cover
Contact Name
Ira Yuniati
Contact Email
-
Phone
+6285380062865
Journal Mail Official
lateralisasi@umb.ac.id
Editorial Address
Kampus I, Jl. Bali Po Box 118 Kota Bengkulu 38119
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Lateralisasi
ISSN : 2354936X     EISSN : 26144522     DOI : https://doi.org/10.36085
Core Subject : Education, Social,
Jurnal terbitan di bawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Pada jurnal ini membahas tentang Penelitian Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Daerah yang merupakan jurnal berbasis Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, beserta penelitian yang berkaitan dengan implementasi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Articles 285 Documents
TRANSFORMASI ESTETIKA PUISI LISAN KE PUISI AUDIOVISUAL DI TIKTOK SEBAGAI PRAKTIK ESKPRESI SASATRA GENERASI Z: KAJIAN FENOMENOLOGI SASTRA Ida Sufrotushofi; Muhamad Haryanto
Lateralisasi Vol. 14 No. 1 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v14i1.10921

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong terjadinya transformasi bentuk sastra, khususnya puisi, dari bentuk lisan menuju bentuk audiovisual yang banyak berkembang di media sosial TikTok. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan estetika dalam cara puisi diproduksi, disebarluaskan, dinikmati, dan dimaknai oleh Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis pengalaman estetik Generasi Z dalam transformasi puisi lisan menjadi puisi audiovisual di TikTok serta bagaimana mereka menikmati, memaknai, dan mengekspresikannya melalui perspektif fenomenologi sastra. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sastra. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat kreator dan tiga penikmat puisi audiovisual TikTok yang berasal dari Generasi Z. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi puisi lisan ke puisi audiovisual menghadirkan bentuk estetika baru melalui perpaduan unsur teks, suara, musik, visual, dan teknologi digital. Bagi kreator, puisi audiovisual menjadi media ekspresi diri yang memungkinkan penggabungan kreativitas sastra dan visual dalam satu karya. Sementara itu, bagi penikmat, unsur visual dan audio membantu memperkuat pengalaman emosional, mempermudah pemahaman makna, serta menciptakan keterhubungan dengan pengalaman hidup pribadi. Dalam perspektif fenomenologi sastra, makna puisi audiovisual terbentuk melalui pengalaman subjektif penikmat yang dipengaruhi oleh latar pengalaman, emosi, dan konteks kehidupan masing-masing. TikTok juga berperan sebagai ruang ekspresi sastra digital yang memperluas akses, apresiasi, dan partisipasi Generasi Z dalam praktik kesusastraan. Dengan demikian, puisi audiovisual di TikTok dapat dipahami sebagai bentuk transformasi estetika sastra yang relevan dengan budaya digital sekaligus menjadi praktik ekspresi sastra Generasi Z di era media sosial.
RAGAM MAKNA SEMANTIK PADA LIRIK LAGU KASIH ABA-ABA KARYA NAYKILLA Ananda Ayu Wahdini; Desyarini Puspita Dewi
Lateralisasi Vol. 14 No. 1 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v14i1.10931

Abstract

Jenis ragam makna dapat ditemukan dan dianalisis disebuah karya sastra. Salah satu jenis karya sastra adalah lirik lagu. Seiring perkembangan zaman, pemilihan kata dalam lirik lagu memiliki perbedaan makna, dari lirik lagu yang mengandung makna kiasan hingga lirik lagu dengan pilihan kata dengan makna langsung, hal ini berpengaruh terhadap pendalaman makna lagunya. Untuk itu penelitian ini akan menganalisis lirik lagu zaman sekarang yang sempat viral yaitu lirik lagu “Kasih Aba-Aba” karya Naykilla didominasi makna sebenarnya atau makna kiasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan metode simak dan catat. Hasil dari penelitian menunjukkan dari 12 jenis ragam makna teori Abdul Chaer, ragam makna semantik dalam lagu “Kasih Aba-Aba” terdapat 11 ragam makna. Hanya satu jenis ragam makna yang tidak terdapat dalam lirik lagu ini yaitu makna peribahasa. Hasil temuan didominasi oleh makan referensial, makna istilah, dan makna asosiatif. Jumlah keseluruhan data adalah 37 data dengan 23 janis data menunjukkan makna sebenarnya dan 14 data yang menunjukkan makna kiasan, sehingga dapat disimpulkan bahwa lirik lagu “Kasih Aba-Aba” didominasi oleh jenis ragam makna yang menunjukkan makna sebenarnya. Kata kunci : Semantik, ragam makna, lirik lagu.
KATA MAJEMUK DALAM NOVEL 172 DAYS KARYA NADZIRA SHAFA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN KEBAHASAAN TEKS CERPEN DI SMA Novita Khoirun Nisa; Desyarini Puspita Dewi
Lateralisasi Vol. 14 No. 1 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v14i1.10932

