cover
Contact Name
Dr. Supian, S.Ag., M.Ag.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltitian.fib@unja.ac.id
Editorial Address
Gedung G, LT. III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi, Mendalo, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26153440     EISSN : 25977229     DOI : -
Titian merupakan jurnal ilmiah akademik dalam bidang kajian ilmu Humaniora (budaya) yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan untuk mempublikasikan berbagai artikel hasil penelitian, studi kepustakaan, studi lapangan, gagasan konseptual, kajian penerapan teori dalam bidang ilmu humaniora. Jurnal ini dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun Arab. Jurnal ini mengutamakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu bahasa (linguistik), ilmu sastra (Daerah, Indonesia, Inggris, Arab), Sejarah, Arkeologi, Seni, Sosiologi, Antropologi, Etnografi dan Agama. Jurnal Titian terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Articles 235 Documents
Fashion Streetwear Sebagai Penunjang Musisi Indie di Kota Bandung (1990-2004) Indar Buana Pradipta; Reiza D. Dienaputra; Ayu Septiani
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.41 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.11638

Abstract

This thesis is titled "Fashion streetwear as a support for indie musicians in the city of Bandung; 1990-2008". The Focus of the discussion is how fashion streetwear can be a support in the sustainbility of indie musicians in the city of Bandung. This research uses a historical method in which there are have several work steps such as field studies, literature studies, and interviews as supporting instruments. The historical method has four stages of work namely heuristics,criticism, interpretation, and historiography. The method the author uses as an analytical tool to dissect the problems discussed plus the help of other scientific concepts such as sociology, economics, and communication. The fact found is that, streetwear fashion began to develop in the City of Bandung in 1990's. The driving factors for the growth of this fashion trend include the development of indie music, and the incresing independent spirit in Bandung which eventually triggers the emergence of local fashion brands in Bandung, to become dominant culture for the city's young people and consistently supporting indie musicians in the Bandung City.
Representasi Resistensi Rasisme dalam Film Harriet 2019 Faishal Al Ghifari
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.153 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.11700

Abstract

This article discusses the representation of racism resistance in Harriet's film. This film shows how the struggle of a Harriet who tries to alleviate cases of slavery experienced by his people. From the beginning of the film, various forms of racist resistance were shown in the form of scenes and dialogues. The focus of this research is to reveal various descriptions of racism resistance through the building blocks of a film. The elements that build Harriet's film are considered to have a big role in the production process of interpreting racism resistance to the audience. This article argues that the elements contained in this film, be it narrative elements or cinematic elements, both have a huge contribution in emphasizing the image of the resistance to racism during the "Harriet Tubman" era in America. This research uses Amy Villarejo's cinematic approach and Hall's concept of representation by analyzing the data contained in the film in the form of scenes and dialogues. From the data analyzed, it is found that Harriet's character shows a dominant description of racism resistance, which is shown through scenes and dialogues in the film. Keywords: Film, Semiotics, Representation, Resistance, Racism
Relasi Permukiman dan Moda Transportasi di Kota Padang Tahun 1957-2017 Daumar Mike Pahutar; Lindayanti Lindayanti; Nopriyasman Nopriyasman
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.302 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.11870

