cover
Contact Name
Rosnina A.G
Contact Email
-
Phone
+6282364568905
Journal Mail Official
agrium@unimal.ac.id
Editorial Address
Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh Main Campus, Cot Teungku Nie Street, Reuleut, Muara Batu, Aceh Utara District, Province of Aceh
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agrium
ISSN : 18299288     EISSN : 26551837     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrium (Journal of Agricultural Research) ISSN 1829-9288 (Print) ISSN 2655-1837 (Online ) is a scientific publication media in are of agriculture that is published regularly every year, March and September. The manuscript comes from the results of basic and applied research, and the results of the literature review in the scope of agriculture.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "vol. 23 no. 3: september 2026" : 10 Documents clear
Respon Pertumbuhan dan Hasil Varietas Jagung Pulut (Zea mays Ceratina L.) Terhadap Kondisi Agroekosistem Lhokseumawe Rizki Evi Yovita Sagala; Laila Nazirah; Ismadi Ismadi; Baidhawi Baidhawi; Jamidi Jamidi
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.27187

Abstract

Waxy corn (Zea mays ceratina L.), has a high amylopectin content, resulting in a soft and sticky texture and showing strong potential as a local food source. Its development requires the selection of varieties that are well adapted to specific agroecosystem conditions, such as those in Lhokseumawe. This study aimed to evaluate the growth and yield and to determine the best adaptability and highest-yielding varieties of waxy corn under the agroecosystem conditions of Lhokseumawe. The experiment was conducted using a single-factor Randomized Block Design (RBD) with three replications. The treatment factor was variety (V), consisting of Arumba (V1), Kumala (V2), Rasanya (V3), Jutawan (V4), Jantan (V5), Paramita (V6), URI 1 (V7), and Pandu (V8). The results showed differences in the growth of several waxy corn varieties under the agroecosystem conditions of Lhokseumawe, particularly in plant height at 4 and 8 weeks after planting (WAP), stem diameter at 4 and 6 WAP, and number of leaves at 6 and 8 WAP. Different varieties also showed significant differences in several yield components, including days to male flowering, days to female flowering, total soluble solids, cob diameter without husk, cob weight without husk per plot, and yield. The Jutawan variety showed the best adaptability and the highest yield potential. This was indicated by optimal plant height and stem diameter, supported by superior yield components, like a cob weight without husk per plot of 7,572.4 g, total soluble solids of 18.20 °Brix, and yield reaching 12.62 t/ha.
Pengaruh konsentrasi dan lama perendaman zat pengatur tumbuh (ZPT) hormonik terhadap viabilitas benih cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Zulfani Anwar; Iwan Saputra; Risky Ridha
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.28238

Abstract

Penurunan viabilitas benih cabai rawit akibat proses penyimpanan dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan awal tanaman. Salah satu upaya untuk meningkatkan kembali mutu fisiologis benih adalah melalui aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) Hormonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ZPT Hormonik, lama perendaman, serta interaksi keduanya terhadap viabilitas benih cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Samudra, Kota Langsa, Aceh, pada April–Mei 2026 dengan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor, tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi ZPT Hormonik (0, 2, dan 4 cc L⁻¹ air), sedangkan faktor kedua adalah lama perendaman (3, 6, dan 9 jam). Parameter yang diamati meliputi potensi tumbuh, daya kecambah, vigor benih, tinggi kecambah, dan panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ZPT Hormonik berpengaruh sangat nyata terhadap potensi tumbuh, daya kecambah, dan vigor benih, serta berpengaruh nyata terhadap tinggi kecambah. Lama perendaman berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi kecambah dan berpengaruh nyata terhadap daya kecambah. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap potensi tumbuh dan tinggi kecambah. Perlakuan terbaik diperoleh pada konsentrasi ZPT Hormonik 4 cc L⁻¹ air (Z2) dengan lama perendaman 6 jam (L2), yang direkomendasikan untuk meningkatkan viabilitas benih cabai rawit.
Pengaruh biochar yang diperkaya dengan pupuk organik cair terhadap beberapa sifat kimia tanah dan pertumbuhan jati putih pada tanah bekas tambang nikel Darwis Suleman; Syamsu Alam
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.28321

