cover
Contact Name
Sani Ega Priani, M.Si., Apt.
Contact Email
-
Phone
jurnal.farmasyifa@gmail.c
Journal Mail Official
jurnal.farmasyifa@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi - Universitas Islam Bandung Jalan Rangga Gading No. 8, Kota Bandung, Jawa Barat
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa
ISSN : 25990047     EISSN : 25986376     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa (JIFF) merupakan Jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian di ruang lingkup Farmasi meliputi Farmakologi dan Toksikologi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Biologi Farmasi, Farmasetika, Farmasi Mikrobiologi dan Bioteknologi, dan Farmakokimia. Disamping penelitian, jurnal ilmiah Farmasyifa juga memuat artikel hasil review terkait perkembangan ilmu kefarmasian di Indonesia berbasis penelitian.
Articles 110 Documents
PENGARUH PENGEMBANGAN SELF-NANOEMULSIFYING DRUG DELIVERY SYSTEM TERHADAP DISOLUSI, BIOAVAILABILITAS, DAN AKTIVITAS AGEN ANTIHIPERLIPIDEMIA Sani Ega Priani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.8967

Abstract

Hiperlipidemia adalah suatu kondisi peningkatkan kadar lipid plasma yang dapat menjadi faktor resiko berbagai penyakit kardiovaskular. Diketahui beberapa agen antihiperlipidemia bersifat sukar larut dalam air sehingga dapat berpengaruh pada disolusi, bioavailabilitas, dan efek farmakologi yang dihasilkan. Self-nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) merupakan salah satu sistem penghantaran obat  yang diketahui mampu memperbaiki kelarutan zat sukar larut air. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi SNEDDS terhadap disolusi, bioavailabilitas, dan efektivitas dari agen antihiperlipidemia. Kajian berbasis  systematic literature review dengan melakukan pengkajian artikel yang diperoleh dari database bereputasi yang  memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil kajian menunjukkan formulasi SNEDDS terhadap agen antihiperlipidemia dapat menyebabkan peningkatan % disolusi zat sukar larut air hingga mencapai >80%. Formulasi SNEDDS mampu meningkatkan bioavailabilitas zat, yang ditandai dengan peningkatan signifikan dari nilai  Cmax dan AUC (area under curve) dibandingkan dengan bentuk murni/suspensi. Formulasi SNEDDS juga mampu meningkatkan efektivitas antihiperlipidemia, yang ditandai dengan penurunan kadar  kolesterol total, trigliserida, dan LDL yang  lebih baik dibandingkan dengan zat murni/sediaan di pasaran. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa pengembangan sediaan SNEDDS potensial untuk meningkatkan disolusi, bioavaibilitas, dan efektivitas terapi dari agen antihiperlipidemia.
PROFIL PENGGUNAAN ANTIRETROVIRAL DAN NILAI CD4 PASIEN HIV/AIDS SETELAH DIBERIKAN ANTIRETROVIRAL Ratna Sari Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.7732

Abstract

Pendahuluan: Penderita HI/AIDS jumlahnya terus meningkat dan penderita harus menjalani terapi seumur hidup. Pemberian antiretroviral (ARV) bertujuan memutuskan penularan dan individu bisa tetap produktif. Tujuan: Penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang penggunaan ARV pada pasien HIV/AIDS serta nilai CD4 pasien setelah mendapatkan ARV. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif. Pengambilan data dengan melakukan observasi untuk memperoleh data klinis pasien. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien HIV/AIDS yang tercatat pada data rekam medis tahun 2018. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Kesimpulan Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap 126 sampel, didapatkan hasil bahwa penderita HIV/AIDS terbanyak adalah laki-laki (75,40%), usia terbanyak dewasa awal (70,63%), kombinasi terapi antiretroviral (ARV) yang terbanyak adalah lini 1 (92,86%) dan seluruhnya tepat waktu dalam pengambilan obat (100%). Jumlah pasien yang melakukan pemeriksaan CD4 rutin selama 1 tahun adalah sebanyak 90 orang (71,43%). Dari 90 pasien tersebut diketahui jumlah CD4 saat pertama diperiksa paling banyak pada rentang jumlah CD4 antara 200 - 499 sel/mm3 (52,22%), saat pemeriksaan CD4 pada 6 bulan setelah terapi  jumlah CD4 yang meningkat sebanyak 67 orang (74,45%), pada pemeriksaan CD4 1 tahun setelah terapi yang meningkat sebanyak 78 orang (86,7%)
MOUTHWASH OF Amaranthus hybridus L. LEAF EXTRACT WITH ETHYL ACETATE AS A Streptococcus mutans ANTIBACTERIAL Yelfi Yelfi; Hadi Susilo; Nia Marlina Kurnia
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.8379

