cover
Contact Name
Misriyani
Contact Email
misriyani85@gmail.com
Phone
+6281334845085
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Diponegoro No.39 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Alkhairaat
ISSN : 2657179X     EISSN : 26567822     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan aims to provide both national and international forums to encourage interdisciplinary discussions and contribute to the advancement of medicine, benefiting readers and authors by accelerating the dissemination of research information and providing maximum access to scientific communication.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 01 (2025): April" : 20 Documents clear
GAMBARAN PERSONAL HIGIENE PENJAMAH MAKANAN DAN SANITASI TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN PADA RUMAH MAKAN DI KECAMATAN POASIA KOTA KENDARI TAHUN 2024 Harifu, Nikmat Awaliyah; Yasnani; Lade Albar Kalza
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.276

Abstract

ABSTRAK Rumah makan merupakan tempat usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya. Kurangnya praktik sanitasi dan higiene makanan yang tepat dapat meningkatkan risiko keracunan makanan dan penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare, keracunan makanan, dan penyakit menular lainnya.Namun seperti yang kita lihat sekarang masih banyak rumah makan yang belum memenuhi standar operasional, akan tetapi masih beroperasi dan masih melayani konsumennya. Tahun 2023 kasus diare yang dilayani di sarana kesehatan sebanyak 25,2% kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Personal Higiene Penjamah Makanan dan Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan Pada Rumah Makan Di Kecamatan Poasia Kota Kendari Tahun 2024. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukan Personal Higiene yang memenuhi syarat sebanyak 26 (40,0%), sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 39 (60,0%). Sanitasi rumah makan yang memenuhi syarat sebanyak 19 (29,2%), sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 46 (70,8%). Secara keseluruhan rumah makan yang memenuhi syarat sebanyak 24 (36,9%) sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 41 (63,1%). Kesimpulan penelitian ini adalah rumah makan yang ada di Kecamatan Poasia Kota Kendari yang memenuhi syarat tidak mencapai 100% baik itu dari personal higiene ataupun sanitasi rumah makan berdasarkan Kepmenkes RI No 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Sanitasi Rumah Makan dan Restoran. ABSTRACT A restaurant is a commercial business place whose scope of activity is providing food and drinks to the public at its place of business. Low implementation of personal hygiene and environmental sanitation will result in various health problems, for example diarrhea, food poisoning and other infectious diseases. As we can see now, there are still many restaurants that do not meet operational standards, but are still operating and still serving their customers. In 2023, diarrhea cases served in health facilities will be 25.2%. This research aims to determine the personal description of food handlers' hygiene and sanitation of food management places in restaurants in Poasia District, Kendari City in 2024. The research method used is a quantitative descriptive approach. The results of this study showed that 26 (40.0%) Personal Hygiene qualifiers, while 39 (60.0%) did not meet the requirements. There were 19 (29.2%) restaurant sanitation facilities that met the requirements, while 46 (70.8%) did not meet the requirements. Overall, there were 24 (36.9%) restaurants that met the requirements, while 41 (63.1%) did not meet the requirements. The conclusion of this research is that restaurants in Poasia District, Kendari City, which meet the requirements do not reach 100% in terms of personal hygiene or restaurant sanitation based on the Republic of Indonesia Minister of Health Decree No. 1098/MENKES/SK/VII/2003 concerning Sanitation Requirements for Restaurants and Restaurants.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BURNOUT SYNDROME PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KOTA KENDARI Budi Waluyo; Suhadi; Sry Susanti
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.277