Abstract

ABSTRAKTulisan ini membahas tentang persebaran permukiman dan relasinya dengan moda transportasi di kota Padang dalam tahun 1957-2017. Menggunakan pendekatan historis dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menggambarkan kota Padang tahun 1957-1979 dimana terjadi invasi kota, sebagai akibat pergolakan daerah PRRI. Mobilitas penduduk meningkat, permukiman tersebar disepanjang pusat pemerintahan maupun fasilitas umum lainnya yang tersebar di 3 kecamatan. Permukiman itu dihubungkan dengan moda transportasi yang telah ada sebelumnya (Pelabuhan, Kereta Api, Bus, Bendi, Sepeda Motor), ditambah Bemo (1962), Oplet (1976), disusul Angkot (1979). Dalam tahun 1980-2009 terjadi perluasan kota. Permukiman tersebar hingga ke 11 kecamatan.Moda transportasi yang dioperasikan bertambah dengan kehadiran Mikrolet (1982), Taksi (1990).Pasca gempa 2009-2017 persebaran permukiman mengikuti kebijakan mitigasi bencana yang menyasar ke kawasan tinggi seperti koto tangah (pusat pemerintahan sekarang).Permukiman dihubungkan dengan tambahan moda transportasi masal Trans Padang (2014) dan moda transportasi berbasis online (Gojek) dalam tahun 2017.Kata kunci: Permukiman, Transportasi, Manusia, Alam, Pemerintah.ABSTRACTThis text deals with the distribution of the settlement and transport modes in the Padang city of the 1957-2017. Using historical approaches with heuristic stages source criticism, interpretation, and historiography. Research shows the Padang city of 1957-1979 that the city’s invasion occured, as a result of unrest in regional PRRI. Population mobility is increasing, settlements spread across the government center and other public facilities are scattered in 3 sub-districts. The settlement were linked with preexisting transport modes (Port, Train, Bus, Bendi, Motorcycle), plus Bemo (1962), Oplet (1976), followed by Angkot (1979). In 1980-2009 there was an expansion of the city. Settlement dispersed to 11 sub-districts. Operated mode of transportation increased by the presence of Microlet (1982), Taxi (1990). After the 2009-2017 earthquake of settlement followed a disaster mitigation policy aimed at high region like Koto Tangah (current government center). Settlement were linked to additional Trans Padang (2014) mass transport modes and online (Gojek) transport modes in 2017. Keywords: Settlement, Transportation, Human, Nature, Government
Kearifan Lokal pada Perwujudan Tathagata di Candi Borobudur Gaya Mentari
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.772 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.12185

Abstract

This study describes about the form of local genius from tathagata Statue in Borobudur temple. Tathagata is a term to call someone who reach the truth of life. This Tathagata becomes the Buddha image which has certain characteristic (like hand gesture or mudra, and sit gesture). This study using 20 Tathagata in Rupadhatu terrace of Borobudur. Five characteristic of local genious which told by Ayatrohaedi (1986) become reference for showing the local genious that exist in Tathagata statue in Borobudur temple. The purpose of this article is giving new opinion that since Hindu-Buddha period, the old Javanesche artist (silpin) had been able to integrate foreign culture within local culture in the art and placement form of tathagata image. The research found that Tathagata have unique charateristic in art style and the placement which are the form of local genious from the Javanesche artist.
Hermeneutika sebagai Metode dalam Kajian Kebudayaan M. Ied Al Munir
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.75 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.12508

Abstract

Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang posisi hermeneutika sebagai sebuah metode dalam kajian kebudayaan. Sebagaimana terlihat dalam perkembangan dewasa ini, kajian kebudayaan tidak hanya memiliki fokus pada kebudayaan sebagai sebuah tradisi yang diwariskan, namun juga pada kebudayaan sebagai sebuah tradisi yang dinamis dan terus berkembang dalam masyarakat. Oleh karena perkembangan ini maka kajian kebudayaan memerlukan metode yang tepat agar dapat memahami kebudayaan dengan lebih baik. Hermeneutika dalam keterkaitan ini penulis asumsikan sebagai salah satu metode yang tepat bagi kajian kebudayaan karena sifat metode hermeneutika yang dialogis dan dinamis yang bersesuaian dengan arah perkembangan kebudayaan kedepannya. Tulisan ini berusaha menjawab tiga pertanyaan yakni: (1) apa yang dimaksud dengan kebudayaan serta bagaimana pula pengkajian atasnya? (2) apa yang dimaksud dengan hermeneutika dan bagaimana posisinya sebagai metode? dan (3) bagaimana pentingnya metode hermeneutika dalam kajian kebudayaan? Tulisan ini menghasilkan beberapa simpulan. Pertama, kebudayaan tidak hanya bersifat statis tapi juga dinamis sehingga dibutuhkan metode pengkajian yang juga bersifat dinamis. Kedua, hermenetika dapat diaplikasikan sebagai metode dalam kajian kebudayaan karena wujudnya yang berupa pemahaman atau intrepretasi atas tindakan manusia sebagai perwujudan kebudayaan. Ketiga, arti penting metode hermeneutika bagi kajian kebudayaan adalah karena sifatnya yang dialogis dan dinamis sehingga berkesesuaan dengan dinamika kebudayaan. Kata kunci: metode hermeneutika, interpretasi, kajian kebudayaan Abstract This paper aims to provide an overview of the position of hermeneutics as a method in cultural studies. As seen in its current development, cultural studies not only focus on culture as an inherited tradition, but also on culture as a dynamic tradition that continues to develop in society. Because of this development, cultural studies need the right method to better understand culture. The writer assumes hermeneutics in this connection as one of the appropriate method for cultural studies because of the dialogical and dynamic nature of the hermeneutic method which is in accordance with the direction of future cultural development. This paper attempts to answer three questions, namely: (1) what is meant by culture and how is the study of it? (2) what is meant by hermeneutics and what is its position as a method? and (3) how important the hermeneutic method is in cultural studies? This paper produces several conclusions. First, culture is not only static but also dynamic, so a dynamic method of study is needed. Second, hermeneutics can be applied as a method ini cultural studies because its form is an understanding or interpretation of human action as embodiement of culture. Third, the importance of the hermeneutic method for cultural studies is because it is dialogical and dynamic so that it is compatible with the dynamics of culture. Keywords: hermeneutic method, interpretation, cultural studies
Rasionalitas Masyarakat Desa Lalangon Memilih Kepala Desa Perempuan Akbar Mawlana; Agus Machfud Fauzi
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.466 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.12532

