cover
Contact Name
Anisa Arianingsih
Contact Email
-
Phone
+6285659247804
Journal Mail Official
sj@email.unikom.ac.id
Editorial Address
Jl. Dipati Ukur No.112-116, Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Janaru Saja : Jurnal Program Studi Sastra Jepang
ISSN : 23015519     EISSN : 23015527     DOI : https://doi.org/10.34010/js
Janaru Saja : Jurnal Program Studi Sastra Jepang is a journal published two times annually (May and November) by Japanese Department (Program Studi Sastra Jepang) Universitas Komputer Indonesia, Bandung. This journal consist of paper-based articles, fresh ideas about Japanese language, literature, culture and its teaching and learning, which have never been published before. Scientific articles dealing with Japanese Studies are particularly welcome.
Articles 87 Documents
Honne dan Tatemae Dalam Novel Sairensu Karya Akiyoshi Rikako Tina Agustin Huriyah; Fenny Febrianty; Sigit Kurniawan
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 9 No 2 (2020): November 2020
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v9i2.4145

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya honne dan tatemae yang terdapat dalam novel Sairensu karya Akiyoshi Rikako ditinjau dari aspek subjek kolektif dan pandangan dunia pengarang dalam teori strukturalisme genetik Lucienn Goldmann. Penelitian menggunakan metode deskriptif analisis dan dialektika. Sumber data utama adalah novel Sairensu karya Akiyoshi Rikako. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh cerita merupakan cerminan dari subjek kolektif masyarakat Jepang yang menerapkan budaya honne dan tatemae dengan tujuan untuk menghormati orang lain, agar terlihat baik, menjaga keharmonisan, dan mencapai suatu tujuan tertentu melalui perasaan, pemikiran, dan sikap tokoh. Kata Kunci: honne tatemae, strukturalisme Lucienn Goldmann Abstract This study aimed to describe the honne and tatemae culture contained in Akiyoshi Rikako's novel Sairensu in terms of the collective subject aspect and the author's worldview in Lucienn Goldmann's theory of genetic structuralism. This research uses descriptive analysis and dialectic methods. The main data source is the novel Sairensu by Akiyoshi Rikako. The results showed that the character of the story is a reflection of the collective subject of Japanese society who applies honne and tatemae culture with the aim of respecting others, to look good, to maintain harmony and to achieve certain goals through the feelings, thoughts, and attitudes of the characters. Keywords: honne tatemae, Lucienn Goldmann’s structuralism
Metafora Konseptual dalam Konferensi Pers Program Kerja Gubernur Tokyo Yuriko Koike di Televisi Mellati Riandi Putri; Tajudin Nur
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i1.4325

Abstract

Abstract The purpose of this research is to determine the conceptual metaphor from Tokyo governor Yuriko Koike’s press conference on television through cognitive semantic analysis. The method used in this research is the descriptive qualitative method. The data for this research were derived from a press conference from Yuriko Koike who was re-elected for the second time as Tokyo governor and classified based on conceptual metaphor theory from Lakoff and Johnson. As the result, there are 15 data of structural metaphor, 3 data of orientational metaphor, and 5 data of ontology metaphor. The conceptual meanings found in this research are related to the government such as economy, government system, work plans, and government priorities. There also found some conceptual meanings related to disease and fight. Keywords: conceptual metaphor, cognitive semantic, utterance Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metafora konseptual dalam konferensi pers program kerja gubernur Tokyo, Yuriko Koike di televisi dengan analisis semantik kognitif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini diperoleh dari konferensi pers pemaparan program kerja yang disampaikan oleh gubernur Tokyo, Yoriko Koike yang kembali terpilih untuk kedua kalinya. Data kemudian dianalisis dan digolongkan berdasarkan jenis metafora konseptualnya berdasarkan teori oleh Lakoff dan Johnson. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan lima belas data metafora struktural, tiga data metafora orientasional, dan lima data metafora struktural. Makna konseptual yang ditemukan berkaitan dengan pemerintahan seperti perekonomian, sistem pemerintahan, program kerja, dan prioritas pemerintah. Selain itu juga ditemukan makna konseptual penyakit dan pertarungan. Kata kunci: metafora konseptual, semantik kognitif, tuturan
Ideology State Aparatus dalam Instansi Pendidikan Formal di Desa Jepang dalam Anime Non Non Biyori Indah Hasan; Muhammad Rayhan Bustam
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i1.4537