Abstract

ABSTRAK Burnout syndrome merupakan kumpulan dari gejala akibat kelelahan, baik secara fisik maupun mental yang termasuk di dalamnya berkembang konsep diri yang negatif, kurangnya konsentrasi serta perilaku kerja yang negatif Burnoutmerupakan menifestasi dari ketidakseimbangan antara tuntutan dengan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi tuntutan tersebut sehingga terjadi penurunan nilai-nilai pribadi, martabat dan jiwa individu. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian burnout syndrome pada perawat di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kendari. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 5 Maret sampai 2 April 2024. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 100 responden. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode kuisioner. Tehnik analisis data yang digunakan yaitu uji regresi logistik berganda dengan bantuan program Stastical Program For Social Science (SPSS 25). Hasil penelitan menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara Individual Effort Factors (X1) terhadap Burnout Syndrome dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Terdapat hubungan yang signifikan antara Organizational Effort Factors (X2) terhadap Burnout Syndrome dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05.Terdapat hubungan yang signifikan antara Work Environment (X3) terhadap Burnout Syndrome dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. ABSTRACT Burnout syndrome is a collection of symptoms resulting from fatigue, both physical and mental, which include developing a negative self-concept, lack of concentration and negative work behavior. Burnout is a manifestation of an imbalance between demands and what must be done to meet these demands, resulting in a decrease personal values, dignity and individual spirit. The research was conducted with the aim of finding out factors related to the incidence of burnout syndrome in nurses at Bhayangkara Hospital, Kendari City. The research was carried out from March 5 to April 2 2024. This type of research is quantitative research using a cross sectional approach. The sample used in this research was 100 respondents. The data collection method used in this research is the questionnaire method. The data analysis technique used is the multiple logistic regression test with the help of the Statistical Program For Social Science (SPSS 25). The research results show that there is a significant relationship between Individual Effort Factors (X1) and Burnout Syndrome with a significance value of 0.000 <0.05. There is a significant relationship between Organizational Effort Factors (X2) and Burnout Syndrome with a significance value of 0.000 < 0.05. There is a significant relationship between Work Environment (X3) and Burnout Syndrome with a significance value of 0.000 < 0.05.
EVALUASI BAKTERI PATOGEN SPESIFIK PADA PERMUKAAN LINGKUNGAN RUANG ICU DAN OPERASI SEBELUM DAN SETELAH TINDAKAN PEMBERSIHAN DI RSUD ANUTAPURA PALU Andi Meutiah Ilhamjaya; Maria Rosa Da Lima Rupa; Andi Ita Maghfirah; Yani Sodiqah; Arga Yudha Pratama; Firda Ulandari; Rizky Azzahra Yudistira; Al Vasih Hamdan; Ni Luh Putu Mellenia; Rachmania Ramadani; Komang Ricky Indrawan
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.287