Abstract

Masyarakat Sumenep memegang teguh nilai patriraki dalam kehidupannya. Salah satu nilai patriarki yang diterapkan oleh masyarakat Sumenep adalah seorang pemimpin harus seorang laki-laki. Namun, pada kenyataannya kepala desa di Desa Lalangon saat ini dpimpin oleh perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat rasionalitas masyarakat desa Lalangon memilih kepala desa perempuan. Metode yang digunakan berupa kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penggunaan prespektif fenomenologi diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas dalam diri individu mengenai motif sosialnya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan juga menggunakan sumber sekunder dari jurnal dan buku. Penggunaan teori dalam penelitian ini menggunakan konsep teori rasionalitas dar Max Weber. Weber melihat jika individu memiliki tahapan ideal dalam melakukan tindakan sosialnya. Oleh sebab itu, dengan menggunakan teori rasionalitas dari Max Weber, dapat membantu untuk melihat tindakan sosial dalam pemilihan kepala desa perempuan di desa Lalangon Hasil penelitian memperlihatkan ada 4 rasionalitas, yakni rasionalitas afeksi, rasionalitas instrumental, dan rasionalitas nilai.
Expressive Speech Act in Comic Bintang Emon’s Speech in Social Media about Social Distancing Julisah Izar; M. Muslim Nasution; Rengki Afria; Neldi Harianto; Mar'atun Sholiha
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.426 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.13100

Abstract

Abstract This research aims to describe speech act form of angry expressive spoken by Comic Bintang Emon in social media about social distanting. The method of this research is qualitative by describing the data. The data source of this research is Comic Bintang Emon’s speech in social media about social distancing. Collecting data in this analysis used technique of listening, data reduction, and data analysis. The data were analysed to see how the form of speech act was spoken by Bintang Emon and relatedness of speaker’s sociopragmatics. The result of this research is speech act of angry expressive spoken by Comic Bintang Emon used speech strateries: literal direct speech act and unliteral direct speech act. Literal direct speech act in the speech consisted of two speeches while non-literal direct speech act consisted of five speeches. Keywords: speech act, qualitative, angry expressive speech, strategy/ speech form
Warna Lokal Jawa dan Minang dalam Karya Sastra Indonesia sebagai salah satu upaya Pemertahanan Bahasa Daerah pada Era Globalisasi dan Digitalisasi Informasi Andiopenta Purba
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 5 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.462 KB) | DOI: 10.22437/titian.v5i1.13107