Abstract

Abstract This research describes the phenomenon of formal rural education institutions in Japan which is shown in Atto's anime series Non Non Biyori through the ideological theory approach proposed by Althusser. The purpose of this study is to describe the formal village education institutions in Japan in supporting the compulsory twelve year school program and implementing moral education design by the central government. The method used is a quantitative method to explain the existing phenomena by collecting data and departing from Althusser's Ideology State Apparatus theory. The results of this study are to suggest that formal education institutions in rural areas in Japan are able to apply and implement moral education methods from the central government in learning and compulsory schooling so that they become moral students and are able to be educated and experience school to high school and above. Keywords : Ideology state apparatus, Japan, education, anime Abstrak Penelitian ini memaparkan fenomena instansi pendidikan formal daerah desa di Jepang yang diperlihatkan dalam anime seri Non Non Biyori karya Atto melalui pendekatan teori ideologi yang dicanangkan oleh Althusser. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan instansi pendidikan formal desa di Jepang dalam mendukung program wajib sekolah dua belas tahun serta melaksanakan pendidikan moral yang direncanakan oleh pemerintah pusat. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menjelaskan fenomena yang ada dengan pengumpulan data serta berangkat dari teori Ideology State Apparatus dari Althusser. Hasil dari penelitian ini adalah mengemukakan instansi pendidikan formal daerah desa di Jepang yang mampu menerapkan dan melaksanakan metode pendidikan moral dari pemerintah pusat dalam pembelajaran serta wajib sekolah 12 tahun sehingga menjadi pelajar bermoral serta mampu teredukasi dan mencicipi bangku sekolah sampai sekolah menengah keatas. Kata kunci : Ideology state apparatus, Jepang, pendidikan, anime
Gairaigo Dalam Novel Tensei Shitara Slime Datta Ken Karya Fuse Made Henra Dwikarmawan Sudipa
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i1.4733

Abstract

Abstract This research aims to analyze the form and meaning of Japanese loanword or gairaigo. The data were collected from Japanese novel titled Tensei Shitara Slime Datta Ken by observation method and note-taking techniques. They were analyzed using identity method and distribution techniques. The form of gairaigo were analyzed using word formation theory by Tsujimura (1996) and meaning were analyzed using contextual meaning theory by Pateda (2001). The results show that gairaigo can be divided into two forms, base and morphological forms. Base form does not have morphological change. Morphological form includes affixation, compound, and clipping. There are some gairaigo having different meaning from its source language. Further research can hopefully examine gairaigo using phonology or syntax theory. Keywords: Morphology; Semantics; Loanwords; Japanese Language Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan makna dari kata pinjaman bahasa Jepang atau gairaigo. Data dikumpulkan dari novel bahasa Jepang berjudul Tensei Shitara Slime Datta Ken menggunakan metode simak disertai teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode padan disertai teknik pilah unsur penentu. Teori yang digunakan adalah teori pembentukan kata menurut Tsujimura (1996) dan makna kontekstual menurut Pateda (2001). Hasil analisis menunjukkan bahwa gairaigo dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu bentuk dasar dan bentuk morfologis. Bentuk dasar merupakan gairaigo yang tidak mengalami proses morfologis. Bentuk morfologis terbentuk dari proses pengimbuhan, penggabungan, dan pemenggalan. Dari segi makna, terdapat beberapa gairaigo yang memiliki perbedaan dari bahasa asalnya. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis gairaigo menggunakan teori fonologi atau sintaksis. Kata Kunci: Morfologi; Semantik; Kata Pinjaman; Bahasa Jepang
Kecemasan Bahasa Dalam Pembelajaran Tata Bahasa Jepang Secara Daring Muliadi Muliadi; Susi Widianti; Wawan Danasasmita
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i1.4739