Abstract

Caries and dental plaque are oral and dental problems. Green spinach (Amaranthus hybridus L.) can be used as medicine and has antibacterial activity. It also benefits human health and is a nutrition source. The phytochemical results of the leaf extract showed that A. hybridus L. contains alkaloids, flavonoids, steroids, saponins, and tannins. This study aimed to determine the inhibitory action of A. hybridus L. leaf extract against the growth of Streptococcus mutans and to formulate A. hybridus L. leaf extract in a mouthwash. The disk diffusion method and brain heart infusion agar medium were used in this study, with five treatment groups: extract concentrations of 25%, 50%, and 100%, positive and negative control were studied. Physical tests, including organoleptic, pH, and viscosity tests, were performed. The pH of A. hybridus L. leaf extract in the mouthwash was 4.80, with a viscosity of 1.2456–1.378 cP. The inhibition zones of antibacterial activity against S. mutans in the extract concentrations of 25%, 50%, and 100% were 1.13, 1.73, and 2.90 mm, respectively. The ethyl acetate extract of A. hybridus L. leaves in mouthwash displayed antibacterial activity against S. mutans, with an average inhibition zone of 0.57 mm. The mouthwash formulation produced an inhibition zone with an average F1 of 0.57 mm and F2 of 1.67 mm.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU AIR [Eugenia aqueum (Burm. F) Alston] DENGAN MIKRODILUSI AGAR Lanny Mulqie; Suwendar Suwendar; Muhammad Fakhrur Rajih; Dieni Mardliyani; Imas Yumniati; Widiasari Widiasari; Zakiyyah Nurrosyidah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.7849

Abstract

Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia cukup berlimpah. Tanaman merupakan sumber daya alam yang banyak dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah jambu air. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melihat aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun jambu air terhadap S. aureus, dan E.coli dan penetapan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM), serta pengujian konsentrasi bunuh minimum (KBM). Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan etanol 96%. Penetapan KHM dilakukan dengan metode mikrodilusi agar. Pengujian KBM dilakukan dengan menggoreskan sejumlah 5 µL alikuot dari sumur pelat mikro yang menunjukkan kejernihan diatas media MHA. Nilai KHM dan KBM ekstrak etanol daun jambu air terhadap S. aureus, dan E.coli yaitu 20.000 μg/mL dan 40.000 μg/mL.
AKTIVITAS ANTIKONVULSAN EKSTRAK RIMPANG TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN MENGGUNAKAN ELEKTROKONVULSIOMETER Agustin Yumita; Dwitiyanti Dwitiyanti; Putri Ermawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.8829

Abstract

Rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder yang dapat berkhasiat sebagai antikonvulsan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antikonvulsan ekstrak etanol 70% rimpang temu ireng pada tikus putih jantan. Ekstraksi yang digunakan dalam metode ini adalah maserasi. Hewan uji diberi ekstrak etanol 70% rimpang temu ireng (100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB), pembanding standar asam valproate. Pengujian antikonvulsan menggunakan alat digital elektrokonvulsiometer dengan parameter yang diamati adalah onset HLE dan durasi HLE. Ekstrak etanol 70% rimpang temu ireng dosis 400 mg/kgBB memiliki aktivitas yang paling baik sebagai antikonvulsan dengan memperpanjang onset HLE dan mempersingkat durasi HLE sebanding dengan pembanding standar. Temu ireng memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai antikonvulsan yang cukup baik.
EVALUASI KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN ANTIDIABETIK ORAL DI RUMAH SAKIT HARAPAN DAN DO’A KOTA BENGKULU Dian Handayani; Dwi Dominica; Reza Pertiwi; Feby R.A Putri; Tya Chalifatul; Dhea Ananda
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.7983

