JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik
Journal of Catholic Religion Education (JPAK) is a scientific communication media intended to accommodate the results of research, study results, or scientific studies related to Catholic Religious Education as a form of contribution to STKIP Widya Yuwana for the development of Catholic Religious Education in general. Journal of Catholic Religion Education (JPAK) is published by the STKIP Research Institute Widya Yuwana. Publish twice a year (April and October).
Articles
310 Documents
MEREDAM KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA MELALUI PENDIDIKAN BAHASA AGAMA
Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 8 No 4 (2012): Oktober 2012
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4759.964 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v8i4.175
Peranan agama sebagai oase yaitu tempat pengalaman menyenangkan di tengah suasana yang serba kalut terus diuji. Pasalnya" suhu kekerasan atas nama agama belum juga surut, Agama kerap dijadikan pembenar berbagai tindakan anarkis sehingga di mana-mana agama diasosiasikan dengan kekerasan. Sesungguhnya, kekerasan dengan alasan apapun termasuk kekerasan atas nama agama bahkan atas nama Tuhan sekalipun merupakan jenis kejahatan dan pelanggaran atas hak asasi manusia. Bahasa agama disinyalir sebagai salah satu pemicu terjadinya kekerasan bertopeng agama. Maka, pendidikan bahasa agama perlu digiatkan untuk meredam kekerasan atas nama agama. Melalui pendidikan bahasa agama diharapkan turut mendorong tumbuhnya saling pengertian antar pemeluk agama sehingga misi damai agama tidak dinodai apalagi digantikan oleh kekerasan.
TANTANGAN GLOBALISASI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN KITA SAAT INI
Ola Rongan Wilhemus
Bahasa Indonesia Vol 8 No 4 (2012): Oktober 2012
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4955.837 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v8i4.176
Globalisasi berarti terhapusnyo batas-batas teritorial antara komunitas, masyarakat dan bangsa di muka bumi. Hapusnya batas-batas teritorial ini mengakibatkan hubungan antara masyarakat dunia semakin intensif dan saling bergantung. Pasar bebas yang merupakan salah satu model paling nyata dari globalisasi telah melahirkan iklim kompetisi yang sudah menjadi jiwa atau roh utama kehidupan global. Roh global ini sesungguhnya telah melahirkan suatu tantangan serius bagi dunia pendidikan kita agar semakin berpacu melahirkan manusia yang sanggup bersaing dalam kehidupan global. Manusia yang sanggup bersaing dalam kehidupan global ialah manusia yang tangguh, kreatif, inovatif dan mandiri.
PASTORAL PENGATURAN KEHAMILAN SETURUT AJARAN MORAL GEREJA KATOLIK
Antonius Virdei Eresto Gaudiawan
Bahasa Indonesia Vol 9 No 5 (2013): April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2115.537 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v9i5.177
Magisterium of the Church has established sexual ethics for a long time ago. Church resists artificial birth control that morally are contraceptive and abortive. Church gives guidance for Christian to use natural birth control recognized as a gift of God. Nevertheless, many Christian have used artificial birth control. Some researches affirmed this judgment. Thereof, the Church has to continuously invite Christian couples for using natural birth control throughout their life. Church has to establish such a natural birth control centre for on going education both related to sexual ethics and the convince of the Christian couples effectively practicing natural birth control.