Abstract

Abstract This study aims to investigate a) the differences of level anxiety by gender and length of study; b) the correlation between language anxiety and student outcomes; c) the effect of language anxiety on student outcomes. A survey was administered to 149 Japanese language students from two state universities in Sumatra. There were 40 male students and 109 female students in this study. 47 students have experience learning Japanese for less than 1 year, 81 students about 1-2 years, 17 students about 3-4 years, and 4 students have experiences for more than 5 years. The study found that female students were more anxious than male students. There was no difference in anxiety based on thelength of study. Correlation analyses showed that there was a negative significant correlation between anxiety and student outcomes. That means if anxiety rises, outcomes will decrease. Meanwhile, regression analyses showed that anxiety was a predictor that affects learning outcomes. This indicates that anxiety interferes the outcomes of learning Japanese grammar in online learning. Keywords: Language anxiety, Japanese grammar, online learning Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui a) perbedaan tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin dan periode belajar; b) hubungan kecemasan bahasa dengan hasil belajar; dan c) pengaruh kecemasan bahasa terhadap hasil belajar. Responden dalam penelitian ini adalah 149 mahasiswa bahasa Jepang tingkat 1 dan 2 dari 2 universitas negeri di Sumatera. Sebanyak 40 orang merupakan pembelajar laki-laki dan 109 orang merupakan pembelajar ont . 47 orang diantaranya memiliki pengalaman belajar bahasa Jepang kurang dari 1 tahun, 81 orang 1-2 tahun, 17 orang 3-4 tahun, dan 4 orang memiliki pengalaman belajar lebih dari 5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajar perempuan lebih cemas dibanding pembelajar laki-laki. Tidak ada perbedaan kecemasan antara pembelajar yang memiliki pengalaman belajar bahasa Jepang lebih sedikit dengan pembelajar yang mempunyai pengalaman belajar lebih lama. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan negatif signifikan antara kecemasan dengan hasil belajar. Artinya jika kecemasan naik maka hasil belajar mengalami penurunan. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kecemasan merupakan prediktor yang mempengaruhi hasil belajar. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kecemasan mengganggu hasil belajar tata bahasa Jepang dalam pembelajaran daring. Kata Kunci: Kecemasan berbahasa, tata bahasa Jepang, pembelajaran daring
Struktur dan Beban Permohonan Irai Hyougen pada Pembelajar Bahasa Jepang dan Penutur Asli Diana Rizki Oktarina; Nuria Haristiani; Dedi Sutedi
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i1.4941

Abstract

Abstract This research aims to analyze the structure of natives’ and Japanese learners’ irai hyougen and their perspective on its request imposition. The method used in this research is descriptive qualitative and the data were collected using DCT from 43 respondents consisting of 10 native speakers and 33 Japanese learners. In the DCT there are 12 different situations (bamen) based on imposition, social distance, and relative power. The results of this study indicate that in the irai hyougen structure which expressed by learners, there are still mistake in the use of words, even at the N2 level learners. The learner's requesr expression tends to be long and 45% use yobikake as the prefix, while native speakers use long expressions in high level of imposition and 35% directly use hondai.The results of this study have not been able to provide general conclusions about the characteristics of the irai hyougen structure of native speakers and Japanese learners, but there is a possibility of differences in the perspective on the structure and the burden of a request, and mistake in using words, where this mistake is one of the reasons which can lead to language transfer. Keywords: Irai hyougen, request structure, request imposition, Japanese learners and natives Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur irai hyougen penutur asli dan pembelajar bahasa Jepang serta perspektif mereka terhadap beban permintaannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan pengumpulan data menggunakan DCT dari 43 responden yang terdiri dari 10 penutur asli dan 33 pembelajar bahasa Jepang. Dalam DCT terdapat 12 situasi berbeda (bamen) berdasarkan beban, jarak sosial, dan kekuatan relatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam struktur irai hyougen yang diungkapkan pembelajar masih terdapat kesalahan dalam penggunaan diksi, bahkan pada tingkat N2. Ungkapan permintaan peserta didik cenderung panjang dan 45% menggunakan yobikake sebagai awalan, sedangkan penutur asli menggunakan ungkapan panjang pada tingkat beban tinggi dan 35% langsung menggunakan hondai. Hasil penelitian ini belum dapat memberikan kesimpulan umum tentang karakteristik struktur irai hyougen penutur asli dan pembelajar Indonesia, namun terdapat kemungkinan adanya perbedaan cara pandang terhadap struktur dan beban suatu permohonan, dan kesalahan dalam menggunakan kata-kata, dimana kesalahan tersebut merupakan salah satu alasan yang dapat menyebabkan adanya transfer bahasa. Kata kunci: Irai hyougen, struktur permohonan, beban permohonan, pembelajar bahasa Jepang dan penutur asli
Analisis Makna Adverbia Tama Ni dan Metta Ni dalam Kalimat Bahasa Jepang Ladycia Sundayra; Anak Agung Ayu Dian Andriyani
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i2.4737

