as data collection techniques. The research results show that through designing, targeting and producing content with an attractive edutainment concept, Tanoto can reach and attract Generation Z. Edutainment content and the role of the Tanoto Foundation as an agent of change through TikTok can continue to be improved through TikTok social media optimization efforts that focus on engaging and more interactive audiences.Keywords: Philanthropy, Tanoto, Social Media, TikTok
Interaksi Parasosial Sawer pada Live Instagram Bunda Corla Friscillia, Ageng Pramathika; Vevis, Veviane; Nugraha, Yosef Rabindanata
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 6, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v6i2.203

Abstract

Studi ini dilakukan untuk melihat bagaimana interaksi dan hubungan parasosial yang terjalin antara para penggemar dengan para selebriti di media sosial. Melalui observasi pada akun media sosial yang dimiliki oleh beberapa selebriti di Indonesia, dan wawancara mendalam yang dilakukan dengan para informan; diketahui bahwa berbagai komentar yang diberikan penggemar merupakan gambaran adanya interaksi parasosial. Sedangkan penggemar yang selalu memberikan komentar pada tiap unggahan idola mereka memperlihatkan adanya hubungan parasosial. Hubungan ini merupakan gambaran kedekatan secara emosional dari para penggemar. Uniknya pada penenelitian ini selain komentar baik dan buruk, pemilik akun @Corla_2 seringkali “disawer” oleh para folowers-nya. Interaksi dan hubungan parasosial di media sosial sangat erat kaitannya dengan konsep hiperrealitas. Semua hal yang berkaitan dengan selebriti tertentu mungkin saja adalah hasil dari rekayasa, bahkan konsep sawer sendiri bisa terdapat tujuan saling menguntungkan satu sama lain, sehingga para penggemar akhirnya akan membentuk identifikasi mengenai selebriti tersebut berdasarkan hiperrealitas atau realitas yang berbeda dengan realitas yang sebenarnya. Keunikan yang dimiliki Bunda Corla jarang dimiliki public figure lainnya. Sikapnya yang polos, jujur, apa adanya, membuat para penggemarnya setia mengikuti live streaming melalui Instagram.
Implementasi Gaya Kepemimpinan Pascaperubahan Identitas Klinik Utama Elon Abdulgani Tangerang Septiani, Eka
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.444

Abstract

Abstrak           Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi gaya kepemimpinan di Klinik Elon Abdulgani dalam konteks perubahan bentuk usaha dari kepemilikan perorangan menjadi Perseroan Terbatas (PT). Perubahan status hukum organisasi ini membawa dampak signifikan terhadap struktur manajemen, pola kerja, dan relasi antara pimpinan dan staf. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan utama: Bagaimana implementasi gaya kepemimpinan di Klinik Elon Abdulgani pada masa transisi dari klinik perorangan menjadi Perseroan Terbatas (PT)? Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan di klinik ini cenderung demokratis, yang ditandai dengan keterlibatan staf dalam pengambilan keputusan, komunikasi terbuka, dan pengakuan terhadap kontribusi individu. Meskipun demikian, dinamika perubahan organisasi juga menunjukkan adanya ciri-ciri kepemimpinan transformasional, seperti pemberian inspirasi, motivasi kerja, dan dorongan untuk tumbuh bersama dalam visi baru pasca perubahan status kelembagaan. Analisis menggunakan Teori Kepemimpinan Transformasional menurut Burns Bass menunjukkan bahwa pimpinan klinik berperan sebagai agen perubahan yang mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan kebutuhan tim pada masa transisi. Gaya kepemimpinan ini dinilai mampu menjaga stabilitas kerja, meningkatkan keterlibatan staf, dan memperkuat organisasi selama proses transformasi. Kata kunci: Gaya Kepemimpinan Demokratis; Kepemimpinan Transformasional; Klinik; Studi Kasus; Tangerang
Podcast Mom’s Corner: Ruang Publik Digital untuk Pemberdayaan Perempuan sebagai Ibu Ideal Ramadhani, Farrany Alifia; Sanjaya, Makroen; Hermansah, Tantan
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.446