ARAH DASAR PENDIDIKAN KITA
John Tondowidjojo
Bahasa Indonesia Vol 9 No 5 (2013): April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1525.567 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v9i5.178
Pendidikan merupakan lahan, tempat dan modalitas bersama dengan praktek evangelisasi. Mendidik dan evangelisasi tidak boleh dipisahkan karena merupakan hal-hal mendasar dari apa yang dinamakan "theologia pendidikan". Theologi pendidikan itu bukanlah seorang untuk kantor. Seseorang yang mendidik, terlebih dahulu ia harus menghayati tugas iman dalam hatinya sendiri dalam proses edukatif. Dengan demikian mendidik baginya tidak berarti "menguasai" melainkan mengembangkan. Seorang pendidik Kristiani tidak bersikap sebagai orang yang tabu di hadapan anak-anak yang tidak tahu melainkan berjalan dengannya, di jalan yang penuh humanisasi. Pendidikan seperti itu hanya mungkin jika anak muda selalu dipandang sebagai subyek dari pendidikan.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN AGAMA KATOLIK DI SMA SANTO BONAVENTURA MADIUN
Martina Murlani
Bahasa Indonesia Vol 9 No 5 (2013): April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2338.453 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v9i5.179
Character and national culture became a sharp concern of society. This paper discusses one of the practical alternative solution. It is so basic, that is, character education during the Catholic religion teaching learning process. This requires a change of attitude and new skill of its teacher (condito sine qua non) So as to accomplish the character of nationalism. A character of good nationality is the actualization of the quality of Indonesian. As formulated in the funcition and purpose of national education. The research shaus that the character education in SMA Saint Bonaventura Madiun is implemeted trough the routine activities, spontaneous activities and the modelling that includes the development of culture norms and national character such as religious values, discipline, care to environment, social care, honesty and nationalism. The phases are: implementing, monitoring, evaluating and follow up action.
PENDIDIKAN KRISTIANI MELALUI PENGALAMAN BERKOMUNITAS BAGI ANAK-ANAK
Albert I Ketut Deni Wijaya
Bahasa Indonesia Vol 9 No 5 (2013): April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (645.727 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v9i5.180
Gereja masa depan tidak bisa terpisah dari mutu pendidikan iman anak-anak saat ini. Untuk itu, sejak dini anak-anak perlu mendapat pendidikan iman yang bermutu sedini mungkin. Hal itu berarti bahwa anak-anak perlu belajar tidak hanya dengan model klasikal namun perlu dengan bentuk yang lain. Melihat hal tersebut, pendidikan yang berangkat dari pengalaman berkomunitas menjadi alternatif yang perlu dipikirkan kembali. Dalam pendidikan pengalaman berkomunitas, setiap pribadi belajar dari pengalaman untuk bersedia saling memberikan diri bagi orang lain dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan setiap pribadi secara utuh.
MENDIDIK MURID MENJADI PENDIDIK IMAN
Agustinus Supriyadi
Bahasa Indonesia Vol 9 No 5 (2013): April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1827.999 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v9i5.181
Perintah Yesus yang tersurat dalam Mat 28:19, harus dipahami sebagai kehendak Yesus supaya pengikut-pengikutNya pergi dan mengajar menjadikan murid segala bangsa. Dan setelah mereka menjadi murid dan percaya, kemuridan mereka ditandai dengan baptisan. Pewartaan tidak sekedar menjadikan orang mengerti tentang ajaran Yesus dan menerima baptisan (menjadi pengikut-Nya), tetapi terarah kepada tujuan yang lebih mendalam yaitu menjadikan orang sebagai pelaku aktif pewartaan (menjadi Pewarta/Pendidik Iman). Tugas ini memang lebih berat, sebab dalam tugas itu terkandung di dalamnya tugas mendewasakan orang agar menjadi penerus perwartaan (Pendidik Iman). Dalam rencana kehendak-Nya, Allah mau mengikutsertakan manusia dalam karya keselamatan-Nya. Setiap orang Kristiani yang telah menerima Sakramen Pembaptisan mempunyai tugas untuk menjadi pewarta dan pengajar Sabda Allah. Tugas pengajar atau pewarta adalah menghadirkan Allah dan Kerajaan-Nya melalui pengajaran atau pewartaannya. Dengan mengajar para pewarta menghantar orang kepada pengalaman cinta kasih Allah dan perjumpaan secara pribadi dengan Allah. Dalam rencana kehendak-Nva Allah mau mengikutsertakan manusia dalam karya keselamatan-Nya. Oleh karena itu, setiap orang Kristiani yang telah menerima Sakramen Pembaptisan mempunyai tugas untuk menjadi pewarta dan pengajaran sabda Allah. Melalui pengajaran diharapkan, kita dapat membangun Tubuh Kristus dan menanamkan apa yang menjadi iman Gereja dan menghantar orang lain untuk bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus.