Abstract

AbstractThis research aims to analyze the meaning of tama ni and metta ni. These two words are Japanese adverbs having the similar lexical meaning ‘rarely / seldom’, but contextually the meaning are different. The method used in this research is the descriptive qualitative method. The data were collected from sentences that posted on asahi.com and jakartashinbun.com by observation method and note-taking techniques. They were analyzed using distributional method with substitution technique. The meanings of these two adverbs were analyzed using contextual meaning theory. The results show that tama ni and metta ni have the similar meaning that is ‘something that rarely do or happen’. The difference is on specific context. The adverb tama ni is more likely to have a positive connotation with more time frequency than metta ni. Metta ni has the meaning of ‘rarely’ with a less time frequency than tama ni. However, if tama ni is accompanied by the particle ‘shika’ which means ‘only’ the meaning will be ‘only accasionally’ which can be matched with ‘rarely’.Keywords: Adverbs, contextual meaning, Japanese language AbstrakPenelitian ini menganalisis makna adverbia tama ni dan metta ni. Kedua kata tersebut merupakan adverbia bahasa Jepang yang secara leksikal menyatakan ‘jarang’, tetapi secara kontekstual dapat memiliki makna yang berbeda. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data berupa kalimat diperoleh dari laman online asahi.com dan jakartashinbun.com menggunakan metode simak dan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode agih, yaitu alat penentunya ada di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang diteliti dan disertai dengan teknik perluas, yaitu memperluas satuan lingual menggunakan unsur tertentu. Teori yang digunakan adalah teori makna kontekstual. Hasil analisis menunjukkan tama ni dan metta ni sama-sama memiliki makna “sesuatu yang jarang dilakukan atau jarang terjadi”. Perbedaan kedua adverbia tersebut terdapat pada konteks tertentu. Adverbia tama ni lebih cenderung memiliki konotasi positif dengan frekuensi waktu lebih dibandingkan metta ni, sementara metta ni secara utuh memiliki makna ‘jarang’ dengan frekuensi waktu lebih sedikit dibandingkan dengan tama ni. Namun, jika adverbia tama ni dibarengi dengan partikel shika yang berarti ‘hanya’ maknanya akan menjadi ‘hanya sesekali’ yang mana mendekati makna ‘jarang’.Kata Kunci: Adverbia, bahasa Jepang, makna kontekstual
Representasi Kawaii dan Omotenashi pada Yuru-kyara Prefektur Nara Wahyu Devita Setyarini; Yusida Lusiana; Yudi Suryadi
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i2.5190

Abstract

AbstractYuru-chara is one of a type of mascot in Japan that aims to promote local government events, revitalization of villages/cities/provinces, and government institutions. The purpose of this study is to describe the denotative and connotative meanings of yuru-chara from Nara Prefecture, and to interpret the representation of the kawaii and omotenashi concepts contained in the yuru-chara. This research is qualitative interpretive research using library research as a methods of data collection. The data in this study were pictures and photos of yuru-chara Sento kun, Manto kun, Na-ra chan, Renka chan, Narakkii and Nakkyon which were then analyzed using Roland Barthes' semiotic analysis. The results of data analysis show that in every yuru-chara of Nara Prefecture that has been analyzed, there are denotative and connotative meanings that are closely related to the elements of the brand that created the yuru-chara because it’s uses as a promotional media (promotional characters). The representation of the kawaii concept in yuru-kyara is a way to attract people's attention. Omotenashi maintains the collaboration between the brand and the community as well as an image of the friendly culture of Japanese society.Keywords: Kawaii, omotenashi, Roland Barthes’ semiotics, Yuru-chara AbstrakYuru-kyara merupakan salah satu jenis maskot di Jepang yang bertujuan untuk mempromosikan baik acara pemerintahan daerah, revitalisasi desa/kota/provinsi, maupun lembaga/instansi pemerintahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan makna denotasi dan konotasi dari yuru-kyara Prefektur Nara, serta menginterpretasikan bagaimana representasi dari konsep kawaii dan omotenashi yang terdapat pada yuru-kyara tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian interpretatif kualitatif dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka. Data dalam penelitian ini berupa gambar dan foto dari yuru-kyara Sento kun, Manto kun, Na-ra chan, Renka chan, Narakkii dan Nakkyon yang kemudian masing-masing dianalisis menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada setiap yuru-kyara Prefektur Nara yang telah dianalisis, terdapat makna denotasi dan konotasi yang berkaitan erat dengan unsur-unsur dari brand yang menciptakan yuru-kyara tersebut karena Ia berperan sebagai media promosi (promotional characters). Representasi konsep kawaii pada yuru-kyara merupakan sebuah cara untuk dapat memikat perhatian masyarakat. Omotenashi menjaga kerjasama antara brand dengan masyarakat serta sebagai gambaran budaya masyarakat Jepang yang ramah-tamah.Kata kunci: Kawaii, omotenashi, semiotika Roland Barthes, Yuru-kyara
Hierarki Kebutuhan Motivasi Tokoh Utama Anime Shigatsu Wa Kimi No Uso Ni Luh Gede Yuliantarini; Anak Agung Ayu Dian Andriyani; Betty Debora Aritonang
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i2.5230