Abstract

Permukaan lingkungan merupakan salah satu sumber infeksi karena dapat bertindak sebagai reservoir patogen HAIs. Permukaan rumah sakit dapat terkontaminasi bakteri patogen HAIs, seperti Methicillin Resistant-Staphylococcus aureus (MRSA), Vancomycin Resistant Enterococcus (VRE), Carbapenem Resistant Enterobacteriaceae (CRE), Multi Drug Resistant-basil gram negatif nonfermenter (Pseudomonas spp., dll), dan lainnya. Ketika HAIs meningkat akan berdampak ke peningkatan morbiditas, mortalitas, rawat inap yang lama, pemeriksaan tambahan, intervensi bedah dan pengobatan antibiotik yang berdampak pada lonjakan biaya perawatan kesehatan, serta masa pemulihan pasien tertunda atau bahkan dapat berakibat fatal ke kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bakteri patogen spesifik yang berpotensi sebagai penyebab HAIs. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain Cross Sectional Study. Sampel swab dari permukaan lingkungan diambil dengan menggunakan swab steril yang dibasahi NaCl steril lalu diinokulasi ke media kultur bakteri aerob, dan uji biokimia untuk identifikasi, serta dilakukan uji AST untuk bakteri yang ditemukan. Sebanyak 100 sampel swab permukaan diperoleh dari 4 Kamar di Ruang Operasi dan 6 Kamar di Ruang ICU RSUD Anutapura Palu sebelum dan setelah tindakan pembersihan rutin. Dmana ditemukan MRSA (6,7%) yakni pada gagang laci Ruang ICU 1 dan gagang pintu Ruang ICU 2 serta ditemukan MDR Pseudomonas aeruginosa (3,3%) yakni pada gagang laci Ruang ICU 4 sebelum tindakan pembersihan rutin. Namun, setelah tindakan pembersihan rutin di ICU, tidak lagi ditemukan MDR Pseudomonas aeruginosa, tetapi masih ditemukan MRSA (6,7%) di Ruang ICU 4 dan 6. MRSA (6,7%) juga ditemukan yaitu pada laci anestesi dan tiang infus Ruang OK 2 sebelum tindakan pembersihan rutin, namun setelah tindakan pembersihan rutin tidak lagi ditemukan MRSA di Ruang OK RSUD Anutapura Palu. Tindakan pembersihan rutin yang efektif di Ruang ICU maupun Ruang OK sangat diperlukan dalam mengeliminasi bakteri patogen spesifik yang berpotensi menyebabkan HAIs. ABSTRACT Environmental surfaces are one source of infection because they can act as reservoirs of HAIs pathogens. Hospital surfaces can be contaminated with HAIs pathogenic bacteria, such as Methicillin Resistant-Staphylococcus aureus (MRSA), Vancomycin Resistant Enterococcus (VRE), Carbapenem Resistant Enterobacteriaceae (CRE), Multi Drug Resistant-nonfermenter gram-negative bacilli (Pseudomonas spp., etc.), and others. When HAIs increase, it will have an impact on increased morbidity, mortality, prolonged hospitalization, additional examinations, surgical interventions and antibiotic treatment which have an impact on the spike in health care costs, as well as delayed patient recovery or can even be fatal to death. This study aims to evaluate specific pathogenic bacteria that have the potential to cause HAIs. This study is an observational study with a Cross Sectional Study design. Swab samples from environmental surfaces were taken using sterile swabs moistened with sterile NaCl and then inoculated into aerobic bacterial culture media, and biochemical tests for identification, and AST tests were carried out for the bacteria found. A total of 100 surface swab samples were obtained from 4 Operating Rooms and 6 ICU Rooms of Anutapura Hospital Palu before and after routine cleaning. Where MRSA (6.7%) was found on the drawer handle of ICU Room 1 and the door handle of ICU Room 2 and MDR Pseudomonas aeruginosa (3.3%) was found on the drawer handle of ICU Room 4 before routine cleaning. However, after routine cleaning in the ICU, MDR Pseudomonas aeruginosa was no longer found, but MRSA (6.7%) was still found in ICU Rooms 4 and 6. MRSA (6.7%) was also found on the anesthesia drawer and infusion pole of OK Room 2 before routine cleaning, but after routine cleaning, MRSA was no longer found in the OK Room of Anutapura Hospital Palu. Effective routine cleaning in the ICU and OK Rooms is essential in eliminating specific pathogenic bacteria that have the potential to cause HAIs.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, PERILAKU DAN KEBERSHIAN PERSONAL DENGAN PREVALENSI INFESTASI SKABIES PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN KECAMATAN RANGKASBITUNG, LEBAK, BANTEN Trasia, Reqgi First; Hakyanto, Eka; Ulfah Irawati, Nur Bebi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.290

Abstract

ABSTRAK Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau kecil bernama Sarcoptes scabei varietas hominis yang memiliki tingkat penularan tinggi, terutama di lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti pondok pesantren. Faktor-faktor seperti kebersihan personal yang kurang baik, sanitasi yang buruk, serta rendahnya pengetahuan santri tentang skabies berkontribusi terhadap tingginya prevalensi penyakit ini. Riset ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, perilaku, dan kebersihan personal dengan prevalensi skabies pada santri di Pondok Pesantren Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Riset ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross-sectional dan pengambilan data dilakukan melalui metode kuesioner. Hasil Riset menunjukkan bahwa prevalensi infestasi skabies di pondok pesantren tersebut mencapai 17,3%, namun tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan (p = 0,708), perilaku (p = 0,667), dan kebersihan personal (p = 0,134) dengan kejadian skabies. Meskipun tidak signifikan, individu dengan kebersihan personal yang lebih baik cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap skabies. Oleh karena itu, upaya edukasi kesehatan, peningkatan kebersihan, serta isolasi bagi santri yang terinfeksi tetap perlu diperkuat untuk mencegah penyebaran skabies di lingkungan pesantren. ABSTRACT Scabies is a skin disease caused by the infestation of a small mite called Sarcoptes scabei variety hominis that has a high transmission rate, especially in high population density environments such as boarding schools. Factors such as poor personal hygiene, poor sanitation, and low knowledge of students about scabies contribute to the high prevalence of this disease. This study aimed to analyze the relationship between knowledge, behavior, and personal hygiene with the prevalence of scabies among students in Islamic boarding schools in Rangkasbitung District, Lebak Regency, Banten. This research used an observational analytic method with a cross-sectional design and data collection was done through a questionnaire method. The results showed that the prevalence of scabies infestation in the boarding school reached 17.3%, but there was no significant relationship between the level of knowledge (p = 0.708), behavior (p = 0.667), and personal hygiene (p = 0.134) with the incidence of scabies. Although not significant, individuals with better personal hygiene tend to have a lower risk of scabies. Therefore, health education efforts, improved hygiene, and isolation for infected students still need to be strengthened to prevent the spread of scabies in the pesantren environment.
HUBUNGAN POLA ASUH IBU DAN RIWAYAT PERNIKAHAN DINI DENGAN KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BINAUS KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Bura, Charolina Putri Aurelia; Limbu, Ribka; Bunga, Eryc Zevrily Habba; Romeo, Petrus
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.292