Abstract

Diabetes mellitus termasuk kelainan metabolik heterogen dimana ditunjukkan dengan adanya hiperglikemia. Sebuah kunci untuk berhasilnya terapi DM yaitu melalui peningkatan kualitas hidup pasien yang bisa diukur memanfaatkan kuesioner DQLCTQ (Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire). Penelitan ini memiliki tujuan guna mengetahui kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 dengan antidiabetik oral di Rumah Sakit Harapan dan Do’a Kota Bengkulu berdasar faktor pola terapi yang diterima pasien, jenis obat yang digunakan, dan karakteristik responden. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain Cross Sectional dengan pengambilan data pasien secara concurrent. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Harapan dan Do’a Kota Bengkulu. Sampel penelitian ini sejumlah 98 pasien DM tipe 2 yang melakukan kontrol ke rumah sakit ketika penelitian berlangsung dan memperoleh obat antidiabetik oral dan bersedia mengisi kuesioner DQLCTQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara faktor karakterisktik responden terhadap kualitas hidup. Skor kualitas hidup pasien yang mendapatkan akarbose, metformin, dan sulfonilurea, masing-masing adalah 61,0;61,3 dan 61,4. Hasil uji statistik dengan ANOVA menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiga kelompok pasien tersebut (p=0,812). Pasien dengan pengobatan ADO tunggal skor kualitas hidupnya 64,0 sedangkan pasien dengan pengobatan ADO kombinasi skor kualitas hidupnya 62,3. Perbedaan ini berdasarkan uji Independent sample t-test, perbedaannya tidak berbeda signifikan (p=0,134).
FARMASI PLASMA Gita Cahya Eka Darma
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.8846

Abstract

In the last decade, the world has recognized the existence of a new branch of science in the field of medicine that uses plasma technology in the process, namely plasma medicine. A science that examines plasma as a drug in the form of a medical device or method in medical technology. The use of the term plasma medicine into Indonesian is one of the objectives of this study, because if it is translated into "plasma medicine". This study intends to provide an explanation of plasma (physics), plasma medicine and then an approach to the term into Indonesian becomes Plasma Pharmacy. The results of studies that have been carried out on researches in this new branch of science show similarities to the scope of the pharmaceutical field. Plasma pharmacy refers to the use of plasma that is applied to one or all of the stages in the manufacture of drugs (including drug raw materials, namely active ingredients, additives and packaging), functional food and cosmetics, in addition to plasma itself acting as a drug in the form of a medical device. So that the term plasma pharmacy can be used as an Indonesian vocabulary in explaining plasma medicine
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DAN MINYAK BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum L.) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT KULIT Yani Lukmayani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i1.8300

Abstract

Infeksi kulit pada manusia dapat disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa. Ekstrak etanol kayu secang dan minyak bunga cengkeh mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri ekstrak etanol kayu secang dan minyak bunga cengkeh serta kombinasinya. Pengujian dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kayu secang dan minyak bunga cengkeh pada konsentrasi 1,5% - 4,5% mempunyai potensi aktivitas antibakteri pada kategori sedang hingga sangat kuat. Sedangkan kombinasi A dengan total ekstrak dan minyak 3% serta B dan C dengan total 4,5%, memberikan rata-rata diameter hambat yang lebih kecil dibandingkan dengan ekstrak tunggal kayu secang 3% maupun 4,5%. Nilai diameter hambat kombinasi A, B dan C terhadap bakteri S. aureus lebih besar jika dibandingkan dengan minyak bunga cengkeh 3% dan 4,5%, namun terhadap bakteri P. acnes dan P. aeruginosa sampel kombinasi A, B, C memberikan rata-rata diameter hambat yang lebih kecil. Penambahan ekstrak etanol kayu secang pada minyak bunga cengkeh memberikan efek sinergis yang diharapkan hanya pada aktivitas daya hambat bakteri S. aureus.
KAJIAN PENGEMBANGAN SISTEM MIKROENKAPSULASI UNTUK PENINGKATAN STABILITAS VITAMIN C Raisha Az Zahra
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i2.9878