Abstract

YouTube as a digital platform, has great potential to deliver educational content. However, in reality, the majority of creators still produce mainstream entertainment content, so its educational function has not been optimized. In this context, the momscorner podcast has emerged with themes of motherhood and parenting, which have the potential to become an alternative digital public space for women to discuss the concept of the ideal mother in line with the times. This study aims to verify whether the momscorner podcast truly fulfills this role. The theoretical framework of this study refers to the public sphere theory (Habermas) and YouTube as a participatory culture (Jenkins). The research approach used is qualitative with a virtual ethnography method, with data collection through observation of podcast content and in-depth interviews with the creative team managing momscorner. This study found that the momscorner podcast is not only a medium of communication but also a discursive space that allows women to share experiences, expand their knowledge, and gain emotional support. Through content that discusses issues of parenting, child education, and mental health, this podcast helps women open up new insights into the meaning of “ideal mother.” Thus, momscorner acts as a digital public space that encourages women’s empowerment. Keywords:  Digital Public Space; Participatory Culture; Podcast; Women’s Empowerment; Ideal Mother.YouTube sebagai salah satu platform digital memiliki potensi besar dalam menghadirkan konten edukatif, namun realitasnya mayoritas kreator masih memproduksi konten hiburan yang bersifat mainstream sehingga fungsi edukatif belum optimal. Dalam konteks ini, podcast momscorner hadir dengan mengangkat tema motherhood dan parenting yang berpotensi menjadi ruang publik digital alternatif bagi perempuan untuk berdiskusi mengenai konsep ibu ideal sesuai dengan perkembangan zaman. Adanya penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi apakah podcast momscorner benar-benar beroperasi memenuhi peran tersebut. Kerangka teoretis penelitian ini merujuk pada teori public sphere (Habermas) dan Youtube sebagai Budaya Partisipasi (Jenkins). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode etnografi virtual, dengan pengumpulan data melalui observasi konten podcast, serta wawancara mendalam dengan tim kreatif pengelola momscorner. Studi ini menemukan bahwa podcast momscorner tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga ruang diskursif yang memungkinkan perempuan untuk saling berbagi pengalaman, memperluas pengetahuan, serta mendapatkan dukungan emosional. Melalui konten yang membahas isu pengasuhan, pendidikan anak, hingga kesehatan mental, podcast ini membantu perempuan membuka wawasan baru mengenai makna “ibu ideal”. Dengan demikian, momscorner berperan sebagai ruang publik digital yang mendorong pemberdayaan perempuan.Kata kunci: Ruang Publik Digital; Budaya Partisipatif; Podcast; Pemberdayaan Perempuan; Ibu Ideal. 
Diskriminasi dan Peminggiran Jurnalis Perempuan dalam Industri Media di Indonesia Putri, Famega Syavira
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.449

Abstract

Abstract - Female journalists in Indonesia continue to experience various forms of discrimination and marginalization, even within the media institutions where they work. This inequality is evident not only in daily professional practices but also in access to strategic positions in newsrooms. This paper aims to examine the condition of women’s leadership in Indonesian media organizations as well as the realities faced by female journalists in carrying out their profession. Findings that indicate the persistence of gender-based discrimination and inequality in leadership positions within newsrooms can be more deeply understood through the framework of muted group theory, which emphasizes how subordinate groups are structurally constrained in expressing their experiences and interests within communication systems dominated by those in power. This study employs a literature review method using secondary data sources. A review of 16 scholarly works shows that female journalists continue to face discrimination based on gender, including role stereotyping, gender-biased assignment of news coverage, and the double burden of balancing professional work with domestic responsibilities. Moreover, women’s representation in top leadership positions within the media remains very limited. Of the 1,861 media organizations registered with the Press Council, only 65 are led by women. These findings indicate that the structure of the media industry in Indonesia has not yet become fully inclusive of women, both as media workers and as decision-makers.Keywords: Journalism, Women, Leadership, Gender Equality, Muted Group TheoryAbstrak - Jurnalis perempuan di Indonesia hingga kini masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan peminggiran, bahkan di dalam institusi media tempat mereka bekerja. Ketimpangan ini tidak hanya terlihat dalam praktik kerja sehari-hari, tetapi juga dalam akses terhadap posisi strategis di ruang redaksi. Tulisan ini bertujuan untuk memformulasikan bagaimana kondisi kepemimpinan perempuan di perusahaan media di Indonesia serta bagaimana realitas yang dihadapi jurnalis perempuan dalam menjalankan profesinya. Temuan-temuan yang menunjukkan masih kuatnya diskriminasi berbasis gender serta ketimpangan dalam posisi kepemimpinan di ruang redaksi dapat dipahami secara lebih mendalam melalui kerangka muted group theory, yang menekankan bagaimana kelompok subordinat dibatasi dalam menyuarakan pengalaman dan kepentingannya dalam struktur komunikasi yang didominasi kelompok berkuasa. Penelitian ini menggunakan metode ulasan literatur dengan pengambilan data sekunder. Ulasan terhadap 16 literatur menunjukkan bahwa jurnalis perempuan masih mengalami diskriminasi berdasarkan gender, termasuk stereotip peran, pembagian liputan yang bias, serta beban ganda antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab domestik. Selain itu, representasi perempuan dalam posisi puncak kepemimpinan media juga masih sangat rendah. Dari 1.861 perusahaan media yang tercatat di Dewan Pers, hanya 65 media yang dipimpin oleh perempuan. Temuan ini menegaskan bahwa struktur industri media di Indonesia masih belum sepenuhnya inklusif terhadap perempuan, baik sebagai pekerja maupun sebagai pengambil keputusan.Kata kunci: Jurnalisme, Perempuan, Kepemimpinan, Kesetaraan Gender, Muted Group Theory
Kecerdasan Buatan pada Fotografi sebagai Godaan Etika bagi Jurnalis Noviansyah, Aditia
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.421