Abstract

Suatu penelitian tentang pengayaan biochar dengan pupuk organik cair (POC) pada tanah tambang nikel telah dilaksanakan di Desa Ululakara, Kabupaten Konawe Selatan, mulai Januari hingga Maret 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pengayaan biochar dengan pupuk organik cair hasil fermentasi aerobik pupuk kandang terhadap sifat kimia tanah dan pertumbuhan jati putih pada tanah tambang nikel. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri atas lima perlakuan, yakni tanpa biochar (B0) dan POC, biochar sebanyak 5 t ha⁻¹ yang diperkaya POC (B1), biochar sebanyak 10 t ha⁻¹ yang diperkaya POC (B2), biochar sebanyak 15 t ha⁻¹ yang diperkaya POC (B3), serta biochar sebanyak 20 t ha⁻¹ yang diperkaya POC (B4), dengan tiga kali pengulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA), dan perbedaan rata-rata perlakuan diuji menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biochar yang diperkaya dengan pupuk organik cair hasil fermentasi pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap C-organik tanah dan kadar Fe, sedangkan pengaruhnya terhadap kadar Ni tanah tidak nyata. Tinggi tanaman dan jumlah daun jati putih juga meningkat secara signifikan seiring dengan meningkatnya dosis biochar yang diberikan. Peningkatan takaran biochar secara konsisten meningkatkan C-organik tanah, tetapi menurunkan kadar Fe tanah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan biochar hingga takaran 20 t ha⁻¹ yang diperkaya dengan pupuk organik cair hasil fermentasi pupuk kandang dapat menjadi alternatif untuk memulihkan lahan bekas tambang nikel.
Respon pemberian biosaka dengan konsentrasi berbeda pada pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) Eggy Ramayadi Simanjuntak; Iswahyudi; Boy Riza Juanda
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.28588

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian biosaka pada berbagai konsentrasi, perbedaan varietas, serta interaksi kedua perlakuan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Samudra pada Agustus–November 2025 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial yang terdiri atas dua faktor, yaitu konsentrasi biosaka dan varietas bawang merah. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi per tanaman, bobot umbi segar per tanaman, bobot umbi kering per tanaman, bobot umbi segar per plot, dan bobot umbi kering per plot. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biosaka berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun pada umur 60 hari setelah tanam (HST), bobot umbi segar per plot, dan bobot umbi kering per plot, serta berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 45 HST dan jumlah umbi per tanaman. Konsentrasi biosaka 3,0 ml L⁻¹ dalam air memberikan respons pertumbuhan dan hasil terbaik. Perbedaan varietas memberikan pengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 45 HST, jumlah daun pada umur 30, 45, dan 60 HST, serta jumlah umbi per tanaman, dengan varietas Bima Brebes menunjukkan performa terbaik. Interaksi antara konsentrasi biosaka dan varietas tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pengamatan. Penerapan biosaka dengan konsentrasi 3,0 ml L⁻¹ air dan penggunaan varietas Bima Brebes direkomendasikan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah.
Pengaruh media tanam alternatif berbasis limbah kulit singkong dan kulit pisang terhadap produktivitas jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) Silmi Kafah; Nur Laila Rahayu; Muhammad Falah; Eti Wahyuningsih
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.28768

Abstract

Budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) umumnya bergantung pada serbuk gergaji sebagai media tanam utama. Namun, di sisi lain, media ini dapat dikembangkan sebagai substrat alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media tanam alternatif berbasis limbah kulit singkong dan kulit pisang dalam menentukan komposisi media optimum terhadap produktivitas jamur tiram putih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima komposisi dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan miselia, waktu kemunculan pinhead, jumlah tubuh buah, diameter tudung, tinggi tangkai, dan bobot basah. Data dianalisis menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam alternatif berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Komposisi media 60% serbuk gergaji, 25% kulit pisang, 10% dedak, dan 5% kapur (P2) menghasilkan pertumbuhan miselia tertinggi sebesar 26,30 cm pada 21 HSI, sedangkan komposisi media 45% serbuk gergaji, 20% kulit singkong, 20% kulit pisang, 10% dedak, dan 5% kapur (P4) menghasilkan waktu kemunculan pinhead tercepat (29,83 hari), jumlah tubuh buah terbanyak (20,08 buah), diameter tudung terbesar (5,43 cm), tinggi tangkai tertinggi (4,70 cm), dan bobot basah tertinggi (165,17 g). Kombinasi kulit singkong dan kulit pisang berpotensi menjadi media alternatif untuk meningkatkan hasil jamur tiram putih secara organik dan berkelanjutan.
Karakteristik biologi tanah yang diaplikasi biochar dan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays L. saccharata Sturt) Zulfikar Zulfikar; Yusra Yusra; Halim Akbar; Khusrizal Khusrizal; Ismadi Ismadi
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.29219