HAKEKAT KOMUNITAS BASIS GEREJANI
Ola Rongan Wilhemus
Bahasa Indonesia Vol 9 No 5 (2013): April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (817.07 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v9i5.182
Komunitas Basis Gerejani adalah suatu persekutuan umat beriman atau Gereja yang berupaya meragakan suatu pola hidup Kristiani yang bersifat kolektif dan sangat berbeda dengan pola hidup individualistis, egois dan konsumptif yang sudah menjadi bagian yang tidak terelakan dari budaya global saat ini. Komunitas ini hadir di tengah masyarakat sebagai Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis dalam pergumulan iman kristiani dalam terang lnjil. Ia menghadirkan wajah baru Gereja sebagai kesatuan umat Allah yang terbuka, solider dan berbela rasa dengan masyarakat lokal terutama dengan mereka yang miskin dan tertindas seperti halnya diragakan Yesus sendiri. Komunitas Basis Gerejani berorientasi dan berakar dalam diri Yesus Kristus dan Injil.
PERANAN KELUARGA KRISTIANI SEBAGAI MEDAN PENDIDIKAN DASAR IMAN DAN MANUSIAWI
Antonius Tse
Bahasa Indonesia Vol 10 No 5 (2013): Oktober 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1543.15 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v10i5.183
Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan anak. Setiap anak lahir dalam keluarga. Karena itu, banyak orang masih mengakui keluarga sebagai medan pendidikan yang pertama dan utama anak. Sayangnya, kepercayaan tersebut belum selaras dengan usaha orang tua mendidik anak-anak dalam rumah tangga. Sejumlah faktor penghalang telah merintangi orangtua dalam menunaikan tanggungjawab mereka antara lain ketidak-pahaman orangtua mengenai bentuk tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik pertama dan utama. Tulisan ini bermaksud menjawab persoalan tersebut dengan menyajikan beberapa gagasan tentang peran keluarga kristiani sebagai medan pendidikan dasar iman dan manusiawi. Penuh harapan, semoga dari keluarga-keluarga kristiani "lahir" warga masyarakat yang takut akan Tuhan, setia pada tugas, berakhlak mulia dan baik pembawaannya.
KOMUNITAS BASIS GEREJANI MERESPON BUDAYA HIDUP INDIVIDUALISME, KONSUMERISME DAN HEDONISME DI TENGAH ARUS GLOBALISASI
Ola Rongan Wilhemus
Bahasa Indonesia Vol 10 No 5 (2013): Oktober 2013
Publisher : Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1656.813 KB)
|
DOI: 10.34150/jpak.v10i5.184
Globalisasi ialah proses terjadinya integrasi hubungan dan kerjasama antar bangsa dan masyarakat dunia dalam berbagai bidang kehidupan yang berdampak pada peningkatan kesejahteran dan kemakmuran hidup manusia. Akan tetapi, globalisasi turut melahirkan budaya hidup individualisme, hedonisme dan konsumerisme. Budaya hidup ini patut diwaspadai dan diantisipasi Gereja karena bertentangan dengan nilaiĀ nilai dasar kehidupan kristiani seperti kasih, pengorbanan, solidaritas dan berbagi. Menghadapi budaya hidup ini, Gereja sebagai persekutuan umat Allah perlu membentuk dan menghidupi Komunitas Basis Gerejani sebagai fokus pemberdayaan iman umat dan menetralisir semangat hidup individualisme, hedonisme dan konsumerisme yang terlalu menekankan kemerdekaan, kenikmatan, kepentingan, sukses dan prestasi individu. Komunitas Basis Gerejani memungkinkan umat beriman kristiani menemukan tempat yang tepat untuk saling membantu dan meneguhkan satu sama lain dalam mejalankan misi Yesus yaitu menjadi terang dan garam bagi dunia, dan tidak hanya sibuk dengan urusan, kepentingan dan kenikmatan pribadi melulu.