Abstract

Tulisan ini mengungkap eksistensi warna lokal dalam karya sastra Indonesia. Keberadaan warna lokal dalam sastra Indonesia dapat dikatakan sebagai suatu kreatifitas tersendiri bagi masing-masing pengarang, serta merupakan suatu kreasi baru yang dapat mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia serta bahasa daerah yang mengandung warna local para pengarang itu sendiri. Kehadiran war­na lokal tersebut dapat menimbulkan dampak positif terhadap pemertahanan bahasa daerah. Pengarang yang memasukkan warna lokal atau unsur-unsur kedaerahan sesungguhnya memiliki maksud tertentu, yakni memperkenalkan budaya daerahnya sendiri. Dengan demikian juga akan memperkenalkan bahasa daerahnya sendiri kepada pembaca, dan pada gilirannya akan turut serta mempertahankan bahasa daerahnya sendiri di era globalisasi. Kata-kata kunci : Warna lokal, pemertahanan, dan bahasa daerah.
Model Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Pada Anak-anak Panti Asuhan Mawar Putih Mardhotillah di Indralaya Abdul Gafur
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 4 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.638 KB) | DOI: 10.22437/titian.v4i1.8145

Abstract

Penanaman Nilai adalah proses menanamkan nilai atau hal-hal atau sifat yang berguna dan penting sebagai acuan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Menanamkan nilai-nilai baik dalam diri anak merupakan suatu hal yang penting bagi orang tua di dalam sebuah keluarga, karena keluarga merupakan lading terbaik dalam penyemaian nilai. Nilai yang sangat mendasar harus ditanamkan dalam diri anak adalah nilai agama, bagi keluarga muslim berarti nilai-nilai Pendidikan Agama Islam. Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam merupakan nilai yang seluruh aspek atau komponennya berdasarkan ajaran agama Islam, meliputi nilai akidah, ibadah dan akhlak. Tujuan penelitian ini unuk mengetahui bentuk penanaman nilai-nilai agama Islam pada anak-anak panti asuhan Mawar Putih Mardhotillah di Indralaya dan pengembangan nilai-nilai agama Islam pada anak-anak panti asuhan Mawar Putih Mardhotillah di Indralaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan observasi, dokumentasi, dan interview dengan informan yang telah dilakukan secara perposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penanaman nilai-nilai ajaran Islam pada anak Panti Asuhan Mawar Putih Mardhotillah di Indralaya dimulai dari proses, pelaksanaa, dan evaluasi. Penanampan nilai-nilai ajaran Islam pada anka panti asuhan Mawar Putih Mardhotillah di Indralaya yaitu nilai akidah, nilai akhlak, dan nilai ibadah semuanya itu harus dilaksanakan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan contoh yang baik yang diberikan oleh piahk pengasuh kepada anak asuhnya.
Konflik dan Harmoni Kehidupan Nelayan Nagari Airhaji Pesisir Selatan (1998-2017) Sri Haryati Putri Haryati
Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Vol. 4 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.201 KB) | DOI: 10.22437/titian.v4i1.8557

Abstract

Nagari Air Haji, perkampungannya didominasi dengan wilayah perairan dan pantai. Sebagai wilayah pesisir pantai, dinamika masyarakat juga memiliki keterikatan yang erat dengan laut. Dinamika konflik antar sesama nelayan menjadi hal yang tidak bisa dielakkan. Penulisan ini membahas tentang konflik sosial nelayan tradisional di Air Haji. Persaingan nelayan trawl dengan nelayan tradisional tidak seimbang dan lebih merupakan penindasan. Tentu nelayan trawl makin berjaya di tengah tersingkirnya nelayan tradisional. Adapun organisasi sebagai wadah peningkatan kapasitas nelayan, ternyata hanyalah sebuah cara bagi mereka untuk mendapatkan program bantuan. Sementara peraturan dan ketetapan melaut yang tercantum dalam organisasi tetap mereka langgar. Namun, Organisasi telah mempertemukan ketiga elemen ini dan saling bekerja sama untuk memajukan perekonomian masyarakat nelayan. Baik bagi sesama nelayan, nelayan dengan masyarakat dan nelayan dengan pemerintah. Organisasi secara tak langsung telah memberikan secercah pengharapan bagi nelayan untuk merubah hidup supaya keluar dari belenggu kemiskinan. Meskipun hasil yang didapatkan belum maksimal, tetapi telah menjadi dinamika konflik dan harmoni dalam kehidupan nelayan. Harmoni tersebut semakin terlihat pada prinsip patron-klien yang diterapkan oleh semua nelayan, baik juragan dan anak buah tercipta hubungan sosial yang begitu erat, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah kekerabatan. Kata Kunci: nelayan; konflik; harmoni; organisasi nelayan; patron-klien

Page 8 of 24 | Total Record : 235