Abstract

ABSTRAK Stunting adalah salah satu masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang lama sehingga berdampak bagi perkembangan dan pertumbuhan pada anak. Prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 21,5%. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu provinsi dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi yaitu sebesar 37,9% dan kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan prevalensi sebesar 50,1%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola asuh ibu dan riwayat pernikahan dini dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Binaus Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan rancangan case control. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 64 responden yang mempunyai balita yang dibagi kedalam 32 orang untuk kelompok kasus dan 32 orang kelompok kontrol. Sampel dalam penelitian diambil dengan teknik simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat, dengan uji statistik chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah praktik pemberian makan (p=0,000), pemanfaatan layanan kesehatan (p=0,006), perilaku hidup bersih dan sehat (p=0,002), dan riwayat pernikahan dini (p=0,023) sedangkan variabel yang tidak berhubungan adalah praktik pemberian ASI (p=0,274). Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan edukasi terkait pola asuh ibu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi anak, memanfaatkan layanan kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memberikan edukasi bagi remaja sebagai para calon ibu untuk mempertimbangan usia pernikahan. ABSTRACT Stunting is a nutritional problem caused by chronic malnutrition over a long period of time, which has an impact on the development and growth of children. The prevalence of stunting in Indonesia in 2023 will reach 21.5%. East Nusa Tenggara (NTT) province is one of the provinces with the highest stunting prevalence rate, namely 37.9% and South Central Timor (TTS) district with a prevalence of 50.1%. This study aims to analyze the relationship between maternal parenting patterns and a history of early marriage with the incidence of stunting in the work area of ​​the Binaus Community Health Center, South Central Timor Regency. The type of research used is an analytical survey with a case control design. The sample in this study was 64 respondents who had toddlers who were divided into 32 people in the case group and 32 people in the control group. The sample in the study was taken using a simple random sampling technique. The data analysis used was univariate analysis and bivariate analysis, with the chi-square statistical test. The results of this study show that the variables related to the incidence of stunting are feeding practices (p=0,000), use of health services (p=0,006), clean and healthy living behavior (p=0,002), and history of early marriage (p=0,023) while variables that do not related is the practice of breastfeeding (p=0,274). Health workers are expected to be able to provide education regarding mother's parenting patterns in meeting children's nutritional needs, utilizing health services, implementing clean and healthy living behavior, as well as providing education for teenagers as prospective mothers to consider the age of marriage.
PENGARUH POLA KONSUMSI, KOMPENSASI DAN ALOKASI WAKTU KERJA TERHADAP KINERJA ANAK BUAH KAPAL (ABK) FERRY ASDP CABANG KUPANG Lafu, Maria Pricilla Monika; Intje Picauly; Anna H. Talahatu
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.294