Abstract

AbstractThe research entitled Hierarchy of Needs for the Main Character Kousei Arima of anime Shigatsu Wa Kimi No Uso Study of Humanistic Psychology, aims to describe the hierarchy of needs Kousei Arima in achieving his real self. Data source of this research uses a dialogue that shows the hierarchy of needs Kousei Arima in the anime Shigatsu Wa Kimi No Uso. Theory used in this research is the theory hierarchy of needs proposed by Abraham Harold Maslow. Data collection method and technique used is listening method which is followed by note-taking technique. Furthermore, the research is presented with an informal method. The result of this research is the achievement of Kousei Arima in fulfilling his hierarchy of needs well and can achieve his real self.Keywords: Anime, main character, motivation AbstrakPenelitian yang berjudul Hierarki Kebutuhan Tokoh Utama Kousei Arima pada Anime Shigatsu Wa Kimi No Uso Kajian Psikologi Humanistik ini bertujuan untuk mendeskripsikan hierarki kebutuhan Kousei Arima dalam mencapai real self nya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data dari penelitian ini menggunakan dialog yang memperlihatkan hierarki kebutuhan Kousei Arima pada anime Shigatsu Wa Kimi No Uso. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow (2018). Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak yang kemudian dilanjutkan dengan teknik catat. Selanjutnya, penelitian disajikan dengan metode informal. Hasil dari penelitian ini adalah pencapaian Kousei Arima dalam memenuhi hierarki kebutuhannya dengan baik dan dapat mencapai real self nya.Kata kunci: Anime, motivasi, tokoh utama
Nilai Sosial dalam Film 1 Rittoru No Namida Kadek Widya Antari Karin; Wayan Nurita; Betty Debora Aritonang
Janaru Saja: Jurnal Program Studi Sastra Jepang (Edisi Elektronik) Vol 10 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v10i2.5291

Abstract

AbstractThe research entitled Social Values in Film 1 Rittoru No Namida aims to describe the social values contained in the film. This research is descriptive qualitative. The data source of this research uses dialogues and pictures that show the social values contained in the film. The underlying theory in this research is Ian Watt's theory of the sociology of literature part of social function literature and the discussion will use a description from Notonegoro. The data collection methods and techniques used are the listening method which is then followed by the note-taking technique. Furthermore, the research is presented with an informal method. The results of this study are to find the social values contained in the film including material values, vital value and spiritual value which are divided into value, truth, aesthetic value, moral value, and religious value.Keywords: Film, social value, sociology of literature AbstrakPenelitian yang berjudul Nilai Sosial Dalam Film 1 Rittoru No Namida ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai sosial yang terdapat dalam film. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data dari penelitian ini menggunakan dialog serta gambar yang memperlihatkan nilai sosial yang terdapat dalam film. Teori yang mendasari dalam penelitian ini adalah teori sosiologi sastra Ian Watt pada bagian fungsi sosial sastra dan pada pembahasan akan menggunakan penjabaran dari Notonegoro. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak yang kemudian dilanjutkan dengan teknik catat. Selanjutnya, penelitian disajikan dengan metode informal. Hasil dari penelitian ini adalah menemukan nilai sosial yang terdapat pada film diiantaranya nilai material, nilai vital serta nilai kerohanian yang dibagi menjadi nilai nilai, kebenaran, nilai keindahan, nilai moral, dan nilai keagamaanKata kunci: Film, nilai social, sosiologi sastra