Abstract

Vitamin c merupakan vitamin esensial yang mudah terdegradasi akibat oksigen, temperatur,  cahaya, pH, serta panas sehingga dapat berpengaruh terhadap kestabilannya ketika akan dirancang sebagai produk makanan, farmasi, dan kosmetika. Enkapsulasi merupakan salah satu pengembangan teknologi yang diketahui mampu meningkatkan stabilitas zat aktif yang rentan mengalami ketidakstabilan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan agen pengenkapsulasi serta faktor yang dapat meningkatkan kestabilan pada sistem enkapsulasi vitamin c pada suhu dan waktu tertentu. Kajian ini berbasis systematic literature review dengan melakukan pengkajian artikel yang diperoleh dari database dengan reputasi baik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknik enkapsulasi yang sering digunakan adalah spray drying. Selain itu, proses enkapsulasi dengan menggunakan teknik dan agen pengenkapsulasi yang berbeda dapat meningkatkan stabilitas vitamin c yang ditandai dengan nilai pengujian stabilitas penyimpanan serta efisiensi enkapsulasi yang tinggi. Agen pengenkapsulasi yang memberikan nilai efisiensi enkapsulasi tertinggi adalah gelatin dan gom arab senilai 98%. Selain itu, agen pengenkapsulasi yang memberikan stabilitas kadar vitamin c pada suhu 20-25ºC selama 30 hari adalah minyak palem, air suling, dan surfaktan polivinil alcohol dalam Solid Lipid Microcapsules (SLMs) sebesar 97,62±08%. Keberhasilan sistem enkapsulasi dalam memberikan stabilitas terhadap vitamin c dapat dikaji melalui nilai polidispersitas, morfologi, kurva distribusi ukuran partikel, serta penambahan eksipien tambahan. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa pengembangan vitamin c dengan sistem enkapsulasi potensial untuk meningkatkan stabilitas vitamin c sehingga waktu simpan dapat ditingkatkan.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS GEL ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) PADA MENCIT JANTAN PUTIH (Mus musculus) Suhrah Febrina Karim; Hilmiati Wahid; Wahyuni Wahyuni; Wulanda Sari Yusuf
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v5i2.8970

Abstract

Inflamasi yaitu suatu respon  jaringan vaskular terhadap infeksi maupun kerusakan jaringan dengan mendatangkan sel dan molekul pertahanan tubuh dari peredaran darah ke lokasi yang diperlukan untuk mengeliminasi penyebab yang mengganggu. Daun pepaya (Carica papaya L.) memiliki kandungan kimia yang terdiri dari flavanoid, tanin, dan saponin. Kandungan flavanoid dalam daun pepaya dipercaya dapat dijadikan sebagai antiinflamasi. Flavonoid dapat menghambat siklooksigenase atau lipooksigenase dan menghambat akumulasi leukosit di daerah sehingga dapat menjadi antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap mencit jantan putih (Mus musculus). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Daun Pepaya di ekstraksi dengan metode maserasi yang selanjutnya dibuat Sediaan Gel dilanjutkan dengan metode pembentukan edema buatan pada telapak kaki mencit (Mus musculus) dengan menggunakan keragenan 1%. Hasil penelitian sediaan gel ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya  L.) dibuat dengan konsentrasi 0,2%, 0,3% dan 0,4%. Penurunan Volume Edema di mulai pada Jam ke- 2 sampai Jam Ke-6 untuk Semua Kelompok gel ekstrak Ekstrak Etanol Daun Pepaya (0,2%, 0,3% dan 0,4 %). Kontrol Negatif tidak mengalami Penurunan Edema berbeda dengan Kontrol Positif yang mengalami Penurunan. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian hewan uji, bahwa pada ekstrak 0,3% lebih signifikan mengalami penurunan volume Edema dibanding dengan kelompok pembanding Neuromacil Gel sebagai kontrol positif.

Page 8 of 11 | Total Record : 110