Abstract

ABSTRAK Kinerja merupakan hasil dari kualitas, kuantitas serta ketepatan waktu pekerjaan yang dicapai seorang pekerja dalam menjalankann tugas dan tanggung jawabnya. Kinerja menjadi salah satu faktor penting yang berhubungan langsung dengan keberlangsungan suatu perusahaan. Pelaut profesi yang membutuhkan tenaga, waktu dan pikiran dan biasa disebut dengan anak buah kapal ataupun crew kapal. Hal ini dikarenakan dalam bekerja dibutuhkan kinerja yang tepat dan cepat sesuai dengan jabatan saat bekerja pada departemen deck saat kapal berlayar, kapal sandar ataupun tidak adanya pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola konsumsi, kompensasi dan alokasi waktu kerja terhadap kinerja anak buah kapal (ABK) Deck kapal ferry ASDP cabang Kupang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Pelabuhan ASDP cabang Kupang dengan sampel 44 anak buah kapal. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji statistik chi-square. Hasil uji statistic menunjukan ada pengaruh pola konsumsi (p-value= 0,040), kompensasi (p-value= 0,010), alokasi waktu kerja (p-value= 0,030) terhadap kinerja. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya pengaruh pola konsumsi, kompensasi dan alokasi waktu kerja terhadap kinerja anak buah kapal ferry ASDP cabang Kupang ABSTRACT Performance is the result of the quality, quantity and timeliness of work achieved by a worker in carrying out his duties and responsibilities. Performance is one of the important factors that is directly related to the sustainability of a company. Seafarers are professions that require energy, time and thought and are commonly referred to as crew members or ship crew. This is because working requires precise and fast performance in accordance with the position when working in the deck department when the ship is sailing, the ship is docked or there is no sailing. This study aims to determine the effect of consumption patterns, compensation and work time allocation on the performance of crew members on the deck of the ASDP ferry in Kupang. This type of research is quantitative with a cross sectional study design. This research was conducted at the Port of ASDP Kupang branch with a sample of 44 crew members. Data analysis used is univariate analysis and bivariate analysis with chi-square statistical test. The statistical test results showed that there is an effect of consumption patterns (p-value = 0.040), compensation (p-value = 0.010), work time allocation (p-value = 0.030) on performance. Based on the results of the study, it can be concluded that there is an influence of consumption patterns, compensation and allocation of working time on the performance of ASDP ferry crew Kupang branch.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA PLAK GIGI PASIEN RSGM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Ratna Sulistyorini; Mudyawati Kamaruddin; Muhammad Munawir; DaffaPutra Mahardika; Malisa Nisaul Alim; Angle Ananta; Muhammad Raihan Shane Ady Nugroho
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.297

Abstract

ABSTRAK Plak gigi merupakan lapisan biofilm yang berasal dari bakteri sehingga dapat melekat kuat di gigi dan permukaan lain di rongga mulut. Plak mempunyai karakteristik yang terbentuk dari lapisan gelatin tipis dan transparan, yang biasanya sulit untuk dilihat, hanya dapat dilihat apabila diamati dengan teliti, dan plak bukan suatu material alba (massa yang menutupi gigi) maupun suatu sordes (bahan putih yang menutupi gusi, terutama saat keadaan sakit). Plak gigi mengandung suatu mikroorganisme dan matriks intermikroba yang apabila terus menerus didiamkan dan tidak dibersihkan maka akan menjadi karies gigi. Penelitian ini menggunakan sampel plak gigi yang diambil dari pasien yang menderita karies gigi di RSGM Unimus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi bakteri pada plak gigi dan mengidentifikasinya secara makroskopik, mikroskopik dan pengecatan Gram. Pengambilan sampel menggunakan excavator dengan cara dikerok pada bagian mesial gigi yang ada plaknya. Kemudian hasil kerokan plak diinokulasikan ke dalam media TSB dan ditumbuhkan pada media BAP. Koloni bakteri yang tumbuh pada media BAP setelah diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam diperoleh dua koloni yang berbeda yaitu hijau keabu-abuan (M1H) dan koloni berwarna putih (M1P). Morfologi bakteri sampel M1H berbentuk bulat, berwarna bening, ukuran ± 2 mm, tepi entire, elevasi cembung, dan hemolisa alpha. Morfologi bakteri sampel M1P berbentuk bulat, berwarna putih, ukuran ± 2 mm, tepi entire, elevasi rata, dan hemolisa. Analisa Gram menunjukkan M1H merupakan bakteri Gram positif ditandai dengan pengikatan warna kristal violet, sedangkan M1P adalah bakteri Gram negatif dimana penampakan warna yang ditunjukkan oleh koloni adalah warna merah (warna Safranin) yang diikat oleh dinding sel pada proses uji pengecatan Gram. ABSTRACT Dental plaque is a layer of biofilm derived from bacteria that can adhere to teeth and other surfaces in the oral cavity. Plaque is characterised by the fact that it consists of a thin and transparent gelatinous layer, which is usually difficult to see and can only be seen on close inspection, and it is neither an alba material (mass covering the teeth) nor a sordes (white material covering the gums, especially when painful). Dental plaque contains a microorganism and an intermicrobial matrix that, if left untreated, will lead to dental caries. This study used plaque samples taken from patients suffering from dental caries at the RSGM Unimus. The aim of this study was to isolate bacteria from dental plaque and identify them macroscopically, microscopically and by Gram staining. Samples were taken by scraping the mesial part of the teeth with plaque using a scraper. The scraped plaque was then inoculated into TSB media and grown on BAP media. Bacterial colonies grown on BAP media after incubation at 37oC for 24 hours produced two different colonies, namely greyish green (M1H) and white colonies (M1P). The bacterial morphology of sample M1H is round, clear in colour, ± 2 mm in size, with a complete rim, convex elevation and alpha-haemolysis. The bacterial morphology of sample M1P is round, white in colour, ± 2 mm in size, entire edge, flat elevation and haemolysed. Gram analysis showed that M1H is a Gram-positive bacterium, indicated by the binding of crystal violet colour, while M1P is a Gram-negative bacterium, where the appearance of the colour shown by the colony is red (safranin colour), which is bound by the cell wall in the Gram staining test.
IN VITRO COMPARISON OF MINIMAL INHIBITORY CONCENTRATION (MIC) GRISEOFULVIN, ITRACONAZOLE, AND TERBINAFINE AGAINST THE CAUSATIVE AGENT OF DERMATOPHYTOSIS ON GLABROUS SKIN IN MAKASSAR Sari Handayani; Zakiani Sakka; Safruddin Amin; Nasrum Massi
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.299