Abstract

Degradasi tanah akibat pengelolaan lahan yang kurang berkelanjutan menjadi salah satu faktor pembatas produktivitas jagung manis (Zea mays L. saccharata Sturt). Pemanfaatan biochar dan pupuk hayati merupakan alternatif yang berpotensi memperbaiki karakteristik biologis dan kesuburan tanah melalui peningkatan aktivitas mikroorganisme serta ketersediaan hara bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh biochar dan pupuk hayati terhadap karakteristik biologis tanah, pertumbuhan, dan hasil tanaman jagung manis di Desa Matang Raya Timur, Baktiya, Aceh Utara, pada September–Desember 2025. Analisis dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Laboratorium Biologi Tanah MIPA-USK, dan Laboratorium Terintegrasi Universitas Malikussaleh. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial 3 × 4 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis biochar (alang-alang, sekam padi, dan tempurung kelapa), sedangkan faktor kedua adalah jenis pupuk hayati (Promi, Trichoderma, PGPR, dan mikoriza). Peubah yang diamati meliputi populasi mikroorganisme tanah, panjang akar, bobot basah dan bobot kering akar, bobot jagung per kelobot, serta infeksi akar. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar secara tunggal memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot kering akar, bobot jagung per kelobot, dan infeksi akar, serta pengaruh nyata terhadap bobot basah akar. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan biochar sekam padi. Aplikasi pupuk hayati secara tunggal memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap panjang akar, bobot basah akar, dan bobot jagung per kelobot, serta berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan Trichoderma sp. dengan dosis 3,6 kg ha⁻¹ (20 g tanaman⁻¹). Interaksi antara biochar dan pupuk hayati memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot jagung per kelobot. Kombinasi terbaik adalah biochar sekam padi dan pupuk hayati Trichoderma sp. dengan dosis 3,6 kg ha⁻¹ (20 g tanaman⁻¹). Untuk karakteristik biologis tanah, perlakuan terbaik adalah biochar sekam padi dan pupuk hayati Promi dengan dosis 4 kg ha⁻¹ (1,6 g tanaman⁻¹).
Pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) akibat pemberian biourin sapi dan kompos kulit kopi di Kecamatan Jagong Jeget Aceh Tengah Paiman; Rd Selvy Handayani; Ismadi; laila Nazirah; Jamidi Nurdin
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.29381

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang produktivitasnya perlu ditingkatkan melalui perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan pupuk organik menggunakan biourin sapi dan kompos limbah kulit kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biourin sapi dan kompos limbah kulit kopi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Desa Paya Dedep, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, pada Juni–Desember 2025. Bahan penelitian utama adalah bawang merah varietas Batu Ijo. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi biourin sapi yang terdiri atas 0, 5, 10, dan 15%, sedangkan faktor kedua adalah dosis kompos limbah kulit kopi yang terdiri atas 0, 5, 10, dan 15 ton ha⁻¹. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (uji F), dan apabila terdapat perbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biourin sapi berpengaruh terhadap tinggi tanaman umur 4 MST, jumlah daun umur 6 dan 8 MST, diameter umbi (cm), bobot basah umbi per plot (g), bobot kering umbi per rumpun (g), dan produksi (ton ha⁻¹). Perlakuan terbaik adalah konsentrasi biourin sapi 15%. Kompos limbah kulit kopi berpengaruh terhadap bobot basah umbi per plot (g), bobot kering umbi per rumpun (g), dan produksi (ton ha⁻¹). Perlakuan terbaik adalah dosis kompos limbah kulit kopi 15 ton ha⁻¹. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara biourin sapi dan kompos limbah kulit kopi terhadap seluruh peubah yang diamati.
Pertumbuhan tanaman padi varietas Situbagendit (Oryza sativa L.) terhadap kombinasi pupuk KCL dan jerami pada beberapa frekuensi penyiraman Herlina Mega Puspitasari; HP Julsento; Bela Tri Wijayanti; Aulia Adillah; Muhammad Fariz Yoga Pranata; Raden Kunto Adi; Rehino Yanu Seto; Ian Danarko Budi Putranto; Muhammad Parikesit Wisnu Broto
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.29792