Abstract

Abstract - We can feel the development in the world of journalistic photography from changes in camera technology, such as the transformation of analog cameras to digital cameras. In the era of digital cameras, it also became the next foothold where we were shown changes in the way journalistic photographers work. At that time, journalistic photographers were able to quickly send a photo to the editorial room via the internet network. In addition, journalistic photographers do not only work to take pictures, journalistic photographers can also double as videographers. This change in work is caused by cameras that are already capable of doing the job. Furthermore, artificial intelligence (AI) technology is also included in camera technology. AI technology greatly helps the technical role of journalistic photographers, but on the other hand, AI technology can really tempt journalistic photographers' ethics to violate journalistic rules if done unwisely, because it ignores a fact that occurs in one event. This qualitative research uses the phenomenological theory method, as explained by Alfred Schutz who presents a unique and profound perspective on meaning in human interaction. Schutz views that social reality is not something that is purely objective, but is formed through the subjective experiences of individuals in everyday life. This research was conducted by collecting data through observation and documentation. So it can be concluded that the form of journalistic photography must uphold intact ethics or legal norms, both in terms of its actions, its creation and its broadcasting worthiness.Keywords: Journalistic Photography, Artificial Intelligence, Camera Technology, Journalistic of Ethics; Photo Editing Abstrak – Perkembangan fotografi jurnalistik bisa kita rasakan dari perubahan teknologi kamera, seperti halnya transformasi kamera analog ke kamera digital. Di era kamera digital juga menjadi pijakan selanjutnya di mana kita diperlihatkan perubahan cara kerja fotografer jurnalistik. Fotografer jurnalistik sudah dapat mengirim cepat sebuah foto ke ruang redaksi melalui jaringan internet. Selain itu, fotografer jurnalistik tidak bekerja untuk memotret saja, pekerjaan fotografer jurnalistik juga bisa merangkap sebagai videografer. Perubahan kerja itu disebabkan oleh kamera yang sudah mumpuni untuk melakukan pekerjaan tersebut. Selanjutnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga masuk dalam teknologi kamera. Teknologi AI sangat membantu peran teknis pekerjaan fotografer jurnalistik, tetapi di sisi lain teknologi AI bisa menggoda etika fotografer jurnalistik untuk melanggar kaidah jurnalistik, karena mengesampingkan fakta yang terjadi padaperistiwa. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode teori fenomenologi, sebagaimana dijelaskan oleh Alfred Schutz yang menghadirkan sudut pandang yang unik dan mendalam tentang makna dalam interaksi manusia. Schutz memandang bahwa realitas sosial bukanlah sesuatu yang bersifat objektif semata, melainkan dibentuk melalui pengalaman subjektif individu dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data melalui observasi dan dokumentasi. Kesimpulan penelitian adalah, foto jurnalistik harus memegang etika baik dari segi perbuatan dan pembuatannya.Kata kunci: Fotografi Jurnalistik, Kecerdasan Buatan, Teknologi Kamera, Etika Jurnalistik, Penyuntingan Foto