Abstract

ABSTRAK Dermatofitosis adalah infeksi jamur golongan dermatofit, yaitu organisme yang menyerang jaringan keratin pejamunya. Tiga genus dermatofit yaitu: Epidermophyton, Microsporum dan Trichophyton.Menentukan KHM griseofulvin, itrakonazol dan terbinafin terhadap isolat agen penyebab dermatofitosis kulit glabrous. Pengambilan data deskriptif potong lintang dengan uji kepekaan griseofulvin, itrakonazol dan terbinafin terhadap isolat koloni dermatofit yang tumbuh melalui tehnik mikrodilusi kaldu pada Laboratorium Mikrobiologi RS Pendidikan UNHAS Makassar. Griseofulvin, itrakonazol dan terbinafin peka terhadap sebagian besar agen penyebab dermatofitosis pada kulit glabrous di Makassar yaitu dengan persentase kepekaan griseofulvin 96,15%, itrakonazole 96,30% dan terbinafin 100% dari 27 isolat dermatofit yang dapat diidentifikasi. Spesies yang telah resisten terhadap griseofulvin adalah Trichophyton rubrum, spesies yang resisten terhadap itrakonazole adalah Microsporum audouinii sedangkan terbinafin peka terhadap keduaSpesies Trichophyton dan Microsporum.KHM Itrakonazole lebih rendah dari griseofulvin dan lebih tinggi dibanding Terbinafin mengindikasikan bahwa terbinafin merupakan antifungal yang lebih peka dibanding kedua golongan obat tersebut. ABSTRACT Dermatophytosis is a fungal infection of the dermatophyte group, namely organisms that attack the keratin tissue of their host. The three genera of dermatophytes are: Epidermophyton, Microsporum and Trichophyton. Objectives: Determine the MIC of griseofulvin, itraconazole and terbinafine against isolates of the causative agent of glabrous skin dermatophytosis. Methods: Collecting descriptive cross-sectional data using griseofulvin, itraconazole and terbinafine sensitivity tests on dermatophyte colony isolates growing using the broth microdilution technique at the Microbiology Laboratory of the Makassar UNHAS Teaching Hospital. Result: Griseofulvin, itraconazole and terbinafine were sensitive to most of the agents that cause dermatophytosis on glabrous skin in Makassar, namely with a sensitivity percentage of griseofulvin 96.15%, itraconazole 96.30% and terbinafine 100% of the 27 dermatophyte isolates that could be identified. The species that is resistant to griseofulvin is Trichophyton rubrum, the species that is resistant to itraconazole is Microsporum audouinii while terbinafine is sensitive to both Trichophyton and Microsporum species. Conclusions: The MIC of Itraconazole is lower than griseofulvin and higher than Terbinafine, indicating that terbinafine is a more sensitive antifungal than these two groups of drugs.
SCOPING REVIEW VALIDITAS ALAT SKRINING DEPRESI PADA PENDERITA TUBERKULOSIS: SEBUAH SCOPING REVIEW Munti, Diana; Erlina Wijayanti
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.300