Abstract

Padi merupakan salah satu komoditas pangan utama yang memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan Indonesia. Namun, meningkatnya frekuensi kekeringan menjadi salah satu tantangan dalam budi daya padi karena menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas tanaman. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan toleransi tanaman padi terhadap kondisi kekeringan adalah melalui pengelolaan unsur hara, khususnya kalium (K). Pemberian pupuk yang mengandung kalium berperan dalam mengatur keseimbangan air, meningkatkan aktivitas fisiologis, serta membantu tanaman menghadapi kondisi cekaman lingkungan. Selain itu, kompos jerami padi sebagai sumber bahan organik dapat memperbaiki kualitas tanah melalui peningkatan kandungan unsur hara makro, seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman. Kombinasi keduanya diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan hara serta mempertahankan produktivitas tanaman padi dalam kondisi keterbatasan air. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah cekaman kekeringan berdasarkan frekuensi penyiraman yang diterapkan dalam penelitian pendahuluan, terdiri atas tiga taraf, yaitu (F1) penyiraman setiap 2 hari, (F2) penyiraman setiap 4 hari, dan (F3) penyiraman setiap 6 hari. Faktor kedua adalah kombinasi pupuk KCl dan jerami dengan lima taraf, yaitu (KJ1) 0 kg KCl dan 10 ton jerami/ha, (KJ2) 50 kg KCl dan 7,5 ton jerami/ha, (KJ3) 100 kg KCl dan 5 ton jerami/ha, (KJ4) 150 kg KCl dan 2,5 ton jerami/ha, serta (KJ5) 200 kg KCl dan 0 ton jerami/ha. Parameter pengamatan terdiri atas tinggi tanaman, hari berbunga, dan nisbah akar.
Characterization and pathogenicity of fungi associated with leaf spot disease in oil palm nurseries of North Aceh and Bireuen Latifah Latifah; Rizky Diryan Margolang; Novita Pramahsari Putri; Hendrival Hendrival; Muhammad Muaz Munauwar; Baidhawi Baidhawi
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.29903

Abstract

Leaf spot disease is a major constraint in oil palm nurseries because it can reduce seedling quality and impair plant growth. This study aimed to identify fungi associated with leaf spot disease and to determine the incidence and severity of the disease in selected oil palm nurseries in North Aceh and Bireuen Regencies, Indonesia. A survey was conducted at three nursery sites: a farmers’ nursery in Sawang District, PT Syaukath Sejahtera in Gandapura District, and CV Buket Indah in Juli District. Seedlings aged 4, 7, and 11 months were examined. Fungal identification was conducted through isolation on Potato Dextrose Agar (PDA), macroscopic and microscopic morphological characterization, and pathogenicity testing based on Koch’s postulates. Four fungal genera associated with leaf spot symptoms were identified: Curvularia, Pestalotiopsis, Phoma, and Nigrospora. Disease incidence ranged from 82 to 100%, while disease severity ranged from 25.00 to 45.50%, generally falling within the moderate severity category. The highest disease incidence and severity were observed in the farmers’ nursery in Sawang and at CV Buket Indah. These nurseries had conditions that were more conducive to disease development, particularly high plant density, humidity, sanitation, and water management. The findings highlight the importance of accurate etiological identification and improved nursery management for integrated management of leaf spot disease.
Pengaruh pemberian pupuk dan pemangkasan tunas air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Solanum lycopersicum) Suri Raihan Safriani; Naziratil Husna; Wulan Wulan
Agrium Vol. 23 No. 3: September 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i3.30052

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk dan pemangkasan tunas air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Solanum lycopersicum). Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan rancangan acak kelompok pola faktorial 4 × 3 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama, yaitu K0 (tanpa pupuk), K1 (pupuk kandang sapi 500 g), K2 (pupuk NPK 20 g), dan K3 (kombinasi pupuk kandang sapi 400 g dan NPK 10 g). Faktor kedua, yaitu T0 (tanpa pemupukan dan pemangkasan), T1 (tanpa pemangkasan), dan T2 (pemangkasan). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians dengan taraf signifikansi 5%. Data tersebut dilanjutkan dengan uji lanjut beda nyata jujur pada taraf signifikansi 5% untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah buah, dan bobot buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Perlakuan K3 (kombinasi pupuk kandang dan pupuk NPK) mendominasi hasil terbaik pada setiap parameter yang diuji. Pemangkasan tunas air juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Perlakuan T2 (pemangkasan) berpengaruh nyata terhadap parameter yang diuji. Terdapat interaksi antara faktor pemberian pupuk dan pemangkasan tunas air pada parameter jumlah daun dan diameter batang tanaman tomat.

Page 1 of 1 | Total Record : 10