Abstract

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaan. Dalam kajian linguistik,salah satu bidang yang membahas pembentukan kata adalah morfologi. Salah satu kajian dalam morfologi yaitu kata majemuk, yakni gabungan dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan makna penggunaan kata majemuk banyak ditemukan dalam karya sastra salah satunya novel yang tidak hanya menyajikan cerita tetapi juga memiliki penggunaan Bahasa yang menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis dan makna kata majemuk yang terdapat dalam novel 172 Days karya Nadzira Shafa serta menjelaskan implikasinya terhadap pembelajaran menganalisis kebahasaan teks cerpen di SMA. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan morfologi. Data penelitian berupa kata majemuk yang ditemukan dalam novel 172 Days karya Nadzira Shafa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui membaca, mencatat, dan mengelompokkan data. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, serta mendeskripsikan bentuk dan makna kata majemuk berdasarkan teori Chaer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 31 data kata majemuk yang terdiri atas 4 kata majemuk setara dan 27 kata majemuk tidak setara. Kata majemuk tidak setara terdiri atas 19 kata majemuk nonidiomatik dan 8 kata majemuk idiomatik. Kata majemuk setara menunjukkan hubungan sejajar antarkomponen pembentuknya, sedangkan kata majemuk tidak setara menunjukkan hubungan inti dan pewatas. Hasil penelitian dapat diimplikasikan dalam pembelajaran menganalisis kebahasaan teks cerpen di SMA sebagai sumber belajar yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Penggunaan novel populer sebagai sumber pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep kata majemuk sekaligus mengembangkan kemampuan analisis kebahasaan.
ANALISIS KEBUTUHAN GURU DAN SISWA TERHADAP MEDIA PEMBELAJARAN TEKS CERPEN BAHASA INDONESIA KELAS XI SMA Ratih Seffi Anggraeni; Ariesma Setyarum
Lateralisasi Vol. 14 No. 1 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v14i1.10943

Abstract

Pembelajaran teks cerita pendek (cerpen) merupakan salah satu materi dalam mata Pelajaran Bahasa Indonesia dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan mengekspresikan ide dan pengalaman siswa melalui karya sastra. Namun, dalam proses pembelajaran di sekolah masih ditemukan berbagai kendala, seperti rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran sastra, kesulitan dalam memahami unsur pembangun cerpen, serta keterbatasan penggunaan media pembelajaran yang menarik dan inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan guru dan siswa terhadap media pembelajaran teks cerpen Bahasa Indonesia kelas XI SMA sebagai dasar dalam pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara guru Bahasa Indonesia dan penyebaran angket kebutuhan kepada siswa kelas XI SMA. Teknik analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa membutuhkan media pembelajaran yang lebih inovatif, menarik, dan berbasis teknologi digital. Siswa menunjukkan ketertarikan terhadap media pembelajaran berupa video animasi karena mampu menyajikan materi secara visual, meningkatkan motivasi belajar, serta membantu memahami konsep cerpen secara lebih mudah. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut, diperlukan pengembangan media pembelajaran teks cerpen yang mampu mendukung proses pembelajaran Bahasa Indonesia secara efektif.
MAKNA SIMBOLIK MIE AYAM DALAM NOVEL SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI Fazida Rizqona; Dina Nurmalisa
Lateralisasi Vol. 14 No. 1 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v14i1.10960

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna simbolik mie ayam dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna serta relevansinya dengan pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan landasan teori semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos. Data penelitian berupa kutipan-kutipan dalam novel yang mengandung simbol mie ayam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, menginterpretasikan, dan mendeskripsikan makna simbolik berdasarkan tiga tahap pemaknaan Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mie ayam tidak hanya dimaknai sebagai makanan, tetapi juga merepresentasikan empat makna simbolik, yaitu sebagai simbol harapan kehidupan, kematian, kesederhanaan, dan luka batin. Keempat makna tersebut dibangun melalui pengalaman hidup tokoh utama serta konteks peristiwa yang menyertainya sehingga menghasilkan makna yang lebih luas daripada fungsi literalnya. Selain itu, hasil penelitian memiliki relevansi dengan pembelajaran sastra di SMA, khususnya dalam pembelajaran apresiasi sastra dan menulis karya sastra, karena dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan ajar untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menginterpretasikan makna simbolik dalam karya sastra. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian semiotika sastra sekaligus mendukung pembelajaran sastra yang lebih kritis, interpretatif, dan bermakna.