Abstract

ABSTRAK Depresi merupakan komorbiditas psikiatri yang sering terjadi pada pasien tuberkulosis (TB) dan berdampak negatif terhadap kepatuhan pengobatan serta hasil klinis. Skrining menggunakan instrumen yang valid diperlukan untuk deteksi dini. Mengevaluasi validitas dan reliabilitas instrumen skrining depresi pada pasien TB, khususnya Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) dan versi singkatnya PHQ-2. Pencarian sistematis dilakukan pada database PubMed, ScienceDirect, dan ProQuest untuk studi 2014-2024. Kriteria inklusi mencakup studi validasi instrumen skrining depresi pada pasien TB dewasa. Dua reviewer independen melakukan seleksi artikel dan ekstraksi data. Kualitas studi dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale. Lima studi memenuhi kriteria inklusi dari 259 artikel. PHQ-9 menunjukkan sifat psikometrik terbaik dengan sensitivitas 88-94%, spesifisitas 80-85%, dan Cronbach's alpha 0,85-0,94. Prevalensi depresi pada pasien TB bervariasi (10,33-62,7%). Faktor risiko meliputi kesulitan keuangan, gejala pernapasan persisten, stigma, status HIV-positif, dan komorbiditas. PHQ-9 dan PHQ-2 merupakan instrumen skrining depresi yang valid pada pasien TB. Integrasi instrumen ini ke dalam perawatan TB rutin dapat meningkatkan deteksi dini dan penanganan depresi, sehingga meningkatkan hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien. ABSTRACT Depression is a common psychiatric comorbidity in tuberculosis (TB) patients that negatively impacts treatment adherence and clinical outcomes. Screening using valid instruments is essential for early detection. To evaluate the validity and reliability of depression screening instruments in TB patients, focusing on the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) and its shortened version PHQ-2. A systematic search was conducted in PubMed, ScienceDirect, and ProQuest databases for studies published between 2014-2024. Inclusion criteria encompassed validation studies of depression screening instruments in adult TB patients. Two independent reviewers performed article selection and data extraction. Study quality was assessed using the Newcastle-Ottawa Scale. Five studies met the inclusion criteria from 259 articles. PHQ-9 demonstrated the best psychometric properties with sensitivity 88-94%, specificity 80-85%, and Cronbach's alpha 0.85-0.94. Depression prevalence among TB patients varied (10.33-62.7%). Risk factors included financial difficulties, persistent respiratory symptoms, stigma, HIV-positive status, and comorbidities. PHQ-9 and PHQ-2 are valid depression screening instruments for TB patients. Integrating these tools into routine TB care can enhance early detection and management of depression, improving treatment outcomes and patient quality of life.
INTERNAL LIMITING MEMBRANE FLAP TECHNIQUE IN THE MANAGEMENT OF PRIMARY LARGE MACULAR HOLE IN JEC PRIMASANA HOSPITAL: ANATOMIC AND VISUAL OUTCOME santy Kusumawaty; Soedarman Sjamsoe; W.Girsang.Elvioza; Soefiandi Soedarman; King Hans Kurnia
Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 01 (2025): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/ma.v7i01.306

Abstract

ABSTRACT This descriptive study aimed to investigate the effectiveness of the internal limiting membrane (ILM) flap technique in treating primary large macular holes (MHs) in patients at JEC Primasana. A total of 24 patients with large MH (>400 um diameter) were included in this study. Patient demographics, including gender, age, laterality, tamponade used, lens status, macular hole index (MHI) and BCVA (logMAR) were recorded. Changes in visual acuity before and after treatment were assessed using the Wilcoxon test. Differences in MHI by closure type were analyzed using the Mann-Whitney test. The correlation between MHI and postoperative visual acuity was evaluated using Spearman's rank correlation. The main outcome measures were the anatomical MH closure and final BCVA (logMAR). This study found that the ILM flap technique resulted in significant improvements in anatomy and visual acuity post-treatment. A total of 19 patients (79.2%) had MH closure and a mean improvement in BCVA (logMAR) of 1.02±0.63. The correlation between MHI and postoperative visual acuity in the closure group was positive, the higher the MHI, the better the BCVA.The ILM flap technique showed fairly good effectiveness in improving functional and anatomical outcomes in patients with large MH at JEC Primasana.

Page 2 of 2 | Total Record : 20